Emang kenapa kalau jatuh cinta?

Pertanyaan itu sudah dua kali dilontarkan Cindy saat Ibrahim terus bertanya bagaimana jika A jika B jika C. Sebab, malam ini rumah gadis itu ramai kedatangan Kakak serta istri dan satu anak perempuan yang lucu. Tidak tanggung-tanggung, Cindy lagi-lagi turut mengenalkan Ibrahim sebagai kekasihnya. Lagi, di depan Ayah dan Ibu dan kini Kakaknya.

Keberadaan Ibrahim diakui, dihormati, dan dianggap spesial di sana. Hal-hal paling krusial dan baru. Sungguh, diperlakukan begitu baik dan diterima dengan hangat merupakan hal paling indah seumur hidupnya setelah penerimaan yang dilakukan Ibu Musa. tidak ada tuntutan, tidak ada kekhawatiran, tidak juga sibuk jadi orang lain hanya agar diterima. Semua orang disini tahu pekerjaannya, tahu penghasilannya. Akan tetapi mereka semua menerimanya. Tidak ada singgungan tentang masa depan seperti apa, mereka hanya membahas makan malam, anak yang lucu, serta meledek kapan  Cindy akan menikah.

Jujur saja Ibrahim ingin menangis saking senangnya. Sampai-sampai ia takut dan terus menyadarkan diri sendiri bahwa ini semua sandiwara. Ia dan Cindy tidak berpacaran. Tidak. Dan hal itu menjadi satu-satunya cara agar ia tidak terikat dengan keindahan di rumah yang hangat ini.

Kabar tentang Cindy putus dengan Juan sudah di dengar sang Kakak, berikut dengan alasan-alasan yang jelas dipaparkan oleh Ibu mereka. Sang Kakak bilang, selingkuh hanya habit. Tidak bisa dipukul rata. Kaya miskin, tampan, jelek. Semuanya punya potensi. Kembali lagi pada akhlak masing-masing. Obrolan mereka mengalir begitu saja. Sesekali membahas tentang perusahaan, sesekali meledek Cindy yang dulu selalu mengagung-agungkan Juan, dan kini dimuntahkan.

Malamnya, Ibrahim tidak bisa tidur.

Bukan tidak bisa tidur sampai pagi. Akan tetapi, jam tidurnya mundur signifikan akibat efek dari jatuh cinta, penerimaan, serta hangatnya rumah ini. Kepalanya mulai berkelana—mengkhayal apabila seandainya ia benar-benar menjadi bagian dari keluarga ini. Jujur saja, Ibrahim tidak sedikit pun memikirkan agar hidupnya lebih mewah sebab uang atau kecipratan harta. Tidak, ia berani sumpah di atas Qur’an di depan Lukman. Ia hanya ingin bersama Cindy, lalu punya keluarga yang berfungsi normal. Berkumpul bersama tanpa membicarakan kurang-kurang salah satunya. Tanpa tuntutan yang bukan kewajiban, apalagi terus disudutkan seolah sebab dirinyalah keburukan ini dan itu terjadi.

Menghayalkannya saja membuat dadanya hangat.

Anak orang miskin yang berkhayal tentang masa depan cerah. Punya tempat kembali yang nyaman saat lebaran. Bisa pergi bersama untuk mengunjungi sanak keluarga yang jauh. Ibrahim memikirkan keluarga normal seperti itu. Bukan keluhan tiap hari raya. Bukan Ibunya yang membanting ini dan itu sambil menyindir-nyindir bahwa adiknya yang ini belum beli baju lebaran, adiknya yang itu tidak punya sandal, lebaran tahun ini tidak beli kue dan daging, tidak juga masak-masak. Tidak punya uang dan semua ini salah Ibrahim sebab tidak bekerja lebih keras.

Pikiran seperti itu kembali dan membuatnya sedih dan sakit hati. Tahun kemarin ia lebaran di rumah Ibu Musa. Tidak menghiraukan saat salah satu adiknya datang dan menyampaikan bahwa ia diminta pulang oleh Ibunya. Ibrahim tetap tidak pulang. Ia hanya membelikan baju untuk semua adik-adiknya, lalu Ibu Musa membelikan daging, kue, serta amplop berisi uang dua juta untuk Ibunya. Ia bahkan tidak pulang saat lebaran. Padahal sudah dipukul sapu oleh Ibu Musa, tapi Ibrahim kukuh tidak mau pulang. Ia berkeliling kampung, menyalami semua orang, tapi melewatkan rumah orang tuanya.

Biarkan saja dianggap durhaka. Kembali pulang hanya akan mendapatkan sindirian, olokan, dikatai anak setan, durhaka, dan jelas akan masuk neraka bahkan sebelum mati. Biarkan ia tidak dewasa di usia ini. Sudah sangat lama menahan diri. Ibrahim tidak lagi peduli.

Pukul 00:45. Matanya masih terang.

Ibrahim  hanya berguling ke sana ke mari. Masih sisa dua hari sebelum ia kembali ke Bandung, meski sebenarnya ia betah di sini. Lalu fokusnya langsung teralih saat denting pesan masuk berbunyi. Jelas dari Cindy.

Udah tidur?

Tidak sampai tiga detik, Ibrahim langsung membalasnya.

Belum, kenapa?

Ada tulisan sedang mengetik. Lalu tiga titik datang dan hilang. Ibrahim menunggunya tidak sabar. Matanya bolak balik melihat jam dan pesan.

Mau duduk di luar? Ayo ngobrol, aku belum bisa tidur, minum cola kayaknya enak. Kak Ibrahim minum alkohol gak?

Boleh, aku minum sih, walau bukan peminum andal

Oke, aku tunggu di backyard.

Ibrahim langsung bangkit. Menghidupkan lampu, lalu melihat wajahnya di cermin, mengecek apakah ada yang harus dibenahi. Pria itu kemudian mengaplikasikan lip balm dan parfum, sebelum mengoleskan krim tangan sebab Cindy begitu suka pegangan tangan.

Siap!

Tapi angin malam ini besar. Lumayan dingin untuk ukuran cuaca yang sudah ia labeli selalu panas dan gerah. Yah, kecuali di dalam rumah menggunakan pendingin.

Beberapa tanaman hias meliuk-liuk mengikuti arah angin. Rambut Cindy mirip dengan tanaman dalam pot putih dengan lis bordir emas itu. Ke sana ke mari.

Cindy duduk di gazebo di sofa panjang warna ivory. Mejanya melengkung mirip bulan sabit, dan di atasnya, ada satu botol minuman keras dan dua gelas berkaki panjang yang ramping. Gadis itu mengenakan baju tidur serba panjang warna cream. Kakinya terlihat sangat putih sebab kontras dengan vinyl lantai warna marun.

“Jangan-jangan udah disini dari sebelum chat?” Ibrahim duduk sambil meletakkan ponsel di meja, di samping milik Cindy. Gadis itu sedang melihat ke arah angin, seolah wajahnya tengah dibelai-belai pawana. Lalu membuka mata saat Ibrahim mengajaknya bicara.

“Aku baru datang tau”

“Kirain, nggak bisa tidur kah?”

“Ya, sejenis itu. Padahal udah sok gagah kemaren-kemaren. Sampe bisa ikut lomba kosidahan. Tapi pas diceritain ulang ke orang tua, ternyata aku nggak sekuat itu” belum ada tanda-tanda miras dibuka, Cindy kembali memasang wajah dan bersiap digibas angin.

“Lagian, emang kenapa harus kuat? Lemah juga gak papa. Merangkak, move on pelan-pelan. Sambil ngesot, sambil kayang, atau sambil roll depan belakang. Gak mesti kuat dan lupain cepet-cepet”

Kata-kata itu membuat Cindy kembali melihat Ibrahim. Agak lama, sampai rasanya aneh dan membuat Ibrahim salah tingkah.

“Liat apa si?” suaranya pelan dan halus. Ditanya, Cindy malah menggeleng sambil mengulum senyum. “Mau cerita? Saya dengerin walau sampe pagi”

“Apa aku punya tenaga cerita sampe pagi?”

Ibrahim mengedikkan bahu. “Coba aja, dikit-dikit dulu, dari yang paling mengganjal. Nanti kita urai. Kalau gak bisa diurai, kita buang” Cindy malah tertawa.

“Kak Ibrahim tau nggak, aku lagi mikirin berapa biaya yang harus aku keluarin supaya Kak Ibrahim bisa terus sama aku. Terus bareng-bareng. Ikut ke toko, ikut kerja, ikut ke sana sini. Jadi sopir, jadi temen, jadi pacar, jadi segalanya”

Ungkapan itu membuat Ibrahim menaikkan satu alis, lalu membuang pandangan sambil menahan tawa.

“Kenapa?” Tanya Cindy, serius.

“Cindy, mungkin aja aku bakal jatuh cinta?”

“Emang kenapa kalau jatuh cinta?”

“Bersama-sama dalam 24/7 itu bukan ide buruk. Tapi bukan pilihan ideal juga. Kita nggak punya space buat rindu, kita gak ada rentang buat memikirkan satu sama lain” Ibrahim menarik napas “tapi kalau konteks yang kamu maksud adalah pacar pura-pura yang kerja seperti yang kamu mau. Aku bisa-bisa aja. Aku bekerja dan kamu bayar. Tapi untuk hubungan romantis. Serius deh, aku gak rekomendasiin. Sebab aku tau tiap hubungan itu tetap butuh space, butuh pertengkaran kecil, jarak terukur, dan saling rindu untuk tetep bertahan manis” 

Ada jeda. Ibrahim memandangi gelas di depannya. Ia merasa agak salah bicara, mengingat konteks awal, Cindy ingin membayar, yang artinya tidak ada korelasi dengan hubungan romantis yang ia sebutkan. Sebab itu memang murni keinginannya. Meski tidak akan ia bicarakan secara transparan. Tahu diri sedikit saja, supaya tidak terlalu menyedihkan.

“Kamu mau hubungan yang seperti apa?” lalu menatap gadis itu lagi. Akan tetapi Cindy diam saja. Ingin meralat dan diperjelas. Namun yang paling jelas dari ekspresi gadis itu adalah bingung. Ibrahim dapat mendengar hela napas lembut. Meski pelan, tapi masih dapat dirasakan. Bingung.

“Jalanin aja gak sih?” Ibrahim lagi yang menjawab. “Jalanin aja sejalan-jalannya. Saya akan manut kamu”

Itu ide bagus. “Jalani saja” merupakan ide terbaik sekarang ketimbang sibuk memikirkan yang membingungkan.

“Saya gak matok harga. Kalau yang kamu maksud adalah kebimbangan tentang bayaran berapa, kita bisa rundingan sambil jalan. Terus  misal nanti di Bandung saya boleh balik kerja, saya akan kerja. Bisa kita musyawarahkan tergantung kondisi kamu. Tapi sebenarnya saya masih butuh pekerjaan yang sekarang untuk jangka panjang. Walau saya jelas prioritaskan kamu mengingat kamu bukan kasih uang kecil ke saya”

“Itu uang kecil” jawab Cindy. “Aku akan kasih lebih kalau misalnya ini berhasil”

Jujur saja, sebenarnya, sejak Juan tidak pernah benar-benar kembali datang atau seperti ketakutannya saat lelaki itu mengancam, Ibrahim masih tidak menemukan hal signifikan tentang pekerjaanya. Gaji 150 juta dan kerjanya hanya menjadi asisten Cindy. Itu pun sering mendapat pelukan, mendapat makan enak setiap hari, hotel mewah, rumah nyaman. Bahkan tanpa digaji pun, Ibrahim mau. Sangat mau, saking maunya.

Ini bukan saja hoki, tapi keberuntungan yang benar-benar tidak pernah disangka-sangka seumur hidupnya. Khayalannya selama ini tidak pernah jauh dari memiliki tabungan satu miliar dan punya istri gadis kampung yang bersedia menerima keluarganya meski Ibrahim tidak akan membawanya pada keluarga. Akan tetapi, apa yang didapatkan saat ini, jauh melampaui ekspektasi. Sangat jauh, hingga ia kerap memikirkan cara bangun lagi saat jatuh, walau kata jatuh dalam hidupnya sudah lama sekali menjadi teman.

Tentu ini juga fantasinya tentang menikahi Cindy. Jika tidak tercapai, ya sudah. Sudah biasa. Kegagalan adalah sahabatnya, kalah dalam harta dan cinta adalah hal biasa.

“Bagi kamu uang segitu kecil. Bisa beda nilai tergantung kondisi tiap orang” 

Cindy kini memfokuskan seluruh pandangannya pada Ibrahim, tubuhnya bahkan dicondongkan pada pria itu. Ibrahim gagal menebak apapun yang ada di kepala gadis itu. Yang jelas, Cindy melihatnya dengan mata bulat yang cantik. Aroma gadis itu selalu saja memikat. Mereka berpandangan agak lama hingga lewat satu menit, mungkin, ibrahim menghitungnya di kepala.

“Kak Ibrahim, bisa peluk aku sekarang?”

“Of course, baby”

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *