BAB 5. BULAN MADU

Hobi memaksa Yoon dan Jin untuk ikut serta dalam acara bulan madu meski sang kakak ribuan kali menolak dan mengatakan jika ia dan istrinya bukan lagi pengantin baru—lantas agar adiknya pergi sendiri sebagaimana mestinya berbulan madu yang memang berdua.

“Lu tau, kita udah berzina sebelum menikah, dan berbagai tiket liburan bukan hal besar. Mustahil juga gua mau berbagi kamar hotel, gua juga ngajak sepuh dan Cia. Ayo bulan madu berenam” Hobi ngotot. Lepas acara selesai, mobil mewah yang diselubungi bunga anggrek cantik pada bagian depan mobil  itu tak langsung merangsek ke tujuan awal bulan madu. Melainkan rumahnya. Hobi dan istrinya terus memaksa dua kakak tertua untuk  ikut.

“Gua aja ikut, please…” Jung yang berdiri di pojokan sejak tadi menawarkan diri meski segera di cubit oleh Tae. Tak akan ada yang mengajak anak-anak. Kembaran Jimin juga menjanjikan liburan untuk mereka berlima, berikut Olivia.

Cia semangat ingin, ia menggandeng Mona dan memprovokasi istri Yoon untuk ikut. Mona iya-iya saja namun tetap tak enak perasaan. Ia akan menurut sesuai keputusan suaminya.

“Gas aja lah, nggak berbagi hotel ini. Liburan” Jin akhirnya menyerah setelah ajakan panjang yang tak mempan dengan berbagai alasan penolakan.

Maka, pergilah enam orang meninggalkan lima yang lain. Jin mengatakan untuk pulang terlebih dulu, ia sudah menyewa supir karena liburan akan berlangsung satu minggu. Sisa adiknya jelas sibuk.

“Kalau kalian pulang, gua beneran sendirian di rumah ini” Jung hampir menangis ketika sisa kakaknya saling pandang untuk segera pulang atau paling tidak menunggu sampai besok.

“Gua udah kudu masuk kerja, masa mau satu bulan gua mangkir, anak-anak bangsat gua di kampus kasian yang mau cepet lulus, muak banget di chat mulu” Joon ikut mengeluh.

“Mana iya, gua kudu liat warung” Tae menyambung

“Gua besok ada 3 tempat buat ambil foto dan syuting video. Sibuk. Lagian, besok lu mulai kerja di bar, kan? Kalau kita nungguin lu, ngapain anjir, cari duit lah” Jimin mengecek arloji. Pukul 5 sore dan langit sejuk sejak setengah jam lalu mengiringi kepergian tiga kakaknya.

Olivia memeluknya. Mendongakkan kepala untuk mendapat ciuman bibir sekilas dari pria kesayangannya.

“Haruskah gua tinggal?” gadis itu meledek

“Jum, Olivia disini malam ini, ya? Besok subuh gua anter pulang, jam 6 pagi udah ada di rumah pokoknya”

“Gua gak bisa tidur malam ini, payah. Lain kali gua izinin”

“Si anjing ini, pacarnya siapa coba? Kenapa lu yang ngatur perizinan? Bangsat”

“Ya gua bosnya, gua gaji, gua kuliahin, gua kasih uang jajan, gua hidupin, mau apa lu?” Jimin terkekeh, Jung berdecak.

“Jumah, lu aja di sini, besok gua anter pagi-pagi”

Tae melihat isi chat para karyawan, sejauh ini, tak ada yang aneh dan mendapat laporan bagus atas omset di dua tempat sekaligus. Maka, ia menatap si bungsu “yaudah, gua di sini, tapi janji besok pulangin gua subuh” Jung berjingkat senang. Maka, terpecah pula lima orang itu.

 Waktu  menunjukkan setengah sebelas malam ketika mobil terakhir berhenti di bibir dermaga. Udara Ambon terasa berbeda—lebih lembab, lebih hangat, dan aroma lautnya lebih tajam dibanding Jakarta. Lampu-lampu pelabuhan memantul pada permukaan air yang tenang, menciptakan kilau keemasan yang bergoyang pelan seperti untaian cahaya yang jatuh ke laut.

Kapal pesiar menunggu mereka. Baik Mona maupun Cia, mereka tidak pernah benar-benar bertanya tujuan bulan madu selain Trisha yang terus mengatakan tentang laut. Cia hanya berpikir di pesisir pantai biasa dan mereka akan menyewa hotel terdekat. Dan ternyata, 

Kapal pesiar.

Betapa senangnya istri Yoon dan istri Jin, keduanya kegirangan karena memang ini adalah impian—tidak barangkali impian semua orang–berbulan madu di atas kapal. Siapa yang tak ingin? Masa gadis dengan khayalan nyalang sampai ke kapal pesiar. Mona memimpikan ini sejak dulu, meski tidak sempurna seperti mimpinya bersama orang lain, namun tetap saja membuatnya bahagia. Cia pula yang selalu meminta liburan dengan kapal pesiar sementara Jin hanya iya-iya saja tak pernah benar-benar merealisasi, kini semuanya terbentang di depan mata.

Berdiri megah seperti hotel mewah yang mengapung. Lampu-lampunya menyala lembut; warna emas yang hangat di balkon-balkon, biru lembut di area kolam atas, dan lampu putih kecil yang berjejer di pagar dek, memantulkan cahaya di pipi tiga pasangan yang baru turun dari perjalanan panjang.

Begitu mereka naik ke tangga kapal, angin malam menyambut dengan hembusan lembut khas—bau garam, sedikit wangi rempah dari kota Ambon, dan udara laut yang segar. Mesin kapal bergetar halus, tanda bahwa perjalanan baru akan dimulai.

Di dek utama, para staf menyambut mereka dengan minuman dingin dan senyuman ramah. Suasana malam terasa damai, seperti seluruh dunia menyusut hanya menjadi geladak kayu jati yang menghangat di bawah cahaya lampu temaram. Laut di sekitar pelabuhan bergerak lambat, memantulkan siluet bukit-bukit Ambon yang gelap di kejauhan.

Musik jazz lembut mengalun dari piano elektrik di lounge dekat pintu masuk, nadanya ringan dan hangat, seperti undangan untuk bersantai setelah hari panjang. Lampu-lampu gantung kecil bergoyang perlahan mengikuti angin, membuat bayangan-bayangan manis bergerak di dinding kaca restoran kapal.

Tiga pasangan itu kompak menatap laut yang hitam berkilau dengan senyum lelah namun bahagia. Perjalanan panjang dari Jakarta jelas terbayar lunas di satu detik pertama mereka menjejakkan kaki di kapal.

Dan ketika jam menunjukkan pukul sebelas tepat, kapal akhirnya melepaskan tali penahan.

Perlahan, tubuh besar itu bergerak maju, meninggalkan pelabuhan Ambon yang lampunya semakin menjauh, menyusut menjadi titik-titik kecil dalam gelapnya malam.

Di atas dek, tiga pasangan itu berdiri berdampingan, sebagian saling menggenggam tangan, sebagian menyandarkan kepala pada bahu pasangannya. Ombak lembut memecah jalur di depan kapal, memantulkan cahaya bulan yang mengintip di antara awan.

Malam pertama Hobi dan istrinya di laut Maluku dimulai—tenang, romantis dan klasik.

“Nyangka nggak lu?” Cia menatap Mona, tepat di samping suaminya. Mona ikut semangat membuka mulut lebar meski langsung di tutup oleh sang suami

“Nanti masuk angin celangap mulu” Yoon terkekeh.

Cia masih saja berjingkat-jingkat kesenangan di depan suaminya.

“Kebiasaan, aura dusun nya sampe berubah jadi energi negatif buat penghuni laut” Jin memeluk istrinya.

Lantas mereka digiring menuju meja makan romantis.

Bagai gambaran dalam fiksi yang megah dan indah, estetik di kemas dalam romansa klasik. Tidak begitu mengagetkan bagi Trisha namun cukup membuat dua iparnya kesenangan. Mona tak berhenti mengambil gambar. Seperti wanita itu akan mengabadikan tiap detik berharganya dalam foto, video dan segala macam. Suaminya yang pendiam itu dipaksa bergaya, begini dan begitu. Tak boleh kaku. 

Trisha melendot pada dada suaminya, tersenyum melihat Mona dan Cia. Ia sudah memikirkan ini dalam rencana jika mengajak teman, suasana akan lebih hidup dan seru. Bulan madu hanya alasan, jika saja Jin dan Yoon mengizinkan, ia ingin sekali memboyong seluruh keluarga iparnya untuk turut serta. Apalagi Jung dan Olivia. Namun tampaknya dua kakak tertua masih menganggap ini adalah bulan madu sakral. Maka, Trisha berjanji akan mengadakan liburan ke luar negeri membawa semua keluarga suaminya.

Ia ingin akrab dengan semua orang. Trisha tak lagi memiliki adik atau kakak. Baginya, kini keluarga sang suami adalah keluarganya setelah satu-satunya ayah yang masih tersisa.

Dari belakang dek, aroma lobster bakar menembus udara sebelum stafnya terlihat. Ketika piring-piring besar itu tiba, daging lobster yang putih lembut tersaji di atas cangkangnya yang merah mengkilap, disiram mentega jeruk yang hangat dan harum. Cairannya menetes perlahan ke sisi piring, memantulkan cahaya lilin seperti emas cair.

Di sampingnya, potongan kerapu panggang membawa wangi daun pisang yang baru dibuka, bumbunya meresap hingga ke serat terdalam ikan. Sambal dabu-dabu segar di sebelahnya menyala merah dalam cahaya temaram.

Untuk yang memilih daging, steak wagyu datang dengan warna merah muda sempurna di tengahnya. Saus anggur merah dengan sedikit sentuhan pala disiram pelan tepat sebelum piringnya diturunkan ke meja, seperti ritual kecil yang sudah dihitung dengan presisi.

Ketika piring-piring utama diangkat, staf datang kembali dengan hidangan penutup yang tampak seperti mimpi; puding kelapa muda yang bergetar lembut ketika lilin di depan mereka bergoyang, disiram saus vanila hangat yang mengalir seperti sutra cair.

Di sampingnya, kue kayu manis kecil disajikan, manis dan harum, dengan permukaan caramel yang berkilau seperti kaca.

Udara malam terasa semakin lembut.

Laut di luar gelap namun berkilau, dan di atas, langit penuh bintang terlihat begitu dekat seolah cukup dijangkau dengan tangan.

Dan di tengah keheningan itu—di meja yang hanya diisi enam pasangan, di kapal pesiar besar yang disewa hanya untuk mereka—makan malam menjadi memori yang tak akan dilupakan. Itu menjadi momen hening yang berharga, sebuah perayaan kecil tentang cinta, kebersamaan, dan indahnya malam yang barangkali tidak akan pernah terulang dengan cara yang sama.

Hobi menyupai istrinya sambil terus berceloteh menceritakan si bungsu di rumah. Mengatakan rencananya membelikan tanah dan akan di bangun sebuah usaha sementara Jin tidak setuju karena ingin adik-adiknya tetap ada di Bandung terutama Jung ketika lulus kuliah. Mereka lantas berakhir akan menanyakan pada si bungsu setelah sampai pada waktunya nanti.

────୨ৎ────

Erangan lembut memantul di kamar mewah itu. Bersamaan dengan gerak kasar bertempo liar. 

Berulang-ulang, suara dua paha seperti menggedor gendang telinga, memaksa keduanya untuk tetap sadar bahwa disinilah rasa nikmat itu menjalar, dari stimulasi konstan. Yang berbeda hanya tempo.

Lampu tidur di atas nakas menjadi satu-satunya penerangan yang hanya berhasil merayap tak sampai meluas–menjadikan ruang itu temaram namun lebih romantis. Membilas surai pria diatas yang terlihat bak kelam di cakrawala malam.

“Fuck… hahh.. Eyes on me, Sweetheart” irish gelapnya lurus menatap sang istri, di bawah naungan alis tebal yang menukik ke bawah. Wajahnya merah padam, napasnya berat.

Trisha menurut. Mata yang mulai tak fokus kembali diarahkan pada wajah sang suami, merekam baik-baik.

Kerutan di dahinya ketika Hobi menggeram, lentik bulu matanya, hidungnya yang mancung. Saat pinggulnya kembali menghentak dalam-dalam diiringi desah yang mengudara, Hobi turut menemani, nama Trisha terucap penuh cinta bercampur damba yang terbaca jelas.

“S-sayang.. Hah.. jangan berhenti… lagi. Lagi please” Hobi menjamah pipinya, memberi kecupan demi kecupan sembari membisikan godaan.

Pria itu merapatkan bibirnya sambil menegakkan punggung. Kedua tangan nya di letakkan pada pinggang sang istri, mencengkram kuat-kuat agar ketika hujamannya semakin mengganas, Trisha tetap di posisi itu. Terlentang dalam pose menggoda, tanpa sehelai benang pun, dengan tanda cinta memenuhi dada. Meraung, mencakar-cakar sprei. Nama si pria keluar dalam bentuk desahan dari celah bibirnya yang awalnya dipoles gincu merah meski kini telah pudar.

“Oh shit! Kenapa kamu cantik sekali, huh?” pria itu mengangkat sudut bibirnya, genggamannya semakin erat. Jempolnya di tekan pada kelentit, yang memerah, di gosok titik itu lembut naik turun, terkadang melingkar.

“Hnggghh… ah—s-sayang! Aku mau keluar lagi”

Beberapa menit lalu, Trisha sudah menyemburkan air dari lubangnya. Entah sudah ke berapa, yang pasti, suaminya tak ingin berhenti. Dinding di dalam sana berkontraksi, memijat lembut batang milik si pria di dalam. Lagi dan lagi.

“Cantik. Cantik banget” Hobi tersenyum, Trisha tampak menawan dari bawah, berantakan, terengah.

Tusukan demi tusukan menghujam liang senggama, sebelum akhirnya, pria itu mencabut batang miliknya, kelima jarinya yang panjang memompa batangnya sendiri di atas perut sang istri. 

Cairan putih mulai meleleh dari lubang kencingnya, Hobi menatapnya dalam-dalam menerka ekspresi lucu yang bersembunyi dari rona wajah istrinya.

“Terima kasih” pria itu turun dan mencium kening istrinya sebelum merebah dengan dada kembang kempis.

“Terima kasih apa? Kamu selalu aja mengatakan hal-hal nggak perlu. Aku suka banget”

“Suka apa?”

“Semuanya” wanita itu terkekeh memeluk suaminya. Cairan sperma jatuh mengotori sprei dan menempel pada kulit keduanya.

“Kak Jin kok  nggak mau pindah ke Jakarta aja ya? Deket gitu, nanti aku beliin rumah”

“Shhhh sembarangan” Hobi terkekeh, “dia mana mau begitu, harga dirinya tinggi dan dia nggak akan meninggalkan rumahnya. Bahkan kalau bisa, semua ade nya tinggal di rumah dia” Hobi tertawa “rencananya mau di renovasi pelebaran, udah prepare bakal banyak anak-anak dan ponakan lucu. Semua udah dikonsep. Dia itu memikirkan 20 tahun ke depan”

Trisha ikut tertawa “pasti seru banget tinggal bareng 12 ipar lainnya” tak bisa dibayangkan secara eksplisit, namun Trisha punya gambaran tentang mudik dan mereka berkumpul semua. Rasanya pasti menyenangkan “kaya orang-orang a, mudik. Aku mau banget mudik”

“Kita akan, lebaran tahun ini kita mudik, kita punya tempat mudik”

 Udara lewat tangah malam di tengah laut jelas lebih dingin. Pria itu memilih memeluk sang istri dan meminta wanita itu istirahat dalam dekap.

Atau di kamar lain di ruang berbeda.

Mona terlentang terbebat selimut tanpa busana setelah pergolakan nikmat mereka, sementara suaminya sudah tidur karena kelelahan dan kurang istirahat sementara ia menatap langit-langit kamar yang tak stabil.

Pikirannya jauh, bukan di perairan maluku—terapung di atas kapal pesiar. Melainkan di Jakarta, rumah Hobi halaman belakang dan aula tamu di altar pernikahan.

Jimin di sana.

Menggenggam lembut tangannya sembari mengatakan hal dusta yang benar-benar memuakkan 

Gua udah nggak tertarik sama lu

Lantas mengatakan hal-hal yang membuatnya terlihat seperti wanita sinting meski memang iya.

Kenapa susah sekali melupakan kata-kata itu, sih?

Seperti terus berputar-putar membuat sakit kepala.

Lantas di altar—tepatnya di kursi tamu. Mona melihat jelas Jimin menangis saat melihatnya mengenakan baju pengantin. Mengapa harus berdusta dan mengatakan kalimat-kalimat konyol hanya agar terlihat keren? Semua orang tau mustahil saling melupakan dalam kurun ini. Yoon sendiri, suaminya mengatakan tidak apa-apa dan meminta pelan-pelan saja. Sungguh ia merasa bersalah sekaligus jengkel pada hati yang tak kunjung reda.

Kenapa sih?

Mona membalik tubuh, memunggungi suaminya sambil membuka layar ponsel. 

Tidak ada apa-apa selain jejak Jimin yang di hapus paksa. Namun ponsel itu masih menyimpan pesan lama. Pesan sejak dua tahun yang lalu dan mereka masih hangat. 

Ia membenci saat perasaannya seperti ini. Mona menangis menatap wajah lelap suaminya. Pria yang nekat menikahinya dan diterima dalam kondisi paling tak masuk akal sedunia. Betapa pria ini begitu sabar dan telaten. Bersamanya semua hal terasa lebih ringan dan aman. Tidak ada ketakutan dan kekhawatiran. Seharusnya hatinya berhenti total dan hilang. Hanya berlabuh pada satu-satunya pemilik. Mona membalik, lantas mencium wajah suaminya berulang-ulang hingga pria itu kembali membuka mata.

“Belum tidur?” Yoon bersuara serak, lantas memiringkan tubuhnya untuk memeluk sang istri “apa nggak bisa tidur? Saya nggak tanya apa kamu mabuk laut” Yoon membuka mata lebih lebar “apa mabuk, huh? Sayang?”

Mona tersenyum “nggak mabuk, tapi mau lagi”

“Mau apa?”

“Apa aja” ia terkekeh “oh–enggak, pasti capek banget hari ini, sorry-sorry, ayo istirahat” memeluk balik lebih erat, Mona mengendus aroma menenangkan dari dada sang suami.

“Kamu mau apa sih? Bilang nggak? Nanti saya nggak bisa tidur”

Si istri memegang penis suaminya yang baru 1 jam lalu tertidur “mau ini lagi, pwiiss…” matanya mengerjap-ngerjap sangat gemas.

“Eh? Tumben ini, sejak menikah.. Oh? Ada apa gerangan” Yoon terpingkal-pingkal. Mona tidak pernah, tidak akan—mungkin. Namun sangat aneh dan jarang. 

“Tidur-tidur capek capek” ia memunggungi si suami setelah membuat kekacauan, pria itu tidak akan tinggal diam. Mona menjerit tatkala pinggulnya di tarik paksa, punggungnya di jilat lembut dan dadanya kembali di raba-raba.

“Pelecehan!! No!” ia tertawa.

Atau dua pasangan yang lebih tenang.

Jin tidak menggauli istrinya malam ini. Tidak tahu jika besok malam atau siang atau pagi. Tapi malam ini, kepalanya pusing karena kelelahan. Cia memijat hingga pria itu terlelap dengan keringat memenuhi dahi. Padahal cuaca dingin.

Malam berlalu sangat indah.. 

Jauh berbeda dengan Jung yang tak lekas tidur dengan kakaknya. Dua pemuda yang saling berjanji akan sampai Bandung sebelum pukul enam–nyatanya hingga jam dua pagi masih sibuk bermain game. Kamar Jung difasilitasi perangkat komputer paling baru dan canggih. Kualitas terbaik dengan resolusi tak main-main. Keduanya hanyut dan sesekali mengumpat kasar saat jagoan mereka kalah.

“Gila ya! Gua juga mau di kasih begini, gak usah kerja, dapet uang jajan dan kerjaannya cuma main game sama pacaran” Tae mengedikkan bahu. Mulutnya sibuk menyedot jus semangka yang sudah dibuat tiga kali oleh pelayan. Keduanya juga bergantian masuk kamar mandi berkali-kali.

“Gua kerja goblok, besok gua kerja… Arrrraggghh ayo selesaikan sekali lagi dan kita tidur” Jung sudah mengatakan itu hampir 15 kali dan selalu dusta, ia kembali mengulang permainan. Lagi dan lagi.

Atau Joon yang sudah tertidur di kamarnya.

Begitu sampai, ia tak sempat mandi atau sekedar mencuci wajah atau sikat gigi. Pria itu langsung membenamkan kepala belakangnya pada bantal dan hilang kesadaran dalam kurun 10 menit, setelah pikiran panjang yang nyaris membuatnya menangis.

Mengingat kilas balik pada acara pernikahan kembarannya.

Kenapa begitu timpang? Ia benci kesenjangan ini, ia benci bagaimana ia dan Hobi tersekat kekayaan meski sejak dulu memang ada dinding kokoh transparan. Namun kini, rasanya makin tinggi dan mengerikan. 

Namun hanya sekilas. Tubuh lelahnya menyapu semua hal dan membawanya dalam kubangan lelap tanpa mimpi. Lelah dan mengantuk. Pria itu bahkan tak ingat jika hidupnya akan dimulai besok dengan masuk ke kampus dan kembali berkutat pada persoalan mahasiswa.

Dan Jimin yang juga merebah.

Olivia sudah terlelap di sampingnya. Gadis itu sudah mandi dan menggunakan pakaian tidur serba panjang. Tidurnya meringkuk bagai pistol, sebentar-sebentar ubah dan terus bergerak.

Pria itu melamun setelah meminum obat tidur yang masih tak kunjung berhasil menanggalkan kesadaran.

Sebenarnya.. Apa yang dicari dalam hidup ini sehingga rasanya begitu sulit dan menyedihkan? Kenapa meromantisasi masa lalu hingga menyakiti diri sendiri?

Jimin bergerak gelisah, lantas membenarkan tidur asistennya, membuat gadis itu terlelap normal di atas bantal dengan satu tangan menumpang pada perut dan tangan yang lain lurus tegap. Ia memeluknya dari samping.

Membayangkan..

Betapa menyedihkannya kehidupan gadis ini…

Betapa ia beruntung memiliki Jin dan 5 orang lainnya..

Betapa ia tidak sendirian..

Olivia dijadikan bahan bersyukur yang membuatnya merasa lebih baik.

Bagaimana jika ia diposisi gadis ini?

Tanpa orang tua, tanpa saudara, memiliki masalah mental. Lantas mau melakukan apapun untuk menyambung hidup, bahkan dengan menggadai penyakit—memukuli Irish tengah malam dengan batu bersama ancaman di rawat di rumah sakit jiwa forensik. Itu lebih mengerikan. Perawat di sana akan memperlakukan para pasien tak lebih mirip binatang. Siapa pula yang akan berbaik hati pada narapidana penyandang sakit jiwa? Membayangkannya saja membuat merinding.

Olivia melakukannya demi bertahan hidup, demi bisa menyambung hari-hari yang sebetulnya menyedihkan.

Jimin tak bisa membayangkan jika itu dirinya.

Maka. ia peluk gadis itu dari samping, mendusal para ceruk sambil mengusap-usap rambut Olivia.

“Sebenarnya…. Dunia ini bukan kehidupan ideal buat semua orang.. Kenapa kita harus melewati ini? Kenapa kita begini dan begitu?” pria itu tertawa “Olivia, bukannya dunia ini mengerikan untuk orang-orang kayak elu?” 

Si gadis membuka mata.

“Hm.. mengerikan” katanya serak. Matanya merah.

Write a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *