ANOMALI

ANOMALI
Berapa lama pria itu pergi? Sejauh apa kedekatan mereka hingga jejaknya turut membawa semangat dan kewarasan?
Sia terduduk di ranjang.
Sudah berapa lama?
Polisi mengawalnya. Pria-pria bertubuh besar berjaga di sekitar apartemen bergantian siang dan malam, menjadikannya tahanan meski tidak secara harfiah. Sia bergerak, bekerja, ke minimarket, dan berjalan-jalan seperti biasa namun di buntuti mirip tahanan terbebas bersyarat. Ini memuakkan, namun dari banyak hal, rasa rindunya pada Helio adalah paling menjengkelkan.
Memikirkan kabar. Apakah pria itu baik-baik saja meski tahu jika hutan adalah habitat aman dan memang rumahnya. Rindu menyelubung mirip racun yang menjalar pelan-pelan merusak otak. Sia sesekali menangis seperti orang gila. Bayangan singkat bagaimana harinya terasa lebih hidup saat bersama membuat gadis itu banyak menyesal meski entah apa yang di sesali.
Satu bulan, atau lebih? Sia tidak yakin. Sudah selama itu sejak interogasi di ruang penyidik, polisi terus mencecarnya dengan segudang pertanyaan mirip-mirip.
“Di mana kalian bertemu?”
“Apa kamu melihat gelagat mencurigakan?”
“Apa Helio menyakitimu? Kami sebagai pengayom masyarakat hanya khawatir tentang Anda, nona. Pula bukan hanya demi kepentingan individu, namun negara.” Serta ocehan lainnya yang seperti template. Padahal dengan jelas, ayah Helio menonton dari balik kaca tidak tembus pandang sembari mengamati. Mereka adalah penjahatnya, menciptakan mutan dengan eksperimen tidak masuk akal. Kepentingan negara apanya? Toh, negara ini baik-baik saja. Benar-benar memuakkan.
Rindunya membuncah tidak karu-karuan. Mereka bahkan tidak menyerah setelah puluhan hari berlalu. Hanya tunggu sebentar lagi. Atau..
. . . . . .
Penginapan Kivonakka
Kakinya terseok-seok. Bunyi daun kering terinjak bersama tanah basah membuat boots hitam tampak dekil sementara beberapa air dari kubangan becek berhasil meresap melalui celah samping sepatu.
Sia berdiri di belakang penginapan tempat ia pertama kali memulai semua hal.
Pula berhasil melewati polisi yang lengah dengan mengendap mirip pencuri ulung, gadis itu meninggalkan ponsel dan hanya berbekal uang tunai serta ransel besar yang rencananya akan di isi banyak makanan. Nekatnya akan pergi ke hutan. Hanya jangan kelaparan dan ia akan bertahan hingga Helio meraba radarnya.
Strategi sudah di konsep seminggu terakhir; Cara kabur, jika tertangkap, alibi, bekal makanan jika tersesat di hutan, pakaian ganti, pembalut dan segala hal yang berkemungkinan di perlukan. Sia dengan segala kehati-hatian serta gerakkan teliti dan mendetail, berhasil melarikan diri melalui jendela kamar dengan perhitungan rumit, gadis itu sampai di penginapan kurang lebih setelah menempuh lima jam perjalanan dengan transportasi umum pada jam sepi tengah malam.
Pandangannya kini lurus menatap kegelapan di antara pepohonan rimbun. Gelap dan mencengkam adalah penggambaran cocok meski dingin lebih mendominasi hingga merangsek sum-sum tulang belakang. Sia melepas boots, menyingkirkan dua benda itu sembarangan lalu mengambil sandal cadangan bersama senter dengan cadangan baterai kelewat banyak. Persiapannya sangat matang. Kini, hanya keberanian yang perlu di pertajam tatkala pikiran binatang buas bersembunyi di balik rimbunan atau hantu pemakan daging manusia menggelayuti pikiran yang perlu di singkirkan.
Benar-benar gelap gulita. Senter dengan penerangan tidak seberapa itu menjadi modal kornea membias cahaya. Suara binatang kecil-kecil bersahut-sahutan. Anjing yang menggong-gong entah di belahan mana, riuh gagak menghiasi langit malam dan angin yang menggesek dedaunan menjadi latar indah di mana kaki kecil pula dekil melangkah.
Sia meraba jalan sembari merapal nama pria itu berulang-ulang. Pun tidak berani berteriak memanggil karna takut ada makhluk lain yang menyahut.
Tengah malam dalam hutan sendirian. Gelap gulita, dingin dan mencengkam. Pula tidak tahu arah ke mana kaki melangkah. Hanya bergerak maju sesuai insting. Begini lebih baik ketimbang terpenjara seperti akan membuatnya meledak gila.
Awal kepalanya memproyeksi perjalanan penuh risiko adalah hanya karna tidak takut mati. Tidak tentu saja, ketika yakin Helio akan datang. Dari penginapan hingga hutan yang menjulang mencengkam itu adalah wilayah kekuasaan pria itu. Helio tidak akan membiarkannya mati.
Helio tidak akan membiarkannya mati.
Helio tidak akan membiarkannya mati.
Kan?
Tepat ketika suara geraman masuk begitu terang dalam rungu. Pun Sia tidak berani mengarahkan cahaya pada sumber suara yang terasa dekat. Hanya langkah kakinya di percepat. Sambil terseok, sesekali jatuh, lalu membekap mulut agar deru napas terengah tidak menghambat dengan kaki terpincang penuh luka karna menerjang ranting dan tumbuhan berduri.
“Helio.. aku benar-benar takut” Cicitnya pelan. Langkahnya semakin berat sementara dingin menusuk meski pakaian tebal berlapis hingga mempersulit gerak. Suara geraman tidak lagi terdengar, namun sangat yakin jika makhluk apa pun yang ada di belakangnya, pasti masih mengintai. Hanya menunggu kapan di terkam dan menjadi santapan. Sia putus asa, namun tidak memikirkan mati. Keyakinannya penuh akan di selamatkan meski entah sudah berapa lama derapnya melangkah hingga benar-benar lelah.
Sudah berapa lama?
Dua jam, tiga jam?
Tepat di bawah pohon Ek yang paling besar sementara akarnya menjulang panjang. Sia menyorot tiap bagian yang akan ia jadikan tempat istirahat. Tanah masih basah sementara lembap dengan suhu rendah tidak nyaman. Kini bokongnya merebah seiring ransel yang ikut di turunkan.
Dalam waktu ini, mengisi daya dengan makan dan minum adalah jalan menuju hidup lebih lama. Sia tidak merasa lapar meski tubuhnya lemas luar biasa. Ketakutan dan viberasi sejenis tampak bergerombol jadi satu memenuhi kepala hingga menekan sinyal lapar. Itu pula yang memicu halusinasi atau ilusi optik macam-macam.
Suara resleting terdengar begitu nyaring. Atau hanya perasaannya saja? Di tempat sangat gelap yang bahkan bulan pun enggan menampakkan sinar meski hanya setitik. Langit mendung meski curah tak terjun, Sia yakin jika fajar tiba, suasana hutan pasti di penuhi kabut.
Membuka kotak berisi potongan daging yang di taburi saus krim terlihat penuh dan sesak, gadis itu menyantap hati-hati meski perutnya benar-benar menolak. Untuk melangkah, setidaknya Sia butuh energi dan sangat mengantisipasi dehidrasi.
“SRRRAAKK”
Terperanjat sembari memegangi dada. Sia bahkan tidak berencana membalik tubuh atau berinisiatif mencari sumber suara. Tidak penting dan bukan urusannya, masih baik jika itu hanya suara rakun, babi hutan atau rusa. Asal jangan binatang buas. Geraknya buru-buru menelan tiap potongan dengan tangan gemetar. Ini adalah bagian menyebalkan. Hutan dan segala keparat di dalamnya, kecuali Helio.
Sial.
Meski suara binatang malam saling bersahut-sahutan, namun bunyi tenggorokannya menenggak air adalah paling nyaring. Rasanya merinding, bahkan mendengar suaranya sendiri.
Sudah sejauh mana ia berjalan?
Apakah para polisi dan tentara akan menemukannya?
Langkahnya melemah seperti permen jeli. Pula ketika senter itu di arahkan pada kaki yang menyerah meminta di istirahatkan, Sia menemukan beberapa ekor lintah menempel tengah menghisap darahnya. Gadis itu hanya menggigit bibir bawah merasakan kaget sekaligus jijik. Kembali memasukkan kotak daging yang tidak habis, tangannya menggenggam pisau dari bagian samping ransel untuk menyingkirkan lintah dari kakinya. Ini menjijikan. Sangat.
“Helio…” Tergugu di antara dua lutut. Menenggelamkan wajah dengan isak pelan. Dadanya sesak dan seluruh tubuh seakan meluruh, Sia menangis tersedu-sedu.
Ini barangkali konyol dan gila.
Bisa saja hanya hidup nyaman di rumah dengan sisa logam mulia yang di berikan Helio. Itu cukup untuk kehidupannya hingga mati. Atau bersabar sembari menunggu Helio kembali sesuai janjinya.
Mengapa memilih kabur lalu nekat mencari ke hutan sendirian tengah malam? Pergi pada saat matahari naik terik saja ia tersesat, apalagi ketika tidak satu pun hal yang dapat di rekam retina seperti sekarang. Sial, rasa rindunya mengalahkan kekhawatiran dan nekat berjudi dengan keyakinan jika pria itu akan datang. Atau mati. Pilihannya memang seperti itu, rasanya terlambat jika mengocehkan tentang jatuh cinta yang memicu kebodohan.
Tidak ada tempat yang pas untuk merebah. Seluruh tanah kotor dan becek. Menyandar pada pohos besar sementara bokongnya dekil dengan air yang sedikit-sedikit merembes masuk dalam celana, ini menyebalkan juga. Semua hal menyebalkan dan gadis itu makin tergugu.
“Helio, ayo menikah. Aku akan jadi perempuan baik dan tidak akan mudah memukulmu. Aku berjanji akan memberimu susu meski dadaku tidak berair” Mendongak dengan air mata yang mencurah deras, Sia mulai mengocehkan hal-hal gila. Rindunya benar-benar menyakitkan, lebih sakit dari posisinya sekarang.
Tentu saja tidak ada jawaban selain suara gagak yang terbang berjarak sekitar sepuluh meter ke atas. Sangat mengganggu dan tentu saja menyeramkan.
“Enyahlah! Kekasihku akan membunuhmu! Gagak sialan” Menyeka air matanya dengan lengan baju, gadis itu kembali menangis lagi.
Lalu terdengar derap langkah mendekat.
Lebih dekat.
Sia memejamkan mata. Kepalanya riuh menerka makhluk apa yang memiliki langkah besar terasa mendekat, pula tidak berpikir jika itu Helio. Hanya kembali membekap diri agar isaknya tidak teraba. Ilusi optik, ilusi bunyi, pula delusi yang sudah ia pelajari tetap saja tidak terkontrol tatkala materi itu di praktikan. Rasanya sangat nyata dan menakutkan, bayang-bayang pada isi kepala yang di realisasikan indra merupakan sugesti paling menyebalkan sedunia.
“Sia” Bariton yang paling di kenal menggema. Mirip pepohonan yang merefleksikan membuat suara itu memantul bertalu-talu masuk dalam rungu. Sia kontan bangkit, kaki yang sejak tadi mirip permen jeli, kini tiba-tiba terasa gagah dan jejak.
“Helio?” Mengarahkan senter ke sembarang, gadis itu mencari sumber suara. Tubuhnya berputar searah senter yang ikut bergerak cepat.
Sial.
Kosong.
“Helio!!!” Berteriak kencang tatkala legamnya tidak merekam si pemilik suara. Gadis itu mulai ketakutan, lebih takut dari sebelumnya. “Ilusi sialan, padahal aku sedang tidak lapar dan tidak dehidrasi. Aku bisa mencari Helio. Aku akan menemukannya dan terbebas dari hutan sialan yang terus memanipulasi indra. Hutan sialan, hutan sialan, hutan sialan”
Mengangkat ransel dan kembali akan melanjutkan perjalanan. Karna makin diam, rasanya makin riuh isi telinga.
“Aku pernah mendengar ada akord rahasia
Bahwa Daud bermain dan itu menyenangkan Tuhan
Tapi kamu tidak terlalu peduli dengan musik, kan?
Nah jadinya seperti ini
Yang keempat, kelima, kejatuhan kecil, pengangkatan besar
Raja yang bingung menyusun Hallelujah
Haleluya, Haleluya
Haleluya, Haleluya
Yah, imanmu kuat tapi kamu butuh bukti
Kamu melihatnya mandi di atap
Kecantikannya di bawah sinar bulan menggulingkan ya
Dia mengikatmu ke kursi dapur
Dia menghancurkan tahtamu dan dia memotong rambutmu
Dan dari bibirmu, dia menggambar Haleluya
Haleluya, Haleluya
Haleluya, Haleluya
Yah sayang aku pernah ke sini sebelumnya
Aku telah melihat ruangan ini dan aku telah berjalan di lantai ini”
“Sial, padahal aku tidak percaya Tuhan” Lantunan lagu rohani menggema sepanjang perjalanan. Tidak yakin pada zat yang rumornya adalah pemilik alam semesta, namun hafal hampir seluruh lirik lagu kerohanian karna teman satu agensinya selalu membawakannya menyebalkan. Pula ia jadikan medium menakuti hantu.
Masih sibuk mengulang nyanyian. Bukan hanya kakinya yang pegal. Kini, pengecapnya turut keram dan tenggorokannya kering. Sia kembali memutuskan berhenti untuk menenggak air. Padahal baru kurang lebih sepuluh menit perjalanan sejak istirahat terakhir.
“Bernyanyi lumayan membuat rasa ciutku berkurang. Jika beruntung, aku akan memeluk agama ini” Suara air masuk begitu nyaring lewat tenggorokan, napasnya masih terengah menelan kasar sebelum menyeka mulutnya. “Benar, bernyanyi sepanjang jalan tidak membuat ini terasa menyedihkan. Apa tidak apa-apa jika aku bernyanyi lagu para penganut Satanis?”
“Oh motherfucker” Pupil legamnya kian melebar tatkala beradu pandang dengan dua pasang milik binatang buas entah jenis apa. Sia tidak yakin ketika refleksnya buru-buru berlari sekuat tenaga saat mendapati dua pasang mata kuning terang di antara rerimbun gelap. Itu jelas harimau, Sial. Harimau bahkan tidak ada di Finlandia. Sia lari terpontang-panting tak terarah. Senter bergerak tidak menentu dan sesekali menabrak pohon karna gelap.
Benar. Sesuatu ikut berlari mengejarnya dari belakang. Tidak bersuara namun terdengar jelas. Ini bukan ilusi. Sialnya binatang jenis kucing besar atau jenisnya, mereka memiliki lapisan reflektif dan retina dengan sel fotoreseptor, penglihatan nocturnal yang membuat mereka melihat dalam gelap. Ini jelas tidak adil dan Sia kalah telak. Sial, gadis itu tidak jadi akan memeluk agama yang akan ia pertimbangkan jika mati malam ini.
“Aku pernah mendengar ada akord rahasia
Bahwa Daud bermain dan itu menyenangkan Tuhan
Tapi kamu tidak terlalu peduli dengan musik, kan?
Nah jadinya seperti ini
Yang keempat, kelima, kejatuhan kecil, pengangkatan besar
Raja yang bingung menyusun Hallelujah
Haleluya, Haleluya
Haleluya, Haleluya”
“Aku percaya kali ini padamu Tuhan. Tolong aku…”
Tepat ketika ambruknya pada genangan air yang membentuk cekung dangkal ketika kakinya menyandung batu kecil, Sia menjerit sementara makhluk itu melompat dengan kuku tajam yang siap menerkam.
“Raja yang bingung menyusun Hallelujah
Haleluya, Haleluya
Haleluya, Haleluya”
Hening.
Apa ini delusi juga?
Makhluk yang mengejar dengan lari mirip cheetah. Hanya ilusi indranya lagi? Sial.
“Kubilang tunggu di rumah, aku akan datang ketika mereka sudah lengah” Bariton sama seperti yang ia dengar beberapa saat lalu. Kali ini, Sia bersumpah tidak akan terkecoh dengan ilusi, delusi dan bajingan lainnya. Gadis itu menarik napas dalam, mengambil senter yang sempat terpental sekitar tiga meter ke depan. Sambil merangkak, tangan kecilnya berhasil meraih benda itu.
“Ayo lanjutkan perjalanan” Menyeka senter dekil sementara permukaannya basah, gadis itu mengabaikan suara atau apalah entah di belakangnya. Delusi, delusi, delusi.
“Raja yang bingung menyusun Hallelujah
Haleluya, Haleluya
Haleluya, Haleluya”
Lagi, Sia kembali menyanyikan lagu kerohanian sambil membelah semak belukar ketika jalan tidak ia temukan.
“Sejenis tanaman… halimun? Bagaimana bisa tanaman semacam itu ada di sini? Aku bahkan harus pergi ke rumah kaca untuk melihat tanaman ini hidup” Sia mengoceh di antara celah lagu yang usai dan kembali di nyanyikan. Senternya menyorot pada tanaman setinggi betis yang membentuk rimbun.
“Sia” Suara itu kembali menggema dari belakang. Sangat persis di belakangnya.
“Aku tidak akan tertipu lagi delusi sialan. Aku tidak akan tertipu. Helio akan datang dan aku akan terbebas dari alam sialan ini” Imbuhnya dengan napas tersengal, masih menapaki jalan yang sesekali menciptakan baret pada punggung kaki.
Sebelum kakinya melayang.
Tubuhnya tidak lagi menapak karna seseorang, sesuatu, atau entah apa mengangkat tubuhnya dari belakang. Mengangkat naik sambil mengapit mirip membawa boneka di depan.
Napasnya harum dan tangannya berbulu lebat.
Aroma yang sangat ia kenal.
Tubuhnya tinggi dan besar.
“Helio?”
“Hm”
Lalu gadis itu tertawa. Tertawa terbahak-bahak masih di posisi sama. Helio membawanya dengan mengapit tubuh itu dengan satu tangan, membuat Sia melayang menempel pada dada.
“Raja yang bingung menyusun Hallelujah
Haleluya, Haleluya
Haleluya, Haleluya”
Kembali melantunkan lagu rohani sambil tersenyum cerah. Matanya tidak menangkap apa pun ketika senternya pula ia abaikan pun entah ke mana. Ada Helio. Tubuhnya di angkut seperti menggendong seekor kucing sembarangan namun kokoh. Aroma Helio sangat khas mengaur mengobati rindunya meski yakin jika melihat, Sia hanya akan menemukan serigala dengan moncong panjang dengan bariton begitu seksi.
“Lagu apa itu? Aku seperti familiar” Melempar pertanyaan untuk pertama kali, Helio mempercepat langkah meski tidak berlari.
“Aku juga tidak yakin. Tapi, kata temanku, itu bisa menyelamatkanmu”
Ada kekehan di antara napas berat dari mulut panjang milik Helio. “Tutup matamu Sia, dan hitung sampai seratus”
Patuh dengan langsung menutup dua kelopaknya rapat, namun tidak bisa menghentikan senyumnya yang mengembang cerah hingga kering karna angin. Sia kelewat senang. LANJUTKAN MEMBACA
