Pintu rapat terketuk berulang. Kabar nyalang dengan segala gosip brutal seperti debu yang di tiupkan, membuat keluarga besar bapak Basuki membatasi banyak kegiatan dengan dalih malu dan aib. Padahal bukan salah sang anak. Gadis itu mana tahu pria yang baru dua kali menamu ke rumah dan terus mengajaknya menikah ternyata sudah beristri. Canda bahkan tidak menanggapi. Tentu saja, bagaimana mungkin menanggapi ketika diri memiliki kekasih. Ini gila. Bahkan jika pun tak ada Fahmi di sampingnya, gadis itu masih harus berpikir ribuan kali untuk menanggapi manusia antah berantah yang tiba-tiba datang melamar.
Pria bernama David bahkan sempat menunjukkan kartu identitas diri dan jelas berstatus sebagai bujangan meski tak di minta. Mengiming-imingi keseriusan meski benar-benar tak di tanggapi oleh kembang desa di sana. Canda menolaknya secara terang-terangan, namun pria itu gigih menjengkelkan hingga menciptakan aib yang memalukan, padahal tidak ada yang di lakukan gadis itu. Sementara tuduhan mengerikan terus berseliweran.
Namun kesialan memang tak memiliki tanggal. Gadis itu mangkir dari mengajar. Mengurung diri dalam kamar sudah tiga hari lamanya meski tak tahu letak kesalahan. Hanya Mega yang sesekali datang untuk melerai kegundahan. Hanya khawatir gadis itu depresi atau sejenisnya, meski mustahil Canda akan seperti
Pak Basuki membuka pintu hati-hati. Pria bersetelan oblong dengan kolor hitam itu agak tertegun melihat siapa yang datang. Bukan, mereka bukannya sedang mengisolasi diri, hanya saja benar-benar mengurangi intensitas sosialisasi mengingat nama putrinya tengah hangat menjadi perbincangan publik perkara merebut suami orang.
“Ah, pak Imron. Silakan masuk”
Tersenyum canggung. Keduanya terduduk ketika si empunya menyambut dengan ramah. Kedua anak dan bapak itu berpakaian rapi, menggunakan batik dengan celana dasar, mirip orang akan menghadiri acara formal.
Meminta istrinya membawakan air dan beberapa makanan ringan, setelahnya ikut nimbrung saat berhasil membawa apa yang di minta tersajikan. Hanya heran karna bertamu malam-malam dengan pakaian itu. Barangkali keduanya lepas kembali dari acara tertentu yang tidak mereka ketahui.
Berdehem sebentar. Pak Imron menarik napas panjang ketika kedua orang tua Canda terlihat kebingungan menunggu maksud kedatangan, sangat tegang. Sialnya pak Basuki sendiri baru-baru ini mengalami trauma setelah di datangi orang yang mengaku di rugikan dan menuduh putrinya telah melakukan hal nista dengan segala ujaran mengerikan. Membuatnya memiliki ketakutan pada kedatangan orang secara tiba-tiba.
Sangat sadar dan waras, semua orang tahu seperti apa perangai kembang desa di desa itu. Hanya masyarakat pengangguran yang di beri bahan lalu menggorengnya dengan semangat. Mirip orang memakan bangkai saudaranya sendiri. Menjengkelkan.
Masih dalam keheningan beberapa saat sebelum pak Imron kembali berdehem.
Seperti menggantung kalimat, pak Imron meneliti ekspresi dari kedua wajah calon besannya sebelum kembali melanjutkan.
“Saya minta kiranya pak Basuki dan Buk Inah untuk merestui Fahmi menjadi suami Canda. Kami datang dengan niat baik untuk melamar”
Memutar. Pak Basuki masih memandang kebingungan. Tampaknya kabar di luar sana tidak memengaruhi kedua manusia yang kini duduk berjejer dengan senyum tulus. Entah mengapa pak Basuki seperti akan menangis. Kedua orang tua Canda bahkan pak Imron sendiri tidak tahu jika putra-putri mereka kembali menjalin hubungan, sejak dulu pun hanya di anggap main-main meski Canda dengan lantang menangis ingin menyusuli pria itu di ibu kota.
“Pak.. Anak saya sedang ramai di perbincangkan, tertuduh merebut suami orang. Padahal si neng nanggapin aja enggak, keluar pun enggak pas si lelaki itu main ke rumah. Saya nggak tahu apa berita itu sampai di telinga bapak atau enggak, yang pasti saya hanya memastikan kalo kedatangan berdua sudah paham dengan situasi yang terjadi saat ini.”
Menyeka air mata sebentar, tangisnya benar-benar pecah. Tanpa di minta dan tentu saja keluar dari konteks pertanyaan. Tampaknya pria tua itu menahan diri terlalu banyak untuk mengklarifikasi jika anaknya tak bersalah meski pak Imron yang datang untuk melamar malah menjadi wadah untuk kegundahan atas tuduhan keji.
“Selama bertahun-tahun nggak pernah melenceng. Sama lelaki kaya orang takut, boro-boro mau rebut suami orang. Nggak nyangka aja, tiba-tiba. Nggak ada angin nggak ada ujan anak saya di tuduh macem-macem. Dia ini kerjaannya rebahan, gayaan sedikit paling dandan-dandan di kamar sambil mengunci diri karna malu. Boro-boro mau ladenin orang asing. Nggak pararuguh aja pokoknya jadi perebut suami orang.”
Mendengar ocehan suaminya, ibu Canda ikut menyeka air mata. Sejak kecil, sadar bahwa dalam mendidik anak perempuannya diri sangat ketat. Anak gadis itu beberapa kali meminta berkuliah di Jakarta, bukan tanpa alasan, dengan sadar tahu bahwa Canda ingin mengejar cinta monyet alih-alih belajar. Tentu saja di larang sangat telak ketika pertama kali di ajukan. Canda juga mengajukan diri untuk mencari pekerjaan luar kota, namun karna ketakutan yang tak berdasar, Bu Inah terus saja membatasi anaknya dengan hasil akhir hanya menjadi guru honorer sementara gaji benar-benar tak layak untuk kehidupan anak muda jaman sekarang. Paham bahwa kebutuhan anaknya tidak akan terpenuhi hanya mengandalkan uang dari mengajar, ibu Canda tentu saja memberinya pekerjaan sampingan di rumah. Demi kebaikan anak, dalihnya. Toh, gadis itu tidak banyak membantah dan hanya iya-iya saja. Tidak tahu isi hatinya seperti apa karna Canda jarang mengeluh di depannya.
Pelan-pelan dua suami istri itu menangis sesenggukan. Memelasi nasib putri mereka satu-satunya dengan isak yang memilukan. Seolah kecelakaan besar telah terjadi menimpa anak gadis mereka. Padahal bocah itu hanya diam saja mirip anak-anak yang kerap bertingkah semaunya. Canda selalu seperti itu, kecuali pada laki-laki, anaknya sangat menjaga jarak. Itu pula yang menjadi kesedihan tersendiri. Fitnah itu rasanya sangat mustahil namun tetap menyakiti hati.
Bukan salah siapa-siapa ingin anaknya untuk tidak terjerumus dalam kelamnya pergaulan bebas. Itu bagus untuk beberapa alasan namun pelan-pelan menciptakan karakter penakut terhadap laki-laki dan terkesan sangat pemilih. Hingga di usia itu, Canda tak kunjung membawa laki-laki yang di minati. Kedekatannya dengan Fahmi dan kawan-kawan selama ini hanya di anggap teman biasa.
Anak gadisnya tidak pernah terbuka perkara cinta. Akan sangat malu dan mengalihkan pembicaraan tiap ayah dan ibunya menyinggung masalah pernikahan.
Kembali pada kenyataan bahwa kini di depan mata, ada dua manusia yang mengajukan diri untuk meminang putri kesayangan mereka. Pasangan suami istri itu saling tatap ketika air matanya menyurut. Merunding dalam isyarat ketika permintaan kelewat tiba-tiba di hari berat yang menerpa.
“Saya terima lamarannya pak.”
Tidak berpikir lama apa lagi meminta persetujuan sang anak. Lagi pula, Fahmi adalah satu-satunya pria yang paling dekat selain Aceng dan Paul dengan latar belakang paling jelas. Pun datang melamar baik-baik membawa orang tua, rasanya tak memiliki alasan untuk menolak. Di tambah usia putrinya yang sudah terbilang cukup matang untuk ukuran di kampung itu.
Pak Imron tersenyum kelewat senang. Lamaran yang berjalan lancar dan tidak bertele-tele. Sudah paham dan seperti rahasia umum percintaan monyet mereka sejak dulu, tidak akan ada yang membantah dan semua keburukan akan mengurai pelan-pelan ketika mengetahui Canda akan menikah dengan Fahmi. Lagi pula entah dari mana asal muasalnya, sangat kurang ajar tiba-tiba sang anak tertuduh menjadi wanita menjijikan.
“Boleh Fahmi ketemu Canda mak? Mau liat, udah tiga hari nggak ketemu”
Meminta izin, sudah tiga hari tak bertemu. Padahal lebih dari itu, sejak merajuk pertama kali. Jika di kalkulasi, rindunya seperti bilangan dalam matematika. Alias tak terhingga.
Dua hari yang lalu pria itu pamit akan pergi ke Cimahi, tanpa tahu jika ada orang gila yang mendekati kekasihnya sementara sisa temannya baru mengabarkan kemarin, tepat ketika ia kembali dari pekerjaan. Canda tak memberi kabar dan malah menutup akses. Tidak mengerti apa yang terjadi ketika hanya di tinggal selama dua hari, laju kabar aneh menyergap sang kekasih. Meski masih berstatus merajuk, namun gadis itu adalah kekasihnya. Siapa bajingan yang mengaku dan membuat gadisnya tiba-tiba menyandang gelar merebut suami orang? Idiot.
Sementara Bu Inah mengangguk pelan. Hati-hati Fahmi melangkah ke kamar, meninggalkan orang tua yang masih akan mengobrol banyak.
“Ssshhhuuttt…. ppsssssttt…. wikwiw… prikitiw….”
Mengetuk sekali lalu mengeluarkan suara aneh, Fahmi nyengir menatap wajah calon istrinya yang terlihat serius menggulirkan sentuhan pada ponsel. Duduk di bawah ranjang bersama adiknya, dua manusia itu bermain video game dengan khidmat. Canda bahkan tidak terlihat berantakan apalagi galau seperti dugaannya selama ini.
Gadis itu memang selalu seperti itu.
Kapan akan mengekspresikan apa yang di rasa? Canda mirip patung cantik tanpa ekspresi. Membuat khawatir saja. Fahmi paham, kepiawaian menyembunyikan perasaan seperti bodoh dan sok keren. Padahal jika di rengkuh sedikit saja, gadis itu akan menangis, sangat yakin.
Mereka saling tatap. Belum apa-apa wajah gadisnya sudah memerah dengan mendung gelap pada mata. Sudah jelas Canda akan menangis.
“…Sayang.. lu pegang hp ternyata, padahal gua ngechat, nelponin dan hampir sinting nahan kangen, edan memang”
“…….”
“Gua abis lamar pacar gua”
Masih berdiri di depan pintu dengan ocehan aneh yang tiba-tiba. Gadis itu menyeka air mata kasar lalu bangkit berencana menutup pintu.
“Keluar sana, gua malu”
Masih sibuk menghalau air mata sialan, padahal sangat memalukan. Entahlah, tiba-tiba kabar mengerikan tentang perkara yang tak pernah terduga tiba-tiba membuatnya malu pada sang kekasih. Rasanya mirip orang melakukan dosa besar meski dengan waras tak tahu apa yang terjadi. Gadis itu hanya malu dan takut.
“Lu malu kenapa neng? Lu nggak kangen sama gua kah? Edan lu ya”
Bersitegang dengan saling dorong pintu sebelum Fahmi tentu saja menang telak. Pria itu dengan paksa mengangkat tubuh kekasihnya dari depan lalu merebahkan hati-hati ke ranjang. Gerakkan sangat cepat dan tiba-tiba sebelum Canda sempat memberikan perlawanan.
Sang adik yang melihat adegan tidak pantas kontan berdehem lalu berlalu sambil memanggil ibunya berencana mengadu.
“Lepasih gua”
Pria itu memerangkap dari atas. Mengapit dua tangan hingga membuatnya tidak dapat bergerak. Sangat rindu. Rasanya hingga ingin menangis meski masih tak mengerti mengapa Canda terus saja menolaknya.
Malam itu, semua orang berkumpul di ruang tamu setelah Jin mengatakan ingin mengumumkan sesuatu. Entah apa, ketika biasanya apa pun bisa dituangkan dalam grup chat. Namun si tertua begitu serius hingga menunggu semua adiknya dalam formasi sempurna.
Antara pukul sebelas yang tak akurat. Di luar gerimis baru saja datang sekitar delapan belas menit yang lalu, bersamaan dengan kepulangan kembaran Joon yang berlari setelah turun dari sepeda motor — ojek. Kini semua orang berada di antara ruang sempit yang tak kurang dari tujuh meter persegi. Wajah-wajah mengantuk, ada yang cekikikan, ada yang sibuk dengan ponsel, ada yang menggelantung dan merayap di dinding sambil menangis meski hanya satu orang yang dapat mendengar.
Lampu yang selalu saja temaram. Semua orang tidak akan bertanya alasan si sulung tak kunjung membeli penerangan layak di ruang utama rumah kecil itu. Begitu banyak alasan meski semuanya hanya berpusat pada ibu mereka yang sudah lama pergi.
“Jadi gini..” Jin membuka pertemuan mereka yang sama sekali tak terlihat serius “Minggu depan, kita udah beneran pindah ke Bandung. Rumah udah jadi di sana, kamar kalian masing-masing, rumahnya gede, tiap kamar ada kamar mandi. Ada AC, ada furnitur keren, dapurnya cakep, sofanya mewah, lantainya marmer dan plafon nya tinggi. Nggak panas kalau musim panas, nggak dingin kalau musim hujan. Ada garasi juga, lebar banget. Halaman belakang, pendopo nya cantik. Nanti Yoon sama Hobi gua beliin mobil juga. Jin mengamati tiap wajah “Jadi bisa siap-siap dari sekarang. Yang punya temen bisa perpisahan sama temen, yang punya pacar bisa salam perpisahan sama pacar, yang punya piaraan setan bisa dilepas. Apa pun lah, gua bilang dari berulang-ulang biar nggak dadakan dan kaget”
Tidak ada yang menyahut sesaat. Suara cekikikan berganti menjadi wajah serius dan bibir melengkung pelan-pelan turun. Apalagi Jimin, pria itu berubah secara konstan tiap Jin atau siapa pun membahas hal ini. Tapi tampaknya tidak akan ada yang berubah dan berkurang, hal ini sudah di gembor-gemborkan sejak setahun yang lalu.
“Nanti, kalau emak pulang gimana? Dia sendirian?” Jung yang menyahut pertama kali, menyusul air muka kakaknya, bungsu terlihat menyedihkan. Sebenarnya tidak terlalu sedih juga, namun pertanyaan itu terlintas meski tahu jika kakaknya pasti mengantisipasi untuk hal-hal sejenis.
“Emak nanti di urus sama panti khusus buat pengidap skizofrenia, ada tempatnya sendiri karena butuh perhatian ekstra. Orang sakit mental kayak gitu kudu terus berdampingan sama dokter”
Tidak ada yang menjawab lagi sesaat. Jin masih saja mengedarkan matanya dengan seksama — meneliti wajah adiknya satu persatu. Namun dari semua orang, Jimin yang menangis. Tidak heran, bocah itu satu-satunya yang memiliki kekasih dan sangat dekat hingga Mona sungguhan seperti keluarga juga.
Tidak ada lagi yang menenangkan, mengusap punggung atau mengatakan omong kosong tentang jodoh tak ke mana. Sudah muak dan bosan.
Hubungan mereka baik-baik saja. Jimin makin cinta setiap harinya. Tidak ada waktu yang dilewatkan kecuali malam hari dan mereka selalu bersama. Tampaknya, Jimin akan benar-benar frustrasi.
“Gua kuliah di sini aja nggak sih? Gua nggak ikut” mengusap wajah dengan lengan baju, pria itu sesenggukan.
“Nanti di Bandung akan lebih banyak cewek yang lebih cakep, lebih keren dan lebih bening dari Mona, tenang aja” kali ini Joon yang bersuara.
“Tanpa lu ocehin, gua tau. Yang lebih cantik banyak, lebih segala-galanya banyak banget, tapi Mona cuma satu, ya Allah, sesak dada gua”
Dan sembari menangis, sisa kakaknya tidak ada yang begitu perhatian karena sejak sebulan yang lalu, Jimin sering begitu. Barangkali seharusnya mereka melakukan perayaan perpisahan dengan sesuatu yang makin mendramatisi keadaan dan menangis berdua.
Pertemuan serius yang lagi-lagi tidak serius karena semua orang tidak begitu kaget. Perkara itu tidak baru dan harusnya bisa dikatakan lewat grup obrolan. Kini semua orang membubarkan diri ke bilik mereka kecuali Jimin yang tergugu sembari menutupi wajah dengan bantal sofa.
Tidak sendirian, pria itu di temani Siri yang juga menangis meski tak dapat di dengar. Setan yang setahun lebih bersama, tubuhnya sudah hampir bisa memadat sempurna — lumayan lama karena interval waktu ia melayang-layang di bumi — di tempat yang bukan seharusnya. Kata Jung dan pria itu kata kakaknya, Siri bisa saja menjadi roh jahat yang mencelakai semua orang. Namun nyatanya tidak, hantu itu hanya melayang-layang dan terus berbuat cabul dengan mengintip semua orang mandi dan berinteraksi dengan si bungsu sebagai teman. Tidak lebih.
Sama seperti Jimin, tangisnya besar. Bedanya, Siri akan kehilangan semua orang di sini. Entah ia akan terus melayang-layang di rumah ini sendirian dalam kesepian hingga — ia sendiri tidak tahu sampai kapan.
Beberapa saat dalam keputusasaan. Matanya merah sembab. Jimin bahkan tak mampu bicara pada kekasihnya. Hingga detik ini, Mona tidak tahu ia akan pergi. Jika membahas tentang kampus, Jimin hanya mengatakan tidak tahu lalu bergumam tak jelas, sementara gadisnya ingin berkuliah di kampus yang sama.
“Omongin Jum, jangan di tinggal gitu aja, kasian si teteh, apa gua yang bilang?” Jung kembali. Pria itu pusing saat mendengar Siri terus menangis siang malam. Keluar masuk kamarnya sambil berlinang air mata meski tak nyata. Jimin juga menangis, namun kakaknya tak bersuara. Sebenarnya, sejak awal kedatangan, Siri selalu menangis, namun tidak seintens saat ini.
“Kek mana gua bilangnya? Coba kasih tau gua cara jelasin ke Mona, dia pasti cuma akan bilang ‘oh, yaudah’ terus pura-pura kuat dan berlagak kayak nggak terjadi apa-apa. Aslinya hancur banget, hafal gua, justru di sana bagian sesaknya”
“Ya tapi emang ada pilihan selain itu? Akan lebih parah kalau lu pergi tanpa pamit, hilang gitu aja” Jung lalu memeluk kakaknya “tapi terserah sih, lu pasti udah membandingkan semua cara dan nentuin jalan yang paling tengah. Nggak terlalu nyakitin, nggak menyedihkan. Percaya sama kata-kata ini sekali lagi walau lu muak. Jodoh nggak akan ke mana”
kata-kata itu begitu mulus di ucapkan oleh pria berusia kurang dari 14 tahun. Jimin tidak menjawab selain mendorong adiknya, ia sedang ingin sendirian.
Lalu si bungsu menatap Siri yang juga menangis. Hantu itu matanya copot, darah keluar merembes. “Udah mati lama, masa masih darahan aja, heran. Makin nggak masuk akal aja ni setan” Jung mengeluarkan gas dengan bokong yang diarahkan langsung pada hantu yang sedang tergugu. Suara kentut yang keras dan beraroma busuk tak membuat Siri berhenti menangis, justru Jimin yang menyepaknya kuat lalu pergi ke kamar.
“Jung.. peluk gua please.. Gua mau di peluk..” Siri makin membesarkan suara, tangisnya mirip kuntilanak di film-film — melengking dan kadang-kadang tertawa. Sama sekali tidak elegan, namun si bungsu kebal dan terbiasa.
“Males amat, selama ini kerjaan lu cuma liatin titit abang gua” pria itu mengusap dagu sebentar “tapi gua menganggap lu teman kok, gua mungkin akan kesepian di Bandung pas di rumah sendirian kalau nggak ada lu” Jung menghela nafas dalam “kita beda, gua harap lu segera pergi ke akhirat, di apain kek sama malaikat, bangor banget lu mah. Gua yakin lu bakal di siksa di kubur, di pecut lu”
“Bacot”
“Lu bacot, jangan nangis, berisik gua mau tidur, gua masih di sini sampe minggu depan anjir, nangisnya besok-besok lagi”
Siri termenung sesaat. Sudah mati, tapi hatinya masih saja sakit dan sedih.
“Jung”
“Hm”
“Main ke kebon, ya? Ke tempat pertama kali kita ketemu, gua mau nostalgia dan sesekali lu kudu mau main ke rumah gua” Siri menghela nafas meski tidak bernafas. Tidak yakin menyebut kebun itu sebagai rumahnya, namun di sana terasa hangat meski sepi. Benar-benar gambaran pulang walau tidak berbentuk hunian. Meski ia mengategorikan kumpulan pepohonan tanpa penerangan itu rumah, nyatanya, rumah Jung dan isinya adalah paling nyaman.
“Terakhir kali, ini terakhir sebelum lu semua ninggalin gua. Lu nggak pernah lagi jamah kebon itu sejak kita pertama ketemu dan malah terkesan menghindar, kenapa coba?”
“Sebenarnya, sejak awal gua memang nggak pernah main ke sana. Lagi pula, gua takut tiba-tiba di kebon itu, badan lu memadat sempurna dan lama teruslu membunuh gua. Alasannya simpel, karena lu mau kita sama-sama terus. Rasanya orang gila mana pun berpikiran hal yang sama kek gua”
“Masuk akal” Siri lalu duduk di pangkuan. Hanya asap dingin seperti uap es yang menempel pada paha “tapi sumpah, ayo ajak Jumaw, Jumah juga biar rame. Gua cuma berpikir kalau di sana ada mayat gua. Kalau lu semua pergi, gua juga mau pergi, gua juga mau tenang tanpa terombang-ambing nggak jelas entah dalam waktu berapa lama. Gua sedih, gua takut..”
Rupanya kata-kata itu berhasil menggoyahkan empati dari si bungsu yang memang mudah tersentuh. Pria itu mengetuk-ngetuk meja dengan ujung telunjuk–berpikir dalam, menyusun cara atau entah apa yang jelas, wajahnya serius.
“Oke, jadi gini aja. Gua mau nolongin lu, main ke kebon sambil sekalian nyari-nyari kali aja ada bengke — ”
“Ujaran bangke terlalu kasar, please.. Gua pernah jadi manusia”
“Oke, kita main ke kebon sambil sekalian nyari-nyari kali aja ada mayat lu. Dengan catatan, malam ini jangan nangis deket gua, jangan ganggu gua tidur, jangan nindih, jangan mengeluarkan suara atau gerakan apapun, bikin gua tidur pules dan besok minggu pagi gua dan kembar mata item bersumpah akan datang ke kebon”
Mendengar penuturan Jung, Siri begitu semringah. Hantu itu lalu mengusap air mata, wajahnya berhadapan langsung dalam jarak begitu menyedihkan. Si bungsu sudah terbiasa dalam kondisi ini dan tidak begitu aneh meski belatung dan lubang pada mata — dengan bola yang keluar terlihat mengerikan.
Malam yang dingin dan terasa panjang bagi sebagian orang dan terasa biasa saja untuk yang lain. Jimin masih konsisten menangis, tangannya memegang ponsel menatap gambar diri dengan kekasihnya, ada video, ada banyak hal. Rasanya, ia akan menangis lama dan entah kapan akan sembuh dari luka yang terbentuk oleh keadaan.
semua orang mengatakan tentang jarak Bandung-bali tidak terlalu jauh. Fakta tentang teknologi canggih dan transportasi secepat kilat rupanya tak mengubah kesedihan akan perpisahan yang di sekat lebih dari seribu kilometer yang bisa di tempuh dalam kurun kurang dari 6 jam.
────୨ৎ────
Minggu pagi yang tidak cerah. Matahari menyusup dari lubang angin dan celah gorden meski hanya menyorot sayu. Sang surya barangkali naik, namun di selimuti awan kelabu yang tidak terlalu pekat juga. Tidak mendung, namun tidak terang.
hari ini semua orang berkumpul. Bukan, mungkin tepatnya ada di rumah. Masing-masing sibuk dengan kegiatannya. Kakak pertama membuat sarapan, suara wajan yang entah di apakan terasa lebih mirip alarm di kamp militer. Namun, aroma lezat yang menyebar hingga ke seluruh ruang membuat suara genderang itu termaafkan. Sisanya ada yang membatu menyapu, masih merebah di kasur, mandi, atau berbicara sendiri. Semuanya normal kecuali Jimin yang terus memasang wajah menyedihkan. Tindakan Jung yang berbicara sendiri terasa lebih normal ketimbang Jimin yang melamun pucat karena menolak mandi.
“Mandi, mandi! Gantian pada mandi” si tertua berseru lagi. Sejak antrean pertama satu jam lalu, baru dua orang yang berhasil membersihkan diri. Sisanya terus menerus dalam kubangan tidak jelas. Jin lalu menatap Tae, kembaran Jimin itu duduk di tepi kolam belakang rumah yang sudah terbengkalai — mengobrol entah dengan siapa. Namun, ia sempat mendengar adiknya menjanjikan akan memberikan kehidupan yang layak untuk bayi kataknya, bertanggung jawab serta mengayomi. Pula berjanji akan menjadi ayah yang baik. Si sulung mendecih dan tidak sudi lagi melanjutkan — menyimak ocehan adiknya yang itu.
Menengok pada si bungsu, Jung. Pria termuda, cekikikan di depan cermin sembari mengibas udara, mengatakan tentang bersumpah akan menemukan mayat dan berpisah secara dewasa dengan hantu yang hingga hari ini masih gagal menampakkan visual secara padat di hadapan. Hantu yang sudah setahun ini turut menjadi penghuni rumah.
Melirik lagi pada adiknya yang lain, Jimin. Satu-satunya yang memiliki kekasih — namun akan segera di tinggalkan itu menolak mandi, wajahnya terlihat kacau dan kadang-kadang pura-pura mabuk sembari menelan bodrexin.
Jin memijat dahi “Ini serius nggak ada yang mau mandi duluan? Nasi goreng mateng nih. Pada nyarap aja sini kalau nggak mau mandi” lalu bertolak pinggang. Sejak usaha pecel lele di depan perempatan berjalan lancar bersama tabungan yang bertumpah-ruah, si sulung sudah lama meninggalkan pekerjaannya menjadi manajer di restoran mewah. Berbekal bakat yang di asah, pria itu memberanikan diri membuka usaha makanan — yang dalam interval singkat, sudah memiliki banyak pelanggan.
Tidak ada yang menjawab hingga Joon keluar dari kamar. Pria yang memiliki badan sebesar tokoh hijau dalam film super hero itu membawa bass drum yang di kalungkan pada leher sementara tubuhnya tak berbaju. Hanya bokser kekecilan dengan bagian belakang yang sobek memanjang dari bagian penis ke dubur, bahkan tanpa celana dalam. Belahan bokongnya mengintip malu-malu.
Sambil memukul bass yang berbunyi mirip bedug masjid, matanya menatap lurus pada kakak pertama seolah itu adalah bentuk penolakan terhadap titah mandi.
“Berisik bangsat!” Yoon menggeplak kepalanya dari belakang membuat adiknya mendengus meski tak melawan. Tertua nomor dua duduk di meja makan, mengambil nasi goreng di susul Hobi yang sudah selesai mengganti baju.
Semua orang menjadi pengangguran pada detik-detik terakhir mereka di Bali kecuali si sulung, tentu saja. Joon akan melanjutkan S2 di Bandung sembari mendaftar menjadi dosen honorer dengan pengalaman dan kemampuannya. Hobi yang lulus Arsitek akan mengepakkan sayapnya di kota kembang itu sementara Yoon akan melakukan hal sejenis — mendaftar di perusahaan. Jin dengan rencana awal kembali membuka warung pecel lele sementara Jimin dan Tae baru akan masuk kuliah. Si bungsu baru akan masuk SMA setahun lagi.
“Menolak mandi! Gulingkan Kelabang! Bakar! Bakar!” Jung baru masuk sembari berteriak lantang, tangannya masuk dalam saku melangkah ke dapur mencari piring.
“Buang aja si bungsu ke laut” ujar pria yang di teriaki.
“Kalau di antara kita bertujuh ada yang harus di buang, itu adalah elu, Kelabang! Muka lu nggak memenuhi standar untuk berbaur sama sosial. Liat si Jumah, dia memutuskan jadi ayah dari semua binatang setelah mengaku menatap mata lu lebih dari dua detik”
“Mata kelabang mengandung candu, kayak… ada cubung-cubungnya gitu” Joon masih mengusap kepala bekas di pukul.
“Berisik, pandiin piaraan lu, Siri kalau gangguin gua, gua rukiah”
“Lu mau ngerukiah dari 11 bulan yang lalu” masih menyahuti pria yang memukulnya, Joon ikut duduk “pantat gua adem kena kursi”
“Jangan ada yang duduk di kursi bekas Dosen, bau cepirit”
“Ganti celana si, ya Allah.. udah gak layak pakai itu” Jin menghela nafas lagi. Kakak tertua tidak terlalu pusing pagi ini meski tingkah semua orang selalu saja gagal memanusiakannya, kecuali celana Joon yang menyedihkan, rasanya seperti gagal menjadi manusia.
Tidak ada yang berencana mendengarkan ocehan kakak sulung mereka, tidak juga dengan larangan ini dan itu. Semua orang hanya hidup sehidup-hidupnya selagi tidak menimbulkan keributan seperti mencuri atau menghantam orang. Sudah agak lama mereka tidak begitu. Bukan karena menjadi anak baik, melainkan tidak ketahuan.
“Abis ini ikut gua Jum” yang termuda menatap dua kembar kakaknya dengan mulut penuh.
“Kemana? Gua lagi bad mood, kayaknya gua bakal main ke rumah Mona sampe benar-benar mabur” yang sejak tadi sedih angkat suara. Matanya nyaris menghilang karena bengkak bekas menangis, pria itu benar-benar kembali berkaca-kaca.
“Sebentar aja, gua juga mau perpisahan sama Siri. Bedanya, gua nggak alay kaya lu. Lemah, laki nangis mulu”
“Gua sumpahin lu bakal merasakan hal yang sama di masa depan. Ini sakit banget woy! Rasanya kayak nyawa gua di bawa pergi. Ada yang kosong di sini” Jimin memukul dadanya berulang “kaya lubang menganga yang menyakitkan, ya Allah sesak banget”
“Ajak aja ke Bandung, gua kuliahin di sana. Suruh ikut Jim. Apa perlu gua yang pamit ke emaknya?” Jin menawarkan serius yang di reaksi semringah dari kekasih Mona, Jimin baru akan menanggapi sebelum kakak kedua menyahut
“Ajak aja, ajak ke Bandung biar rumah baru di pakai ajang zina, bawain perempuan ke rumah, zina masal aja, pesta seks di rumah, bagus itu. Emang paling paten” Jin berdehem dan mengusap hidung saat adiknya menembak — membuatnya tidak jadi merealisasi harapan Jimin.
“Kelabang babi” kali ini si bungsu yang jengkel. Namun setelah itu tidak ada lagi percakapan yang di tutup helaan nafas berat dari Jimin. Suara sendok yang beradu dengan piring mendominasi, tanpa suara lain dan mereka tidak bicara.
Hingga sarapan berakhir, menyisakan orang-orang yang mengantre mencuci piring. Jimin masih duduk sembari melamun — menatap lurus pada pantulan dari pendingin dimana tubuh Siri merumbai-rumbai mirip akar beringin yang membentuk satu kesatuan secara abstrak, namun siluetnya jelas. Hantu itu bahkan meledek dengan mencopot bola mata, mengeluarkan lidah sepanjang mungkin hingga terinjak dan muntah belatung. Tapi hanya di reaksi tatapan datar dari mata yang benar-benar akan tenggelam. Saat ini, yang menakutkan bukanlah setan, melainkan kepergiannya yang akan meninggalkan gadis cantik kesayangan.
Jung mengambil piringnya, mencucikan sebelum menyeret kakaknya itu keluar, tentu saja di buntut Tae yang sibuk mencangking karung dan golok. Rencana pergi ke kebun akan di realisasi meski Jimin sedang dalam masa berkabung.
SIRI’S HOME
Merunut pada ingatan yang putus-putus mirip rentetan keping memori secara acak antara mimpi dan kenyataan akan kondisi kebun yang lebih pas di juluki hutan. Jung tidak yakin bagaimana malam itu ia bisa kemari hanya bermodal penerangan dari baterai ponsel — sementara saat ini, di minggu pagi yang tak cerah ini, berjalan pun agak sulit karena becek dan tanah yang licin.
Bukan ladang gandum, jagung, apalagi stroberi. Ini mirip gunung sementara tumbuhan yang mendominasi adalah pohon medang dengan batang yang berlumut tebal, akar gantung dan epifit. Sangat khas milik hutan hujan tropis dataran tinggi.
Jarak dari hutan ini ke rumah sekitar 1 kilometer, berjalan kaki sambil menyibak semak belukar. Meski masih menemukan satu orang pemilik salah satu kawasan yang di tandai dengan patok tanah, namun tetap saja membuat si bungsu merinding mengingatnya. Ini bahkan lebih merinding ketimbang melihat Siri dalam bentuk paling mengerikan.
Bayangkan saja, ingatan tentang Joon yang baru saja pulang dari kampus dan mengirimi gambar hantu yang bermain ayunan. Lokasi yang di berikan kakaknya ada di ladang jagung sementara saat ia mencari, entah dari mana tuntunannya, Jung di arahkan kemari — berjalan dengan enteng tanpa beban, tanpa kesulitan apalagi licin. Rasanya hanya seperti berjalan dari rumah ke depan warung. Alasan tidak sepele mengapa ia dengan mudah masuk ke dalam jejak curam bersama medan yang sulit di jangkau pada siang namun begitu mudah ia tapaki pada malamnya. Atau barangkali Siri memang menghipnotisnya untuk masuk tanpa kesadaran penuh.
Dan bagian menjengkelkan saat ini adalah Siri tidak ada. Padahal, saat pertama kali melangkah hingga beberapa ratus meter, Siri masih mengikuti dalam bayangan halus mirip angin yang membawa siluet tak terlalu jelas. Namun saat ini makhluk itu benar-benar tidak ada.
Jimin berhenti. Pria yang dengan semangat hidup yang semakin terkikis itu memutuskan duduk di atas akar pohon rendah.
“Kita cari apa sih? Bajingan, malas banget” kembali mengucek mata yang mulai pegal, pria itu rindu kekasihnya.
“Gua lagi nyari lokasi terakhir ketemu Siri, lupa-lupa ingat” si bungsu celingukan. Ia bahkan tak menemukan eksistensi makhluk yang sedang di usahakan “lagi gini, makhluknya nggak ada, si goblok. Kalau misal dalam kurun 1 jam lagi kita nggak nemu apa pun, ayo pulang” Jung menatap dua kakaknya meski Tae tidak terlalu menyimak, kembaran Jimin sibuk memangkas belukar mirip orang ngarit.
Jimin tidak protes, tidak menyela dan tidak menjawab juga. Pria itu hanya mendengus tapi mengikuti adiknya saat Jung kembali berjalan.
Masuk lebih dalam, ketiganya menemukan suasana yang berbeda. Suhu berbeda, kelembapan yang tinggi serta matahari yang seakan makin menghilang. Tidak pekat seperti malam, tapi gelap dan berkabut. Aroma jamur dan tanah basah begitu khas. Sandal jepit yang di pakai sesekali menginjak genangan tak terlalu dalam membuat kaki mereka basah dan menghitam — terkena lumut tebal yang menempel pada kayu.
“Ini rada aneh, perasaan gua nggak enak” lagi-lagi Jimin berkomentar, pria itu meneliti pepohonan tinggi seakan menutupi jalan matahari — membuatnya gagal menyorot hingga tanah “makin masuk, makin gelep, gua nggak mau mati dimakan setan atau binatang buas. Lagian, ini tempat apa sih? 17 tahun gua hidup di sini, tapi baru sekali ini tau ada tempat kek gini” Jimin menahan bahu kembarannya “tahan Jum, ini nggak beres”
Melihat dua kakaknya berhenti, Jung ikut berhenti. Tatapannya baru mengedar. “Kalian tunggu sini bentar, gua masuk beberapa meter lagi, perasaan gua paten kali ini” Jung meyakinkan kakaknya sementara Jimin sedang tak ingin berdebat. Lantas, ia biarkan saja si bungsu. Ketiganya membawa ponsel meski tak ada satu pun sinyal yang tertangkap.
“Nggak ada tempat yang bisa di dudukin, Jum” Tae menggesek mata parang yang tajam pada kulit pohon yang berjamur. Hampir semuanya menghitam dan akan mengotori celana jika memaksa duduk. Alhasil, keduanya menongkrong sementara Jimin melendot.
“Ade kalau kelamaan gua tinggal, gua takut” kakaknya kembali berseru meski tak ada jawaban, Jung seperti hilang di telan kabut.
“Gua dengar-dengar ya, ini cuma kabar burung” Tae mendorong kembarannya yang lemas agar berhenti melendot “gadis Bandung pada cakep-cakep, putih-putih dan mantap lah. Gua bukan lagi nyuruh lu jangan sedih karena itu fase, lu lagi dalam masa sedih. Tapi percaya sama gua sekali — “
“Hentikan, gua benar-benar muak dan najis” belum apa-apa Jimin menyela. “Ini bukan masalah muka cakep atau enggak. Kalau ngarah ke cakep, yang mau sama gua, yang cakepnya kek Olivia Rodrigo banyak Jum, ini soal hati dan kenyamanan. Jomblo ngarat kek lu mending ngokop lumut”
“Ah.. oke” Tae tidak lagi berencana menasihati, tapi pria itu bangkit “bentar, gua kayak melihat ayam”
“Nggak ada ayam di hutan. Please jangan aneh”
“Ada, bentar” Tae meninggalkannya — berjalan sekitar tiga puluh meter ke belakang sementara Jimin ikut melihat kembarannya — hanya takut jika ia di tinggal sendiri dan mati di mangsa roh jahat berwajah mengerikan.
Berjalan hati-hati, pria itu benar tidak menemukan apa pun — ayam atau binatang lainnya. Hanya ilusi optik di tengah kabut dan temaram pula dingin. Padahal, saat mereka keluar rumah, jam menunjuk setengah sepuluh pagi meski matahari menyorot malas-malasan.
Namun matanya menangkap hal lain.
Ada serok besi berwarna silver yang tetap mengkilap tanpa cahaya signifikan yang menstimulasi — terang saja menciptakan ilusi masing-masing tentang hal-hal yang sedang di pikirkan. Tae mengernyit sebentar sebelum memanggil Jimin untuk mendekat.
“Jum! Sini bentar” tangannya di kibas-kibaskan ke depan agar saudaranya itu mendekat, meski malas, Jimin tetap bangkit dan berjalan gontai bersama langkah paling enggan.
“Please.. kenapa gua ada di gunung pas lagi galau sih? Harusnya gua ada di rumah Mona sambil nyuap uduk walau campur ingus” Jimin ikut melihat pada apa-apa yang di tunjuk saudaranya. Pria itu ikut mengernyit saat matanya menangkap besi silver yang hanya terlihat setengah, setengahnya terkubur.
Tanah lempung basah dan rata, namun memperlihatkan sekop besi yang timbul ke permukaan meski tak banyak. Barangkali hujan mengikis sesuatu yang sengaja di kubur atau hilang. Barangkali tempat ini pernah terjadi longsor atau pemilik gunung meninggalkan sekopnya dan terkubur begitu saja. Keduanya diam — sibuk dengan pikiran dan spekulasinya masing-masing, bertepatan dengan si bungsu yang kembali dengan tangan kosong sambil menggeleng, pria termuda itu akhirnya mendekat pada dua kakaknya.
sekop silver
Ketiganya menggali tanpa alat hingga tangan mereka kotor. Tiap tanah yang di angkat, cacing akan menggeliat di telapak mereka sambil menggeliat — berlendir. Sekop itu tergeletak lurus. Kepala sekop terbuat dari baja, warnanya kusam dipenuhi karat kecokelatan yang menebal di tepiannya. Beberapa bagian logamnya tampak berkerikil tergerus lembap tanah. Menandakan jika benda itu bukan terkubur seminggu dua minggu atau sebulan dua bulan, tapi lebih dari itu.
Jung mengangkat gagang yang berwarna cokelat tua tapilebih kusam. Serat-seratnya terkelupas namun masih utuh dan kokoh.
Hanya sekop.
“Ini sekop doang? Gua kira sesuatu yang lain” Tae yang menyahut “pulang ajalah, makin dingin perasaan gua mah” lalu memegang tangan Jimin yang juga kotor, keduanya sepakat ingin pulang dan berencana pergi bermain di detik-detik akhir mereka di kota ini, meski Jimin jelas menolak dan memilih bertemu dengan kekasihnya.
“Bentar, tunggu bentar” Jung lalu mendongak, kepalanya celingukan — masih berharap Siri menampakkan diri atau apa pun yang bisa menjelaskan sesuatu, meski hanya mengatakan jika itu adalah sekop milik pemilik gunung sambil cekikikan dan mengeluarkan bola mata yang terlihat kuning.
Namun tidak ada. Tatapannya hanya di sambut dedaunan yang jarang-jarang — bergerak pelan-pelan meski tidak ada angin.
“Bentar Jum” Jung mengatakannya sekali lagi. Pria termuda itu lalu kembali menggali tanah yang sudah cekung bekas mereka mengambil sekop yang terkubur.
Tenaganya besar. Lubang yang sudah terbentuk itu pelan-pelan terbuka mirip orang menggali kubur. Bukan Jung pernah atau berencana membuat kotak persegi berbentuk peti mati apalagi memiliki pengalaman karena biasanya, jika menggali tanpa arah, siapa pun itu akan cenderung membuat lingkaran untuk lubang, namun si bungsu menggalinya persis seperti lubang kuburan.
Terus menggali..
Keringatnya mulai menetes. Untuk pertama kali ia merasa gerah pada tempat yang sejak tadi dingin dan gelap. Dua kakaknya lantas ikut turun membantu saat melihat adiknya kesusahan meski keduanya hanya mengenakan tangan secara manual. Lubang itu seperti memiliki bekas — itu juga yang membuat Jung tak berhenti meski sekujur tubuhnya merinding karena terus mendapat retakkan di tempat yang sebenarnya tidak ingin ia gali.
Terus menggali..
Lebih dalam
Hingga mata ketiganya menemukan hal yang sejak awal mereka cari. Mungkin terlalu cepat menyimpulkan, namun siapa saja akan takut, merinding sekaligus puas — saat usaha mereka membuahkan hasil.
Kerangka itu tergeletak di tanah yang gelap dan lembap, sebagian tulangnya telah tertutup lapisan tanah tipis, sementara yang lain tampak jelas di permukaan. Tengkoraknya miring sedikit ke kanan, rahangnya terbuka seakan membeku dalam senyum tanpa nyawa. Rangka rusuknya masih tersusun meski beberapa patah di bagian ujung, di antara sela-selanya tumbuh akar-akar tipis dan daun hijau muda yang menjalar bebas. Tulang lengan kanan terentang ke samping, sedangkan lengan kiri patah di dekat sendi. Di sekitar panggul, tanah retak menampakkan sendi yang masih utuh, meski rapuh dimakan waktu. Bunga-bunga liar dengan kelopak pucat dan warna yang mulai pudar tumbuh acak di sekelilingnya, sebagian bahkan menyentuh permukaan tulang, seolah alam telah menutupinya dengan selimut terakhir.
Ketiga saudara itu saling tatap dengan mata membulat. Ada ketakutan, jelas. Mereka bertiga bahkan bergetar kecuali si bungsu.
“Ini berapa meter ini? Kenapa di dalam kubur bisa tumbuh tanaman?” Tae berkata serak, seakan ada ribuan akar yang membelenggu tenggorokannya. Sebenarnya karena ia takut.
“Nggak sampe semeter ini” Jimin memeriksa tinggi lubang. Meski merinding, ketiganya belum enyah dari sana. Ketiganya lagi-lagi meneliti. Meski tidak yakin, mereka terlihat penasaran.
Sejak awal, tanah di atasnya longgar dan tidak rata, seperti digali terburu-buru. Lapisan tipis itu tak mampu melindungi sepenuhnya sisa tubuh yang dibuang di dalamnya. Jelas, kerangka ini tidak di kuburkan selayaknya jenazah di kebumikan. Sangat mungkin hujan dan waktu mengikis sebagian tanah, menyingkap tulang-tulang pucat yang tersusun rapuh. Di antara celah rusuk dan sendi, akar-akar liar merambat, menjalin dengan sisa tubuh yang membusuk. Rumput liar dan bunga-bunga kecil tumbuh dari biji yang terbawa air, menembus tanah gembur hingga mencapai dasar liang. Mereka menjajah ruang yang dulunya hanya milik keheningan, menutup tulang-tulang itu dengan selimut hijau yang tipis dan acuh.
“Udah kata gua, udah.. gua nggak sanggup. Ini bukan lagi hal yang bisa di handle anak usia 18 tahun. Walau usia gua udah adaan, tapi gua nggak bisa” Jimin meremas tangan adik dan kembarannya — berharap mereka mau berhenti dan menyerahkan ini pada orang dewasa.
Dua saudaranya mengangguk.
────୨ৎ────
Semuanya masih dalam penyelidikan.
Matanya sayu menatap genggaman tangannya sendiri yang bergetar — selaras dengan pundaknya naik turun karena air mata yang tumpah. Jung di sana, duduk sendirian pada kursi panjang dekat lorong ruang forensik.
Para petugas masih melakukan pemeriksaan antropologi dengan mengukur tulang untuk perkiraan usia, tinggi badan, jenis kelamin serta ciri-ciri ras. Masih mendengar jika ada bagian jaringan yang menempel, kemungkinan diambil sampel DNA untuk dibandingkan dengan data keluarga yang hilang.
Tapi bukan itu yang membuatnya menangis, melainkan Siri yang tak kunjung menampakkan diri. Sudah di cari di seluruh penjuru ruang dalam rumah, kembali ke kebun, pekarangan tetangga, sebelum akhirnya polisi datang dan memintanya memberikan keterangan bersama dua kakaknya yang lain di dampingi si sulung. Semua berjalan lancar saat ia menceritakan apa yang terjadi secara detail dan lugas. Namun eksistensi teman tak kasat mata yang tak kunjung menampakkan diri — tiba-tiba membuatnya takut.
Entah, Jung tidak yakin dengan perasaannya. Atau jika ia interpretasikan, Siri adalah makhluk yang sudah menjadi bagian dari dirinya, seperti kakak-kakaknya yang lain meski perilakunya aneh dan sesuai dengan jenis makhluk itu sendiri. Ketiadaannya membawa kalut meski ia tidak yakin juga jika kerangka yang ditemukan adalah milik Siri. Kerangka itu terlalu besar alias milik orang dewasa. Dimatanya, Siri adalah anak seusianya yang mengalami puber dini.
Masih menunduk sebelum pundaknya di sentuh oleh sesuatu yang dingin dan kaku. Jung mendongak.
Matanya menangkap sosok wanita cantik. Rambutnya panjang sebahu, matanya kelabu kosong menggunakan dress cantik sebetis berwarna marun. Mata bulat si bungsu naik turun memperhatikan sebelum kembali menyadari bahwa itu juga bukan manusia. Sejauh ini, ia hanya bisa melihat Siri, hanya satu-satunya. Ia tidak tahu alasannya. Namun, melihat eksistensi makhluk lain yang bahkan bisa menyentuhnya, Jung agak tertegun.
“Hai” katanya, suaranya ramah dan lembut. Jung masih tidak menjawab, matanya terus berkedip-kedip menagih realitas.
“Aku Siri” katanya lagi. Tiba-tiba wanita itu tertawa, tertawa dengan cara yang paling familiar dan akrab “Lucu banget kalau aku kamu” dan tertawa lagi “Udah paling enak pake lu gua, kan?”
Jung masih diam saja, pria kecil itu tidak menjawab dan terus meneliti.
“Haahh.. akhirnya sampai di ujung walau butuh waktu satu tahun” Seperti helaan nafas berat meski kosong, wanita itu lantas menggenggam tangan Jung. Rasanya padat dan ada, bukan hanya asap, namun orang lain tidak bisa melihatnya.
“Sumpah ya, gua nggak bisa inget apa pun. Pas pertama lu datang ke hutan, gua yang bawa lu dalam sugesti bisikan hati, lu nggak akan ngerti walau gua jelasin. Sejak itu, gua mulai menyesuaikan bentuk visual gua sama lu walau lebih nyaman pakai tubuh gua yang asli. Ganti-ganti rupa pula” dan tertawa lagi, seperti ada hal lucu yang kelewat menyenangkan.
“Gua Maria, gua nggak akan memperkenalkan diri secara detail karena pasti bentar lagi polisi bakal kasih tau siapa gua dan penyebab kematian gua” Wanita itu melendot pada Jung “dan kedatangan gua di sini bukan buat jelasin kenapa gua mati atau hal-hal yang barangkali bikin lu penasaran selama ini. Sumpah, polisi bakal ungkap abis ini, udah kesingkap kok, keluarga gua lagi nangis walau telat, penjahatnya udah mati bunuh diri setelah melakukan hal keji ke gua. Gua duduk di sini buat Jung, buat teman gua.”
Wanita itu memeluk dari samping, lelaki yang berusia jauh di bawahnya namun memiliki tubuh lebih besar darinya “Makasih, ya? Udah mau temenin gua selama ini, mau nampung gua di rumah lu dan si kelabang yang nggak jadi-jadi mau rukiah. Gua merasa hangat walau dingin, setidaknya, gua nggak kesepian di hutan yang mengerikan sambil kesakitan dan stres karena nggak ingat apa pun. Ini bentukan asli gua, gua perempuan 27 tahun, ah nanti polisi kasih tau”
Jung lalu mengendurkan pelukan pada lengannya, menatap iris kelabu milik Siri — hantu yang paling ia kenal.
“Nggak, Siri itu anak-anak” Jung menunduk, hatinya terluka mirip lubang mengaga “Gua bercanda aja mau tinggalin dia, walau nggak mungkin, tapi diem-diem gua mikirin cara biar bisa bawa dia ke Bandung. Jadi, lu nggak mungkin Siri gua” di susul isak pelan seperti sebelum wanita itu datang, Jung tergugu sambil menunduk.
“Wah.. gua terharu.. seandainya kita bisa lebih lama” terdengar helaan nafas lagi, membuat Jung skeptis jika wanita itu adalah hantu “Sebenarnya, gua tersiksa saat jadi hantu. Badan gua sakit, tiap luka, darah, mata yang copot, itu sakit, Jung.. saat gua maksa memadat, badan gua seakan di tarik paksa ke lubang aneh dan bikin tubuh gua rasanya kayak keputus-putus. Setiap hari sakit, sedih, takut, sesak. Pikiran buruk kayak akhirat, kesepian. Gua pikir gua akan bertahan lama jadi hantu dan kuat sampe mayat gua di temukan, tapi makin lama, semuanya terasa makin berat”
“Tapi lu baik-baik aja selama ini. Lu iseng dan jahil, lu terbang bebas, lu nakutin orang dan bercanda. Sakit apanya? Lu cabul” Jung mengusap matanya kasar sementara wanita itu tertawa.
“Itu alasan hantu sering nangis. Bahkan saking bingungnya mau pakai nada apalagi buat nangis, gua ketawa. Maksud gua gini, kenapa gua nelangsa banget gitu.. hidup aja di bunuh, setelah mati, gua masih harus merasakan sakit sehari-hari, ada saat-saat nggak sakit, itu mending gua pakai buat duduk diem. Nggak sakit itu sangat berharga. Dan kalau gua terus menerus nangis di depan lu, lu nggak akan mengadopsi gua jadi teman, lu bakal risi dan terganggu. Gua serius, gua mau makasi sama Jumah juga yang nemuin sekop dan berakhir kerangka gua” pandangannya lurus pada pintu ruang forensik “Ah… gua harus kembali, semoga nggak langsung di pecut malaikat”
“Mau pergi?” Jung menyorot dengan iris yang lagi-lagi tergenang air mata.
“Ya terus? Gua mau pulang, gua akan melakukan prosedur alam, di kubur, di tanya malaikat dan lain sebagainya. Nggak tau sih, ini pengalaman pertama soalnya, minta doanya aja kalau lagi solat, oke? Nama gua Maria, takut doanya salah kalau lu minta dengan nama Siri”
“Bukan, Maira”
“Gua Maria”
“Oke Maria, lu mau pergi gitu aja?”
“Iya? Apa harus ada sesuatu?”
“Ah.. orang dewasa emang nggak paham perasaan gua, gua kangen Siri yang plin-plan dan nggak konsisten, Siri yang cabul gampang nangis dan baperan”
wanita itu tertawa lagi, tawanya lebih besar. Saat berdiri, bahunya terguncang bersama rambut yang bergerak ke sana ke mari meski kakinya tak menapak.
“Mau pelukan? Hey! I could be your mother, please jangan jatuh cinta sama gua, selama ini gua bercanda aja tentang semua ocehan cabul. Gua tante-tante buat anak 14 tahun”
“Dih, pede najis, siapa yang jatuh cinta. Gua anggap lu bocil juga dan teman” Jung terisak lagi “dan gua rindu pelukan emak” menangis lebih besar. Kali ini lebih sesak dan sakit. Siri pergi — bukan, maksudnya sudah kembali ke tempat semestinya. Seharunya ia lega dan tenang karena bertepatan dengan kepergiannya ke kota baru. Namun yang terasa saat ini adalah hati mencelos dan kosong, persis lubang yang membentuk luka menganga. Setahun mereka bersama, rasanya seperti sudah menjadi bagian tubuh meski di detik-detik ini, Siri bukanlah Siri yang ia kenal. Tapi tak ingin sinting dan berkubang pada penolakan realita, Jung mengatur nafas demi mengurai sesak.
Dan Siri memeluknya. Jenis pelukan aneh yang baru sekali ini di rasakan. Pelukan dingin namun hangat di saat bersamaan. “Ah bocil kesayangan gua, teman gua, bentar lagi bukan jadi warga Bali, jadi aa-aa sunda ya? Pasti banyak neng-neng yang naksir. Lu keren, percaya sama gua, walau masih keren kelabang”
“Bacot, lu sehari-hari baper sama omongan kelabang, tapi konsisten mau menikah sama dia” Jung mendusal pada tubuh aneh dengan suhu yang juga tak normal.
“Dari pada gua diem nganggur sambil nangis, mending berantem sama kelabang”
“Gua, dan enam abang gua akan rindu”
“Rindu dari Hongkong” Siri tertawa “Udah ah, kalau gini, gua berat juga” lalu menatap pintu ruang forensik yang terbuka, di detik itu, eksistensi Siri lenyap begitu saja mirip adegan video yang tiba-tiba di potong paksa — menghilang. Dan itu adalah perpisahan mereka, hari terakhir Jung melihat Siri.
Dua petugas kembali keluar membawa brankar sementara bunyi roda yang menggesek ubin menciptakan suara khas. Kerangka yang tergeletak di atasnya sudah di bersihkan dan entah akan di bawa ke mana.
────୨ৎ────
Kasus Pembunuhan Maria Agustina Terungkap Setahun Setelah Hilang, CCTV dan Saksi Kunci Bongkar Pelaku
Buleleng — Setahun setelah dilaporkan hilang, misteri kematian Maria Agustina (27), warga Kabupaten Buleleng, akhirnya terungkap. Kerangka Maria ditemukan di area hutan Kabupaten Tabanan, Bali, oleh tiga pemuda yang bermain di area hutan — yang berbatasan langsung dengan Buleleng.
Tim forensik memastikan identitas korban melalui pemeriksaan DNA. Dari kerangka tersebut, juga ditemukan bekas material biologis yang mengandung DNA kekasihnya sendiri.
Penyelidikan mengarah pada kekasih korban setelah polisi mendapatkan dua bukti penting. Pertama, rekaman CCTV di sekitar rumah korban menunjukkan Maria terakhir kali terlihat berboncengan dengan pelaku menuju arah Tabanan pada malam sebelum ia menghilang. Kedua, keterangan dari teman-teman dekat Maria mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, korban sering mengeluh soal utang yang tak kunjung dibayar oleh pelaku, bahkan sempat bercerita bahwa uang tersebut digunakan untuk bermain judi online.
Polisi menduga pertengkaran terkait utang itu menjadi pemicu pembunuhan. Usai menghabisi nyawa korban, pelaku membawa jenazah ke hutan dan menguburkannya secara terburu-buru.
Namun, pelaku tidak menjalani proses hukum. Beberapa hari setelah pembunuhan, ia dilaporkan mengakhiri hidupnya sendiri. Meski begitu, rangkaian bukti yang ditemukan membuat penyidik menutup kasus ini dengan kesimpulan pembunuhan berencana yang dilakukan oleh pelaku terhadap korban.
Jung mematikan televisi.
Pria termuda itu menangis lagi, enam kakaknya duduk mendampingi dan benar-benar penasaran. Hampir semua orang tidak pernah melihat Siri, kecuali Jimin dan Tae dari cermin, itu pun tidak jelas dan hanya siluet atau eksistensi ambigu. Meski begitu, mereka semua ikut merasa kehilangan, atau hanya tertular dari si bungsu. Hal yang tak pernah terlihat kecuali di rasakan dalam konotasi menyebalkan, tentu saja dusta untuk merasa kehilangan.
“Gua kira selama ini bocah” Jin berkomentar, tangannya mengusap kepala si bungsu yang memeluknya dengan ingus berantakan.
“Gua berpikir hal yang sama. Tiba — tiba kepikiran dia sering ngintipin kita mandi dan cabul lainnya” Joon mengangguk setuju. Rasanya, sampai seminggu yang akan datang, mereka akan berkumpul setiap hari dalam formasi utuh jika tidak ada yang bermain.
“Jimin masih mau gitu aja?” Yoon menatap kembaran Tae yang meringkuk di ubin, pria itu tidak menggunakan baju dan sengaja.
“Bentuk protes kalau gua nggak mau pindah”
“Yaudah tinggal di sini sendirian” pria berkulit paling cerah itu memasukkan kakinya ke dalam bokong sang adik, membuat Jimin menepisnya kasar. “Masih kecil, udah kecintaan, pikirin kuliah, kerja, baru perempuan. Gua yang dewasa aja belum pernah pacaran”
“Nggak akan ada yang mau ama lu, orang modelan lu gini mending nikah sama tumbuhan, kawinin gedebog pisang noh” Jimin lalu menyikut kaki yang kini masuk dari depan, menginjak-injak penisnya.
“Tae gimana Tae? Katanya sekolah udah daftarin ke sistem SNBP, gimana?” Jin melirik adiknya yang sejak tadi membaca komik, Tae menengok.
“Udah masuk daftar eligible, udah isi biodata dan persyaratan tinggal tunggu pengumuman. Kalau nggak lulus, gua ikut SNBT di sana ya? Boleh kan?”
“Boleh, Jimin mau dimana?” Jin melirik adiknya yang masih merebah.
“AL-ZAITUN”
“Serius dulu”
“Nggak usah di kuliahin si bangsat ini, biar suruh nikah muda dan mulung rongsokan sama pacarnya itu” Yoon lagi-lagi menyepak bokong adiknya.
“Gua mau ke Jakarta tau, gua ada kenalan di sana dan dia bilang ada proyek kecil bikin-bikin ruko dan villa kecil, mau gua sambangin sambil ngekos, nanti sesekali balik kalau libur” belum apa-apa Hobi sudah akan pergi, bahkan sebelum pergi, pria itu sibuk dengan tablet membuat kerangka bangunan yang rumit.
“Nah, dari rumah kita nanti jauh nggak sama Depok? Kalau lebih jauh, mending gua ngekos di Jakarta” kembaran Jimin lagi-lagi meminta pendapat sementara kakak pertama menimbang banyak.
“Lu nggak bisa makan sendiri, lu bahkan nggak bisa ngupas timun, nggak bisa gua lepas, sementara pulang pergi dulu, ntar gua ajarin bawa mobil sebelum masuk kuliah”
“Buset! Jumah mau di beliin mobil, timbang gua yang nggak ngarah gini? Gua mau juga” Jimin lalu berbalik menatap kakak pertama “Gua mau punya mobil juga, nanti gua pulang pergi Bandung-Bali”
“Mata lu Bandung-Bali, aneh-aneh”
“Dahlah, gua mau ke rumah Mona” pria itu bangkit menuju kamar akan menggunakan baju, pukul tujuh malam dan Jimin sedang tidak ingin menangis semalaman. Rencananya, ia akan bermain siang dan malam lalu berpisah dengan stok air mata yang tersisa.
────୨ৎ────
Suasana warung terlihat lebih ramai dari hari kemarin. Dua karyawannya begitu sibuk hingga keteteran. Beruntung si sulung datang sejak pagi mengingat sebentar lagi akan pergi, Jin lebih rajin lagi.
Warung pecel lele yang sudah berjalan satu tahun lebih membawa pundi-pundi rupiah meski tak banyak. Cukup untuk menggaji dua karyawan, membeli makan walau tak kebagian untuk menabung. Pria itu bahkan sudah menelepon kerabat dekat ayahnya untuk mencarikan lokasi yang bagus di tiga tempat sekaligus sebagai cikal bakal warung pecel lele.
Kedatangannya di sambut minyak yang mencuat ketika lele yang baru di bersihkan bersama bumbu marinasi yang melekat — dicelupkan langsung. Dua karyawannya sibuk bahkan tak sempat menyambutnya dengan ulas senyum formal seperti biasa. Jin kontan memegang spatula.
“Pesenan minta lelenya aja lima belas porsi buat jam sembilan. Kayaknya mereka pada mau hiking ke gunung” satu karyawannya mendekat lalu memberi tahu dengan tangan sibuk menggiling sambal. Jin mengangguk-angguk. Pekerjaan menyenangkan dimana kompor dan wajan menjadi media menghasilkan uang.
Pekerjaan yang mirip hobi memang selalu menjadi anugrah. Jadi, sesibuk dan selelah apapun, pria itu mensyukuri setiap kegiatannya yang menguras keringat dan di paksa ramah pada konsumen.
Hingga semua pesanan di bungkus rapi dalam kotak. Jam menunjukkan angka sembilan bersamaan dengan kedatangan empatbocah yang kini duduk di meja.
“BELI.. BELI..BELI” suara familiar. Satu karyawan mendekat dan menyodorkan buku menu.
“Mau pecel lele empat, es teler empat, kentang goreng empat porsi, sosis bakar empat, sop buah empat” lalu menyodorkan kembali buku menu “Bosnya mana?”
“Ada, ada perlu apa, ya?”
“Saya mau komplain, kok gubuk pecel lele mirip kafe, aneh. Aturan pake tenda biru atau terpal yang ada lelenya. Menyalahi aturan dan ketentuan perpecelelean ini” bocah itu lalu cekikikan di susul empat temannya. Sang karyawan hanya mendengus lalu pergi.
“Gua baru dua kali ke sini tau, padahal udah mau dua tahun” Tae melihat di sekeliling. Jarak warung dengan rumah memang jauh hingga nyaris 3 km. Uang jajan yang cukup dan hampir setiap hari si sulung menggoreng lele membuat mereka enggan datang. Untuk apa juga.
“Dosen minta titip sop buah, tapikan kita jalan, keburu busuk di jalan alias masuk ke perut gua, jadi gua akan tetap beli, tapi gua minum di jalan” Jung memperhatikan Mona yang sibuk dengan ponsel. Gadis cantik itu bahkan tidak tahu akan di tinggalkan ketika Jimin terus memaksa semua orang bersumpah agar tak ada yang membuka suara.
Sibuk berbincang, seorang gadis berpakaian sopan — tertutup meski tak menggunakan jilbab datang dari depan. Langkahnya kecil menapak lurus hingga ke dapur. Karena di warung itu hanya ada mereka berempat, perhatian semua orang tertuju padanya.
Hingga berlabuh di depan kompor atau tepatnya di belakang bahu lebar yang sibuk dengan penggorengan. Dari meja tempat Jung duduk, meski tak terlihat begitu sempurna, namun tetap tertangkap mata jika gadis itu memeluk kakak sulung mereka.
Jimin melotot, Tae mendelik sementara Jung mendengus, ketiganya lalu mendekat ke arah meja di balik etalase besar berisi buah dan segala hal, meninggalkan Mona yang menyimak.
“Aku akan datang setiap hari sebelum kamu pergi, aku merasa sedih” gadis itu berbisik tepat di telinga, tidak peduli kegiatannya di saksikan dua karyawan yang memang kebal.
“Nanti malam ketemu, jangan ke sini, aku sibuk, mana bau keringet” Jin tidak menoleh, sesekali gadis itu tersikut saat si sulung membalik lele.
“Ayo kita menikah”
“Ye… gimana sih” terkekeh pelan.
“Tiba-tiba aku jatuh cinta sama kamu, aku mau hubungan kita serius, kamu udah mapan juga. Aku nggak masalah sama adik ipar 6 biji” lalu mendusal pada punggung, Jin menepisnya pelan agar tak terlalu terkesan kasar.
“Kita berhenti sekarang aja” berbalik, Jin menatapnya teduh “pergi sana, hubungan kita selesai, lagi pula aku mau pergi, nanti ganti perempuan lagi, inget perjanjiannya apa? Aku kasih uang kamu kasih layanan, masa minta nikah buset”
Tiga adiknya serius menyimak sementara gadis itu menangis.
“Kata gua apa, sepuh itu kejam” Tae berbisik.
“Sepuh kull”
“Sepuh itu bajingan anjir, parah” Jimin berkomentar “Kalau udah dewasa, gua nggak mau jadi bajingan kek sepuh”
“Tapi lu udah jadi bajingan”
Sang gadis masih tak enyah, malah menangis tersedu-sedu sembari mengelap ingus pada kaus Jin dari belakang. Melihat itu, Jung mendekat — masuk ke dapur lalu memisahkan pelukan mereka secara paksa.
“Ini abang gua, ngapain lu nangis di punggung dia, dih. Lu yatim piatu ya? Kasian banget” lalu si bungsu yang memeluk punggung kakaknya.
“Kamu adiknya, ya? Kenalin, aku — “
“Nggak usah kenalan, gua nggak mau punya istri kek lu, istri sepuh artinya istri gua dan lu bukan tipe istri idaman gua, pergi sono”
“Shhhhs jangan berantem. Lusi, kamu pulang sana, emang nggak kerja? Aku sibuk banget” lalu melepas pelukan si bungsu “ini juga, ngapain? Jalan ke sininya?” Jung mengangguk. “Tambah item aja”
Gadis itu menangis sambil berjalan keluar, wajahnya di tutupi lengan baju terisak-isak melewati Jimin dan Tae yang memperhatikan.
“Padahal sering di sindir sama kelabang buat berhenti zina, tapi kayaknya sepuh nggak akan tobat sebelum kena azab” Tae menggeleng-geleng
“Bercinta itu kebutuhan, apalagi buat laki-laki dewasa. Tapi nggak tau sih, gua kata konten di tiktok aja. Kalau kelabang kan emang di setting jadi makhluk tuhan yang paling sensi” pria itu kembali berjalan pada kekasihnya yang masih terus sibuk dengan ponsel setelah melihat gadis bernama Lusi pergi menjauh.
“Hp mulu, ntar kumisan lu” mengambil ponsel yang sedang dimainkan, Jimin melihat gadis itu sedang mengedit foto mereka berdua yang akan di jadikan wallpaper. “Kenapa mesti di kolase, sih?” lalu menyerahkan ponsel pada kembarannya “Fotoin gua Jum” memaksa Mona berdiri sebelum memangku gadis itu. Jimin melingkarkan tangan di perut dari belakang lalu mencium pipi sementara Tae memotret.
Mencium pipi, bibir, memeluk mesra, menggigit telinga, mencium punggung tangan, leher, mendusal dan banyak. Seperti tiap bergerak, Tae berhasil mengabadikan gambar mereka.
“Pake salah satu jadi layar depan, jangan kolase, kasih bacaan Jimin pacarku paling ganteng”
“Alay amat”
“Lu alay, kolase alay, mana banyak banget emotnya, kek orang baru pegang hp”
“Kalian ngewe dong depan gua” Tae terkekeh menyerahkan ponsel “masa belum pernah bercinta, gua penasaran, tapi nggak berani”
“Jumah kalau ngomong aneh gua jambak ya” Mona melotot “nggak usah memprovokasi, kita ini masih kecil guys. Kita ini kudunya cuma main dan bersenang-senang tanpa melakukan adegan dewasa kaya bayar listrik apalagi ngewe, tolol”
“Iya, bener Mon. Gua juga pengen cari temen cewek yang bisa diajak kelon aja. Sumpah kelon aja, kalau ngaceng ya di tanggung pemerintah” pria itu membalik tubuh mencari eksistensi adik bungsunya “semua orang di rumah itu suka sama perempuan. Suka disini maksudnya butuh, pengen di sayang. Gua paham kok, gua nggak akan menjustifikasi sepuh walau tindakan dia bajingan banget. Gua juga nggak akan mencontoh, gua cuma suka caper tapi bingung kudu ngapain” menatap kekasih Jimin “Mona baik-baik, ya? Gua kira Jumaw akan balik buat lu, atau kalian akan menemukan pasangan masing-masing”
Ucapan pria itu mendapat respons melotot dari kembarannya. Jimin mengepal tinju khawatir Tae salah bicara atau membocorkan rencana kepergian mereka besok lusa.
Tidak banyak menangis bukan berarti tidak sedih. Hari ini, biar ia simpan air matanya untuk stok.
“Ngoceh apa si bangsat ini? Mona akan sama gua, nggak boleh sama yang lain, kalau gua nggak bisa milikin, orang lain juga. Dia tu nggak akan bisa jadi diri sendiri dan melakukan hal menyenangkan kalau nggak sama gua. Cuma gua yang paham perangai asli lu, Mon. Jadi kalau lu pacaran sama orang lain, gua pastikan lu bakal jaim dan banyak tertutup sama kepribadian lu yang najis” memeluk dari samping — membuat Mona mencerna agak lama.
“Lu ada rencana ninggalin gua kah?” matanya berkedip-kedip, wajahnya kecil dan lucu, gadis itu selalu saja cantik. “belum sukses, yang, setidaknya, gua harus jadi bagian dari kesuksesan lu. Uang lu uang gua, kenapa buru-buru amat mau ninggalin gua. Kita masih bisa jalan gandengan tangan sampe 70 tahun yang akan datang, pergi ke tempat bagus selain Bali dan turisnya. Gua pengen ke tempat yang vibrasinya mirip-mirip sama Skotlandia, sama lu”
Dikatakan sambil tertawa, Mona menjambak rambut kekasihnya. Jimin masih konsisten menatap dua saudaranya yang duduk tersekat meja — berhadapan — agar mereka benar-benar tidak keceplosan.
“Gua mana bisa ninggalin lu, ah, gila gua”
Hening sesaat. Jimin menutup wajahnya dengan tangan — mengalihkan pandangan sementara matanya berkaca-kaca. Namun terselamatkan saat si bungsu datang membawa pesanan mereka.
“Sepuh punya uang berapa sih? Kok dia bisa punya karyawan” duduk meletakkan nampan berisi sop buah dan kentang goreng, makanan utama mereka belum siap.
“Percaya sama gua, karyawan sepuh di bayar pake pahala” Tae menyahut sembari mengambil sop buah.
“Pahala sepuh dikit, banyakan dosanya”
“Om Jin itu.. tipe yang bakal merendahkan perempuan nggak sih? Ini opini gua” Mona ikut mengambil “belum kaya banget, tapi karismanya gak bisa di bantah, eh nggak tau sih, dimata gua, dari semua abang lu, yang paling ‘merah’ om Jin, yang galak kelabang, yang gemes dosen, yang ganteng tapi jarang liat ya lurah”
“Lu kudu beli media yang namanya kacamata teh, di rumah itu, yang paling ganteng adalah Jung, yang paling keren, yang paling hot. Yang lain figuran doang” menatap Mona penuh percaya diri, pria termuda itu terlihat keren saat diam.
“Iyain aja, kalau marah hantamannya bikin demam”
Setelah itu makanan datang. Jin mengantarkan bersama dua karyawannya sebelum ikut duduk di kursi samping. Kakak tertua sibuk memeriksa ponsel sembari menyimak ocehan 3 bayi yang terus mengatakan tentang hal dewasa dan kotor. Jung sesekali bertanya pada Mona bagaimana cara perempuan menggunakan pembalut, apa yang dirasakan saat menstruasi dan apa yang terjadi jika gadis itu tengkurap, apa payudaranya akan menekan atau meleber dan ungkapan aneh lainnya.
“Kalian jalan kaki beneran?” memasukkan ponsel dalam saku, Jin menatap adiknya satu persatu. Semua orang mengangguk. “Disini aja sampai sore, nanti pulangnya bareng gua, syaratnya bantuin gua, jam makan siang pasti rame banget ini, ntar masing-masing gua upahin 50 ribu”
“50 ribu cukup apa sepuh, parah lu, edan. Hampir sehari bantuin, masa di upah 50 ribu” Tae bersingut, mulutnya penuh nasi dan lele.
“50 ribu sama makan”
Jung menatap Jimin meminta persetujuan. Si bungsu selalu saja takut di tinggal oleh dua kakaknya, terlebih Jimin yang memimpin di antara mereka.
“Gua ada kencan sama Mona hari ini, kalian berdua aja disini, ntar pulang ke rumah bareng”
────୨ৎ────
Jimin membawa Mona ke motel, pria itu mengatakan ingin istirahat dengan kasur empuk selama dua jam dan memohon pada gadisnya untuk ikut.
Bukan hal mudah membujuk gadis itu untuk turut serta. Mereka sempat bertengkar di jalan sementara Mona terus mengatakan tidak sudi jika kekasihnya itu mengajak bercinta. Namun Jimin kukuh mengatakan jika mereka tidak akan melakukan hal itu, ia hanya mengatakan tentang — ingin tidur di kasur empuk karena di rumah menggunakan kapuk keras. Mona tidak percaya dan mereka berpisah di jalan. Jimin mengejarnya, memohon untuk dikabulkan sekali ini saja sembari berlutut di aspal. Pukul tujuh malam, akhirnya Mona menyerah setelah menelepon ibunya dan kembali berbohong tentang ia yang bertemu teman yang juga mendaftar di kampus yang sama.
“Rebahan lu, sumpah, kalau lu aneh, gua bunuh lu” Mona duduk di sofa ketika mereka baru sampai di dalam. Jimin duduk di sisi ranjang, memperhatikannya tanpa berkedip, tatapan cinta dan penuh pemujaan.
“Apa liat-liat? Udah mau rebahan mah, tinggal rebahan. Sinting, ngapain keluar uang 300 ribu cuma buat rebahan, udah kayak yang iya-iyanya aja lu” gadis itu terus mengomel. Wajahnya merah menahan jengkel.
“Maaf si.. jangan ngomel terus, peluk gua sini” membuka tangan lebar, Jimin meringis dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Hatinya sakit sekali mengingat mereka tidak akan bertemu dalam waktu — entah sampai kapan. Malam-malam kebersamaan seperti ini hanya mirip kilat. Begitu cepat dan tidak terasa.
“Lu bilang nggak akan aneh, gua mau pulang aja, gua nggak mau” menghela nafas dalam “Lu bahkan nggak bilang daftar di kampus mana, mau ambil jurusan apa, lu nggak kuliah, huh? Uang yang lagi lu dapet model itu gua beliin emas, gua tabung, ayo daftar di kampus yang sama pakai uang itu. Please jangan lulusan SMA doang, lu mau jadi apa nggak lanjut kuliah, huh? Lagian om Jin pasti mampu kuliahin lu, tapi lu terus geleng tiap gua tanya tentang kuliah. Gua nggak suka surprize yang kayak gini, gua mau terbuka”
Air matanya turun meski langsung di seka lengan baju. Jimin menangis. Sementara Mona kontan mendelik kaget “Lu nangis kenapa?” lalu menghampiri, gadis itu berdiri dan memeluk pria yang tiba-tiba tergugu sambil menutup wajah.
Dipeluk, air matanya bertambah deras, Jimin tersedu-sedu serius dengan suara besar. Mona kebingungan, tangannya naik turun mengelus kepala — memerangkapnya dalam dekap — menenangkannya lewat sentuhan.
“Kenapa deh? Gua ada salah kah? Lu mau apa sih?” jelas kebingungan, Mona mendongakkan kepala kekasihnya, lalu menyeka air mata dan menciumi kelopak itu bergantian “Oke.. nangis nggak papa, tapi nanti cerita, ya? Gua ada disini, seberat apa masalah lu sampe kek gini? Nggak pernah-pernahnya keluar suara bandot nangis” Di tenangkan, bukannya membaik pria itu justru makin histeris.
“Mon.. Mona.. gua sayang lu banget, cinta gua, cinta mati, cinta mati banget pokoknya, gua sayang lu banget” Dikatakan tergagap, matanya penuh hingga sulit melihat wajah cantik kekasihnya “Menurut lu, menurut lu aja ini mah, gua cuma pengen tau” menelan ludah dan mengusap wajah sebelum melanjutkan, Jimin tersedak ludahnya sendiri karena tangis “Menurut lu, apa yang bikin lu cepet lupain seseorang? Kayak misal ke mantan, apa yang bikin lu cepet lupa ke mantan ketika kalian pisah atau putus?”
Pertanyaan aneh dan tiba-tiba. Namun Mona sedang enggan menginterogasi sebab tangis atau menelisik lebih jauh maksud dari pertanyaan dadakan. Sambil menciumi kepala, Mona mengambil nafas dalam.
“Gua akan cepet lupa sama seseorang kalo orang itu nyakitin gua. Maksud lupain disini move on, ya kan? Biar cepet move on dan mati rasa atau bisa jadi benci. Seseorang yang menyakiti gua terlalu dalam sampe bikin gua mikir kayak… ih sinting. Gua ini berharga, kenapa orang menyakiti gua? Singkatnya, gua punya alasan untuk membenci dan move on. Tapi kalau sama mantan pisahnya karena gua yang salah atau keadaan tertentu yang di luar kontrol, itu yang bikin gua gamon”
Mata mereka bertemu. Jimin mendongak, terlalu sakit menatap wajah itu, wajah kesayangannya yang menemani dan mengisi hari-harinya semasa SMA. Cinta pertama.
Dan mengangguk.
“Mon..”
“Ya?”
“Ayo bercinta”
“Tukan, lu janjinya apa? Jangan bikin gua takut”
“Apa gua terlihat menakutkan?”
“Gua nggak berani, gua masih kecil, please.. apa pun, apa pun gua kasih ke lu asal jangan bercinta, please..” suara gadis itu serak sementara Jimin makin menangis.
“Gua mau kita sama-sama pertama kali, please… usia kita udah hampir legal, lu punya gua Mon.. please.. sekali ini aja”
“Bohong, kalau udah sekali mustahil nggak di ulang”
“Kalau gua minta ulang, lu bisa putusin gua”
Mona mendecih “Putus dari Hongkong, orang macem lu bakal nongkrong di warung gua sampe subuh ngemis cinta, gaya banget si bangsat ini”
Jimin terkekeh sambil menangis. Dua tangannya memeluk pinggang — melingkar sebelum mengajak gadis itu merebah paksa. Mona jatuh di atas tubuhnya.
“Sekali aja… please..”
“Nggak mau”
“Ya Allah… sekali aja.. sekali aja sumpah neng sekali aja..” Mona tetap menggeleng.
Menghela nafas dalam. Pautan mata mereka belum terlaps dan Jimin sudah mulai membuka kancing baju Mona pelan-pelan.
“No! Nggak mau!” Gadis itu menggeliat ketika satu tangan merengkuh paksa dan satu tangan lagi melucuti kancing. Tenaga yang timpang membuat gerak penolakan terasa sia-sia. “Jim.. please.. please.. gua nggak mau.. please..”
Suaranya jelas tak di dengar. Jimin balik membantingnya di ranjang, membawa kukungan kokoh yang mustahil di lampaui meski gadis itu meludahi, menendang, menggeliat dan mengumpat kasar. Matanya menggelap dengan tangis yang berhenti entah sejak kapan.
Ketika Mona terus membuat gerak penolakan, Jimin mencekiknya dengan satu tangan hingga gadis itu sulit bernafas. Kemeja hitam sudah melayang — menyisakan bra berwarna senada. Tangannya berusaha melepaskan cekik yang menutup jalan nafas, pria itu seperti kesetanan.
“Ji..Jii — Akkhh — Gu — a Nggak bisa.. nafas..” suaranya putus-putus, gadis itu mengeluarkan air mata karena seperti akan mati. Lalu Jimin mengendurkan tangannya.
Baru saja Mona meraup oksigen karena kehabisan nafas, pria itu mengangkat tangan — akan memukul wajahnya, nafasnya belum normal, Mona kembali di hadapkan pada sisi-sisi baru dari kekasihnya yang sudah 3 tahun ia pacari. Karakter lain atau bagain yang memang selama ini di sembunyikan. Jimin memang agresif jika matanya menghitam. Putingnya sering di gigiti hingga lecet atau cara ia meremas payudara yang membuatnya seperti terjepit pintu.
“It’s okay.. oke.. nggak papa, nggak papa, oke… Jim.. nggak papa, ayo lakukan, ayo bercinta.. huh? Mau gua buka sendiri atau lu yang buka?” Mona mengusap wajah pria itu dari bawah. Meraba kening, turun ke pipi lalu rahang. Suara gadis itu melembut sambil mengusap-usap apa saja dari bagian tubuh pria di atasnya.
Jimin pelan-pelan menurunkan tangan, rahangnya yang mengeras perlahan rileks. Nafasnya normal, matanya segelap malam menatap Mona tanpa berkedip.
“Gua mati kalau di pukul, sini, peluk aja, ayo lakukan pelan-pelan kaya lu adalah laki-laki keren yang bisa memperawani gua dengan gentle”
Pria itu melunak. Kepalanya turun menyambut bibir Mona — bagian favoritnya.
Malam yang panjang meski tak sepanjang durasi perjaka yang susah payah memasukkan diri — menyatukan bagian yang tak pernah terjamah sebelumnya.
Ada setitik darah yang jatuh pada seprei putih bersih malam itu, ada jerit kesakitan sang gadis sambil meminta ampun memanggil nama sang pria berulang-ulang. Meski Jimin melakukannya dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian, rasa sakit dan perih benar-benar tidak terelakkan. Mona tidak menangis — tergugu, gadis itu hanya takut dan sedih. Itu juga yang membuatnya terus tegang hingga proses penetrasi benar-benar sulit. Meski begitu, Jimin berhasil membobolnya.
Hanya sebentar, dalam kurun tiga menit, pria itu mendapatkan pelepasan pertama dengan menghamburkan sperma pada perut gadisnya. Sambil bernafas tersengal-sengal, lalu ambruk di sisi, memeluk dari samping.
Keheningan merajai lepas aktivitas panas mereka. Baik Jimin maupun Mona, tidak ada yang membuka suara selain deru nafas keduanya yang mirip pacuan kuda dan terus di stabilkan.
Hingga suara isak tangis kembali terdengar. Mona kontan menatap ke samping, tubuh telanjangnya tak di tutupi selimut atau apa pun, hanya memeluk pria yang juga tak berbusana. Pria yang bersikap aneh seminggu terakhir.
“Harusnya gua nggak sih, yang nangis? Parah banget si bangsat ini, setan, bajingan, anjing, babi kau. Gua yang di cekek, mau di pukul, di robek itil gua, kenapa lu yang nangis? Mau play victim, gua aduin bapak gua lu ya” Mona menjitaki kepala, mencubit perut, menyepak betis dan memukuli tengkuk, Jimin mengaduh sambil meminta maaf. Matanya terang dan ia merengkuh paksa gadis itu, lagi-lagi sambil menangis.
“Kayaknya jalan gua bakal goblok setelah ini, sakit banget memek gua, ya Allah..” Mona meringis di tengah wajahnya yang di ciumi berulang mirip orang mengabsen. “Kalau gua hamil, gua bakal bunuh lu sama semua keluarga lu”
Mendengar kata hamil, Jimin langsung mendongak. Kepalanya serius berpikir jika ia menghamili Mona, maka mereka akan di nikahkan dan Jin tentu saja akan turut serta membawa Mona ke Bandung.
“Neng, gua hamilin aja, mau?”
“BABI KAU”
────୨ৎ────
Semua barang sudah kembali di cek dengan benar dan masuk dalam mobil. Kunci rumah akan di titipkan pada orang terpercaya entah siapa oleh Jin. Anggota lengkap duduk rapi dalam Van, meski wajah-wajah murung menghiasi tiap garis mimik.
Hari ini langit cerah. Matahari sudah menyorot panas meski masih pukul tujuh pagi kurang sepuluh menit. Mereka semua sudah sarapan, sudah memastikan tidak ada yang tertinggal, namun semua wajah tak benar-benar ada yang cerah. Jin sudah mengakali dengan mengatakan rumah mereka yang jauh lebih bagus, kamar yang mirip hotel serta fasilitas yang lengkap, tampaknya tak mempan.
Joon menatap rumah mereka dari kaca mobil yang tak terlalu bersih. Rumah bergaya retro tempo dulu, tempat dimana lebih banyak kenangan pahit ketimbang manis. Namun tak ada perpisahan yang benar-benar melegakan tanpa menyisakan rasa kehilangan. Seburuk apa pun kenangan di dalamnya, tetap saja, ini adalah rumah mereka, bersama ibu, bapak dan semua kakak adik. Semua terangkum dalam sorotan kilas balik yang terputar acak tanpa rencana di kepala.
Kecuali Jimin yang menangis. Matanya menghilang karena bengkak. Pria itu menangis semalaman dan sempat bertengkar dengan kakak kedua karena terus ngotot ingin mengajak Mona turut serta. Berakhir mengalah meski penampilannya saat ini mirip orang depresi. Pria itu akan mengamuk saat ada yang bertanya, semua orang konsisten untuk mendiamkan hingga ia sendiri yang berbicara.
Sepi.
Saat mobil bergerak menjauh, Jung menangis. Ada yang mencelos dalam hatinya, seperti sesuatu yang melekat dan ditarik paksa lalu menghilang.
────୨ৎ────
Sudah dua hari mereka tidak bertemu. Sejak terakhir melewatkan malam yang tak benar-benar bisa di katakan panas, Mona tak benar-benar menghubungi kekasihnya. Tubuhnya tiba-tiba saja lemas dan keesokannya, gadis itu terserang flu. Sudah mengabarkan pada Jimin namun pesannya tak di balas meski sudah di baca. Juga pria yang tak pernah absen menyambangi warungnya itu, benar-benar seperti di telan bumi selama dua hari.
Mona mendesah kesal. Kemudian berusaha menelepon namun terus di tolak. Sesaat, tiba-tiba kontaknya di blokir dengan pesan yang sama sekali tak lagi bisa di kirim.
Gadis itu kebingungan. Ia mencoba menelepon secara manual namun sama saja, nomornya tidak aktif. Tidak menyerah sampai disana, ia juga menghubungi Jin dan semua orang yang bisa di hubungi, hasilnya tetap nihil, nomor mereka semua benar-benar tak aktif. Bahkan Jung memblokirnya juga.
Ada yang salah. Mona bangkit dari kursi warung. Sore itu tepat pukul lima, ia memesan ojek online dan akan menyambangi rumah pria berengsek yang mencoba bermain-main.
Mona berdiri di depan pagar. Kepalanya celingukan bingung. Semua orang di rumah ini, hampir tak pernah menutup pagar kecuali malam hari meski pada siang, orang-orang sibuk dengan aktivitas. Namun bagian yang mengusiknya adalah saat melihat gorden rapat, jendela yang tak dibuka serta lampu depan menyala, itu janggal.
Ia berencana benar-benar akan melompati pagar sebelum suara keras mengagetkan. Mona buru-buru berbalik dan di sambut pria tua. Matanya melotot sementara tangannya memegang cangkul, tampaknya baru pulang dari ladang.
“Ngapain? Cari apa?” Suarnya besar — berteriak. Mona nyengir tidak enak, namun mendekat.
“Itu.. cari om Jin, adenya om Jin temen saya, tapi rumahnya kayak gembokan”
“Jin udah pinda ke Bandung sekeluarga kemarin, kuncinya di titipin entah dimana, kenapa? Dia punya hutang sama bapak kamu? Tagih aja, anak itu sekarang udah kaya raya”
“Eh? Pindah? Pindah apa pelesiran?”
“Pindah, pindah semuanya, bawa koper besar dan akan di Bandung selamanya, tapi rumah ini nggak boleh di jual takut emaknya yang di RSJ balik”
Tidak mendapat respons lagi dari sang gadis, pria tua itu lantas kembali melanjutkan perjalanan — meninggalkan Mona yang mematung.
Hanya mematung, kepalanya sibuk memproses situasi.
Rumah yang ditinggalkan.
Halaman yang tidak di sapu dua hari.
Lampu depan yang di biarkan menyala.
Teras yang biasa menjadi tempat si bungsu dan yang lain bercengkerama. Jemuran baju dengan tali tambang yang kosong. Mona masih diam di tempat. Sesaat, ia kembali memeriksa ponsel, menatap benda pipih itu tepat pada halaman dimana gambar diri dan kekasihnya memenuhi layar.
Matanya bergantian menatap rumah kosong, layar ponsel dan tali jemuran. Namun dari banyak hal, hatinya lah yang tiba-tiba kosong, seperti balon besar yang di tusuk secara menyakitkan lalu kempes dan menggelepar di tanah, lemas, menyedihkan.
Lalu terkekeh.
“Si bangsat ini…” menatap lagi rumah tua itu “gua di campakkan, ya? Gua di tinggalin? Setelah gua kasih satu-satunya hal yang paling sakral? Buset” Mona berjongkok hingga bokongnya terduduk di tanah, kepalanya denial sementara yang keluar dari mulutnya adalah tawa.. semua terasa begitu tiba-tiba, tanpa aba-aba.
Membuat kepalanya jadi sibuk mencerna perilaku Jimin akhir-akhir ini. Pria itu menyatakan cinta sehari 30 kali baik secara langsung maupun pesan chat. Juga ocehan tentang menikahinya suatu saat nanti.
Menangis tiba-tiba sambil menyatakan cinta.
Pria itu jelas berengsek.
Mona masih bertahan di sana. Duduk sembari memeluk lututnya sendiri — menatap rumah kosong.
Senja yang pelan-pelan datang tak mengusiknya, tak juga membuat posisinya ubah. Beberapa orang yang lewat sesekali bertanya meski ia abaikan. Pandangannya berubah kosong dan hampa, latar kosong, tali jemuran kosong, dan segala hal yang kosong.
“Gua kudu apa abis ini, Jim? Gua .. gua gimana?” mulai, setelah ia bermonolog di depan pagar dengan langit yang mulai gelap, tangisnya mulai tumpah.
“Bercanda aja kan? Nanti pulang kan? Nggak papa pelesiran, lu butuh hiburan juga, nggak melulu kudu sama gua, tapi, nanti pulang kan? Gua tungguin di sini, ayo ajak gua main sama Jung dan Jumah juga, please.. jangan kucilkan gua.. jangan campakkan gua, gua janji gak akan mata duitan lagi..” Dua tangan yang awalnya memeluk lutut, kini menggenggam besi pagar erat. Tubuhnya gemetar bersama tangis yang baru keluar setelah hampir dua jam ia duduk di sana.
“Jim.. gua ikut..”
IKUTI TERUS KESERUAN MEREKA DALAM NARASI HINGGA ENDING DENGAN BERGABUNG VIP. 7 MEMBER AKAN DI NARASIKAN SECARA EKSPLISIT TANPA METAFORA DI BAGIAN SPICY, HEHE, SALAM HANGAT DARI LEMON, BYE DAN SELAMAT DATANG DI RUMAHKU.
🍒Tags and warnings : NSFW, blood, knif, manipulation, etc.
🍒Not for minor
🍒Plagiarism of any kind, including but not limited to copying, pasting, recycling the idea, or reposting the content to another platform without proper attribution and permission is strictly prohibited. Please respect my time and effort. If you wish to share this work, please provide a link to this page or properly cite the source.
🍒Maafkan jika menemukan typo, selamat membaca.
Mimpi buruk lagi?
Aku meraup oksigen mirip orang kelaparan. Seperti ikan yang kembali di lempar ke air setelah terpapar udara — terengah-engah, namun tetap hidup. Masih begitu segar, bagaimana dua tangan besar memblokir aliran udara ke paru-paru. Seseorang mencekikku, aku bersumpah dan itu satu-satunya alasan aku terjaga entah dari tidur sepanjang apa.
Aku tidak ingat berapa lama aku terbaring. Kepalaku sakit dan tiap kubuka kelopak mataku yang kelewat berat, kepalaku pusing.
Lagi-lagi hanya Lucas dengan senyum tulusnya. Kurasakan tangan lembut membelai kepalaku dan sesekali menyeka keringat pada pelipis yang berjatuhan. Rasanya gerah sekaligus dingin. Aku tahu tubuhku tidak baik-baik saja.
“Apa aku sakit lagi?” Suaraku parau, tenggorokanku benar-benar sakit dan setelah ini, aku akan memeriksa cermin untuk memastikan tidak ada tanda kekerasan–bekas cekikan dan meyakini bahwa aku mimpi. Benar, hanya mimpi.
Lucas mengangguk. Kulihat gurat khawatir pada wajah tampannya.
Sebenarnya, aku ini kenapa? Aku merasa bersalah pada suamiku ketika yang kulakukan akhir-akhir ini hanya terbaring. Dan ketika bangun, yang kuingat hanya ingatan jauh sebelum hari ini datang. Lalu kembali terbaring, dan kembali pada ingatan aneh. Aku merasa seperti orang gila–membutuhkan bantuan ahli jiwa. Aku mengalami halusinasi dan delusi secara bersamaan. Sementara Lucas hanya merawatku dengan telaten. Seharusnya dia membawaku ke psikolog atau sejenis. Ku pikir dia yang paling tahu.
Selang infus membebat tanganku hingga darah naik. Sudah berapa lama cairan itu masuk dalam tubuhku? Berapa lama aku tidur? Apa yang terjadi?
Lucas membantuku bangun. Pria itu membuat tumpukkan bantal pada kepala ranjang agar aku nyaman bersandar di sana. Lalu kembali mengusap rambutku.
“Makan? Aku sudah membuatkanmu makan malam” Bariton merdu mengalun dalam rungu. Aku menatapnya sekali lagi, mencari celah di antara wajah tampan tanpa sela. Apa kekurangannya? Kebaikan apa yang kulakukan hingga memiliki suami sebaik Lucas? Aku tersenyum diantara beratnya kepala, diantara pegal-pegal dan pinggang yang sakit.
Kamar pengantin sudah tak lagi sama.
Sprei yang kemarin berwarna merah menyala, kini berganti menjadi seputih salju. Kulihat potret pernikahan kami dalam bingkai usang sederhana, berdiri doyong di antara pigura–asing yang tak kutahu apa.
Kulihat dalam balutan gaun putih, rambut merahku menyala bersama senyum gembira. Aku tak akan berekspektasi macam-macam tentang bagaimana Lucas menginterpretasikan rasa bahagianya. Pria itu hanya memasang wajah datar dalam potret, di rumah dan di mana pun. Sejauh ingatanku tentangnya.
Lalu api berkobar dari pemanas alami ruangan. Membakar satu balok yang terlihat sedikit lagi tanpa sisa, sebelum penelitianku pada ruang buyar karena nampan berisi aneka ragam masakan terhidang. Lucas membawa meja kecil tepat di hadapanku.
“Makan, aku akan mengajakmu jalan-jalan jika tenagamu pulih. Kamu terlalu banyak berbaring karena sakit. Aku akan menggendongmu untuk melihat betapa indah bulan malam ini” Ada kesedihan tiap kata yang dilontarkan. Jujur saja, aku merasa bersalah dan ingin menangis.
“Mau di suapi?” Aku mendongak saat Lucas menawari. Kepalaku kontan menggeleng. Hati-hati, kumasukkan potongan daging bersama nasi hangat serta sup ikan dengan asap yang mengeluarkan aroma nikmat. Bahkan mulutku rasanya kaku saat mengunyah.
Ini makanan terenak. Aku lupa rasa masakan orang lain selain dari tangan tampan milik suamiku. Lucas mengerjakan segalanya sementara aku hanya merebah seperti orang lumpuh dengan isi kepala acak-acakan.
Dan memperhatikanku sambil tersenyum. Atau hanya perasaanku saja? Kudongakkan kepala untuk mendapatkan jawabannya.
Lucas benar tersenyum.
Rasanya, ketampanan itu seakan membuatku tersedak.
“Kamu cantik sekali” pria itu berbisik. “Aku selalu suka Anyelir merah yang kotor” Lontaran Lucas yang tiba-tiba membuatku tersenyum meski tak sepenuhnya menangkap arti dari Anyelir merah yang kotor. Atau memang tubuhku bau dan dekil? Aku tidak ingat kapan terakhir kali mandi dan kapan aku melihat matahari.
“Aku akan mandi setelah ini. Setelah makan, tubuhku membaik” Aku mencicit sembari memasukkan potongan daging lagi.
“Pelan-pelan saja”
“Hmm”
Aku fokus pada suapan demi suapan meski sesekali kulabuhkan pandangan pada pria tampan yang kini membuka bajunya. Lucas mengganti pakaian sementara aku menunduk karena malu.
Ini tidak wajar dan aneh. Aku bahkan tidak ingat sudah berapa lama kami menikah. Aku lupa kapan malam pertama kami–bahkan bagaimana kemanisan sebelum meresmikan hubungan ini. Aku hanya tahu Lucas suamiku dan kami saling mencintai.
Kami pasangan bahagia.
Dan Lucas mencintaiku.
Hanya itu saja
“Aku akan mandi juga”
Kusodorkan meja kecil padanya. Semua masakan yang tersaji habis ludes sementara Lucas tersenyum melihatnya.
“Aku akan memandikanmu”
“Aku tidak–maksudku, aku ingin mandi sendiri. Hanya tolong lepaskan infus? Aku merasa sehat dan baik-baik saja” Dan itu serius, aku tidak sakit kepala, tidak pegal-pegal dan pinggangku tak lagi sakit. Ini terlalu cepat untuk pereda nyeri yang bahkan belum kutelan.
Lucas menaikkan sebelah alisnya. Melihatku agak lama dengan tatapan seperti biasa. Lalu mulai membuka selang infus sebelum melangkah menjauh membawa bekas makanku.
Rasanya seperti terbebas setelah dibelenggu lama.
Selang infus. Aku tidak ingat, namun rasanya muak dengan benda itu. Tentu saja dengan alasan yang juga tak begitu ku mengerti.
Saat ku rentangkan tangan, kurasakan kehangatan terpancar dari perapian yang kontan merambat hingga dada. Oksigen di ruang sama–seperti ketika aku membuka mata, namun tak kutangkap untuk alasan–mengapa susunan proton, elektron dan neutron yang reaktif terhadap perasaanku yang menghangat. Itu mustahil dan tidak masuk akal.
Aku menyukai vibrasi ini.
Lalu kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, meninggalkan Lucas yang secepat kilat sudah kembali ke ranjang sembari memperhatikanku seakan aku akan berlari darinya.
────୨ৎ────
Aku berusaha fokus pada perjalanan kami.
Bukan, bukan karena kepalaku sakit atau pegal-pegal. Namun kenyataan jika leherku memiliki tanda melingkar kemerahan bekas cekikan atau sesuatu sejenis. Awalnya ingin ku abaikan karena biasanya, setelah bangkit dari tidur panjang, aku akan memiliki bekas memar pada area-area tertentu. Seperti kepalaku yang memiliki bekas jahitan, punggungku yang bengkak, pergelangan tangan seperti bekas belenggu.
Namun, kali ini sesuatu mengusik pikiranku.
Saat kutanya pada Lucas, suamiku akan mengatakan jika aku mencekik diriku sendiri, atau jatuh dari ranjang dan melakukan hal-hal di luar nalar sembari menutup mata alias tanpa kesadaran.
Lontaran itu diperkuat dengan bukti video CCTV yang aku sendiri tidak begitu yakin karena resolusi menyedihkan di perparah mataku–seperti mengalami penurunan.
Aku tidak tahu.
Jujur saja aku tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhku. Selama aku sadar dan otakku bekerja, selama itu juga aku memikirkan apa yang terjadi.
Ada apa? Apa yang kulewatkan dan kenapa tubuhku mudah jatuh? Lalu ku kumpulkan kepingan-kepingan ingatan dan berharap dapat menyusunnya seperti puzzle yang rumit. Namun nihil.
“Kamu mikirin apa?” Suara Lucas membuyarkan keliaran isi kepalaku. Tanganku masih berada di antara leher–membuat gerakkan seperti orang mencekik karena sungguh, itu masih terasa menyakitkan, bekas kemerahan itu.
Aku menggeleng mereaksi pertanyaannya.
“Kita akan kemana, Lucas?”
Dan kulihat keningnya mengerut sedikit “Bagaimana dengan pantai? Pantai malam sangat indah dan menenangkan” Imbuhnya pelan. Di Musim panas, pantai bisa menjadi opsi romantis bagi pasangan suami istri–terlebih status pengantin baru seakan menciptakan momen dari riuh ombak yang membawa angin terdengar syahdu.
“Itu terdengar romantis”
“Romantis, benar” Lucas mengulas senyum.
Lalu kutatap lekat eksistensinya dari samping. Kuperhatikan bagaimana wajah itu terpahat maha sempurna sembari lantunan syukur. Aku beruntung.
Hanya itu. Malam ini, akan ku tepis ingatan tentang bagaimana kondisi ingatan yang berantakan atau bekas luka. Aku ingin tertawa atau setidaknya merasakan hangat dekap pria tampan yang menyandang status suamiku.
Meski dengan bekas cekikan aneh, kepala bekas jahitan atau memar.
Aku ingin tertawa malam ini.
Kami tidak banyak mengobrol layaknya suami istri yang saling mencintai. Yang kulihat hanya wajah Lucas yang datar–fokus pada jalanan tanpa berencana memecah keheningan bercampur canggung meski dengan suara musik atau paling tidak instrumental.
Deru mesin menjadi satu-satunya latar. Aku bahkan tidak tahu letak ponsel.
“Lucas”
“Yes, sweetheart”
“Ini tanggal berapa?”
Lalu Lucas menatap mataku beberapa detik sebelum kembali fokus pada jalanan. “Tanggal 8 Mei”
“Ah..” Aku menggigit ujung ibu jari. Sebenarnya, aku tidak tahu lagi interval antara sakitku minggu kemarin dan hari ini. Rasanya pusing.
“Lucas”
“Yes, baby”
“Apa kamu melihat ponselku?”
“Ponselmu ada dalam lemari, aku lupa memberikannya”
Aku mengangguk lagi untuk jawaban itu. Setelahnya, semua hal benar-benar lengang tanpa ada percakapan sama sekali. Aku mulai mengantuk dan tidak berencana bertanya berapa lama lagi perjalanan menuju pantai indah dan romantis. Pelan-pelan kutanggalkan kesadaran sembari menyandar pada belakang kursi.
Begini saja nyaman.
────୨ৎ────
Lucas menggoncang tubuhku lembut. Kadang aku merasakan lidahnya menyapu bibirku sembari menggelitik ketiak pelan. Aku benar-benar membuka mata dan melihat senyumnya cerah–yang bahkan tak ingat kapan terakhir aku melihat ulasan itu terpatri begitu tulus dan indah.
“Apa kamu tidak ingin bangun? Lihat! Pantai di luar benar-benar memukau” Suaranya semangat saat kaca jendela terbuka lebar. Angin menghantam bagian samping rambutnya yang meliuk seiring pawana menerpa.
“Benarkah?” Aku mengucek mata untuk mendapatkan kesadaran penuh. Kulabuhkan tatapan pada hamparan luas–pasir putih — terasa begitu hangat meski berkontra dengan ombak yang membawa angin besar.
Wajahku tersapu dan aku memejamkan mata sembari menghirup aroma garam yang kuat. Ini menyenangkan.
Benar-benar menyenangkan hingga ingin menangis — lagi-lagi tanpa alasan jelas.
“Alam menyajikan pemandangan seindah ini sementara aku hanya terbaring sakit di kamar. Oh! Itu menyedihkan” Kataku sambil terisak. Aku menatap Lucas yang mendengarkan ocehanku.
“Kamu sembuh, kamu baik-baik saja, sweetheart, dan akan selamanya begitu” Imbuhnya pelan. Lucas menggiringku pada dekap lembut. Lalu kurasakan aroma musk bercampur citrus dari tubuhnya. Ini juga menciptakan vibrasi aneh yang lagi-lagi gagal ku deskripsikan.
“Apa kamu akan menangis lebih lama? Alam mengetuk-ngetuk kaca meminta kita menjelajah lebih bebas. Ayo keluar” Tangan besarnya menyapu rambut merahku yang berkibar. Lalu kurasakan lagi kecupan sekilas di pucuk kepalaku.
Di detik ini, aku merasa jika kami adalah suami istri sungguhan–dengan perasaan dicintai. Itu membuatku nyaman.
“Aku membawa karpet, makanan, dan baju ganti. Ayo lakukan hal menyenangkan, Anyelir”
Aku mengerat, lalu mendongak–mengecup bibirnya sekilas sebelum mengusap air mataku kasar.
“Ayo keluar”
Pantai malam dengan pendar lampu di sepanjang garis pantai mendeskripsikan romantisme panorama yang berkolase dengan artian harfiah antara suami dan istri — bergandengan tangan–melawan arus angin.
Gaun malam yang kukenakan meliuk-liuk searah angin bersama rambut yang berkali-kali menghantam lengan atas suamiku. Lucas mengusapnya sesekali lalu menyerah pada angin dan tidak lagi terganggu ketika merah itu bahkan menutupi wajahnya.
“Dimana kita akan menggelar karpet?” Suaraku kalah oleh debur ombak dan angin yang menghantam bersamaan. Namun Lucas mendengarku dengan baik.
“Di dekat tempat pertama kali kita datang. Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar, sayang”
Aku mengangguk sebentar. Kurasakan tangan besar dan hangat mengerat pada jemari kecilku. Genggaman itu menulari sampai hati. Aku benar-benar bahagia–bahkan sulit mengatupkan rahang meski gigiku kering karena angin.
Langkahku terhenti ketika Lucas menahannya.
Diantara batang pohon kelapa sepanjang garis, di antara kelap-kelip bintang di langit, lalu pendar-pendar lampu nelayan sepanjang mata memandang dan aroma laut di musim panas. Aku bersumpah jika jantungku bertalu-talu dengan ritme aneh bersama perut yang tergelitik menyenangkan.
Dan dari semua hal, bagian dimana wajah Lucas terlihat jutaan kali lebih tampan di bawah sinar lampu terang mengalahkan segala hal yang terekam retina malam ini. Aku bersumpah tidak ada yang lebih indah dari wajah itu. Wajah Lucas, suamiku.
Dua tangannya menangkup rahangku. Mendongakkan wajah sebelum menyambut bibirku lembut. Ini mendebarkan lebih dari apa pun.
Saat lidah lembutnya menyapu rongga. Kurasakan benda itu menari-nari–menggelitik mulutku menyenangkan. Membelit lidahku, lidah kami dan kami beradu dalam saliva saling berseberangan nakal.
Lucas mengeratkan dekapan. Meremas bokongku pelan-pelan dengan ciuman yang makin melesak dalam. Aku melenguh di antara stimulasi yang diberikan. Bagaimana benda itu menekan tiap titik sensitif pada rongga mulutku, atau bagaimana Lucas bernafas diantara oksigen yang seakan menipis.
Aku mencari keseimbangan diantara limbung karena aktivitas itu tiba-tiba membuat kakiku seperti permen jeli.
Aku tidak yakin. Maksudku, kami sudah menikah. Kami mungkin saja pernah melakukan hal lebih intim dari ini. Benar, kan? Dan bagian menyedihkannya adalah aku tidak ingat.
Maka, perlakuan sederhana seperti berciuman di pinggir pantai membuatku seperti akan melayang saking senangnya. Lucas menahan tubuhku sepenuhnya dengan tangan besar yang melingkar di pinggangku.
Aku berdebar entah untuk keberapa kali. Ini memalukan sekaligus menyenangkan.
“Kamu nggak papa?” Tanyanya kemudian. Lucas melepas pagutan kami saat aku benar-benar seperti kehabisan nafas. Dan pria itu bertingkah sopan–seperti bukan penyebab dari aku meraup oksigen mirip orang lapar.
Aku menggeleng.
“Ayo makan sesuatu” Lucas mengangkat tubuhku dengan berat badan yang makin menghilang. Aku yakin, terakhir aku menimbang, berat badanku berkisar pada angka 45 atau sekitar itu. Namun saat ku injakkan kaki pada alat digital massa tubuh, aku menemukan angka 36 di sana. Itu benar-benar drastis meski aku juga tidak ingat kapan berat badanku 45. Seperti massa tubuh ideal–seperti biasa dan oh! Entah ingatan dari mana. Atau aku hanya tersugesti masa lalu, atau itu terjadi 10 tahun lalu. Aku tidak ingat.
“Aku merasa berat badanku makin menipis” Desisku lembut. Aku menyumpal diantara ketiak.
“Itu kabar baik bagi kebanyakan wanita” Lucas mencium pucuk kepalaku sekali lagi.
“Kamu benar, tapi aku merasa kehilangan berat badan hingga membuatku tidak cantik–kamu mengerti maksudku”
“Anyelir selalu cantik. Istriku selalu cantik dan akan terus begitu”
“Kadang aku tidak bisa membedakan antara pujian tulus atau hanya ingin menyenangkan hatiku saja”
“Aku bersumpah, sayang. Kamu sangat cantik asal rambutmu merah”
“Rambutku?”
“Hm.. aku mencintaimu”
Aku tidak menjawab lagi. Lucas mengatakannya dengan ekspresi yang–selalu gagal ku prediksi. Tepat saat langkahnya terhenti, lalu tubuhku di turunkan hati-hati.
“Tunggu sebentar, aku akan mengambil karpet dan yang lainnya”
Satu anggukan menjadi langkah besarnya. Ku pijakkan kaki pada pasir lembut yang terasa menyenangkan. Sesekali kubenamkan dua kaki dalam-dalam lalu pura-pura kabur ketika ombak datang.
Ombak merangkak berusaha menggapai meski tak sampai. Aku tertawa untuk alasan sederhana.
Atau ketika satu kerang terdampar bersama debur besar.
Kerang putih membentuk–mirip ombak pada bagian bibirnya.
Apa kerang hidup berkelompok? Atau mandiri? Kenapa sendirian malam-malam dan tersesat hingga pesisir?
Aku mengedar pada Lucas saat pria itu memanggil namaku berulang. Kutangkap karpet yang sudah terpasang sempurna–bersama makanan yang disusun begitu pas. Aku melengkungkan senyum sembari menggenggam satu kerang yang ikut terguncang dalam erat diantara jeriji.
“Duduk di sini, kita akan minum bersama”
Aku mengangguk menurutinya.
“Lucas”
“Yes, baby girl”
“Apa kerang hewan yang berkelompok?”
Lucas menatap ke arahku sebentar. Tangannya sibuk mengisi gelas tinggi dengan wine berwarna merah tua.
“Kerang hidup berkelompok dalam beberapa konteks, tapi secara umum, kerang adalah hewan laut yang hidup dalam koloni atau komunitas. Tapi perlu diingat bahwa kerang juga dapat hidup sendiri tergantung pada spesies dan lingkungan hidupnya”
Aku membuka genggaman tanganku. Menunjukkan pada Lucas satu kerang yang tersesat hingga berpisah dengan koloninya atau memang ia hidup secara mandiri, luntang-lantung mirip dalam gambaran romantisasi menyedihkan. Isi kepalaku agak sinting.
“Apa spesies ini hidup mandiri, atau berkelompok?”
Lagi, Lucas hanya melihat sekilas lalu tersenyum formal.
“Kerang berwarna putih atau memiliki berbagai warna dan bentuk tergantung pada spesiesnya. Tapi, warna kerang nggak menentukan apakah mereka berkelompok atau tidak. Yang penting adalah perilaku dan habitat kerang itu sendiri”
Aku mengernyit. Lucas memberikan jawaban yang kelewat baku hingga aku sulit mencerna.
“Lucas, tidak bisakah kamu menjelaskan secara sederhana? Menggunakan bahasa bayi”
Pria itu tertawa sekilas–yang dimataku tidak seperti orang yang menanggapi hal lucu.
“Dalam ekosistem laut, kerang berperan penting sebagai penyaring air dan sumber makanan bagi hewan lain. Mereka hidup berkelompok untuk meningkatkan peluang bertahan hidup dan reproduksi”
Aku menangguk pura-pura paham. Meski yang kutangkap adalah kerang yang harusnya bersama koloninya untuk menciptakan peluang hidup yang lebih tinggi. Aku kembali meratapi bongkahan keras berisi binatang lunak di dalamnya.
Oh, apa kamu juga hidup menyedihkan? Apa kamu dikucilkan lalu terdampar tak tentu arah? Apa ingatanmu juga berantakan? Apa kamu yatim piatu dan hidup sakit-sakitan?
Aku meringis.
Seperti aku sedang dalam sensitivitas yang tinggi.
“Anyelir, apa kamu menangis lagi?”
Aku kaget karena Lucas menyentuhku dengan gelas berisi minuman. Kusapu air mata di pelupuk hasil kerja keras otakku menginterpretasi hal-hal konyol. Sepertinya menyakiti diri sendiri menjadi bagian dari hal lumrah yang kulakukan selagi kesadaranku sepenuhnya ku kendalikan.
Ini menggelikan.
“Apa kamu menangisi kerang?” Lucas tertawa kecil. Ku raih gelas tinggi, lalu memicing ke arahnya tak terima.
“Ini menyedihkan”
“Apanya, sayang?”
“Kerang”
“Kenapa?”
“Kupikir peluang hidupnya rendah setelah berpisah dengan koloninya”
Lucas menggeleng. Lalu mengusap rambutku sayang sebelum mencium helaian yang menjuntai panjang.
“Dia bisa hidup secara mandiri. Justru saat kamu membawanya dalam genggaman, dalam erat tanganmu peluang hidupnya makin terkikis hilang”
“Benarkah?” Aku membulatkan pupil.
“Hmm”
“Aku harus melepaskannya ke air”
“Itu keputusan bijak, little baby”
Lalu ku letakkan gelas berisi wine sembarangan. Kulangkahkan kaki kembali pada ombak yang–awalnya membawa kerang itu padaku.
“Ah, aku memang bodoh. Aku tidak tahu sejak kapan aku sebodoh ini dan tidak mengerti tentang hal-hal di bumi. Aku bahkan tidak ingat hari. Aku tidak tahu mengapa aku sudah menikah, dan berapa usiaku sekarang. Aku tidak ingat, kerang. Jadi maafkan aku yang tidak tahu”
Kulepaskan pelan-pelan. Kerang yang bergeming.
Apa harus kulempar jauh?
Apa dia akan mati karena tekanan udara dan massa air?
Sepertinya aku hanya akan menghabiskan waktu menangisi kerang dengan mempertegas kebodohanku. Seharusnya aku bersama Lucas dan kembali menciptakan kupu-kupu di perut.
“Sudah selesai dengan kerang?”
Lucas tersenyum lagi. Aku mengangguk sembari menyapu sisa basah pada mataku.
“Kamu sangat perasa. Apa kamu selalu seperti ini sebelumnya?” Lucas melempar pertanyaan yang juga tak mampu ku jawab. Aku tidak tahu seperti apa perangaiku sebelum ini. Sebelum rebahku lama dan sakit-sakitan yang membuat ingatanku buyar dan cenderung hilang.
“Aku tidak tahu” Jawabku jujur.
“Ah, benar”
Dan senyum itu tak hengkang. Kadang, aku tak mampu mengartikan senyumnya yang berbeda pada tiap konteks atau situasi. Aku hanya melihat wajah tampan yang kupuja diam-diam seperti gadis bodoh yang jatuh cinta pada pemuda tampan.
Dia suamiku, meski aku merasa ada sekat tinggi yang tak mampu kulampaui meski ingin.
“Minum lah, kamu belum pernah meminumnya bahkan di usia legal” Lucas mengangkat gelasku yang sempat kuabaikan. Aku mengangguk–menerimanya ramah.
“Apa aku akan kehilangan kesadaran setelah minum ini? Seperti ingatan pada orang-orang yang meneguk alkohol lalu menjadi agresif”
Lucas menatapku lagi “Bisa iya bisa tidak, tergantung pada tiap manusia”
Aku kembali menyodorkan gelas itu “Aku tidak mau menjadi tidak sadar dan berperilaku di luar kendali. Aku ingin hidup. Kurasa, sakit-sakitan lalu terbaring di atas ranjang hingga berminggu-minggu sudah cukup membuatku menyedihkan. Mengapa aku harus meminum cairan yang membuat kesadaranku berantakan?”
Lucas tertawa. Kali ini dengan suara lebih keras hingga matanya menghilang. Kurasakan tawa sesungguhnya ketimbang beberapa waktu yang terasa seperti dipaksakan.
“Kamu gadis bodoh, Anyelir. Aku bersumpah akan mengganti isi kepalamu. Aku menyukaimu, tapi tidak suka isi kepalamu, kamu bodoh dan dungu. Isi kepalamu kosong dan benar-benar menyedihkan”
Lucas mengatakannya campur tertawa. Aku bingung harus mereaksinya dengan apa. Itu penghinaan, namun karena tertawa, aku menganggapnya bercanda. Namun terlalu pedih untuk bercanda meski aku mengakui jika itu fakta.
“Benarkah? Ah, aku terluka” Kupegang dadaku dan meringis.
“Eh, aku menyakitimu? Aku minta maaf”
“Tidak perlu, itu kenyataan”
“Tapi kamu menggemaskan, Anyelir. Terlepas dari kebodohan atau isi kepalamu yang dungu. Kamu lucu”
Aku mendengus “Kata lucu adalah pilihan yang tepat untuk menutupi bodoh. Kadang, orang cenderung dianggap lucu saat kebodohannya di level tertentu” Aku meraih apel yang tergeletak di samping Lucas. Menggigitnya kuat tanpa melihat ke arah pria yang sejak tadi tertawa.
“Anyelir, apa kamu marah?”
“Aku tidak”
“Kamu marah”
“Aku tidak, Lucas. Aku sudah dewasa dan paham. Aku bahkan tidak ingat nama lengkapku. Jangankan ilmu sains atau fisika kimia. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa”
Lucas diam. Pria itu menyesap wine dan menatap lurus pada hamparan lautan. Aku juga tidak berencana mendebatnya atau memaparkan alasan mengapa aku begini-begitu. Aku bahkan sakit kepala dalam waktu lama untuk mengingat-ingat kapan aku periode meski tetap gagal.
“Anyelir..”
“Hum?”
“Ingin melakukan hal menyenangkan?”
Aku tidak menjawab namun mengangguk yang jelas terlihat olehnya.
“Kemarilah, duduk di pangkuanku”
Aku diam sebentar, kuhabiskan apel dalam genggaman buru-buru. Entah kenapa, entah apa alasannya, tapi aku selalu menghabiskan makanan yang sudah kumulai. Aku selalu seperti itu meski tidak tahu sejak kapan.
Setelah apel habis. Kulangkahkan kaki dan berdiri di hadapannya.
Menghalangi pemandangannya pada hamparan pasir putih di laut.
Lucas menepuk pahanya berulang, memintaku duduk dipangkuannya.
“Kamu cantik”
Kata pertama yang terlontar setelah aku berada diantara dua pahanya. Mengalungkan tangan pada leher lalu kami bertatapan lama.
“Katakan apa yang kamu pikirkan, sweetheart” Lucas berbisik. Dua tangannya menyangga di belakang–menatapku dengan mata teduh. Meski jika ku selami–aku akan menemukan bagian lain pada pupil itu.
Aku tidak yakin. Seperti kehidupan gelap dan misterius. Aku selalu takut dan cinta pada Lucas secara bersamaan.
“Aku tidak memikirkan banyak hal. Aku hanya bingung dan kadang takut. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhku. Apa yang membuat leherku memiliki bekas cekikan, apa yang membuat kepalaku memiliki bekas jahitan. Atau memar yang nyaris memenuhi badan. Aku masih tidak yakin jika aku melakukannya sendiri. Maaf Lucas, maaf jika pikiranku seperti menyudutkanmu”
“Pikiran seperti itu wajar. Mungkin aku akan melakukan hal sama jika mengalaminya”
“Aku hanya ingin sehat dengan kehidupan normal. Aku selalu pingsan dan tidak mengingat apapun setelahnya. Aku melupakan banyak hal seperti memori dalam otakku diretas secara ilegal”
“Itu terdengar mengerikan” Lucas menanggapi.
“Apa aku membuatmu tersinggung?”
“Untuk apa? Apa aku tampak seperti seseorang yang melakukan hal itu pada istriku?”
Aku menggeleng sekaligus lega. Lucas memintaku memaparkan isi kepala–dan sudah seharusnya dia tidak berspekulasi aneh tentang isi kepalaku.
“Lalu, yang kamu pikirkan, Lucas?”
“Aku? Apa kamu ingin tahu?”
Aku mengangguk.
“Aku memikirkan cara agar Anyelir tidak sakit. Agar istriku menjadi wanita cantik dan pintar, lalu tiap komponen pada tubuhnya terjalin dari perpaduan tubuh-tubuh indah yang dirangkai sempurna. Aku ingin Anyelir yang sempurna”
Aku mengernyit. Kepalaku berpikir keras–memperoses maksud dari kata perpaduan dari tubuh-tubuh indah yang dirangkai.
“Jujur saja, Lucas. Aku gagal mencerna”
Dan pria itu tertawa lagi. Tertawa lebih kencang dari sebelumnya hingga tubuhku ikut terguncang di atas dua pahanya. Kulihat air matanya jatuh karena tawa yang menggelegar. Di detik itu, aku merasakan vibrasi aneh dan tidak nyaman.
“Lucas, kamu membuatku takut”
────୨ৎ────
Kami tidak melakukan hal yang di lakukan suami istri. Maksudku, bercinta.
Lucas membawaku naik ke ranjang, menyelimuti tubuhku lalu melabuhkan ciuman sekilas pada kening–seperti aku adalah anak kecil alih-alih istrinya.
Kami baru saja kembali dan Lucas tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku tidak mengerti apa hanya aku yang berharap–ketika sepasang suami istri atau salah satunya jatuh sakit dalam kurun lama — kupikir mereka akan menghabiskan waktu dengan hal yang lebih intim. Namun Lucas tidak.
Apa hanya aku yang menginginkannya?
Kulihat punggungnya yang menjauh. Sudah pukul dua dini hari sementara Lucas mencangking ransel setelah berganti pakaian.
Pria itu bahkan tidak pamit.
Meninggalkanku yang mematung menatap langit-langit kamar. Plafon dengan spektrum yang tak yakin jika aku menyebut satu warna. Derap langkah yang makin menjauh dengan akhir pintu yang terkunci.
Aku merasa kosong untuk alasan yang sepele.
Kadang, aku merasa begitu dekat dengannya.
Lalu kami seperti orang asing.
Dan dalam interval pendek, Lucas bertingkah seperti seorang ayah. Beberapa saat kemudian bisa jadi perangainya mirip asing yang benar-benar tak berani kuraba.
Lucas..
Aku tidak tahu.
Aku mencintainya, namun selaras dengan–aku harus menghabiskan makananku.
Seperti tertanam dan sebuah dosa besar jika dilanggar.
Ketetapan dan hukuman. Aku merasa seperti akan sakit jika tidak menghabiskan makananku. Seperti aku adalah seorang pengkhianat keji saat tidak mencintainya.
Aku gusar.
Sepanjang perjalanan dari laut, yang kulakukan adalah tidur. Jadi tidak ada alasan lain mengapa saat ini, kedua bola mataku cerah — enggan meninggalkan kesadaran.
Perutku tidak lapar, aku juga sedang tidak ingin buang air. Lalu yang kuingat ketika Lucas mengatakan ponselku berada dalam lemari. Aku hanya ingin tahu kabar dunia–atau lebih sederhana seperti siapa nama lengkapku, kapan aku lahir dan kapan aku periode. Aku benar-benar lupa.
Ini menyedihkan.
Kuseret tungkai yang mulai kehilangan tenaga. Aku juga tidak tahu alasan mengapa kakiku kian lemas–seperti ketika aku memiliki tenaga mirip baterai dengan milliampere yang terbatas.
Tubuhku melemah untuk alasan tidak jelas.
Lagi dan lagi.
Namun kupaksa derap hingga beberapa meter sampai lemari. Tentu saja dengan pegangan kuat pada apa pun yang bisa membantu jejakku lebih tegak. Aku benci kondisi ini.
Lemari tidak di kunci. Itu adalah kebahagiaan kecil di tengah deru nafasku yang mulai sesak.
Aku melihat tumpukkan baju Lucas yang tersusun rapi. Sangat rapi hingga aku terkagum sebentar.
Semuanya tersusun berdasarkan warna dengan lipatan serupa. Benar-benar tanpa celah. Kupikir Lucas adalah pribadi luar biasa di samping ketampanannya yang tidak bercanda. Berapa kali aku mengagumi pria itu meski sesekali terbesit ketakutan tanpa alasan lagi.
Aku memiliki suami yang sempurna.
Berhenti pada kekaguman dan kembali pada rencana awal mencari ponsel. Namun, alih-alih benda pipih dengan warna yang aku sendiri lupa, perhatianku kembali teralih pada map besar berwarna hitam berkilau. Bentuknya kotak sempurna–dan setelah ditelaah lebih teliti, itu bukan map, melainkan kotak dengan sampul mirip map.
Seperti dokumen penting atau perkumpulan kertas seperti ijazah, akte kelahiran atau sejenis. Itu spekulasi. Aku belum membukanya.
Aku membawanya ke ranjang susah payah. Melupakan ponsel yang tak sempat kucari. Lebih penasaran pada isi kotak hitam dan berharap dapat menemukan biodata diri. Seperti nama lengkapku, siapa orang tuaku, atau kapan terakhir kali aku menempuh pendidikan dan apa yang kulakukan selama ini.
Meski dengan merangkak, aku berhasil mencapai ranjang dengan tidak sabar.
Pelan-pelan kubuka kotak hitam–cantik meski aneh untuk ujaran itu — aku mengklasifikasikannya sebagai kotak bergender pria karena warna gelap. mungkin karena warna hitam — glossy serta bersih. Kotak biasa yang dianggap mewah hanya karena bersih. Mengapa aku sangat naif?
Senyumku hilang saat kotak terbuka dan memperlihatkan biodata orang lain alih-alih diri sendiri.
Tunggu..
Ini bukan orang lain.
Kuamati gambar pria kecil dengan usia berkisar enam atau tujuh tahun menggunakan seragam sekolah dasar.
“Jaka Dirgantara, 14 April 1990, Jakarta”
Itu gambar Lucas. Aku bersumpah. Dari semua komponen wajah, bibirnya lah yang paling menyita perhatian karena bibir Lucas memiliki bentuk paling cantik diantara seluruh bagian wajahnya setelah hidung. Anak kecil berkacamata dengan sudut mata miring dan meringis.
Itu Lucas
Itu Lucas
Aku menahan nafas sambil membalik lembaran.
“Jaka Dirgantara SMPN 131 Jakarta 2002”
“Jaka Dirgantara; Lulus, SMPN 131 Jakarta 2005 Terbaik nomor satu dari 25 siswa”
“Jaka Dirgantara SMA Labschool Kebayoran 2005”
“Jaka Dirgantara; Lulus, SMA Labschool Kebayoran 2008 Terbaik nomor satu dari 28 siswa”
“Jaka Dirgantara Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Kuliah teori; Kampus UI Salemba (Jakarta Pusat) Praktik Klinik; Rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)”
“Jaka Dirgantara; Izin praktik internship 2016, membuka praktik di rumah selama 1,5 tahun”
“Jaka Dirgantara Mahasiswa Pendidikan Spesialis Ilmu kedokteran Jiwa (Sp.KJ) 2016–2020”
Lalu, saat kubuka lembaran yang nyaris habis. Kutemukan satu keterangan medis lain yang membuatku kembali mengernyit–oh! Mataku berat, namun fakta ini begitu menyita perhatian. Aku mengantuk dan penasaran di waktu bersamaan.
“Jaka Dirgantara Dissociative Identity Disorder (DID); Positif. Gangguan Identitas Disosiatif adalah kondisi kejiwaan dimana seseorang memiliki dua atau lebih identitas atau kepribadian yang berada dalam tubuhnya”
Ku balik sekali lagi lembaran yang terasa makin berat.
“Jaka Dirgantara dan Lucas Grey”
Lalu aku melihat biodata Lucas. Pria yang menyandang status sebagai suamiku.
“Lucas Grey Psikiatri”
“Jaka Dirgantara Dokter Ahli Bedah Saraf”
Aku tidak mengerti dengan fakta yang baru saja kuterima. Otakku merespons lambat sementara kantuk tidak lagi dapat kucegah. Aku benar-benar terjatuh–kehilangan kesadaran menindih kumpulan kertas yang kini berserakan.
────୨ৎ────
Di kota yang katanya tidak pernah tidur. Pada sudut yang lebih gelap dari permukaan, rahasia kadang lebih jujur dari manusia.
Tidak ada suara latar signifikan selain kipas angin yang tetap gagal menyejukkan. Satu dua tetes keringat merembes membuat garis pada pelipis turun hingga menetes. Sementara tangan lincah terlihat lihai merobek jaringan kulit hingga tulang untuk tercapai–komponen yang dituju.
Empat wanita cantik terbaring di atas brankar, sementara alat bantu kehidupan terpasang pada tiap orang.
Pria tampan yang terlihat berkeringat banyak. Wajahnya semangat meski sudah hampir dua belas jam berdiri di sana dengan istirahat seadanya.
Jaka memisahkan dua tangan wanita cantik pada brankar nomor satu, setelah berhasil melepas bagian tubuh serupa pada istrinya.
Ya, Anyelir terbaring tanpa tangan. Dan suaminya berencana mengganti dua tangannya dengan tangan milik gadis lain. Bukan apa-apa, Jaka hanya merasa tangan Anyelir kurang cantik.
Wanita di brankar satu. Tangannya sangat cantik dengan kuku kecil-kecil yang indah. Tiap permukaan telapak–terasa begitu halus saat di genggam, Jaka menemukannya saat sedang minum kopi di salah satu kafe saat ia pulang bekerja. Wanita itu mengajaknya berkenalan dengan sopan. Sejak saat itu Jaka jatuh cinta pada tangannya.
Dan rencananya baru bisa di realisasi saat wanita itu mengajaknya berkencan. Lalu membawanya pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ia hanya ingin istrinya memiliki tangan indah seperti milik wanita pada brankar satu.
Dan wanita pada brankar dua.
Wanita anggun yang memiliki mata biru yang anggun. Skleranya putih bersih dengan manik sebiru lautan. Tiap memandang, Jaka akan jatuh cinta–seperti ikut terseret dalam derasnya ombak di laut lepas. Pria itu hanya ingin istrinya memiliki mata biru yang cantik.
Dan wanita di brankar tiga.
Wanita yang tidak terlalu cantik namun memiliki otak dan pemahaman yang fantastis. Jaka menyukai pola pikir serta sudut pandangnya terhadap dunia. Wanita itu memiliki kemampuan berpikir di atas rata-rata gadis-gadis yang biasa ditemui. Tiap mereka mengobrol, wanita itu bisa membawa pembahasan mendalam yang sangat jarang ditemui pada orang-orang. Jaka jatuh cinta pada otaknya. Dan ingin Anyelir memiliki isi kepala seperti wanita brankar tiga.
Ini akan menjadi perpaduan sempurna.
Hanya perlu memodifikasi Anyelir untuk menjadi sempurna seperti harapannya.
Rambut merah dengan mata sebiru lautan. Lalu isi kepala cemerlang dan lebih waras menatap kehidupan seperti perspektifnya.
Seperti sudut pandangnya
Seperti keinginan.
Maka, berdiri selama kurang lebih 12 jam bukanlah sesuatu yang sulit untuk mencapai harapan serta memiliki istri yang sempurna. Jaka mencintainya. Baik Lucas maupun Jaka, dua pribadi itu mencintai Anyelir dan ingin wanita itu menjadi sempurna atas kesepakatan dua jiwa pada satu raga.
Lucas dan Jaka.
Pria itu terkekeh kadang-kadang, bermonolog dengan diri sendiri; jika dilihat dari mata umum. Meski sejatinya, ia bisa berkomunikasi dengan kepribadian yang lain.
Anyelir yang sempurna. Hasil perpaduan dari anggota tubuh dari wanita lain.
Menyambung tulang radius dan ulna dengan plat dan sekrup sebelum menyambung otot dan tendon yang berfungsi menggerakkan tangan. Jaka meletakkan mikroskop untuk melihat arteri–memastikan aliran darah bisa kembali lalu menyambung pada vena untuk aliran darah balik.
Hati-hati dan teliti membuatnya terkenal di kalangan para dokter-dokter senior. Image ramah dan cekatan, lalu mudah tersenyum dan yang terpenting adalah kelihaiannya memegang pisau bedah, Jaka berhasil membuat kehidupan kerjanya berjalan baik.
Lalu meneguk air mineral sebelum melanjutkan pada tahap berikutnya.
Pria itu menyeka keringat sebelum menyambung saraf sensorik dan motorik, ditutup dengan jahitan pada kulit dan menutup luka. Menyambung dua tangan biasanya membutuhkan waktu sekitar enam belas jam, Jaka tertawa saat berhasil menyelesaikan kurang dari itu.
Anyelir yang cantik.
Hanya perlu membedah kepala setelah kemarin berhasil memindahkan dua bola mata dan hari ini dua tangan rampung dalam kurun kurang dari prediksi.
────୨ৎ────
“Anyelir… sayang.. Kamu dengar aku?”
Tubuh terkulai di guncang lembut. Wanita ayu dengan tubuh penuh luka jahitan yang sudah mengering. Anyelir bernafas normal, detak jantung, fungsi organ, otak dan segala hal–semua berjalan sempurna sesuai harapannya. Sudah hampir satu bulan wanita itu terbaring tanpa kesadaran–menunggu pulih setelah melakukan operasi besar-besaran.
“Anyelir.. Sweetheart..”
Tidak ada tanda-tanda respons. Semua tes MRI, EEG, CT scan, normal. Reaksi tubuh stabil namun tidak ada aktivitas sadar dan Anyelir tidak merespons rangsangan kuat. Itu membuat Jaka frustasi.
“Jangan.. Jangan..” Lucas terisak sementara hatinya terluka.
Di kepalanya, pria itu sudah memiliki diagnosis akurat–jika melihat bagaimana Anyelir tidak sadar dalam kurun kelewat lama.
“Coma with no apparent cause”
Tubuh Anyelir terdiri dari potongan-potongan orang lain–tangan, mata, otak. Secara alami, tubuhnya mengalami ‘penolakan kesadaran’ seperti penolakan organ. Sistem saraf tidak bisa sinkron secara utuh karena konflik antara memori bawah sadar, DNA, dan identitas. Hasilnya, tubuh hidup. Sistem berjalan, namun tidak ada ‘pengemudi’ alias Anyelir sudah tidak ada.
Sudah berapa kali Jaka menstimulasinya dengan rangsangan kuat. Dari guncangan sederhana, hingga pengejut listrik-setrum ringan. Namun Anyelir tetap tidak ada.
Padahal semua hal sudah di perhitungkan. Pria itu melakukan yang terbaik hingga tingkat keberhasilan mencapai sembilan puluh persen. Namun sial–entah Anyelir pelacur kecil itu tak berminat hidup lama. Rasanya menjengkelkan.
Rasanya jengkel.
Sakit hati.
Ia mencintai Anyelir, mungkin?
Sepuluh tahun kebersamaan tiba-tiba terputar mirip CD bajakan yang acak. Meski air mata berasal dari jiwa entah yang mana. Bukan, Lucas atau Jaka bukan hanya sedang menangisi Anyelir. Setelah memvalidasi kesakitan pada dada, pria itu menyimpulkan–air matanya bukan untuk Anyelir, bukan sepenuhnya. Namun menangisi kemampuannya yang tak kunjung meningkat. Sudah mengikuti berbagai operasi kepala, lalu mencari tahu tentang operasi mata dan bermodal melihat tutorial dari teman sejawatnya di rumah sakit, pria itu tetap gagal.
Semua percobaannya gagal dan itu adalah keputusasaan–kesedihan yang paling menyakitkan.
Tidak ada satu pun hasil dari eksperimennya yang bisa bertahan hidup normal. Jaka hanya menemukan satu atau dua orang yang bertahan– hingga dua–tiga bulan sebelum mati setelah tubuh dan otaknya dimodifikasi.
Padahal, dari semua percobaan, Anyelir adalah bahan yang paling ia sayang. Anak yang ia besarkan selama sepuluh tahun. Kini menjadi wanita cantik yang lucu dan lugu. Anyelir bodoh dan menggemaskan dalam satu waktu. Gadis yang awalnya penurut dan menyenangkan.
Lucas baru-baru ini jengkel setelah Anyelir mengadu–memiliki seorang kekasih bernama Antonio. Sejak itu kehidupan Anyelir seperti di neraka.
Dikurung selama tiga hari tiga malam di atas brankar dengan tangan dan leher dibelenggu. Lalu Lucas terus melakukan hipnoterapi agar gadis itu berpikir seperti–keinginannya. Anyelir mengalami hilang ingatan, tubuhnya banyak memar karena kekerasan tanpa perencanaan ketika bercinta.
Dan jahitan di kepala Anyelir adalah tanda cinta. Lucas ingin membuat nama di kepala Anyelir dengan pisau bedah.
Nama Lucas.
Anyelir milik Lucas.
Dan menikahi Anyelir adalah bagian dari menjadi manusia. Lucas mencintai Anyelir meski rasa cintanya pada diri sendiri tidak bisa di sandingkan dengan apa pun.
Kini, wanita itu gagal.
Anyelir tidak hidup dan kekecewaannya mendalam. Anyelir tidak mencintainya dan pergi tanpa membalas kebaikannya selama ini. Menjadi sempurna adalah harga yang harus di bayar untuk sepuluh tahun. Untuk sepuluh tahun cuma-cuma memberikan kehidupan pada gadis yatim piatu yang nyaris di perkosa ayah tirinya.
Lucas kecewa.
Begitu juga dengan Jaka.
20 jam yang lalu
Tidak sulit memasukkan gadis pada brankar tiga di kamar rahasia. Lucas berhasil mengumpulkan tiga orang yang akan menjadi pelengkap komponen kesempurnaan istrinya. Rencana yang sudah ia susun sebulan terakhir. Eksperimen yang sudah dipersiapkan matang dengan pertimbangan serius.
Memasang selang infus–memastikan semua bahannya sehat meski dalam kondisi tidak sadarkan diri. Lucas tersenyum cerah dan tidak sabar ingin mencumbui Anyelir meski istrinya dalam kondisi tidak sadar. Justru itu bagian–kepuasan diri. Menggagahi Anyelir saat wanita itu tidak sadar dapat meningkatkan libido. Lucas akan memukul, menjambak lalu mencekik. Memperlakukannya sesuka hati tanpa berisik. Ia benci suara merengek menjengkelkan.
Ini untuk pernikahan harmonis, untuk cintanya pada Anyelir dan hubungan jangka panjang.
Namun kehidupan selalu saja memiliki kejutan tak terduga. Seperti dua pupilnya yang melebar meski tak ada reaksi berlebihan. Lucas mengerat saat biodata dirinya berserakan. Sebagian tertindih tubuh istrinya yang tertidur pulas dan sebagian lagi berhamburan hingga jatuh ke lantai.
Anyelir memiliki seribu cara untuk menyakiti diri sendiri. Menyimpan banyak hal pemicu emosi. Wajah cantik–mengundang birahi ketika tidur tak lagi mampu di tukar dengan rasa jengkel yang menyelubung.
Sepertinya memang tak perlu mengulur, menunggu–menimbang terlalu lama. Malam ini, akan ia realisasi rencana sebulan penuh ketika komponen akhir telah tersedia.
Anyelir akan menjadi sempurna.
Sempurna dengan ingatan baru, isi kepala lebih segar dan fisik yang luar biasa.
Anyelir harus membayar jasanya selama sepuluh tahun dengan mengabdikan diri menjadi sempurna. Untuk pernikahan dan hubungan yang lebih langgeng serta bahagia.
────୨ৎ────
Jika dikulik dari sejarah. Atau katakan latar belakang tiap apa-apa yang singgah di jiwa gelap manusia, Jaka atau Lucas hanyalah anak-anak biasa yang hidup penuh keberlimpahan kaya raya.
Tidak ada kekurangan pada kebutuhan. Tumbuh kembangnya baik dengan fasilitas mumpuni lalu makanan bergizi yang menjadi asupan harian hingga berhasil menciptakan manusia cerdas dan penuh ambisi. Ayah Jaka adalah salah seorang cucu konglomerat perusahaan konstruksi.
Jika dilihat sekilas, semua tampak normal dan baik-baik saja. Tidak ada yang aneh dan hampir banyak orang menginginkan kehidupan–mereka atau merasakan bagaimana menjadi keluarga cemara yang hidup kaya raya tanpa harus bekerja keras–tersengat matahari atau tertekan di bawah invasi atasan yang menguras mental.
Namun, bayangan selalu saja indah. Selalu saja terbentuk dari harapan dalam gambaran paling menyenangkan.
Satu anak laki-laki yang tumbuh cerdas hidup dalam ketegangan antar orang tua. Bagaimana sang ayah menekannya untuk menjadi si nomor satu dari semua saudara–kerabat atau sialan apa pun yang berkemungkinan mewarisi harta lebih banyak dari kakek buyut yang berusia lebih dari satu abad.
Kekerasan tidak lagi terelakkan.
Pengabaian, pukulan, tekanan, serta ancaman-ancaman menakutkan untuk hal sepele membuatnya tumbuh menjadi pribadi tertutup.
Hampir tidak pernah mengobrol akur dengan orang tua, terutama ibunya. Yang di ingat bocah berusia delapan tahun pada wanita cantik dengan kerutan sedikit pada sudut mata adalah senyum bangga saat ia berhasil mengeja di usia 3 tahun, saat berhasil menghafal tabel periodik unsur kimia, saat ia menguasai teorema trigonometri pada usia enam tahun.
Mereka akan mengusirnya kembali ke kamar dan mengatakan tentang belajar dan bodoh. Kata-kata bodoh menjadi hidangan penutup hari, tiap tubuh mendamba belaian dari dekap hangat orang tua.
Hal-hal besar yang dianggap kecil.
Seperti pukulan pada punggung ketika nilainya turun meski hanya satu angka di belakang.
Hardikan dan kata-kata tentang warisan, kekayaan, kakek, dan sialan lain yang benar-benar memuakkan.
Jaka mencari perhatian pada hal lain.
Pada akhir pendidikan sekolah dasar, bocah itu berhasil mengurung dua temannya di gudang kosong sekolah tanpa sepengetahuan siapa pun. Pria kecil itu mulai melakukan eksperimen loyalitas yang bertujuan agar dirinya dibutuhkan serta membuat dua temannya tidak bisa hidup tanpanya.
Eksperimen dimulai dengan tidak memberi makan dua temannya selama berhari-hari. Tidak peduli berita ramai di luar tentang dua bocah yang menghilang. Surat kabar, berita di televisi serta seluruh media tahun itu sibuk meliput kehilangan. Jaka justru menganggapnya sesuatu yang menyenangkan. Bayangan bagaimana polisi sibuk di kulabui seorang anak. Itu kebanggaan bagi Jaka.
Kembali pada dua bocah yang berhari-hari terkapar lemas — dehidrasi.
Pria itu datang di hari ke tiga.
Kedatangannya tidak lagi di sambut permohonan, melainkan dua tubuh tergeletak nyaris tak sadarkan diri. Lalu Jaka membawakan kotak makanan dan air mineral besar yang kontan membuat keduanya bertenaga untuk merangkak–menghampiri sumber energi.
“Iris satu jari, maka aku akan memberikan kalian makanan”
Syarat yang sederhana. Jaka melihat reaksi dua orang kebingungan saling tatap dengan wajah sepucat mayat. Lalu satu pisau tajam di lemparkan pada keduanya.
Tidak sampai lima belas menit satu anak memotong jari kelingkingnya meski sambil menangis. Lalu Jaka mulai memberinya makan. Begitu juga dengan bocah satu lagi.
Kejadian itu membuat Jaka merasa dibutuhkan. Berapa banyak yang akan mereka lakukan untuk eksistensinya? Atau katakanlah makanan.
Kejadian itu terus berlangsung hingga dua bocah rela menusuk mata mereka, memotong alat kelamin lalu mati karena infeksi dan pendarahan.
Kejadian itu sempat menghebohkan tanah air hingga beritanya naik ke layar televisi nasional. Namun hingga kini, polisi hanya menyimpulkan jika dua anak itu mati karena bunuh diri sementara sebagian orang beranggapan bahwa dua siswa itu kerasukan setan.
Itu menyenangkan.
Itu adalah pelarian.
Tidak apa-apa saat kembali ke rumah, ia kembali dikurung dalam kamar untuk belajar lalu kemudian di pukuli untuk nilai yang sama. Atau lontaran tentang anak tidak berguna yang menyusahkan–lalu tuntutan agar bisa merebut posisi saudaranya yang ia bahkan tidak ingat namanya.
Tidak apa-apa.
Jaka memiliki kesenangan tersendiri.
Dan saat sekolah menengah pertama di mulai, barulah Lucas menampakkan diri sedikit-sedikit.
Saat tekanan kehidupan makin parah. Saat dua orang tuanya makin gila-gilaan menggemblengnya belajar hingga 18 jam dalam sehari. Saat itu Lucas muncul menjadi temannya.
Menjadikannya lebih berani dan kuat.
Kepribadian yang mirip dengan keahlian yang jauh berbeda. Lucas sangat menyukai eksperimen tentang psikologis sementara Jaka tentang saraf.
Tingkah mengerikan itu terus di pupuk. Meski hidup dalam tekanan, Jaka diberi fasilitas dan uang saku yang cukup untuk merealisasi hal-hal kecil yang membahagiakan.
Untuk melepas penat dari beratnya hidup menjadi andalan keluarga agar mewarisi harta kakek buyutnya.
Kehidupan berjalan begitu saja. Selalu ada hal terduga yang membuatnya tertawa, dan sesekali menangis. Namun ia tidak sendirian. Hidupnya penuh negosiasi dan pertimbangan. Sejak Lucas ada, ia tidak lagi kesepian.
Bukan seperti penderita gangguan identitas lainnya, Jaka sadar betul dengan apa yang dilakukan ketika Lucas menguasai tubuhnya, meski ini tidak benar-benar di dalam kendali. kadang satu sama lain akan meninggalkan saat salah seorang di antara mereka tertidur.
Mereka bisa berbincang melalui cermin–mirip pada adegan film horor yang ia tonton.
Banyak eksperimen-eksperimen kecil yang dilakukan. Hingga puncak ketika ia sekolah menengah atas, Jaka berhasil membedah kepala tikus lalu melakukan transplantasi otak dari satu tikus ke tikus lainnya dan sukses. Namanya melambung tinggi dan masuk dalam surat kabar. Semua orang mulai membicarakan anak jenius dan tentu saja kabar ini terdengar hingga telinga kakek buyut.
dengan akhir bahagia. Jaka di wariskan harta paling banyak berupa properti berupa rumah mewah di kawasan Jakarta selatan serta tanah dan lahan luas di kota yang sama. Berikut dengan emas batangan bernilai fantastis.
Itu keberhasilan.
Dan dua orang tuanya bertepuk tangan sekali. Sisanya kembali seperti semula.
Tidak ada yang spesial.
Dan Jaka tidak berencana membuat keributan namun tetap menyimpan keinginan terpendam pada dua orang tuanya.
Hingga pada akhir semester menjelang kelulusannya kuliah fakultas kedokteran, Jaka meracun kedua orang tuanya dengan arsenik.
Dan kebebasannya dimulai.
Sejak hari itu, semua hal berjalan lebih mudah.
────୨ৎ────
Dua bulan berlalu saat Anyelir memutuskan untuk tetap hidup–meski tidak hidup. dibantu Extracorporeal Membrane Oxygenation (EMCO) wanita itu hidup meski mati. Jaka tidak akan membiarkannya mati karena Anyelir adalah istrinya. Wanita itu menjadi penyalur seksual.
Tepat ketika tugasnya di rumah sakit sebagai dokter bedah baru saja selesai. Pria itu memutuskan untuk pulang lalu pergi ke rumah–tempat dimana istrinya bernafas dengan alat bantu. Disamping hunian mewah, harta berlimpah, siapa yang akan menyangka jika dokter tampan–ramah, serta senang bercanda itu memiliki sisi gelap yang nyaris tidak akan disangka siapa pun.
Dan hal itu memicu keterkejutannya sesaat. Tepat saat satu anak muda berusia–kurang lebih lima tahun di bawahnya datang dengan lagak petantang-petenteng bersama permen sunduk di antara celah pengecapnya.
Memperkenalkan diri sebagai Zain Emmanuel, pria itu mengajak Jaka untuk ikut bergabung pada aliansi aneh yang dipimpin salah satu anak sembilan naga.
Sembilan naga.
Nama itu masih terdengar menyeramkan meski eksistensinya mulai diragukan. Bukan karena kerja mereka yang rapi hingga nyaris tak pernah tercium hukum, namun karena pemimpin mereka yang dikabarkan mati. Jaka tahu sedikit dan tidak berencana membuat hidupnya dalam kesulitan.
Maka, menolak adalah pilihan tepat.
Dan bagian ajaibnya, ternyata, menolak bukanlah pilihan. Zain yang awalnya menawarkan pilihan ganda, kini menunjukkan ujung telapak kaki tepat di hadapan — menantang, mengajaknya berduel. Pilihan ganda hanya basa-basi alias kebohongan belaka.
Entah dari mana ia mendapat informasi mengenai diri. Jaka akan bertanya nanti.
Nanti, setelah menumbangkan satu bocah angkuh.
Meski bukan ia yang pandai berkelahi.
Lucas disana sebagai dominan–untuk urusan fisik–bela diri. Meski Jaka ingat-ingat lupa kapan ia pernah ikut latihan bela diri mengasah kemampuan otot yang kian hari kian membesar.
Tidak tahu.
Tubuhnya terasa enteng saat melayangkan tinju sementara Zain terpental dengan sudut bibir terluka. bagian ini adalah kombinasi sempurna dan Jaka tertawa untuk kebahagiaan yang ini.
Karna ini kali pertama
Menggunakan kekuatan fisiknya yang entah sejak kapan dikuasai. Meski itu milik Lucas.
Tidak butuh waktu lama untuk menumbangkan satu pemuda arogan. Zain luka-luka tanpa bisa melawan banyak hingga ujung babak belur yang membuatnya kesulitan bernafas. Lucas menekan sesuatu pada tulang rusuk, lalu pemuda itu melolong sembari meminta ampun.
Di tengah nafas yang tersengal, Zain masih saja menyeringai.
“Kak, aku mau kita pacaran” Menatap nyalang gadis yang sibuk dengan minuman sementara sedotan masuk sedikit di antara dua bibir. Alexa mendelik, masih mencerna permintaan dari anak angkatnya meski sangat rancu dan berhasil membuat degup jantung bergemuruh. Mereka berada di festival tahunan. Terduduk tepat pada undakan tempat mereka pertama kali bertemu. Masih sangat terang karna nyaris seluruh bagian lapangan tak mengalami perubahan maupun mengadakan renovasi atau sejenisnya.
Alexa masih diam. Dua netra kembar keduanya menaut beberapa detik sebelum smoothie mangga berhasil menghalangi saluran napas dan membuatnya tersedak. Javier buru-buru menyodorkan air mineral dalam botol sebelum di tenggak kasar oleh gadis itu.
Sudah sangat lama tak menjalin hubungan. Kekasihnya yang terakhir tiba-tiba pergi tak ada kabar berita entah apa alasannya. Alexa sudah tak ingat karna memang terlampau lama, dan tentu saja karna Javier mengisi hari-hari bersamaan dengan tingkah manis sangat menggemaskan.
Bohong jika tak memiliki perasaan khusus pada pria yang sudah menemani selama empat tahun. Pria itu selalu saja memiliki cara agar Alexa menuruti semua keinginan tanpa paksaan. Tingkah manis dan penurut, jahil dan berlagak dewasa dengan iming-iming akan melindungi meski entah dari apa.
Tubuhnya tumbuh kelewat besar. Masih segar ketika pertama bertemu, Javier hanya setinggi dada. Tubuhnya kurus dan benar-benar terlihat lemah. Namun lihatlah hari ini, Alexa mendongak tiap kali mereka berbicara ketika berdiri, pucuk surai tepat setinggi dada dengan tubuh kecil yang akan tenggelam jika pria itu merengkuhnya. Javier benar-benar membesar dengan baik.
Hanya mengangguk. Alexa tersenyum sebentar.
“Kak, kenapa nggak jawab?” Menggenggam tangan gadis itu erat, Javier mengusapnya berulang sebelum menciuminya sayang. “Aku udah jawab”
“Apa? Kapan? Kok aku nggak dengar?” Menuntut kepastian ketika anggukan dengan senyum cantik saja tak membuat pria itu percaya. Alexa menarik napas dalam sebelum berdehem, gadis itu menahan senyum. Sangat cantik.
“Aku mau jadi pacar Javie”
Mendengar lontaran penerimaan, pria itu kontan bangkit. Membuat sorakan yang mirip orang tengah menonton kesebelasan sementara jagoan mereka berhasil mencetak gol. Senang bukan kepalang.
“Ini beneran ya? Aku ngambek kalo kakak bohong” Memastikan sekali lagi, Javier memancarkan aura kebahagiaan yang kental, kontan saja menulari Alexa yang masih tertawa.
“Aku pernah bohong kah?”
Javier menggeleng. Sedetik kemudian, pria itu mengangkat Alexa dalam gendongan. Membawa kekasihnya berputar ke sana ke mari kegirangan, sementara yang di gendong hanya menjerit-jerit minta di turunkan karna khawatir terjatuh.
“AKU PACAR KAK ALEXA!!! YEAAAYYYYY”
Bersorak dan berhasil menyita perhatian beberapa pengunjung yang sibuk membeli makanan, Alexa memukuli lengan pria itu agar berhenti dan menurunkan, di perparah dengan teriakkan kelewat girang. Hanya malu pada orang-orang.
“Aku janji akan jadi pria keren dan romantis. Kakak suka laki-laki yang seperti apa? Aku akan jadi seperti yang kakak mau” Kembali mendudukkan gadis itu ke tempat semula, Javier berjongkok di bawah dengan dua tangan yang menggenggam erat jemari cantik itu. Alexa masih tersenyum, kebahagiaan memancar dari keduanya begitu terang.
“Aku Cuma suka Javier apa adanya aja. Javier yang sekarang, yang kemarin dan yang akan datang. Aku selalu suka Javier yang seperti dirinya sendiri”
“Javier yang sekarang? Dan yang akan datang?” Mengulang apa yang di lontarkan sementara Alexa kembali mengangguk.
“Gimana kalau seandainya Javier yang dulu, yang sekarang dan yang akan datang ternyata adalah monster mengerikan dan menjijikan? Kakak tetap mau?”
Pertanyaan aneh yang di reaksi kekehan. Alexa tertawa menganggap ocehan anak itu adalah aneh.
“Ya, aku akan menyukai Javie, pun jika Javie yang dulu, sekarang dan yang akan datang adalah monster. Lagi pula, monster jenis apa yang segemas ini? Aku akan hidup dengan monster dalam waktu yang lama dan bahkan menjadi pacar monster jika setampan ini”
Melepaskan pegangan tangan lalu menangkup dua pipi pria yang berjongkok di bawahnya, Alexa masih tersenyum sejak tadi. Pipinya tak pegal ketika hatinya bahagia. Bukan sudah lama memendam rasa, gadis itu hanya merasa ambigu dengan perasaannya sendiri. Sangat malu jika memvalidasi ia mencintai anak angkatnya. Rasanya mirip wanita cabul yang harusnya tak bertingkah seperti itu. Namun tak memungkiri jika hasrat dan kasih sayangnya melebihi seorang kakak pada adik, atau ibu angkat pada anak angkat. Tidak seperti itu, dan Alexa banyak di buat berpikir.
“Terima kasih kak, terima kasih karna udah mengatakan hal itu. Aku sangat mencintai kakak sampai mau mati”
Masih di posisi yang sama. Bedanya, Javier memasang ekspresi mirip anak anjing yang ingin di sayang. pria itu memiliki keahlian semacam itu, membuat yang melihat ingin merengkuh dengan gemas.
“Masih mau jajan? Aku mau di sini agak lama karna aku suka”
Mengedarkan pandangan pada kerumunan karna acara yang baru akan di mulai. Sebentar lagi akan ada berbagai pertunjukkan yang memukau. Rupanya warga banyak mempersiapkan dengan banyak latihan untuk menampilkan ini dan itu, meski aroma kemenyan terhirup menyengat masuk dalam indra penciuman, namun tak menyurutkan semangat gadis itu untuk bertahan lebih lama. Apalagi berbagai hidangan yang seakan memanjakan mata.
Mereka berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggenggam. Ikut berkumpul bersama kerumunan guna melongok acara yang baru akan di mulai. Jika pada siang hari banyak anak-anak dan remaja yang andil dalam meramaikan dengan menggunakan pakaian unik sesuai tema-tema tertentu, maka di malam hari akan ada barongsai, akrobat dan segala acara ritual mirip sesembahan yang tak terlalu di mengerti.
Javier bergeser sedikit menutupi diri dengan berlindung pada gadis yang jauh lebih kecil darinya. Bersembunyi karna perasaannya tidak enak. Entah mengapa aroma kemenyan serta alunan alat musik tradisional yang di mainkan membuat tubuhnya meremang serta perasaannya tak karu-karuan. Pria itu juga agak pening.
“Kak, aku mau pulang”
Merengek sedikit, Alexa kontan membalik tubuh untuk memastikan jika Javier benar-benar mengajak pulang. Padahal acara seperti akan sangat menyenangkan.
“Sebentar lagi ya? Ini kayanya seru”
“Tapi aku mau pulang, kepala aku sakit kak” Pria itu merengek seperti biasa. Alexa kembali menghela napas sebelum mengusap kepala itu sekilas.
“Tiba-tiba banget? Demam juga kah? Aku masih ingat pas baru beberapa minggu aku bawa kamu pulang, kamu menggigit demam sampai menggeram.”
Memeriksa dahi lalu mengusapnya sayang, gadis itu menggenggam tangan sebelum langkahnya pasti menuju kendaraan yang terparkir.
“Malam ini aku tidur sama kakak”
Mengeratkan sabuk pengaman, pria itu mengatakan dengan gamblang di hari pertama mereka berpacaran, bukan. Ini bahkan baru beberapa jam lalu. Namun anehnya, pernyataan semacam itu bukan sesuatu yang kurang ajar karna keduanya memang kerap tidur bersama secara harfiah.
“Kak?”
“Hm?”
“Kita adalah sepasang kekasih, pria dewasa dan wanita dewasa. Saling mencintai. Boleh aku cium kakak?”
“Aku lagi nyetir”
“Aku tanya, apa aku boleh cium kakak mulai sekarang?” Memastikan sekali lagi karna Alexa terlihat salah tingkah dengan senyum yang di tahan, sangat cantik dan menggemaskan.
“Kamu sering cium aku Javie..”
“Kakak paham ciuman seperti apa yang aku maksud”
“Hentikan, aku malu membahas ini. biarkan hanya berjalan natural”
Javier tertawa sedikit. Meski sebenarnya masih kurang pas dengan jawaban Alexa, namun pria itu kadung gemas dengan mimik salah tingkah yang di tampilan.
“Aku nggak mengerti dengan berjalan natural. Tiap tingkah atau kegiatan yang aku lakukan, aku selalu minta persetujuan dan pendapat kakak. Apa nggak masalah kalau aku melakukan apa yang aku mau sebagai seorang kekasih pada pasangannya? Mungkin kakak akan menemukan sisi lain dari aku yang nggak pernah kakak tahu sebelumnya” Pria itu menatap intens dengan netra aneh dan sedikit liar. Kurang lebih seperti itu Alexa menggambarkannya.
“Hanya lakukan”
Javier tersenyum sekali lagi. Entah mengapa malam ini terasa begitu indah, seolah alam ikut merayakan keabsahan status mereka. Hari ini, tepat usia dua puluh tahun sedang empat tahun lalu mereka bertemu di tempat yang sama, yang beberapa menit lalu baru mereka tinggalkan. Viberasinya masih sama. Javier bahagia setengah mati setelah bertemu Alexa.
“Kak, setelah lulus kuliah, aku akan kerja keras. Aku akan jadi laki-laki keren dan menanggung semua kehidupan kakak”
“Yaa yaa, aku menantikan momen itu” Hanya tertawa, Javier selalu saja mengatakan hal-hal semacam itu sejak dulu. Jika tiga tahun lalu rasanya seperti ocehan tak berarti yang di lontarkan anak-anak, kini sangat terasa berbeda ketika di katakan penuh keyakinan. Yang pasti di dukung oleh suara dan tubuh itu. Javier dewasa, sangat tampan dan lembut. Benar-benar manis dengan tubuh besar dan kekar. Rasanya tak lagi menemukan sisi anak-anak yang menggemaskan selain tingkahnya yang tak berubah.
“Apa kita akan makan malam? Kamu masih lapar nggak?”
Memarkirkan mobil, keduanya turun dan memasuki lift. Javier menggeleng, perutnya seperti akan meledak sementara jika terus-terusan mengonsumsi makanan seperti hari ini, maka di pastikan tubuhnya akan seperti babi.
“Aku nggak boleh terlalu banyak makan. Semua jajan yang kita makan hari ini bisa bikin aku kaya babi. Aku takut jelek dan kak Alexa nggak suka aku lagi”
“Kamu bicara apa? Aku suka sama kamu walau kamu kaya babi”
“Bohong, kakak akan cari pacar yang lain kan?”
“Aku nggak pernah punya pacar yang lain Javie.. udah lama banget, tiga atau empat tahun? Aku bahkan lupa namanya”
Kejadian yang tak begitu sulit ia lupakan. Terang saja sangat menjengkelkan tiba-tiba di tinggalkan begitu saja. Pria itu jelas tak mau menerima Javier, padahal sudah di jelaskan ketika mereka masih masa pendekatan jika ia mengadopsi anak dengan usia yang terbilang besar. Awalnya pria itu iya-iya saja, namun baru pertama kali bertemu, sudah kabur saja. Sejak saat itu Alexa tak lagi berkencan dengan siapa pun. Tak lagi pergi ke luar dan nongkrong sembarangan kecuali dengan Izza. Meski awalnya sempat menakuti tentang monster dalam apartemen, nyatanya gadis yang kini menyandang gelar sebagai teman itu rutin mengunjungi Alexa, atau sekedar membelikan susu protein untuk Javier.
“Aku mandi dulu. Kamu ada tugas? Biar aku bantu pas selesai mandi”
Javier hanya menggeleng, namun langkahnya mendekat memeluk gadis itu erat
“Kakak mau aku gosok punggungnya?”
“Hm?”
“Mandi? Aku bisa gosok punggung kakak”
“Nggak perlu, kamu juga harus mandi”
Menghirup dalam aroma pada ceruk gadis dalam dekapan, Javier meremang dengan rengkuhan makin erat. Rasanya sangat menenangkan meski harus menunduk.
“Kak… kakak wangi banget”
Gadis itu merasakan kerasnya gundukan yang menekan pada perut. Padahal sentuhan tiba-tiba namun Javier jelas ereksi, meski sering mendapati hal sejenis ketika mereka berinteraksi, namun Javier tak pernah melampau batas, pria itu hanya sering menciumi pipi, kening dan tangannya. Berdiri dalam posisi seperti ini saja membuat Alexa susah payah menelan saliva. Tubuhnya ikut meremang, rasanya sangat berbeda dan aneh ketika status mereka baru saja di sahkan sebagai pasangan kekasih. Entah mengapa merasa lebih leluasa dan bebas. Yang jelas Alexa tak perlu memarahi ketika pria itu kedapatan ereksi saat bersentuhan karna memang itu normal. Bedanya dulu-dulu Alexa menganggap bahwa mereka adalah keluarga.
“Javie… aku mandi dulu ya? Aku lengket dan nggak nyaman”
Mendengus pelan. Pria itu melepaskan rengkuhan lalu memberi jarak sebelum mencium pipi gadisnya sekilas.
“Mandinya jangan lama-lama. Aku bisa berubah jadi monster kalo tengah malem” Tertawa sedikit, padahal pria itu serius dengan ocehannya. Alexa mencubit perutnya kuat sebelum masuk dalam kamar, sementara Javier mengaduh sedikit yang di susul gelak tawa menyenangkan. Masih berdiri di sana sebelum melihat tubuh kekasihnya benar-benar menghilang di balik pintu.
Pria itu bersenandung lirih sambil masuk dalam kamar. Sedetik membuka pakaian lalu menatap ke arah cermin. Alexa belum pernah melihat seluruh tubuhnya sejak dua tahun terakhir. Javier berhasil menato punggung yang sebelumnya banyak terdapat bekas luka menjadi seni indah berbentuk bulan yang berjejer memanjang. Namun bukan bagian itu yang penting. Pada punggung sebelah kiri dekat lengan, terdapat sobekan menganga. Itu bukan luka, karna mirip lubang yang terbentuk secara alami. Dari sana akan keluar sesuatu yang mengerikan jika terjadi hal yang terasa mengancam atau pria itu dalam kondisi yang jengkel luar biasa. Belum, Javier belum bisa mengontrol sepenuhnya. Itu pula yang membuat pria itu selalu berusaha menekan emosi dan pemicu lainnya. Mirip orang yang memiliki alter ego, Javier tak akan sadar jika makhluk itu keluar menguasai diri.
“Kak Alexa… nggak akan takut liat punggung aku kan? Ini nggak mengerikan, kan?”
────୨ৎ────
Merengkuh dari belakang sementara diri bertelanjang dada hanya menggunakan bokser kekecilan. Alexa kontan di buat kaget karna tak mendapati pria itu masuk dari pintu. Atau diri saja yang lengah hingga tak sadar.
Handuk masih membelit hampir melorot karna baru saja keluar dari kamar mandi. Alexa berencana menggunakan lotion sebelum tubuh besar merengkuhnya lembut dari belakang. Itu Javier.
“Aku pakai baju dulu”
“Tapi aku kangen kakak”
“Kita tinggal satu rumah Javie..”
“Kalau tinggal satu rumah, apa nggak boleh rindu?”
“Boleh”
Rengkuhan makin erat. Javier melingkarkan tangannya pada perut gadis itu, menciumi punggung harum dan segar.
“Jangan kaya gitu, geli”
“Geli?”
“Mm”
Di larang dengan sanggahan geli malah membuat pria itu makin nakal. Dengan gerakkan lincah dan cepat, Javier berhasil membuat handuk melorot hingga menampilkan lekuk tubuh telanjang sempurna di depan cermin, sedetik senyumnya mengembang sambil menatap pantulan tubuh kekasihnya tanpa berkedip.
Dagunya menumpu pada pundak Alexa, sementara gadis itu menutupi area kelamin meski dua tangannya langsung di belenggu ke belakang.
“Kakak bilang, aku bisa melakukan apa yang aku mau sebagai seorang kekasih ke pasangannya. Yakan? Aku boleh kan? Aku pacar kakak” LANJUTKAN MEMBACA
Berapa lama pria itu pergi? Sejauh apa kedekatan mereka hingga jejaknya turut membawa semangat dan kewarasan?
Sia terduduk di ranjang.
Sudah berapa lama?
Polisi mengawalnya. Pria-pria bertubuh besar berjaga di sekitar apartemen bergantian siang dan malam, menjadikannya tahanan meski tidak secara harfiah. Sia bergerak, bekerja, ke minimarket, dan berjalan-jalan seperti biasa namun di buntuti mirip tahanan terbebas bersyarat. Ini memuakkan, namun dari banyak hal, rasa rindunya pada Helio adalah paling menjengkelkan.
Memikirkan kabar. Apakah pria itu baik-baik saja meski tahu jika hutan adalah habitat aman dan memang rumahnya. Rindu menyelubung mirip racun yang menjalar pelan-pelan merusak otak. Sia sesekali menangis seperti orang gila. Bayangan singkat bagaimana harinya terasa lebih hidup saat bersama membuat gadis itu banyak menyesal meski entah apa yang di sesali.
Satu bulan, atau lebih? Sia tidak yakin. Sudah selama itu sejak interogasi di ruang penyidik, polisi terus mencecarnya dengan segudang pertanyaan mirip-mirip.
“Di mana kalian bertemu?”
“Apa kamu melihat gelagat mencurigakan?”
“Apa Helio menyakitimu? Kami sebagai pengayom masyarakat hanya khawatir tentang Anda, nona. Pula bukan hanya demi kepentingan individu, namun negara.” Serta ocehan lainnya yang seperti template. Padahal dengan jelas, ayah Helio menonton dari balik kaca tidak tembus pandang sembari mengamati. Mereka adalah penjahatnya, menciptakan mutan dengan eksperimen tidak masuk akal. Kepentingan negara apanya? Toh, negara ini baik-baik saja. Benar-benar memuakkan.
Rindunya membuncah tidak karu-karuan. Mereka bahkan tidak menyerah setelah puluhan hari berlalu. Hanya tunggu sebentar lagi. Atau..
. . . . . .
Penginapan Kivonakka
Kakinya terseok-seok. Bunyi daun kering terinjak bersama tanah basah membuat boots hitam tampak dekil sementara beberapa air dari kubangan becek berhasil meresap melalui celah samping sepatu.
Sia berdiri di belakang penginapan tempat ia pertama kali memulai semua hal.
Pula berhasil melewati polisi yang lengah dengan mengendap mirip pencuri ulung, gadis itu meninggalkan ponsel dan hanya berbekal uang tunai serta ransel besar yang rencananya akan di isi banyak makanan. Nekatnya akan pergi ke hutan. Hanya jangan kelaparan dan ia akan bertahan hingga Helio meraba radarnya.
Strategi sudah di konsep seminggu terakhir; Cara kabur, jika tertangkap, alibi, bekal makanan jika tersesat di hutan, pakaian ganti, pembalut dan segala hal yang berkemungkinan di perlukan. Sia dengan segala kehati-hatian serta gerakkan teliti dan mendetail, berhasil melarikan diri melalui jendela kamar dengan perhitungan rumit, gadis itu sampai di penginapan kurang lebih setelah menempuh lima jam perjalanan dengan transportasi umum pada jam sepi tengah malam.
Pandangannya kini lurus menatap kegelapan di antara pepohonan rimbun. Gelap dan mencengkam adalah penggambaran cocok meski dingin lebih mendominasi hingga merangsek sum-sum tulang belakang. Sia melepas boots, menyingkirkan dua benda itu sembarangan lalu mengambil sandal cadangan bersama senter dengan cadangan baterai kelewat banyak. Persiapannya sangat matang. Kini, hanya keberanian yang perlu di pertajam tatkala pikiran binatang buas bersembunyi di balik rimbunan atau hantu pemakan daging manusia menggelayuti pikiran yang perlu di singkirkan.
Benar-benar gelap gulita. Senter dengan penerangan tidak seberapa itu menjadi modal kornea membias cahaya. Suara binatang kecil-kecil bersahut-sahutan. Anjing yang menggong-gong entah di belahan mana, riuh gagak menghiasi langit malam dan angin yang menggesek dedaunan menjadi latar indah di mana kaki kecil pula dekil melangkah.
Sia meraba jalan sembari merapal nama pria itu berulang-ulang. Pun tidak berani berteriak memanggil karna takut ada makhluk lain yang menyahut.
Tengah malam dalam hutan sendirian. Gelap gulita, dingin dan mencengkam. Pula tidak tahu arah ke mana kaki melangkah. Hanya bergerak maju sesuai insting. Begini lebih baik ketimbang terpenjara seperti akan membuatnya meledak gila.
Awal kepalanya memproyeksi perjalanan penuh risiko adalah hanya karna tidak takut mati. Tidak tentu saja, ketika yakin Helio akan datang. Dari penginapan hingga hutan yang menjulang mencengkam itu adalah wilayah kekuasaan pria itu. Helio tidak akan membiarkannya mati.
Helio tidak akan membiarkannya mati.
Helio tidak akan membiarkannya mati.
Kan?
Tepat ketika suara geraman masuk begitu terang dalam rungu. Pun Sia tidak berani mengarahkan cahaya pada sumber suara yang terasa dekat. Hanya langkah kakinya di percepat. Sambil terseok, sesekali jatuh, lalu membekap mulut agar deru napas terengah tidak menghambat dengan kaki terpincang penuh luka karna menerjang ranting dan tumbuhan berduri.
“Helio.. aku benar-benar takut” Cicitnya pelan. Langkahnya semakin berat sementara dingin menusuk meski pakaian tebal berlapis hingga mempersulit gerak. Suara geraman tidak lagi terdengar, namun sangat yakin jika makhluk apa pun yang ada di belakangnya, pasti masih mengintai. Hanya menunggu kapan di terkam dan menjadi santapan. Sia putus asa, namun tidak memikirkan mati. Keyakinannya penuh akan di selamatkan meski entah sudah berapa lama derapnya melangkah hingga benar-benar lelah.
Sudah berapa lama?
Dua jam, tiga jam?
Tepat di bawah pohon Ek yang paling besar sementara akarnya menjulang panjang. Sia menyorot tiap bagian yang akan ia jadikan tempat istirahat. Tanah masih basah sementara lembap dengan suhu rendah tidak nyaman. Kini bokongnya merebah seiring ransel yang ikut di turunkan.
Dalam waktu ini, mengisi daya dengan makan dan minum adalah jalan menuju hidup lebih lama. Sia tidak merasa lapar meski tubuhnya lemas luar biasa. Ketakutan dan viberasi sejenis tampak bergerombol jadi satu memenuhi kepala hingga menekan sinyal lapar. Itu pula yang memicu halusinasi atau ilusi optik macam-macam.
Suara resleting terdengar begitu nyaring. Atau hanya perasaannya saja? Di tempat sangat gelap yang bahkan bulan pun enggan menampakkan sinar meski hanya setitik. Langit mendung meski curah tak terjun, Sia yakin jika fajar tiba, suasana hutan pasti di penuhi kabut.
Membuka kotak berisi potongan daging yang di taburi saus krim terlihat penuh dan sesak, gadis itu menyantap hati-hati meski perutnya benar-benar menolak. Untuk melangkah, setidaknya Sia butuh energi dan sangat mengantisipasi dehidrasi.
“SRRRAAKK”
Terperanjat sembari memegangi dada. Sia bahkan tidak berencana membalik tubuh atau berinisiatif mencari sumber suara. Tidak penting dan bukan urusannya, masih baik jika itu hanya suara rakun, babi hutan atau rusa. Asal jangan binatang buas. Geraknya buru-buru menelan tiap potongan dengan tangan gemetar. Ini adalah bagian menyebalkan. Hutan dan segala keparat di dalamnya, kecuali Helio.
Sial.
Meski suara binatang malam saling bersahut-sahutan, namun bunyi tenggorokannya menenggak air adalah paling nyaring. Rasanya merinding, bahkan mendengar suaranya sendiri.
Sudah sejauh mana ia berjalan?
Apakah para polisi dan tentara akan menemukannya?
Langkahnya melemah seperti permen jeli. Pula ketika senter itu di arahkan pada kaki yang menyerah meminta di istirahatkan, Sia menemukan beberapa ekor lintah menempel tengah menghisap darahnya. Gadis itu hanya menggigit bibir bawah merasakan kaget sekaligus jijik. Kembali memasukkan kotak daging yang tidak habis, tangannya menggenggam pisau dari bagian samping ransel untuk menyingkirkan lintah dari kakinya. Ini menjijikan. Sangat.
“Helio…” Tergugu di antara dua lutut. Menenggelamkan wajah dengan isak pelan. Dadanya sesak dan seluruh tubuh seakan meluruh, Sia menangis tersedu-sedu.
Ini barangkali konyol dan gila.
Bisa saja hanya hidup nyaman di rumah dengan sisa logam mulia yang di berikan Helio. Itu cukup untuk kehidupannya hingga mati. Atau bersabar sembari menunggu Helio kembali sesuai janjinya.
Mengapa memilih kabur lalu nekat mencari ke hutan sendirian tengah malam? Pergi pada saat matahari naik terik saja ia tersesat, apalagi ketika tidak satu pun hal yang dapat di rekam retina seperti sekarang. Sial, rasa rindunya mengalahkan kekhawatiran dan nekat berjudi dengan keyakinan jika pria itu akan datang. Atau mati. Pilihannya memang seperti itu, rasanya terlambat jika mengocehkan tentang jatuh cinta yang memicu kebodohan.
Tidak ada tempat yang pas untuk merebah. Seluruh tanah kotor dan becek. Menyandar pada pohos besar sementara bokongnya dekil dengan air yang sedikit-sedikit merembes masuk dalam celana, ini menyebalkan juga. Semua hal menyebalkan dan gadis itu makin tergugu.
“Helio, ayo menikah. Aku akan jadi perempuan baik dan tidak akan mudah memukulmu. Aku berjanji akan memberimu susu meski dadaku tidak berair” Mendongak dengan air mata yang mencurah deras, Sia mulai mengocehkan hal-hal gila. Rindunya benar-benar menyakitkan, lebih sakit dari posisinya sekarang.
Tentu saja tidak ada jawaban selain suara gagak yang terbang berjarak sekitar sepuluh meter ke atas. Sangat mengganggu dan tentu saja menyeramkan.
“Enyahlah! Kekasihku akan membunuhmu! Gagak sialan” Menyeka air matanya dengan lengan baju, gadis itu kembali menangis lagi.
Lalu terdengar derap langkah mendekat.
Lebih dekat.
Sia memejamkan mata. Kepalanya riuh menerka makhluk apa yang memiliki langkah besar terasa mendekat, pula tidak berpikir jika itu Helio. Hanya kembali membekap diri agar isaknya tidak teraba. Ilusi optik, ilusi bunyi, pula delusi yang sudah ia pelajari tetap saja tidak terkontrol tatkala materi itu di praktikan. Rasanya sangat nyata dan menakutkan, bayang-bayang pada isi kepala yang di realisasikan indra merupakan sugesti paling menyebalkan sedunia.
“Sia” Bariton yang paling di kenal menggema. Mirip pepohonan yang merefleksikan membuat suara itu memantul bertalu-talu masuk dalam rungu. Sia kontan bangkit, kaki yang sejak tadi mirip permen jeli, kini tiba-tiba terasa gagah dan jejak.
“Helio?” Mengarahkan senter ke sembarang, gadis itu mencari sumber suara. Tubuhnya berputar searah senter yang ikut bergerak cepat.
Sial.
Kosong.
“Helio!!!” Berteriak kencang tatkala legamnya tidak merekam si pemilik suara. Gadis itu mulai ketakutan, lebih takut dari sebelumnya. “Ilusi sialan, padahal aku sedang tidak lapar dan tidak dehidrasi. Aku bisa mencari Helio. Aku akan menemukannya dan terbebas dari hutan sialan yang terus memanipulasi indra. Hutan sialan, hutan sialan, hutan sialan”
Mengangkat ransel dan kembali akan melanjutkan perjalanan. Karna makin diam, rasanya makin riuh isi telinga.
“Aku pernah mendengar ada akord rahasia
Bahwa Daud bermain dan itu menyenangkan Tuhan
Tapi kamu tidak terlalu peduli dengan musik, kan?
Nah jadinya seperti ini
Yang keempat, kelima, kejatuhan kecil, pengangkatan besar
Raja yang bingung menyusun Hallelujah
Haleluya, Haleluya
Haleluya, Haleluya
Yah, imanmu kuat tapi kamu butuh bukti
Kamu melihatnya mandi di atap
Kecantikannya di bawah sinar bulan menggulingkan ya
Dia mengikatmu ke kursi dapur
Dia menghancurkan tahtamu dan dia memotong rambutmu
Dan dari bibirmu, dia menggambar Haleluya
Haleluya, Haleluya
Haleluya, Haleluya
Yah sayang aku pernah ke sini sebelumnya
Aku telah melihat ruangan ini dan aku telah berjalan di lantai ini”
“Sial, padahal aku tidak percaya Tuhan” Lantunan lagu rohani menggema sepanjang perjalanan. Tidak yakin pada zat yang rumornya adalah pemilik alam semesta, namun hafal hampir seluruh lirik lagu kerohanian karna teman satu agensinya selalu membawakannya menyebalkan. Pula ia jadikan medium menakuti hantu.
Masih sibuk mengulang nyanyian. Bukan hanya kakinya yang pegal. Kini, pengecapnya turut keram dan tenggorokannya kering. Sia kembali memutuskan berhenti untuk menenggak air. Padahal baru kurang lebih sepuluh menit perjalanan sejak istirahat terakhir.
“Bernyanyi lumayan membuat rasa ciutku berkurang. Jika beruntung, aku akan memeluk agama ini” Suara air masuk begitu nyaring lewat tenggorokan, napasnya masih terengah menelan kasar sebelum menyeka mulutnya. “Benar, bernyanyi sepanjang jalan tidak membuat ini terasa menyedihkan. Apa tidak apa-apa jika aku bernyanyi lagu para penganut Satanis?”
“Oh motherfucker” Pupil legamnya kian melebar tatkala beradu pandang dengan dua pasang milik binatang buas entah jenis apa. Sia tidak yakin ketika refleksnya buru-buru berlari sekuat tenaga saat mendapati dua pasang mata kuning terang di antara rerimbun gelap. Itu jelas harimau, Sial. Harimau bahkan tidak ada di Finlandia. Sia lari terpontang-panting tak terarah. Senter bergerak tidak menentu dan sesekali menabrak pohon karna gelap.
Benar. Sesuatu ikut berlari mengejarnya dari belakang. Tidak bersuara namun terdengar jelas. Ini bukan ilusi. Sialnya binatang jenis kucing besar atau jenisnya, mereka memiliki lapisan reflektif dan retina dengan sel fotoreseptor, penglihatan nocturnal yang membuat mereka melihat dalam gelap. Ini jelas tidak adil dan Sia kalah telak. Sial, gadis itu tidak jadi akan memeluk agama yang akan ia pertimbangkan jika mati malam ini.
“Aku pernah mendengar ada akord rahasia
Bahwa Daud bermain dan itu menyenangkan Tuhan
Tapi kamu tidak terlalu peduli dengan musik, kan?
Nah jadinya seperti ini
Yang keempat, kelima, kejatuhan kecil, pengangkatan besar
Raja yang bingung menyusun Hallelujah
Haleluya, Haleluya
Haleluya, Haleluya”
“Aku percaya kali ini padamu Tuhan. Tolong aku…”
Tepat ketika ambruknya pada genangan air yang membentuk cekung dangkal ketika kakinya menyandung batu kecil, Sia menjerit sementara makhluk itu melompat dengan kuku tajam yang siap menerkam.
“Raja yang bingung menyusun Hallelujah
Haleluya, Haleluya
Haleluya, Haleluya”
Hening.
Apa ini delusi juga?
Makhluk yang mengejar dengan lari mirip cheetah. Hanya ilusi indranya lagi? Sial.
“Kubilang tunggu di rumah, aku akan datang ketika mereka sudah lengah” Bariton sama seperti yang ia dengar beberapa saat lalu. Kali ini, Sia bersumpah tidak akan terkecoh dengan ilusi, delusi dan bajingan lainnya. Gadis itu menarik napas dalam, mengambil senter yang sempat terpental sekitar tiga meter ke depan. Sambil merangkak, tangan kecilnya berhasil meraih benda itu.
“Ayo lanjutkan perjalanan” Menyeka senter dekil sementara permukaannya basah, gadis itu mengabaikan suara atau apalah entah di belakangnya. Delusi, delusi, delusi.
“Raja yang bingung menyusun Hallelujah
Haleluya, Haleluya
Haleluya, Haleluya”
Lagi, Sia kembali menyanyikan lagu kerohanian sambil membelah semak belukar ketika jalan tidak ia temukan.
“Sejenis tanaman… halimun? Bagaimana bisa tanaman semacam itu ada di sini? Aku bahkan harus pergi ke rumah kaca untuk melihat tanaman ini hidup” Sia mengoceh di antara celah lagu yang usai dan kembali di nyanyikan. Senternya menyorot pada tanaman setinggi betis yang membentuk rimbun.
“Sia” Suara itu kembali menggema dari belakang. Sangat persis di belakangnya.
“Aku tidak akan tertipu lagi delusi sialan. Aku tidak akan tertipu. Helio akan datang dan aku akan terbebas dari alam sialan ini” Imbuhnya dengan napas tersengal, masih menapaki jalan yang sesekali menciptakan baret pada punggung kaki.
Sebelum kakinya melayang.
Tubuhnya tidak lagi menapak karna seseorang, sesuatu, atau entah apa mengangkat tubuhnya dari belakang. Mengangkat naik sambil mengapit mirip membawa boneka di depan.
Napasnya harum dan tangannya berbulu lebat.
Aroma yang sangat ia kenal.
Tubuhnya tinggi dan besar.
“Helio?”
“Hm”
Lalu gadis itu tertawa. Tertawa terbahak-bahak masih di posisi sama. Helio membawanya dengan mengapit tubuh itu dengan satu tangan, membuat Sia melayang menempel pada dada.
“Raja yang bingung menyusun Hallelujah
Haleluya, Haleluya
Haleluya, Haleluya”
Kembali melantunkan lagu rohani sambil tersenyum cerah. Matanya tidak menangkap apa pun ketika senternya pula ia abaikan pun entah ke mana. Ada Helio. Tubuhnya di angkut seperti menggendong seekor kucing sembarangan namun kokoh. Aroma Helio sangat khas mengaur mengobati rindunya meski yakin jika melihat, Sia hanya akan menemukan serigala dengan moncong panjang dengan bariton begitu seksi.
“Lagu apa itu? Aku seperti familiar” Melempar pertanyaan untuk pertama kali, Helio mempercepat langkah meski tidak berlari.
“Aku juga tidak yakin. Tapi, kata temanku, itu bisa menyelamatkanmu”
Ada kekehan di antara napas berat dari mulut panjang milik Helio. “Tutup matamu Sia, dan hitung sampai seratus”
Patuh dengan langsung menutup dua kelopaknya rapat, namun tidak bisa menghentikan senyumnya yang mengembang cerah hingga kering karna angin. Sia kelewat senang. LANJUTKAN MEMBACA