EPISODE 40

Portal hancur. Kepingannya seperti serpihan—pecahan kaca tajam akan menyakiti siapa saja yang berada di dekatnya. Tubuh Lyn terbujur dengan darah bersimbah, gadis itu tidak mati–tidak bisa. Kutukan kastil membuat siapa saja tidak akan bisa mati kecuali sekarat yang berkepanjangan atau tanpa ujung.

Kristal berteriak putus asa di dekat pintu sementara Edgar memeluknya dari belakang—tak mengizinkan gadis itu mendekat pada temannya yang sekarat bersamaan dengan fenomena yang belum pernah siapapun saksikan terjadi di depan mata; portal pecah.

Benar, sebentar lagi mereka akan bebas.

Kata Logan, ada tiga kunci yang dapat membuka portal setelah ia meramal tiga gadis. Lalu mendapatkan jawaban ambugi seperti; cinta, keputusasaan dan menyerah. Baik Logan atau siapapun diatara saudaranya, tak ada yang mengerti siapa mencintai siapa, lalu siapa yang putus asa dan siapa yang menyerah. Kacamata mereka terlalu dangkal untuk menangkap seluruh emosi itu. Makhluk yang sejak kecil tak di latih untuk banyak emosi. Mereka hanya menganga saat melihat portal hancur pelan-pelan dan sebentar lagi akan mengeluarkan mereka dari sana.

Namun sebelum semua mata menyaksikan bagaimana portal terbuka seluruhnya dan memperlihatkan bagaimana udara luar yang begitu mereka damba, sesuatu datang dari atas membawa cahaya yang menyilaukan.

Sinu, pria itu tahu siapa yang datang. Maka, dengan tergesa-gesa, ia angkat tubuh Lyn dari sana—masuk kembali untuk merebahkan gadis itu di atas sofa.

Jika merunut pada cerita Jake saat keluar, Sinu berpikir bahwa ayahnya sudah mati, juga Dewa Dewi. Namun apa yang di lihatnya sekarang, menghancurkan seluruh spekulasinya.

“MUNDUR!! MASUK KE DALAM SEMUA, KUNCI PINTU!!!!” si sulung berteriak pada semua orang. Tentu saja membuat siapa saja bingung “Masuk!!! Gua bilang masuk-masuk!” ia membentak semua orang. Lantas Johan yang menggiring mereka untuk ke dalam kecuali Logan yang tetap berdiri di kakinya, tepat dua langkah di belakang kakaknya.

“Gua bilang masuk” Sinu melirik satu–satunya yang tak mendengarkan. Logan menggeleng.

“Ayo hadapi berdua” katanya tenang. Mengingat Logan juga pernah terlibat dalam pertempuran kelewat singkat yang berhasil memojokkan mereka dan berakhir membuat semua terkunci hingga ribuan tahun, Sinu melunak dan tatapannya kembali fokus pada cahaya yang perlahan memadat menjadi susunan tubuh—khas para Dewa. Sudah sangat lama tak menyakiskan entitas lain. Kecuali manusia yang datang sebagai tiga kunci.

Masih sama. Getaran keilahian.

Bedanya, kini Sinu tak lagi merasa terintimidasi. Wanita itu datang sendirian, tidak dengan bajingan siapapun yang menjadi bagian dari mereka.

“Oh.. sudah sangat lama, ya?” rambutnya ikut turun dalam tempo lambat seolah gravitasi bisa ia kendalikan. Wajahnya tidak berubah, postur tubuh, aroma, serta pakaian. Semua sama, Sinu masih mengingatnya dengan jelas. Bahkan kulit telanjang saat bergelayut pada ayahnya manja. Menjijikan. 

Kepalanya lalu meneleng—menatap portal yang hancur seluruhnya. Kini, kastil itu sepenuhnya telah bebas dari kutukan. Siapa saja bisa keluar, serta kematian bisa datang.

Sinu khawatir yang itu. Itu juga alasannya meminta semua orang untuk masuk. Saat portal terbuka, mereka akan kembali normal seperti vampir pada umumnya. Tidak ada lagi kekuatan mendatangkan hewan alias mereka harus berburu sendiri. Entah sisanya, ini juga pertama kalinya untuk Sinu dan yang paling ia ingat adalah kematian yang bisa datang.

“Karena populasi para Dewa benar-benar di ambang kehancuran. Para vampir kebanyakan telah lama mati serta kehidupan untuk makhluk seperti kita tak lagi relevan karena revolusi. Aku tidak akan memperparah segala hal dengan membunuh kalian” kata sang Dewi. Suaranya begitu halus, kontras dengan tingkahnya saat terakhir mereka bertemu.

“Maka, Sinu. Aku akan membawamu ke khayangan. Jadilah suamiku dan kita harus melahirkan banyak anak yang akan meneruskan generasi. Ini momen yang tepat” senyumnya terukir jelas, sangat cantik. Meski di mata Logan, Isa masih jutaan kali lebih cantik.

Jangan tanya bagaimana Sinu mereaksi. Pemuda itu benar-benar ingin mengoyak mulut dan kemaluan Dewi gila itu.

“Aku lebih baik mati ketimbang bersetubuh dengan wanita menjijikan sepertimu. Binasalah, jangan ada keturunan dari rahim kotormu” ucapan Sinu tidak lantang. Tidak sekeras saat ia meminta adik-adiknya masuk. Namun cukup jelas untuk di dengar  siapa saja di sana. Sang Dewi menatapnya agak lama. Ekspresi yang sulit dijelaskan, namun Sinu jelas menangkap raut tidak percaya.

Pintu kastil tertutup berat di belakang. Setelah itu tidak ada yang bicara di antara Johan dan adik-adiknya berikut tiga manusia meski satu masih terkapar.

Mereka tahu bahwa pertarungan bukan untuk mereka, ini milik dua orang yang tertinggal di luar.

Dibalik jendela kaca tinggi mereka berdiri sejajar seperti bayangan yang menyaksikan dua kakaknya. Sementara halaman kastil terbuka luas. Langit menggantung rendah seperti menekan ke bawah. Di tengahnya, Sinu berdiri persis berhadapan dengan sang Dewi. Logan berada beberapa lagkah di belakang saat Sinu memintanya untuk diam di tempat.

Sang Dewi bergerak lebih dulu. Cahaya turun mirip keputusan ilahi yang mutlak. Udara bergetar keras saat energi itu menghantam tanah tempat Sinu berdiri. Ledakan cahaya menelan segalanya.

Didalam kastil, tidak ada yang bergerak. Pun mencoba membuka pintu karena Johan melarang siapa saja untuk keluar. Semuanya sepakat hanya melihat.

Agak lama hingga cahaya perlahan mereda. Dan Sinu, masih berdiri meski tubuhnya sedikit condong dan darah mengalir dari pelipisnya. Namun tidak berhasil jatuh, hanya menggantung diam di udara.

Sang Dewi tak memberi jeda. Serangan selanjutnya jauh lebih cepat, menekan. Cahaya muncul dari segala arah, menutup ruang gerak sepenuhnya. Tapi, sesuatu terasa aneh; gerakan cahaya melambat. Seolah  kehilangan ketegasan arah. Seakan ruang di sekitar Sinu berubah padat dan sulit dilalui.

Dan si sulung tak menghindar. Kakinya kokoh sambil menarik napas dalam dan itu cukup. Karena ada satu momen saat udara berubah menjadi tidak terlihat namun jelas terasa bahkan dari balik kaca. Permukaan jendela menjadi berembun padahal tidak dingin apalagi hujan. Tidak ada yang menggunakan kekuatan di dalam. Namun butiran halus mulai muncul di sana. Khas–udara yang dipaksa mencair.

Sang Dewi berhenti sepersekian detik. Alisnya menaut sementara kerutan dahi terlihat tipis namun cukup untuk menginterpretasikan keheranan. Tentu ada yang mengusiknya.

Saat Sinu mengangkat tangan, sang Dewi tersentak. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Lalu perlahan, cahaya dalam tubuhnya berdenyut lebih kuat mencoba menolak dan memulihkan apa saja yang terjadi pada bagian dalam tubuh. Namun aneh, karena denyut itu menjadi tidak stabil.

Lagi, Sinu melangkah satu kali. Gerakan yang nyaris tak terbaca saking pelannya. Darah di sekitarnya ikut bergerak–mengorbit–mengikuti keberadaannya.

Di dalam kastil, seluruh mata memandang tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka saksikan dari kakak sulung mereka. Bahkan sebagian mengatakan bahwa Sinu adalah tidak berguna meski dalam konteks gurauan. Kini terlihat, semuanya terlihat tanpa kecuali.

Fokus mereka kembali pecah pada sang Dewi. 

Tangannya mulai terangkat dan cahaya meledak dari dalam tubuhnya. Kali ini bukan serangan namun tentu saja upaya bertahan. 

Meski terasa sia-sia karena tubuhnya kembali tersentak lebih keras. Punggungnya melengkung dan napasnya terputus. Seumur hidupnya, ia tidak pernah mendapati kekuatan sebesar ini kecuali dari sesama Dewa. nyaris mustahil seorang vampir memiliki kemampuan manipulasi seluruh cairan bahkan gas dan komponen bukan cair yang dapat diubah menjadi susunan yang dapat di kendalikan pria itu.

Sinu mulai bernapas stabil saat melihat sang Dewi nyaris limbung. Matanya melirik ke belakang tempat dimana Logan masih berdiri menganga. saat fokusnya turun sedikit, saat tekanan di dalam tubuh sang Dewi tak lagi seketat sebelumnya, itu cukup.

Cukup membuat mata sang Dewi terbuka lebar. Cahaya di tubuhnya meledak–menyerang—dalam gerakkan terlalu cepat untuk diantisipasi. Eksistensinya persis di depan Sinu. tangannya menembus dada vampir itu. Cahaya masuk secara brutal. Tubuh Sinu membeku, pupilnya melebar dan untuk pertama kali kendalinya goyah.

Mustahil untuk berhenti setelah semua serangan. Ia mendorong lebih dalam. Cahaya di tangannya menghancurkan dari dalam, membakar jaringan, memutus kendali saraf dan merobek ritme jantung.

“Belum selesai” sang Dewi terkekeh, suaranya serak penuh dendam. Lantas Sinu terangkat seidkit dari tanah, kakinya tak lagi menapak tanah dan darah dari mulutnya mengalir deras. Lalu jatuh.

Logan akan maju, namun Sinu lagi-lagi memberi isyarat untuk mundur. Meski ia tergeletak ditanah bersimbah darah. Kepalanya menggeleng lemah pada adiknya.

Kepalaya meneleng susah payah menatap sang Dewi dengan tangan yang masih tertanam di dadanya. Lalu Sinu tertawa, tawa pelan, serak, mirip orang gila.

“Tertangkap..” bisiknya pada sang Dewi. Siapa yang paham? Sejak tangan itu masuk ke dalam tubuh Sinu, itu membuka sesuatu, bukan hanya luka yang membuatnya seperti tak berdaya, tapi akses. Darah Sinu mengalir ke arahnya—masuk. Dalam satu detik, kendali itu kembali lebih dekat. Sinu tidak menarik tangan itu di dadanya, ia membiarkan.

Tangannya perlahan naik menyentuh pergelangan sang Dewi “sekarang dari dalam” Sinu masih berbisik-bisik seperti obrolan di tengah pertempuran itu merupakan rahasia yang harus di jaga.

Dan kali ini, ia memegang titik paling rentan; jantung, paru, otak, semuanya ditarik sekaligus. Tubuh sang Dewi tersentak keras, cahaya meledak liar tidak terarah, tidak juga terkendali. Tangannya mencoba keluar dari tubuh Sinu, namun terlambat. Karena pertarungan ini bukan pertarungan dua kekutan, tapi satu yang menguasai keduanya. Sinu menatapnya dari jarak paling dekat. Hingga matanya dapat melihat tiap pori dan garis wajah.

Wajah yang membuat ayahnya terlena hingga berselingkuh. Wajah yang membunuh ibunya dengan cara paling keji serta wajah yang membuatnya dan semua adik-adiknya terkurung selama ribuan tahun dalam kastil.

“Ternyata kekuatan ilahi tak semengerikan itu” Sinu menarik ingus yang sebenarnya bukan ingus, melainkan napas yang berembun dalam hidung.

“Untuk pertama kalinya aku menyesal karena terlalu penurut pada ibuku. Seharusnya, aku membunuhmu sejak dulu” lalu Sinu meludahi wajah sang Dewi—yang dimana ludah itu berubah menjadi ribuan jarum tajam yang menancap—memadati wajah ayu. Sang Dewi menjerit. Darah segar keluar dari tiap jarum dan itu kembali di jadikan pecahan kaca runcing yang kembali mengoyak wajahnya.

Jeritan sang Dewi terdengar begitu nyaring hingga mirip tiupan sangkakala. Seluruh hewan tunggang langgang dari sana. Burung-burung yanga awalnya bertengger di dekat, kontan terbang secara serempak.

“Harusnya, kau tetap menyerangku dari jauh” katanya lagi. “Satu kali saja aku menyentuh darahmu, maka, aku bisa mengendalikan dan mengirimkan seluruh rasa sakit yang pernah ada di bumi. Seperti pada seseorang” Sinu melirik ke belakang. Pada Lyn yang tentu saja tidak terlihat “aku akan meminta maaf dan menebusnya entah dengan apa” ia berbisik, kata-katanya tertuju pada Lyn meski jelas tak akan mendengar.

Dan dalam satu momen, semua fungsi dalam tubuh sang Dewi runtuh, cahaya padam total bersama tubuh yang lemas. Tangannya terlepas dari dada Sinu lalu jatuh.

Tubuh sang Dewi menghilang—berubah menjadi cahaya putih yang melebur naik ke langit. Semua orang menyaksikan itu tanpa kata-kata.

Sinu masih berdiri selama beberapa detik. Hanya diam, lalu lututnya menyerah. Tubuhnya doyong dan jatuh ke depan. Darah mengalir bebas tanpa arah dan kendali. Pertarungan berakhir di detik ia hampir kalah.

Tubuhnya bersimbah darah. Darah miliknya sendiri yang sejak tadi berperan besar untuk menghancurkan lawan. Saat melihat tak ada lawan, Samuel keluar lagi tunggang langgang mendekat pada kakaknya. Ia lantas mengobati Sinu—menyentuh seluruh tubuh kakaknya dan memulihkan yang luka.

Dan semua orang pelan-pelan keluar.

Tiga bungsu masih diam dengan wajah pucat. Tidak ada yang bicara di antara mereka.

“Bawa masuk, dia udah nggak luka. Cuma pasti butuh waktu buat isi ulang energinya. Dia masih lemes” kata Samuel entah pada siapa. Namun Daniel berjongkok dan menggendong Sinu di depan. Di buntiti semua orang.

ִֶָ. ..𓂃 ִֶָ🦋་༘࿐

Satu hari berlalu.

Sinu masih di ranjangnya. Terbaring baik-baik saja. Namun tidak banyak bicara dan tidak juga keluar. Sementara sisa adiknya berbaur keluar. Mereka bermain ke hutan, berlari jauh ke sana kemari hingga tersesat.

 Tidak ada lagi portal. Mereka semua bebas.

Tiga manusia berencana akan pulang, namun masih menyiapkan bekal dan energi. Meski Daniel akan menangis dan memohon tiap mereka membahas ‘pulang’ serta meminta untuk di ajak serta seperti janji Kristal selama ini.

Lyn sehat. Samuel tentu saja ikut andil besar dalam penyembuhan luka akibat tusukan brutal.

Juga tentu saja setelah Sinu melepaskan kendalinya pada tubuh gadis itu. Tidak ada lagi kesakitan, tidak ada tersiksa, tubuhnya bahkan jauh lebih bugar dari sebelumnya.

Namun satu hal yang jelas, Lyn bukan benar-benar manusia murni lagi meski kini, ia tak lagi meminum darah—namun makanan manusia. Tubuhnya terikat pada satu jaringan yang eksistensinya kini masih dalam kamar. Mereka belum bertemu lagi—meski tidak yakin. Lyn membenci Sinu hingga mati. Seperti itu sugestinya sejak pertama kali pria itu menanamkan rasa sakit. Meski semua itu dilakukan dengan tujuan akhir dan berhasil; portal terbuka.

Namun rasa sakit dan traumanya tidak akan bisa sembuh. Ia membenci Sinu, titik.

“Masih sakit kah?” Logan menyembul dari balik pintu. Hanya kepalanya saja dan tanpa basa-basi, matanya memindai tubuh kakaknya yang terbaring. Terlihat segar dan baik-baik saja.

Sinu menggeleng.

“Gua nggak papa. Manusia udah pulang kah?”

Logan gantian menggeleng.

“Gua mau ketemu Lyn. Tapi bingung mau bicara dari mana” Sinu mengeluh, itu yang sejak kemarin menganggu pikirannya. Kelakarnya sangat mengerikan dan ia tahu tidak akan termaafkan.

“Nggak penting, yang penting portal udah kebuka dan kita bisa rundingan apa yang akan kita lakukan kedepannya. Tapi kalau lu terganggu, minta maaf aja tanpa menurunkan harga diri. Kayak lu biasanya” saran adiknya di reaksi senyum oleh Sinu.

“Gua keluar, kabarin kalau mau bicara dan minta kumpul” Logan menghilang.

Jake, Daniel, Edgar, Samuel dan Johan berjalan-jalan di luar. Bersama tiga gadis, lalu Logan menyusul–membuntut dari belakang.

“Si jablay dari tadi diem aja” Jake terkekeh. Ia mengamati saudaranya yang tiba-tiba menjadi murung setelah portal terbuka dan rencana Lyn dan dua temannya untuk pulang.

Lalu ia mendongak. Matanya lurus pada Kristal.

“Til, lu nggak akan ninggalin gua kan?” tatapannya sayu. Kristal mengedikkan bahu.

“Gak tau ya, gua suka sama lu karena kurang kerjaan. Aslinya laki kek lu banyak di got kalau di dunia manusia mah. Kecil dapet spek modelan lu” sergah Kristal memanasi.

“Dahlah..”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *