SEDANG INGIN JATUH CINTA LANJUTAN EPS 17

SEDANG INGIN JATUH CINTA

Cici lalu mengabaikan pria itu, meninggalkannya bangkit dan menuju kamar mandi. Damian tak kontan lekas enyah. Setelah didorong-dorong paksa untuk masuk dan diperlihatkan bentuk tubuh, Cici dengan entah isi kepala sinting macam  apa, tiba-tiba menyuruh pergi. Itu jelas rayuan guna kembali melukai harga diri.

Cukup lama. Damian akhirnya merebah di ranjang, membuka ponsel―menggulirkan jari di antara layar dengan medium teks yang mendominasi. Matanya bergerak lincah membaca berita yang sedang top trending  dalam negeri. Sebelum ponsel itu nyaris jatuh mengenai wajah karena kaget saat suara Cici kembali terdengar.

“Belum pulang?” gaadis itu  bertolak pinggang di pinggir ranjang. Pakaian menyedihkan itu benar-benar tak membuatnya gentar seperti khawatir atau takut, padahal mereka hanya berdua. Maksudnya, Damian cukup tertegun atas keberanian gadis itu dalam merayunya. Ia bersumpah, ia bukan pria baik apalagi  berhati malaikat meski tak selalu mirip setan.

“Kenapa saya harus pulang? Kamu yang mengundang saya kesini dengan dorong-dorong. Saya mau nginep” Damian tak bergerak. Matanya seakan acuh tak acuh meski setengah sinting menahan hasrat ingin menabrak tubuh itu.

“Oke, saya bilang mamah sama bapak”

Cici serius kembali akan mengenakan pakaian sebelum Damian turun lalu mengangkat  dan membantingnya ke ranjang. Ia mencekal dua tangan ke sisi bantal―membuat Cici tidak bisa bergerak.

Geraknya tak bisa di bantah. Ia menduga, Cici akan berteriak dan sejenis seperti rencana awalnya―akan memanggil ayah dan ibu. Tapi gadis itu tidak, ia hanya diam saat Damian menindihnya dari atas. Matanya tak lepas―berpaut dengan kelopak minimalis milik pria cerah yang baru beberapa jam lalu setengah memaksa agar mereka kembali merajut cinta.

Mereka bertatapan dalam sudut yang paling ideal. Damian menurunkan kepalanya pelan-pelan. Cici menutup mata, tangannya masih konsisten di cekal di pinggir bantal hingga ia tidak bergerak. Pria itu mendominasi.

Bibirnya menyentuh milik gadis itu. Bibir ideal selembut kapas. Cici baru saja melepas riasan yang membuat wajahnya kembali polos mirip anak-anak.

Lidahnya kembali mengetuk-ngetuk meminta izin masuk lanjutkan membaca

Write a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *