Pukul 21:45 saat Hera selesai mandi dan merias diri. Itu tercepat saat ia hanya berhasil menata rambut tanpa riasan signifikan pada wajah kecuali pewarna bibir dan merapikan alis yang sudah tebal.

Ia juga sudah berpamitan pada Lukman meski pria itu hanya bereaksi dengan mengangkat alis tanpa menjawab lalu nyelonong pergi.

Aceng ada di depan. Duduk ia di kursi panjang yang bertengger tepat di samping pintu masuk klinik sebagai tempat tunggu keluarga jika ada yang mengantar pasien.

Hampir satu jam menunggu dan Hera berulang-ulang mengatakan sebentar lagi dan sebentar lagi. Hingga ia dikerubuti nyamuk.

Hampir lewat satu jam dari waktu yang dijanjikan, gadis itu akhirnya keluar. Senyumnya naik tinggi saat matanya bertabrakan dengan Aceng. 

Menggunakan one set merah muda serba panjang yang membungkus diri ketat, rambutnya diurai panjang bergelombang, serta riasan wajah sederhana membuat gadis itu tampak benar-benar muda. Bahkan terlihat lebih muda dari usianya. Aceng seolah seperti sedang menunggu anak sekolahan.

“Pasti nunggu lama banget, ya?” deret gigi rapi terlihat natural, senyumnya begitu manis. Tangannya lantas meraih lengan Aceng yang masuk dalam jaket. Pria itu sudah berdiri. Aroma floral berkombinasi dengan vanila lembut merangsek ke pernapasan Aceng. Rambut panjang itu tak kalah mengeluarkan bau sedap mawar yang menagih untuk terus dihirup.

Begitu wangi.

Hera menggandengnya luwes. Meski sesaat tak ada obrolan di antara mereka. Sesekali Hera mendongak ke samping, melihat postur tegap bak tentara yang gagah dan besar.

Apa Lukman sudah memberinya uang? 

Lalu apa selanjutnya?

Apa Aceng akan langsung mencampakkannya setelah uang diterima? Atau pria itu mencari kesempatan dulu? Seperti mengajaknya berhubungan seksual atau sejenis? Dua-duanya brengsek. Hera benar-benar bersusah payah untuk tidak keluar dari jalur rencana.

Baik Aceng atau Lukman. Bukannya mereka jahat? Tidak, Hera bertekad bahwa dirinya lah yang jahat.

“Mau beli apa ke minimarket? Kita kayaknya sampe sana jam setengah sebelas” kata Aceng pertama kali. Memecah keheningan. Jalanan yang mereka lewati diapit kebun coklat dan pohon kebun singkong. Suasana gelap kecuali sinar bulan yang lumayan terang.

“Mau beli minyak wijen, cemilan, sikat gigi baru, dan lain-lain. Masih banyak” jawabnya riang. Kepalanya disandarkan pada lengan Aceng yang kokoh. Aceng hanya mengangguk-angguk. “Kak Ibrahim udah makan malem?”

“Udah, tadi beli nasi padang sore. Neng udah?”

Si gadis mengangguk. Lalu tiba-tiba berhenti. Membuat Aceng otomatis berhenti.

“Kak Ibrahim kita jalannya jajar, terus langkahnya di samain. Soalnya Neng capek ngimbangin. Gantian aja” Hera menjajarkan kaki mereka, memukul lengan Aceng agar posisi mereka presisi. Pria itu manut saja. “Ikutin langkah gua, oke?” Aceng manggut-manggut.

“Satu, dua, satu, sua”

Si gadis melangkah kecil-kecil, membuat Aceng harus mengurangi langkah yang signifikan. Jelas lambat.

Mereka maju bergandengan tangan bersama.

“Kalau kek gini kapan sampenya, Neng?” Aceng menggaruk tengkuk.

“Mau Neng gendong?” tanya gadis itu kemudian. Aceng tertawa. 

“Lengan aja nih, emang kuat bawa lengan?” pria itu lantas meletakkan lengannya melingkar dari belakang leher Hera, membuat gadis itu memiliki beban di pundak. Lalu membungkuk. Aceng tertawa lagi “berat ya?”

“Nggak berat kok, cuma pura-pura aja.  Gua sebenarnya coach gym. Kuat angkat beban pundak sampe 120 kilo. Cuma kalau sama lu, pura-pura lemah aja biar dapet princess treatment” menjadi coach gym adalah bohong. Hera mengatakannya sambil tertawa.

“Kalau princess treatment itu gimana?” sungguh, pria itu tidak tahu sungguhan. Mendengar pertanyaan, Hera diam sebentar. Ia memikirkan jawaban yang tepat untuk pria dewasa yang jelas sudah mengalami banyak hal dalam hidup ketimbang gadis yang baru lulus kuliah dan sejak kecil hidup disuapi Ibu. Biasanya pria yang hidupnya keras akan mudah merasa tidak relevan dengan pengertian harfiah yang belakangan ini tengah trend di kalangan pasangan muda. Atau hanya perasaan Hera saja.

“Princess treatment  adalah membuat seseorang merasa aman, dihargai, diperhatikan, dan disayangi melalui tindakan-tindakan sehari-hari. Bukan semata-mata kemewahan atau hadiah mahal” Hera menatapnya manis, Aceng berdehem salah tingkah. “Dalam hubungan yang sehat, perhatian dan rasa hormat idealnya berjalan dua arah. Ada istilahnya ‘princess treatment’ yaitu ketika seorang lelaki juga diperlakukan dengan perhatian, penghargaan, dan kasih sayang. Jadi…” Hera lantas kembali menempelkan kepalanya pada lengan Aceng “I love you” gadis itu tertawa.

Aceng tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika senyumnya melengkung sekuat tenaga ditahan. Langkah mereka kembali tidak imbang saat Hera memutuskan untuk melendot.

“Berhenti lagi” kata si gadis. Aceng kembali berhenti. “Kak Ibrahim sini gua bisikin” Hera melangkah ke depan, mereka berhadapan “sini dibisikin” katanya lagi. Itu membuat Aceng menunduk banyak hanya agar telinganya sampai ke mulut Hera.

Cup!

Ciuman pipi mendarat. Bibir Hera hangat di tengah dinginnya angin malam yang menyerbu. Aceng diam tertegun sementara Hera berbalik dan bersenandung riang. Masih setengah mematung, gadis itu berbalik lagi, berjalan mundur.

“Kak Ibrahim, kalau bisa tangkep gua, nanti gua cium pipi sebelahnya” setelah mengatakan, Hera lari terbirit-birit. Aceng memandangnya dengan perasaan berbunga-bunga yang aneh. Sungguh, gelenyar itu seharusnya hanya untuk Valery. Namun setelah pernikahan Musa, perasaannya pada Valery mengalami kemunduran yang signifikan meski ia masih terus gemar meledek saat Lukman juga meledek.

Dan lihat gadis pendek setinggi 4 kaki 11 inci yang sangat mirip dengan Valery. 

Bentuk bibir mereka hampir sama, juga hidung. Atau karena malam dengan penerangan yang menyedihkan? Hera terlihat mirip seseorang yang ia cintai selama hampir belasan tahun.

Namun bukan sosok Valery lagi yang ada di pandangannya.

Itu Hera. mereka baru berkenalan kurang dari seminggu dan meresmikan hubungan dari ajakan serampangan kemarin malam. Namun lihatlah, betapa manisnya gadis itu. Dia tidak galak, tidak juga berkata kasar seperti istri Musa. Dia sopan dan jika marah, mungkin hanya akan cemberut tanpa memukul seperti seseorang.

Aceng nyengir hingga giginya hampir garing. Hera sudah berlari jauh hingga siluetnya tak lagi terlihat. Maka, ia mengejarnya dengan langkah cepat.

Sungguh gadis pendek yang lucu.

Karena Aceng baru lari sebentar dan gadis itu sudah kelihatan. Maka, hanya perlu menambah kecepatan langkah sedikit lagi, maka…

“KENA!!” Aceng memeluknya dari belakang tanpa sadar. Kondisinya gelap sekali karena jalan itu di atapi rimbun pohon beringin yang berjajar hampir  tiga puluh meter di kanan kiri.

Hera tertawa campur ngos-ngosan.

“Perasaan udah merasa jauh banget lari, haah…hahhh” dadanya yang besar naik turun terengah-engah. Tangan Aceng melingkar sempurna di perutnya. Hera lantas berbalik tanpa melepaskan pelukan pria itu. 

Cup!

Ciuman kedua di pipi sebelah. Bibir gadis itu tak lagi hangat. Tapi dingin karena lari melawan angin. Deru napasnya memburu menampar pipi Aceng. Entah mengapa cuaca dingin itu mendadak jadi panas. Aceng segera menepis naluriah lelaki yang otomatis merambat–mengalir bagai arus listrik yang normal.

Hera memeluknya.

Memeluk tanpa alasan. 

“Kata Uwak, Kak Ibrahim itu pekerja keras, anak baik, lelaki yang penyayang, jujur, bisa diandelin, juga nggak pernah galak sama siapapun. Gak suka menghina atau merendahkan kayak seseorang. Kak Ibrahim juga orang yang bertanggung jawab” kata Hera, ia berusaha mengatur napasnya agar lebih stabil pasca berlari. “Tipe gua banget, hehe” sambungnya, Hera mendongak meski wajah Aceng sulit terlihat. “Kak Ibrahim, I love you. Ayo kita buat dunia kita berdua. Kita ciptakan rules. Kita buat rencana”

Aceng belum menjawab. Dadanya berdetak lebih kencang. Bertalu-talu tidak menentu. Hera bahkan bisa merasakan degup itu sangat keras. Jelas bukan karena berlari karena Aceng tidak terengah-engah sama sekali seperti dirinya.

“I love you” jawab Aceng ragu-ragu. Ia balas peluk sambil memberanikan diri mengecup pucuk kepala Hera yang wangi.

PREV

5 Responses

  1. udah neng hera sama Aceng aja, tapi jangan di nakalin acengnya yaa, gue gasuka Lukman wk, lu kalo nakalin Aceng gue gedik lu

  2. Iya ya belum belum dah sedih dan ga Terima kalo aceng patah hati.. Sulit amat idup nya aceng, gaa keluarga ga percintaan ditakdirkan kandas ditangan lemon

  3. Tolong ya ini kalo sampe si Ibrahim ini dibikin nangis gara-gara si kadal Lukman,gue hajar ya loo,gue pantau lu ya man,👀🫵

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *