BAB 7. CLOSER TO YOU

Dua minggu berlalu. Mona sibuk luar biasa, malam-malamnya diisi dengan — memegang alat rias, pergi dari satu tempat ke tempat yang lain. Pindah ke sana sini tak menentu. Tidurnya tak teratur dan ia berhasil mendistraksi banyak hal—setidaknya mengurangi intensitas konsumsi alkohol. Namun jika waktu istirahat datang, ia menyempatkan diri menangis, bukan, maksudnya, selalu menangis. Menangisi pria yang entah bagaimana kabarnya sekarang. 

Ia tak banyak membuka ponsel. Lebih  banyak mengobrol dengan siapapun. Dengan teman kerja, dengan client, dengan orang random yang ditemui saat mengantri membeli kopi dan kucing jalanan. Tak membuka berita viral, juga tak menghubungi ibunya. Mona mulai aktif membeli buku fisik. Jika ada waktu luang, ia menyempatkan diri membuka lembar demi lembar fiksi untuk menjejal isi kepalanya yang riuh—digantikan dunia baru yang totalitas mengalihkan semua hal yang semrawut di kepala.

Lalu menangis saat ingat Jimin. Meski tak separah hari kemarin. Ia tahu lukanya tak akan sembuh hanya dengan mengalihkan semua hal, namun, seluruh pengalihan ini berhasil membuatnya waras. 

Ia tak akan menyangkal jika hatinya masih saja berharap—saat membuka mata, pria itu memeluknya dari belakang, menyatakan cinta seperti biasa, lalu menagih ciuman yang menjijikan di pagi buta. 

Masih berharap, semua hal hanya bohong. Jimin tidak seperti itu, pria nakal itu adalah kekasihnya dan mereka akan menikah. Tidak ada yang berubah.

Juga hanya menunggu. Di malam-malam sepi, ia hanya bisa menghentikan sakitnya dengan alkohol dan berpikir bahwa Jimin sedang pergi untuk kembali, bukan menikah dan pulang membawa anak lantas mengenalkan bayi itu pada semua orang. Tidak, penolakan, denial.

Ia akan mengakui, untuk memvalidasi perasaannya yang masih begitu luka.

Tidak apa-apa. 

Tidak akan langsung lupa. Jika terlalu menyakitkan, ia akan menangis, lalu meneguk alkohol dan tertidur sepanjang hari saat libur. Saat bangun, hatinya makin sakit.

Lantas menemukan momen dimana ia merasa begitu bodoh dan tuli. Merasa dirinya berharga dan berhenti menangis, menyalakan musik dan melompat diatas kasur.

Lalu meneguk alkohol.

Atau seperti malam ini ketika besok sampai lusa tak ada jadwal dan ia bisa istirahat di rumah setelah hampir seminggu selama hampir 24 jam ke sana sini dengan istirahat yang kurang. Mona pergi ke minimarket dan membeli 10 botol minuman keras dengan berbagai merek.

Alkohol, rokok, buku, tontonan dan tidur. Itu sempurna.

Tidak apa-apa belum sembuh, tidak ada apa-apa masih menangis.. 

Tidak apa-apa..

Mona menyanyikan lagu cinta.

Apakah masih ada cinta? Usianya terlampau muda. Mungkin saja beberapa tahun kedepan hanya akan menyia-nyiakannya dengan usaha melupakan cinta pertama. Lalu di tahun selanjutnya menyesal mengapa menghabiskan waktu untuk orang yang tidak bernilai.

Ah.. betapa ia rindu pada Olivia dan Jung yang selalu berisik. Selama setahun tinggal bersama mereka, Mona hanya menggeleng-geleng dengan tingkah keduanya, lalu tertawa, dan sisanya senang. Jika saja mereka bukan bagian dari Jimin, maka, Mona akan mengadopsi Jung dan Olivia menjadi anaknya. Ia akan bekerja keras untuk menghidupi dua bocah itu dan berlagak menjadi orang tua tunggal yang bertanggung jawab. Dan Joon. tiga orang itu hampir tiap malam menginap di apartemen.

Bagaimana kalau iya?

Tidak menikah, memiliki anak Jung dan Olivia lalu memiliki cucu 10 tahun ke depan dan ia menjadi nenek?

Dari semua hal, ia pasti akan di bunuh ibunya. Mona mulai memikirkan akan membawa adik perempuannya datang. Tinggal bersama.

Tapi tidak jadi. Bayangkan jika ia bekerja dan adiknya membawa laki-laki masuk ke rumah. Maka, ia akan menjadi pembunuh. 

Sepanjang jalan pulang, Mona memikirkan. Memikirkan, siapa yang bisa diajak tinggal bersama. Yang lucu, menggemaskan tapi bukan binatang. Bisa menjaga diri, tidak aneh, tidak memiliki nafsu, tidak menyebalkan dan tidak menuntut. Padahal, Jung dan Olivia sangat sempurna. Membayangkan saat pulang kerja, dua sejoli itu sedang berebut makanan dan Olivia menangis, Jung duduk di pojokkan merasa bersalah sementara sang gadis tidak sudi memaafkan. Lalu ia dan Olivia konsisten tidak menyapa Jung beberapa jam, pria itu keluar rumah dan merangkak turun ke lobi, sesekali salto. Lalu ia tertawa dengan Olivia. Ingat saat di apartemen. Lantas Mona melirik ponsel.

Bisakah? Menelepon Olivia?

Lalu ia menggeleng, itu bunuh diri. Jimin akan mendatanginya dengan wajah menyebalkan itu, Mona akan menangis saat pria itu memohon.

Perjalanan hampir dua jam ia bunuh dengan menyanyi dalam mobil.  Suaranya besar dan menjerit-jerit. Sangat melegakan.

Mobilnya terparkir sempurna.

Mengangkat minuman keras susah payah setelah membanting pintu mobil dengan kaki, gadis itu bersenandung. Ransel di bahu sebelah kanan terasa berat, tak kalah berat dengan kantong yang di jinjing lengan kiri.

Dan.. pintunya tidak terkunci.

Apakah tukang bersih-bersih? 

Tidak ada batang kelapa. Juga tak ada bekas pemotongan kepala, semuanya bersih. Bahkan teras depan mengkilap terpantul lampu depan. Mona biasanya akan mengumpat pada unggas milik tetangga yang berjarak 300 meter. Entah ayam atau bebek, mereka akan buang air di teras dan itu tidak sedikit. Tapi lihat malam ini, lantai itu bisa digunakan untuk menggelar makanan.

Pintu tidak terkunci.

Haruskah ia menyiapkan batu?

Mona menghela napas saat langkahnya sampai di ruang tamu dan melihat Yoon terlelap di sofa. Batu yang sempat di genggam, kembali ia lempar keluar. Gadis itu berjalan tenang—berusaha tak mengeluarkan suara. Padahal, ia tak melihat mobil pria itu.

“Udah pulang?”

Suara berat dan rendah, Mona membalik tubuh dan mengangkat alis sambil mengangguk. Lalu ke dapur dan memasukkan minumannya ke dalam pendingin yang sebelumnya mati.

Ia membuka ransel, mengambil makanan cepat saja yang sempat ia beli sebelum pulang

“Saya masak” Yoon ikut ke dapur.

Mona menatapnya sebentar, lantas memasukkan makanan yang ia beli ke dalam pendingin. Menuju tudung saji dan melihat rendang satu baskom sedang.

Bisa masukin ke kulkas, bisa dihangatkan.

“Masak jam berapa om?”

“Jam 2 siang”

“Disini dari jam berapa?”

“1 siang”

Mona Mengangguk. Ia mengambil piring, membuka mejikom dan menarik kursi duduk menghadap rendang “om udah makan?”

Pria itu menggeleng, Mona menarik kursi lain dan menepuknya, meminta pria itu duduk.

“Kenapa belum makan?”

“Nunggu kamu”

Mona mengangguk ia menyuap makanannya sebentar “nunggu saya pulang baru makan? Anak pintar” lantas menepuk kepala Yoon, pria itu menepisnya.

“Jangan kurang ajar, saya gak suka kepala saya di pegang”

“Oke, maaf” kata gadis itu enteng “jadi, gimana om, kan om suka sama saya, gimana kalau mulai memikirkan kasih saya uang yang banyak? Saya suka laki-laki kasih uang”

Pria itu diam.

“Saya nggak suka cowok modal bersih-bersih doang, masak, berbenah” Mona bangkit menuju kulkas, lalu mengambil air “kalau bersih-bersih aja, saya bisa bayar orang. Saya suka cowok  beruang, gimana?” ia mulai memprovokasi, Yoon tidak mempan jika hanya di tolak, Mona tidak akan bisa juga memukul pria itu. Segala hal sudah ia paparkan, bagaimana busuknya mulut, bagaimana perangai buruk. Namun pria itu tak menyerah. 

Harus bagaimana lagi agar Yoon berhenti?

“Kamu mau uang berapa? Apa benefit yang saya dapat dengan memberi kamu uang?”

“Cinta”

“Saya nikahi kamu, saya beri apa pun”

Mona tersedak.

Orang gila.

“Aki-aki kalau ngomong gak kira-kira” Yoon mengelus punggungnya, gadis itu menepis.

“Saya masih muda”

“31 tahun nggak muda”

“Terserah”

“Mau having seks?” gadis itu tiba-tiba. Ini adalah cara lain.

“Nggak”

“Saya ngeseks 3 sampai 4 kali sehari sama Jimin. Kita melakukannya di manapun dan kapanpun. Bisa bayangin gak sih?”

Yoon mengernyit “Jimin nangis karena bilang belum sentuh kamu”

Lalu gadis itu menghela napas

Jimin sialan.

“Saya nggak perawan”

“Saya nggak tanya”

“Mau having seks?” Gadis itu bertanya sekali lagi. Berharap Yoon jijik padanya.

“Kenapa kamu mengajak pada hal yang kamu sendiri takut terhadapnya?”

“Apa?” Mona menyelesaikan dengan makan singkat 

“Olivia bilang, kamu paling—”

“Hentikan, ah sialan” gadis itu bangkit lagi. Rupanya semua orang bercerita satu sama lain. Tidak ada gunanya terlihat binal di hadapan pria itu. Ini menjengkelkan.

“Pulang sana, saya mau istirahat”

“Kamu tawarin saya makan, tapi minta saya pulang. Lagi pula mobil saya di bawa orang ke bengkel, bagian atasnya penyok tertimpa batang kelapa”

Mona mengusap wajahnya kasar “allahuakbar” 

Gadis  itu lantas mengabaikan. Setelah mencuci piring, ia masuk ke kamar mandi. Suara air keran terdengar nyaring, disusul nyanyian merdu dari sang gadis. Yoon nyengir sambil mengunyah.

TAK PERNAHKAH KAU SADARI.. AKULAH YANG KAU SAKITI!!! KAU PERGI DENGAN JANJIMU YANG TELAH KAU INGKARI.. OH TUHAN TOLONGLAH AKU HAPUSKAN RASA CINTAKU, AKUPUN INGIN BAHAGIA.. WALAU TAK BERSAMA.. DIAAA….

Lagu Taylor Swift

Lagu Billie Ellish

Lagu Justin Bieber

Setengah jam gadis itu mandi, akhirnya keluar dengan handuk melilit. Yoon sudah pindah ke ruang tamu, sibuk dengan ponsel.

Gadis itu lanjut bernyanyi di kamar.

Setengah jam lagi.

Lalu, Yoon mendengarnya menangis.

Lima belas menit berlalu. Tiba-tiba kepala gadis itu menyembul, hidungnya merah, matanya merah, rambutnya kering tapi berantakan.

“Om Yoon, warung di depan masih buka gak ya?”

Yoon melirik arloji, pukul 12 malam.

“Nggak tau, kalau warung madura biasanya 24 jam, kenapa?”

“Mau beli pembalut, astaga, kehabisan, ini udah flek” lalu ia menangis lagi, masuk ke kamar.

Keluar lagi.

Menggunakan baju putih, tanpa bra.

“Saya mau ke warung”

“Sendirian? Bawa mobil? Pakai baju itu?”

“Mau jalan kaki, sekalian nangis di alam”

“Ada kuntilanak merah di bawah pohon beringin di depan”  Yoon menakuti. Mona menatapnya tidak percaya “pakai jaket, dada kamu terlihat”

Mona lekas menutup dada, ia kembali ke kamar—menggunakan jaket kulit.

“Saya mau bawa mobil”

“Kuntilanaknya naik di atap mobil”

“Hentikan! Nyebelin banget mulut lu  tu” Mona bertolak pinggang, menatap pria yang cekikikan di sofa.

“Mau di antar?”

“Jalan kaki, tapi lu di belakang, nggak usah bersuara, nggak usah ajak gua ngobrol, nggak usah sok akrab”

“Oke”

Gadis itu menangis sepanjang jalan sambil mengambil video dirinya tergugu. Yoon cekikikan di belakang, berjarak 5 meter dengan suara yang sekuat tenaga ditahan.

Menjeda

“Saya bilang jangan bersuara, telinganya dikencingi setan” gadis itu berbalik galak memarahi Yoon. sang pria berdehem, lalu diam.

“Guys, kalau aku mati ditikam pembunuh di tengah kebun, persawahan, karena mau beli pembalut, berarti pelakunya Jimin yagesya, Jimin itu biadab, dia pembunuh, aku dibunuh berkali-kali guys, ya Allah, sakit sekali hati aku.. Dia kalau membunuh itu pakai bunga, bunga yang indah, tangkainya di pakai buat tusuk-tusuk jantungku, oh.. Sakit banget, sesak..” lalu menangis “kangen Jimin ya Allah” berhenti, berjongkok, mendongak, lalu menelan ingus. Yoon berdiri di belakangnya.

Lima belas menit.

Mona melanjutkan perjalanan.

Dua menit

Berjongkok lagi, menangis lagi “benci Jimin ya Allah, semoga dia sakit juga, sakit banget..”

Bangun lagi, jalan lagi “gua telat mens 10 hari, but, talk to who? God.. gua telat mens.. gua stres banget… masa gua beli tespek padahal nggak ngewe sama siapa pun” lalu diam sambil bertolak pinggang.

“Astagfirullah, mens tapi flek doang, gua kudu tanya emak gua, tapi udah malem, buset” Mona membuka ponsel lagi, melihat kontak ibunya “ah, udah malem, mamah udah tidur pasti” lantas gadis itu berbalik, masih bertolak pinggang. Yoon menatapnya bingung

“Apa?” si pria mengangkat alis

“Kalau mens tapi— ARRRGGGHHH!!!” Mona kembali berbalik, ia mengacak rambut, jalan lagi “AUUUUUUUUUUU” gadis itu melolong. 

Yoon menutup wajahnya menahan tawa.

Saat sampai di kebun karet, sepanjang jalan gelap gulita menghampar 200 meter kedepan, matanya yang basah menciptakan ilusi optik. Mona melihat sekelebat bayangan aneh yang melintas. Mirip asap.

“Anjir, lagi stres ketemu setan” ia mengusap matanya yang basah, lalu celingukan “om Yoon liat gak? Ada setan kan?”

“Mana ada” pria itu ikut melihat jalanan suram yang mencengkam.

“Kuntilanak merah, di mana pohon beringin?”

“Nggak ada pohon beringin, saya ngarang aja itu”

“Munafik kau, kang bual” Mona melanjutkan langkah “auuuuuuuuu” lantas ia menggonggong

“Berisik!” Yoon membentak di belakang. Mona kontan berbalik.


“Om bentak saya?”

“Enggak, kapan?”

“Tadi, barusan..”

“Nggak, maksudnya jangan berisik, tengah malem di  kebon”

“Tapi bentak saya, kan?” Mona menatapnya berkaca-kaca, lalu satu dua tetes air matanya jatuh. Sekali berkedip lagi, bulir itu tumpah “Huaaa!!! Di bentak, patiin aja gak sih sekalian? Sakitin aja terus, patiin, ambil batu, lempar aja lempar, emang saya ini nggak pantas di cintai, nggak berhak bahagia, harusnya mati, mau mati aja rasanya. Sakitin aja terus” pria itu kebingungan, perubahan mood yang ekstrim membuat Mona tampak kacau. Pria itu masih berpikir hormon karena menstruasi berkombinasi dengan stres akibat perpisahan. Ia merasa bersalah.

“Neng, saya nggak bentak” Yoon menggaruk pelipis, suara tangis gadis itu menggelegar sangat nyaring pada hening malam. Siapapun yang mendengar dan mendapati keduanya pasti akan salah paham.

Mona berjongkok lagi. Ia tidak mengerti, padahal, kegiatan edan seperti ini hanya berani ia lakukan dalam  rumah sendiri. Yoon benar-benar seperti tidak ada, saat eksistensi pria itu di sadari, Mona malu, sedikit. Mungkin jika perasaannya membaik, ia akan malu banyak.

Yoon mendekat, mengangkat gadis itu agar berdiri tegak, lantas memeluknya.

Pelukan hangat dan lembut, pelukan nyaman. Tangannya mengelus punggung dan sesekali kepala belakang. Mona tidak menolaknya, justru gadis itu tenggelam dalam dada dan terisak-isak di sana.

“Saya minta maaf, saya nggak bentak kamu, beneran, maaf kalau nada bicara saya terasa seperti membentak” suaranya lembut, dalam, dan rendah. Begitu halus masuk dalam telinga bersama angin malam.

Kaos depan bagian dada si pria basah oleh air mata dan ingus, gadis itu tersedu-sedu.

“Gua kenapa sih.. Lailahilallah.. Besok pasti malu banget” gadis itu bergumam.

“Saya aja nggak ingat, emang kamu kenapa?” Yoon menunduk — melihat ke wajah sang gadis. Mona melepas rengkuhan, lalu mengusap wajahnya kasar dan membuang ingus, sebelum kembali berjalan meninggalkan Yoon yang lekas membuntut.

“Om Yoon, kemarin putus sama si teteh cantik, cara cepat move on nya gimana?” melirik ke belakang, Yoon masih di buat tidak biasa dengan perubahan mood ekstrim. Meski banyak membaca teori dan konten parodi perempuan menstruasi, namun gadis di depannya sangat luar biasa. Bahkan berbulan-bulan ia mengencani Margareth, wanita itu tak pernah aneh, selalu elegan dan stabil. Sementara Mona, sebentar normal, sebentar menjadi setan. Sisanya seperti bocah pada umumnya ketika sakit hati. Namun kecepatan perubahan yang membuatnya kaget.

“Menyukai orang lain”

Mona mengangguk–angguk “bisa secepat itu?”

“Tergantung, saya pakai logika”

“Ah.. mana saya goblok lagi, gak ada logika” Mona lantas menyanyikan lagu Agnes Mo; Tak ada logika.

Yoon menggeleng lagi dari belakang. Warung sudah terlihat dan beruntung masih buka. Mona berlari cepat dan Yoon ikut berlari.

“Beli, teh beli teh” ia menyeka wajahnya yang bengkak dengan lengan atas. Lalu bapak-bapak mengenakan sarung dan peci keluar.

“Beli apa, neng? Loh? Dari mana ini, sendirian aja kah?” si bapak celingukan, lalu ketika melihat Yoon, bapak itu nyengir “yang pindah ke sawah itu ya?”

“Iya pak” jawab Mona seadanya.

“Itu siapanya?” menunjuk Yoon  dengan mulut.

“Suami pak”

“Oalah, pengantin baru kah?” Mona mengangguk malu-malu “ceritanya bulan madu, kemaren itu banyak yang tanya orang depan. Kamu belum lapor RT, ya?”

“Belum, biar nanti hari senin saya ke rumah RT, mana sibuk pak, kerja terus, suami juga kerja, jadi belum ada waktu” lalu Mona celingukan “saya beli pembalut pak”

Gadis itu membeli pembalut dan beberapa keperluan seperti sandal jepit dan spons cuci piring. Tepat pukul 1 pagi. Mereka kembali berjalan. 

Tak terlalu jauh, namun karena drama, jalanan terasa panjang. Namun, Yoon melihat gadis itu agak normal saat pulang.

“Kata om Yoon, warga sini agak sensi ya, gimana kalau tau om bukan suami saya dan nginep di rumah?”

“Di arak massa”

“Idih”

“Saya suami kamu” kata pria itu lagi, tangannya masuk dalam saku.

Mona tak menjawab, ia membuka bungkus coklat, lalu menyodorkan pada Yoon, pria itu menggeleng.

“Om sukanya apa sih?” kantong kresek mengayun di samping, gadis itu mengganti sepatunya dengan sandal jepit. Tidak menangis, tapi mulutnya penuh coklat.

“Saya sukanya… perempuan yang memakan coklat”

“Idih”

“Idih-idih terus”

“Ilfil, iyuh”

“Terserah”

“Besok-besok jangan ke rumah, oke? Ini terakhir, malu banget, sumpah. Saya mengerikan. Ini dark side” Mona memasang ekspresi aneh–bertingkah seperti hantu.

“Biasa aja tuh”

“Eh? Masa?” Mona lantas mensejajarkan langkah mereka “dulu si teteh cantik kaya saya juga kah? Kan, saya pikir semua perempuan pasti begini, wajar, normal” gadis itu bangga. 

“Udah saya bilang, saya nggak suka bahas wanita lain saat sama kamu”

Mona tak mendengarkan. Coklat murahan meleleh dalam mulutnya. Rasa manis membawa perasaan kacau sedikit membaik, hanya sedikit.

“Om Yoon pernah having seks sama teteh cantik?” pertanyaan sengaja.

“Kamu bebal banget, ya?”

“Banget” 

“Om Yoon, kenapa saya telat mens? Kenapa pinggang saya sakit sekali, menjalar ke hati, dan tumpah lewat air mata bersama kelakuan mengerikan. Ini terparah sepanjang masa. Biasanya, saya cuma merasa rendah dan menjijikan. Tiap parut di punggung teraba, tiap tato agak gatal. Tapi kali ini, ada kombinasi ingin mati juga. Saya mulai memikirkan konseling ke psikolog karena putus cinta dan hormon”

Yoon diam sebentar, melirik ke samping, gadis yang mengunyah coklat.

“Normal, nikmati aja sakitnya, nanti juga resisten. Nggak akan sepenuhnya sembuh dalam interval singkat, setidaknya, nggak begitu ngenyut. Nangis aja. Kalau soal mens, saya kurang ngerti, kamu luar biasa. Nggak usah ngoyo ini dan itu, kamu bertahan aja udah cukup”

“Saya nggak ngoyo, saya rindu. Dan tiap ingat, sakitnya seperti pisau itu baru di tancapkan lagi”

Mona membuang ingus.

“Om Yoon sedih juga ya, beda agama, si tete―”

“Hentikan”

“Ah, oke” 

Hening beberapa saat. Kali ini perjalanan pulang tak memakan waktu lama. Mona tak menangis, tak menyanyi, tidak berjongkok. Gadis itu diam saja. Berjalan, memakan coklat.

“Langitnya bagus” Yoon mendongak, bergumam. Gadis itu ikut melihat ke atas. Bintang bertaburan sementara bulan membulat sempurna, langit tampak bersih, tapi di bagian utara, awan gelap menggumpal―siap pecah.

“Hidup terus berjalan. Mau gua hancur, pecah, retak, rusak. Semuanya berjalan aja, perekonomian negara gak terusik sama sakitnya gua, sistem pemerintahan gak goyang, nilai mata uang gak naik.  Semuanya berjalan kayak semestinya, cuma gua aja nih. Gua aja kah? Eh buset.. sembuhnya gimana? Tiap malem kalau minum oskadon sampe budeg ya nenggak alkohol” gadis itu terkekeh. Angin besar menghantam dari arah berlawanan, membuat rambut panjangnya bergerak liar.

50 meter lagi mereka sampai di rumah. Mona berhenti di tempat tiba-tiba.

“Apa sembuh kalau saya menyukai orang lain? Ah bukan, pertanyaannya, apa saya bisa suka sama orang lain?”

Yoon ikut berhenti, lantas menatapnya.

“Masih muda sekali. Saya pikir putus cinta itu soal biasa. Itu siklus kehidupan. Saya bicara begini karena pernah putus cinta. Rasanya tidak nyaman, rindu, lalu sakit lagi. Tapi itu hanya fase”

“Tapi ini Jimin, gimana caranya?”

“Bahkan saat kamu berpisah dengan orang tuamu, berpisah karena kematian, tuhan mendesain kepala kita begitu elok. Secara psikologis, otak manusia punya mekanisme perlindungan yang disebut adaptasi emosional. Artinya, seberat apa pun kehilangan, otak akan perlahan menyesuaikan diri agar kita bisa bertahan hidup” Yoon menatap jauh ke matanya, menelisik. 

“Di minggu-minggu pertama setelah kehilangan” Yoon menjeda, lalu melihat ke arah lain  “area otak yang terkait dengan emosi dan keterikatan kayak amygdala dan anterior cingulate cortex, menjadi sangat aktif, makanya kita merasa sedih, menolak kenyataan, atau terus mengingat orang itu”

“Tapi seiring waktu, otak mulai membentuk jalur baru, kita belajar menjalani hari tanpa kehadiran orang itu, dan rasa kehilangan yang tajam berubah jadi kenangan yang lebih tenang. Nggak berarti kita lupa total juga, itu mustahil, tapi ingatan itu berhenti menyakitkan. Tubuh, pikiran, dan emosi kita belajar untuk hidup berdampingan dengan kehilangan itu”

Mona mendengarkan meski matanya jauh menatap langit dan gugus bintang “apa korelasinya sama putus cinta? Om lagi membicarakan kematian, kan? Kayak di tinggal mati akan lebih baik ketimbang lihat dia sama yang lain, menggendong anak”

“Korelasinya jelas, kamu ini oon, ya?” Yoon tertawa, lantas menepuk punggung gadis itu “Menariknya, mekanismenya hampir sama. Pas kita jatuh cinta, otak melepaskan dopamin, oksitosin, dan serotonin, hormon yang membuat kita bahagia dan terikat pada seseorang. Dan pas hubungan itu berakhir, otak mengalami semacam ‘sakau’, kayak kehilangan zat yang membuat bahagia. Makanya kita merasa kosong, cemas, bahkan ‘sakau’ untuk melihat dia lagi” lalu membenarkan rambut Mona yang menutupi sebagian wajah, bergerak tak teratur karena angin “seiring waktu, otak mulai menormalkan kadar hormon-hormon itu. Sama, saat kehilangan orang yang meninggal, otak belajar bahwa hidup tetap berjalan tanpa kehadiran dia”

“Kita bisa melupakan karena Tuhan kasih manusia kemampuan untuk bertahan. Kalau enggak, manusia akan terus hidup dalam kesedihan tanpa henti, terus meratap. Jadi, ‘melupakan’ sebenarnya bukan pengkhianatan terhadap cinta atau kenangan, lebih ke bentuk kasih sayang Tuhan pada kita, biar kita bisa hidup lagi, bukan cuma survive, tapi beneran hidup normal”

Pukul 1:49, Mona menatap pria yang sejak tadi mengoceh panjang lebar.

“Butuh berapa lama untuk sampai disana?”

“Huh?”

“Sampai saya hidup normal tanpa kesakitan?”

“Itu gak bisa dipukul general karena sifatnya subjektif”

Mona mengangguk lagi.

“Om Yoon, mau ciuman?”

lanjutkan membaca…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *