ESPRESSO

Tubuhnya menggeliat sambil menguap besar. Kelopak itu terbuka pelan-pelan lalu mengerjap berusaha mengembalikan kesadaran. Pemandangan yang sama setiap hari, barangkali baru akan terasa bosan jika sudah ratusan juta kali. Dan kini hanya rasa hangat dan bahagia yang menyelubungi.

Zain membelai pipi, merasakan kulit halus menyentuh jemarinya. Deru napas teratur pelan menyapu wajah ketika jarak mereka nyaris tandas.

Bulu mata kelewat panjang yang natural terlihat cantik meski tanpa riasan. Berkali-kali mengamati, tak sekali pun menemukan celah buruk pada paras ayu. Sejak kapan menjadi secantik ini? Pria itu benar-benar berpikir. Lantas seleranya beberapa bulan belakangan memang mengalami kemerosotan, atau matanya yang mulai tak wajar. Masih segar di ingatan bagaimana gadis itu pertama kali datang. Mirip kera.

Kebiasaan dan kebutuhan adalah dua komponen sempurna untuk membentuk ilusi kenyamanan yang akrab di sapa cinta. Atau persetan apalah. Entah retina yang membias mengalami kerusakan, barang kali usia menggerogot minta di beri asupan rengkuhan. Yang pasti, kini tidurnya normal, moodnya terkendali sementara hatinya menghangat setiap hari. Itu adalah cinta dalam kewarasan.

“Jam berapa ini? Kamu nggak kerja kah?” Mengusap kepala yang mendekap sembari mendusal pada dada erat, Ratu hanya mengusap surainya sayang sembari melontarkan pertanyaan.

“Aku nggak mau kerja lagi. Rasanya mau di sayang aja setiap hari”

“Oke”

Tak berencana menyanggah, setiap hari yang di katakan hanya malas kerja. Namun beberapa saat kemudian bangkit untuk mandi, tiba-tiba sibuk dan pergi. Baru akan kembali setelah hampir tengah malam.

“Hari ini aku ke Solo”

“Hmm” Zain mengecek arloji, menyipitkan mata sebelum kembali merebahkan kepala. “Bilang sama pakde-mu mau mahar berapa.” Ada kekehan di antara pertanyaan. “Tiap aku tanya dia bungkam, nanti aku bawain sapi seribu biji kaget”

Sangat memuakkan tiap datang. Pria berusia akhir lima puluh itu selalu saja petantang-petenteng sambil mengatakan bahwa dulu ia adalah kesatria dengan sabuk hitam. Mengusai berbagai bela diri dan mampu menumbangkan banyak lawan. Rasanya sangat lucu hingga menggelitik. Ketika izin pada gadisnya untuk menghajar sekali dan tertolak, pria itu memutuskan untuk diam saja.

“Aku marah kalo kamu kedapatan ngobrol sama marimas”

“Aku nggak”

“Nggak apa?”

“Nggak ngobrol sama mas Aji”

“Jangan sebut namanya, kamu selingkuh ya?”

Ratu menatapnya tajam, melepas rengkuhan paksa lalu bergerak membelakangi.

“Aku nggak suka di punggungin, Queen..”

Mengusap bokong itu berulang lalu memukulnya sesekali, Ratu hanya menepis namun tak berkomentar.

“Aku mau bercinta di depan ibu bapakmu” Ocehan itu di ikuti kekehan. Sudah berapa lama? Hingga kini gadis itu selalu menolak ajakan bercinta dan mengoceh tentang pernikahan. Khas gadis desa yang menjaga harga diri dan martabat. Padahal yang di lakukan setiap malam adalah tidur bersama sambil menyusui. Tak jarang pria itu memintanya mengoral penisnya hingga puncak, Namun kukuhnya kuat tak mau di sentuh. Hanya itu saja permintaannya sejauh harga untuk menidurkan setiap malam.

“Aku pukul mulut kamu ya?” Membalik tubuh lalu mulai mengangkat tangan berencana menghantam, pria itu hanya cengengesan.

“Queen …..”

“Kamu beneran nggak kerja”

Gelengannya kelewat pelan. Padahal sudah mengatur waktu untuk mandi satu jam lagi. “Jangan ikut ke Solo, nyusul aja nanti” Zain kontan mendelik, dahinya berkerut banyak dengan roma curiga

“Udah aku duga kamu mau selingkuh. Ku bantai semua orang di rumah kamu kalo sampe tau kamu sama Ajinomoto” ocehannya agak serius, namun di iringi senyum.

“Bantai, patiin semua. Emang payah kalo mafia” gadis itu bangkit pelan-pelan. Piyama putih kebesaran dengan kancing berantakan ia benarkan sekenanya. Sementara dadanya terekspos sembarangan bekas pria itu menyusu. Persis seperti ibu menyusui, setiap malam dadanya mirip figura yang terpampang. Zain adalah bayinya.

“Queen, sejak kapan ya kamu jadi galak dan aku takut? Rasanya aku mau sekarat tiap kamu ngomel” suaranya di sedih-sedihkan. “Ah.. jantungku sakit– tidak… uhuukkhh–” pura-pura kesakitan. Ratu sudah tak lagi merasa aneh. Bagian tak masuk akal ketika ia juga mencintai pria itu. Menerima segala kelakuan aneh dan random. Zain sudah tak pernah memukul, meninggikan suara atas sejenis kekerasan lainnya sejak kejadian terakhir. Pria itu banyak berubah meski hingga hari ini tak tahu pekerjaan asli prianya. Ratu hanya menyebutnya mafia.

Benar, rasa cinta datang karna terbiasa. Lalu di perlakukan bak permaisuri serta intensitas kontak dan segala hal yang berhubungan. Siapa pula tak terpukau pada wajah kelewat tampan? Meski awalnya momok dan monster, kini di matanya, Zain hanyalah pria sakit yang butuh pertolongan. Sejauh ini.

Aji tersingkir perlahan, di matanya kini hanya ada pria tinggi besar dan tampan mirip bayi yang senang merengek. Sepertinya kata tersingkir pula menjadi alternatif karna tak ada pilihan.

“Nggak nginep ya? Kita mau menikah sebentar lagi Queen!”

Bangkit dan melangkah terburu-buru mengikuti gadis yang sedang buang air  kecil, pria itu membuntut lalu berjongkok di depan manusia yang terduduk di kloset.

“Aku lagi pipis, kamu ngapain?” Hanya menggeleng, Zain menatapnya aneh.

“Aku mau melamar, Aku nyusul nanti ya? Sewa orang biar bisa pura-pura jadi orang tua aku. Orang tua kamu sensi banget sama silsilah.” Menatap penuh kelembutan tak enyah dari posisi, pria itu selalu saja memiliki cara untuk di marahi.

“Bohong hanya akan menyelesaikan masalah hari ini dan kekacauan di hari esok”

“Tapi aku udah terlanjur bohong”

“Kamu bisa jujur ke mereka di pertemuan yang akan datang”

Pria itu berpikir banyak. Sial. Bagian mana yang jujur, mengingat dua orang tuanya saja ia tak mampu.

“Aku nggak tau. Aku lahir dari batu, Queen. Aku nggak ingat”

Gadis itu menatapnya lekat. Apa yang di harapkan dari pasien dokter jiwa yang menjalani terapi dan obat-psikotropika selama dua tahun? Orang gila mana pun tahu hal-hal semacam itu mengikis memori, namun sialnya tak berhasil memangkas trauma.

“Langkah pertama, kamu bangun dan keluar, aku mau mandi”

“Nggak mau”

“Zain..”

“Iya sayang”

Gadis itu melotot, dua pupilnya membesar berusaha menakuti. Zain terkekeh sekali lagi. Baru berapa bulan dari perjumpaan pertama mereka? Mengapa kondisinya sangat jauh terbalik? Gadis itu lucu dan menakutkan sekarang. Mengapa dulu ia sangat berani menyakiti? Manusia segemas itu seharusnya memang ia sekap di ketiak.

“Let me make you get cum”

“Fuck off”

Pria itu mendengus, bangkit malas namun patuh berjalan keluar.

Perkara semacam itu yang membuat Ratu jatuh cinta. Mata sayu penuh pemujaan serta segala kepatuhan. Zain menjadi budak sekaligus tuannya. Tak pernah memarahi dan benar-benar mengalami perubahan besar-besaran. Pun tiap mood memburuk perangainya tak jauh berbeda, pria itu masih saja memukuli pelayan dan membanting banyak barang. Namun tak berani marah padanya.

────୨ৎ────

Tubuhnya merapat pada dinding tatkala intimidasi berhasil menyeretnya dalam rengkuhan tanpa bisa menolak apalagi melawan. Tak ada jarak antara keduanya ketika bibir menaut sementara cecapan kelewat panas. Sopir sudah menunggu dan keberangkatan pesawat tak akan lama. Zain masih mengapitnya di antara diri dan dinding sembari menginvasi seluruh rongga gadisnya.

“A—ku telat” suaranya tercekat tatkala tak di beri ruang untuk bersuara. Pria itu kelewat liar pun tak sabaran, gaya berciumannya mirip orang akan menelan bulat-bulat. “Jangan nakal, aku punya banyak mata, satu aja ada laporan aneh, aku akan jadi Megatron” menjilat bibir ranum yang masih basah sekali lagi “Aku serius sayang” dan lidahnya kembali menyatroni seisi mulut meski tak lama. Ratu diam saja hingga pria itu selesai dengan acara perpisahan yang bahkan hanya beberapa jam. Pria itu mengoceh akan menyusul dan melamar nanti malam.

Masih saja cemburu pada mantan kekasihnya.

Ratu tak ada rencana kembali pada pria baik-baik itu. Rasanya sudah tak pantas dan memalukan. Aji adalah gambaran pangeran yang nyaris tak ia dapati selanya. Hanya pria keren dengan tutur kata lembut dan mudah merona. Persetanlah, kini pun hidupnya tak ada harapan untuk memikirkan pria lain apalagi berencana mencari tipe ideal. Hak kebebasan memilih-pun ia tak punya.

Penerbangan memakan waktu satu jam lebih sedikit. Mendarat lalu kembali di bawa oleh sopir pribadi untuk sampai di kediaman orang tuanya. Gelagatnya mirip istri pejabat penting yang di kawal beberapa orang, Zain lumayan sinting untuk hal-hal semacam itu, pun Ratu sudah tak pusing dan terbiasa dengan tingkah dan perilakunya.

Baru kembali sekitar seminggu yang lalu. Kini intensitasnya bertemu orang tua makin sering dan Zain tak heboh meski di buntut pengawal dan pria itu akan menyusul. Terpenting kehidupannya jauh lebih baik berkali lipat.

Di perlakukan bak ratu sungguhan, siapa tak suka?

Tak lama dan tak terasa. Merasa hidupnya menjadi jauh lebih baik dan manusiawi. Benar, hanya ikuti takdir maka di sela tangis, akan selalu ada hari cerah penuh tawa.

Bahkan langkahnya tepat sampai di depan rumah. Akhir-akhir ini pikirannya banyak terdistraksi beberapa hal, seperti memikirkan pria yang merengek meminta di beri puting.

Sial. Itu bahkan cabul yang menyenangkan.

“Nduk.. nggak sama temanmu?” datang di sambut ibunya, gadis itu masuk sembari melendoti tangan. “Itu pacar aku buk” Mereka menuju dapur dan wanita berusia pertengahan lima puluh itu berencana memberi anaknya makan. Sudah berkabar sejak semalam jika akan datang, namun Ratu tak mengatakan rencana Zain untuk melamar, biar terjadi dadakan karna sedang tak ingin mendengar ibunya membandingkan antara kekasihnya dan Aji.

“Ibu sukanya Aji. Baik, sopan, ramah. Yang pasti satu suku dan nggak urakan. Ibu khawatir Zain galak atau suka selingkuh, orang kota biasanya pada nakal” kekhawatiran klise dan lumrah. Namun roma cemas itu terang-terangan di berikan seolah mengetahui banyak hal. Bagian mana yang masuk akal ketika anak gadisnya hilang selama satu bulan lebih lalu tiba-tiba datang bersama pria. Meski Ratu sudah memvalidasi jika hal buruk sudah tak berlaku lagi, kekasihnya sudah menjadi pria keren dan baik hati, pun di lontarkan pada dua orang tuanya dengan terus membangga-banggakan kekasihnya, nyatanya tidak mengubah pikiran buruk orang tuanya.

“Aku sukanya mas Zain buk” hanya menatap sekilas saat mendengar jawaban putrinya. “Aji pernah cerita di pukulin laki-laki yang kamu anggap pacar itu” Ada rasa tak nyaman saat mengatakan, air muka itu bahkan tidak bersahabat. “Terus kamu di injak dan di sikut.” Jedanya sebentar tatkala mengambil nasi untuk mengisi piring “Ya.. ibu nggak tahu bener atau enggak, yang pasti waktu kamu menghilang selama ini, ibu benar-benar khawatir dan kepikiran. Apalagi dengar aduan dari Aji”

Ratu tak lagi menanggapi ketika semua lontaran adalah fakta. Lagi pula tak ada celah pergi, kabur atau sejenisnya. Bagian paling mengejutkan adalah tumbuh rasa secepat itu dalam hatinya. Zain adalah villain yang rela mati untuk gadisnya. Dewasa ini, ia banyak berpikir tentang bedanya pahlawan dan villain, ini adalah gambaran umum tentang dirinya sendiri, buka kebutuhan khalayak. Zain rela menghabisi banyak nyawa, mengeluarkan banyak uang dan bertaruh hidup untuknya. Di mata umum, perilaku semacam itu adalah gambaran sempurna dari tokoh jahat dalam sebuah fiksi. Namun jika di telaah dari sudut pandang lebih sempit, seperti di mata seseorang yang berusaha di lindungi oleh si jahat, itu adalah sebuah perjuangan dan keindahan cinta. Hanya saja dunia selalu tak  berpihak pada minoritas.

Namun kadang helaan napas itu kelewat berat. Bukan, sial. Ini adalah bentuk pertahanan diri agar ia tak kalut dan goyah. Zain harga mati karna tak ada pilihan. Segala yang ia tanamkan di kepala adalah bentuk pertahanan diri.

“Nduk mau menikah buk—“ ada keraguan dalam tiap kata sebelum memandang ibunya salah tingkah. “Mas Zain mau melamar” Bukan kalimat penolakan atau keritik yang ingin di dengar, Ratu hanya ingin di restui dan semua hal akan berjalan lancar. Bukan, ketakutannya lebih pada penolakan dua orang tua lalu hubungannya dengan sang kekasih memburuk. Zain bukan seseorang yang bisa di tolak.

Ibunya terdiam lama. Hanya ikut terduduk setelah menyodorkan makanan favorit putrinya lalu menatap lekat dua manik cokelat milik anak kesayangan. Ratu bahkan tak dapat membaca air muka ibunya.

“Kamu udah mantap ya nduk?” wanita itu berdehem sebentar “Di mata ibu—mas Zain mu itu—nggak bagus” Netranya menyisir wajah buah hatinya, berharap menemukan sesuatu yang meragukan atas keputusan di sana. Tidak, yang di temukan hanya wanita beranjak dewasa. Kini gadis itu bukan lagi anak-anak yang bisa di atur, bukan anak kecil yang mau jika di minta ini dan itu. Sejak kuliah, Ratu selalu kukuh dengan pendirian. Keinginannya sangat sulit di negosiasi.

Anggukan itu menjadi jawaban atas segala hal. Pun mau di larang bagaimana, jika sudah mau tidak dapat nanti. Hanya belum mengatakan pada ayahnya.

“Ibu, Ada tamu di depan” Satu asisten rumah tangga datang dari depan, menggunakan pakaian sopan serba panjang dengan senyum semringah. Tiba-tiba teringat semua teman-teman pelayan di rumah yang tiba-tiba menghilang dan di gantikan dengan orang-orang baru. Sangat aneh, namun Zain tak berencana memberitahu ke mana mereka pergi.

“Nduk, ada mas Aji di depan. Katanya mau ketemu” Sang asisten ikut mengabrkan, sementara gadis itu diam sebentar setelah sesaat mengangguk pada asisten rumah tangga namun tak berencana beranjak.

Namun tentu saja banyak hal berjalan tak sesuai harapan. Pria tampan berusia dua puluh delapan itu masuk dengan sopan. Kacamata masih bertengger dengan tas penuh.

Senyumnya jelas naik tinggi. Ada gurat campur aduk pada air muka

“Nduk.. kamu udah bebas kan? Mas sempat kaget pas kamu bawa dia ke rumah kemarin-kemarin” Ada kelegaan di antara senyumnya. “Maaf mas nggak bisa apa-apa waktu itu” Meriah jemari cantik yang selesai dengan makanan. “Kamu pasti ketakutan, maaf” Penyesalan pada paras itu kini mendominasi, membentuk kerutan sedikit pada sudut mata dengan netra turun menunjukkan penyesalan yang tulus. Ratu tak mengerti. Wajah yang dulu amat ia rindukan ketika baru beberapa minggu menjadi sandera, kini berpegang tangan dengannya-pun terasa biasa saja. Zain benar-benar banyak menginvasi hati hingga mampu menggeser posisi pria yang sejak dulu sangat ia cintai. Atau ketakutan? Kini membedakan saja ia kesulitan

Menarik tangannya pelan, gadis itu tersenyum canggung maju mundur untuk menolak. Namun mengingat pengawal yang entah ada di mana—yang artinya—bisa saja melihat kegiatan mereka, tak ada alasan untuk terduduk bersama lebih lama. Hanya mengandung sara.

“Aku mencintai mas Zain. Kami akan menikah”

Lontaran itu mirip beberapa cuplikan pada adegan dalam film lokal. Sesaat Ratu agak menyesal mengatakan bait se-klise itu. Maksudnya, barangkali ia bisa mengatakan jika—ia baik-baik saja dan semua hal terjadi tak seperti penglihatannya terakhir kali. Kadung terucap, biarlah angin di luar yang bertiup dari arah jendela dapur menyapu, ikut menerbangkan kalimat anehnya pergi.

Namun tidak. Bagi yang di ajak bicara, kalimat itu tak hanya hilang di bawa angin yang lolos dari sela jendela yang tertutup gorden tipis, yang bahkan meliuk tak terarah tatkala pawana membawanya ke sana ke mari. Lontaran itu mirip petir yang menghantam di siang bolong. Senyumnya turun di gantikan tatapan tak percaya setengah meneliti tak terima. Itu menyakitkan ternyata.

“Kamu di guna-guna ya, nduk? Kenapa? Mas masih ingat pas kamu di injak. Itu bukan perilaku yang normal yang di lakukan laki-laki terhadap perempuan.” suaranya melemah, berharap dapat menyadarkan gadis yang di pikirannya tengah di guna-guna.

Ratu diam tak berencana menjawab. Langkahnya besar menuju wastafel lalu mencuci satu piring. Rencananya pulang karna ingin mengobrol dengan ibunya dan berguling-guling di kamar lalu bermain di kebun teh milik ayahnya. Berbicara agak lama dengan pria yang sudah mendapatkan peringatan sebelumnya, hanya akan membuat dirinya dalam bahaya.

“Nduk ..”

“Mas bisa pergi aja nggak? Aku mau sendirian”

Dua netranya menatap lekat. Setengah tak percaya perangai kekasihnya menjadi dingin dan aneh. Gadis itu bahkan mengoceh tentang pernikahan dengan monster yang ia lihat sendiri bagaimana bengis dan gilanya. Namun tak pula  berencana membujuk apa lagi mengemis. Pria itu bangkit dengan kepingan hati yang luka. Empat tahun mereka menjalin hubungan sambil terpisah jarak. Lepas lulus kuliah Ratu ngotot tak mau pulang dan memilih membuka kopi shop yang berujung nestapa setelah bertemu Zain.

Rasanya ia tetap berdiri di sendirian dengan rasa tak kalah sepi. Mirip jatuh cinta sendirian. Padahal gadis itu dulu juga memuja dan mencintai. Hal-hal tak terduga banyak terjadi dan tak dapat di tolak. Orang-orang akrab menamainya takdir. Aji berlalu dengan rencana lain, bagian mana ia bisa menerima segala hal sementara gadisnya jelas tidak baik-baik saja. LANJUTKAN MEMBACA…

Write a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *