BAKERY CAFE

Cara bicaranya melompat-lompat. Matanya kosong. Pria itu bahkan kesulitan mengenali sekitar. Gesturnya selalu gelisah. Kadang tiba-tiba marah, tiba-tiba takut dan sesekali menoleh dan berbicaraa sendiri.

“Toko roti adalah tujuan kami” 

Tertawa ringan, air matanya jatuh di pojokan.

“Tidak, seharusnya tidak. Apakah ada jalan kembali?”

Ia mulai mimpi lagi, persis seperti semula. Pil terkumpul di bawah bantal dan semuanya tidak pernah benar-benar hilang.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Sofa mengerut membentuk cekungan dalam mengikuti massa yang membebani ketika Axel merebahkan bokong di sana. Malam itu formasi  sempurna. Tiga pria itu berkumpul di halaman belakang—seperti biasa, seperti kebiasaan mereka. Namun malam ini berbeda setelah kesepakatan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dilakukan. 

Ini perkumpulan tidak penting tiga pemuda seumuran—single, yang menjalani hidup umum dan kelewat biasa. Mengisi rutinitas akhir pekan—seperti masuk dalam daftar wajib dilakukan meski isinya hanya omong kosong tidak berguna.

Ketiganya sama-sama lepas menyelesaikan pendidikan terakhir S2 di tiga kampus berbeda. Sama-sama melajang namun memiliki cita-cita serta tujuan yang jelas berbeda. Ketiganya ‘akur’. Berteman sejak masuk sekolah dasar membuat mereka begitu dekat. Dekat, kata teman terlalu dangkal untuk menyebut ikatan mereka.

Malam ini, rumah Axel menjadi tujuan setelah pria itu meminta dua temannya datang, lalu mulai mengatakan hal-hal mengerikan—lebih mengerikan dari gaya bicara yang kontras dengan kelakuan. Axel selalu saja berhasil membuat merinding.

“Lu nggak bisa nyalain kompor, nggak bisa goreng tel0r dan lulusan magister sastra. Lu mikir apa sih?” kening Pip mengerut. Wajahnya nelangsa,  pria itu penuh kekhawatiran. Hal pertama yang dikatakan dalam grup chat cukup membuat pemuda itu prihatin atas mental temannya. Pip lebih baik melihat Axel membuka celananya di depan gadis yang ingin di kencani–memperlihatkan dalaman hello kitty ketimbang membicarakan keinginannya yang ini.

“Gua dukung” yang satu lagi mengangkat tangan. Pria dengan jaket kulit mengkilap sementara pierching ikut bersinar terpantul cahaya lampu temaram–tersenyum seperti pemuda baik hati yang akan mendukung temannya hingga sukses. Penggambarannya sangat kontras, Rey adalah yang paling suka sekali kekacauan.

Axel menghela napas seperti hanya sampai malam itu sisa umurnya. Sebenarnya, keputusannya untuk membuka kafe kue sudah ia pikirkan jauh sebelum ia mengenyam pendidikan S2. Ayah dan ibunya tidak mempermasalahkan. Malah cenderung mendukung dan akan menjadi dontur–tentu saja, tentu saja dengan kesepakatan yang tidak dimengerti oleh dua temannya. Yang bagi Pip, itu adalah jenis dukungan yang didasari keputusasaan yang dikemas serapi mungkin. Atau seperti dua orang kaya yang melihat anak disabilitas mereka melakukan hal yang ‘normal’ sebagai pencapaian. Dua orang tua Axel tampaknya sudah menyerah dengan anak bungsu mereka.

“Kata gua, mending lu nulis.  Nulis aja nulis. Bikin cerpen, novel, apa kek. Nulis. Yang penting yang berhubungan sama tulisan” itu demi kebaikan temannya. Pip mengatakan tulus, setulus ia memperhatikan Rey yang sejak tadi menahan gelak.

“Lu bayangin. Dia nggak bisa masak, nggak bisa apapun sama hal yang melibatkan masak. Tiba-tiba mau bikin kafe kue” Rey tidak tahan. 

“Ya mungkin maksud  sobat sastra ini, dia mau bikin kafe kue tapi bukan dia yang masak, yakan?” Pip menepuk pundak Axel. Berusaha berpikir paling logis.

“Gua yang bikin” jawab Axel praktis. Memecah keyakinan Pip. Rey makin terbahak-bahak hingga tubuhnya bergetar.

“Lu tau, masak bukan cuma soal mahir atau enggak,  bisa atau enggak atau punya basic atau nggak. Masak juga bisa berarti belajar, belajar melewati hal-hal yang sebelumnya paling dihindari. Kadang, beberapa hal harus melewati zona nyaman untuk mendapat esensi kehidupan. Kita semua berproses dan terus belajar” Axel menjawab dengan filosofis–khas karakternya. Dua temannya itu sudah kebal di nasehati dengan gaya sastra. Kadang, kalimatnya menggunakan majas tinggi serta metafora yang seharusnya tidak digunakan untuk pergaulan bobrok itu. 

“Kata gua nulis.. Ya Allah.. Percaya sama gua. Lu kudu jadi penulis ketimbang ngobok-ngobok terigu” Pip mengusap wajah kasar.

Axel menggeleng “nulis bukan basic gua”

“Lu kuliah hampir delapan  tahun sampe S2 ngambil jurusan sastra. Dan sekarang lu bilang nulis bukan basic lu?”

Axel menggeleng.

“Kuliah sastra bukan buat nulis dan berhenti nyuruh gua nulis”

“Toko udah siap. Semua udah beres. Gua akan mulai belajar secara langsung di toko, otodidak” ucapan itu membuat dua temannya saling pandang dengan hidung yang di sedot seakan ada ingus padahal tidak. Jeda agak lama, pun kata ‘otodidak’ mengusik keduanya—seperti dua temannya itu mencari akal untuk tidak menyakiti perasaan Axel yang sebenarnya sangat kebal meski jika saat ini keduanya mencaci maki serta meyakinkan jika Axel memang tidak perlu masuk ke dapur demi kesejahteraan bersama, maka pria itu tidak akan sakit hati. Sungguh,  keputusan gegabah yang diambil serampangan mirip orang putus asa sebelum mencoba apapun selain itu. Apapun, asal jangan masak. 

“Gua akan datang dan beli kue lu” suara Pip akhirnya, ia menghela napas.

“Gua pasti akan senang” Axel tersenyum tulus. Lesung pipi dangkal tercetak. Ia merangsang hanya dengan memikirkan aroma margarin yang meleleh di atas pemanggangan. Sangat menggairahkan.

“Abis itu gua buat lempar anjing” Rey melanjutkan, pria itu cekikikan tak ada basa-basi atau sekedar penyemangat. Tidak, jangan berharap sesuatu seperti penguatan dan manis-manis. Pria itu realistis dan perundung ulung “gua harap, nggak ada pemadam kebakaran, nggak ada keracunan dan nggak ada hal-hal yang melibatkan kerusakan”

“Gua akan membuktikan sama dunia bahwa gua bisa, bahwa gua mampu dan ini adalah jalan menuju kebahagiaan dimana gua mendapat uang dari melakukan hal-hal yang gua suka” pria itu mengubah posisi–membuat sofa membentuk cekungan di tempat lain. Axel terdengar begitu tenang sekaligus antusias. 

“Kata gua mah, dari dulu misal lu emang suka sama roti. Hal-hal yang berbau ke sana. Kenapa nggak ambil tata boga aja? Kuliah di luar negeri yang mel—”

“Gua suka sastra Indonesia juga” Axel memotong kata-kata Pip yang kontan membuat pemuda tampan itu diam. Mata mereka bertemu dan sejak saat itu, Pip menyadari jika Axel memang bukan manusia biasa. Dan akan sangat buang-buang energi untuk mendebat pria itu, mengatakan bahwa betapa tidak masuk akalnya pendidikan yang dienyam dengan apa yang akan digeluti. Pip memang tidak mempermaslahkan tentang korelasi keduanya asal itu bukan Axel dan masak. Intinya, Axel dan sesuatu yang berhubungan dengan mengolah makanan adalah yang paling buruk.

“Dan kalian berdua akan jadi karyawan gua”

Baru setelah Axel mengatakan itu, peperangan seperti baru saja di umumkan. Dua pemuda yang sejak tadi masih menganggap bahwa Axel demam atau masih dalam pengaruh anestesi–meski tidak, makin tidak percaya.

“Gua mending nerusin jaga warung kelontong emak bapak gua. Udah berisik aja mereka. Dari awal gua udah bilang mau merantau ke Jepang. Di sini nggak ada harapan” Rey yang menjawab. Pemuda anak pedangan sukses itu berhasil menyelesaikan pendidikan magister Teknologi dan memang tujuannya akan pergi ke Jepang.

“Gua mau kerja kantoran ikut paman gua di Singapura” Pip ikut melontarkan tujuannya meski bukan sekali ini saja mereka membahas apa yang akan dilakukan setelah lulus.


“Gua tau” kata Axel apatis “maksud gua, kan kalian perginya nggak langsung sekarang. Ngurus ini itu, segala hal. Pasti berbulan-bulan. Sebelum kalian pergi.. Ayolah.. Bantu gua dulu”

Itu bukan permintaan. Baik Rey maupun Pip. keduanya paham dan tahu. Itu menjadi titik dimana keduanya ingin sekali memukuli Axel hingga tewas.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Dan disanalah ketiganya.

Axel tak berbohong jika orang tuanya mendukung bahkan mensponsori. Mereka juga yang belum apa-apa pamer pada seluruh kolega serta kerabat dan teman-teman jika anaknya membuka kafe roti setelah lulus kuliah. Pip tidak tahu apa keluarga Axel memiliki semacam ganggaguan pada kepala atau mereka memang tidak masuk akal seperti itu sejak awal.

Juga Rey. Pria yang paling terlihat garang dengan tubuh besar, tato, pierching sekaligus paling jago masak di antara ketiganya, kini berdiri di depan adonan dengan celemek dan berbagai hal yang berhubungan dengan roti, kue dan sejenis. Rey bersumpah tidak akan terlibat jika bukan ayah dan ibu Axel yang meminta dengan persusi yang andal. Ia dan Pip juga diiming-imingi gaji besar meski Rey bersumpah jika kafe ini akan tutup bahkan tak sampai seminggu. Atau katakan jika mereka mendapat satu saja pelanggan yang waras alias bukan dari siapapun–keluarga Axel, maka, ia akan mencium bokong temannya itu. Ini tidak dilontarkan. Sangat berbahaya.

“Kita punya Rey yang bisa di andalkan” ungkap Axel berbangga saat kedua orang tuanya melihat ke dapur. Kafe belum buka dan ketiga pemuda yang sama sekali tak memiliki pengalaman membuat kue itu tengah berkutat dengan hal itu—membuat kue yang akan dibuka dua jam lagi.

Mendengar Axel menyeret namanya dengan label ‘di andalkan’ pria itu merasa seperti baru saja dibebani tugas negara dimana ia menjadi pimpinan perang di negara berkonflik tanpa pengalaman militer dan penggunaan senjata. Hanya bermodal insting.

“Axel anjing, babi, bangsat” ia mengumpat pelan. Tangannya meremat ayakan terigu. Lantas dua orang tua Axel menatapnya dengan teduh, seperti melihat ksatria dengan pangkat tinggi alias yang paling bisa di andalkan. Rey bersumpah demi mentega dan pengembang kue, ia tidak mengerti.

“Kamu punya pengalaman buat kue apa, nak? Mama bangga sama laki-laki yang pintar masak” kata Mama Axel, khas. Wajahnya mirip pemain sinetron dimana saat tertidur, bangun tidur, mandi, bersantai, bulu mata tebal dan riasan tetap aman tertempel di wajah.

“Pengalaman masak sayur lodeh Ma” jawab Rey jujur. Pip diujung sana yang sedang mengolesi paggangan dengan mentega tertawa terbahak-bahak. Suaranya besar tak lagi peduli pada dua orang tua Axel yang mirip orang tua di film yang tidak masuk akal.

“Kalian bercanda terus. Yang serius. Nanti kalau udah buka, Mama mau ajak teman arisan ke sini” ia berbalik menatap anak bungsunya yang terlihat paling tidak masuk akal dari semua hal tidak masuk akal di dapur itu. Axel sedang mengocok telur dicampur gula. Katanya ingin membuat brownie.

“Ma, ini serius kita dilepas gini aja? Maksudnya, nggak ada sewa chef atau siapapun? Kita kaya hilang arah” Pip bersuara, mengangkat tangan hampir putus asa. Mama Axel menggeleng.

“Ini kemauan Axel, dari nol dan untuk media belajar” katanya. Dan benar, memang semua tidak masuk akal. Keluarga Axel adalah yang paling kaya dari mereka bertiga. Anak bungsu dengan kakak perempuan seorang owner skincare terkenal. Brand besar di tanah air. Sementara dua orang tuanya juga pemilik perusahaan yang diturunkan sejak kakek moyang mereka. Kendati kaya raya, mereka semua tampak tidak masuk akal  bagi Rey dan Pip.

Sialnya pertemanan mereka berjalan awet.

Pip berdehem saat tiba-tiba Mama Axel mendekat dan berbisik  di telinganya. Pria itu dapat mencium aroma cedar dan citrus yang  berpadu dengan minyak angin dari tubuh itu.

“Kamu turutin aja, Mama akan gaji kamu besar. Ini syarat dari Axel biar dia mau masuk ke perusahaan Papanya dan magang jadi CEO. Dia cuma minta buka kafe roti dan mulai semua dari nol. Setelah itu, baru dia mau di ajak kerja yang serius ikut Papa nya” kata-kata Mama Axel baru membuat Pip mengerti—meski tetap tidak normal. Setidaknya,  ketidakmasukalan ini berdasar dan pikiran tidak percaya pada keluarga kaya raya yang ia anggap bermasalah dengan isi kepala itu, berkurang sedikit. Setidaknya, dua orang tua Axel jelas putus asa.

“Oke” jawaban itu disertai senyum tak natural. Yang terpenting digaji tinggi meski mereka tidak menyebut nominal. Sembari menunggu berkas-berkasnya di urus sebelum terbang ke Singapura. Tidak masalah bagi Pip.

“Oke, Mama pulang dulu. Tiga jam dari sekarang, Mama akan datang lagi sama teman-teman, oke?” wanita itu mengusap wajah anaknya sayang. Menarik hidung Axel–berharap ingus keluar dari sana—yang benar-benar tak pantas di lakukan pada anak berusia 28 tahun. Sebenarnya, terlalu banyak ketidakmasukakalan keluarga Axel, namun yang paling parah adalah hari ini. Mereka bertiga di lepas dalam dapur untuk membuat kue—yang akan dibuka beberapa  jam lagi. Tanpa arahan, tanpa pemandu dan hanya bermodal tutorial youtube. Pun, Axel tak memberi tugas, tak memberi panduan. Pria itu hanya mengatakan untuk membuat apa saja asal jangan racun dan bisa di makan; roti.

“Bikin apa lu?” Axel mengintip adonan Pip. Pria itu sedang mencampurkan tepung dan gula, lalu di tambah margarin dan diuleni sebelum di bentuk bulat-bulat. 

“Donat” jawab Pip malas. Ia hanya melihat dari video yang berputar tanpa berharap jadi, tanpa ekspektasi dan tanpa semangat. 

“Kayaknya bagus punya lu. Kalau udah jadi, kasih toping coklat” si pemilik masih berkomentar.

“Kalau mau laku, mending topingnya duit. Selain itu, gua gak yakin” tangan besar membentuk bulat-bulat, Pip tidak bisa masak, tidak bisa. Pria itu bersumpah.

Setelah itu, Axel menengok milik Rey. Pria yang paling bisa masak di antara dua yang tidak bisa masak itu terlihat serius dan sibuk.

“Lu bikin apa?” pertanyaan itu membuat Rey melirik sedikit. Ia sedang melelehkan mentega dan coklat. Dalam mangkuk lain, Axel melihat campuran gula dan telur.

“Brownie”

“Kayaknya punya lu bakal best seller” ucapan Axel membuat Rey berhenti mengaduk coklat dan mentega. Ia menatap temannya prihatin.

“Apa yang mendasari lu mengatakan itu?”

“Gua liat, lu punya potensi menjadi seorang chef andal di dapur ini. Gua yakin brownie lu bukan cuma enak dan lezat. Tapi juga punya banyak makna akan arti persahabatan dan cinta. Lelehan coklat yang manis dan jujur” lagi, Axel. Rey bersumpah ingin menuangkan coklat panas ke wajah temannya itu.

“Dengar, dengarkan gua setan,” Rey menghela napas “coklat ini manisnya nggak jujur karena bukan berasal dari coklat asli. Melainkan gula. Coklat asli itu pait”

“Gua tau, itu cuma metafora”

“Please nulis aja nulis… jangan masak..” Rey mengerang frustrasi.

“Gua akan cobain brownie lu untuk pertama kali. Mama gua harus iklanin ini biar viral dan go international”

Tidak ada yang menjawab. Semua orang berharap Axel mengalami benturan hebat dan membuat pria itu berubah pikiran dengan memilih menjadi CEO dengan pekerjaan sampingan sebagai penulis karya sastra dengan majas tinggi. Bukan berkutat dengan terigu, oven, gula dan sialan lainnya.

“Guys, kerasa nggak? Darah gua mengalir kencang saat gua ngaduk terigu.. Ini adalah cinta, ini adalah hasrat dan ini adalah arti kehidupan yang nggak akan gua dapatkan dengan duduk di balik meja kerja. Kalian merasakannnya?” Axel merentangkan tangan. Ia hirup aroma minyak goreng yang mulai panas saat Pip akan menggoreng donat.

Rey berhasil membawa brownie yang paling ‘layak’ di antara semua menu dadakan dan amatir — masuk dalam etalase. Pria itu juga membuat roti-roti yang lain dengan isian keju, selai stroberi lezat dan beberapa pie. Semuanya benar-benar hanya mengandalkan video tutorial tanpa arahan. Sementara donat Pip berada di paling kanan. Donat bulat dengan toping beraneka ragam menggugah selera. Rasanya standar saja, kendati, itu lebih baik ketimbang karya Axel.

Axel membuat bolu.

Ia tidak tahu apa yang salah, apa yang kurang dan apa yang terjadi. Bolu nya sangat keras. Saat di lepas dari cetakan, bolu Axel jatuh ke lantai dan tetap utuh–kokoh. Saat Pip mencoba mengangkatnya, ternyata mirip adukan semen. Pip juga bersumpah jika makanan itu di lempar pada anjing, maka anjing itu akan tewas.

Mereka sempat berpandangan beberapa detik tatkala bolu di angkat. Setelah itu, Axel menenangkan Pip. Seolah-olah bolu itu adalah hasil karya Pip dan Axel memberi semangat untuk tidak menyerah meski gagal. Tidak tahu darimana keoptimisan mengerikan itu di dapat. Pria yang gemar membaca ribuan buku pasti memiliki segudang kutipan untuk dilontarkan pada tiap bagian kehidupan.

Dan dua jam berlalu bagai kedipan mata. 

Toko itu sudah di buka setengah jam lalu. Rey masih sibuk di dapur. Pria itu masih mengeksplorasi berbagai macam roti dan kue sementara Axel dan Pip duduk di depan. Pip membereskan menu, Axel sibuk memotret ini dan itu.

“Kata gua mah,” Pip menata donat dan brownie sambil berusaha mengajak temannya yang sibuk memotret untuk berdiskusi “ini saran gua sih. Tapi gua harap lu mempertimbangkan” kata-katanya terpotong dengan dehem dan batuk kering “kata gua mah, mending lu sekarang mabur ke Holland Bakery. Beli apa aja di sana terus hidangin ke Mama lu dan teman-temannya. Percaya sama gua”

Perkataan itu membuat Axel berhenti memotret. Pria itu melirik temannya dengan mata paling tidak percaya sedunia–memicing dan datar, seakan ocehan itu adalah ajakan untuk membubarkan DPR dan membuat rapat darurat dengan majelis permusyawaratan rakyat–guna kembali mengatur tatanan kenegaraan.

“Kata-kata lu melukai harga diri gua, tapi gua maafkan karena lu sahabat gua dan donat lu enak” lantas ia tersenyum ramah.  Terlalu ramah hingga kadang-kadang, Pip mengira bahwa Axel adalah pria berkebutuhan khusus yang memiliki gangguan mental tertentu.

“Dengar, nggak akan ada yang langsung bagus dalam sekali percobaan kecuali hoki. Itu pun nggak akan bertahan lama. Sesuatu yang awet, yang langgeng, biasanya harus mengalami yang namanya proses panjang. Luka, kegagalan, dan segala macam hal yang bikin kita down. Gua percaya” Axel menghela napas. “Tapi kalau misal gua bisa suskes dengan cepat dan terkesan instan, gua percaya momentum yang tuhan kasih ke gua”

“Bagus kalau lu percaya. Tapi asal lu tau, lu nggak buat kue hari ini. Sekarang,” Pip menunjuk semua makanan dalam etalase “semua yang ada di sini dan seorang pria bertato, pierching dan besar di dalam sana yang lagi sibuk buat kue. Itu bukan lu. Kita berdua akan pergi dalam kurun tertentu. Jadi pikirin lagi tentang percobaan saat lu bahkan cuma satu kali mencoba dan gagal, terus mengandalkan punya gua dan Rey. Ini bukan hasil tangan lu, tapi gua dan Rey” Pip menekan-nekan tiap kata berharap Axel sadar atau apapun.

“Nah itu, gua punya kalian. Masakan kalian masakan gua juga”

Dan Axel tidak mengerti. Memangnya sejak kapan pria itu mau mengerti? 

Hingga bunyi ting-nong terdengar. Axel meniru gaya minimarket saat ada pelanggan masuk dengan alarm khusus. Kedua orang itu kontan mengatupkan rahang sebelum menggantinya menjadi senyum ramah. Mama Axel memenuhi janji—datang bersama tiga temannya dengan gaya yang tak jauh berbeda dengannya. Mereka terlihat galmor, serba mahal dan aroma mereka begitu memikat satu sama lain. Meski kulit leher bergelambir belum kembali di kencangkan.

“Toko roti Axel. Kalian harus cobain menu best seller disini” ucapan Mama Axel pertama kali membuat Pip mengernyit. Bagian ‘best seller’ benar-benar mengganggunya.

“Apa menu best seller disini?” salah seorang teman Mamanya bertanya. Maka, Mama Axel melihat pada anaknya dengan sorot bangga. Seakan bocah berusia dua puluh delapan tahun itu lepas memenangkan medali emas atas olimpiade matematika tingkat internasional.

“Belum ada bestseller tante, kan baru buka. Tapi kami punya menu andalan yang sayang banget kalau di skip alias menu wajib” ujaran Axel membuat Pip makin khawatir. Ia bahkan tidak bisa menduga, temannya itu akan menunjuk apa sebagai ‘best seller’ yang bahkan—hampir semua yang ada di etalase rasanya saja mirip roti seharga dua ribuan di warung madura.

“Kita punya donat begang”

Pip putus asa. Pria itu ingin kabur.

Dari semua donat yang berhasil ia buat. Axel memang hanya bersenda gurau atas segala tingkah dan perbuatan. Bercanda hingga benar-benar tidak lucu. Pria itu mengambil piring dan donat yang dibuat dari sisa adonan—malah di suguhkan sebagai testing. 

“Ini menu andalan. Coba aja dulu. Kalau mau beli yang utuh harganya lumayan. Soalnya modalnya juga di impor dari Kanada” itu juga bohong. Pip bersumpah membeli bahan-bahan di warung madura. Juga, Axel sempat mengatakan brownie Rey yang akan menjadi best seller. Benar-benar di luar dugaan. Ia bersumpah akan memberikan jiwanya bagi siapa saja yang bisa menerka isi kepala Axel.

“Oh.. waw” salah satu teman Mamanya memperlihatkan reaksi yang–tentu saja bingung dan aneh. Namun mereka tidak mengatakan apa-apa. Padahal, Pip berharap mereka akan mencaci maki dan membuat mental Axel terluka, lalu Axel akan menyudahi bermain chef–dan toko roti sinting ini.

Donat kurus itu masuk dalam mulut. Mesisnya meleleh di lidah. Rasa donat nya pas.

“Ini enak banget” komentar salah satu lagi. Axel tersenyum bangga—melirik Pip dengan lesung pipi memuakkan. Sementara yang membuat, meringis. Itu jelas kebohongan demi menyenangkan bayi dua puluh delapan tahun yang benar-benar menyedihkan.

“Besok tante ada acara arisan di rumah. Tante mau pesen donat tiga ratus biji ya, Axel? Serius ini enak banget. Tante akan iklanin ke teman-teman yang lain” yang paling kurus dan pendek berkomentar setelah menghabiskan satu buah donat kurus. Matanya berbinar-binar. Liurnya hampir jatuh. Pip terbelalak dan Axel makin membusungkan dada.

“Siap tante, udah aku bilang ini akan best seller”

Di tengah keterkejutan Pip. Disusul Rey yang datang dengan kemeja digulung selengan dan membawa nampan berisi kue—mirip croissant. Pria itu tidak percaya. Namun aroma sesuatu yang dibawa Rey cepat-cepat mengalikan. Wanginya sangat enak.

“Ada pelanggan?” pria bertato itu bertanya, keringatnya banyak dan hidungnya berminyak. Pip bergidik sebentar lalu menunjuk pada perkumpulan ibu-ibu kurang waras dengan bibirnya.

“Kalau itu, nggak gua anggap pelanggan” Rey bertolak pinggang. Aroma musk bercampur keringat membuat pria itu memiliki wangi yang khas “mereka akan bilang enak walau mengerikan”

“Mereka pesen donat gua 300 biji” ungkapan Pip membuat Rey melebarkan pupil.

“Donat lu?”

Pip mengangguk. Jeda beberapa detik, Rey tertawa. Tawa pria itu membuat teman Mama Axel melirik sekilas.

“Dan yang mereka coba itu donat begang, sisa adonan” Pip menghela napas “coba si sat, lu cobain donat gua. Kadang gua merasa…” pria itu tidak menyelesaikan kalimatnya. Sebenarnya ia sedang tidak ingin berpikir. Biar saja jika memang sialan apapun yang ada di etalase ini di sukai wanita-wanita itu. Hendak palsu maupun nyata, ini tidak akan berpengaruh pada hidupnya. Biarkan Axel bermain dengan kegilaan yang didukung oleh keluarganya itu. “ini croissant?” Pip mengalihkan, lantas melihat pada roti panas yang diletakkan dalam nampan stainless di atas etalase.

“Anggap aja begitu, nggak gua coba sama sekali. Serah rasanya. Bodo amat” Rey mengedikkan bahu, pria itu kembali ke dapur setelah mengambil soda dalam lemari pendingin dan meneguknya kasar sambil berlalu. Menghilang di balik pintu.

Rey pergi dan Axel mendekat. Matanya kontan berbinar melihat roti baru di atas etalase.

“Ow.. gua harus kasih bonus buat Rey” ungkapan itu penuh kegembiraan. Axel membaui seperti menghirup narkoba. Rakus dan tergesa-gesa. Uap roti memenuhi pernapasannya.

“Dapet uang dulu, baru mikirin bonus” 

Lontaran itu tak di gubris. Axel membawa roti yang masih panas dan sepuluh buah donat serta brownie. Pip membantunya mengantar pada pelanggan yang sebenarnya bukan pelanggan. Sambil melayangkan senyum palsu, Pip berhasil mendapat atensi dari ibu-ibu di sana.

“Ini chef nya?” matanya beradu dengan milik ibu-ibu yang bertanya. Pip sangat ramah.

“Saya buat donat aja Ma, sisanya teman saya di dalam”

“Donat? Jadi kamu yang buat? Bukan Axel?” pertanyaan itu membuat Pip bingung. Ia melirik pada Axel dan bergantian pada si ibu.

“Iya, mereka yang buat. Saya belum coba bikin lagi. Tapi saya bangga punya teman-teman keren yang bisa membuat roti setara sama chef-chef kelas dunia. Mereka ini sangat bisa diandalkan dan begitu cekatan serta mahir. Tiap apa yang mereka olah, akan menjadi maha karya yang nggak hanya mementingkan rasa, tapi juga keestetikan. Dibuat dengan penuh cinta serta simbolis pada tiap rupa yang di bentuk”

Pip menggaruk tengkuk. Omong kosong itu lama kelamaan membuatnya ingin menjadi kriminal.

Hari pertama, pembuatan dadakan dan perdana. Baik Rey maupun Pip, keduanya tidak akan berekspektasi tinggi apalagi berharap mendapat pujian, laku, atau seseorang gila manapun akan mencicip, tidak, ia tidak. Pun, toko roti bisa bertahan satu minggu saja, itu merupakan pencapaian. Maka, Pip yang kini berhadapan langsung dengan pelanggan, menganggap bahwa mereka memang murni mengatakan semua kalimat-kalimat pujian itu sebagai kepalsuan. Bisa saja mereka sudah menyusun skrip dari dalam mobil—yang diketuai oleh Mama Axel sendiri. 

“Oh.. croissant” hidangan itu menjadi rebutan. Seakan, para ibu-ibu kaya di sana tidak pernah menemukan olahan terigu yang dicampur pengembang dan gula serta telur—yang dibentuk menjadi tampilan mahal. Pip akan memuji Rey setelah ini.

Tidak tahan. Pip pamit undur diri. Pria itu berjalan ke dapur dan duduk di sofa, memperhatikan Rey yang kembali sibuk menguleni adonan, entah akan membuat apa lagi.

Suara sorak ibu-ibu masih terdengar meski keduanya benar-benar tidak menangkap jelas apa yang mereka bicarakan. Pip memandangi punggung besar. Tangan kekar Rey berurat saat menguleni adonan–seakan adonan itu terbuat dari batu yang di lelehkan.

“Croissant lu laku keras” Pip menghela napas. Ia duduk lelah bersandar pada belakang sofa. Celemeknya kotor serta bau amis bekas telur. Ia tidak menunggu jawaban Rey. Tapi pria itu berbalik.

“Pip, gua tiba-tiba suka  kegiatan ini”

Dan itu kabar terburuk setelah semua hal.

-ˋˏ ༻❁✿❀༺ ˎˊ-

Hari kedua setelah pembukaan pertama yang jelas tidak berhasil menarik pelanggan manapun selain Mama Axel dan teman-temannya yang palsu–meski Axel tidak menganggapnya palsu kecuali Pip yang ngotot dan terus mengatakan mereka palsu dan mendesaknya untuk menyerah. Namun, kini dua banding satu. Rey ada di pihaknya. Pengakuan itu berhasil membuat Pip kehilangan suara dan mau tidak mau  ikut melanjutkan.

Dan hari ini, bohong jika Axel tidak menduga. Justru, ini adalah bagian dari rencana dimana teman-teman Mamanya serius mempromosikan toko rotinya pada kerabat, dan kenalan mereka. Alhasil, tepat pukul dua siang setelah empat jam toko roti di buka di hari kedua, Axel kembali mendapat pelanggan yang datang secara bergerombol.

Semuanya remaja tanggung. Mereka bermata sipit. Masih mengenakan seragam sekolah menengah pertama. Sopir dan asisten rumah tangga mengikuti mereka. Jumlahnya sekitar empat anak dan semuanya perempuan. Sangat imut dan cantik-cantik.

Bunyi alarm pintu dibuka. Aroma feromon khas anak baru gede yang di padukan dengan parfum mahal membuat mereka begitu kentara  berasal dari keluarga kaya raya. Axel menyambut mereka ramah sementara Pip ada di balik meja kasir. Rey seperti biasa, di dapur.

“Om, apa yang best seller disini? Mama bilang toko roti ini terenak di Jakarta dan aku suruh mampir” salah satu anak mendekati Axel, tingginya di bawah dada sedikit. Rambutnya di kepang dua dengan anak poni lucu. Pip yang mendengar langsung menggeleng dengan bola mata berputar.

“Yang paling best seller ada donat begang, donat otoriter, croissant promax, sama brownie simalakama” ocehan Axel kembali membuat Pip mengusap wajah. Ditanya best seller, si ahli sastra itu justru menyebutkan semua menu dengan nama panggilan yang baru saja ia dengar hari ini.

“Oh.. waw.. Terdengar unik. Aku mau coba donat.. Em.. apa tadi? Donat otoriter” lalu bocah itu melihat teman-temannya “kalian pesan apa? Disini nggak ada buku menu. Tampilan toko rotinya aja kayak toko matrial. Kalian pesan lah yang paling terdengar masuk akal. Kalau kita keracunan, yang penting Mama nggak ngomel lagi. Capek banget suruh beli roti”

Lantas gadis kecil itu duduk setelah meminta asistennya menyeka kursi dengan lap. Sisa tiga temannya ikut memilih menu dan mereka duduk berhadap-hadapan. Empat asisten yang kebanyakan adalah ibu-ibu berusia empat puluhan, hanya berdiri di samping majikan mereka. Sopir menunggu di luar.

“Disini nggak beracun anak-anak! Kalian akan merasakan pengalaman keren saat lelehan surgawi ini pecah di mulut kalian” Axel berseru bangga. Ia lantas menuju kasir dan meminta Pip yang mengantarkan.

“Lu bakal di tuntut sat, kalau anak-anak itu keracunan. Mereka orang kaya walau lu kaya juga” Pip berkomentar sembari mengambil pesanan anak-anak.

“Makanan gua nggak beracun. Lu yang buat. Apa lu taro pestisida?” Axel membuka minuman yang sudah dipesan dan memasukkannya dalam gelas tinggi sebelum memberinya es batu.

“Orang kaya nggak akan suka”

“Orang kaya orang kaya mulu ni sobat miskin. Lidah mereka sama aja” si pemilik memberi isyarat dengan mulut “udah buru di anter. Mereka pasti mau pergi les setelah makan”

“Donat otoriter untuk gadis kecil yang cantik. Croissant promax untuk gadis imut, brownie simalakama untuk si paling bersinar. Minumannya lagi dibuat. Tunggu sebentar, oke?” Pip sangat ramah. Wajah tampannya begitu memikat membuat bocah-bocah baru gede itu menganga—memandangi parasnya dengan cara paling tidak biasa. Pip kira, orang-orang kaya tidak akan bertingkah seperti itu.

“Kakak yang buat ini?” di atas dada, ada papan nama. Pip membacanya dan mengetahui jika gadis itu bernama Angela.

“Aku cuma buat donat, Angela. Kalau brownie dan croissant dibuat sama temanku di dalam. Kuharap kamu dan kalian semua suka. Jika menemukan ketidaknyamanan atau rasa yang kurang berkenan, kalian bisa mengirimkan teluh ke pemilik” ucap Pip konsisten. Senyumnya tinggi.

Lantas Axel datang dengan minuman, Pip mundur beberapa langkah.

“Om, aku maunya dilayani kakak yang tadi” ucap Angela. Matanya memindai minuman yang terlihat tidak enak.

“Yang mana? Pip?”

“Namanya Pip?”

“Ya, dia Pip”

“Aku mau sama Kak Pip”

“Kenapa kamu panggil dia kakak sementara aku om? Aku dan Pip seumuran” cela Axel mengernyit. Ia melirik temannya yang berdiri memegang nampan.

“Aku akan datang lagi kalau kakak itu mau duduk disini” sergah Angela–mengabaikan ocehan Axel sebelumnya.

“Hey gadis-gadis kecil. Aku aduin Mama kalian” Axel mengancam.

“Aduin aja, kita pergi. Abis itu kita akan buat postingan di X, Ig, Tiktok dan semua sosial media kalau makanan disini mirip sampah kecuali donat Kak Pip”

Axel menganga tidak percaya. Matanya menatap satu persatu dari mereka yang sibuk memotret makanan di atas meja. Lantas mendarat pada ancaman Angela yang terdengar begitu ngeri.

“Pip, ini tamu VIP. Tolong ajak mereka bicara dan kasih customer service yang keren” Axel langsung tersenyum—memaksa temannya untuk ikut duduk setelah ia mengambil kursi dari sebelah. Pria tampan itu mau tidak mau bergabung dengan bocah-bocah. Tiba-tiba, ia merasa seperti pria sinting yang digandrungi anak di bawah umur. Lalu setelah ini, berita bahwa ia pedofil merebak dan masa depannya hancur. Secepat itu otaknya membuat skenario. Pip berusaha terlihat tenang.

“Oh Kak Pip! Kak Pip umur berapa?” 

“Kak Pip, skincare nya apa?”

“Kak Pip udah punya pacar?”

“Kak Pip boleh minta nomor?”

“Kak Pip bisepnya besar banget”

“Kak Pip, bisa liat abs?”

Seluruh pertanyaan itu belum sempat dijawab. Mereka semua terus mengajukan pertanyaan–mengabaikan makanan mereka yang sudah sepenuhnya terhidang.

“Anak-anak, makan kue dulu baru aku jawab” perintah itu berhasil membuat empat anak menyantap makanan mereka. Ada yang mengernyit setelah makanan itu masuk dalam mulut. Ada yang datar saja, ada yang kembali dikeluarkan dan sisa satu orang mengangguk–merasa itu biasa saja alias ‘masih layak’

“Aku nggak bisa makan-makanan kelewat manis. Aku cepet resisten insulin” kata si gadis yang mengeluarkan brownies dari mulut. Ia merasa bersalah pada Pip. Padahal, Pip malah merasa itu wajar dan normal serta menganggap bahwa seperti itulah reaksi seharusnya.

“Jadi, apa Kak Pip punya pacar?” tanya Angela. Gadis itu  mengulum croissant dan menelannya susah payah. Namun masih berusaha menghargai. Pip menerka jika anak-anak orang kaya seusia ini memang berada di fase sangat pemilih terhadap makanan. Mungkin, itu juga hanya perkiraan.

“Aku, Axel dan satu lagi temanku di dalam namanya Rey. Kami semua jomblo. Dan akan sangat senang kalau kalian sering datang dan beneran makan jualan kami” kata-kata Pip di reaksi anggukan oleh Axel yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya. Pria itu tersenyum ramah,

“Waw! Aku akan sering datang” sergah Angela semangat “tapi, boleh aku liat perut Kak Pip? Kak Pip aja, yang lain nggak usah” permintaan itu membuat Pip menatap ke samping—tepat dimana Axel berdiri sambil cengengesan. Lantas pria itu mengatakan sesuatu mirip berbisik.

“Babi” Pip menggerutu. Diam-diam ia mengacungkan jari tengah di bawah—pada Axel yang menertawakannya.

“Ayolah, Kak Pip. Abis ini aku akan pamer di akun tiktok ku kalau roti dan kue disini enak banget” itu juga membuat Pip muak.

“Axel aja Axel, ya? Di keren juga”

“Om Axel mah bapak-bapak” si gadis cemberut.

“Aku seumuran sama Pip, dik. Astaga. Kita bertiga seumuran” Axel mengklarifikasi kesalahpahaman dalam menilai dari Angela. Namun siapa yang akan peduli? Setelah itu, Axel membuka atasannya. Ia memperlihatkan tubuh besar dengan otot-otot yang terpahat begitu indah hasil gym dan menjaga pola makan. Namun bukan pujian atau tatapan penuh binar dan kagum. Anak-anak disana malah menjerit menutup mata mereka. Lantas para asisten ikut panik, mereka meminta semua orang untuk keluar. Reaksi mereka seperti melihat orang gila yang memamerkan alat vital.

Melihat reaksi keos, Axel cepat-cepat memakai kembali atasannya. Para pelanggan sudah kabur. Lalu satu asisten kembali lagi untuk membayar tagihan dengan makanan yang tidak benar-benar mereka makan.

Gantian Pip yang terbahak-bahak.

Sungguh, jika ada kegiatan yang ingin dilakukan, itu adalah berjualan kue bersama dua temannya. Jika harus jatuh cinta, Axel akan jatuh cinta pada toko ini dan dua temannya. Penggambaran itu sudah ada sejak lama. Hal-hal yang tidak disetujui semua orang. Nyatanya, Axel tidak benar-benar mencari uang, tentu saja. Ia hanya ingin vibrasi dan kebersamaan sebelum dua temannya pergi dan mereka akan berpisah dengan kehidupan masing-masing. Berbeda negara.

Dan toko roti akan terus berjalan sembari menjadi titik koordinat dimana semua akan kembali di sini. 

“Lu bilang pengen jadiin toko roti sebagai pekerjaan utama. Dasar nggak waras” Pip masih tertawa saat temannya itu hanya melongo lepas ditinggal pelanggan palsu bagian dua.

Tidak, sebenarnya, tujuan Axel membuat toko roti berubah-ubah sesuai kebutuhan dan suasana hati. Yang pasti, hanya toko roti.

Ketiganya memutuskan duduk di meja pelanggan ketika sampai pukul sebelas malam, tidak ada sepotong manusia pun datang. Hanya duduk, tanpa ponsel, tanpa distraksi. Mengobrol seperti pria dewasa mengobrol meski tidak yakin dengan isi pembahasan.

“Mau tutup jam berapa bos?” Rey melirik jam dinding sebesar nampan di atas hiasan dinding. Pria itu menguap lebar, rambutnya lepek dan keringat sudah hilang digantikan udara pendingin yang kering. Satu tangan diatas meja sementara tangan yang lain mengusap wajah. Ia menunggu Axel bicara.

“Bentar lagi sih. Siapa tau ada yang lewat”

Kedua temannya mengangguk bersamaan. Pip sudah nyaris jatuh dengan mata tertutup—mengantuk sementara Rey terus mengulang–menguap berkali-kali.

Ting–nong! 

Benarkan?

Axel langsung berdiri dan melihat ke arah pelanggan datang. Senyumnya naik tinggi—serta dua temannya yang menyusul dengan pipi naik sangat ramah.

“Kak, bisa bungkusin donat 4 biji?  Tetangga kos saya lagi nyidam pengen donat. Tapi toko roti di mana-mana udah tutup, mana udah malem” seorang gadis. Pakaiannya piyama tidur. Rambutnya di cepol acak dengan anak poni jatuh sembarangan. Kulitnya begitu putih tertimpa cahaya dari lampu—memberikan efek sparkle yang tidak dimengerti. Juga sangat wangi “ada kan?”

“Ada, ada ada” Axel mengangguk ramah. Ia langsung pergi ke balik etalase untuk mengambilkan pesanan.

“Toko baru ya Kak?”

“Iya, baru dua hari buka” jawab Axel–konsisten. Lalu si gadis melihat pada Pip dan Rey yang juga menatapnya. Gadis itu tersenyum tak sampai mata.

“Buka loker nggak, Kak?” pertanyaan gadis itu membuat Axel berhenti memasukkan donat dalam kotak sebentar. Matanya lurus menatap sang gadis, sebelah alisnya terangkat.

“Buka”

Jawaban Axel membuat Rey dan Pip mendengus putus asa. Masalahnya, sehari mendapat pelanggan saja merupakan keajaiban. Mengapa mencari masalah dengan menambah karyawan yang tidak perlu. Mereka saja menganggur sejak empat jam yang lalu. Tidak ada yang bisa dikerjakan karena memang tidak ada pekerjaan. Tidak ada pemasukan normal. Axel memang luar biasa.

“Aku bisa daftar jadi penjaga kasir nggak, ya? Aku lagi butuh loker paruh waktu buat nabung. Mau kuliah di luar negeri, dapet beasiswa” lebih mirip cerita yang dikemas sebagai alasan. Tentu saja, tentu saja Axel langsung mengangguk. Pip berpikir–bahkan jika gadis itu adalah anak seorang kriminal yang menuruni darah pembunuh berantai, Axel pasti akan tetap menerimanya.

“Bisa, kerja aja mulai besok. Gaji akan aku kasih setelah satu bulan kerja” lontaran itu membuat Pip ingin menggebrak meja–meski tidak benar-benar dilakukan. Si gadis berterima kasih, lalu mengambil donat dan memberikan uang.

“Besok siang, aku datang ya, Kak? Udah bisa mulai kerja, kan?” matanya berbinar-binar. Axel mengangguk-angguk seperti seorang bijaksana yang baru saja memberi harapan hidup. Tidak lama, gadis itu pergi sambil bersenandung senang.

“Nggak bisa nih gua bisnis begini. Untung posisi gua karyawan. Kalau partner kerjasama, udah gua acak-acak etalase” Rey berkomentar saat Axel kembali duduk.

“Lu nggak mengerti anak muda. Hidup nggak melulu soal uang. Tapi melihat orang lain senang, itu merupakan esensi kehidupan menurut gua. Walau bukan krusial, tapi hal-hal sederhana yang membuat gua bahagia, akan terus gua upayakan” Axel melipat tangannya didada. 

“Gua bilang apa, nulis aja nulis” Pip bangkit “gua mau pulang lah, pedih mata gua ngantuk” ia meregangkan tangan sambil menguap “atau besok kalau udah ada anak baru. Gua libur aja, gua useless disini. Gua mau menghabiskan sisa waktu main game dan leha-leha. Lu merusak acara gua”

“Pip, lu nggak akan kemana-mana. Kita mengadakan perjanjian darah di bawah pohon. Sumpah setia persahabatan. Tolong jangan langkahi sumpah itu, demi persahabatan kita. Ingat, sahabat sejati selalu membantu. Bye; kuda poni” ocehan Axel makin membuat Pip sakit kepala. Rey sudah tidak heran meski tetap gagal mengatupkan rahang.

“Gua memikirkan ini dari enam jam yang lalu” Rey meletakkan pipi kanannya di atas meja, matanya menatap Pip dan Axel bergantian “gimana kalau kita jejelin itil kebo mulut Axel?”

“Guys, kita tidur disini malam ini”

Pernyataan Axel membuat Pip berhenti. Ia berbalik dengan tatapan tidak percaya.

“Kan di toko  ini udah ada kasur. Gua jejer, masa belum masuk? Ayolah, kita akan disini sampe kalian benar-benar pergi. Gua izinin pulang besok subuh buat packaging barang kalian. Setelah itu kalian adalah milik gua mutlak”

Rey nyengir dan kekehan menyusul sementara Pip mengambil kursi dan dihantamkan pada pundak pria itu. Axel memejamkan mata–menahan panas yang menjalar di sepanjang punggungnya saat Pip memukulnya tanggung. Namun aluminium dari kursi lumayan menyakitinya.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Pukul delapan pagi. Mama Axel sudah mengirimkan bekal untuk tiga porsi dengan menu yang sama. Sopir yang mengantarkan ke toko sementara semua orang belum bangun setelah semalam begadang–bertiga hampir bertikai hebat. Sebenarnya tidak juga. Namun Pip lumayan sensitif meski akhirnya kalah dan menuruti keinginan Axel yang semakin tak masuk akal. Mereka tinggal dalam toko. Itu terealisasi.

Bekal itu ada di meja pelanggan. Sopir pribadi Mama Axel memiliki kunci cadangan untuk toko itu. Segala jenis kebutuhan dipenuhi. Bahkan Pip dan Rey dibelikan baju dan dalaman baru semalam. Berikut alat mandi dan segala kebutuhan. Sekarang sempurna sudah, mereka benar-benar bisa tinggal disana sungguhan.

Dan Axel yang pertama kali bangun. Pria itu melihat jam dinding dan masih tersisa tiga jam sebelum toko dibuka. Maka, ia membangunkan sisa temannya.

Namun belum sempat ia menjambak Pip atau memasukkan kopi ke dalam mulut Rey, Axel lebih dulu di alihkan pada ketukan pintu. Toko Roti belum dibuka namun seseorang sudah datang. Tak memikirkan banyak kemungkinan selain seseorang datang karena menginginkan rotinya, Axel buru-buru pergi ke depan.

Bukan wajah baru. Namun Axel tidak mengenalnya. Lupa lupa ingat.

“Halo, Kak. Aku nggak jadi datang siang. Soalnya aku lagi nggak ada kelas” gadis itu tersenyum jenaka. Lantas mengulurkan tangan “aku Lina, yang kemarin datang dan minta masuk kerja. Kata Kakak, ada loker jadi kasir”  dan Axel ingat pada gadis yang menawarkan diri. Itu juga yang membuat Pip ngotot tidak setuju karena tidak relevan antara pemasukan dan jumlah karyawan. Toko ini bahkan tidak memiliki masa depan—setidaknya bagi Pip. Sementara bagi Axel, toko ini adalah hidupnya.

“Ah.. ya ya. Aku baru ingat” Axel kembali melirik jam dinding, lalu mengusap wajahnya sambil menguap, sesekali menggaruk tengkuknya “yang lain belum bangun. Kamu mau tunggu di dapur atau kamu ada kemampuan bikin kue selain jaga kasir?”

Gadis itu menggeleng “aku cuma jago masak makanan sehari-hari aja, Kak. kalau kue belum pernah. Tapi kalau jadi kasir, aku punya pengalaman lama”

“Oke, masuk. Tunggu disini sebentar. Kami mau siap-siap bikin kue. Toko baru buka tiga jam lagi. Kamu yakin mau tunggu disini tanpa ke dapur? Bikin terigu goreng, kamu gak bisa?”

“Terigu goreng buat apa kak?”

“Itu istilah aja. Maksudnya, buat apapun. Kue atau roti”

Gadis itu bingung sebentar, namun ia kembali mencangking tas dan mengangguk—membuntut langkah Axel ke dapur. Pria itu akan  membangunkan dua temannya dan entah–ia tidak tahu akan apa setelah ini. Yang pasti bangun dulu.

“Kamu duduk disini dulu. Gak usah pegang apa-apa kalau emang gak bisa. Aku juga awalnya gak bisa apa-apa dan bingung. Tapi lama-kelamaan akan ini kok, apa namanya… akan… hilang arah” Axel tersenyum. Lantas masuk ke dalam bilik. Lina tersenyum bingung.

Dua temannya masih dibawah alam bawah sadar.

Kaki Axel naik ke pipi Pip.

“Lu gosah ngeyel. Kalau gua bilang gua mampu menggaji, mampu memajukan toko dan mampu jalan, berarti gua mampu. Lu gosah sok nasehati karena ini bukan masalah besar. Gua ini banyak pengalaman dan sangat paham apa yang gua kerjakan” lalu ibu jari kakinya masuk ke lubang hidung temannya. Pip masih tak bergerak. Jika sadar, Axel mustahil akan melakukan hal itu pada Pip yang sangat mudah emosi.

Lalu kakinya pindah mengusap kepala Rey.

“Nah, lu temen sejati gua. Kapan-kapan gua buatin puisi tentang persahabatan dan cinta” dan ia  tahu Rey jijik terhadap bait-bait dengan majas tinggi—sejenis yang kerap dilontarkan. Menurut Rey, para ahli sastra itu seperti penyair gila. Axel terkekeh. Lalu ia duduk di sisi pria bertato itu.

“Rey! Shhuuttt!!! Hey kawan bangunlah.. Kita harus memulai semuanya dari bangun pagi. Lihatlah, matahari sudah menyusup dari balik celah-celah tirai. Hari baru saja dimulai dan semuanya kembali repetitif seperti kehidupan biasanya. Bangunlah, tidur tidak akan membuatmu lebih bugar jika sudah lewat gelap”

Sayup-sayup matanya mengerjap. Rey melihat Axel dari posisinya yang tak ubah. Hanya membuka mata.

“Babi, anjing, bangsat” Rey mencerca. Pelan-pelan jari tengahnya naik.

“Sambutan yang indah..” Axel menghirup oksigen mirip orang mencari ketenangan di padang rumput yang sejuk di bawah satu pohon rindang setelah kata-kata Rey. Ia tidak perlu repot-repot membayangkan apa yang akan dilakukan Rey saat tahu sebelum ini, kakinya mengusap kepalanya   sayang.

“Ada anak baru”

“Apa lu? Anak baru gila, pikirin pendapatan lu” Rey berusaha untuk tidak menjadi kriminal. Pria itu memilih menggeliat dengan bunyi tulang bergemeletuk.

“Cewek cakep yang kemaren. Cakep, asli”

“Pikirin darimana lu menggaji gua, Pip dan tolol lainnya”

“Dia nggak tolol, dia normal”

“Oke terserah”

“Ayo keluar dan kenalan. Kalau gua bangunin Pip, gua khawatir dia bakal ngamuk dan menghantam gua pake apapun” matanya memindai satu temannya yang masih terbaring memejamkan mata–khidmat. Pip sangat pulas.

“Suruh masuk ke sini aja” Rey terkekeh.

“Kita pria dewasa, di dalam toko bertiga dan sekarang berempat sama satu gadis. Menurut lu gimana?”

“Menurut gua, lu kudu pecat dia sebelum kerja karena pendapatan lu nggak sesuai. Lu belum punya pelanggan yang bahkan setan sialan anjing nggak perlu gua jelasin lu tau kalau toko roti edan ini bakal tutup. Jadi hentikan bawa siapapun cuma karena dia cantik atau apapun”

“Udah gua duga” Axel mengangguk-angguk antusias. Tentu saja tak mengindahkan “ayo kenalan dulu. Abis itu lu bisa menilai gimana. Sisanya gua serahin ke tuhan”

“Apanya yang di serahin ke Tuhan sih? Goblok bener kata gua mah. Dia itu butuh gaji, ada haknya kalau udah mulai kerja. Apanya yang mau lu serahin ke tuhan?”

“Mama gua kaya”

Yes!

Satu kata itu saja mampu membungkam Rey. Pria tampan dengan tindik di sudut bibir itu akhirnya mengatupkan rahang dan bernapas dalam–seolah sedang mengertikan ikan buntal yang berusaha terbang.

“Oke, sejak awal memang begitu” Rey mendecih. Lantas ia bangkit duduk dan menelengkan kepalanya ke kanan kiri—juga menimbulkan gemeretak tulang yang terdengar renyah. Rambutnya ia usap kasar ke belakang, kemudian menguap lagi. Sebelum akhirnya menjengking dan buang angin dengan suara sangat besar. Axel yakin celana Rey sobek dan ia tidak akan repot-repot menutup lubang pernapasan karena kentut Rey tidak pernah bau. Namun tak bisa mencegah ia mengusap hidungnya.

“Gosah sok tutup idung. Gua ngentut segede alaihim gak bakal bau. Beda sama lu yang nggak bersuara tapi bau durjana haram jadah. Cuma kentut lu doang yang sanggup matiin dua gajah dewasa” Rey benar-benar bangkit. Selimut ia lempar ke wajah Pip, namun satu temannya itu masih tidak bergerak juga.

Keduanya keluar.

Hanya perlu membuka pintu untuk melihat si gadis yang duduk canggung di depan meja kompor. Axel tersenyum ramah seperti biasa sementara Rey tak sampai mata.

Agak canggung beberapa detik sebelum Axel memecahnya dengan langsung memperkenalkan keduanya “Hai, kenalin, Lin. Ini Nanang Merkuri” Axel memperkenalkan Rey “ini Lina” lalu ia menunjuk si gadis. Lina lantas menatap Rey juga dengan senyum ramah meski masih kebingungan.

“Jadi karyawan tinggal di sini ya, Kak?” matanya pindah ke Axel, menunggu jawaban.

“Iya, tapi karena kamu gadis, nggak mungkin dong aku suruh nginep. Kamu pulang aja kalau udah jam pulang”

Si gadis mengangguk-angguk. Rey menghela napas.

“Sebentar, biar gua luruskan” ia berdehem “yang pertama, nama gua bukan Nanang Merkuri. Gua Rey. Yang kedua, semua karyawan harus nginep kalau nggak, gua nggak mau juga. Yang ketiga, semua harus bikin kue. Nggak ada alasan nggak bisa karena gua dan Pip juga gak bisa. Nggak usah membias mentang cewek” Lina sepenuhnya menyimak ocehan Rey. matanya seperti memindai pria tampan itu secara menyeluruh mirip CT-scan.

“Tunggu, ini yang bos siapa ya?” gadis itu menatap Rey dan Axel secara bergantian.

Rey angkat tangan dan Axel menghela napas.

“Oke, jadi, Lina. Kamu harus tinggal disini kalau mau bekerja” kepalanya tengleng pada temannya yang mengulum tindik seperti orang kurang makan “dan kami bertiga akan tidur di depan, menggelar kasur. Kamu di dalam. Kami bertiga pria normal tapi punya adab dan agama. Kami bukan kriminal dan kami tidak akan bertindak asusila. Kalau kamu nggak mau, kamu bisa cari pekerjaan lain” ungkapan itu membuat Rey bangga. Ia hampir menepuk pundak temannya meski tidak jadi karena Axel membenarkan celananya yang terjepit di bokong.

“Oke” jawaban si gadis membuat dua pemuda disana saling pandang beberapa saat.

“Ehey… gadis masa gitu” kata Rey sambil tergelak. Sejatinya, usulan agar Axel meminta karyawan gadis untuk menginap adalah agar gadis itu mundur. Axel sangat sinting menerima karyawan baru saat pelanggan saja tidak punya. Pemasukan menyedihkan, sementara  modal untuk membuat kue saja begitu banyak. Belum lagi yang gagal dan dibuang cuma-cuma. Jika di kalkulasi, yang berhasil menjadi kue ‘layak’ dan yang berakhir di tong sampah—lebih banyak yang mendarat di sampah. Itu pun kerugian. Namun sialan Axel si anak bungsu kaya raya itu tidak berpikir. Yang ia jalani bukanlah bisnis, namun main-main yang sungguh tidak lucu. Permainan ini menyita waktu Rey dan Pip. Keduanya terlibat dan itu yang menyebalkan.

Sialan yang lain adalah si gadis mau menginap.

“Kita pemuda bertiga dan kamu mau menginap disini?” Rey memicing penuh curiga “kamu paham situasi nggak?”

“Saya ngekos, saya bisa hemat uang kos kalau bisa tinggal disini. Kata Kak Axel, kalian pria baik hati yang nggak akan bertindak asusila. Saya  akan berusaha percaya–pun kalau ada hal-hal yang bertentangan atau mengancam keselamatan. Itu resiko saya dan saya akan menegakkan keadilan sebisanya. Intinya, in this economy, apa aja lah Kak. Saya mau kerja yang halal. Minta bantuan dan kerjasamanya aja” senyumnya membawa kepercayaan diri, gadis itu sangat yakin. Maka, Rey menatap temannya lagi. Axel jelas merasa menang.

“Oke, jadi yang pertama harus kamu lakukan adalah, mengayak terigu. Rey akan membuat nastar” kata Axel apatis. Rey membelalak.

“Kita buat 30 kilo adonan nastar. Oke?”

“Gua bilang apa, Axel itu nggak waras”

Rey tidak mengamuk. Tapi Pip.

Axel diam di pojokan sembari menguleni adonan nastar. Rey yang membuat adonan berbekal tutorial di internet. Lina  sibuk membola-bola selai nanas yang dibeli jadi dan yang mengamuk yang memanggang.

“Anjing anjing anjing banget! Bangsat! Bajingan” sejak tadi. Pip sejak tadi terus mengumpat sembari membolak-balik nampan oven. Tidak ada yang menjawab kecuali kekehan kecil dari Rey. Toko akan buka sebentar lagi dan mereka tentu saja masih diposisi sama.

“Kupanjatkan namamu dalam doaku” Axel berbisik lirih tiap temannya itu mengumpat.

“Ini nastar mau siapa yang beli brengsek! Ini siapa yang ngide bikin nastar! Anjing! Babi” satu nampan stainless di angkat. Nastar matang.

“Siti Siti Fatimah Ya Allah.. Ka’bah di baitullah…” Axel bersenandung.

“Meledak dubur si brengsek. Emang anjing banget. Gua sumpahin lu hamil tanpa bisa di jelasin medis” masih, Pip masih berlanjut dengan sumpah serapahnya. Kendati, ia tetap bergerak–bekerja sesuai arahan teman yang sejak tadi di caci maki.

“Laki hamil namanya apa sat?” Rey terbahak-bahak sambil memukul adonan.

“Ompreng” jawab Lina. Jawaban gadis itu membuat tiga pria menatapnya serempak.

“Lina… kamu bacain manhwa bokep homo ya?” tanya Axel selidik. Lina mengangguk praktis tanpa ragu.

“Apa itu?” Rey penasaran.

“Jadi ada istilah laki-laki hamil di komik BL. Namanya mpreg. Jadi si laki yang botinya ini hamil” jelasnya singkat. Pip menatapnya tidak percaya dan Lina tidak sedang ingin melihat bagaimana pria itu bereaksi. Sejak tadi, mulut Pip begitu mengerikan dan ia tidak ingin berurusan dengannya.

“Mpreg disingkat jadi ompreng MBG” jelas Lina lagi.

“Lina, lu kalau liat manhwa bl, liat apanya coba? Lu liat lubang silit di tusuk penis? Apa itu menyesaki birahi lu juga? Atau apa? Lu dapat apa? Jujur aja, gua anti boti anti LGBT. Gua tebas siapa aja yang homo” ungkap Pip. Pria itu serius “dan kalau Lina ini LGBT, gua tebas palanya pake ulenan”

“Menurut gua mereka lucu.. Gemes aja gitu. Gua kalau baca nggak eksplisit yang berhubungan seksual lewat anus. Gua cuma suka liat mereka romantisan dan satu mendominasi satu submissive. Kalian kalau ada yang homo gua bakal jadi tim cie-cie” ujaran itu lumayan membuat sisa orang melongo.

“Rusak ni cewek, nggak bener” Rey menggeleng.

“Gua wanita normal. Kecenderungan seksual gua normal. Gua cuma suka yang unusual sebagai bahan hiburan”

“Pick me” jawab Pip sinis.

“Ya terserah gua lah. Hobi hobi gua, gua juga nggak nyampurin urusan lu. Gosah sok keras. Mulut lu jelek banget daritadi” gadis itu mendongak—matanya lurus pada Pip. Mereka berpandangan cukup lama dalam posisi itu. Axel yang melihat kontan menengahi.

“Barangkali disana ada jawabnya, mengapa di toko ku terjadi huru-hara” dan si pemilik bernyanyi.

“Gua nggak suka abang itu” Masih, Lina masih menatap Pip.

“Lu umur berapa gua tanya?” Pip akhirnya menghela napas dan mengajukan pertanyaan. Meski Lina menganggap pria itu hanya akan mencari sela dan akan menyerangnya jika menemukan bagian buruk darinya yang lain. Lalu mengorelasi dengan hobinya.

“23” jawab si gadis cepat, suaranya nyaris mirip bisikan atau berharap pria itu salah dengar—seperti mendengar angka lebih tua–yang akan membuat Pip segan meski mustahil.

“Masih bayi. Kenapa rusak?”

“Gua nggak rusak! Kenapa gua rusak?” Lina melotot “emang kalian umur berapa coba? Ini hari pertama gua masuk dan rencana gua mau sopan santun ke kalian. Pakai bahasa formal dan nggak terlibat percakapan apapun tentang hal-hal diluar pekerjaan” gadis itu ngotot. Nanas yang di bulat-bulatnya tidak lagi sempurna.

“Ya kok ngotot? Gua 28, jarak kita lima tahun. Udah bener lu bicara formal. Abis itu berkhayal laki-laki dan laki-laki saling jilat peler” Pip bertolak pinggang. Keringatnya banyak, di depan oven lumayan panas–juga membuat wajah pria itu berminyak.

“Kawin aja kalian berdua, berisik” itu suara Rey. Urat-urat di lengannya tercetak jelas saat ia mengaduk adonan.

“Lina, jadi menurut kamu. Siapa yang paling tampan di antara kita bertiga?” pertanyaan dari Axel juga tak kalah bodoh. Pip ingin meledakkan tempat ini, sungguh. Pria itu tidak cocok karena menganggap toko roti ini lebih mirip seperti tempat stimulasi untuk menjadi kriminal.

“Ngobrol  sama Axel bikin IQ gua turun” bukan Pip, melainkan Rey, lantas pria di depan oven ikut melirik hampir tertawa setelah sejak tadi jengkel.

“Gua bilang apa dari dulu. Dia ini si kaya raya bangke yang bakal menghasut kita untuk jadi kriminal dan bodoh. Dia menyebarkan kebodohan lewat getaran dan sugesti”

“Setetes harapan tumbuh dari bait-bait indah, lahir dari riuhnya diksi yang bergerombol menyesaki paragraf” 

Pip melemparnya dengan nastar yang tepat mengenai lengan kiri. Axel diam seketika.

“Serius tanya, disini bosnya siapa?”

Axel dan Rey kompak menunjuk Pip.

“Namanya nastar Firman” kata Axel, memberi nama pada nastar dalam toples yang dipajang oleh Pip dalam etalase.

“Kenapa Firman?”

“Ya karena di buat dari Firman. Keju wisconsin impor dari Amerika” terangnya singkat. Namun Pip malah menatapnya dengan pandangan aneh–seolah, ia terus-menerus berbuat salah dalam hidup. Tindakannya terasa tidak pernah ada yang benar dimata Pip. Kadang, Axel bertanya-tanya, apakah Pip baik-baik saja. Pria itu terlihat selalu tegang urat sejak kerja di toko roti. Padahal, biasanya Pip sangat bersahaja meski tetap kerap melakukan kekerasan saat ia memaksa pria itu menghirup kentutnya dalam selimut.

“Wisman, Wisman, Wisman, Wisman” Pip ingin sekali mengocok nastar dalam toples “Kalau Firman bapak lu noh lagi ngelomoh kelereng sampe  tanek. Goblok, dahlah” Pip geleng-geleng kepala, lalu kembali merapikan nastar. Tidak lama, Lina keluar setelah merapikan rambut dan menggunakan celemek bersih. 

“Jangan pada berantem. Yang akur yang akur. Katanya mau omprg” gadis itu juga asal bicara saja. Ia kemudian duduk di balik meja kasir—mengeluarkan ponsel dan berkutat disana.

“Lina, menurut kamu diantara kita bertiga, siapa yang paling cocok hamil?” pertanyaan tolol yang sebetulnya tidak perlu ada dibumi. Tentu saja dilontarkan oleh seorang ahli sastra yang terlihat menawan dan begitu kritis dimata orang-orang. Namun benar-benar rusak di dalam. Setidaknya bagi Pip. Dan satu temannya lagi. 

Dan Lina, si gadis yang bagi Pip tolol juga–mau repot-repot menjawab.

“Pip” katanya enteng. Setelah menjawab, ia kembali fokus pada layar. Tidak juga mau mendapat masalah dengan beradu pandang pada satu nama yang baru di sebutkan.

Axel tidak tertawa, melainkan menjilat bibir bawah. Lalu sesekali melumasinya dengan liur.

“Apa setan, hentikan!” Pip mundur.

“Gua lelaki perkasa yang akan menghamili lu, Pip. Udah sejak SMA gua suka sama lu, tapi gua tahan karena nggak enak sama Malik”

“Malik siapa?”

“Yang jaga pintu neraka”

PTAK!

Pip memukul kepala Axel dengan toples, berbarengan dengn bunyi alarm otomatis pintu saat dibuka.

“Permisi Kak, disini ada jualan peyek kacang nggak?” seorang remaja laki-laki tanggung. Mungkin masih SMP. Datang menggunakan koko rapi berikut peci hitam. Matanya memindai milik Axel. bergantian pada Pip sebelum meneleng pada Lina yang duduk di balik meja kasir.

“Maaf de, nggak ad—” Pip belum selesai dengan kalimatnya sebelum Axel menyela lebih dulu.

“Ada, peyek kacang ada. Tapi mau tunggu sebentar nggak? Sebentar aja, sekitar 4 jam, mau nggak?” ungkapan Axel lagi-lagi memilukan. Lina yang baru baru bergabung diantara mereka sekitar empat jam cengengesan mendengarkan.

“4 jam banget Kak? Mau di bawa pergi kakak saya ke Singapura nanti sore” kata si bocah, ia meringis.

“Yakan sore. Gini aja” Axel berusaha memberi solusi “kamu ada kartu pelajar gak? Gadai aja disini sebagai jaminan peyek. Nanti sore kamu ambil peyek berikut jaminan”

Lina terpingkal-pingkal sementara Pip menggosok hidung. Sekali lagi, tak akan ada yang bisa memperkirakan isi kepala Axel—yang tiap detail tersusun dari ampas–menurut Pip. 

“Nggak jadi deh Kak, saya mau cari di tempat lain aja” kata si bocah memutar haluan.

“De, peyek disini terbuat dari kacang Belgia” ucap Axel berusaha meyakinkan. Pip di belakang Axel menggeleng–meyakinkan si bocah untuk melanjutkan keputusan awal untuk mencari di tempat lain. Saat melihat bocah itu fokus ke belakang, Axel ikut melirik ke belakang dan melihat Pip menggeleng.

“Jangan dengarkan paman ini, dia yatim. Kadang, dia takut angin” Axel kembali melihat si bocah.

“Aku mau cari yang lain” bocah itu kukuh dan akhirnya berjalan cepat menghilang dibalik pintu beralarm yang lama kelamaan enak didengar. Setelah kehilangan satu pelanggan berharga, Axel dengan langkah tegas dan berwibawa berjalan ke dapur. Ia mendongak dengan dada membusung. Pip sebenarnya maju mundur akan protes tentang yatim. Namun tidak jadi.

Dan Rey sudah kembali ke mimpi padahal baru ditinggalkan kurang dari setengah jam. Pria itu bahkan tidak mandi, setelah membuat kue, Rey langsung tidur—melanjutkan tidurnya yang terganggu karena harus membuat adonan nastar.

Axel membuka kulkas. Mengambil jeruk limau, lalu di potong dua sebelum memerasnya tepat di mulut Rey. Rey memang tertidur dengan mulut terbuka sedikit. 

Jeruk di peras dengan air banyak mengalir, menetes-netes. Hampir semuanya masuk kecuali sedikit sekali yang keluar.

Tidak lama, pria itu kaget dan meludah cepat-cepat. Matanya merah—khas dan ia meringis. Liurnya sangat banyak.

“Anjing!” umpatnya pertama kali. Lalu dengan kesadaran yang belum stabil, Rey berjalan cepat mengambil air untuk menetralisir rasa asam dimulutnya.

“Rey bikin peyek nak” Axel berdiri di belakangnya dengan dua tangan masuk dalam saku celana. Tidak ada jeruk limau kecuali dalam saku itu. Sementara Rey masih berkumur di wastafel cuci piring setelah minum air banyak tidak mempan.

“Kita kehilangan satu pelanggan karena nggak punya peyek” masih, ia masih mengoceh di belakang Rey “seandainya kita bikin peyek alih-alih nastar. Firman mahal, kita harus punya opsi sejenis peyek yang mudah didapat dan bahannya simpel. Cara masaknya juga mirip bakwan”

BUGHH!!! Axel tumbang dalam satu kali pukulan. Pria itu pingsan tak sadarkan diri. Rey jengkel.

“Itu nggak papa kayak gitu?” Lina bertanya ragu-ragu. Ia berdiri di samping Axel yang merebah pingsan. Rey duduk di pojokan sambil memakan bekal yang dibawakan Mama Axel untuk makan siang tanpa berdosa. Sementara Pip, pria itu bersedekap tanpa banyak reaksi kecuali menjawab pertanyaan Lina si anak baru.

“Udah biasa. Bahasa cinta kami adalah kekerasan dan caci maki. Tapi setelah lulus dan tau kabar tentang gua dan Rey yang akan keluar negeri, tingkah Axel ini makin parah dan menjadi-jadi. Padahal dia pinter banget, pinter di segala bidang. Tapi kalau di depan gua sama Rey, tiba-tiba dia jadi idiot. Mau dibilang caper, caper apaan anjing. Dia keluarga cemara yang banyak duitnya. Nggak ngerti gua” Pip mengedikkan bahu.

“Dia kayak kurang seons gak si” Lina menggigit kuku pada ibu jari.

“Tergantung sama siapa dia bicara dan tempat”

“Jadi penasaran Kak Axel mode normal dan berwibawa serta pinter”

“Nanti, pas dia lagi kumpul sama keluarga besar dan bahas perusahaan. Lu bisa liat dia bicara dan gimana dia mirip lurah pidato” lalu Pip melirik Rey yang juga menghabiskan jatah Axel “abis ini rencana lu apa? Mau balik kah?”

Rey menggeleng.

“Party aja kita malam ini bertiga sampe dia sadar. Toko kita tutup. Pake kartu rekeningnya buat beli miras” Rey meneguk air setelah memaparkan ide. Lina menggeleng tak percaya.

“Guys, itu kriminal! Gimana kalau Mama Axel tau?” ungkapan khawatir personil baru.

“Kalau Mamanya tau, dia bakal kasih kita miras mahal yang usianya udah ratusan tahun. Di import dari Amerika” Rey menjawab asal “kita party malam ini, ayo mabuk”

“Gas”

Pilok dengan tulisan besar mentereng di dapur. Suara musik DJ dari salon memenuhi ruangan. Minuman keras berjajar di meja-meja tamu bersama kue-kue ‘layak’ yang menemani alkohol di samping.

“Nggak akur banget minum wine sama nastar” Pip berkomentar. Satu tangannya masuk dalam saku dan satu tangan yang lain menggenggam gelas berisi wine penuh. Rey dipojokkan merayu Lina agar mau membuka baju.

“Guys, kita joget aja sampe wafat” ia mengangkat gelasnya tinggi. Rey berbalik setelah gagal merayu Lina dan meninggalkan gadis yang sejak tadi mengunyah croissant dan soda dari kulkas. Lina tidak akan mabuk atau tiga–dua pria yang sadar itu akan melakukan hal tercela. Meski Pip terang-terangan mengatakan tidak tertarik dengannya sementara Rey terus merayunya untuk membuka baju tanpa konteks. Katanya, hanya ingin melihat payudara.

Dua tangan Pip  memegang pinggang Rey. Dua tangan Ray menyampir pada bahu Pip. Keduanya bergerak maju mundur ke kanan kiri  mengikuti alunan musik. Lina memantau dari pojok sambil mengunyah apapun yang ia temukan.

Di tengah dansa yang membuat keduanya seakan hanyut–mengambang, atau terbang ke angkasa melayang-layang di langit-langit malam, sosok lain keluar dengan kepala berdenyut-denyut dan mata panas yang tidak di mengerti.

Butuh waktu untuk mencerna situasi dan Axel melangkah setengah kabur alias sempoyongan. Pip dan Rey menyatukan kening, menyedot wine dalam satu gelas besar lalu cekikikan membicarakan roti dan sialan lainnya. 

“Sungguh kalian dalam bencana yang besar karena nggak membangunkan gua” Axel bergabung memeluk dua temannya. Pip yang belum sepenuhnya mabuk kontan menatap eksistensi yang baru bergabung.

“Malam ini, kita akan menjadi bintang, hm? Kita selamanya dan tidak terpisahkan” Axel menyedot wine kuat-kuat hingga tiap tegukan, suaranya seakan mengalahkan musik dari sound system dengan volume maksimal.

“Lina, sini sayang, kita berempat akan menjadi legenda. Kita akan mengenang ini nanti, setelah semua” teriak Axel dan berhasil membuat Lina bangkit. Ia membawa soda dan kue dalam genggaman dan berdiri persis di antara ketiganya sebelum Axel menariknya untuk bergabung. “Kita bersama selamanya”

Lalu mereka pecah dan berjoget seperti orang gila. Rey bernyanyi, Axel bergoyang ke sana ke mari, Pip hanya berdiri meski sudah agak limbung—memegang gelas wine dengan dua sedotan. Matanya merah sementara Lina membuat gerakan zumba di belakang Rey yang bernyanyi. Ke empatnya seperti kesetanan.

Malam itu riuh, malam pertama bagi Lina dan ia langsung suka pada tiga pemuda yang tidak memperkosanya kecuali Rey yang sejak tadi merayu agar ia membuka bra karena ingin melihat payudara.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Mengambang, semuanya melayang-layang.

Berantakan.

Muntah dimana-mana. Axel bahkan buang air kecil di depan etalase saat mabuk karena mengira kloset. Semuanya mabuk berat. Bahkan Lina yang awalnya konsisten dengan soda–akhirnya terjerumus juga ketika Rey mencekok paksa dan menertawakan si gadis yang sempoyongan.

Pip tidak mengenakan atasan, Rey juga. Axel hanya kaos belel dan celana dalam sementara Lina masih lengkap. Hanya saja gadis itu tidur di kolong meja. Dua pria berpisah dengan jarak—namun masih di atas lantai. Kondisi toko begitu mengerikan. Bau arak dan muntah di tambah pesing. Nastar acak-acakan, roti-roti berhamburan. Etalase kosong melompong.

Pukul sepuluh pagi.

Jangankan buka, sadar saja tidak. Ke empatnya masih bersimbah efek alkohol dan mimpi panjang yang tak benar-benar datang.

Seseorang membuka rolling door depan, melihat kondisi mengerikan itu, lantas mengangkat ponsel ke telinga—menelepon entah siapa sebelum kembali menutupnya rapat dan meninggalkan sisa berantakan yang bau dan lengket.

Dua jam kemudian lima orang datang. Semuanya laki-laki membawa banyak peralatan kebersihan. Mereka menggotong satu persatu manusia disana untuk di pindahkan ke kamar dan menumpuk mereka seperti sampah di atas dua kasur Queen.

Orang suruhan itu bahkan memandikan Axel, menggantikan baju dan menyisiri pria yang setengah sadarkan diri. Namun memang bukan hanya Axel, baik Pip maupun Rey, semuanya dibersihkan kecuali satu gadis. Mereka kembali menelepon entah siapa sebelum seorang wanita kembali datang untuk mengurusi Lina.

Sup ayam terhidang sebagai pereda pengar. Jahe hangat dan obat khusus juga di siapkan. Pukul dua belas setelah toko itu bersih cemerlang meski gagal kembali seperti semula saat seluruh kue nya lenyap, dan Axel serta teman-temannya mulai sadar dan diarahkan untuk makan lalu minum obat oleh orang-orang yang bahkan tak dikenal—namun semua orang patuh.

Tidak ada yang menjelaskan situasinya pada Lina sementara tiga pria itu terlihat santai. Mereka makan tanpa suara kecuali bunyi peralatan makan yang saling beradu. Benar-benar tak ada percakapan. Mereka terlihat lelah dan mengantuk. Mata mereka sebagian belum cerah. Pip bahkan berkali-kali bersendawa. Rey cegukan pelan sementara Axel mirip orang mengantuk. Kendati, semuanya kompak makan dan minum obat.

“Anu… em… gua mau tanya” Lina akhirnya memecah sepi pertama kali. Axel mendongak, mata merahnya beradu “ini siapa yang beres-beres? Apa gua di mandiin? Gua diperkosa?” pertanyaan enteng. Axel menelengkan kepalanya ke kanan kiri demi menghalau sakit kepala sementara obat belum bekerja.

“Ini pelayan yang disewa Mama gua. Gua orang kaya dan semuanya aman. Lu nggak diperkosa” katanya tak jelas. Axel yang biasanya berbicara semi formal, kini sepenuhnya informal.

“Lu orang kaya banget ya, Kak?” pertanyaan kedua, bukan Axel, namun Pip yang berdehem dengan sakit kepala yang lumayan berat.

“Kalau nggak kaya, gua nggak akan sudi ada disini. Kita masih berteman karena dia kaya” ungkapan itu serius, tapi tidak serius juga. Alasannya lebih kompleks. Namun demi tujuan menyakiti hati temannya meski tetap gagal, Pip akan mengatakan apapun.

“Nastar kita abis, croissant juga” Axel mantap menatap Rey yang menunduk. Pria bertato itu sudah menghabiskan tiga mangkuk sup ukuran besar. Sudah meminum jahe hangat dan meneguk obat pengar. Namun kepalanya masih seperti diganduli batu besar. Begitu sulit—bahkan hanya untuk menyeimbangkan diri.

“Kita dagang bebek aja” jawab Rey serampangan.

“Kita gak punya memek” sanggah Axel yakin “yakan? Kita nggak punya, ada punya Lina. Cuma satu. Bayangin kalau satu perempuan punya lima memek” ocehan itu membuat tubuh Lina bereaksi lebih dulu ketimbang otaknya. Si gadis mengeplak kepala bosnya keras—membuat Axel mengaduh.

“Sebagai jomblo dari jaman SMA, juga nggak pernah berhubungan seksual, jujur gua penasaran banget selain di bokep” Rey cengengesan. Semuanya tidak nyambung dan Pip menyimak.

“Jam berapa ini? Kenapa dunia rasanya berputar? Akhir-akhir ini gua sering banget sakit kepala. Gua terlalu sering mimpi sampai rasanya nggak bisa bedain ini mimpi atau nyata” Axel menurunkan pipi ke atas meja. Pelan-pelan, kelopaknya menyipit dan maniknya menghilang.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Suara langkah terdengar kelewat nyaring hingga memekakkan telinga. Pria itu celingukan dan kembali menangis saat melihat eksistensi lain membawa nampan stainless. Wajahnya ramah, namun baginya, mimik itu begitu aneh dan membawa getaran abnormal. 

“Bagaimana perasaanmu hari ini?” Tanya eksistensi itu, tahi lalatnya ikut naik di sebelah bibir saat senyum melambung tinggi.

Tidak ada yang baik-baik saja. Rasanya, makin hari semakin mengerikan. Mimpi itu datang lagi, seperti biasa. Dan di atas nampan, pil putih tetap diberikan.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Dan hingga malam, toko kue tidak dibuka. Axel tak membukanya karena sepanjang siang itu, mereka bertiga kembali tidur dan bermalas-malasan. Baru setelah pukul sembilan malam, energi mereka pulih. Rasa pusing hilang secara merata. Keempatnya membuka mata. Kini, bukan lagi tentang pria dan wanita karena nyatanya, empat manusia itu merebah di atas kasur yang sama setelah Rey mengeratkan dua kasur satu sama lain sehingga menyatu dan cukup di tiduri semua orang.

Mereka bahkan selimutan berbarengan.

Lina merebah paling pinggir. Tepat di sebelahnya adalah Rey. Setelah Rey ada Pip, baru kemudian Axel.

“Gimana? Udah enakan?” Pertanyaan Axel pertama kali. Lina mengangkat ibu jarinya.

“Gimana kalau buat kue?” Ide itu disambut desah napas malas dari Pip dan Rey.

“Gua minta maaf karena mukul lu hari ini” ungkapan Rey tulus. Suaranya terdengar rendah. Setelah itu, Pip menyusul.

“Gua juga, untuk semua hal” tiba-tiba suasana menjadi aneh.

“Hm hm, no no.. kalian terbaik” ia melirik pada Lina yang melamun—matanya lurus menatap plafon. 

“Lina? Kamu masih napas?” Tanya Axel khawatir. Pasalnya, ini pertama kalinya mereka membawa gadis masuk dan mabuk bersama. Axel hanya takut melakukan sesuatu di luar kesadaran dan menyakiti si gadis. Namun geleng kepala dari Lina membuat perasaannya lega.

“Oke, gimana kalau kita keluar makan malam? Gua traktir!” Itu baru membuat Rey semangat. Pria itu duduk dan menepuk bokong Pip sebelum menghadap Lina.

“Ayo makan di luar, gua lapar” lalu menjambak rambut Lina keras.

“Sakit bangsat!!! Babi kau” Lina meringis. Panjangnya ditarik kuat hingga kepalanya menengadah—begitu menyakitkan. Namun si pelaku cengengesan tak bersalah. 

“Kita makan steik hari ini. Tapi janji pulang makan, kita bikin kue. Kalian harus isi etalase yang kosong” tak ada jawaban kecuali reaksi Rey dan Pip yang kompak bangkit. Mereka membuka baju untuk berganti disana—mengabaikan satu gadis yang menjerit dan kontan menutup mata.

“Emang anak-anak anjeeeng” semua orang terkekeh kecuali si gadis. Mereka bersemangat meski setelah ini, mereka kembali harus berkutat dengan adonan sialan.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Sepanjang jalan, ke empatnya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Hal-hal yang seharusnya tidak di lakukan di jalan raya. Axel mengawali bernyanyi dan semua orang ikut. Malam ini, Pip tidak protes, tidak memasang wajah jengkel dan tidak terlihat keberatan. Pria itu banyak tertawa–membuat Axel lega. Jangan tanya bagaimana Rey, ia selalu saja bersemangat atas semua hal meski itu terbilang tidak normal  terlebih yang berbau kericuhan. Hidupnya kurang berwarna, maka, ia suka sekali hal-hal  di atas normal meski sesekali ikut keyakinan Pip. Tergantung suasana hatinya.

“Malam ini dingin banget…” jaketnya di rekatkan erat. Setelah itu ia kembali menggandeng tangan Pip.

“Kita mau makan apa Sat? Cuma jalan ini, minimal ke restoran mewah” Pip celingukan. Jalanan sepi, padahal baru pukul sepuluh kurang sedikit. Namun udara di luar begitu dingin hingga aneh.

“Makan soto gimana?” usulan Axel membuat Pip keberatan. Tidak hanya Pip, Rey juga. Keduanya berhenti kecuali Lina yang benar-benar tidak peduli.

“Kita abis makan sup dari pagi sampe sore. Mama lu kirim sup walau beda-beda. Sekarang lu mau traktir soto. Kata gua mah mending di toko aja anjing, terigu di aerin, kasih uyah dikit. Bangsat, makan soto perut gua megung” Pip menepis tangan Axel kasar. Yang di tepis terkekeh.

“Oke oke, gimana kalau uduk?”

Mendengar usulan kedua, Rey yang bereaksi. Pria itu mengeluarkan dompet dan menghitung jumlah uang tunai.

“Ada nih dua ratus mah. Beli ayam bakar aja. Kalau satuannya lima puluh ribu, bisa gua beli empat” dan ajuan Rey melukai harga diri pria paling kaya disana. Axel ikut mengeluarkan dompet dan menghitung uangnya.

“Nggak nggak. Biar ini urusan gua. Jadi mau fix makan ayam nih?”

“Kita bertiga makan ayam. Lu makan soto aja” Pip merangkulnya, Axel menepis.

“Guys, gua pengen makan seblak” Lina akhirnya angkat tangan.

“Seblak itu apa? Makanan apa itu? Kaya cewek kabupaten” Pip berkomentar ketus. Baru sehari semalam, Lina sudah kebal dengan lontaran pedas.

“Pokoknya gua mau makan seblak pedes yang kek setan”

Axel mengangguk-angguk “gua punya ide! Gimana kalau toko roti kita campur dagang seblak?”

Rey menggendong Lina di depan. Bahasa isyarat yang di berikan Pip pada Rey tanpa sepengetahuan Axel membuat pria itu jauh tertinggal saat ketiganya lari—meski Rey menggendong Lina agar langkah mereka cepat.

Lina terbahak-bahak dalam gendongan. Pip terkekeh dan Rey ngos-ngosan. Mereka sampai di warung makan yang menjual berbagai menu makanan yang juga tidak normal–maksudnya, di dalam sana ada ayam, seblak, steik, dan segala macam makanan. Tidak ada pelanggan membuat tempat itu benar-benar sepi. Di tambah penerangan yang menyedihkan.

“Rasanya semua kek ngambang. Apa masih ada efek pengar?” Axel bertanya entah pada siapa. Ketiga temannya sudah masuk lebih dulu, mereka memesan makanan yang diinginkan. Axel menyusul dan ikut memilih menu. Sebentar-sebentar matanya memindai. Benar, semuanya terasa mengawang seperti tidak nyata. Atau ini mimpi? Namun tidak, setelah ia mendengar suara Rey.

“Gua baru tau ada warung kek gini disini” kepala Rey berputar. Matanya memindai dekorasi dan menu yang di pajang besar berikut harga dengan banner.

“Gua juga” Pip memvalidasi.

“Baru ya? Jangan-jangan warung hantu. Gua sejak kuliah pindah ke sini tapi baru liat warung ini” Lina ikut nimbrung dalam obrolan. Bersamaan dengan minuman yang di antar oleh pelayan yang pucat. Seorang bapak-bapak menggunakan blankon dan baju khas jawa coklat bergaris-garis.

“Guys, perasaan gua nggak enak” Rey menatap jus jeruk yang entah di pesan siapa, lalu bergantian menatap teman-temannya.

“Nggak tau sih, tapi makan dulu gak? Gua lapar” Lina yang meneguk jus jeruk “ih, seger banget anjir” si gadis meneguk terus-menerus hingga tandas “enak banget, gua baru sekali ini minum jus jeruk seenak ini”

“Halah lebay” Rey mengambil gelas jus jeruk yang masih tersisa beberapa tetes sisa Lina, dan meneguknya hingga gelas terjengking “eh? Iya anjir, enak. Gua mau pesen lima gelas” pria itu kembali memanggil pemilik dan memesan minuman yang sama.

“Guys, gimana kalau kita jualan jus jeruk?”

Makanan datang dan tidak akan ada yang menanggapi Axel. Ayam bakar, seblak, jus jeruk. Meja mereka padat, belum lagi ditambah menu-menu tambahan seperti dimsum, cilor dan masih banyak lagi. 

“Lu mesen kah?” Pip menyenggol pundak Axel. Yang di senggol mengedikkan bahu.

“Gua cuma bilang mau menu yang paling enak dan best seller” namun meja penuh. Pemilik warung seperti aji mumpung. Dan tidak ada yang protes ketika yang membayar jelas Axel, hanya tinggal makan saja.

Dan tiba-tiba semuanya gelap.

Mati lampu.

Hampir semua orang gelagapan kecuali Rey yang tetap makan. Lina sudah siap dengan senter ponsel. Setelah di sorot, ternyata tempat itu tempat kosong. Lina juga menyenteri makanan yang di makan Rey yang ternyata tanah campur pasir.

Axel kaget bukan main.

Hal mistis dan mengerikan sejenis ini, baru pertama kali ini saja ia rasakan–tidak, tapi Rey dan Pip juga. Bahkan Lina. mereka berempat lari tunggang langgang tanpa mengatakan apa-apa lagi. Langkah mereka seperti melayang dan tidak normal. Axel yakin itu adalah efek alkohol tadi siang yang belum sepenuhnya hilang. Mirip mimpi, aneh.

Semakin jauh, rumah makan itu semakin mengecil dan lenyap begitu saja. Ke empatnya lari dengan napas tersengal-sengal. Pip menarik Lina yang terseok-seok, gadis itu tidak menangis namun hampir kehabisan napas.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Axel membuka mata.

Napasnya tercekat. Keringat dingin membasahi dahi hingga menetes ke leher. Saat kelopaknya terbuka penuh, pria itu melihat plafon kamar dalam tokonya. Lalu wajah tiga sahabatnya menggantikan pemandangan plafon.

“Lu nggak papa?” Rey bertanya khawatir. Pria itu terlihat yang paling menyesal “Axel maafin gua” Rey mengusap matanya, ia jelas menangis.

“Apa? Ada apa?” Axel kebingungan. Seingatnya, mereka masih berlari dari rumah makan hantu. Namun saat membuka mata dan kesadarannya kembali, Axel malah mirip seperti mimpi.

“Lu pingsan pas gua pukul itu” jawab Rey, isaknya kecil namun jelas memilukan.

“Ha?” ia memaksa bangkit duduk. Kepalanya berat dan sakit luar biasa “terus, party?” ia celingukan. Tiga temannya masih sempurna.

“Partya apa? Gua takut Mama lu marah karena lu pingsan nggak sadar-sadar. Gua bahkan gak berani bawa lu ke rumah sakit. Gua minta maaf” Rey menciumi tangan Axel sambil meminta maaf dengan tulus. Rasa bersalahnya jelas.

“Gua nggak papa, kenapa kalian bertingkah seakan gua sekarat? Udah pada makan belum? Jadi, daritadi gua mimipi nih? Sampe mana gua mimpi? Apa kita party? Apa kita makan sup yang dikirim Mama?”

Pip dan Rey saling berpandangan. Mereka bingung.

“Enggak, itu mimpi lu. Kita pulang pas lu pingsan, tapi ternyata sampe malem, mana nggak gua panggil dokter. Gua menyesal, serius. Gua menyesal banget” lagi-lagi Rey. 

“Gua nggak papa hey! Ayo makan, abis itu bikin nastar” kepalanya berat. Kakinya limbung, Rey membantu Axel berdiri.

“Lu kudu ke rumah sakit” kata Rey memberi saran. Axel menggeleng

“Gua takut sama rumah sakit”

Mereka semua menuju dapur. Ketika Axel melirik jam dinding, matanya menangkap pukul sepuluh kurang sedikit.

“Ini siang apa malem sih?” tanyanya kemudian. Ia melihat pada Pip.

“Malem lah, gila. Tau, mau bikin nastar berapa lama. Sampe muka gua mateng depan oven”

“Sampe telapak tangan gua berlubang ngondol-ngondol selai nanas”

“Atau sampe urat gua lepas ngaduk adonan” semua berkomentar, namun mereka mulai bekerja. Axel duduk di sofa setelah Rey mengambilkan air hangat.

“Mama gua kirim makan apa? Bukan sup?” pertanyaan Axel mendapat perhatian dari Lina.

“Tadi kita makan daging fillet yang di panggang medium rare dan saus mustard. Enak banget sumpah. Itu pertama kalinya gua makan begituan. Mahal banget pasti” Linta tertawa tak canggung memberitahu betapa ia tak pernah membeli makanan seenak itu. Lalu Pip memberinya ibu jari.

“Lu harus terus gabung sama Axel karena kita gak akan lapar dan kurang uang. Cuma kudu tebel iman aja biar gak jadi kriminal” saran bagus dari Pip di setujui Lina. ia bertekad akan terus menempel pada Axel. Pria kaya raya.

“Jadi, selama gua pingsan, toko gua tutup? Kita nggak dapet pelanggan?” pertanyaan itu membuat Pip dan Rey saling pandang menahan senyum.

“Tutup gua, ngambil barang di rumah” lantas Pip menatap Lina “lu kemana Lin?”

“Gua kuliah lah” 

Lantas mata Axel lurus pada Rey

“Gua merasa bersalah sampe ketiduran di rumah” alasan yang bagus. Merasa bersalah sampai tertidur adalah paling ideal  Axel tidak berkomentar lagi. Pria itu menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan—khas seorang ayah yang mencoba paham situasi anaknya saat sang anak tak sengaja memecahkan TV.

“Oke, gak papa. Ayo bikin kue. Kalian harus membayarnya dengan kerja keras. Kita nggak akan tidur malam ini”

Ya, malam itu terjadi.

Malam panjang bersama seluruh komponen penyusun kue. Rey sibuk bernyanyi. Tiap mengaduk adonan, maka ia akan menyanyikan lirik dengan nada tinggi. Pip memanggang, saat wajahnya berminyak, ia akan menempelkan pore pack. Dan Lina sibuk membuat selai, gadis itu hanya angguk-angguk geleng-geleng. Sesekali Rey memintanya mendesah, menirukan suara rusa, memohon agar Lina meringkik dan membuat suara desisan–khas seperti ketika mereka mengajak seorang gadis berkencan dan meminta hal-hal abonormal yang menjadi alasan mengapa mereka bertiga masih melajang hingga hari ini. Suasana dapur begitu ramai. Axel sendiri sibuk dengan eksperimennya membuat peyek dengan adonan bakwan.

“Guys diam semuanya!!!!” Axel berseru, dalam hitungan detik, seluruh kegiatan terhenti. Semua mata menatap ke arahnya dengan aktivitas yang seakan dijeda dalam layar.

PPRRRTTTFFFT—CCCSSSSSSHHH…

Itu adalah suara kentut Axel. Satuannya sekitar 60 dB dengan outro makin mengecil. Beberapa detik kemudian, bau busuk menyebar mengalahkan aroma setan. Rey menaikkan kerah baju hingga menutupi hidung, begitu juga dengan Pip. Hanya Lina sendirian yang belum resisten dengan yang itu. Maka, si gadis pergi ke kamar mandi dan muntah-muntah.

Setelah itu, kegiatan yang terjeda kembali seperti semula–seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

“Gua kalau ada lomba kentut terbusuk di dunia, bakal bawa si anjing itu untuk lomba. Pertama gua kasih makan ubi jalar dan telor bebek rebus selama sebulan tanpa serat. Nah, pas mau lomba, gua empanin seblak pedes sama hajar anusnya gua colok microlax. Pas hari H, eksekusi” Rey memaparkan ide. Pip lagi-lagi menyimak ocehan yang sebetulnya hanya cukup menjadi angan-angan saja tanpa perlu di keluarkan meski hanya perumpamanaan.

“Kalau itu kejadian, kentut si bangsat bakal setara sama asep duhkon. Tiap melewati seorang mukmin, pasti mukmin akan tewas” jawab Pip.

“Mukmin doang? Sodara gua ada namanya mukmin. Kecil mah, mana pundungan” Rey malah merambat. Namun semua orang mendengarkan “pernah loh, geger istrinya, lakinya si Mukmin nggak pulang-pulang. Nggak taunya ngambek. Jalan kaki 20km pundung gara-gara istrinya salah ngomong. Pokoknya kalau pundung itu kabur jalan kaki. Walau dia punya mobil dan motornya dua. Atau pundung ringan, doi bakal diem di pinggir rumah sambil ngeruk tanah tanpa konteks. Lucu banget. Soalnya gua pernah bantu nyariin rame-rame”

“Lain kali, kalau sodara lu pundung. Suruh ke sawah aja. Bajak sawah” Axel memberi ide sambil terpingkal-pingkal.

“Gua kadang kalau lagi gabut, nyuruh istrinya sodara gua itu cari gara-gara biar doi pundung. Serunya itu pas geger loh, sampe RT juga turun, terus manggil pemadam kebakaran. Seru pokoknya”

Masih membicarakan hal tidak perlu hingga Lina kembali keluar. Wajah gadis itu basah lepas mencuci muka.

“Lu mandi?” Rey mengangkat sebelah alis. Lina menggeleng.

“Masuk akal gak, kalau gua hamil tapi gak pernah ngeseks, nggak pernah punya pacar. Akhir-akhir ini sering masuk angin” Lina kembali duduk, ia memegang lagi selai itu.

“Periksain aja dulu” Axel yang menjawab “kemaren gua liat berita, ada cewek ngeluh sakit perut bagian bawah mulu. Pas di USG ada stang motor. Ini serius guys. Buka aja tribun news. Beritanya beneran” Axel berusaha meyakinkan siapapun karena ceritanya memang terdengar seperti bercanda padahal sungguhan ada.

“Pertanyaan gua, kenapa setang ada di sana?” Pip lagi-lagi tidak percaya.

“Itunya di colok sendiri, terus copot gak si? Lu bayangin motor lagi parkir di ruang tamu, terus si neng itu horni parah sampe kekelojotan. Pokoknya kalau gak dituntaskan, dia berubah jadi babi. Terus akhirnya lihat stang itu. Ambil kursi kecil, naik, ngangkang, ya gitu deh” Rey mencoba menggambarkan situasi menurut nalarnya yang sebenarnya memang tidak nalar.

“Sulit banget gua bayanginnya” Lina menggeleng “ada kemungkinan lain?” ia menatap Axel dan Pip bergantian.

“Kalau masuk akalnya sih, itu stang memang udah copot dan nganggur” itu pendapat Pip, paling masuk akal.

“Kata gua mah, motornya di rebahin, terus si neng nya naik di atasnya. Terus gak taunya dia masih gress, itunya sempit banget sampe stang ke cabut” pendapat Axel juga sulit di terima.

“Jadi kan ya, stigma janda itu buruk banget karena mereka kan udah biasa ngeseks dan tiba-tiba cerai atau di tinggal mati. Jadilah mereka birahi di waktu-waktu tertentu tanpa ada lawan. Nah, itu buat yang udah pernah menikah. Kalau gadis tapi aktif  ngeseks juga, bukannya sama aja? Mereka bakal bringasan juga kalau lagi masa ovulasi dan nggak ada lawan? Jaman sekarang gadis pada sinting-sinting. Tapi lebih gila lagi, stigma itu cuma buat perempuan. Padahal laki lebih gragas dan paling sulit nahan birahi” ungkapan Lina lumayan membuat tiga pemuda itu memusatkan fokus padanya. Ia ditatap sekaligus.

“Gua cuma menyampaikan suara”

Sisa orang mengangguk.

“Tapi, lu bicara kayak gitu gak tepat karena kita bertiga gak peduli. Kita bertiga jomblo dan masih nggak kepikiran buat ngeseks. Ini gua bilang general karena dua teman gua rata-rata sama alasannya” Pip menerangkan “jadi stigma kayak gitu udah ada dari era kolonial Belanda. Bakal payah banget ngilanginnya. Jangan dipikirin, mending bikin selai nanas. Bertahan hidup aja, kalau ada partner dan sama sama suka yang ngeseks. Kalau enggak, ya mending tidur aja si. Gua kalau ngaceng daripada coli mending tidur atau lari sampe Batam”

“Gua nggak pengen ngseks ya babi, gua gadis perawan dari desa yang kuliah di kota” Lina melotot.

“Ow… gadis perawan.. Ada Jamilah… ini cerita tentang seorang perempuan, tinggalkan kampung halaman, ke kota cari kerjaaan” Rey malah bernyanyi.

“Sampai di kota, dia bingung mau kerja apa, dia hanya wanita biasa, si Lina, itu namanya..” Axel melanjutkan.

“Si Lina hey! Nggak pulang-pulang.. Pamitnya, cari kerjaan, tau nya, jadi simpanan, simpanan suami orang…” Pip ikut bergabung. Lina mendengus tidak terima.

“Kata gua, mending lu jadi simpenan bapak gua aja” usul Axel berhasil memecah fokus pada lagu “gua kadang pengen punya mamah muda. Bapak gua itu kelewat setia. Emang sih, Mama gua kek bidadari, tapi kan daun muda banyak. Uang banyak. Selingkuh ege biar gua bisa nyanyi diary depresi sambil petik gitar di jalanan. Ini mah boro-boro. Tiap pulang, gua di sambut hangat dan sayang. Kek mana cara gua meromantiasasi kehidupan. Mana tiap apa yang gua pengen keturutan” Axel mengeluh. Saat ia mendongak, wajahnya di lempar adonan nastar, nastar oven panas dan selai nanas.

“Babi kau, anak anjing” Pip yang marah. Pria itu yatim meski ibunya orang berkecukupan yang hingga hari ini masih bekerja di perusahaan kakeknya. Namun jelas jauh lebih kaya Axel. Jauh, sangat jauh. Apalagi Rey yang hanya anak seorang pedagang.

“Kak Axel mending nikahin gua nggak si?” pertanyaan Lina juga diluar jangkauan “daripada gua jadi Mama muda, kenapa nggak lu nikahi aja?”

“Sudah kubilang…” Axel mendesah. Kacang masuk dalam adonan yang hanya diisi bumbu instan racik bakwan.

“Hapus air mata… cintaku hilang, meninggalkanku.. Kamu tlah berbeda, tergula-gula, hidupmu diabet, resisten insulin..” Rey bernyanyi serampangan. Tangannya gesit kembali meracik adonan.

Mereka terus mengoceh ngalor ngidul entah membicarakan apa saja. Jam terus berputar, semuanya terasa lebih cepat, lebih menyenangkan. Seperti impiannya sejak dulu.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Plafon putih, langit-langit itu lagi.

Cairan itu lagi, aroma itu lagi

Itu itu lagi, rasanya muak dan lelah.

Ingin keluar.

Rasanya seperti di anestesi namun  masih sadar. Hanya tubuh saja yang lumpuh. Terjebak tanpa tahu bagaimana caranya bangun.

Panjang dan lama. 

Melelahkan.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Mereka tertidur pukul empat pagi.

Mirip zombie yang sudah tak lagi peduli untuk membasuh wajah, sikat gigi atau ritual umum sebelum tidur. Ke empatnya merebah malang melintang dengan wajah lelah. Namun terbayar ketika kue mereka jadi sementara Axel harus mengulang adonan beberapa kali saat membuat peyek.

Matahari menyorot tinggi. Alarm sejak tadi mirip kaleng biskuit yang diisi batu lalu di kocok-kocok. Sangat berisik. Kendati, hanya Axel yang berhasil tersadar. Pria satu-satunya yang merebah tak layak. Kepalanya berada di ubin sementara tubuhnya menindih Pip dan Lina.

Kepalanya sakit. Akhir-akhir ini ia sering sakit kepala dan bermimpi aneh. Namun kali ini tak ada mimpi mengerikan kecuali sakit kepala yang terasa di tengkuk sampai ke kepala belakang hingga terlalu berat.

Menekan layar—mematikan alarm. Pria itu menguap lebar. Jam pada ponsel menunju pukul sembilan pagi. Satu jam lagi tokonya akan di buka. Axel sebenarnya ingin kembali tidur dan berencana menyeting alarm empat puluh menit dari sekarang. Namun mengingat mereka berempat harus bergantian menggunakan kamar mandi, belum lagi Rey yang jika buang air besar bisa sampai setengah hari, maka, meski sakit kepala, pria itu bangkit terhuyung pening. Tangannya sesekali menyangga dinding–merambat untuk sampai ke kamar mandi. Lebih baik mendahului ketimbang menunggu sambil mulas.

Tubuhnya dingin.

Air dingin membawa sensasi aneh pada kulitnya. Ia melihat rahangnya memar bekas di pukul Rey kemarin. Namun bukan disana bagian yang sakit dan berdenyut-denyut. Namun di kepala. Sepertinya seruan semua orang untuk periksa mulai ia pertimbangkan. Gejalanya mirip anemia berat. Padahal pola makannya bagus dan terkontrol. Hanya saja, sudah agak lama Axel tidak melakukan medical check up.

Ia bersenandung sambil mengosok kulitnya lembut. Ada sabun cair milik Lina, ada lulur, sampo dan conditioner. Pria itu juga melihat sabun kewanitaan. Maka, dengan rasa penasaran yang menggunung, ia menuangkan sabun itu ke telapak tangannya, lalu menggosokan pada kepala penisnya lembut.

“Ow.. titit gua bau gadis” ia menguceknya bangga. Saat kepalanya meneleng ke balik pintu gantungan, ia menganga melihat bra merah muda yang lucu. Ada gambar hello kitty di tengahnya.

“Haruskah gua coba?” ia menggeleng sendiri “nanti kalau Lina tau, dia ngambek dan resign”

Mulutnya kembali bersenandung. Kulitnya merata penuh busa. Ya, Axel menggunakan sabun Lina, menggunakan lulur dan  memakai pencukur milik Pip untuk rambut di sekitar anusnya.

Masih bernyanyi.

Pria itu keluar—juga setelah mengganti baju di dalam. Aroma sabun menguar begitu harum–khas gadis. Saat ia masuk ke kamar, matanya bertemu dengan milik Lina. gadis itu melotot ke arahnya dengan cara paling mengerikan.

“Lu pakai sabun gua?” itu tuduhan dengan bukti kelewat kuat. Aroma itu masih berputar-putar di langit-bersumber dari kamar mandi dan paling banyak dari kulitnya. Axel menelan saliva susah payah. Beralasan pun sulit.

“Lu tau berapa harganya? Lulurnya aja 50 ribu, sabunnya 80 ribu, sampo gua 40 ribu. Gua ngumpulin susah payah dari uang kerja paruh waktu dan kiriman bapak gua dari kampung dan sekarang” Lina menunjuk Axel “pria kaya raya pakai sabun gua? Apa itu masuk akal?” benar, matanya seperti akan copot. Axel ketakutan, maka, pria itu merogoh saku dan mengeluarkan dompet. Ia menghitung uang lima ratus ribu.

“Segini cukup nggak?”

“Oke, cukup” 

Masalah selesai.

“Gua tu make punya lu karena penasaran sama barang-barang murah punya perempuan. Ternyata emang wangi banget. Nanti gua akan beli yang serupa”

Lina tak peduli, ia kesenangan. “Kalau nggak, bayarin aja punya gua. Semua itu lu borong dua jutaan” Lina berbinar setelah memasukkan uang lima ratus ribu ke dalam dompet. Kembali menawari Axel dengan cara membodohi. Ia juga celingukan berharap tidak ada Pip yang menengahi atau mengatakan hal-hal tentang pembodohan.

“Nggak ah, gua lagi hemat. Tiga minggu lagi kalian gajian” ternyata tidak seusai harapan. Lina jadi ingat tentang ocehan Pip atau Rey, ia lupa. Yang mengatakan jika Axel ini sebenarnya pintar—meski hingga detik ini, ia tak melihat bagian pintar itu sendiri.

“Mandi sana. Ntar kalau Rey udah masuk, nunggu sampe acak-acakan urin lu di lantai” Axel meninggalkannya kemudian. Ia pergi membuka rolling door depan. Dan seperti biasa, makanan–bekal yang dibuat ibunya sudah ada di salah satu meja pelanggan. Ada lima boks dan Axel memindahkannya pada meja kasir. Ia beres-beres meski sebelum tumbang, semua orang membereskan hingga mengkilap. Kue dan roti-roti masuk dalam etalase berkilau. Peyek jadi meski jika digigit, dapat membunuh nenek-nenek.

Jadi, pria itu hanya membuka saja.

Tepat pukul sepuluh saat pelanggan pertama datang. Seorang ibu-ibu menggunakan kalung sorban dan jilbab bermotif ular.

“Mas, ada kue putri salju nggak?” kepalanya celingukan. Dan Axel lagi-lagi menghela napas. Mengapa orang-orang selalu datang dan bertanya yang tidak ada?

“Ah.. anu… ibu mau tunggu sebentar nggak? Sebentar aja, sekitar lima jam, saya buat dulu” katanya gugup. Si ibu mendecih tidak sudi.

“Aneh-aneh aja nunggu lima jam, keburu modar saya disini” lalu beringsut-ingsut menyeret langkahnya pergi. Axel bersumpah akan meminta Rey membuat putri salju setelah ini. Rasanya, tiap ada yang datang merupakan pelajaran untuk memperlengkap menu.

Sang pelanggan gagal pergi. Pria itu berbalik dan melihat Pip sudah mandi. Rambutnya basah, tetesan air masih jatuh satu dua dari helai rambut. Kendati, pria itu terus menguap.

“Mama lu bawa sarapan apa? Lapar amat pagi-pagi” ia melirik jam lagi, sudah tiga kali melihat jam meski tidak ada yang berubah.

“Belum gua buka, mau makan duluan kah?”

Pip menggeleng.

“Tungguin si Lina aja. Kalau Rey nggak tertolong, jangan dibangunin paksa atau lu di pukul lagi. Gua khawatir. Abis pingsan itu, rasa gua kepala lu lebih bermasalah” nadanya jujur terdengar khawatir. Axel tersenyum seperti anak kurang kasih sayang yang mendapat secuil perhatian.

Lalu perhatian mereka kembali pada alarm pintu. Seorang ibu-ibu lagi. Kali ini rambutnya merah. Membawa tas besar dengan senyum ramah. Giginya penuh karena veneer yang kelewat tebal. 

“Mas, ada nastar?” mendengar pertanyaan itu, Axel tersenyum penuh kemenangan. Pria itu mengangguk seperti adegan pada film yang di lambatkan.

“Ada bu, nastar Firman” kata Axel penuh kebahagiaan.

“Berapa satu toples?”

“Satu toples 185 ribu ukuran 500 gram. Mau ambil berapa bu?”

“Saya mau 10 toples ya mas. Tapi bisa di bungkus jadi hampers  nggak? Yang cantik”

Axel cepat-cepat mengangguk. Pria itu berlari ke dalam mencari Lina yang sedang sibuk mengaplikasikan pensil alis–menarik si gadis untuk cepat-cepat melayani si ibu untuk membungkus hampers.

“Bu, kalau mau cicip dulu. Nastar kita terbuat dari wisman yang diimport dari Amerika” Pip juga tak kalah ramah. Pria tampan itu terlihat jutaan kali lebih memesona meski sejak tadi menguap.

Si ibu mengambil satu. Merasa-rasa sambil mengangguk-angguk.

“Lembut banget, lumer di mulut. Enak. Bener berarti yang dibilang orang-orang” meski Pip tidak tahu apa yang katakan orang-orang, namun pria itu merasa bangga—mengalahkan rasa putus asa dan jengkel karena keputusan Axel membuka toko roti tanpa arahan, tanpa panduan. Saat melihat semua orang bekerja keras membuat kue, Pip jadi berpikir banyak dan mulai serius meski tidak serius. Lagi pula, ia hanya akan bertahan sebulan atau kurang dari itu. Biarkan menjadi kenang-kenangan dengan Axel sebelum pria itu merekrut anggota lain. Sementara ia dan Rey harus pergi.

“Kue disini viral banget di kalangan ibu-ibu sosialita. Pada posting dan lagi pada menuju kemari buat beli. Untung saya duluan. Mana enak” komentar bagus lagi. Pip tidak tahan untuk tidak tersenyum. Nastar itu buatan Rey, murni. Ia hanya memanggang. Namun rasanya seperti ia yang mengolah sendiri secara otodidak sampai selesai, lalu mendapat apresiasi dari pelanggan jujur. Barangkali rasa senangnya setara dengan jatuh cinta.

Sementara di pojokkan, Lina membungkus hampers cantik dengan kondisi alis miring sebelah. Gadis itu tidak mengomel meski wajahnya belum siap. Namun saat tahu ada yang membeli nastar sepuluh toples, gadis itu sangat bersemangat.

Kurang dari setengah jam, sepuluh hampers jadi. Si ibu membayar di kasir lalu mengucapkan terima kasih sebelum benar-benar pergi. Tiga orang disana tersenyum penuh kebanggaan.

“Makan dulu guys, siapa tau abis ini kita banjir orderan lagi” Axel memberi isyarat dua temannya, membiarkan Rey yang masih terlelap dan menyisakan satu boks.

“Dada ayam pedas, oseng buncis, rendang sapi, bayam tumis. Buset” Lina berkomentar sebentar sebelum melahap makanan. Perutnya benar-benar lapar karena semalam bekerja tanpa makan. Mereka terlelap begitu saja saking kelelahan.

Saat mereka makan, pelanggan satu persatu datang. Dari ibu-ibu, kakek-kakek, remaja, anak-anak.

Tidak tahu angin darimana, namun serius. Mereka bolak-balik menunda makan, bahkan memindahkan kotak makanan mereka ke dalam kamar ketika pelanggan butuh tempat duduk.

Kebanyakan mereka membeli langsung pulang. Namun beberapa duduk di sana menikmati donat atau croissant dan segelas minuman segar. 

Benar, ini adalah toko roti. Suara ramai mengobrol dari pelanggan terdengar hidup. Axel tidak bisa tidak tersenyum. Sejak tadi rahangnya seperti akan bergeser saking senangnya. Begitu juga dengan Pip dan Lina.

“Gantian aja makannya guys” Axel memberi ide “Lina makan duluan sana, abis ini gantian Pip dan terakhir gua” kata pria itu bijak. Lina mengangguk dan pergi ke dapur untuk melanjutkan sarapan mereka yang bolak-balik tertunda.

Begitu terus kondisi toko. Pergi satu datang tiga. Satu dua tiga tidak membeli satu. Nastar lima belas toples sudah habis sejak tadi. Kue-kue dan sisanya hanya tinggal beberapa buah lagi, padahal belum tengah hari.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Kini, mereka sibuk.

Malam hingga subuh membuat kue, roti, peyek dan segala macam. Siangnya juga. Sudah satu minggu kondisi toko begitu penuh. Pip yang sejak awal menentang dan meremehkan, kini akhirnya mengajukan pada Axel untuk menambah karyawan untuk membantu membuat kue.  Mereka akan kewalahan jika terus begini dan Axel sudah memikirkan yang itu juga.

Mereka seperti robot bekerja. Candaan hanya sesekali dilayangkan ketika kantuk dan kelelahan menyerang kelewat tidak tertahankan.

“Nyangka nggak lu pada kalau nastar gua best seller?” Rey mengerling bangga. Sisa temannya mengangguk tanpa repot memvalidasi karena mereka mengantuk dan tak berenergi. Berbeda dengan Axel yang jam tidurnya seperti terbalik dan tak ada satupun yang berani membangunkan pria itu. 

“Lin, buka-buka baju lu. Biar seger mata. Liat Pip sama Axel, mereka mau tumbang itu” Rey lagi-lagi memberi solusi sambil cekikikan. Tangannya gesit membuat adonan. Kali ini Axel membantu memasukkan nanas ke dalam adonan.

“Lu aja kulum titit lu sendiri” jawab Lina malas. Gadis itu juga jelas mengantuk.

“Beli kratingdeng anjir, ngantuk banget gua, buset” Pip menguap seperti rahangnya akan mencar “omong-omong, paman gua udah nelpn gua, katanya sepuluh hari lagi gua bisa berangkat ke Singapura” lontaran itu membuat Axel yang awalnya mengantuk, menjadi segar. Pupilnya melebar. Lalu fokusnya berganti pada Rey saat pemuda itu juga buka suara.

“Kok sama? Gua juga udah kelar urus-urus, tinggal apanya lagi itu, dikit lagi. Nanti lusa gua mau ngurus visa, paling bareng kita berangkatnya sat” Rey melempar tatap pada Pip yang hanya mengangguk tak begitu peduli.

Namun berbeda dengan Axel, hatinya mencelos. Rasanya benar-benar aneh. Mirip gelenyar api yang merambat dalam hatinya. Ketidakrelaan yang begitu besar. Axel bersumpah ia sedih. Hatinya terluka tidak bercanda. Kehilangan dua temannya seperti hilang arah. Apalagi toko roti yang baru ramai dan laku keras hasil kerja keras Pip dan Rey. Bagimana caranya ditinggalkan?

“Guys, kata gua mah udah si di sini aja. Lu berdua mau gaji berapa coba? Gua kasih. Sumpah, samain aja kek di Jepang dan Singapur, gua jabanin” ungkapan itu tidak main-main. Pria itu menjadi lesu acap kali dua temannya membahas pergi.

“Mana ada, cita-cita gua pergi keluar negeri. Gua pengen hal-hal baru” suara Rey di angguki dan mendapat acungan jempol dari Pip.

“Sesuai perjanjian aja sat. Kita udah sering ngobrolin ini” kata Pip, lagi-lagi sambil menguap. Setelah itu tidak ada percakapan lagi. Mereka berkutat dengan pegal dan mengantuk sambil bergesekan dengan waktu.

Hingga pukul lima dini hari ketika semuanya sudah tidak kuat dan lagi-lagi masuk dalam kamar dalam kondisi malang melintang. Bedanya, Axel tidak ikut. Pria itu duduk melamun di dapur tidak mengantuk.

Perasaannya aneh tiap ingat jika dua temannya akan pergi. Rasa tidak rela seperti penyakit yang menggerogoti.

Pip bilang, ia sangat ingin bekerja dengan gaji besar di luar negeri dan membanggakan ibunya yang janda. Tiap membahas pergi ke luar negeri, Pip akan berseri-seri penuh semangat. Sama dengan Rey yang begitu mencintai animasi Jepang dan bercita-cita pergi ke sana sejak ia sekolah dasar. Ingin bekerja disana, ingin bisa berbahasa negara itu dan ingin mendapat gadis Jepang untuk dijadikan istri.

Lalu diri sendiri. Kedua orang tuanya sudah mematoknya tak dapat kemana-mana. Axel sudah di takdirkan menjadi CEO di perusahaan ayahnya. Ia tidak di beri izin pergi kemana pun, tidak keluar negeri kecuali untuk urusan pekerjaan atau sekedar liburan sebelum ia mantap menjadi pimpinan. Namun entah apa yang salah, ia hanya ingin berkelana bebas menjadi apa saja di manapun. Baik di dalam negeri maupun di luar. Namun tidak bisa. Rasanya, seperti ditinggalkan, hatinya kosong dan aneh.

Pertemanan mereka berjalan hampir seumur hidupnya sejak sekolah dasar. Rey dan Pip seperti hidupnya. Mereka bertiga saling memengaruhi, saling menularkan hal-hal baru yang didapat dari lingkungan selain mereka. Mereka berbagi semua hal. Seperti keluarga. Orang tua mereka pun sudah sangat tahu satu sama lain. Dan benar, mereka adalah keluarga.

Axel tidak memiliki teman selain mereka berdua.

Lalu, jika keduanya pergi, bagaimana? Axel menelengkan kepala ke kanan kiri demi menghalau rasa menyedihkan yang benar-benar tidak dewasa. Demi hidupnya, ia bersumpah jika pola pikirnya sangat aneh, namun  juga tak mampu menepis atau bersikap seperti logika. Ia merasa terikat untuk alasan yang benar-benar gagal di terjemahkan.

“AXEL LU KUDU TIDUR” suara Pip serak “lu lagi gampang pusing akhir-akhir ini” Pip lebih mirip sedang mengingau. Namun berhasil membuat Axel tersenyum, pria itu mengusap wajahnya, lalu masuk ke kamar dan memeluk tiga orang itu sayang.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

“Bagaimana perasaanmu?” suara itu lagi. Mungkin untuk yang ke seratus kali. Pria itu memiringkan kepala enggan menatap. Ia tak bersuara, sudah lama. Sejak tubuh dan kesadarannya berada di tempat terpisah.

“Kamu masih menolak bicara, ya? Tapi nggak papa, aku kasih pena dan kertas kecil di atas nakas. Kamu bisa tulis atau menggambar apapun yang kamu mau disana. Nggak maksa, pelan-pelan aja. Kita semua ada disini”

Klise dan repetitif. Membuat muak saja.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Katakan itu keberhasilan yang kelewat cepat. Dalam kurun tiga minggu, toko kue milik Axel begitu laris. Namanya terkenal di kalangan ibu-ibu kaya raya. Jualannya selalu habis dan setelah perundingan panjang dengan dua temannya, Axel akhirnya merekrut sekitar delapan orang untuk membantu membuat kue.

Pendapatan Axel besar. Untungnya tinggi dan makin lama semakin melambung terkenal. Bahkan, sejak satu jam sebelum di buka, orang-orang mengantre dengan barisan jauh. Itu pencapaian meski kelewat instan.

Rey tetap mengadon. 

Pria itu tidur di siang hari dan begadang pada malamnya. Sementara para kasir seperti Pip dan Lina serta bos, hanya membantu sampai tengah malam dan akan tidur setelahnya. 

Katanya, tangan Rey adalah tangan dewa, tangan yang membawa toko roti Axel sampai sejauh ini meski terbilang sangat cepat. Justru disana, jelas. Axel merasa tidak ada yang salah dengan keberhasilan instan karena semua sudah ditakdirkan. Bahkan jika komentar para pesaing di kanan kiri mengatakan jika hal-hal instan tidak akan bertahan lama, maka, Axel tidak apa-apa. Toh, ia juga sudah berjanji pada ibunya untuk menjadi CEO. Memiliki toko roti hanya syarat dan ibunya sudah memenuhi itu. Tidak masalah jika sesuatu terjadi dan tokonya harus tutup—meski itu hanya pikiran jauh.

Tapi jauh belum tentu jauh.

Tepat sebulan setelah gajian pertama bagi Pip, Rey dan Lina meski gadis itu tidak penuh, namun Axel tetap memberikan barengan dengan dua temannya—tentu saja tidak sempurna.

Disaat bersamaan, Pip dan Rey berpamitan pada Axel untuk pergi. Mereka akan terbang besok lusa dan berencana tidur di rumah  dengan keluarga. Maka, ia berpamitan pada Axel dua malam sebelum keberangkatan.

Malam ini, karena terakhir mereka berada di toko, maka, Axel meminta semua karyawan baru untuk libur. Pria itu ingin menghabiskan waktu bersama dua temannya sebelum keduanya benar-benar pergi.

Dan malam itu mereka kembali berempat. Rey seperti biasa membuat adonan. Pip di depan oven meski sudah lama tidak melakukan. Lina dengan selai nanas sementara Axel dengan adonan peyek. Seperti sebelumnya, seperti awal-awal mereka.

“Lina, gua titip Axel, oke? Kalian menikah aja gaksi? Rasanya tenang ninggalin si brengsek ini kalau sama lu” Pip nyengir saat mengatakannya.

“Axel mana mau, gua sih oke-oke aja” jawab Lina apatis.

Axel hanya berekspresi datar. Matanya sesekali naik menatap dua temannya bergantian. Sejak pagi, matanya panas, rasa sedihnya tak bisa dibendung dan ia cukup dewasa untuk tidak mengatakan omong kosong sebagai pemicu pembulian parah meski sangat ingin.

“Jan diem aja, ntar dubur lu keces gua lempar adonan, serius” Rey mengancam sambil cengengesan.

“Axel kayak mau nangis gitu gaksi?” Lina yang perhatian pada ekspresi pria itu meski Axel sudah berusaha tidak terlihat seperti itu.

“Apa lu? Mana ada gua begitu” si pria mengelak dengan membuang pandangan. Pip terpingkal-pingkal meski hidungnya berminyak.

“Kata gua apa, ikut gua ke Jepang, jablay disana spek dewi harga murah. Itu kata sodara gua, caya deh” Rey kembali mengiming-iming. Axel hanya mendecih. Ia tidak butuh pelacur. Jika ingin, pria itu sangat bisa. Ia hanya ingin terus bersama teman-temannya dalam waktu lama. Bahkan sampai semuanya berkeluarga dan sampai mati.

Mereka seperti biasa, mengobrol malam itu hingga larut. Cekikikan, membiacarakan omong kosong paling tidak berguna sedunia. Lalu diam, kentut, saling melempar adonan. Lina mengepel lalu memukul tiga pria. Mengobrol lagi, membuli Axel. malam itu sangat panjang, Axel berharap pagi tidak pernah datang. Ia ingin kebersamaan seperti ini lebih lama. Atau kebersamaan mereka seperti biasanya,  tanpa terputus.

Hanya berkumpul di salah satu rumah. Kembali mengobrol membicarakan apa saja, bertukar isi kepala dan pikiran serta menjadi tempat paling bisa diandalkan saat sedih. Pelan-pelan hubungan mereka seperti rumah. Atau hanya Axel sendiri yang menganggapnya begitu?

Padahal paham polanya tidak dewasa. Namun Axel masih kesulitan.

Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Juga rasa sedihnya yang membelenggu.

Lama bercengkrama hingga dini hari—pukul empat lewat lima belas menit. Pip pertama kali menyerah ketika matanya merah dan kelopaknya lengket. Pria itu  melepas apron dan langsung melempar dirinya ke atas kasur. Di susul Lina yang juga melakukan hal yang sama meski lebih dulu mencuci tangan.

Sisa  Rey yang sudah mulai menguap.

“Lu belum ngantuk sat?” matanya bertemu dengan Axel, pria itu menggeleng.

“Lu tidur duluan aja, Rey. Ntar gua yang beresin sisanya”

“Serius?”

“Hm”

Rey tersenyum. Pria itu mencuci tangan, sikat gigi dan cuci muka sebelum benar-benar masuk dalam kamar dan memeluk Pip. sementara Axel masih bertahan. Pria itu masih menggoreng peyek, menatap minyak mendidih yang mengeringkan adonan peyek hingga jadi. Ia melamun lama hingga nyaris satu jam berlalu dan adonan peyek habis.

Namun matanya tetap tidak mengantuk.

Hari ini dua temannya akan pergi.

Hari ini terakhir ia melihat adonan milik Rey. Oven yang di jaga oleh Pip dan nastar, serta semua hal lezat yang membawa tokonya melambung besar.

Lalu, apa jadinya tempat ini tanpa Pip dan Rey? Axel sudah menduga akan gagal dan mau tidak mau ia akan pergi ke kantor memenuhi janjinya. Mengingat hal itu membuatnya emosional, ia tak tahu apa yang salah dalam dirinya, namun rasa tidak nyaman terus menyesaki perasaan. Ingin menangis pun sulit. Ia tidak akan membebani temannya karena memang tidak akan. Mereka hanya akan menganggap perasaannya itu hanya sesaat atau kalimat-kalimat penenang sejenis yang tak berpengaruh pada apapun dalam hatinya.

Masih sibuk dengan pikiran berkecamuk, hidungnya menangkap aroma tidak sedap. Ya, aroma gas seperti akan habis. Aromanya mirip durian kelewat matang, kadang-kadang mirip sesuatu yang aneh—busuk yang belum pernah ia baui sebelumnya.

Axel menoleh ke arah deretan kompor besar di sepanjang meja. Salah satu tabung tidak terpasang dengan benar—mungkin, ia masih ragu. Masih mencoba memastikan apakah itu hanya perasaannya saja.

Di sisi lain dapur, oven besar sudah dalam keadaan mati sejak Pip memutuskan untuk tidur hampir lebih dari 1  jam yang lalu. 

Lalu ia memastikan apakah aroma itu berasal dari kompor oven yang paling besar. Atau di bawah yang seperti tidak terpasang dengan benar. Tangannya meraih knop pemantik di bagian depan oven.

Klik.

Percikan kecil muncul di dalam tungku.

Dalam sepersekian detik, udara di ruangan yang sudah dipenuhi gas bereaksi. Bunyi dentuman keras memantul di dinding dapur, membuat rak-rak loyang bergetar. Gelombang panas menyapu cepat, mirip dorongan angin yang kuat, lalu menghilang, meninggalkan kepulan asap tipis di sekitar kompor. Dalam waktu singkat, listrik mengeluarkan percikan yang menyambar-nyambar mengerikan. Axel tersentak mundur dan terjatuh.

Dadanya terasa sesak karena kaget, telinganya berdenging. Api membumbung tinggi dan ledakan lain menyusul. Beberapa loyang jatuh ke lantai dengan suara berisik. Tabung gas di bawah meja terguling pelan, regulatornya longgar.

Dapur yang tadi sunyi berubah kacau hanya dalam satu detik. Axel lari tunggang langgang kedepan—membuka rolling door secepat kilat sebelum ledakan dari tabung lain menysul. Waktunya sangat singkat saat suara dentuman mengerikan itu berhasil membakar dan menghanguskan segala hal.

Semuanya habis. Lenyap, terbakar. Hanya dalam waktu kelewat singkat yang benar-benar singkat. Waktu singkat yang mengubah segalanya.

Hancur, habis.

Axel terjatuh tanpa tangis. Ia menatap api tinggi dengan mata menyala seperti api yang berkobar di depannya.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Berita itu sangat heboh.

Kebakaran yang menewaskan dua laki-laki dan satu gadis dalam toko roti yang sedang naik daun menjadi spotlight di seluruh saluran stasiun televisi maupun sosial media. Terlebih di kalangan para ibu-ibu sosialita yang menjadi pelanggan tetap sebulan terakhir.

Ibu Pip menangis hingga pingsan. Anak semata wayang yang ia besarkan seorang diri tanpa sosok suami sejak Pip kecil. Ayahnya yang lebih dulu berpulang karena sakit keras, kini, hal itu kembali terjadi pada putranya. Kerja kerasnya sia-sia dan wanita itu terus mengatakan ingin mati sebelum kesadarannya hilang.

Sementara orang tua Rey nyaris serupa meski tidak sehisteris ibu Pip. mereka menangis dan melamun banyak. Entah siapa yang bisa di tuntut ketika Mama Axel mengaku anaknya tidak ada di tempat kejadian saat peristiwa naas itu terjadi. 

Orang tua Lina juga datang meski tidak ada yang tersisa. Ketiga tubuh korban hangus. Hanya di temukan tulang belulang yang sudah tak utuh. Semuanya mengerikan.

Sementara Axel, pria itu menyendiri dalam kamar. Tidak satu pun di perbolehkan masuk. Pria itu memeluk lututnya di pojok ruang dalam kondisi gelap. Ia bahkan tak berani menyalakan lampu, tak boleh ada yang datang hingga tubuhnya lemas. Sebelum kedua orang tua Axel memaksa putranya untuk diinfus agar bertenaga.

Tidak ada. Pria itu selalu gemetar, jika ditanya, Axel akan menangis dan mengatakan tidak tahu. Sejak hari itu, mentalnya kacau dan ia menjadi tidak stabil.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Mimpi itu datang lagi….

Malam dimana kami membuat adonan kue, tertawa bersama, bercengkrama dan saling merundung. 

Terus, berulang, berulang. Rasanya seperti terjebak. Tiap menutup mata, bau gas dan percikan api terasa sesak memenuhi pernapasan.

Aku ingin mati saja. Tidak bisakah di antara kalian menyuntikkan vecuronium agar aku mati?

Aku sungguh… aku sangat lelah. 

Membuka mata sulit, tidur sulit, hidup sulit. Aku tidak bisa hidup seperti ini.. Aku ingin mati saja, sungguh… aku ingin mati… siapapun biarkan aku mati….

Dokter membacanya. Itu pertama kalinya Axel mau bergerak. Sekedar duduk lalu memegang pena dan menulis walau isinya mengindentifikasi tidak adanya perubahan. Dokter akan meminta Mama Axel untuk menyetujui agar putranya di terapi lanjutan.

𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊

Mimpi itu datang lagi. Namun dalam bentuk yang lain. Meski sakitnya sama.

Setahun yang lalu.

Rey memetik gitar. Bertiga duduk di salah satu kafe milik kerabat Axel–luar ruangan. Perkumpulan rutin yang lagi-lagi tidak bermutu, tidak penting.

“Seluruh kota.. Merupakan tempat bermain yang asyik… oh senangnya.. Aku senang sekali…” pria itu bernyayi, Pip angkat tangan sambil menggoyangkan tubuh meski sambil duduk. Axel bersiap-siap akan melanjutkan lirik.

“Di musim panas… merupakan hari bermain gembira… sang gajah.. Terkena flu.. Pilek tiada henti-hentinya.. Beruang tidur.. Dan tak ada yang berani ganggu dia.. Oh sibuknya.. Aku sibuk sekali…”

Gitar terus di petik hingga kedatangan pelanggan lain dekat mereka duduk. Dua gadis ayu yang memesan matcha.

Kini gantian Pip yang angkat suara

“Kalau begini.. Akupun jadi sibuk.. Berusaha, mengejar-ngejar dia.. Matahari menyinari, semua perasaan cinta, tapi mengapa, hanya aku yang dimarahi?” matanya melirik pada gadis berambut panjang dengan anak poni jarang-jarang. Begitu cantik. Lesung pipi kecil di pipi sebelah kiri terlihat melubang. Deret gigi rapi bersama tahi lalat diatas dab bawah mata kiri. Sejak tadi mencuri-curi pandang. Rey yang menyadari kontan menghentikan petikan gitar.

“Gas nggak? Siapa yang mau maju?” pertanyaan itu barangkali terdengar tanpa konteks. Tapi bagi ketiganya, itu adalah kode untuk mendekati gadis. Mendekat untuk menanyakan kontak atau sekedar mengajak berkenalan.

Pip angkat tangan.

“Kali ini serahin ke gua, gua suka sama yang rambut panjang” suaranya rendah nyaris terdengar mirip bisikan. Meja mereka begitu dekat meski tetap gagal mendengar obrolan satu sama lain.

Axel tepuk tangan, Rey menyemangati.

Pip mendekat, menarik kursi namun tak segera duduk.

“Boleh aku… gabung?” pertanyaan pertama, anak poninya menggantung membentuk koma di dahi. Pria itu tampan paripurna. Siapa yang akan menolaknya kecuali gadis gila atau kelewat waras hingga tahu jika pria tampan tak selamanya ‘benar’

Tentu saja di angguki antusias. Kedua gadis itu bahkan merona tanpa sebab–hanya dengan eksistensi.

“Kenalin, nama aku Pipa” katanya.

“Rucika?” jawab si gadis berambut panjang “nama lengkapnya Pipa Rucika?”

Pip menggeleng ramah “TMI ejekan itu udah basi banget, jadi cari yang lebih fresh. Nama kamu siapa?”

“Utari”

“Ica?”

“Ica darimananya?”

“Utari kan sama kek Utaran, kamu liat film India yang main female nya jelek banget? Yang sama si nanek Tapasya. Itu, Ica. Main Female yang kek beruk”

“Jadi, menurut kamu, aku kayak beruk?”

“Aku nggak bilang gitu” jawab Pip sambil nyengir “kamu cakep kok”

“Sempak Pip dobrak mbak. Dia nggak pakai CD” Rey berteriak tiba-tiba.

“Pip suka anus mbak!” Axel ikut berteriak.

“Kalau pacaran sama Pip, nanti kamu di nganu sampe ususnya keluar” Rey masih. Mereka bersahut–sahutan. Sementara Pip tersenyum seperti seorang kakak yang baik ketika adiknya terus bertingkah seperti kriminal.

“Kamu mau pacaran sama aku?” tanya Pip. Semudah itu mulutnya berlontar tanpa menghiraukan teriakan mirip satwa liar dari dua temannya di belakang. Si gadis menatap matanya, lalu bergantian pada dua orang yang mulai menirukan suara anjing, serigala, mengeong, meringkik meski tak paham apa konteksnya.

“AUUUUUUU….” Rey bersuara keras.

“Em.. ah.. Em.. ah.. Awok awok” Axel mendesah untuk alasan yang lagi-lagi tidak dimengerti.

“Mau” kata gadis itu cepat. Setelah itu Pip tepuk tangan. Ia menatap ke belakang pada dua orang yang masih bersuara.

“Guys, gua pacaran sama si Ica” jawabnya bangga. Lalu kembali menatap si gadis “jadi gini yang” panggilannya kontan berubah “kalau pacaran sama aku, kudu bisa berbahasa serigala karena aku ini adalah serigala alpha yang kejam dan bengis di takuti seantreo negeri. Mulai sekarang kita mengaum, oke?” sebenarnya, itu alasan utama mengapa tiga pemuda normal itu kesulitan mendapat pacar. Mereka terus bertingkah seperti itu–meminta pacar mereka ini dan itu di atas normal. Dan sayangnya, hingga hari ini, tak ada yang benar-benar  sudi. 

Si gadis belum menjawab sampai Axel dan Rey mendekat lalu mengangkat Pip ke atas meja dan memperlihatkan lubang telinga Pip dengan menyorotnya menggunakan senter ponsel.

“Liat mbak, telinganya mampet. Kebanyakan cole garing. Lu mau sama dia?” Axel yang memberi tahu, Rey yang memegangi.

Pip tidak melawan meski Rey terus memegangnya. Kondisi ini sering terjadi.

Reaksi para gadis selalu sama; berekspresi aneh, lalu pergi dengan wajah tidak percaya—jika ada orang-orang aneh yang tidak wajar seperti tiga pemuda itu. Setelah dua gadis itu pergi, mereka tertawa tebahak-bahak seperti hal itu adalah lucu. Ya, lucu bagi ketiganya. Selalu seperti itu hingga mereka benar-benar sulit mendapat pasangan.

Mereka kembali duduk ke bangku semula.

“Guys, gua membayangkan punya toko roti” Axel sudah mengatakan itu lebih dari seratus kali dan tidak pernah ada yang benar-benar menanggapi.

“Gua mau ke Singapura tahun depan setelah lulus” itu juga sudah dikatakan berulang-ulang seperti Axel mengatakan tentang toko roti.

“Gua ke Jepang” Rey ikut menjawab.

Axel menghela napas pasrah. Rey kembali memetik gitar.

Kita pernah bersama disini…

Lalui hari pernuh warna-warni..

Meski tak seindah pelangi, tapi kita pernah bermimpi..

Percayalah padaku, meski gelap malam, kamu nggak sendirian..

Dari semua bintang yang kutinggalkan, temani kau sampai akhir malam..

Suara Rey memenuhi rungu. Menggema hingga nyaring ke kalbu.

Pria itu membuka mata lagi. Air matanya mengalir lurus dari masing-masing sudut. Plafon putih itu lagi, suara denging mesin aneh atau pendingin–entah. Namun bunyinya memekakkan telinga. Suara gitar serta lagu merdu sepenuhnya hilang. Tetesan infus bergerak konstan tak kalah menyebalkan. Ia terbangun lagi meski setiap saat berharap mati. Sialan kematian yang tidak datang hanya karena ingin.

“Rey… Pip…” mulutnya bergerak meski suaranya tidak keluar. Air matanya makin deras. Aroma obat dan antiseptik sudah akur dengan penciuman. Pria itu meneleng ke samping saat suara lain tertangkap. Seorang dokter wanita tanpa jas putih. Namun pada kartu pengenal yang menggantung di dada, Axel dapat membaca jelas nama dan siapa wanita itu.

Psikiater.

“Mimpi lagi?” tanyanya ramah. Axel tidak ingin menjawab, tidak, tidak mau. Ia marah, meski sadar tak ada yang salah dengan si dokter. Namun ia hanya ingin marah karena dokter itu tidak mengabulkan permintaanya untuk mati.

“Aku resepin obat buat mimpinya, hm?” itu juga, Axel tidak tahu sejak kapan mereka akrab dengan sebutan informal.

“Dok..” suaranya keluar setelah susah payah “sekarang tanggal berapa?”

Dokter melirik kalender di samping nakas.

“30 desember 2030”

Axel mematung. Angkat 30 di ujung mengusiknya. 

Apa yang terjadi diluar? Ia masih bernyanyi dan kebakaran terjadi tahun 2027. Apa yang terjadi tiga tahun belakangan? Mengapa waktu melompat-lompat tanpa ia sadar? Tidak ada yang menjelaskan jika ia terbaring di sana selama tiga tahun dengan mental amburadul. Dokter hanya mengatakan untuk minum obat lalu bertanya tentang perasaannya hari ini dan itu. Hanya itu. 

Juga  memberitahu pada orang tua Axel kondisi memprihatinkan yang membuat otaknya tidak stabil dan kesulitan membedakan kenyataan dan mimpi khas pengidap skizofrenia akut.

Kepalanya meneleng saat dokter menghalangi pandangan. Axel melihat ke arah pintu saat eksistensi lain tengah melambaikan tangan. Itu adalah Pip dan Rey, keduanya cengengesan khas meledek. Berdiri khas mengintip di ambang pintu.

“Dokter, temen saya suruh masuk” ia mendongak melihat dokter. Sang dokter ikut melihat ke pintu yang kosong. Pintu itu bahkan tertutup rapat.

“Hm, nanti aku suruh temen kamu masuk. Tapi kamu minum obat dulu, oke?”

Axel menggeleng.

“Kalau aku minum obat, aku akan kembali ke sana” Axel tahu. Jika ia menelan apa saja yang diberikan dokter, maka ia akan kembali bermimpi aneh. Mimpi yang memaksanya menghapus seluruh bayangan dua temannya. Maka, selama itu juga Axel tidak pernah benar-benar meneguk obat. Itu alasan ia masih bercengkrama dengan Pip dan Rey dalam mimpi. Meski menyakitkan, namun berhasil mengobati rindunya yang lebih mendera ketimbang kelelahan fisik nyata yang tak ia mengerti apa sebabnya.

Kakinya kaku, tubuhnya lemah. Entah sejak kapan. Selang infus tak pernah absen terpasang. Axel tidak tahu apa yang terjadi. Dunia begitu membingungkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *