BAB 4. SIDANG

BAB 4. SIDANG
Gedung Pengadilan Negeri Bandung siang itu tampak dingin meski matahari menyorot cahaya terang dari balik jendela besar. Bangunan tua berlantai marmer itu dipenuhi langkah tergesa, suara sepatu beradu dengan lantai, serta aroma kertas tua bercampur dengan kopi yang dibawa wartawan. Tidak ada spanduk, tidak ada kerumunan, hanya wartawan dan keluarga yang duduk menunggu putusan yang akan menentukan hidup seseorang.
Jimin duduk di kursi terdakwa. Tubuhnya tegap, sorot matanya jernih, dan ada keheningan ganjil pada wajahnya—bukan wajah seorang lelaki yang gentar, melainkan yang bangga dengan apa yang ia lakukan. Ia yakin apa yang dikerjakan adalah benar, tahu tulang Marcel retak karena pukulannya. Namun tidak ada sesal, hanya kepuasan. Setidaknya, malam itu ia membalas sedikit kekerasan yang sudah terlalu lama dibiarkan. Gadisnya.
Di belakang, enam saudaranya duduk berjajar. Jin, sang sulung, duduk paling ujung dengan tubuh tegap dan wajah tegas, nyaris tak bergerak. Tidak ada air mata dalam keluarga itu. Mereka bukan orang yang terbiasa menunjukkan kesedihan. Yang ada hanya tekad untuk membawa adik mereka pulang.
Marcel tidak hadir—ia masih terbaring di rumah sakit, wajahnya rusak, karirnya kabur. Namun keluarganya hadir penuh, berjas rapi, membawa pengacara kenamaan dari Jakarta. Mereka menatap tajam, seakan mengingatkan hakim bahwa mereka bukan orang sembarangan.
Mona dipanggil duduk di kursi saksi. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya pucat, bekas-bekas luka masih tertanggal di sana seolah mempertegas apa yang terjadi atau katakan alasan mengapa ia ada di ruangan ini pagi-pagi. Mimiknya datar, tidak ada ketakutan, gadis itu pandai menekan rasa semacam itu.
Ketika hakim memintanya menjelaskan, ia menghela napas panjang lalu berkata, “Saya bekerja enam bulan bersama Marcel. Semua jadwal, semua tawaran kerja, saya yang urus. Di balik itu, setiap perasaannya sedang kalut, memburuk, saya dipukul, dibakar rokok, di tempeli besi panas, dipaksa bertahan. Tubuh saya penuh luka.”
Ruangan bergemuruh. Jaksa memintanya membuktikan. Mona berdiri, membuka kancing bajunya hingga memperlihatkan bagian bahu, punggung, tengkuk. Dari balik kain tipis, tampak tato naga besar yang indah. Namun di sela-sela warnanya, samar terlihat parut-parut lama. “Saya menato tubuh saya bukan untuk gaya,” katanya lirih, “tapi untuk menutup bekas.”
Pengacara Jimin berdiri “Yang Mulia, ini bukan hanya perkara amarah seorang pria. Ini perkara seorang perempuan yang tubuhnya jadi ladang penyiksaan. Malam itu, Jimin melihat Marcel menyeret Mona, memukul hingga wajahnya seperti itu. Dan ia menghentikannya. Apakah terlalu keras? Ya. Tetapi tanpa itu, mungkin kita tidak melihat Mona duduk di sini hari ini.”
Sang pengacara membuka mapnya, dan mengangkat selembar hasil laboratorium. “Yang Mulia, kami tidak menutup-nutupi bahwa Jimin memukul Marcel. Tetapi kami meminta majelis melihat lebih dalam siapa Marcel itu sebenarnya. Bukti ini hasil tes darah saat korban pertama kali dibawa ke rumah sakit.” Ia berhenti sejenak, menatap hakim. “Marcel positif menggunakan narkoba jenis morfin.”
Ruangan lebih bergemuruh lagi. Bisikan berlarian di antara kursi.
“Ketergantungan inilah yang menjelaskan mengapa Marcel kerap berperilaku brutal terhadap Mona. Mengapa ia bisa berhari-hari kalap, memukul, membakar, dan mengurung asistennya. Ketika malam kejadian, Marcel mendatangi rumah Jimin, dimana Mona melarikan diri. Marcel datang dalam keadaan mabuk obat. Ia menyeret Mona, hendak melampiaskan amarah. Jimin keluar untuk menghentikannya. Ia memang terlalu keras, tetapi kerasnya menyelamatkan nyawa. Saya juga ada bukti Marcel mengirimkan pesan pada Jimin”
Keluarga Marcel tidak terima. Pengacaranya, pria paruh baya dengan suara serak tapi penuh wibawa, menambahkan, “Majelis Hakim, mari kita letakkan masalah di garis jelas. Mona mungkin pernah diperlakukan kasar, tetapi itu tidak bisa jadi dalih bagi terdakwa menghajar klien kami sedemikian rupa. Hukum tidak boleh memberi izin siapa pun menjadi algojo jalanan.”
Pengacara Jimin masih dengan suaranya yang tenang tapi tajam. “Jika klien saya berniat membunuh, tentu Marcel sudah kita kubur hari ini. Faktanya, ia masih hidup. Luka parah memang, tapi terjadi dalam kondisi Marcel sedang berada di bawah pengaruh narkoba. Tes darah rumah sakit jelas menyebut positif morfin. Bagaimana bisa Anda abaikan fakta itu?”
Pengacara Marcel menepuk meja, suaranya meninggi. “Narkoba atau tidak, korban tetap korban! Posisi tubuh Marcel saat ditemukan jelas sudah jatuh, namun terdakwa tetap menghajar. Itu bukan pembelaan, itu niat menghancurkan!” pria yang awalnya berusaha tenang itu akhirnya jengkel juga “Yang Mulia, kami tidak menampik hasil tes laboratorium yang menyatakan klien kami positif narkoba. Namun perlu digarisbawahi, pemakaian narkoba tidak otomatis menghapus hak hukum seorang korban. Klien kami tetap korban penganiayaan. Luka-luka yang dialami akibat pemukulan terdakwa—itulah fakta yang tak terbantahkan.”
Ia berjalan pelan ke depan meja hakim, membuka beberapa lembar dokumen.
“Apakah kita akan membiarkan sebuah masyarakat di mana siapa pun bisa main hakim sendiri? Katakan seseorang mengetahui tetangganya pengguna narkoba, lalu ia menghajar hingga koma—apakah itu bisa kita benarkan? Tidak. Hukum ada untuk mengatur, bukan dendam pribadi.”
Pengacara Jimin langsung menyela, “Tapi Yang Mulia, ini bukan sekadar dendam pribadi. Selama enam bulan—”
Namun pengacara Marcel tak memberi ruang.
“—Selama enam bulan saksi tinggal bersama klien kami secara sukarela! Ia tidak pernah melapor ke polisi. Tidak ada visum, tidak ada rekam medis, tidak ada laporan resmi yang mendukung klaim penyiksaan yang katanya dialami. Bagaimana kita bisa memverifikasi cerita itu sekarang, setelah semua luka ditutupi oleh tato?”
Ruang sidang mendesah pelan. Beberapa kepala mengangguk, sebagian lain menatap Mona dengan iba.
“Yang Mulia,” lanjutnya, “kesaksian saksi penuh bias emosional. Ia datang dengan dendam, lalu menyudutkan klien kami di saat ia sendiri punya alasan ingin melepaskan diri. Ini bukan testimoni netral, ini pembenaran tindakan brutal terdakwa.”
Pengacara Jimin keberatan “Yang Mulia, izinkan saya menjawab argumen rekan saya. Tadi dikatakan bahwa Mona tinggal secara sukarela bersama klien mereka. Bahwa tidak ada laporan resmi, tidak ada visum, tidak ada catatan medis. Seolah-olah itu membatalkan penderitaan yang nyata.”
Ia berhenti sejenak, lalu mengangkat selembar foto—tampak punggung Mona yang penuh bekas luka lama yang kini tertutup tato.
“Bekas ini nyata, Yang Mulia. Luka lama yang tidak mungkin dibuat sehari dua hari. Kalau bukan karena kekerasan sistematis, darimana asalnya? Kita semua tahu, korban kekerasan sering kali tidak bisa melapor karena teror psikologis. Bukankah itu yang disebut coercive control? Klien lawan kami kaya raya, berkuasa, punya jaringan, punya ancaman. Korban tak melapor bukan karena rela, tapi karena takut. Itu bedanya, Yang Mulia.”
Ia melangkah pelan ke arah meja hakim, nadanya semakin menusuk.
“Dan tentang narkoba—fakta tes positif adalah bukti jelas gaya hidup klien mereka yang merusak. Bagaimana seorang pecandu, dalam kondisi tertekan dan teler, bisa dianggap korban murni? Bukankah tindakannya sendiri yang memantik tragedi ini? Malam itu, ia datang ke rumah keluarga Jimin, menyeret Mona keluar, memukulinya lebih dulu, dan menantang pertarungan. Jika tidak ada provokasi, tidak akan ada pemukulan. Itu fakta, Yang Mulia.”
Ruangan hening. Beberapa wartawan sibuk mencatat cepat.
“Rekan saya tadi bicara soal hukum, soal barbarisme. Izinkan saya balik bertanya: apa hukum akan membiarkan seorang perempuan terus menjadi boneka samsak pemukulan? Apa hukum akan menutup mata pada ancaman, pada jeratan psikis, pada ketidakmampuan korban untuk keluar dari penjara domestik? Kalau begitu, hukum bukan lagi pelindung rakyat, tapi tameng bagi penindas.”
Pengacara Jimin menghela napas, lalu suaranya turun, lebih dalam.
“Terdakwa kami, Jimin, memang memukul. Ia tidak menolak. Tapi ia memukul dalam situasi terdesak, melihat korban ditarik paksa, diperlakukan brutal di depan matanya. Itu reaksi manusiawi, bukan niat kriminal. Hukum mengenal pembelaan darurat, dan itulah yang terjadi.”
Ia meletakkan dokumen terakhir di meja hakim.
“Dan terakhir, Yang Mulia… Jimin bukan pria tak dikenal. Ia model, figur publik, hidupnya di bawah sorotan. Mengapa ia harus mempertaruhkan karier dan nama bersihnya, jika bukan karena kebenaran di depan matanya sendiri? Seseorang yang hanya haus kekerasan tidak akan menyerahkan diri ke polisi setelah kejadian. Tapi Jimin—ia menyerah, ia duduk di kursi terdakwa ini, dan ia berkata ‘ya, saya memukul.’ Itu keberanian, bukan kebrutalan.”
Ruangan semakin panas. Palu hakim kembali diketuk.
“Cukup! Majelis sudah mendengar kedua belah pihak. Sidang ditunda satu jam sebelum masuk ke pembacaan tuntutan.”
────୨ৎ────
Waktu terasa berjalan lambat. Di luar jendela, Bandung sore itu mulai digelayuti cahaya keemasan, sementara di ruang sidang orang-orang hanya menunggu, dengan nafas tertahan.
Ketika hakim kembali masuk, suasana berubah mencekam.
Ruang sidang dipenuhi udara pekat. Semua mata tertuju pada kursi majelis hakim. Palu diketuk tiga kali, mengaung bagai petir yang menandai akhir sebuah peperangan panjang.
Hakim ketua menunduk, membaca berkas tebal yang sudah terisi penuh catatan. Suaranya tenang, namun seperti setiap kata terasa bilah pisau yang memisahkan kebenaran dari kabut kebohongan.
“Setelah mendengar keterangan saksi, memeriksa barang bukti, dan mempertimbangkan pembelaan kedua belah pihak, majelis berpendapat perkara ini telah cukup jelas. Maka, hari ini kami bacakan putusan.”
Semua orang menahan napas.
Hakim melanjutkan:
“Pertama, mengenai terdakwa Jimin. Benar bahwa ia memukul Marcel hingga menyebabkan luka berat. Namun majelis melihat fakta yang mengiringi tindakan itu. Saksi Mona telah memberi kesaksian konsisten tentang kekerasan fisik dan psikologis yang dialaminya selama enam bulan. Kesaksian tersebut diperkuat oleh bukti bekas luka lama, kesesuaian pola manipulasi, serta keterangan lingkungan yang pernah melihat Mona dalam kondisi tertekan.”
Hakim berhenti sejenak, menatap pengacara keluarga Marcel yang masih tegak dengan wajah tegang.
“Majelis juga menimbang hasil laboratorium yang menyatakan Marcel positif menggunakan narkotika. Hal ini menunjukkan kondisi psikologis dan emosional yang labil, serta relevan dengan perilaku agresif yang dilaporkan. Malam kejadian, Marcel mendatangi rumah keluarga Jimin dalam keadaan mabuk narkoba, lalu menyeret Mona secara paksa. Ini adalah bentuk penganiayaan nyata dan tidak dapat dibantah.”
Bisik-bisik kecil terdengar di bangku pengunjung. Hakim menatap tajam, lalu palu diketuk sekali.
“Majelis berkesimpulan bahwa tindakan Jimin memang berlebihan dalam kadar pukulannya. Namun, itu dilakukan dalam situasi noodweer—pembelaan darurat untuk melindungi saksi dari ancaman langsung. Oleh karena itu, ia tidak dapat dipidana sebagai pelaku penganiayaan murni.”
Hakim menutup berkas, lalu membuka lembar putusan terakhir.
“Dengan demikian, majelis memutuskan: Terdakwa Jimin dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan penganiayaan berat yang disengaja. Namun untuk menjaga tertib hukum dan sebagai pelajaran, terdakwa dijatuhi hukuman tiga tahun masa percobaan. Jika dalam masa itu terdakwa melakukan tindak pidana kembali, maka hukuman penjara akan dijalankan penuh.”
Suasana meletup—sebagian lega, sebagian murka.
Hakim lalu melanjutkan, suara tetap keras:
“Sedangkan mengenai Marcel, meskipun ia saat ini dalam kondisi kritis di rumah sakit, perbuatan yang dilakukannya telah jelas: penggunaan narkoba, kekerasan berulang terhadap asisten pribadi, ancaman pembunuhan, dan pemaksaan. Semua ini adalah tindak pidana yang tidak dapat dihapus hanya karena pelaku mengalami luka akibat tindakannya sendiri. Keadilan tidak boleh tunduk pada status kesehatan.”
Ia mengetukkan palu terakhir, menutup sidang dengan kalimat yang berat tapi pasti:
“Sidang selesai. Putusan sudah dibacakan. Hukum telah bicara.”
Jimin mengusap hidungnya menahan senyum. Jin tertawa keras bersama Hobi yang ikut nyengir. Jung disana memijat punggung Tae setelah menahan nafas seperti akan meledak.
“Jumaw gua!!!!!” si bungsu lari menghambur—memeluk kakaknya dari belakang dan menciumi telinga Jimin. Di sebelah Yoon, ada Joon yang hanya melamun, pria itu mencerna situasi meski isi kepalanya berat. Ia hanya mengernyit. Sesekali bersin, tapi tidak banyak mengatakan apa-apa.
Semua orang mendekat pada pria yang mengenakan baju orange. Merayakan kemenangan setelah berjabat dengan pengacara andalan.
“Siapa yang berani lawan gua?” Jin berdiri angkuh, dua tangannya melipat di dada pongah. Di sampingnya ada Cia yang nyengir salah tingkah. Takut tiba-tiba pria itu mengajaknya duduk sebagai terdakwa di ruang ini.
“Lu bayar hakim emang?” Tae memeluk Jin dari belakang.
“Enggak lah, gua cuma sewa detektif swasta buat nyari saksi sampe lubang tikus, nyewa pengacara bagus sampe 5 miliar. Belum lagi rekam CCTV di dekat apartemen Marcel dan depan rumah. Untung inisiatif masang walau nggak pernah gua tengok. Di depan doang sama pintu dapur”
“Abis ini, ayo makan-makan” Hobi berteriak kencang.
Di balik punggung Jimin, gadis itu menatap ragu. Tidak tahu, hatinya senang, namun tidak terlalu. Seperti ada yang mengganjal. Jimin lantas memeluknya ke depan. Luka di wajahnya lumayan berkurang meski jelas meninggalkan bekas. Tubuh gadis itu sudah seperti kanvas yang dipenuhi coretan menyakitkan. Cia yang melihat Mona, spontan mendekat. Ia merangkul gadis Jimin seperti seorang kakak pada adiknya.
“Ah… teh Mon…” Cia menjadi emosional. Ini berawal saat ia melihat tato bunga di tengkuk, bekas jahitan yang tidak normal. Ternyata bukan hanya disana. Ini mengerikan.
────୨ৎ────

“Menikah kata gua, kasian si neng, duh elah” Yoon memeluk bantal, mereka dalam formasi sempurna di ruang TV. Sementara Mona entah sedang apa dengan Cia. Keduanya ada di kamar Jimin.
“Mona mau nyelesain kuliah dulu, kukuh dia. Takut emaknya stroke kalau menikah sebelum lulus” Jimin mendusal pada Joon yang masih konsisten menjadi pendiam pasca kepulangannya dari rumah sakit. “Lu sendiri? Nggak nikah sama teteh cantik?”
Yoon mendesah, ia mengusap wajahnya “gua aja yang nikahin neng Mona”
Semua orang kaget, lalu menatap pada tertua kedua dengan wajah tak percaya.
“Lu mau gua pukul kek Marcel?” Jimin melotot, Yoon terkekeh.
“Gua kudu open minded kayaknya” lalu mendesah “gila, gua bakal jadi sableng, gua cinta banget sama Mar sampe akal gua sengkleh. Gua mau udahan”
“Emang udah berapa lama si?” Jin menatapnya perhatian.
“Hampir 3 bulan, gua sering main ke rumah, kita kiss, cuddle dan yaa… gitu, tapi nggak seks. Dia juga sayang sama gua” Yoon tertawa “menurut lu, gua kudu apa coba? Gua mau menikah, gua birahi mulu ini, sialan”
“Kasih aja Jum, Mona. lu sama nenek Irish” Jung menyepak kaki kakkanya.
“Ah! Kelabang suruh sama nenek Irish aja, baru 30 tahun elah” Tae bersorak gembira.
“Gua maunya sama yang perawan” Yoon mengatakan mantap.
“Mona mana ada masih perawan”
“Cia masih perawan noh” Jin tiba-tiba menyela.
“Cia bukan tipe gua”
