BUNGA JUWITA

Pernikahan berlangsung di vihara tua yang berdiri sedikit menjauh dari hiruk-pikuk kota, tersembunyi di balik deretan pohon bodhi yang daunnya bergetar pelan diterpa angin sore. Bangunannya sederhana, tidak megah, namun terawat dengan ketenangan yang nyaris sakral—dinding berwarna gading, lantai batu yang dingin di telapak kaki, dan aroma dupa cendana yang menggantung lembut di udara. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, jatuh sebagai garis-garis keemasan di lantai.

Dua pasangan itu berdiri berdampingan di hadapan altar Buddha, mengenakan busana yang bersahaja. Tidak ada iring-iringan keluarga, tidak ada kursi khusus bagi orang tua, tidak ada suara isak yang biasanya mengiringi pelepasan seorang anak.

Dalam tradisi Buddha, pernikahan bukan sakramen suci yang mengikat manusia pada kehendak ilahi, inilah bentuk kesepakatan sadar antara dua individu untuk menjalani hidup dengan sila, dengan cinta kasih, dan dengan tanggung jawab. Seorang bhikkhu senior duduk tenang di sisi altar, suaranya begitu tenang ketika membacakan paritta.  Itu adalah doa agar kedua insan mendapat kejernihan batin dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Pria itu menatap sang gadis sebagai sesama peziarah. Dalam tatapannya ada pengakuan yang kelam–tak bisa di ungkapkan pada siapapun, bahwa mereka berdua datang dengan masa lalu yang retak, dengan luka yang selalu gagal dijelaskan, dan dengan kesadaran bahwa tidak ada yang kekal—bahkan cinta. Justru dari ketidakkekalan itulah mereka memilih untuk saling menjaga, hari ini dan entah berapa lama waktu mengizinkan.

Sang gadis menangkupkan tangan di dada, suaranya tenang ketika mengucapkan niatnya. Ia tidak bersumpah setia selamanya, tidak berjanji akan selalu bahagia. Hanya ikrar untuk berusaha tidak melukai, untuk berbicara dengan kejujuran, dan untuk kembali pada welas asih ketika amarah atau lelah menyelinap ke dalam batin. Aaron menyusul dengan niat yang serupa—tentang kesabaran, tentang tanggung jawab, tentang keberanian untuk tetap tinggal meski hidup kembali memperlihatkan sisi kejamnya.

Di luar vihara, lonceng angin berbunyi pelan. Daun-daun bodhi bergesek satu sama lain—menjadi saksi bisu bagi dua anak yatim piatu yang akhirnya menemukan bentuk keluarga mereka sendiri. Pernikahan itu tidak dirayakan dengan gemerlap, tetapi dengan kesunyian yang penuh makna. Tidak ada yang mengantar mereka pulang—karena sejak awal, Aaron dan Juwita adalah rumah bagi satu sama lain.

≽^• ˕ • ྀི≼

3 TAHUN YANG LALU

Seseorang tidak akan datang. Ia meyakini itu dengan hati penuh. Hidupnya tidak buruk, finansialnya bagus cenderung stabil bahkan di atas rata-rata. Namun kesepian benar-benar mencekik setelah kedua orang tuanya meninggal secara bersamaan dua tahun yang lalu dalam kecelakaan  yang tidak bisa dikatakan tragis namun tragis, Aaron ingin sekali mengkategorikannya sebagai kecelakaan terbodoh sepanjang masa, sehingga menciptakan satu status baru; yatim piatu. Ia berusia 22 tahun saat peristiwa naas itu terjadi. Kata orang, usia itu cukup tua untuk di sebut yatim piatu, namun baginya status baru itu membawa begitu banyak kehancuran, frustrasi, dan kesepian. Kesepian akut. Jelas kondisi itu bisa membunuh orang.

Mulanya seorang sopir truk  membawa muatan besar berisi kelapa yang memadati boks belakang—mengantuk. Sambil tersentak-sentak saat sedetik kesadarannya datang dan sedetik kemudian pergi, lajunya menjadi oleng dan tentu saja bukan sesuatu yang bagus yang terjadi ke depannya.

Truk itu berakhir membawa sedan mini di depannya yang melaju normal—layaknya kendaran patuh terhadap segala peraturan lalu lintas—terseret sejauh 200 meter sebelum masuk ke jurang. Persitiwa terjadi di jalan raya sepi dimana pegunungan mengapit aspal sepanjang 3 kilometer dan jurang menjulang jauh tak terlihat dasarnya.

Baik. Aaron akan menepis kenangan yang itu karena sudah tidak lagi relevan dan ia harus bertahan hidup.

Kedua orang tuanya meninggalkan sisa uang yang cukup untuk hidup sampai mati–setidaknya ini adalah hasil kalkulasi jika ia menghabiskan 5 juta sehari. Itu angka yang bagus—membuat Aaron tidak ketakutan mati karena kelaparan meski semangat hidupnya nyaris di zona merah. Itu dua tahun yang lalu. Semua membaik pelan-pelan kecuali kesepian yang berusaha diobati dengan segala hal dan tetap berujung menyedihkan.

Dua tahun yang lalu selang beberapa bulan setelah kehilangan orang tua, Aaron yang bahkan belum lulus kuliah memutuskan untuk berkecimpung di sosial media. Membuat video pendek — mereview pakaian, sepatu, tas,  memberi contoh stylelish rambut, mengajak audiens pergi perawatan dan membuat vlog jalan-jalan ke luar negeri. Dengan wajah tampan dan postur tubuh keren, tidak butuh lama untuk meledakkan namanya. Dalam kurun 2 tahun, pengikutnya nyaris mencapai 3 juta. Ajakan bekerja sama datang dari mana-mana. Namanya kian melambung dan kerap mendapat undangan award untuk kategori kreator paling menginspirasi.

Uangnya banyak. Aaron berencana membeli teman, gadis, atau siapa saja untuk mengisi kekosongan diri.

Ia membawa gadis, menjalin hubungan, bercinta, tinggal bersama dalam waktu-waktu tertentu, membiayai, memberikan semua hal hanya agar tidak di tinggalkan.

Tapi tidak pernah lama. Utas beberapa gadis yang sempat berpacaran dengannya, karakternya clingy dan aneh. Menempel dan sangat terikat–membuat risi.

Lalu tahun berikutnya, Aaron memutuskan untuk mengubah karakter menjadi bajingan yang ‘tidak clingy’ pembawaannya tenang, tertata, dewasa dan dingin. Kekasihnya berganti tiap dua hari. Hari-harinya adalah pesta, bar, minuman keras dan narkoba. Orang-orang mengaku teman lantas mendekat, hidupnya penuh–bebas dan berwarna untuk beberapa saat meski mirip fatamorgana.

Hal-hal penuh perayaan. Setiap hari adalah pesta.

Minuman keras adalah lumrah dan wajib. Aaron kecanduan. Dunia terasa tidak stabil, sebentar-sebentar berputar dan melayang. Para gadis menghisap penisnya dalam-dalam, memutarinya dalam gerak konstan. 

Pecah.

Hidupnya adalah pesta bermandikan sperma dan alkohol. Suntik hirup asap, narkoba. Bersenang-senang.  

Hingga enam bulan kemudian, usianya tepat 25 tahun. Aaron pergi ke dokter setelah mengalami keluhan ekstrem seperti mudah sekali lelah, mual, kulit dan mata menguning, nyeri perut kanan atas, nafsu makan menghilang total dan tubuhnya kurus terlihat layu. Saat bercermin, ia seperti melihat zombie–mengerikan.

Hasil darah memberi diagnosa; Hepatitis Alkoholic. Penyebabanya konsumsi alkohol berat dan lama. Organ; hati. 

Dokter juga mengatakan hal-hal menakutkan seperti; “Kalau kamu minum alkohol lagi, habis  sudah” Katanya organ penyaring racun ikut rusak karena hidupnya penuh racun.

Aaron bertaubat–mungkin. Ia menjalani pengobatan serius selama berhari-hari di rumah sakit lalu  pemulihan menyusul  dalam apartemennya sambil menyewa perawat dan ART. Saat sakit, setan pun tak ada yang mendekat. Tidak ada teman bar, teman minum, gadis-gadis. Bahkan sekedar mengirim pesan menanyakan kabar, tidak ada. Padahal saat bersama, mereka merangkul seperti sahabat sejati, terlebih pada bagian bills.

Karakter yang awalnya ia ciptakan untuk menarik teman dan gadis. Uang yang di hamburkan untuk mengisi kekosongan hati, kini tidak lagi relevan. Aaron sadar meski agak terlambat hingga membuat nyawanya nyaris melayang.

Kini ia menjadi pendiam, bukan karena keren, tapi sakit. Ia terlalu banyak meringis.

Dan sejatinya memang ia pendiam–pemalu dan mudah merasa tidak enak. Dulu, sebelum ini, saat kedua orang tuanya masih ada dan pergaulan bebas tak menyentuh.

Meski begitu, hidupnya tetap kesepian, kabar bagusnya, ia tidak lagi berpikir untuk membeli teman atau gadis.

Masa pemulihan berjalan lebih lama dari yang terduga. Di sela-sela kerapuhan, Aaron masih berusaha bertahan hidup–mencari uang dengan menyunting video lama untuk kembali ia monetisasi. Baginya, mencari uang tidaklah sulit, yang sulit adalah mendapat teman.

Beberapa bulan berlalu, dokter menyatakan bahwa ia sembuh total, meski sesekali masih mendatangi dokter untuk memerikskan diri. Tubuhnya pulih dengan baik. Menjaga pola makan pun tak seketat kemarin. Aaron tidak yakin, namun segala hal yang dilewati sesingkat itu mampu mengubah karakternya menjadi lebih bijak dalam berteman, bergaul dan kemana ia menghamburkan uang. Pembawaannya lebih tenang dan tertata bukan untuk tujuan menyedihkan seperti yang sudah-sudah, melainkan terbentuk dari kerasnya kesepian dan pelajaran hidup yang ia lewati.

Bulan-bulan berlalu lagi. Kesepian ia alihkan pada kesibukan bekerja atau bermain game. Pergi keluar negeri, gym, menyantap hidangan lezat, dan mulai menyukuri tiap hal-hal kecil dalam hidup. Ia tidak menjalin hubungan dengan siapapun, tidak memiliki sahabat dekat meski bohong jika sama sekali tidak memiliki teman. Aaron kini fokus pada hidupnya sendiri, fokus pada hal sederhana yang ia rayakan untuk diri sendiri.

Atau seperti itulah hidupnya berjalan setelah semua hal. Katanya, tidak ada yang terlambat sebelum kematian meski pria itu bukan penganut agama yang taat.

Pelan-pelan semua kembali.

Namanya melejit lagi, tawaran ini itu hingga ia menjadi model untuk merek-merek lokal yang sedang ramai di berbagai platform sosial media. Tiap apa yang di pakai akan menjadi trendsetter para pria-pria di luar sana. Kesibukannya makin bertambah dan kesepiannya tergerus rasa lelah.

Tapi malam ini berbeda.

Pukul 2 dinihari, Aaron terbangun dengan kemih penuh. Langkanya buru-buru hingga air seni mencuat tak tepat pada lubang kloset saking tidak tahan. Setelah itu, ia menyiram seluruh sudut kamar mandi dengan pembersih sebelum membilasnya dengan air. Saat hendak berbalik dengan mata terkantuk-kantuk, kakinya menginjak sisa pembersih yang tak larut. Dalam hitungan detik, tubuhnya terjengkang dan jatuh menghantam ubin basah yang dingin. Beruntung bokong yang menjadi tumpuan—bukan kepala atau apapun yang berpotensi kematian.

Ia meringis—mengaduh, bokongnya panas, matanya yang mengantuk kembali segar. Dalam kesialan itu ia masih bersyukur tidak mati. Membayangkan mati sendirian dalam kamar mandi benar-benar membuatnya merinding.

Diseret kakinya kembali ke kamar. Baju tidurnya basah. Sambil menggerutu ia membuka lemari dan mengganti semuanya.

Tidak jadi mengantuk meski tubuhnya lelah lepas bekerja seharian–ke sana ke mari memenuhi panggilan kontrak. Maka, disanalah bokongnya merbah.

Tangannya menekan keyboard. Awalnya, ia hanya ingin mencari game baru–menelusuri web-web yang menyediakan game unik atau yang belum pernah ia mainkan karena jujur bosan. Seperti semua game, hasil rekomendasi, serta game-game yang sedang ramai, semuanya hampir mencapai level akhir dan tidak ada lagi yang membuatnya bersemangat. 

“Game indie” ia bergumam–mengetik di papan pencarian, lalu dihapus, ganti.

“Game aneh” lalu di hapus lagi.

Ia mengucek mata, menekan keyboard dengan kunci unik. Meminta bantuan AI atau iseng membuka semua situs yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

Entah apa, ia tidak serius. Jarinya mengetik kata bahkan tidak ia rencanakan, hanya asal ketik saja pada keyboard. Bukan nama game, benar-benar acak dan asal yang jelas terdengar salah—dan ia menekan enter.

Dan hasil pencariannya tak kalah aneh.

Bukan halaman–halaman biasa dengan tampilan umum dan iklan dimana-mana. Di antara deretan link yang terasa normal, ada satu yang tampilannya kosong. Judulnya “menjual yang tidak ada” itu saja, tak menjelaskan apa pun. Tidak ada deskripsi.

Aaron ragu, kursor berhenti tepat di atas link itu. Lalu ia mengedikkan bahu tak peduli.

Klik

Layarnya putih agak lama. Lebih lama dari situs mana pun yang pernah ia buka. Lalu pelan-pelan, sebuah halaman muncul—gelap, minimalis, latar hitam, tulisan pucat, tidak ada logo, tidak ada menu jelas. Seperti tampilan pada komputer tempo dulu.

Satu kalimat muncul di tengah layar

You’re not to supposed to be here

Aaron tertawa pelan sambil bergumam “cringe” tapi ia tidak menutupnya. Saat ia mencoba menggeser layar, halam itu berubah disusul sebuah kolom yang muncul, lalu menghilang, di gantikan simbol-simbol aneh. Ia diminta mengisi sesuatu.

Aaron diminta mengisi captcha. Tapi menjengkelkan ketika huruf-hurufnya terdistorsi. Pola yang harus diulang. Pertanyaan yang jawabannya ambigu. Salah sedikit, halaman memuat ulang dan ia kembali ke awal.

Aaron melihat jam di pojok layar. Sudah lewat 20 menit. Tapi ia masih penasaran. Dan semakin lama, situs itu semakin terasa menguji kesabarannya. Ketika ia hampir menyerah, halaman tiba-tiba memuat lebih cepat–lalu berhenti dan halaman menampilkan pengisian data diri secara akurat. Dari data yang harus sesuai dengan kartu penduduk, nama ibu kandung hingga nomor rekening serta catatan kriminal.

Aaron mengisinya cepat—diluar kepala. Namun saat selesai dengan data diri, ia kembali di alihkan pada halaman dimana harus “pilih gambar lampu lalu lintas”

Kembali  mengisi captcha sebelum akhirnya diminta memasukkan OTP yang di kirim lewat email. Dan benar, ada email masuk. Aaron buru-buru memasukkan.

Hampir 60 menit. Jam di sudut layar menunjukkan 02.57 ketika halaman itu akhirnya berhenti berkedip.

Tidak ada bunyi. Tidak ada notifikasi. Hanya hening dan suara PC khas mesin berjalan.

Aaron menahan napas.

Layar di depannya berubah pelan, atau ia berasumsi bahwa situs itu sedang mempertimbangkan apakah ia layak diterima. Hitamnya bukan hitam biasa, janis hitam yang menyerap cahaya. Abu-abu tipis mengambang seperti kabut. Font-nya sederhana.

Tidak ada logo atau sambutan.

Hanya satu kalimat di tengah layar:

SESSION ACCEPTED

Hurufnya muncul satu per satu, bukan diketik—lebih seperti diingat.

Aaron menelan ludah. Tidak tahu kenapa  ia menjadi gugup. Tiba-tiba perasaan aneh muncul seperti — berharap halaman itu gagal dimuat. Tapi halaman itu justru terbuka sepenuhnya. Rasanya seperti ia sedang membobol situs militer Rusia. Semuanya terasa mendebarkan.

Bagaimana jika setelah ini ia di cari intel dan masuk penjara? Atau di buru tentara asing? Atau penipuan? Pikiran-pikiran dengan spekulasi mengerikan berputar-putar.

Tampilan berikutnya mirip berkas usang yang disusun oleh orang yang hidup dengan komputer pentium pertama. Baik, Aaron tau ia berlebihan.

Kolom-kolom sempit berjajar rapi. Tidak berwarna, pun gambar mencolok. Setiap baris berisi kode, status, dan catatan singkat. Tidak ada kata “game”, tidak ada kata “jual”. Tidak ada kata “beli”. Semuanya seperti laporan cuaca.

ITEM 12-A

Status: Aktif

Ketersediaan: Terbatas

Catatan: Tidak menerima penundaan

Di bawahnya, baris lain.

ASSET – ORGANIC

Kondisi: Stabil

Riwayat: Lengkap

Waktu tunggu: Ditentukan sistem

Aaron memicingkan mata kabingungan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada apapun yang bisa menjadi kunci, hal seperti game, barang atau sialan jenis apapun yang dijual pada web itu. Seolah siapa pun yang berada di sini sudah sepakat untuk tidak bertanya.

Di sisi kanan layar, angka-angka bergerak perlahan. Bukan mata uang, bukan penghitung waktu, Aaron juga tidak mengerti yang itu. Tidak ada simbol apalagi emoji. Lagi pula apa yang diharapkan dari tempilan layar monokrom? Hanya unit-unit sunyi yang naik dan turun, tidak ia mengerti.

Aaron menggeser kursor—tidak ada bunyi klik. Tidak ada efek. Tapi sebuah jendela kecil muncul sendiri, transparan dan terasa sopan.

INTEREST CAN BE RECORDED.

DOUBT IS NOT STORED.

EXITING NOW MEANS YOU WERE NEVER LOGGED IN.

Kalimat terakhir membuat punggung Aaron terasa dingin. Ia sadar, selama satu jam tadi, ia mengira sedang mengakali sistem. Padahal kini terasa jelas, justru sistem itu yang terasa mengamati. Mengukur berapa lama seseorang bertahan. Berapa kali mencoba. Berapa kali memilih lanjut meski bisa berhenti. Dan Aaron adalah orang yang gigih–mungkin. Ia menguasai banyak hal kecuali berteman dan menjalin hubungan.

Di bagian bawah halaman, ada arsip-arsip lama. Tanggalnya tidak berurutan. Beberapa bahkan tampak mundur.  Aaron merasa ada kesalahan waktu parallel disini. Tunggu, apa ini web dunia parallel?

Aaron mematikan monitor sebentar, menempelkan dahi ke meja. Jam dua pagi selalu terasa seperti celah—waktu ketika dunia lengah dan batas-batas menjadi kabur. Ketika hal-hal yang seharusnya tidak ada, menemukan jalan. 

Atau ini web hantu?

Saat ia membuka kembali layar, halaman itu masih ada. Tidak logout. Tidak berubah.

Layar itu bergeser sendiri.

Aaron tidak mengklik apa pun—ia yakin tangannya bahkan tidak menyentuh trackpad. Tapi baris-baris di halaman itu tersusun ulang.

Satu entri berhenti tepat di tengah layar.

Tidak ada judul.

Tidak ada kategori.

Hanya kode.

PACKAGE : L–16 / UNIT A

Status: Tersedia

Kondisi: Reset

Respons verbal: Aktif

Memori: Tidak relevan

Disarankan untuk penggunaan jangka panjang.

Aaron mengerutkan dahi. Kata reset itu mengganggunya. Terlalu ringan untuk sesuatu yang terasa… salah. Ia men-scroll sedikit ke bawah.

Sebuah kotak pratinjau muncul. Isinya hanya siluet buram, seperti pantulan di kaca berembun. Sosok kecil duduk diam. Kepalanya miring, matanya terbuka tapi kosong, senyumnya muncul tanpa alasan yang bisa ditebak.

Tidak ada keterangan jenis kelamin.

Tidak ada nama.

Tidak ada usia.

Hanya unit.

Di bawahnya, subbagian lain terbuka otomatis.

COMPONENTS – INTERNAL

ITEM: CORE–H

ITEM: FLOW–V

ITEM: RESP–L

Ketersediaan: Terpisah

Tidak termasuk dalam paket utama.

Aaron menelan ludah. Jarinya terasa mati rasa. Ia tidak sepenuhnya paham apa yang ia baca—dan justru itu yang membuat dadanya resah. Situs ini tidak menjelaskan, karena menganggap penjelasan tidak diperlukan.

Ia scroll lagi.

Daftar terakhir muncul paling bawah, dengan latar yang sedikit lebih gelap.

TOOLS – CLOSE RANGE

Tipe: Manual

Kondisi: Baru

Jejak: Bersih

Pengiriman: Langsung

Tidak ada foto. Hanya garis-garis tipis yang membentuk bayangan benda tajam. Cukup jelas untuk dikenali, cukup samar untuk tidak perlu dipertanyakan.

Aaron memijat pelipisnya. Otaknya seperti tertinggal beberapa detik di belakang mata. Semua ini terlalu ambigu, aneh, dan… tidak tahu, ia tidak mengerti.

Hanya daftar.

Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak tahu apa yang boleh, atau tidak boleh disentuh. Tangannya bergerak sendiri—asal, tanpa tujuan. Kursor melayang, lalu berhenti di area kosong di antara paket dan komponen.

Satu klik.

Layar berkedip singkat.

Muncul sebuah notifikasi kecil.

INTEREST RECORDED

CHANGES ARE NOT RECOMMENDED

REMAIN THE SESSION

Jantung Aaron berdegup keras. Ia buru-buru menggerakkan kursor, ingin mundur, ingin keluar—tapi tidak ada tombol kembali. Tidak ada tanda silang. Tidak ada “cancel”.

Hanya halaman yang tetap terbuka. Tidak mengerti. Segalanya dianggap keputusan.

Layar tidak berubah.

Itu yang paling membuat Aaron panik.

Tidak ada ledakan warna. Tidak ada peringatan merah. Tidak ada kalimat ancaman. Situs itu tidak bereaksi seperti sistem yang tersentuh secara tidak sengaja. Ia bereaksi seperti seseorang yang sudah memperhitungkan pilihan itu sejak awal. Kepalanya lagi-lagi berputar tentang situs rahasia senjata militer milik negara besar dan kuat. Aaron merasa akan mati setelah ini.

Di pojok bawah layar, sebuah indikator tipis menyala. Garisnya bergerak lambat, seperti jam pasir digital.

PROCESSING INTEREST

Aaron berdiri begitu cepat sampai kursinya terjungkal ke belakang. Detaknya terasa di tenggorokan. Ia menekan tombol escape. Tidak terjadi apa-apa. Ia menutup tab. Tab itu tetap ada. Ia menekan tombol daya monitor—layar meredup sepersekian detik, lalu kembali menyala, persis di halaman yang sama.

Tiba-tiba komputernya seperti berhantu dan berseru memintanya duduk.

Notifikasi lain muncul. Lebih kecil. Lebih personal.

NO ERRORS DETECTED.

THE INTERACTION IS CONSIDERED VALID.

CONFIRMATION IS CARRIED OUT THROUGH SESSION CONTINUITY.

Aaron membaca ulang kalimat itu berkali-kali, berharap maknanya berubah. Tapi setiap kata terasa seperti paku yang dihujamkan bersama spekulasi liar yang membayangi kepala. Konfirmasi terjadi secara otomatis. Konfirmasi adalah tetap berada di sana.

Ia menutup matanya.

Di balik kelopak mata, bayangan siluet tadi muncul lagi—tidak jelas,  tapi cukup untuk membuat perutnya melilit. Ia mrinding mengingat cara situs itu menampilkannya: tenang, misterius.

Saat ia membuka mata, halaman itu bertambah satu bagian baru.

Hanya satu baris.

STATUS : LOCKED

Di bawahnya, catatan kecil:

ALTERING THE PATH IMPACTS THE ENTIRE SESSION

Aaron tertawa pendek—kering, hampir tidak terdengar. Tawa orang yang putus asa dan kebingunan. Campur aduk antara khawatir dan takut.

Tangannya resah saat ia menggeser kursor ke area kosong, berharap ada celah. Tidak ada. Semua ruang di layar terasa aktif, seperti setiap piksel memperhatikannya.

Tiba-tiba angka muncul tanpa suara atau notifikasi. Hanya ada, di sisi kanan layar, seperti sudah berada lama di sana dan baru sekarang Aaron menyadarinya.

Bukan rupiah.

Bukan dolar.

Bahkan bukan mata uang.

Aaron mengerutkan dahi ketika melihat deretan simbol dan unit pendek—rapi, sama sekali tidak menjelaskan apa pun.

Di bawahnya, keterangan kecil tertulis:

TOTAL UNIT : 43.700

Status: Cukup

Sumber: Terverifikasi

Nilai tidak dapat dikembalikan.

Aaron mencondongkan tubuh. “Cukup?” gumamnya pelan. Ia tidak ingat pernah mengisi apa pun. Tidak ingat pernah menyetujui angka sebesar itu—atau angka apa pun. Tapi kata cukup itu terasa mengusik. 

Ia men-scroll ke bawah.

Bagian pembayaran tidak menyerupai transaksi. Tidak ada kolom nomor. Tidak ada perintah transfer. Tidak ada pilihan metode. Yang ada hanya satu paragraf pendek, ditulis dengan format–administratif.

Unit akan dipotong saat minat dikunci.

Proses bersifat satu arah.

Keraguan setelah ini tidak dicatat sebagai keberatan.

Aaron mengernyit. Detak jantungnya terasa makin tak karu-karuan.

Di pojok layar, indikator tipis bergerak lagi.

LOCK IN PROGRESS

Ia menunggu sesuatu terjadi—entah notifikasi, entah permintaan konfirmasi terakhir. Tapi tidak ada. Situs itu tidak meminta persetujuan eksplisit. Ia hanya menghitung diam sebagai setuju.

Beberapa detik kemudian, angka unit itu berubah. Seperti cahaya yang dipadamkan sekaligus.

Status di bawahnya ikut berubah.

PAYMENT : COMPLETED

Waktu proses: Tidak relevan

Jejak: Dihapus

Pengiriman akan dilakukan sesuai jadwal.

Aaron menatap kalimat terakhir itu lama sekali.

Pengiriman.

Kata itu terasa paling nyata dari semuanya. Lebih nyata daripada angka. Lebih nyata daripada kode. Lebih nyata daripada layar hitam di depannya. Ia tiba-tiba sadar—apa pun yang barusan terjadi, tidak berhenti di sini.

Situs itu menutup sendiri.

Bukan logout. Bukan error. Hanya kembali ke halaman kosong, seakan tidak pernah ada apa pun sebelumnya. Tapi sistem itu tahu ke mana harus mengirimkannya.

Dan jam di sudut layar masih menunjukkan 02.57.

Tidak maju.

Tidak mundur.

Aaron mulai ketakutan. Maka, ia mematikan komputer dengan mencabut kontak hingga semuanya gelap. PC mati, total.

Pria itu melompat ke atas ranjang lantas menutup diri dengan selimut. Entah bisa tidur atau tidak, esok akan ia datangkan teknisi ahli untuk memeriksa komputernya.

Suhu pendingin ruang kelewat rendah, Aaron menggigil tak berani mencari remot kontrol untuk menaikkan suhu. Maka, ia mengerat selimut sampai pagi.

≽^• ˕ • ྀི≼

Ternyata pagi datang.

Dan rumahnya aman. Maksudnya, tidak ada hantu, TNI, INTEL, tentara Rusia atau apapun yang dispekulasikan—membobol masuk, lalu membunuhnya dengan meledakkan granat atau melubangi dahi dengan peluru. Paling tidak hantu yang mencekik.

Aaron mengucek mata. 

Cahaya matahari tembus dari gorden tinggi dan tebal. Jam dinding memutar detik dengan bunyi konstan yang utuh. Saat ia lihat, jarum pendek ada di antara sebelas dan dua belas, hampir tengah hari.

Matanya mengedar pada perangkat komputer. Benda itu masih di tempatnya, masih sama dan masih utuh. Hanya kabel yang dicabut–menandakan bahwa ia benar-benar panik semalam. Bukan hanya mimpi kosong pria pada pukul 2 pagi.

Sial.

Aaron mengusap wajah sekali lagi. Ia meraih ponselnya di atas nakas dan menemukan satu notifikasi paling menonjol diantara nomor-nomor siapapun–client yang meminta kerja sama, mengingat ia tak memiliki manajer. Notifikasi dari bank.

Aaron berdehem. Tenggorokannya kering. Jarinya terasa berat saat membuka layar.

Transaksi berhasil

Jumlah: 8.000.000.000

Keterangan: Authorized debit

Saldo akhir: 40. 200.000.000

Ia membaca ulang. Lalu sekali lagi. Nominalnya bukan angka kecil. Bukan sesuatu yang bisa salah pencet. Jumlahnya tepat—terlalu tepat hingga aneh jika ia gila mentransfer secara tidak sengaja.

Ingatan malam itu menyusup pelan.

Formulir panjang.

Kolom demi kolom.

Nama lengkap.

Tanggal lahir.

Alamat.

Pekerjaan.

Riwayat kriminal.

Nama ibu kandung.

Captcha menyebalkan.

Dan satu bagian yang waktu itu terasa sepele karena ia sudah terlalu lelah untuk curiga:

Data keuangan untuk validasi sesi; OTP, sialan.

Tidak ada paksaan.

Hanya satu kalimat pendek di bawah kolom itu: Diperlukan untuk memastikan kontinuitas.

Aaron menekan layar ponsel sampai sidik jarinya memutih. Ia ingat bagaimana sistem itu tidak pernah berkata “kami akan mengambil”. Sistem itu hanya berkata “kami perlu tahu.”

Dan ia memberi.

Di riwayat transaksi, tidak ada nama perusahaan. Tidak ada alamat. Tidak ada nomor referensi yang bisa ditelusuri. Hanya satu baris keterangan yang terasa seperti ejekan menyebalkan.

Sesuai persetujuan.

“Persetujuan apa… buset” pria itu nyaris mengerang. Tiba-tiba kehilangan uang 8 miliar bukanlah hiburan di siang bolong. Seharusnya sejak awal bukan hantu yang mesti ia takutkan. Bukan spekulasi bodoh tentang tentara militer Rusia yang akan membobol rumahnya atau intel, namun penipuan. Situs itu jelas menipunya.

“AAARRRHHHGG!! BANGKEEE 8 MILIAR GUA!!! BANGSAT, PENIPU SIALAN! GUA LAPOR POLISI”

Pria itu bangkit buru-buru ke kamar mandi. Ia bersumpah akan pergi melaporkan kasus ini ke polisi.

Aaron duduk di kursi plastik yang dingin, menjelaskan semuanya dengan suara tenang—sedikit resah. Tentang malam itu. Tentang situs gelap. Tentang delapan miliar yang hilang begitu saja.

Petugas mencatat. Penyidik datang. Mereka mendengarkan, tapi wajah-wajah itu tidak menunjukkan keterkejutan—lebih ke arah kebingungan yang kaku.

“Bukti transaksinya ada?” tanya penyidik.

Aaron menyerahkan ponselnya.

Mereka melihat layar. Mengernyit. Menyipitkan mata. Riwayat transaksi kosong. Terlalu kosong.

“Chat?”

“Tidak ada.”

“Email?”

“Tidak.”

“Alamat situs?”

Aaron membuka browser. Riwayat bersih. Seakan-akan malam itu tak pernah terjadi. Bukan, ia bahkan sudah mengecek komputernya dan membuka riwayat web, semuanya kosong. Benar-benar bersih.

Folder kosong. Tidak ada cache. Tidak ada unduhan. Tidak ada tangkapan layar. Bahkan jam akses pun tak menunjukkan apa pun yang ganjil.

Salah satu polisi tertawa kecil, gugup.

“Ini… aneh.”

Penyidik menutup map yang sejak tadi hanya berisi catatan tulisan tangan.

“Secara prosedur, kami perlu bukti. Jejak digital. Apa pun. Tanpa itu, laporan ini tidak bisa naik.”

“Tapi uang saya hilang,” suara Aaron nyaris pecah. Ketenangannya jelas kabur. Delapan miliar bukan uang kecil.

“Kami tidak menyangkal itu,” jawab penyidik, berusaha terdengar ramah agar tidak menambah kesedihan pria di depannya “Tapi hukum tidak bekerja dengan perasaan. Kami tidak bisa menyelidiki sesuatu yang tidak meninggalkan bekas.”

Kata-kata itu memperburuk perasaannya.

Akhirnya, ponsel yang terhubung dengan komputer di rumah kembali di serahkan. Saran diberikan dengan nada paling formal meminta Aaron ke bank, buat laporan administratif, tunggu.

Aaron berdiri. Ruangan itu terasa lebih terang dari sebelumnya, tapi entah kenapa ia justru merasa masuk ke dalam bayangan. Delapan miliar berpuatar-putar bagai puting beliung di atas kepalanya. Aaron sakit kepala.

Saat melangkah keluar, satu pikiran terpaku di kepalanya bahwa bukan hanya uangnya yang hilang, tapi juga kejadian itu sendiri. Seolah-olah malam tadi hanyalah mimpi buruk. Dan Aaron masih akan mendatangkan teknisi untuk kembali memeriksa komputer dan webnya sementara ia kembali dan di minta pergi ke bank. Dan tidak, Aaron tahu uangnya tidak akan kembali.

≽^• ˕ • ྀི≼

Sebenarnya uang itu besar, tapi mengingat ia diharamkan untuk stress atau lambungnya akan iritasi akibat pikiran-pikiran semerawut maka, Aaron lebih memilih legowo.

Atau tidak juga

Tiga kali teknisi datang. Tiga orang berbeda dan tiga-tiganya mengatakan hal yang sama; penipuan berjaringan international yang tidak meninggalkan jejak alias tidak bisa di selidiki karena mereka memang menghapus semua riwayat. Bahkan keyword asal yang awalnya diketik Aaron di papan pencarian malam itu, tidak lagi bisa diakses. Saat mencoba, web hanya akan memunculkan tampilan “404 ERROR”

Pria itu menyerah tepat di hari ke tiga. 

Sambil bersugesti dan menanamkan afirmasi positif ke dalam kepalanya yang semerawut setelah kehilangan uang besar, untuk pertama kalinya Aaron ingin pergi ke Vihara–mendekatkan diri pada Buddha.

Pakaiannya rapi.

Bukan ke kuil, tapi liburan ke Lombok. Kuil selalu ada dalam hatinya, jadi ia merasa tidak perlu datang. Buddha ada, itu saja cukup membuatnya merasa seperti penganut yang taat dan religius. Obat stress setelah kehilangan uang adalah liburan. Menghamburkan sisa uangnya yang lain sebelum–siapa yang tau akan kembali dicuri oknum sinting. 

Koper di seret. Aaron baru saja membuka pintu apartemen sebelum pegangannya pada koper lepas. Matanya membulat besar.

Paket di depan pintu.

Besar, sangat besar.

Ia ingat pernah mendapat paket sebesar ini saat membeli kulkas. Sama. Namun pria itu gagal mengingat pesanan apa yang datang. Lantas satu tangan bertolak pinggang, tangan yang lain membuka ponsel, mencari pesanan karena ia lupa pernah memesan sesuatu.

Nihil. Tiga marketplace online yang biasa menjadi tempatnya memesan apapun, tidak ada riwayat ia memesan dan dalam proses pengantaran. Tidak, paket ini bukan miliknya.

Lantas ia cari keterangan. Apa saja, alamat atau nama penerima — untuk memastikan apakah itu miliknya atau salah alamat. 

Saat ia ia mengitari kardus besar itu, matanya baru menemukan keterangan resi, alamat, jenis barang dan namanya.

Benar, semuanya benar.

Itu di tujukan ke apartemennya, namanya. Kecuali nama barang yang ditulis dengan kode yang tidak ia mengerti namun tidak asing juga.

PACKAGE : L–16 / UNIT A

Status: Tersedia

Kondisi: Reset

Respons verbal: Aktif

Memori: Tidak relevan

Disarankan untuk penggunaan jangka panjang.

Aaron melamun sesaat. Berusaha mengingat dimana ia pernah melihat kode ini.

Hanya butuh waktu 30 detik sebelum pupilnya membesar dan jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba.

Benar, website misterius itu. Pesanan dan uangnya. Tidak, uangnya tidak hilang, ini bukan penipuan–atau mungkin memang peniupan namun jika dirunut dari bagaimana cara ia mengklik semua hal di halaman yang aneh tempo malam, semuanya jadi terarah dan masuk akal. Penipuan atau sialan apapun itu, Aaron sadar jika kebodohannya adalah bagian dari ini semua.

Maka, sebagai delapan miliar yang berubah bentuk menjadi kardus besar dengan lakban hitam yang nyaris penuh mengelilingi permukaan, Aaron dengan legowo mengangkatnya ke dalam meski hatinya tidak nyaman.

Siapa yang tau jika di dalam adalah senjata militer rusia? Granat? Meriam? Atau alat-alat sejenis yang berbahaya dan ilegal?

Maka, Aaron berinisiatif menelepon damkar. Ya, damkar, damkar lebih cepat bergerak dibanding polisi.

Satu jam kemudian.

Damkar tak kunjung datang.

Arron kembali mengelilingi paket itu. Ia juga melepas topi dan masker setelah sekian lama dipakai hanya untuk memandangi kardus besar yang membuatnya penasaran.

Dari khawatir, takut, resah, bingung dan berakhir penasaran. Satu jam cukup membuat rasa takutnya menyusut dan berubah bentuk menjadi penasaran luar biasa.

Damkar tak kunjung datang.

Aaron mulai berpikir untuk nekat membukanya sendiri.

Namun bagaimana jika isinya berbahaya dan ia meninggal? 

Tidak apa-apa, jika ia mati, maka, mayatnya pasti akan ditemukan damkar. Lagipula, jika jatah hidupnya memang hanya sampai hari ini, ia akan mati meski bukan dari membuka paket. 

Tekad pria itu bulat, lebih bulat dari lampu gantung yang bergerak pelan tanpa angin di plafon.

Dan kini tangannya memegang cutter. Bilah tajam itu membuat garis vertikal memanjang dari atas. Robekan bahkan tidak terlihat. Kardus itu harus di koyak dengan brutal–sepertinya. Namun Aaron sangat telaten dan tidak tergesa-gesa.

Ia tidak menghitung waktu seperti menunggu damkar datang. Namun 10 menit berlalu sementara usahanya baru hanya menyingkirkan kresek hitam besar dengan bubble wrap kelewat tebal. Sampahnya berserakan di mana–mana. Keringatnya keluar deras karena lupa telah mematikan pendingin saat rencananya pergi malah tidak jadi. Jam terbang pesawat hanya tinggal 20 menit lagi. Aaron tau ia tidak akan pergi.

Tersisa bagian terakhir. 

Begitu segel terakhir terlepas, bau aneh langsung menyembur keluar. Bukan bau busuk. Bukan juga wangi. Jika di rasa-rasa, aroma itu mirip ruangan tertutup yang lama tak dihuni–namun bukan apek juga, bercampur sesuatu yang steril dan dingin.

Saat Aaron memeriksa, matanya menangkap sesuatu yang benar-benar diluar dugaan. Tidak, pupilnya melebar. Bukan granat menakutkan, senjata ilegal, bom atau apapun seperti spekulasi liarnya selama ini. Melainkan manusia, seorang gadis.

Tubuhnya meringkuk, lutut ditarik ke dada, membuat kardus itu seperti tempat nyaman untuk bersemayam. Rambutnya berantakan, kulitnya pucat, dan napasnya nyaris tak terdengar. Ia tertidur. Atau tidak sadar. Sulit dibedakan.

Di pergelangan tangannya terikat gelang plastik putih, seperti gelang rumah sakit. Di sana tertempel label kecil.

Bukan nama, lebih mirip kode.

Huruf dan angka disusun rapi. Membuat  gadis itu terasa seperti bukan manusia, namun barang inventaris. Di sudut kardus, Aaron melihat beberapa benda lain: tabung botol-botol kecil tanpa merek, suntikan yang masih tersegel, dan satu map tipis berwarna abu-abu. Ada panduan instruksi dalam map.

Ia membuka map itu.

Isinya satu lembar kertas.

Tulisan di sana sangat singkat, seperti instruksi mesin:

Subjek telah melalui proses reset kognitif.

Kemampuan dasar: membaca, menulis, memahami bahasa—utuh.

Memori personal: nihil.

Identitas lama: tidak tersedia.

Di bagian bawah, ada bagian lain—lebih dingin lagi: ikuti prosedur aktivasi sesuai urutan. Kesalahan akan mengakibatkan kegagalan permanen.

Namun, tidak ada penjelasan apa itu “aktivasi”.

Tidak ada penjelasan apa yang dimaksud dengan “kegagalan”.

Aaron menoleh kembali ke gadis itu.

Wajahnya polos. Terlalu putih  untuk dunia yang telah memperlakukannya semengerikan itu.

Dan setelah sejauh ini, ia menyadari bahwa ini  bukan sekadar paket, juga bukan penipuan biasa.

Ini adalah pengiriman.

Dan entah mau atau tidak, Aaron sekarang adalah penerimanya. Tiba-tiba ia merasa ini lebih menakutkan dari senjata militer atau apapun. Gadis pucat dan tidak sadarkan diri. 

Aaron mengangkat tubuh gadis itu dengan hati-hati, meski pikirannya kacau.

Ringan.

Terlalu ringan untuk seseorang yang seharusnya memiliki kehidupan atau identitas.

Ia membaringkannya di atas ranjang kamarnya. Sprei rapi sebelum rencana akan ia tingglakan dan gagal. 

Semuanya terasa salah untuk tubuh itu. Gadis itu tetap tak bergerak, dada naik turun pelan, seperti mesin yang masih menyala tapi ditinggal pemiliknya.

Aaron mundur selangkah.

Baru saat itulah ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Nomor tidak dikenal.

Tidak ada foto profil.

Nama pengirim hanya deretan karakter:

[K-17/OBL-Δ]

Pesan pertama muncul.

FASE 1 — PENEMPATAN

Subjek harus berada di ruang personal penerima.

Isolasi dari pihak ketiga: mutlak.

Aaron menelan ludah.

Ruang personal.

Kamar ini.

Pesan kedua menyusul, tanpa jeda.

FASE 2 — STABILISASI

Pastikan subjek berbaring terlentang.

Cahaya ruangan diredupkan.

Tidak boleh ada suara eksternal.

Ia menutup pintu kamar.

Menarik gorden.

Lampu meja menyala samar.

Layar ponselnya kembali hidup.

FASE 3 — AKTIVASI DASAR

Paket pendukung tersedia di dalam kardus.

Gunakan sesuai penanda warna dan urutan kode.

Jangan improvisasi.

Aaron teringat botol-botol kecil dan alat-alat itu. Bukan obat—setidaknya tidak diberi nama. Hanya simbol, garis dan huruf Yunani.

Pesan berikutnya terasa lebih… tidak manusiawi.

PROTOKOL KESADARAN

Subjek akan membuka mata dalam rentang waktu yang ditentukan.

Jangan berbicara sebelum respons pupil stabil.

Jangan menyebut nama apa pun.

Aaron mengerutkan kening.

Jangan menyebut nama apa pun.

Seolah gadis itu adalah halaman kosong—

dan satu kata salah bisa merusaknya selamanya.

Pesan terus mengalir.

FASE 4 — PEMROGRAMAN SOSIAL

Subjek dapat membaca dan menulis.

Memori personal: kosong permanen.

Identitas baru sepenuhnya bergantung pada penerima.

Instruksi obat akan menyusul satu jam dari sekarang.

Aaron berdehem resah. Degup jantungnya berpacu lebih tidak normal. Tidak tahu, ia bingung harus mereaksi bagaimana. Semuanya terasa tidak nyata dan terlalu aneh.

Bahwa ia adalah penerima. Bukan penyelamat. Bukan wali. Bukan penolong.

Penerima.

Pesan terakhir masuk, paling pendek—dan menurut Aaron adalah paling kejam.

CATATAN AKHIR

Pengembalian: tidak tersedia.

Pelaporan pihak berwenang: tidak direkomendasikan.

Kepatuhan memastikan keberlangsungan subjek.

Aaron menurunkan ponselnya perlahan. Benar kan? Ini adalah delapan miliarnya. Meski Aaron tidak ingat bahwa ia pernah memesan hal aneh di sana, namun saat datang, mau tidak mau harus ia terima. Membuang si gadis, menyerahkan pada pihak berwenang atau sejenis, hanya akan membuatnya sakit kepala.

Ia menatap gadis itu lagi.

Wajahnya tenang, seolah tak tahu bahwa hidupnya kini bergantung pada seseorang yang bahkan tidak tidak tahu alasan eksistensinya. Pun jika menolak, mengembalikan ke mana? Ke siapa? Website itu sudah menghilang. Nomor itu anonim. Dan delapan miliar itu… sudah menjadi masa lalu.

Aaron menghela napas panjang. Benar, tidak ada pilihan lain. Akhirnya ia mendekat ke ranjang.

“Kalau kamu bangun nanti,” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri, “aku juga enggak tahu harus apa” Dan di saat itulah, jari gadis itu bergerak sedikit.

Kelopak matanya mengendap-endap. Cahaya terasa terlalu terang, suara terlalu jauh. Dadanya naik turun tidak teratur. Mirip bayi baru belajar bernapas.

Lalu matanya bergerak cepat sekarang—mengedar pada langit-langit, dinding. Bayangan asing—lalu Aarron. Tatapannya berhenti disana, wajahnya berubah. Alisnya berkerut, bibirnya bergetar. Sementara Aaron tetap diam, mengamati dengan bingung yang berusaha ia tekan. Ia masih ingat instruksi itu; jangan berbicara, jangan menyebut nama apapun.

Gadis itu mengeluarkan suara kecil, pendek dan patah. Mirip refleks

“Mmh…” diam sebentar, lalu bersuara lagi “Ma.. ma?”

Aaron mengerutkan alis. Ia bingung, semakin bingung dan tidak tahu harus apa. Dalam instruksi, ia hanya diminta untuk jangan menyebut apapun atau akan rusak. Bagaimana maksudnya? Sementara tubuh ringkih dan pucat itu bergerak—merangkak mendekat padanya yang berdiri disisi ranjang. Aaron mematung–belum sempat berpikir harus melakukan apa.

Kepalanya menyentuh sisi tubuh Aaron, lalu sedikit bergeser, mendusal pelan, persis anak kucing yang mencari posisi paling nyaman. Tidak ada kesadaran akan batas, hanya rasa aman yang sederhana.

Gadis itu diam dalam posisi itu. Paha Aaron di dusal dan tangannya melingkar disana sembar menggenggam kain baju Aaron tanpa sadar. Jari-jarinya mengencang sebentar, lalu rileks.

Seolah, baginya itu sudah cukup. Wajah pertama, kehadiran pertama; Aaron. Pemiliknya. 

Aaron menunduk, menatap rambut gadis itu yang menyentuh pahanya.

Lalu ponsel di tangan Aaron bergetar pelan.

Satu pesan masuk. Layar menyala.

KETERIKATAN TERDETEKSI.

Subjek telah memilih titik referensi utama.

Status: berhasil.

Aaron mengerutkan dahi.

Di sisi tubuhnya, gadis itu tetap diam. Nafasnya tenang. Kepalanya masih bersandar ringan, seakan menandai posisi itu memang tempatnya sejak awal.

Pesan berikutnya muncul beruntun.

Respons subjek konsisten.

Pola ketergantungan awal terbentuk.

Kontak visual dan kedekatan fisik sesuai parameter.

Aaron membaca ulang kalimat itu.

Parameter.

Ia mengepalkan tangan perlahan.

Peran penerima dikonfirmasi.

Intervensi verbal diperbolehkan dalam batas dasar.

Jangan koreksi asumsi identitas subjek.

Matanya terangkat dari layar.

Jangan koreksi.

Benar, sistem itu tahu—bahwa satu kata bukan saja cukup untuk merusak semuanya.

Pesan terakhir masuk

Proses adaptasi akan berlangsung alami.

Subjek akan meniru, mengikuti, dan melekat.

Kegagalan penerima akan berdampak permanen.

Layar kembali gelap.

Lantas Aaron menatap si gadis. Maju mundur tangannya ingin bergerak–sekedar menyentuh atau membelai. Namun diurungkan. Ia tidak tahu, bagi sistem, ini hanya status. Pun website itu, ini hanya hasil yang sesuai.

Tapi bagi Aaron, ini bukan hal kecil. Bukan hewan peliharaan, ini manusia, ia tidak hanya menerima sebuah paket, tapi kehidupan lain. Ia menerima sebuah keterikatan yang tidak bisa dikembalikan.

 Agak lama.

Kakinya mulai pegal. 

Aaron berdiri nyaris 20 menit tanpa gerak saat gadis itu memegangi kakinya. Dan berakhir ketika bel pintunya menyala. Aaron tidak mengatakan apa-apa, hanya melepas pegangan tangan si gadis, lantas melangkah ke depan.

Ia melupakan bagian yang ini. Pun pemadam baru datang hampir dua jam berlalu. Tidak kecewa, hanya bingung saja. Saat mereka berhadapan di depan pintu, Aaron membungkuk meminta maaf dan mengaku jika tadi kakinya tersangkut di tralis balkon hingga kesulitan ditarik keluar—sementara petugas terlihat bingung, pasalnya, laporan yang dipaparkan saat menelepon dan kejadian yang berlalu saat datang sangat kontras.

Aaron meminta maaf sekali lagi karena merepotkan. Masalahnya bisa ia atasi sendiri. Berkali-kali ia nyengir tidak enak—sebelum akhirnya pemadam pamit undur diri.

Bunyi klik pada pintu mengakhiri, saat berbalik, Aaron nyaris terlonjak kaget luar biasa–si gadis berdiri di depannya. Wajahnya pucat seperti tadi, bajunya hanya terusan dress tipis putih tanpa lengan selaras dengan kulitnya yang seperti mayat.

Aaron masih mengusap dada–berusaha tidak bersuara, sementara gadis itu meraih ujung baju Aaron sambil mendongak “Mama” katanya, lagi, seperti tadi.

Aaron masih khawatir bersuara, takut melakukan kesalahan. Maka, diajak si gadis dengan merangkul bahu yang dingin itu untuk kembali ke kamar. Aaron masih berdiri di sisi ranjang dan gadis itu tetap berada di sampingnya dengan tangan masih mencengkram ujung baju Aaron.

“Mama” katanya lagi, menatap Aaron dengan mata bening dan polos.

Aaron menggeleng.

“Mama” lagi.

Aaron menggeleng lagi.

“Mama”

“Aku bukan mama kamu. Aku Aaron” nekat. Setelahnya, Aaron gelisah. Ia menunggu ada notifikasi pesan masuk ke ponselnya–menunggu instruski apa saja dari sistem sialan. Sementara si gadis menatapnya sama seperti tadi, seakan, wajah itu hanya di desain untuk satu ekspresi.

Hening agak lama.

Tidak ada pesan masuk, tidak ada tanda-tanda si gadis akan meledak, mengamuk, keluar asap, konslet, bau gas, atau indikasi apapun yang menjurus pada kerusakan. Gadis itu masih sama; diam, menggenggam bajunya, menatap polos dengan mata seperti bayi.

Aaron menunggu hingga 10 menit.

“Aku Aaron” ulangnya, berharap setelah itu, ia menemukan instruksi atau apa saja.

“Aaron?” dan saat si gadis menjawab, Aaron berdebar, takut meledak. Siapa yang tau jika gadis itu bukan manusia, melainkan robot dengan silikon buatan China dan akan di ledakkan di perang genosida. Aaron agak sawan, namun si gadis tak ubah. Tidak ada apapun.

“Ya, nama kamu siapa? Aku Aaron”

Si gadis menggeleng “Aaron”

“Aaron namaku, namamu?”

Lalu si gadis mengedarkan pandangan. Matanya menyapu apa saja di kamar itu–lalu berlabuh pada merek LED  yang menempel pada dinding tepat di depan ranjang “Samsung” katanya polos. Tatapan Aaron jelas mengikuti arah mata si gadis. Pria itu terkekeh pelan.

“Nama kamu Samsung?”

Si gadis mengangguk. Aaron menggelengkan kepala “kalau kamu belum punya nama, mau aku kasih?” si gadis hanya menatap Aaron lagi dan lagi, berkedip-kedip “mau?” lalu mengangguk.

“Siapa, ya… em..” tangannya mengelus dagu sambil berpikir. Hanya butuh setengah menit hingga seperti spontan yang terlintas sekilas “Bunga Juwita, Bunga Juwita cantik sekali” kata-katanya terdengar semangat–yang tiba-tiba membuat si gadis meniru. Gadis itu ikut tersenyum menirukan Aaron.

“Bunga Juwita” gadis itu mengulang.

“Iya, Bunga Juwita. Halo Bunga Juwita, aku Aaron. Aku bukan Mama kamu, aku teman. Atau, panggil aja aku Kak Aaron”

“Kak Aaron?”

Aaron mengangguk “gadis pintar” ia mengusap kepala si gadis “aku panggil kamu Juwita, ya?”

“Juwita ya” ulangnya, Juwita mengusap kepalanya sendiri—mengikuti Aaron. 

Lantas ia kembali memeriksa ponsel. Benar-benar tidak ada pesan masuk. Bahkan instruksi yang sebelumnya dikirimkan, kini menghilang dari daftar pesan. Tidak ada, benar-benar kosong.

“Juwita mau apa, eh enggak, Juwita makannya apa?” benar, tidak ada instruski untuk yang ini “apa Juwita nggak makan? Juwita di charger ya? Tapi dalam kotak nggak ada charger, adanya cairan-cairan aneh dalam tabung. Juga nggak banyak. Katanya Juwita untuk pemakaian jangka panjang, kalau cairan itu daya untuk Juwita, berarti nggak umur panjang dong” Aaron lantas melangkah lagi ke depan untuk mengambil map yang belum ia baca sepenuhnya. Masih ada instruksi obat atau cairan yang belum dibaca.

Dibukanya lagi, diperiksa ulang. Tidak ada kabel, tidak ada pengisi daya. Benar-benar tidak ada sesuatu apapun yang mengingatkannya pada mesin. Yang ada hanya deretan tabung kecil. Lantas Aaron mengeluarkan tabung kecil-kecil itu satu per satu. Warnanya terlalu aneh untuk kebetulan. Cairan warna-warni—merah tua, biru pucat, hijau bening, kuning keemasan—tersusun rapi seperti sampel laboratorium. Masing-masing tertutup rapat disertai pipet kecil. Tidak ada tanggal apalagi komposisi. Dan tidak ada satupun kata makanan.

Hanya simbol

Aaron menatapnya lama. Cairan itu terlalu sedikit untuk disebut asupan, terlalu steril untuk disebut minuman dan terlalu disengaja untuk sekedar cadangan.

Ponselnya baru bergetar lagi setelah sejak tadi Aaron menunggu–bahkan riwayat terakhir menghilang, layar menyala tanpa ia sentuh.

UNIT CAIRAN BERSIFAT KONTINGENSI.

DIGUNAKAN JIKA SUBJEK MENGALAMI DISKONTINUITAS.

Diskontinuitas.

Kata yang terdengar lebih seperti kesalahan sistem daripada masalah manusia.

Pesan berikutnya menjelaskan—tanpa menjelaskan.

MERAH

— pemulihan jika memori aktif terputus secara mendadak.

Digunakan ketika subjek kembali kosong.

Aaron menghelana napas. Kelakarnya mirip orang membeli robot mainan terbaru dengan sistem yang rumit dan tidak dimengerti. 

Lagi. Jadi, jika suatu saat Juwita kehilangan ingatan bukan sesuatu yang mustahil. Itu sudah diperkirakan.

BIRU

— stabilisasi jika subjek berhenti merespons.

Digunakan ketika kesadaran tidak kembali dengan sendirinya.

Ini berarti di gunakan saat tiba-tiba saja Juwita terdiam.

Bukan pingsan.

Bukan tidur.

Sesuatu di antaranya—seperti mesin yang macet di tengah jalan.

HIJAU

— koreksi jika subjek mengalami konflik internal.

Digunakan saat perilaku tidak sinkron dengan lingkungan.

Aaron membayangkan Juwita menatap kosong, bingung pada dunia yang terlalu cepat. Hatinya mengencang.

KUNING

— reset ringan pada fase transisi.

Digunakan jika perubahan lingkungan memicu gangguan.

Setiap warna  adalah jawaban atas kemungkinan gagal. Lalu pesan terakhir muncul:

CAIRAN BUKAN UNTUK PENGGUNAAN HARIAN.

HANYA JIKA SUBJEK MENGALAMI “ERROR”.

ASUPAN DAN HIDUP: NORMAL.

Dan ia mengerti. Lebih mengerti daripada memelihara kucing yang harus disteril atau membawanya sesering mungkin ke dokter. Bukan juga anjing yang ia sendiri tidak terlalu suka. Ini adalah manusia. Pesan terakhir itu membuat Aaron tahu bahwa Juwita makan normal seperti manusia. Itu sudah cukup. Lantas saat ia berbalik, si gadis kembali berdiri di depannya, lagi. Lagi, wajah polos, mata bening, bulu mata panjang-panjang, bibir merah muda yang pucat serta tatapan kosong.

“Aaron, Juwita lapar”

≽^• ˕ • ྀི≼

Sejak hari itu, hidupnya berubah total.

Aaron persis seperti memiliki bayi. Juwita selalu menempel padanya, terlalu menempel secara harfiah hingga tidak memungkinkan untuk ditinggalkan bekerja di luar. Maka, Aaron kini hanya berfokus menerima endors dan membuat konten-konten sederhana di rumah tentang produk iklan dan hal-hal sejenis.

Lagipula uangnya masih banyak.

Dan yang paling penting,  hidupnya tidak lagi kesepian. Juwita tidur seranjang dengannya. Aaron mengajari banyak hal persis mengajari balita cara hidup. Bedanya, Juwita pandai membaca dan menulis, gadis itu juga fasih berbahasa asing–selain bahasa inggris yang Aaron sendiri tidak paham.

Sudah setahun berlalu. Sejauh itu juga tidak pernah ada ‘error’ atau prilaku sejenis yang membuat tabung-tabung kecil berisi cairan itu keluar. Juwita aktif, pintar–kelewat pintar malah. Aaron telaten dan begitu sabar. Dari makan sendiri, buang air, menerima paket, berinteraksi dengan bibi tukang bersih-bersih. Intinya semua hal dasar menjadi manusia, Aaron mengajari. Bahkan pria itu membawakan guru etiket wanita  datang ke rumah untuk mengajari si gadis. Namun baru dua bulan terakhir hal—yang benar-benar tidak bisa ia tangani.

Juwita menstruasi. 

Untuk pertama kalinya setelah mereka tinggal hampir setahun. Aaron bingung, maka, ia meminta bibi tukang bersih-bersih untuk mengedukasi Juwita tentang hal itu. Hanya butuh satu kali pengertian, Juwita memahami apa yang terjadi dengan tubuhnya. Sementara payudaranya sendiri, pun baru tumbuh  segenggaman kecil. 

Tidak ada keterangan usia, meski dari postur tubuh, Aaron memprediksi jika Juwita berusia 17 tahun. Begitu juga saat ia bertanya iseng pada guru etiket dan bibi tukang bersih-bersih untuk menebak usia sang gadis. Hanya untuk mencari asumsi yang sama—dan nyatanya semua sepakat jika Juwita memang tampak seperti gadis 17 tahun yang terlambat pubertas.

Pun saat Aaron mengetes tentang pelajaran akademik, gadis itu sangat mudah mengerti dan tanggap. 

Hanya satu hal yang masih sulit; berpisah kamar. Juwita akan menangis dan mengurung diri dalam kamar mandi saat Aaron merayunya untuk memiliki ruang sendiri. Ruang privasi. Sudah s]tiga bulan terakhir gadis itu menyukai melukis, kamar Aaron berantakan dan benar-benar kacau.

Bukan, maksud Aaron adalah Juwita bukan lagi anak-anak. Gadis itu sudah pubertas dan seluruh tanda-tanda beranjak dewasa sudah tampak. Berbulan-bulan bersama, Aaron benar-benar memperlakukan gadis itu seperti adik–bayi yang lucu dan polos. Namun ketika tubuhnya berubah—membesar di bagian-bagian tertentu, menstruasi dan semakin ‘hidup’ di iringi kecantikan yang semakin menjadi-jadi. Aaron bertekad ingin berpisah kamar. Sesayang apapun dan sebagai apapun ia menganggap si gadis,  Aaron serius tak lagi bisa terus bersama-sama seranjang berdua.

Meski jika diungkit si gadis akan marah dengan menangis dan merasa tidak dicintai.

Dan Aaron benar-benar tidak pernah marah. Seumur kehadiran Juwita, Aaron tidak pernah membentak, tidak pernah melotot dan tidak pernah berkata kasar. Karena seluruh hal yang ia kerjakan–sepele—seperti mengecap saat makan serta buang angin sembarangan, maka Juwita akan menirunya, persis. Maka Aaron benar-benar menjaga sikap dan sejauh ini, ia berhasil mendidik Juwita menjadi manusia utuh yang baik dan beradab–setidaknya menurutnya.

DUA TAHUN BERLALU

Juwita sudah seperti gadis pada umumnya–ya, setidaknya benar–benar gadis manis yang cerewet dan selalu banyak bertanya. Gadis, Aaron memberinya kamar dan Juwita tentu saja sudah pindah setelah persuasi panjang, permohonan lembut, halus, kasih sayang serta perilaku Aaron yang menunjukkan cinta lebih besar. Pria itu memuji Juwita secara berlebihan hingga tidak natural, namun si gadis senang saja. Dan akhirnya berhasil membuat Juwita mau berpisah, mau memindahkan seluruh peralatan melukisnya ke ruangan khusus–ruangan yang awalnya  gudang, kini disulap menjadi studio lukisan sementara kamar Juwita berada persis di samping.

Tidak ada error.

Lagi-lagi Aaron selalu perhatian pada tiap tindak-tanduk, gerak-gerik dan seluruh ocehan. Bagi Juwita Aaron adalah hidupnya. Gadis itu mencintai Aaron hingga bisa menyandingkan pria itu setara dengan tuhan. Sementara Aaron, ia tidak tahu bagaimana mengkategorikan rasa sayangnya pada seorang gadis yang ia asuh. Sungguh abu-abu jika hanya menyebut satu warna. Dan Aaron tak berencana memastikan apapun. Biarlah abu-abu. Yang ia tahu, ia mencintai Juwita dan sangat menyayangi gadis itu, sangat. Juwita adalah keajaiban yang diberikan tuhan padanya. Pada pria kesepian yang seumur hidup haus akan teman, cinta, dan eksistensi lain sebagai partner hidup hingga pernah membuat hidupnya terjun dalam lembah malam yang rusak.

Juwita datang menuntaskan segalanya. Menyuapi jiwa lelaki, jiwa pemimpin, nurani serta kesabaran. Juwita adalah gadis manja yang mudah merengek dan merajuk dengan cara paling lucu. Siapa saja tidak akan mampu menolak rengekan menggemaskan dari si mata jernih dengan bulu mata panjang yang natural. Selalu saja menyenangkan. Wajahnya enak di pandang, bibirnya cantik berkilau, senyumnya merekah. Gadis penurut yang menyekok maskulinitasnya.

Juwita tumbuh. Ikut mengajarinya tentang sabar dan terus menjadi manusia baik hanya agar tidak ditiru karena Juwita adalah peniru ulung. Gadis itu menirukan apapun–bahkan bagaimana cara Aaron beriklan di depan kamera–bagaimana Aaron bersin, bagaimana pria itu batuk dalam kamar mandi berisik sampai cara Aaron membuang kotoran mata. Meski semakin kemari, gadis itu semakin pintar membedakan mana yang bisa ia terapkan untuknya dan mana yang hanya digunakan untuk meledek pria itu.

Bersama sang gadis, ia tidak lagi sendirian. Mereka berlibur ke luar negeri bersama, dan kemana-mana selalu berdua. Benar-benar teman hidup yang menyenangkan dan fleksibel. Juwita tidak pernah menyebalkan kecuali jika sedang menyebalkan.

“Kak Aaron, aku janji akan buang sampah selama dua hari, asal Kak Aaron mau aku lukis. Punggung” datang tiba-tiba dari dapur membawa kuas kotor, bajunya kotor dan wajahnya penuh cat, si gadis berdiri di belakang Aaron yang sedang sibuk mengeluarkan makanan dari kantong—lepas pesanan datang. Mereka akan makan malam.

“No” Aaron menggeleng sistematis, bahkan tidak melirik ke belakang. Tangannya sibuk dengan pasta, pizza dan makanan tidak sehat lainnya.

“Aku nggak akan cerita kalau Kak Aaron sering makan ikan mentah”

“Aku nggak makan ikan mentah, itu fitnah, fitnah dilarang. Ngadu keguru etiket deh” Aaron pura-pura mengeluarkan ponsel. Juwita cepat-cepat memeluknya dari belakang.

“Nggak-nggak, oke, bercanda. Aku nggak pernah ngadu apa-apa ke guru, serius. Aku sayang Kak Aaron. Guru etiket baik, tapi dia kadang suka tanya-tanya tentang Kak Aaron. Tentang kegiatan kakak, tentang… pokoknya kepo sekali. Dia kayaknya suka sama Kak Aaron. Aku nggak suka dia suka sama Kak Aaron. Usia dia 28 tahun. Kak Aaron 25”

“Emang kenapa kalau dia 28 dan aku 25? Usia hanya angka. Kalau dua manusia saling mencintai, usia benar-benar nggak terlihat” ungkapan itu di lontarkan enteng. Aaron masih terus melanjutkan aktivitasnya—perutnya di peluk penuh oleh tangan kecil yang dekil oleh cat. Gadis yang—diperkirakan berusia 19 tahun, kelewat manja dan cerewet.

Juwita menangis.

“Tukan, kenapa lagi coba?” Aaron tertawa. Juwita mendusal–menggesek wajahnya pada punggung. Tangisnya pecah.

“Kak Aaron nggak boleh mencintai siapapun kecuali aku. Kita adalah dua orang yang mencintai, nggak boleh guru etiket, nggak boleh bibi bersih-bersih atau tukang anter makanan. Nggak boleh siapapun. Aku, pokoknya aku sama Kak Aaron. Dua orang aja, nggak mau berbagi” dikatakan campur ingus dan air mata. Bajunya basah di belakang sementara tawanya malah makin besar. Karena jengkel hanya ditertawakan, gadis itu menggigit kecil punggung Aaron.

“Akkhh!! Sakit, astaga” ia membalik tubuh, lalu memeluk Juwita sambil mengacak pucuk rambut “kesayangan siapa ini, huh? Aleman banget” pelukan mengendur dan Aaron menggelitik. Juwita tertawa paksa sambil menangis “aku akan sama Juwita aja. Berdua, berdua selamanya. Nggak ada guru etiket, bibi bersih-bersih atau tukang antar makanan. Cuma kita berdua. Mereka ada untuk membantu kita hidup. Sisanya, hanya Aaron dan Juwita cantik” ia menunduk–beradu mata dengan jernih milik gadis yang kini berubah merah tergenang air.

Hidungnya merah, pipinya merah, matanya apalagi. Sampai ke telinga. Gadis itu benar-benar begitu polos mirip bayi. Jari-jarinya lentik kecil-kecil, tumitnya merah lucu dan semuanya nyaris sangat menggemaskan. Aaron tahu hampir banyak bagian tubuh kecuali bagian-bagian yang tidak.

Sekali lagi. Ia tidak tahu sebatas apa ia mencintai Juwita. 

Juwita bukan bayi meski bayi. Tubuhnya membesar, dadanya besar, lekuk tubuhnya adalah khas remaja dewasa. Ada saat-saat dimana penisnya ereksi ketika Juwita menggunakan pakaian kurang bahan, atau ketika si gadis bersuara pelan–berbisik dan embusan napasnya menghantam diri, atau erangan lembut keluar tatkala salah warna saat melukis. Aaron sering. Sejak Juwita tumbuh dan menjadi ‘wanita’

Benar, sejak tingginya sudah nyaris seleher, sejak berat badannya naik ideal mengikuti tinggi, saat suaranya lebih lembut sekaligus cempreng dan sejak gadis itu bukan anak-anak.

Aaron awalnya berpikir bahwa ia adalah pedofil gila yang menyukai bocah. Namun ia bersumpah pada diri sendiri, 1 tahun tidur bersama Juwita, tidak sekali pun pikiran kotor menyusup, tidak sekali pun penisnya ereksi. Saat itu, di matanya Juwita adalah mesin, gadis itu akan mati cepat atau lambat jika terjadi error. Benar, semua berubah ketika sang gadis mengalami fase seperti manusia, seperti gadis pada umumnya. Dan dia manusia, dia hidup, bukan mesin.

“Pelan-pelan, makannya pelan-pelan. Nggak akan ada yang minta, nggak akan ada yang ambil punya kamu, jadi santai, ya?” tangannya membelai kepala belakang si gadis. Juwita mengangguk patuh–mengurangi ukuran gigitan dan mengunyahnya perlahan. “Anak pintar” pujian itu membuat si gadis tersenyum.

“Kak Aaron abis ini mau bikin konten ya?”

“Nggak sih, nggak kayaknya, aku mau rebahan. Kenapa? Mau ajak main?” yang ditanya menggeleng.

“Aku mau lukis kak Aaron, punggung”

“Malas, aku malas bersihinnya”

“Nanti aku yang bersihin”

“Mau lukis apa sih? Harus di punggung banget? Kamu aja, sini aku lukis monyet ngikutin bentuk muka”

“Ish, Kak Aaron kaya monyet”

“Kamu”

“Kamu”

“Lah iya kamu”

“Aku cantik, kakak bilang aku cantik. Aku nggak kayak monyet, kak Aaron kaya monyet”

Aaron tak menjawab, jika diteruskan, ujungnya adalah tangisan. Maka, ia kembali menyuap makanan “oke, abis ini aku mau di lukis, tapi abis itu pijetin, gimana?”

Juwita mengangkat sebelah alis “pijat? Kak Aaron nggak pernah minta pijat. Tumben”

“Pinggang sama betis pegal banget. Kayaknya gara-gara lari kejauhan. Pagi ini aku rekor 10 kilo,  biasanya cuma di antara 5-6” si gadis kembali mengangguk-angguk

Selesai membereskan sisa makanan, Aaron benar-benar datang dalam ruangan itu. Ruang yang bagi Juwita adalah surganya. 

Sebenarnya, jika saja Juwita tidak mudah menangis, Aaron ingin sekali mengatakan jika gambar-gambar si gadis tidak terlalu bagus–bukan, ia hanya ingin mengatakan itu untuk meledek. Namun tidak pernah diutarakan. Juwita baru hidup bersamanya selama dua tahun. Ia tidak tahu, kehidupan jenis apa yang dilalui si gadis sebelum ini hingga bisa menjadi bahan jual beli.

Sungguh, makin di pikirkan, Aaron semakin ingin mendekap si gadis. Jika ia merasa hidupnya tidak adil, kesepian, menyedihkan dan putus asa, maka, ia akan malu ketika melihat Juwita.

Bagaimana jika yang mendapatkan Juwita bukan dirinya melainkan predator anak yang gila? Lalu Juwita dijual, diperbudak, disiksa dan dieksploitasi tanpa rasa kemanusiaan karena Aaron sendiri yang tahu, yang paham, jika Juwita bisa dibentuk menjadi apa saja. Si gadis bisa tumbuh menjadi penjahat, pembunuh, pekerja seks komersial, atau kemungkinan-kemungkinan mengerikan lainnya. Tergantung siapa yang mengajari, siapa yang menorehkan goresan tinta pada kembar kertas kosong itu.

Aaron bersumpah, bersamanya, Juwita akan hidup, memiliki kehidupan, di cintai dan memiliki hak asasi.

“Itu hiunya keluar dari api?” suara lembut itu kontan membuat Juwita berbalik. Senyumnya naik tinggi saat Aaron benar-benar datang ke ruangannya.

“Beneran datang, terima kasih” katanya lembut, lantas tatapannya tertuju pada lukisan yang baru ia rampungkan pagi tadi “iya, ini hiunya keluar dari api” 

“Apa maksud itu?”

“Mau aku jelasin secara filosofi?”

Aaron mengedikkan bahu “aku selalu suka atas hal-hal sederhana yang sebenarnya nggak sederhana. Kamu itu pintar banget”

Juwita tersenyum lagi ”sebenarnya, lukisan itu nggak sedang menggambarkan seekor hiu, tapi sebuah pergeseran makna tentang ancaman dan kendali. Hiu yang muncul di langit, alih-alih di laut, menandakan kekuatan naluriah yang udah keluar dari tempat asalnya, bergerak ke ruang yang seharusnya steril dari kekerasan. Dia  adalah simbol dari insting, trauma, atau hasrat dominan yang nggak lagi bisa dikurung di kedalaman”

Juwita menatap lurus pada manik gelap pria kesayangannya “bagi aku, awan bukan cuma latar, lebih ke representasi kesadaran. Di sanalah manusia menyimpan keyakinan, ilusi akan ketenangan, juga harapan akan kendali diri. Ketika hiu berenang di ruang itu, coretan warna yang membentuk lukisan ini, lagi berbicara tentang kegagalan batas, tentang sesuatu yang gelap dan liar yang berhasil menembus wilayah batin, tanpa perlu meledak atau merusak secara kasat mata” ada jeda saat Juwita tiba-tiba diam, matanya lurus pada hasil karyanya sendiri.

“Aku menafsirkan ketenangan hiu sebagai pernyataan paling mengerikan, bahwa ancaman nggak melulu terlihat besar, memangsa cepat, tajam. Bisa jadi dalam keyakinan dingin bahwa ancaman akan tetap ada, bergerak perlahan, dan menunggu. Kontras antara langit yang indah, api dan sosok hiu mencerminkan paradoks manusia, bagaimana keindahan sering dijadikan selubung bagi kekerasan yang nggak diakui. Jadi kesimpulannya, bahwa lukisan ini adalah refleksi tentang ketidaksiapan manusia menghadapi bahaya yang lahir dari dalam dirinya sendiri. Sebuah pengingat bahwa nggak semua yang tampak tenang benar-benar aman, dan nggak semua ancaman datang dari kedalaman yang gelap, yang kebanyakan nggak disadari justru melayang tepat di atas kesadaran, menunggu saat untuk disadari”

Aaron melongo.

Gambar sesederhana—meski ia tidak bisa, mengapa memiliki arti yang begitu dalam? Bukankah seorang seniman hanya mencurahkan apa yang ada di dadanya sendiri? Tidak, ini hanya menurut Aaron. Baginya, entah pelukis, penulis, atau apapun pekerjaan sejenis. Bukankah mereka hanya akan menorehkan sesuatu atas campur luka dan trauma personal? Disanalah luka di romantisasi, dimodifikasi dan improvisasi–menjadi suatu karya seni yang penuh akan paradoks. Indah, bermakna.

Aaron memeluknya dari belakang, pelukan hangat yang—formal dan tidak terlalu menempel, meski Juwita selalu melendotinya lebih dari itu. Sebenarnya Aaron berusaha keras membuat jarak dan batasan. Namun Juwita bukan seseorang yang dengan senang hati menerima batasan. Gadis pintar itu, dia melihat Aaron sebagai cinta, perlindungan, rasa aman dan tempat nyaman. Berbeda. 

“Gadis siapa ini, pintar sekali” lagi, mengacak pucuk rambut.

“Kak Aaron ayo kita menikah, aku nggak akan nyusahin” ia mendongak—matanya melihat jakun dan bawah dagu milik Aaron. Yang di lamar kontan melongo. Dari seluruh celoteh panjang, cerewet, penuh rasa penasaran dan keinginan sepele yang kadang dijadikan bahan menangis, baru sekali ini saja Juwita mengajaknya untuk hal-hal—yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu, tidak yakin dan tidak mengerti. Menikah itu…. Apa? Sementara perasaannya pada Juwita, apa?

“Emang kamu paham menikah itu apa?” tangannya mengelus pipi Juwita, sangat halus dan lembut. Si gadis mengangguk.

“Menikah adalah puncak dari cinta. Menikah nggak menjamin kebahagiaan dalam sebuah hubungan, tapi mengikat dengan peraturan. Aku tau, aku cari tahu, aku pelajari. Dan aku memutuskan mau menikah sama Kak Aaron”

Aaron berdehem, alisnya bertaut jadi satu sementara jakunnya bergerak resah. Juwita melihat raut bingung, serta semu merah pada pipi Aaron. Tapi masih gagal menyebutnya dalam satu jawaban. Juwita menunggu pria itu mengatakan apapun. Lagi.

“Kamu masih kecil, belum di usai legal. Kamu harus pelajari dulu apa itu menikah, liat contoh-contoh kehidupan nyata dan renungkan lagi” jawaban Aaron bukan seperti jawaban.

“Kak Arron cinta sama aku, nggak?”

“Pertanyaan macam apa itu?”

Juwita mengedikkan bahu “ayo tengkurap, aku mau melukis” dan sekonyong-konyong mengubah topik berat begitu saja. Aaron mengusap wajah, namun menuruti keinginan Juwita. Ia melepas atasannya, lalu tengkurap di atas alas busa.

Juwita duduk tepat di bokong Aaron. Bergerak dengan kuas.

Dan Aaron sakit kepala.

Bukan, ya, siapa saja tau. Gadis yang hanya mengenakan dress mini—mengangkangi pinggangnya dari sana. Aaron seperti itu—diam menahan–entah, hampir setengah jam.

“Masih lama?” pertanyaan itu keluar 10 kali sejak menit ke sepuluh dan makin sering saat Juwita bergerak pelan–halus, namun tetap saja, bergerak. Dan lagi-lagi gelengan kepala tanpa jawaban suara membuat Aaron menghela napas frustrasi.

“Tebak aku gambar apa”

“Paus”

“Aku nggak gambar paus lagi. Tapi.. nyaris”

“Laut?”

“Hampir”

“Ikan?”

“Yap”

“Kenapa kamu sering banget gambar ikan?”

“Apa harus ada alasan untuk itu?”

“Kupikir semua hal punya alasan” Aaron memiringkan kepalanya sebelah kanan ketika pegal.

“Aku suka ikan karena mereka berbeda. Mereka bukan di darat, mereka ada di air dan mereka punya ingsang. Ikan itu bebas. Di mataku, ikan dan burung hampir mirip. Tapi spektrumnya jauh lebih luas ikan di laut. Aku memikirkan seandainya aku jadi ikan. Berenang bebas sama teman-teman. Main ke rumah kerang dan dikasih mutiara. Terus kita bertemu banyak jenis binatang lain yang ramah dan menyenangkan”

“Seandainya dunia hanya seperti yang ada di kepala kamu” Aaron berbisik lirih “dunia nggak ramah, laut, darat, di manapun. Kamu harus jadi rantai puncak tertinggi untuk setidaknya merasa aman. Karena biantang-binatang laut yang kamu bungkus jadi ramah itu, mustahil. Ada predator ada mangsa. Dan seandainya ada satu tempat yang beneran kaya yang ada di kepala kamu, aku akan gadaikan bahkan hidupku biar kamu bisa tinggal disana dengan nyaman dan aman”

Kemudian hening. Kuas dengan cat dingin berhenti menyentuh kulitnya. Juwita tak lagi bergerak dan Aaron berusaha melihat ke belakang untuk menatap wajah si gadis.

Dan melamun.

“Kak Aaron”

“Ya?”

“Aku mencintai Kak Aaron lebih dari hidupku sendiri”

≽^• ˕ • ྀི≼

Aaron mengajaknya keluar setelah seminggu terakhir hanya berkutat dalam rumah, kamera, minimarket dan membuang sampah. Meski Juwita akhir-akhir ini sibuk mengikuti banyak les. Tidak hanya mendatangkan guru etiket, gadis itu juga belajar bermain piano, mendalami melukis bersama guru seni dan memiliki beberapa teman dari tempat les. Juwita menolak saat Aaron menawarinya kuliah dan janji akan menguruskan semua hal, termasuk memintanya ikut dalam paket sekolah yang tidak pernah diikuti. Si gadis lebih menyukai les ketimbang belajar di kampus. Atau belum, Aaron yakin Juwita akan  berubah pikiran saat pergaulannya makin luas dan terbuka.

Hanya berjalan-jalan santai di taman wisata. Itu pun ide dadakan sepulang dari minimarket membeli kebutuhan rumah. 

Aaron mengambil gambar, meminta si gadis berbalik lalu berpose menggemaskan. Melempar sepotong roti dalam kolam yang langsung di sambar angsa, Juwita tertawa kesenangan hanya dengan hal-hal sederhana.

“Kak Aaron, ambi foto sama aku dan angsa. Kita harus mencetaknya”

“Aku mirip monyet hari ini”

“Kamu enggak”

“Aku nggak keramas, aku juga berlum bercukur”

Juwita berbalik lalu bangkit. Ia mendekat pada Aaron. Hanya tiba-tiba berdiri di hadapan pria itu dengan mengikis jarak signifikan hingga baju mereka saling bersentuhan.

“Aku nggak melihat kera. Kenapa kak Aaron selalu memilih binatang sebagaia perumpamana untuk wajah indah ini?” tangan kecil si gadis meraba pipi dan rahang Aaron “aku bahkan nggak melihat bulu wajah tumbuh. Kak Aaron tampan dalam kondisi apapun”

“Hentikan, kamu akan sadar. Sekarang karena masih kecil”

“Apanya yang kecil? Mau sebesar apalagi?” si gadis melotot “aku cuma liat Kak Aaron tampan rupawan titik. Monyet juga nggak buruk rupa. Meraka senormalnya binatang mamalia aja. Jadi jelek karena di sama-samakan dengan manusia. Aneh. Suka heran sama orang yang gemar menyamakan diri sama binatang” Aaron mengalihkan pandangan. Pria itu menetap ke sembarangan. Pipinya panas.

“Kak Aaron”

“Ya?” baru matanya menyapu manik si gadis.

“Boleh aku cium bibir kakak?”

Kelopak minimalis tak seberapa milik Aaron dipaksa meregang sebagai interpretasi atas keterkejutan ajakan Juwita barusan. Pria itu spontan mundur, lalu berdehem. Ekspresinya salah tingkah dan resah.

“Juwit, hm hm, no, no” kepalanya menggeleng ke kiri ke kanan. Persis melarang anak kecil memakan tanah. Yang ditolak mengerucutkan bibir. Dua tangan melipat di dada. Aaron tahu Juwita kesal.

“Aku gadis dewasa. Aku mau cium Kak Aaron, terus berpelukan, terus.. Em..” mata jernihnya selalu saja menggemaskan “berciuman sambil tiduran? Begitu sampai pagi dan aku hamil”

“Kamu dapet ide kayak gitu dari siapa coba?”

“Youtube”

“Berhenti nonton youtube, aku akan ngadu ke guru etiket. Itu termasuk pelecehan. Kamu melecehkan. Mengajak laki-laki melakukan hal-hal tidak senonoh. Perempuan itu harus punya harga diri yang tinggi” setelah sempat mundur, Aaron kembali mendekat, ia mencubit pipi Juwita “kamu bahkan nggak boleh mengajak siapapun berciuman, jangan boleh ada yang pegang kamu. Nggak boleh, oke? Kamu mahal dan berharga. Siapapun, termasuk aku”

“Tapi berpelukan sangat menyenangkan. Karena Kak Aaron selalu menolak tiap aku peluk, maka, aku berpikir kalau aku udah bisa cari uang sendiri, aku mau bayar orang buat peluk aku” sungut Juwita seerius. Wajahnya memerah saat Aaron menolaknya. Gadis itu jelas seperti akan menangis.

“Astaga gadis ini” si lelaki menggelengkan kepala. Lantas ia mendekat. Pelukan datang pada tubuh kecil Juwita. “Sedingin apa di dalam sana.. Huh? Jangan katakan hal konyol dan oh… Juwita… aku sayang sekali sama kamu. Aku akan peluk kamu aku janji. Tapi aku nggak siap untuk hal-hal yang kamu katakan secara serampangan. Ini nggak segampang itu..” Aaron resah sementara Juwita tersenyum saat dipeluk.

“Aku nggak tau kenapa Kak Aaron selalu susah di ajak berpelukan. Tapi aku berterima kasih tiap kak Aaron mau peluk aku. Seandainya aku bisa melakukan apapun biar Kak Aaron peluk aku terus menerus sampe aku sendiri yang minta berhenti, pasti bakal aku lakuin”

Desah napas pria itu menyapu pucuk kepala. Juwita mendongak. Tangannya naik. Ia menggesek bibir Aaron dengan ibu jari “ini lembut. Aku nonton film berciuman dan aku mau ciuman sama Kak Aaron”

“Aku akan cabut wifi”

“Aku akan beli paket data”

“Aku sita tablet”

“Aku akan nonton pakai laptop”

“Juwita…” Aaron mengerang keras sementara gadis itu terkekeh kecil “tolong berhenti menonton hal-hal tidak senonoh. Itu merusak pikiran”

“Tapi aku suka. Penat setelah melukis, bosan setelah bermain piano dan muak setelah dengerin guru etiket. Aku suka film ciuman” Aaron menepis pandangan dengan membawa wajah gadis itu ke dadanya. Juwita tenggelam dalam pelukan.

“Tunggu disini, aku cari makanan dulu, oke?” lalu kembali mengurai pelukan “kamu mau apa?”

“Aku mau matcha. Makanannya terserah kakak aja”

“Baik-baik, oke” lalu pelukan benar-benar terurai “janji jangan bikin aku cari kamu sampe pusing, ya? Aku sebentar aja. Hp jangan mode hening, aku akan tawarin pilihan makanan” Juwita mengangguk cepat. Anak poninya bergerak pelan. Aaron meninggalkannya dengan lambaian tangan.

Si gadis kembali ke pinggir kolam sementara Aaron berdebar sepanjang jalan pergi mencari makanan.

Juwita sangat berbahaya. Dalam kurun dua tahun, perasaan sayang yang serius dianggap sebagai rasa terhadap kakak pada adik, pelan-pelan bergeser. Abu-abu terlalu ambigu, Aaron semakin sakit kepala. Ia bukan manusia baik, bukan seseorang yang kuat terhadap hal-hal—yang sejujurnya juga diinginkan. Jujur saja, Aaron juga ingin memeluk Juwita sepanjang malam setelah lelah bekerja. Ingin mencium ranum bibir itu, ingin mengulumnya keras-keras hingga gadis itu menangis sambil menyebut namanya.

Sial, otaknya kotor dan Aaron memukul penisnya yang menegang dibalik jeans. Ini adalah pikiran paling tolol. Ia merasa berdosa setelahnya.

Langkahnya sampai pada jajaran makanan. Matanya menyapu seluruh pedangan kaki lima yang menjajakan menu mereka—tertutup boks transparan.

Pria itu tersenyum sepanjang jalan. Tangannya penuh mencangking makanan. Pikirannya hanya satu; ingin menggigit pipi Juwita hingga gadis itu menangis. Sebenarnya, Aaron sangat ingin menjahili si gadis. Namun khawatir. Ia khawatir akan terjadi eror meski sejauh ini tidak pernah. 

Saat sampai, Juwita berdiri memepet pada dinding menghindari hujan. Aaron beruntung karena curah turun tepat saat ia sampai. Riuh orang berlarian mencari tempat berteduh. Dari banyaknya tempat, orang-orang tentu saja memilih bangunan bulat–aula untuk pengunjung duduk santai. Tidak ada kursi, hanya lantai berlapis karpet tipis. Sementara Juwita dan Aaron berada jauh dari keramaian. Hanya berdua. Undakan tangga yang sawer. Keduanya bertahan di sana. Aaron mengajak Juwita duduk. Jaketnya di lepas untuk melindungi kepala sampai pundak sang gadis.

“Matcha dan jajan. Abis ini kita lari ke mobil. Atau mau sekarang?” Aaron membenarkan anak poni Juwita yang baik-baik saja “siapa yang iket rambut ini? Tadi nggak diiket”

Juwita menyedot matcha “tadi anak kecil lagi diiket rambutnya sama ibu-ibu, terus aku ikutan” sergahnya enteng. Aaron hanya menggelengkan kepala sambil mengelus kepala itu berulang-ulang.

“Kak Aaron”

“Ya?”

“Kita cuma berdua disini, hujan. Orang-orang gak akan lihat kita karena kita duduk mepet undakan di pojokkan. Gimana kalau kita ciuman?” bertanya santai sambil menyedot minuman. Matanya berkedip-kedip. Bulu mata itu terlihat makin lebat dan panjang-panjang secara natural.

“No no no”

“Ah.. oke”

Si gadis mengangguk-angguk “kabarin kalau berubah pikiran”

“Aku nggak akan berubah pikiran, Juwita” Aaron menelan ludah, jakunnya bergerak resah. Matanya sejak tadi curi-curi pandang pada bibir si gadis yang sedang menyedot matcha. Lantas saat wajahnya panas, ia alihkan lagi pandangan itu. Tidak, itu tidak pantas. Aaron akan menggila dan menjadi pedofil jika merealisasi keinginan Juwita—keinginannya.

Tidak boleh.

≽^• ˕ • ྀི≼

Malam itu hujan deras tidak normal. 

Kaca besar mengembun, riuhnya terlihat dahsyat. Pukul 12 malam kurang sedikit. Aaron bangkit, beringsut-ingsut dari ranjang. Matanya setengah terpejam sementara tenggorokannya kering. Ia menyempatkan diri menutup gorden, lupa. Ia terlelap pukul 7, setelah seharian menyunting video lepas mendapatkan tawaran iklan. Ia bahkan tak tau Juwita sudah tidur atau belum. Yang pertama — paling penting adalah minum dulu, ia terbatuk saking keringnya tenggorokan.

Suara air mengalir dari dispenser, diiringi petir serta kilat yang entah menyambar apa. Mematikan air, ia melangkah membawa gelas untuk menutup gorden yang lain. Tenggorokannya basah, terhidrasi. Setelah itu, barulah ia pergi ke kamar Juwita untuk mengecek.

Kamarnya masih terang. Saat ia melongok, kosong.

Aaron menyipitkan mata. Mulutnya terbuka lebar — menguap sambil mengusap perut. Di ayun lagi langkahnya menuju ruang studio melukis. Meski Juwita tidak pernah disana hingga larut, namun Aaron berencana akan mengomel jika mendapati gadis itu masih saja berkutat dengan kuas atau apapun. Dan spekulasi lain menyusul seperti; Juwita menonton video porno disana, lantas kembali mengoceh tentang hal-hal yang lebih mengerikan—yang akan membuatnya makin sakit kepala.

Dan benar.

Juwita duduk menghadap kanvas kosong. Hanya duduk.

Aaron masuk, berdiri di belakang si gadis dan sengaja tidak bersuara.

Lima detik

Sepuluh detik

Lima belas detik

Setengah menit.

Aaron masih berdiri dan Juwita masih duduk diam memunggugi–menghadap kanvas kosong. Tangannya dipangku tanpa memegang kuas sementara cat air masih utuh, mungkin hampir kering dalam pallet.

Pelan-pelan, ia mendekat. Dua tangannya menyentuh bahu si gadis.

Respons yang lambat dari sentuhan awal. Juwita baru melirik ke belakang setelah Aaron memegang bahunya hampir setengah menit.

Mata mereka bertemu, namun Aaron hanya melihat kekosongan dalam manik itu. Juwita tidak berkedip, mulutnya terkatup dan pandangannya datar.

“Mama?” itu kata pertama dan berhasil membuat Aaron mendelik. Dalam sepersekian detik, Aaron panik. Ia berjongkok di bawah, tubuhnya sejajar dengan gadis itu—memastikan.

“Juwita? Ini Aaron.. Hey.. hey.. Sayang… ini Aaron..” dua tangannya menggenggam milik Juwita. Dan gadis itu dingin. Bukan, tapi seluruh tubuhnya dingin. Benar, bibirnya begitu pucat pasi, keringat dingin sebesar biji jagung memadati dahi dan hidung. Gadis itu konsisten menatap Aaron—respons nya lambat.

“Mama?” lagi. Pria itu buru-buru keluar. Ia mencari ponselnya. Sial, sudah dua tahun berlalu dan Juwita nyaris tidak pernah eror. Namun malam ini, gejala itu muncul dan bajingan apapun, ia harus mengambil cairan dalam tabung—serta kembali membaca panduan sambil berharap pesan itu tidak hilang atau terhapus begitu saja oleh sistem dari sana.

Panik.

Ia membuka lemari tengah, tempat terakhir tabung-tabung itu di letakkan. Setelah benda dalam boks di pelukan, Aaron berusaha mengatur napas.

Berusaha tenang.

Tangannya gemetar membuka ponsel. Bergulir jauh mencari pesan lama — dua tahun yang lalu. Ia mengetikan keyword pada pesan dan baru menghela napas lega ketika ternyata pesan panduan cairan dalam tabung masih ada di sana.

MERAH

— pemulihan jika memori aktif terputus secara mendadak.

Digunakan ketika subjek kembali kosong.

BIRU

— stabilisasi jika subjek berhenti merespons.

Digunakan ketika kesadaran tidak kembali dengan sendirinya.

HIJAU

— koreksi jika subjek mengalami konflik internal.

Digunakan saat perilaku tidak sinkron dengan lingkungan.

KUNING

— reset ringan pada fase transisi.

Digunakan jika perubahan lingkungan memicu gangguan.

Matanya bergulir pada tiap abjad lalu menimbang. Jika melihat dari pola Juwita barusan, Aaron yakin, cairan merah yang paling pas. Namun ia tidak tahu berapa takarannya? Dalam pesan itu juga di katakan jika cairan itu bukan untuk penggunaan harian dan hanya di pakai jika subjek mengalami eror. Berarti, satu tabung tidak di pakai semua, kan? Sial, ia menjadi jengkel karena tidak bisa ada yang dimintai penjelasan. Bahkan tidak ada nomor dalam pengirim dan tidak ada apa-apa lagi. Maka, Aaron hanya akan mencoba memberikan satu tetes dari pipet pada Juwita sambil melihat reaksi.

Ya, tidak ada jalan. Ketimbang menunggu instruksi yang sudah dua tahun tidak di terima, atau Juwita yang makin parah.

Tidak boleh.

Aaron kembali ke studio melukis minimalis. Gadis itu sudah kembali ke posisi semula—memandang kosong pada kanvas bersih dengan mata datar dan respons lambat—mungkin saja ingatannya berantakan dan memorinya terputus secara mendadak.

Ia memeluk si gadis dari belakang. Memeluk sayang sambil menciumi pucuk kepala. Dan lagi, Juwita terlambat merespons dan kembali memanggilnya Mama.

“Minum obat dulu, hm? Buka mulutnya, oke?” dengan doa-doa penuh harap pada tuhan untuk takaran serta pengembalian ingatan, pria itu hampir menangis saat meneteskan cairan dalam mulut si gadis. Aaron takut Juwita pergi, Juwita hilang dan Juwita kosong. Ketakutannya begitu nyata hingga membuat dadanya sesak. Ia tersungkur ke bawah, memeluk lututnya sambil menangis setelah berhasil memasukkan satu tetes cairan merah ke dalam mulut Juwita, dan kembali membereskan cairan steril itu dengan penuh kehati-hatian.

Memeluk lutut. Wajahnya tenggelam disana. Ia tergugu tanpa suara. Ia tidak berani mendongak–melihat reaksi Juwita setelah minum obat. Tidak, ia takut, ketakutannya lebih besar daripada pikiran positif. Hal-hal buruk terus saja berputar di kepalanya.

Bagaimana ia hidup jika Juwita kembali kosong, pergi atau bahkan mati? Kesepian lagi, menyedihkan. Setelah kedatangan paket itu, Aaron merasa hidupnya sangat berharga, berguna, serta eksistensinya saja terasa begitu dibutuhkan. Juwita membuatnya hidup, hidup yang berwarna dan bermakna.

Tidak tahu berapa lama ia menangis. 

Posisinya masih sama, punggungnya pegal, tapi air matanya belum mau surut. Pikirannya berkecamuk menyedihkan. Hingga sentuhan seseorang pada lengannya membuat Aaron mengangkat kepala. Air matanya berantakan bercampur ingus.

“Kak Aaron kenapa nangis?” si gadis. Mata itu, mata berbinar. Bulu mata panjang-panjang, bibir yang kembali merah muda, serta pipi lucu yang terus merona. Juwita kembali dan Aaron tiba-tiba menyesal tidak melihat bagaimana perubahan itu terjadi. Namun persetan dengan apapun, ia langsung memeluk Juwita erat. Tangisnya pecah dalam dekap kecil si gadis yang kebingungan. Aaron tidak menahan air mata, isak besar, serta tubuh yang terguncang. Ia senang bukan kepalang. Sementara si gadis yang tidak mengerti hanya kebingungan. Ia menepuk-nepuk punggung Aaron sambil menenangkan meski tidak tahu apa sebab pria itu menangis.

“Juwita jangan tinggalin aku…” hanya itu yang dimengerti oleh si gadis. Dahinya mengerut.

“Gimana caranya aku tinggalin Kak Aaron, huh? Aku belum bisa cari uang sendiri, aku nggak tau caranya hidup di luar tanpa kakak, kenapa mengatakan hal-hal aneh?”

Baik, Aaron harus segera menghentikan drama ini sebelum Juwita semakin bingung atau lama-kelamaan ikut menangis. Namun jujur saja, Aaron sangat penasaran, apa yang membuat si gadis eror? Adakah pemicu? Atau memang hanya datang saja tanpa sebab? Seperti mesin yang jika dipakai terus-menerus dalam waktu lama akan mengalami aus dan rusak?

Tidak. Aaron sudah bersumpah untuk tidak menyamakan Juwita dengan mesin. Juwita adalah manusia meski ia tidak pernah sakit. Juwita tidak flu, tidak batuk, tidak pernah sakit perut dan tidak pening. Gadis itu normal untuk yang lain kecuali merasakan sakit yang umumnya di rasakan orang lain. 

Karena penasaran, Aaron berpikir Juwita tidak bisa merasakan sakit, namun saat pipinya ia gigit, gadis itu menjerit kesakitan. Juwita bisa merasakan sakit, namun tidak pernah sakit. Mungkin sebagai gantinya adalah eror. Aaron menyimpulkan; eror=sakit. Juwita adalah manusia. 

Pun manusia umumnya memiliki tenggang usia, punya waktu expired. Tidak hanya mesin, tubuh manusia pun akan rusak oleh  racun, makanan tidak sehat, radiasi  dan banyak pemicu lainnya. Maka, Aaron bersumpah tidak akan menghabiskan air matanya untuk menangisi jika kenyataannya Juwita berbeda.

“Kalau Kak Aaron nangis terus, mau aku temenin tidur? Aku bisa.. Emm..” tangannya di remas-remas sendiri. Aaron sudah mengurai pelukan mereka “aku bisa menenangkan orang menangis” katanya patah-patah “tapi nanti aku cium sedikit” sambungnya lagi. Yang terakhir suaranya mirip cicitan. Gadis itu lagi-lagi menggodanya.

Aaron menatapnya agak lama, sebelum mengalihkan pandangan lalu terkekeh.

“Idih.. abis nangis ketawa..”

“Kamu mau tidur sama aku?” pertanyaan Aaron langsung di angguki antusias. Matanya kelewat berbinar saking senangnya.

“Aku pengen tidur sama kak Aaron lagi. Aku mikirin ini sampe sakit kepala, terus.. Em.. semuanya kosong.. Aku pengen pelukan sama Kak Aaron..” di katakan sambil menunduk. Gadis itu malu, namun selalu jujur.

“Kenapa kamu berpikir sampe sakit kepala? Emang kamu bisa sakit kepala?” Aaron membawa si gadis ke kamarnya lalu merealisasi keinginan gadis itu. Memeluk. Juwita langsung memeluknya erat, kelewat erat saking senangnya.

“Aku nggak sakit kepala. Itu cuma kiasan. Biar kaya orang-orang. Teman-teman aku di tempat les menggambarkan sesuatu yang sulit dengan mengatakan sakit kepala. Jadi aku ikutan”

Aaron belum menjawab.

Apa eror itu ada korelasinya dengan keinginan yang tidak kunjung terpenuhi?

“Kak Aaron”

“Ya?”

“Aku tidur di sini selamanya boleh?”

“Tukan..”

“Hehe, bercanda” Juwita memberi jarak pada pelukan, lantas melihat jakun pria itu tepat di depan mata. Tangannya naik–menekan-nekan pelan, dan jakun itu seperti bererak–berajalan.

“Eh? Kok gerak? Kok gak ikut ini benjolannya?” lantas ia memegang lehernya sendiri yang tidak berjakun “cuma laki-laki aja ya?” lalu kembali memegang milik Aaron.

Si pria terkekeh pelan “hm. Cuma laki-laki aja”

“Lucu” 

“Apanya?”

“Jakun”

“Apaan, nggak lucu kok, lucuan mata kamu. Aku selalu pengen liat mata kamu yang jernih. Kayak gak pernah terpapar debu. Aku bahkan bisa ngaca dari sana. Kamu jernih, murni, dan berkeinginan kuat. Aku suka sekali sama Juwita”

Si gadis mendongak lebih tinggi. Ia memamerkan matanya. Di buka kelopak itu lebar-lebar tepat di depan mata Aaron “lucu kan? Cium dong” lalu berkedip-kedip menggemaskan. Aaron menarik napas, lantas memudurkan kepala. Ia menggeleng sistematis.

“Geleng terus, geleng yang keras sampe pala nya jadi gasing” 

Aaron makin mundur, ia mendongak keras sementara Juwita ikut mundur. Lantas berbalik memunggungi.

Selimut di tarik tinggi, Juwita terkubur di dalamnya.

“Loh? Udah ngantuk ya?”

“Belum, tapi aku sedih di tolak terus” jeda, ada hening sepersekian detik “tapi aku juga belum bisa tidur”

Hening lagi.

Aaron berpikir keras. 

“Juwita sayang, jangan pening, ya?”

“Nggak, nggak tau, jangan ajak bicara deh, aku mau coba tidur”

“Oke, selamat tidur..” Aaron menepuk selimut–kepala Juwita pelan.

Kembali hening.

Lima menit

Sepuluh menit

Lima belas menit

Aaron tahu Juwita belum tidur, gadis itu bergerak resah di balik selimut. Sejak tadi ada saja bagian yang di garuk.

Lalu hening.

Dua puluh menit

Setengah jam.

Aaron tidak tahan. Pria itu akhirnya menghempaskan selimut keras—memperlihatkan Juwita yang menangis. Gadis itu menangis tergugu tanpa suara. Air matanya membasahi bantal–jernih itu berubah menjadi merah sampai hidung ke telinga. Hanya meringkuk seperti anak kucing yang kehilangan ibunya.

Aaron cepat-cepat menindihnya tanpa membebankan berat badan. Dua tangannya mengambil rahang Juwita, lantas menurunkan kepala. Bibirnya mendarat pada milik si gadis tepat.

Hangat, kenyal dan manis.

Juwita melotot. Jantungnya berdegup keras, lebih keras dari detik jam yang bergerak monoton.

Aaron di atasnya, tidak. Tidak hanya itu.

Bibir pria itu memagut miliknya. Sangat lembut, saking lembutnya seperti Juwita akan meledak jika terburu-buru. Tiap sentuhan sangat berharga. Tiap inci di sesap sempurna. Aaron memperlakukannya kelewat sayang, kelewat lembut dan berharga. 

Juwita menutup mata entah sejak kapan. Tubunya rileks dan sepenuhnya memusatkan diri pada ciuman perdananya, oleh Aaron, pria pujaannya.

Hati-hati lidah pria itu menari di permukaan. Pelan-pelan meminta izin agar boleh menerobos masuk. Juwita membuka mulutnya sedikit, dan ciuman mereka makin dalam, makin menggairahkan. Si gadis bersumpah sangat menyukainya. Berharap ini tidak akan pernah berlalu, perutnya melilit merasakan sengatan aneh namun yang paling jelas adalah menyenangkan. Sangat senang dan bahagia. 

Tangan kecilnya meremas dua ujung bantal. Desah lembut keluar natural dari mulut yang sibuk. Sementara Aaron seperti orang gila yang melangkahi sumpahnya. Kini akalnya tak lagi bekerja, sibuknya malah lupa diri cenderung tak akan berhenti dalam waktu dekat. Aaron bersumpah menyukai kondisi ini setengah mati.

Saat ia mendengar desah Juwita semakin jelas—mengerang pelan membuat penisnya kelewat sesak, pria itu akhirnya berhenti.

Namun saat hendak mengangkat kepala, Juwita menariknya keras, meminta untuk tidak mengakhiri.

“Udahan dulu, udah malem, besok lagi, hm?” matanya berkila-kilat. Sekuat tenaga ia menahan hasrat–melihat gadis cantik yang merona terkulai begitu tak berdaya di bawahnya–meminta lebih.

Sial, malaikat mana yang menolak? Apa ia malaikat? Kenapa harus menolak sang gadis? Apa yang membuatnya menahan diri? Di bawah umur? Anak-anak? Atau apa? Sementara ia mengingkan lebih dari apapun—mungkin saja lebih dari Juwita menginginkannya, bedanya, Aaron hanya tidak mengatakannya. Tidak terang-terangan. Kini, jelas sudah keabu-abuan.

Mata mereka bertaut. Agak lama Aaron menatap wajah itu—meneliti pada tiap sudut hingga terakhir berlabuh pada mata sejernih air tak terjamah.

“Juwita.. Kalau aku nggak berhenti, mungkin aja aku akan menyakiti kamu” Aaron mengatakannya seperti berbisik tanpa mengubah posisi. Yang di ajak bicara hanya menatap mata kanan dan kiri Aaron secara bergantian.

“Sakit jenis apa yang akan aku dapat?” 

Pertanyaan itu kelewat berani. Juwita tak sedikit pun gentar. Buku-buku tangannya mengerat ujung bantal makin kencang, ia seperti cacing yang menggeliat di bawah tubuh Aaron “Kak Aaron…” lalu ia merengek “aku cuma dingin.. Hidupku selalu dingin. Aku nggak tau kenapa aku begitu mendambakan pelukan. Aku juga nggak tau kenapa aku sangat ingin bersentuhan sama kakak, sangat ingin berkutat dalam keintiman. Aku nggak mengerti. Apa semua gadis kaya gini? Atau aku aja? Kenapa aku murahan? Kenapa aku begitu dingin dan kesepian? Kenapa aku haus kasih sayang… sebenarnya.. Aku ini siapa? Dimana orang tua aku? Kenapa aku menjijikan? Kenapa mengemis kasih sayang secara berlebihan? Seandainya aku tau alasannya, seandainya ada penawarnya atau paling tidak, aku seperti gadis umum yang bisa menjaga jarak dari laki-laki yang membuatnya aman, hangat dan merasa nyaman. Aku ingin. Tapi kenapa begitu sulit? Aku ingin pelukan, sentuhan dan cinta. Sama seperti aku ingin makan dan minum. Lapar dan haus” si gadis menangis saat mengatakannya. Air matanya tumpah lagi, matanya merah lagi.

Hening setelah itu. Juwita menangis, ia tidak menahan air mata, tidak mengusapnya juga sementara Aaron masih menyangga dua tangan di antara tubuh–tepat di atas si gadis.

“Juwita… aku sayang kamu.. Aku akan peluk kamu. Sentuh kamu dan kita akan berkutat intim sampai kamu merasa penuh dan hangat” kepalanya turun lagi. Aaron mencium bibir merah menangis, memagutnya rakus. Tidak, tidak ada lagi kelembutan, tidak ada lagi hati-hati. Seperti apa yang dikatakan Juwita bahwa sentuhan itu seperti kebutuhan pokok makan dan minum. Maka, Aaron memakan Juwita seperti kelaparan bercampur dahaga nyaris dehidrasi.

Juwita menyambutnya, meski yang di lakukan hanya diam menikmati bagaimana rongga mulutnya penuh di acak-acak.

≽^• ˕ • ྀི≼

Vagina merekah begitu bersih dan cantik. Permukaannya basah sementara labia terlihat tipis hanya segaris–khas mirip bayi, tanpa sehelai bulu apapun. Aaron menelan saliva resah. Pertimbangan antara bersikap bijak dengan kembali menutup pemandangan itu atau meneruskan napasnya yang terlanjur memburu seperti binatang buas lapar yang menemukan mangsa”

Kepalanya turun. Aaron menciumnya pelan-pelan, lalu menjilatnya lembut membuat Juwita bergidik geli. Permukaan itu makin basah.

Tidak. Sudah terlanjur, lagi pula Aaron akan bertanggung jawab atas hidup si gadis. Sejak awal, pun Juwita yang juga begitu menginginkan. 

Aaron meraupnya, menggerakkan lidah ke atas ke bawah–konstan dan konsisten, mengetuk-ngetuk klitoris lalu membelah lubang vagina dengan lidahnya. Juwita praktis mendesah keras. Kepalanya mendongak dengan dua tangan yang masih mengerat pada ujung bantal.

Itu sentuhan paling gila setelah puting payudaranya. Rasanya jutaan kali lebih menyenangkan dari ciuman pertama di hari yang sama. Juwita lagi-lagi mengerang dengan suara melengking. Sesekali meraup rambut Aaron kuat-kuta — ketika vaginanya di acak dengan lidah.

Mendongak sedikit. Hanya ingin melihat wajah terangsang dengan suara paling keras dari sebelumnya. Juwita hanya menggigit bibir bawah sebelum pria itu kembali turun dan menginvasi.

“K-kak.. Akh! Ah! Hhmmhh!! Ah!!”

Tatapannya turun. Entah inisiatif dari mana, namun gadis  itu memberanikan diri melihat ke bawah. Melihat bagaimana Aaron–seperti memakan vaginanya habis. Bergerak liar, mendorong lidah dalam lubang, menggesek kelentit lalu menjilat. Pria itu menikmati–mirip memakan potongan pir segar di siang hari.

Pelan-pelan tubuhnya menegang. Stimulasi terus-menerus bersama kenikmatan yang tak ada matinya. Aaron tidak memberi jeda, tidak membiarkan Juwita setidaknya memproses apa yang terjadi di bawah sana. Mungkin saja rasa nyaman saling berkombinasi menjadi satu kesatuan aneh. Rasa yang tak pernah ia temui sebelumnya. Seumur hidup.

Begitu indah.

Juwita menggelinjang dengan suara melengking ketika sensasi aneh itu datang. Ia  merasakan darah mengalir cepat bertumpu di kepala. Dua pahanya merapat, mengapit kepala Aaron kuat-kuat. Urutannya adalah; tubuhnya melayang begitu ringan, lalu kejang kecil di susul cairan bening yang meleleh banyak. Lagi,  tubuhnya mengejang–kecil-kecil lagi—seiring air yang menyembur ke wajah pria di bawahnya. Juwita mendengar bagaimana Aaron meneguk cairan yang kelaur seperti menelan soda. Masih banyak hal yang tidak di mengerti, namun Juwita tidak akan bertanya sekarang. Yang pasti, Aaron tidak akan menyakitinya dan ini justru indah. kontradiksi dengan apa yang di ocehkan pria itu sebelum memulai.

Keringatnya banyak, terengah-engah bersama vagina yang masih di jilati hingga bersih.

“Kak?”

“Hm?”

“A-aku.. Aku pipis” katanya ragu dan patah-patah “itu menjijikan”

“Apanya yang menjijikan?”

“Itu–”

“Ini manis” Aaron tertawa. Gelagatnya seperti pria edan dan ia sadar. Tapi tidak mau berhenti. Setidaknya hingga tuntas.

Juwita tidak bersuara lagi. Aaron menutup kegiatannya dengan mengulum kelentit itu sebentar, lalu bergerak naik ke atas ranjang untuk berbagi saliva bercampur cairan vagina dengan sang dara.

Mereka berciuman lagi. Lagi, panas dan basah. Berbagi cairan indah sebelum pria itu bangkit. Meninggalkan tubuh polos yang terkulai lemah—menatapnya sayu sembari melucuti satu-satunya penutup diri.

Dari jarak itu, Juwita meneleng, memperhatikan Aaron yang datang mendekat sembari memegangi batangan panjang dan besar. Jika tidak salah, dan Juwita adalah si ratu perhatian pada satu-satunya makhuk yang ia cintai. Bukan, maksudnya, ia melihat panjang itu  di hiasi urat-urat kebiruan. Ujungnya memerah dan bagian yang membuatnya mengerutkan dahi adalah ukuran. Aaron memperhatikan si gadis, sebelum ikut menatapnya batangnya sendiri.

“Aku udah bilang, mungkin ini akan nyakitin kamu” ocehan itu bukan lagi peringatan. Namun nasihat penyesalan.

Aaron kembali naik ke ranjang, mendekat pada wajah sang gadis sebelum menggesek ujungnya pada bibir cantik itu.

“Apa?  Masuk? Kayanya nggak bisa, Kak, dari ukuran aja mustahil bisa masuk mulut” si gadis menimbang, lalu menggerakkan rahanya terbuka–memaksimalkan. 

“Bisa” Pria itu percaya diri, lalu mencari alternatif dengan menjepit dua pipi lalu kemudian memasukkan ujung batangnya sedikit-sedikit.

“Coba dulu ya?”

Si gadis mengangguk. Lantas menjilat ujungnya sedikit-sedikit.

Hanya gerakan sederhana. Lidah itu seperti kuas lukis yang bergerak kecil di atas kanvas. Tapi berhasil membuat Aaron mendongak, mendesah pelan sementara sisa batang yang tidak tandas dalam mulut si gadis, ia kocok sendiri. Apa karena sudah sangat lama? Kenapa enak sekali?

Namun tidak bertahan lama. Juwita kembali mendongak. Hanya sebentar. 

“Kak, rahang aku pegal” si gadis tersenyum canggung . Air liurnya ikut keluar seiring penis keluar sedikit dari mulut kecilnya.

Aaron ikut nyengir.  Lalu menunduk–menciumnya sekilas. Sebelum meratakan bekas saliva gadisnya pada permukaan batang ― menjadi pelumas alami. Mungkin. 

Turun. Pria itu memisahkan dua kaki  lalu menekuk betis itu hingga mengangkang. Sesaat tangannya sibuk menempelkan ― menggesek ujung pada permukaan vagina untuk mencari pelumas yang lebih banyak. 

Di rasa kurang, Aaron meludahi ujung batangnya sendiri.

“Sayang”

“Hum?

Menatap mata jernih kesayangannya yang kini hanya memandang langit-langit lalu bergantian pada matanya, meneliti chendelier dengan dua tangan mengerat pada bantal. Gadis itu tegang.

“Jangan tegang, oke?” perintah itu membuat  Juwita kembali memiringkan kepala, menatapnya yang tersenyum teduh—menambah kapasitas ketampanan. Aaron lalu menekan-nekan vagina itu dengan jari, kembali memberi stimulasi dengan memasukkan jari tengah pelan-pelan. 

“Nggak sakit, kan?” Bunyi kecipak jari yang beradu dengan paha, gadis itu menggeleng sambil menggigit bibirmya pelan. 

Agak lama Aaron memainkan jari-jarinya. Masih basah dan… ya.. Wajah gadis polos dengan mata sejernih air tak terjamah. Aaron seperti akan gila meski sudah gila dan sadar akan kegilaannya. Ia bersumpah mati sangat menginginkan Juwita.

Lalu  menarik tangannya perlahan. Menjilati jarinya sesaat sebelum mengarahkan batangnya pada liang yang.. Ia tidak tahu apa sempit itu akan baik-baik saja setelah ini.

Ujung batang menggesek lembut. Mata mereka bertatapan meski Aaron sesekali melihat ke bawah. 

Panjang itu menabrak-nabrak liang pelan.. Mencoba, gagal, pelan, lembut, hati-hati, sambil memohon agar di izinkan masuk. Aaron masih menggesek, sesekali mendorong keras meski gagal berkali-kali.

“Sayang”

“Hm?”

“Tahan sedikit, ya? Ini mungkin akan sakit”

Hanya sepersekian detik setelah ocehan terakhir terlontar, Aaron membenarkan posisinya lagi, menembak tepat sasaran sebelum menggerakkan pinggulnya keras. Keras, sangat kuat hingga berhasil masuk menyeruak membelah lubang sempit sesak. 

Masuk.

Aaron memperhatikan Juwita yang meringis. Air matanya turun di tiap sudut. Wajahnya merah padam namun ia tidak mengeluh–bersuara atau meminta berhenti.  Darah keluar merembes, tidak banyak, namun cukup membuktikan bahwa Juwita adalah hadiah terbaik sepanjang hidupnya.

Aaron menyisir rambutnya ke belakang dengan dua tangan, lalu mengusap wajahnya pelan dengan senyum puas yang sejak tadi bertengger tak pudar. Urat-urat kebiruan tercetak jelas pada pelipis dan leher.

“Juwita?”

“Hm?”

“Mau berhenti?” sang gadis menggeleng keras. Ia menyeka air matanya buru-buru.

“Aku suka, ayo teruskan” katanya skeptis.

“I love you, ini akan nggak nyaman.. Oh.. sayang” Aaron menurunkan tubuhnya, menciumi wajah itu lembut dan menyeluruh, sementara kemaluan mereka masih menyatu hingga tandas.

Vagina itu jelas tegang atas benda asing yang tiba-tiba merangsek membelahnya seakan merobek dinding-dinding sempit di dalam sana. 

Sambil menahan perih, Juwita memberanikan diri menatap mata itu. Legam di atasnya memantulkan gambar diri yang terlihat berantakan dan lemah. Yang tersisa hanya semburat merah dengan rambut berantakan.

Juwita teringat atas ungkapan “jangan tegang” maka, dengan pintar ia bernapas pelan-pelan. Kaki yang menegang terurai pelan-pelan. Napas yang ditahan berhembus sedikit-sedikit. 

“Oh.. gadis pintar ini” seperti membanggakan anak yang mendapat juara kelas, Aaron mengapresiasinya penuh.

Lalu bergerak sedikit ketika bagian bawah itu tak lagi tegang. Penisnya begitu sesak tak dapat bernapas di dalam sana, bahkan untuk keluar sangat sempit. Butuh tenaga lebih agar lancar.

“Sakit?”

Juwita mengangguk. Kini dua tangannya mengalung pada leher Aaron, memberanikan diri menatap mata indah yang terlihat liar ketika menggagahinya. Aaron terlihat berbeda, wajah tampan yang dikombinasikan dengan mimik terangsang, benar-benar mencuri perhatian. Pria itu mendesah kuat merasakan batangnya di remas kuat di sana. Otot-otot vagina seperti mencengkram keras lalu meremasnya berulang-ulang tiap ujungnya keluar masuk meski tak lancar.

Bagian paling indah di tengah rasa sakit adalah suara Aaron yang memenuhi seluruh ruang. Desahan pria itu memantul membawa kembali rangsangan yang sempat hilang. Juwita menatapnya polos dengan mata jernih itu, dan segelenyar rasa menyenangkan kembali datang, membuat vaginanya sedikit-sedikit beradaptasi.

“Juwita – Fuck! Fuck! ah!” Aaron meracau di tengah terjangan gilanya di dalam sana. Penisnya begitu hangat menghajar langsung dinding vagina. Ia bersumpah jika penisnya akan menjadi pecundang di tengah otot kuat yang meremasnya di dalam.

Juwita tidak menjawab. Hanya menggigit bibir bawah sambil merasa-rasa apa yang paling mendominasi. Sakit? Atau sesuatu lain–yang mungkin saja pelan-pelan memudar meski nikmat tak sepenuhnya ia rasakan. Setidaknya, rasa perih itu benar-benar berkurang. Vaginanya beradaptasi patah-patah.

“Kak–”

“Hum?’

Juwita hanya ingin memanggil. Suaranya putus-putus. Kini tubuhnya terguncang naik turun. Si gadis bersumpah dapat melihat penis besar itu tercetak besar pada permukaan perut menusuk tubuhnya. 

Seolah, gerakkan kecil dan pelan yang dilayangkan pria itu, seperti mampu membuatnya terpental ke sana ke mari. Anggap saja tidak ingin melihat bagaimana batangan besar tertanam dalam lubang sempit. Juwita hanya mendongak dengan tubuh berantakan dan sesekali meraba perut bawahnya yang terus menonjolkan benda asing.

“Sayang.. Oh… kamu  hangat” racauan sinting. Aaron menancapkan penisnya lebih dalam, menusuknya jauh hingga mengetuk pintu rahim–pula mendapatkan bagian paling indah di dalam sana. Dan Juwita ikut mendesah setelah meringis panjang, merasakannya di sana. Satu titik yang membuat tubuhnya panas dan perut bagian bawahnya seperti digelitik.

Agak lama dengan posisi sama, di barengi sentuhan yang lagi-lagi konsisten, berulang. Dan entah di menit ke berapa, tubuhnya mengejang lagi. 

Aaron bangkit dan tersenyum mirip setan.

Vagina di bawah berkedut keras makin meremas ujungnya di sana. Sementart tempo di percepat—sambil memegangi dua betis sang gadis kuat. Geraknya begitu brutal hingga Juwita yang sejak awal menahan rasa perih, kini menjerit-jerit kuat bersamaan dengan cairan yang kembali meleleh meski gagal keluar karna tersumbat batang panjang yang sesak. Tubuh lemah itu  kembali terkapar  dengan wajah yang benar-benar seksi — di mata Aaron.

Di detik itu, Arron mencabut penisnya paksa. Membuat Juwita bernapas dan meninggalkan lubang menganga meski langsung tertutup keelastisan.

Jejaknya bangkit. Mengambil kantong berisi lateks dan merobeknya kasar dengan gigi. Tidak, Aaron memeriksa tanggal kadaluwarsa. Saat melihat sudah sangat lama, pria itu tidak jadi menggunakan pengaman. Sudah berapa lama tidak berhubungan seksual? Astaga. Seluruh lateksnya expired.

Juwita  yang masih meraup oksigen dengan sisa-sisa tenaga, masih mampu menatap pria  yang tiba-tiba bangkit tidak tahu untuk apa. Aaron kembali memegangi penisnya–naik ke ranjang. 

“I LOVE YOU” Ungkapan cinta dan permohonan maaf yang terus di agungkan. Juwita tidak pernah bosan mendengarnya, bahkan jika Aaron mengatakannya sejuta kali. Kini, ia balik memeluk leher itu sayang sambil menciumi pipi Aaron berulang.

“Nyaman nggak? Mau lanjut apa udah?” pertanyaan itu membuat Juwita bingung. Lalu ia menimbang dengan menggigit ujung ibu jarinya “kalau aku maunya gak udah-udah sampai mati, gimana?”

Aaron terbahak-bahak. Namun tidak menanggapi ocehan si gadis yang terakhir, malah meninggalkan kecupan sekilas pada bibir cantik sebelum kembali fokus pada batangnya yang kini menghadap sempurna pada liang sempit.

Aaron mendengar hela  napas lembut khas penenangan dari sang gadis sebelum pinggulnya kembali menghantam kuat–mengetuk liang memaksa masuk. Penis itu melesat sempura setelah dua kali gagal masuk. Juwita kembali meringis bersama kuku yang menancap pada pundak Aaron. Tidak perih, namun mengagetkan.

Gerakan lambat dan hati-hati. Mereka berciuman di antara batang panjang yang keluar masuk lumayan mudah dari sebelumnya. Aaron sudah mendengar desah pendek-pendek. Lembut, perlahan. Kadang hanya mulut menganga dengan bibir bergetar tiap batangnya di hentak kuat. Aaron menurunkan kepala dan mengulum bibir itu sekilas, agar basah dan merekah.

Rambut berantakan, payudara yang naik turun sesuai hentakkan, bibir sensual serta desah tertahan ketika ia jejal mulut cantik itu dengan lidahnya, Aaron seperti akan gila karna terus mengagumi sang gadis yang tak pernah meninggalkan kecantikan dalam segala kondisi. Cantik yang murni, benar-benar alami.

Semuanya tampak selaras. Tepat ketika puncaknya nyaris menyentuh langit. Gerak yang awalnya lambat penuh kelembutan lama-kelamaan menjadi lebih agresif. Aaron bergerak maju mundur setelah melepas pagutan mereka. Masih di posisi sama meski kini penisnya terlihat lebih mudah di dalam.

Juwita meraih apa pun untuk berpegangan–mencari keseimbangan ketika gerak liar membuat tubuhnya seperti akan terpental–kelimpungan. Selimut yang di remas kuat-kuat menjadi saksi bagaimana pria gagah itu mengerang keras mengguncang tubuhnya seperti singa jantan perkasa.

Bunyi kecipak dua paha yang beradu serta penis yang menabrak-nabrak mulut rahim adalah alasan desah panjang menggema beradu menciptakan harmoni indah atas tindak cabul kedua pasangan itu.

Hingga puncaknya ketika kedut itu membuat penis terasa lebih besar dengan gerakkan yang makin dipercepat, Juwita menyadari jika orgasme ketiganya akan datang seiring milik Aaron yang berkedut keras, berkali-kali sebelum—entah mengapa Aaron menarik paksa penisnya buru-buru.

Pria itu mengerang–cairan tumpah bagai di semprotkan jatuh menghujani perut sampai payudaranya. Tidak lama, setelah itu Aaron ambruk dan memeluk Juwita. Bekas cairan mirip perekat yang menyatukan mereka.

Keduanya diam kecuali desah napas yang semakin stabil. Aaron masih berada di antara ceruk—memeluk. Juwita merangkulnya sayang.

“Kak Aaron”

“Ya?”

“Terima kasih”

“Hm hm, no no. Aku yang terima kasih. Besok, kita menikah”

Juwita terlonjak “menikah?”

“Hm, menikah. Aku akan bertanggung jawab penuh atas apapun. Kamu akan jadi istriku”

Aaron dapat merasakan tubuh si gadis bergerak tidak karu-karuan karena kesenangan. 

Aaron ikut terkekeh.

“Juwita.. Berjanjilah untuk jangan tinggalin aku.. Jangan eror, jangan sakit…”

Write a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *