LIBUR VIP DI EPS 14.

Rumah Besar yang tidak pernah senyap.

Pemakaman Ardi Aberda berlangsung di rumah yang terlalu besar untuk menampung duka.

Karangan bunga berjajar dari pagar besi hitam hingga ke teras marmer. Nama-nama perusahaan tambang, konglomerasi, dan kolega ayahnya tercetak tebal di pita-pita satin. Orang-orang berdatangan dengan pakaian gelap, wajah serius, suara diturunkan setengah nada—seperti kesedihan bisa diatur volumenya.

Olivia berdiri di sudut ruang tamu.

Usianya dua belas tahun, tubuhnya kecil, gaunnya hitam kebesaran. Tangannya menggenggam ujung lengan bajunya sendiri, kuku-kukunya menekan kulit sampai memerah. Sejak pagi, rumah itu penuh orang, tapi Olivia merasa seperti sendirian di bagungan megah dan kosong.

Peti jenazah kakaknya diletakkan di tengah ruangan.

Ardi Aberda.

Dua puluh dua tahun.

Meninggal akibat kecelakaan mobil di jalan tol malam hari.

Kata kecelakaan diulang-ulang orang dewasa seperti mantra mengerikan, mereka tak lelah mengulang cerita yang sama saat ada pelayat baru datang. Olivia tidak yakin apakah ia menangis, atau peti itu yang menangis. Matanya kering, kepalanya berdengung. Ia menatap peti itu lama sekali, menunggu sesuatu—rasa kehilangan, mungkin—tapi yang datang justru kehampaan.

Ayahnya datang terlambat.

Seperti biasa.

Pria itu melangkah masuk dengan setelan mahal dan wajah dingin. Tidak memeluk siapa pun. Tidak menyentuh peti anaknya. Ia hanya berdiri, menerima jabat tangan, anggukan hormat, dan tatapan penuh kepentingan.

Di hadapan semua orang, wajahnya berduka. Pun mengatakan banyak hal tentang ini dan itu yang lebih terdengar mirip gaungan iblis berpidato.

Bagi  Olivia, pria itu adalah sumber suara-suara mengerikan lama yang kembali berisik di kepala dan mengais atensi pada tiap respons tubuhnya.

Jika merunut pada fakta, sejatinya ayah Olivia tidak pernah menyentuh tubuhnya dengan cara yang melanggar. Seperti bayangan dan mimpi buruknya tiap malam.

Dan justru itu yang membuat trauma Olivia sulit dijelaskan.

Sejak kecil, Olivia terbiasa terbangun oleh suara tawa asing di malam hari. Sepatu-sepatu wanita di dekat pintu. Parfum yang bukan milik ibunya. Pintu kamar ayahnya yang tidak pernah ditutup meski  di dalamnya, pria itu sedang mencabuli banyak sekali gadis-gadis muda. Percakapan yang terpotong. Bayangan-bayangan di lorong.

Gadis itu tidak memahami apa yang terjadi, tapi tubuhnya jelas merespons dengan baik—bagaimana kehidupan mengerikan yang memaksanya mengetahui apa yang seharusnya tidak dimengerti oleh anak seusianya.

Rumah yang tidak aman.

Ibunya sering menangis dalam diam.

Kadang menangis dengan suara.

Kadang dipukul.

Kadang didorong.

Kadang hanya dihina, direndahkan, seperti kemanusiaannya terkikis dengan cara paling tidak wajar.

Olivia dan Ardi setidaknya belajar satu hal sejak dini, yang ditanamkan ibunya dengan dalih agar tetap hidup dan bahagia: diam adalah cara bertahan hidup.

Ardi sering berdiri di depan Olivia saat ayah mereka mengamuk.

“Masuk kamar” katanya.

Dan Olivia Menuruti.

Namun, suara tidak bisa ditutup pintu.

Bentakan, pecahan kaca, tangisan ibunya—semuanya menyelinap masuk ke kepala Olivia dan tinggal di sana. Berulang-ulang, berlangsung lama dan tertanam bagai bom waktu.

Otaknya yang di paksa dewasa terlalu cepat.

Pada usia delapan tahun, Olivia mulai mengalami mimpi buruk.

Ia terbangun dengan jantung berdebar, keringat dingin, dan perasaan bersalah yang tidak dimengerti. Ia merasa kotor, meski tak tahu kenapa. Ia merasa ikut bersalah, meski tak melakukan apa pun.

Inilah awal dari trauma kompleks—jenis trauma yang lahir bukan dari satu kejadian, melainkan dari paparan terus-menerus terhadap kekerasan, ketakutan, dan kehilangan rasa aman, terutama di masa kanak-kanak.

Otak Olivia, yang masih berkembang, belajar satu hal penting bahwa; dunia tidak bisa diprediksi. Orang yang seharusnya melindungi bisa menjadi ancaman.

Rasa takut yang tidak pernah pergi, menetap begitu damai dan tumbuh bersamanya, menjadi bagian dari struktur pikirannya

Dan kematian kakaknya adalah titik Retak yang serius. Tidak Bisa Diperbaiki

Ardi adalah satu-satunya penyangga.

Kematian kakaknya menghancurkan sistem pertahanan terakhir Olivia.

Setelah pemakaman, rumah itu kembali sepi—namun kali ini dengan kehampaan yang lebih dalam. Ayahnya semakin jarang pulang. Ibunya semakin tenggelam. Olivia semakin sering menghilang ke dalam dirinya sendiri.

Pada usia lima belas tahun, ibunya mengajak ia pindah ke kota Bandung, dan di sana, Olivia mulai mengalami flashback. Bukan jenis kenangan indah apalagi nostalgia manis dengan keluarga. Itu mustahil, tapi lebih pada potongan suara langkah di lorong, tawa perempuan asing, aroma alkohol dan teriakan ibunya.

Tubuhnya bereaksi seakan kejadian itu sedang berlangsung sekarang.

Inilah PTSD.

Ketika Realitas dan Imajinasi Trauma Menyatu.

Tahun Ketika Rumah Benar-Benar Runtuh

Olivia kelas satu SMA ketika kabar itu datang tanpa tandan aling-aling.

Bangkrut.

Ia ingat saat dipaksa ikut kembali ke Jakarta untuk—entah, ia tidak yakin, ibunya mengatakan ingin mengurus beberapa hal.

Dan kata  bangkrut tidak diucapkan dengan dramatik. Tidak ada teriakan. Tidak ada bantingan pintu. Hanya percakapan singkat orang dewasa yang terdengar dari balik dinding, lalu koper-koper yang tiba-tiba muncul di ruang tengah. Ibunya bilang; semua berakhir.

Ayahnya menghilang lebih dulu—kali ini bukan sekadar jarang pulang, tapi lenyap sebagai figur. Tak ada lagi setelan mahal. Tak ada lagi tamu-tamu asing. Tak ada lagi rumah besar yang penuh gema.

Dan mereka kembali ke Bandung tanpa pemberitahuan.

“Kali ini kita pergi sungguhan” kata ibunya, tidak ada air mata. Tentu saja, ayahnya tidak ada.

Olivia duduk di tepi ranjang dengan wajah datar dan hampir tak memiliki emosi. Ia mengangguk, seperti anak yang sudah paham harus apa dalam semua kondisi; mengangguk dan diam.

Namun ada satu hal yang membuatnya diam terlalu lama. Nama seseorang yang selalu usil dan menganggunya di sekolah baru, sekaligus teman satu-satunya yang ia miliki dalam kurun 2 bulan; Jung.

Teman laki-laki itu satu-satunya orang yang masih membuat sekolah terasa nyata. Jung yang menunggunya di gerbang. Lalu memainkan rambutnya dari belakang sambil tertawa, Jung yang menawarkan bekal berisi nasi goreng dingin yang amis padahal di sekolah ada kantin, Jung yang memberinya pulpen cantik hasil curian dari anak kelas lain, Jung yang selalu mengajaknya bicara tak peduli ditanggapi atau tidak dan Jung yang tahu kapan Olivia harus diajak bicara, dan kapan cukup ditemani dalam diam.

Dan saat tangannya berdarah padahal tidak. Saat matanya melihat pisah penuh ceceran noda merah karena ia yakin lepas membunuh ayahnya yang datang ke Bandung untuk membunuh ibunya demi uang asuransi. Olivia terduduk gemetar, para tetangga datang berkumpul penasaran dengan teriakan yang menggema dari rumahnya. Ibunya berkelahi dengan sang ayah dan jatuh pingsan.

Warga menggotong ibunya, sementara Olivia ketakutan atas hal yang tidak pernah benar-benar terjadi. Ia bersumpah telah membunuh ayahnya dengan pisau. Pisau dapur–pisau daging yang berlumur darah. 

Siang itu, saat semua orang sibuk membawa ibunya ke rumah sakit, Olivia sendirian dengan rasa takut yang seperti membelenggu lehernya. Detik itu, Jung datang lagi, dengan wajah tengilnya, dengan senyum andalan dan dengan ocehan ajaib. Pria itu memeluknya, lalu hilang semua tawa, pria itu berkata: “nggak ada darah dan pisau nggak berdarah, semua baik-baik aja” 

Olivia tidak takut pada orang itu, Jung banyak mengatakan hal aneh yang membuatnya hangat.

Seperti hal-hal buruk yang menyusul setelah hal buruk berlalu. Begitu terus mirip siklus.

Setelah pulang dari rumah sakit, ibu Olivia mengatakan akan pergi–entah, tidak memberitahu spesifik. Wanita itu membawa anaknya ke rumah Jung. satu-satunya teman yang dimiliki anaknya. Tidak lagi berpikir jika manusia yang dititipi adalah laki-laki, wanita berusia pertengahan 40 itu seperti orang putus asa yang diteror oleh suaminya untuk di bunuh.

“Aku ikut” Olivia menangis kesetanan, ia menarik ujung baju ibunya, memohon untuk turut serta. 

“Mami sebentar aja, nak. Janji, nanti mami kirim uang ke sini, ya? Buat jajan dan sekolah. Mami janji akan sebentar” ucapnya malam itu lebih mirip salam perpisahan ketimbang janji, karena nyatanya, wanita itu tak pernah kembali. Tak ada uang, tak ada kabar, dan eksistensinya bahkan tak terdeteksi.

Hari-hari berlalu penuh penantian.

Olivia makin akrab dengan Jung. berkenalan dengan Jimin, Tae dan Joon. ketiga kakak temannya yang sangat baik dan lucu. Olivia mulai bisa membuka diri ketika orang-orang terus mengajaknya bicara di rumah Jin. tidak ada hari tanpa obrolan, tidak ada waktu tanpa berkumpul dan terus mengajaknya bercerita. Rumah besar dan mewah ayahnya begitu berbanding jauh dengan hangatnya rumah ini. Begitu terang dan tidak menakutkan. Jin memintanya pergi ke psikolog, pria tertua itu berjanji akan membiayai, semuanya. Hingga sekolah dan uang jajan diberi.

Olivia beruntung. Setidaknya. 

Karena waktu berlalu tanpa ibunya.

Tanpa keluarga asli. Hanya ada Jung. hidupnya berputar pada pria itu. Lalu Tae, Jimin dan Joon. 

Sekolah, aktivitas rumah dan berbicara pada orang rumah  bukan lagi menjadi medan bertahan hidup.

Awalnya, ia jarang bicara. Duduk di pojok kelas. Menolak kerja kelompok. Menolak ditanya guru. Ia tidak punya energi untuk berpura-pura baik-baik saja. Tapi sekarang, gadis itu mudah tersenyum meski ocehannya tak pernah banyak. Jung mengajari cara bicara, kadang, pria itu bertingkah seperti Olivia adalah bayi.

Jung dan pelukannya yang aman dan tidak pernah pergi.

Jung tidak pergi.

Diagnosis Tidak Menghapus Luka

Psikiater menyebutnya PTSD kompleks dengan gejala disosiasi dan respons fisiologis ekstrem terhadap pemicu.

Olivia jelas tidak mengerti dengan istilah-istilah itu.

Yang ia pahami hanyalah ada nama untuk penderitaannya. Sudah dua bulan sejak ia di rujuk ke psikiatri

Obat diberikan. Terapi dimulai.

Pelan.

Melelahkan.

Kadang membuatnya ingin berhenti.

Namun tidak jadi ketika Jung tetap duduk di ruang tunggu setiap sesi. Tidak masuk, tidak ikut campur—hanya memastikan bahwa ia ada bersama dukungan dan senyum mengejek dan akan menarik rambutnya dari belakang. Yang jelas, agar Olivia tidak sendirian saat keluar.

Semua berjalan, semua bertumbuh. Cinta itu ada, cinta itu hadir dibarengi rasa ketergantungan yang jelas melekat keras.

Pada 18  tahun, Olivia tampak seperti orang yang “sudah baik-baik saja”.

Semua tampak normal dan sehat. Namun sialnya,  trauma tidak hilang—ia berubah bentuk.

Jika ada pemicu tertentu: kekerasan, ditinggalkan, diabaikan, kelelahan ekstrim dan bentakan atau rasa takut. Tubuh Olivia bereaksi lebih cepat dari pikirannya.

Dingin itu datang mendadak.

Bukan dingin umum—melainkan dingin yang merayap dari tulang belakang, membekukan sendi, membuat ototnya menolak bergerak. Tangannya gemetar. Kakinya kehilangan kekuatan. Napasnya pendek.

Olivia sadar.

Ia tahu di mana ia berada.

Tapi,  tubuhnya tidak bergerak sesuai kehendak. Kaku tergeletak.

Ia hanya bisa menunggu—menunggu sampai sistem sarafnya percaya bahwa ia aman.

Kadang butuh satu hari

Kadang lebih.

Jika tidak ada orang di sampingnya. Olivia sadar betul, ia akan mati kelaparan karena tubuh yang dingin membeku dan dehidrasi berat. Maka, ia sadar betul bahwa hidupnya akan bergantung pada orang lain, entah sampai kapan.

Dan setelah itu, kelelahan datang seperti gelombang pasang.

Sungguh mengerikan hidup. 

Sayangnya, Olivia tidak punya keberanian untuk mengakhiri. 

Bahkan ketika Jung dengan terang-terangan melepaskannya. Mengatakan banyak hal tentang belajar bertahan hidup dan hidup tidak hanya berkutat pada trauma. Bukan pria itu yang berubah, Olivia merasa seharusnya memang ia belajar mandiri. Sudah lima tahun berlalu. Jung bukan lagi bocah tengil yang membawakan pena cantik hasil curian, tapi pria besar yang memiliki cita-cita. Hidupnya tidak harus selalu berkutat padanya. Olivia sadar betul, ia mengerti dan ia tahu.

Dan kini, yang tersisa hanya diri sendiri sambil mengumpulkan keberanian. Keberanian untuk mati jika kemungkinan terburuk terjadi saat ia memutuskan untuk mandiri.

Tapi nanti.

Setidaknya, ia akan menemani pria yang setahun terakhir memberinya upah untuk pertama kalinya dalam hidup. Pria menyedihkan yang juga memiliki trauma aneh.

Sebentar lagi. 

Seakan, saat ia memutuskan untuk keluar dari rumah Jin, Olivia harus siap dengan kematian.

Write a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *