DISTORSI

DISTORSI

“Kak, aku mau kita pacaran” Menatap nyalang gadis yang sibuk dengan minuman sementara sedotan masuk sedikit di antara dua bibir. Alexa mendelik, masih mencerna permintaan dari anak angkatnya meski sangat rancu dan berhasil membuat degup jantung bergemuruh. Mereka berada di festival tahunan. Terduduk tepat pada undakan tempat mereka pertama kali bertemu. Masih sangat terang karna nyaris seluruh bagian lapangan tak mengalami perubahan maupun mengadakan renovasi atau sejenisnya.

Alexa masih diam. Dua netra kembar keduanya menaut beberapa detik sebelum smoothie mangga berhasil menghalangi saluran napas dan membuatnya tersedak. Javier buru-buru menyodorkan air mineral dalam botol sebelum di tenggak kasar oleh gadis itu.

Sudah sangat lama tak menjalin hubungan. Kekasihnya yang terakhir tiba-tiba pergi tak ada kabar berita entah apa alasannya. Alexa sudah tak ingat karna memang terlampau lama, dan tentu saja karna Javier mengisi hari-hari bersamaan dengan tingkah manis sangat menggemaskan.

Bohong jika tak memiliki perasaan khusus pada pria yang sudah menemani selama empat tahun. Pria itu selalu saja memiliki cara agar Alexa menuruti semua keinginan tanpa paksaan. Tingkah manis dan penurut, jahil dan berlagak dewasa dengan iming-iming akan melindungi meski entah dari apa.

Tubuhnya tumbuh kelewat besar. Masih segar ketika pertama bertemu, Javier hanya setinggi dada. Tubuhnya kurus dan benar-benar terlihat lemah. Namun lihatlah hari ini, Alexa mendongak tiap kali mereka berbicara ketika berdiri, pucuk surai tepat setinggi dada dengan tubuh kecil yang akan tenggelam jika pria itu merengkuhnya. Javier benar-benar membesar dengan baik.

Hanya mengangguk. Alexa tersenyum sebentar.

“Kak, kenapa nggak jawab?” Menggenggam tangan gadis itu erat, Javier mengusapnya berulang sebelum menciuminya sayang. “Aku udah jawab”

“Apa? Kapan? Kok aku nggak dengar?” Menuntut kepastian ketika anggukan dengan senyum cantik saja tak membuat pria itu percaya. Alexa menarik napas dalam sebelum berdehem, gadis itu menahan senyum. Sangat cantik.

“Aku mau jadi pacar Javie”

Mendengar lontaran penerimaan, pria itu kontan bangkit. Membuat sorakan yang mirip orang tengah menonton kesebelasan sementara jagoan mereka berhasil mencetak gol. Senang bukan kepalang.

“Ini beneran ya? Aku ngambek kalo kakak bohong” Memastikan sekali lagi, Javier memancarkan aura kebahagiaan yang kental, kontan saja menulari Alexa yang masih tertawa.

“Aku pernah bohong kah?”

Javier menggeleng. Sedetik kemudian, pria itu mengangkat Alexa dalam gendongan. Membawa kekasihnya berputar ke sana ke mari kegirangan, sementara yang di gendong hanya menjerit-jerit minta di turunkan karna khawatir terjatuh.

“AKU PACAR KAK ALEXA!!! YEAAAYYYYY”

Bersorak dan berhasil menyita perhatian beberapa pengunjung yang sibuk membeli makanan, Alexa memukuli lengan pria itu agar berhenti dan menurunkan, di perparah dengan teriakkan kelewat girang. Hanya malu pada orang-orang.

“Aku janji akan jadi pria keren dan romantis. Kakak suka laki-laki yang seperti apa? Aku akan jadi seperti yang kakak mau” Kembali mendudukkan gadis itu ke tempat semula, Javier berjongkok di bawah dengan dua tangan yang menggenggam erat jemari cantik itu. Alexa masih tersenyum, kebahagiaan memancar dari keduanya begitu terang.

“Aku Cuma suka Javier apa adanya aja. Javier yang sekarang, yang kemarin dan yang akan datang. Aku selalu suka Javier yang seperti dirinya sendiri”

“Javier yang sekarang? Dan yang akan datang?” Mengulang apa yang di lontarkan sementara Alexa kembali mengangguk.

“Gimana kalau seandainya Javier yang dulu, yang sekarang dan yang akan datang ternyata adalah monster mengerikan dan menjijikan? Kakak tetap mau?”

Pertanyaan aneh yang di reaksi kekehan. Alexa tertawa menganggap ocehan anak itu adalah aneh.

“Ya, aku akan menyukai Javie, pun jika Javie yang dulu, sekarang dan yang akan datang adalah monster. Lagi pula, monster jenis apa yang segemas ini? Aku akan hidup dengan monster dalam waktu yang lama dan bahkan menjadi pacar monster jika setampan ini”

Melepaskan pegangan tangan lalu menangkup dua pipi pria yang berjongkok di bawahnya, Alexa masih tersenyum sejak tadi. Pipinya tak pegal ketika hatinya bahagia. Bukan sudah lama memendam rasa, gadis itu hanya merasa ambigu dengan perasaannya sendiri. Sangat malu jika memvalidasi ia mencintai anak angkatnya. Rasanya mirip wanita cabul yang harusnya tak bertingkah seperti itu. Namun tak memungkiri jika hasrat dan kasih sayangnya melebihi seorang kakak pada adik, atau ibu angkat pada anak angkat. Tidak seperti itu, dan Alexa banyak di buat berpikir.

“Terima kasih kak, terima kasih karna udah mengatakan hal itu. Aku sangat mencintai kakak sampai mau mati”

Masih di posisi yang sama. Bedanya, Javier memasang ekspresi mirip anak anjing yang ingin di sayang. pria itu memiliki keahlian semacam itu, membuat yang melihat ingin merengkuh dengan gemas.

“Masih mau jajan? Aku mau di sini agak lama karna aku suka”

Mengedarkan pandangan pada kerumunan karna acara yang baru akan di mulai. Sebentar lagi akan ada berbagai pertunjukkan yang memukau. Rupanya warga banyak mempersiapkan dengan banyak latihan untuk menampilkan ini dan itu, meski aroma kemenyan terhirup menyengat masuk dalam indra penciuman, namun tak menyurutkan semangat gadis itu untuk bertahan lebih lama. Apalagi berbagai hidangan yang seakan memanjakan mata.

Mereka berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggenggam. Ikut berkumpul bersama kerumunan guna melongok acara yang baru akan di mulai. Jika pada siang hari banyak anak-anak dan remaja yang andil dalam meramaikan dengan menggunakan pakaian unik sesuai tema-tema tertentu, maka di malam hari akan ada barongsai, akrobat dan segala acara ritual mirip sesembahan yang tak terlalu di mengerti.

Javier bergeser sedikit menutupi diri dengan berlindung pada gadis yang jauh lebih kecil darinya. Bersembunyi karna perasaannya tidak enak. Entah mengapa aroma kemenyan serta alunan alat musik tradisional yang di mainkan membuat tubuhnya meremang serta perasaannya tak karu-karuan. Pria itu juga agak pening.

“Kak, aku mau pulang”

Merengek sedikit, Alexa kontan membalik tubuh untuk memastikan jika Javier benar-benar mengajak pulang. Padahal acara seperti akan sangat menyenangkan.

“Sebentar lagi ya? Ini kayanya seru”

“Tapi aku mau pulang, kepala aku sakit kak” Pria itu merengek seperti biasa. Alexa kembali menghela napas sebelum mengusap kepala itu sekilas.

“Tiba-tiba banget? Demam juga kah? Aku masih ingat pas baru beberapa minggu aku bawa kamu pulang, kamu menggigit demam sampai menggeram.”

Memeriksa dahi lalu mengusapnya sayang, gadis itu menggenggam tangan sebelum langkahnya pasti menuju kendaraan yang terparkir.

“Malam ini aku tidur sama kakak”

Mengeratkan sabuk pengaman, pria itu mengatakan dengan gamblang di hari pertama mereka berpacaran, bukan. Ini bahkan baru beberapa jam lalu. Namun anehnya, pernyataan semacam itu bukan sesuatu yang kurang ajar karna keduanya memang kerap tidur bersama secara harfiah.

“Kak?”

“Hm?”

“Kita adalah sepasang kekasih, pria dewasa dan wanita dewasa. Saling mencintai. Boleh aku cium kakak?”

“Aku lagi nyetir”

“Aku tanya, apa aku boleh cium kakak mulai sekarang?” Memastikan sekali lagi karna Alexa terlihat salah tingkah dengan senyum yang di tahan, sangat cantik dan menggemaskan.

“Kamu sering cium aku Javie..”

“Kakak paham ciuman seperti apa yang aku maksud”

“Hentikan, aku malu membahas ini. biarkan hanya berjalan natural”

Javier tertawa sedikit. Meski sebenarnya masih kurang pas dengan jawaban Alexa, namun pria itu kadung gemas dengan mimik salah tingkah yang di tampilan.

“Aku nggak mengerti dengan berjalan natural. Tiap tingkah atau kegiatan yang aku lakukan, aku selalu minta persetujuan dan pendapat kakak. Apa nggak masalah kalau aku melakukan apa yang aku mau sebagai seorang kekasih pada pasangannya? Mungkin kakak akan menemukan sisi lain dari aku yang nggak pernah kakak tahu sebelumnya” Pria itu menatap intens dengan netra aneh dan sedikit liar. Kurang lebih seperti itu Alexa menggambarkannya.

“Hanya lakukan”

Javier tersenyum sekali lagi. Entah mengapa malam ini terasa begitu indah, seolah alam ikut merayakan keabsahan status mereka. Hari ini, tepat usia dua puluh tahun sedang empat tahun lalu mereka bertemu di tempat yang sama, yang beberapa menit lalu baru mereka tinggalkan. Viberasinya masih sama. Javier bahagia setengah mati setelah bertemu Alexa.

“Kak, setelah lulus kuliah, aku akan kerja keras. Aku akan jadi laki-laki keren dan menanggung semua kehidupan kakak”

“Yaa yaa, aku menantikan momen itu” Hanya tertawa, Javier selalu saja mengatakan hal-hal semacam itu sejak dulu. Jika tiga tahun lalu rasanya seperti ocehan tak berarti yang di lontarkan anak-anak, kini sangat terasa berbeda ketika di katakan penuh keyakinan. Yang pasti di dukung oleh suara dan tubuh itu. Javier dewasa, sangat tampan dan lembut. Benar-benar manis dengan tubuh besar dan kekar. Rasanya tak lagi menemukan sisi anak-anak yang menggemaskan selain tingkahnya yang tak berubah.

“Apa kita akan makan malam? Kamu masih lapar nggak?”

Memarkirkan mobil, keduanya turun dan memasuki lift. Javier menggeleng, perutnya seperti akan meledak sementara jika terus-terusan mengonsumsi makanan seperti hari ini, maka di pastikan tubuhnya akan seperti babi.

“Aku nggak boleh terlalu banyak makan. Semua jajan yang kita makan hari ini bisa bikin aku kaya babi. Aku takut jelek dan kak Alexa nggak suka aku lagi”

“Kamu bicara apa? Aku suka sama kamu walau kamu kaya babi”

“Bohong, kakak akan cari pacar yang lain kan?”

“Aku nggak pernah punya pacar yang lain Javie.. udah lama banget, tiga atau empat tahun? Aku bahkan lupa namanya”

Kejadian yang tak begitu sulit ia lupakan. Terang saja sangat menjengkelkan tiba-tiba di tinggalkan begitu saja. Pria itu jelas tak mau menerima Javier, padahal sudah di jelaskan ketika mereka masih masa pendekatan jika ia mengadopsi anak dengan usia yang terbilang besar. Awalnya pria itu iya-iya saja, namun baru pertama kali bertemu, sudah kabur saja. Sejak saat itu Alexa tak lagi berkencan dengan siapa pun. Tak lagi pergi ke luar dan nongkrong sembarangan kecuali dengan Izza. Meski awalnya sempat menakuti tentang monster dalam apartemen, nyatanya gadis yang kini menyandang gelar sebagai teman itu rutin mengunjungi Alexa, atau sekedar membelikan susu protein untuk Javier.

“Aku mandi dulu. Kamu ada tugas? Biar aku bantu pas selesai mandi”

Javier hanya menggeleng, namun langkahnya mendekat memeluk gadis itu erat

“Kakak mau aku gosok punggungnya?”

“Hm?”

“Mandi? Aku bisa gosok punggung kakak”

“Nggak perlu, kamu juga harus mandi”

Menghirup dalam aroma pada ceruk gadis dalam dekapan, Javier meremang dengan rengkuhan makin erat. Rasanya sangat menenangkan meski harus menunduk.

“Kak… kakak wangi banget”

Gadis itu merasakan kerasnya gundukan yang menekan pada perut. Padahal sentuhan tiba-tiba namun Javier jelas ereksi, meski sering mendapati hal sejenis ketika mereka berinteraksi, namun Javier tak pernah melampau batas, pria itu hanya sering menciumi pipi, kening dan tangannya. Berdiri dalam posisi seperti ini saja membuat Alexa susah payah menelan saliva. Tubuhnya ikut meremang, rasanya sangat berbeda dan aneh ketika status mereka baru saja di sahkan sebagai pasangan kekasih. Entah mengapa merasa lebih leluasa dan bebas. Yang jelas Alexa tak perlu memarahi ketika pria itu kedapatan ereksi saat bersentuhan karna memang itu normal. Bedanya dulu-dulu Alexa menganggap bahwa mereka adalah keluarga.

“Javie… aku mandi dulu ya? Aku lengket dan nggak nyaman”

Mendengus pelan. Pria itu melepaskan rengkuhan lalu memberi jarak sebelum mencium pipi gadisnya sekilas.

“Mandinya jangan lama-lama. Aku bisa berubah jadi monster kalo tengah malem” Tertawa sedikit, padahal pria itu serius dengan ocehannya. Alexa mencubit perutnya kuat sebelum masuk dalam kamar, sementara Javier mengaduh sedikit yang di susul gelak tawa menyenangkan. Masih berdiri di sana sebelum melihat tubuh kekasihnya benar-benar menghilang di balik pintu.

Pria itu bersenandung lirih sambil masuk dalam kamar. Sedetik membuka pakaian lalu menatap ke arah cermin. Alexa belum pernah melihat seluruh tubuhnya sejak dua tahun terakhir. Javier berhasil menato punggung yang sebelumnya banyak terdapat bekas luka menjadi seni indah berbentuk bulan yang berjejer memanjang. Namun bukan bagian itu yang penting. Pada punggung sebelah kiri dekat lengan, terdapat sobekan menganga. Itu bukan luka, karna mirip lubang yang terbentuk secara alami. Dari sana akan keluar sesuatu yang mengerikan jika terjadi hal yang terasa mengancam atau pria itu dalam kondisi yang jengkel luar biasa. Belum, Javier belum bisa mengontrol sepenuhnya. Itu pula yang membuat pria itu selalu berusaha menekan emosi dan pemicu lainnya. Mirip orang yang memiliki alter ego, Javier tak akan sadar jika makhluk itu keluar menguasai diri.

“Kak Alexa… nggak akan takut liat punggung aku kan? Ini nggak mengerikan, kan?”

────୨ৎ────

Merengkuh dari belakang sementara diri bertelanjang dada hanya menggunakan bokser kekecilan. Alexa kontan di buat kaget karna tak mendapati pria itu masuk dari pintu. Atau diri saja yang lengah hingga tak sadar.

Handuk masih membelit hampir melorot karna baru saja keluar dari kamar mandi. Alexa berencana menggunakan lotion sebelum tubuh besar merengkuhnya lembut dari belakang. Itu Javier.

“Aku pakai baju dulu”

“Tapi aku kangen kakak”

“Kita tinggal satu rumah Javie..”

“Kalau tinggal satu rumah, apa nggak boleh rindu?”

“Boleh”

Rengkuhan makin erat. Javier melingkarkan tangannya pada perut gadis itu, menciumi punggung harum dan segar.

“Jangan kaya gitu, geli”

“Geli?”

“Mm”

Di larang dengan sanggahan geli malah membuat pria itu makin nakal. Dengan gerakkan lincah dan cepat, Javier berhasil membuat handuk melorot hingga menampilkan lekuk tubuh telanjang sempurna di depan cermin, sedetik senyumnya mengembang sambil menatap pantulan tubuh kekasihnya tanpa berkedip.

Dagunya menumpu pada pundak Alexa, sementara gadis itu menutupi area kelamin meski dua tangannya langsung di belenggu ke belakang.

“Kakak bilang, aku bisa melakukan apa yang aku mau sebagai seorang kekasih ke pasangannya. Yakan? Aku boleh kan? Aku pacar kakak” LANJUTKAN MEMBACA

Write a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *