HEAVY RAIN

HEAVY RAIN

Seperti bunyi kelenting sendok beradu dengan piring di meja makan. Pelayan beralalu lalang membawa sarapan di pagi sibuk tepat pukul enam tiga puluh.

Ken menyuap potongan dada ayam setelah ia celupkan pada saus krim, sesaat matanya awas menatap layar tablet menelisik data rumit dengan tabel dan kolom berisi angka dan produk.

“Jangan ada susu di sarapan Monika nanti” Lontaran tidak signifikan―entah pada siapa, Ken menatap tiga pelayan yang langsung di reaksi anggukan sambil menunduk. Istrinya kurang cocok dengan laktosa sementara para pelayan baru terus menyediakan cairan putih itu ke atas meja.

“Aku minum jus aja”

Suara lembut berhasil membuat semua orang serentak menoleh. Ken tersenyum, memundurkan kursi sedikit meminta wanita itu terduduk di pangkuannya.

“Aku mau duduk di kursi”

Terlambat, pria itu lebih dulu menariknya. Membuat Monika jejak duduk di atas pangkuan lalu Ken menyuapi sedikit-sedikit.

“Kenapa udah bangun, sweetheart? Masih terlalu pagi, apa ada jadwal?”

Ken menyibak rambut istrinya ke arah berlawanan. Melontarkan kata-kata tepat di belakang daun telinga.

“Aku mau siaran langsung di akun sosial media untuk promosi barang, tapi khusus untuk reseller. Cuma sebentar, setelah itu free”

“Mau kencan setelahnya?”

“Kamu nggak sibuk?”

“Aku fleksibel untuk kamu. Aku bisa kerja sembari tidur”

Monika terkekeh. Pria itu kembali menyuap makanan dan tetap menahan tubuh istrinya meski Monika ingin pindah ke kursi.

Sejak kejadian terakhir, saat Monika menangis karna Ken pergi ke Sulawesi tanpa berkabar. Sejak saat itu hubungan mereka makin merekat. Ini terlalu cepat dan Monika menyadari, ia menyukai suaminya―lebih dari itu barangkali.

Sudah berapa lama? Namun Monika tetap mantap mengatakan untuk menunggu sebentar lagi ketika suaminya menggila di atas ranjang. Pria itu menurut seperti anjing. Namun terus mengoceh jika bisa saja satu malam ia hilang kendali lalu melalukan hal-hal mengerikan. Ancaman itu tidak menakuti Monika. Wanita itu hanya tertawa lalu melendot.

Jus yang tidak di sebutkan nama buahnya. Pelayan membawakan minuman berwarna merah setelah berhasil menghaluskan semangka.

“Oh! Siapa nama kamu? Aku suka inisiatifmu. Lain kaki, tanyakan dulu jenis buah yang aku inginkan. Oke?”

Monika menatap dengan binar ramah. Hari ini perasaannya sedang bagus, mendapati pelayan seenaknya, tidak terlalu memicu jengkel.

“Jadi, ke mana kita akan kencan hari ini Mr. Kellen?” Monika melirik ke belakang dan langsung di sambar ciuman sekilas pada bibirnya.

“Aku akan mengandalkan sopir. Aku tidak berbakat mencari tempat romantis. Dan ku pikir, di mana pun akan romantis asal bersamamu”

“Yeah. Aku setuju”

Monika meneguk jusnya sedikit. “Kamu akan terlambat Ken. Cepat berangkat” Bangkitnya paksa setelah melihat piring suaminya kosong. Monika lalu membenarkan dasi yang sudah rapi, menyibak beberapa debu pada pundak suaminya sementara pria itu pelan-pelan bangkit, membuat Monika harus berjinjit untuk bisa menepuk dua pundak suaminya.

Ken menilik arloji sekilas.

Masih tersisa sepuluh menit sebelum jadwal berangkat seperti biasa. Pria itu lalu mengangkat istrinya, mendudukan Monika di atas meja, bersebelahan dengan hidangan yang masih hangat. Membuat tiga pelayan kontan bergegas pergi.

“Aku akan merindukanmu, sweetheart” Ken memeluknya sayang. Menenggelamkan wajah padda ceruk istrinya.

“Aku juga”

“Aku mencintaimu” Ken menatapnya. Menyelusupkan dua tangan di bawah telinga.

“Aku juga” Monika tersenyum tepat saat mereka beradu pandang. Ken berdebar dengan gemuruh asing yang menyelubungi diri. Melihat Monika, pria itu bukan hanya berhasrat untuk mencumbui atau sejenis. Namun keinginan untuk merengkuh dan melindungi. Menjaga serta mengayomi. Dan dari semua hal, menelan Monika adalah keinginan terbesarnya.

“Juga apa?”

“Juga mencintaimu”

Pria itu memperlihatkan deretan gigi rapi. Senyum malu-malu khas milik Ken adalah kesukaan Monika.

Dan tentu saja, ciuman panas terjadi saat itu.

“Jangan menggigit bibirku” Monika mengerang di tengah ciuman. Pria itu selalu saja begitu.

“Aku gemas, ah Monika” Ken terkekeh. Memeluk istrinya setelah ciuman di lepas paksa. “Beri aku ciuman sekali lagi dan aku akan pergi bekerja”

“Nggak mau”

“Monika”

“Menolak”

“Aku akan menggendongmu ke ranjang dan melakukan sesuatu yang menyenangkan” Ancamnya serius.

“Kamu harus bekerja. Aku ingin suami kaya raya”

Lalu Ken memberi jarak. Melihat wajah istrinya sekali lagi.

“Apa aku kurang kaya? Kamu mau apa, sweetheart? Aku akan memberimu segala hal, aku akan bekerja keras dan mencurahkan segala tenaga dan otakku untuk mencari uang agar―”

Belum selesai Ken dengan kalimatnya, Monika lebih dulu membungkamnya dengan ciuman. Memimpin permainan di sana, berlagak seperti seorang ahli meski selalu Ken yang berakhir mendominasi.

Monika memiringkan kepala, mengalungkan tangan pada leher suaminya dan sesekali menyisir rambut dengan jari-jari. Menjambaknya, lalu melenguh pelan. Surai yang tertata tampan itu di acak seiring ciuman mereka yang kian memanas.

Tangan besar turun ke dada. Meraba tubuh Monika lembut tanpa perlawanan.

Dan ini adalah bagian berbahaya. Pria itu tidak bisa menahan diri jika Monika tidak mendorongnya lagi. Libidonya meningkat seperti akan menghancurkan kepala. Menyesakkan sesuatu yang besar di bawah sana.

“Kamu harus kerja”

“Aku akan”

Monika terengah sambil memeluk suaminya setelah melontarkan kalimat terakhir.

“Aku mohon, jangan terlalu lama sweetheart. Aku seperti akan gila” Ken berbisik lirih. Hampir dua bulan mereka menikah dan Monika masih memberi sekat. Membuatnya seperti akan gila sungguhan.

“Aku berjanji di kencan kita hari ini” Wanita itu tertawa kecil. Berhasil membuat Ken melebarkan pupil meski tetap gagal membuat matanya membesar.

“Aku harus cepat pergi bekerja” Ken menciumnya sekilas sebelum meraih tas lalu berjalan terburu-buru pergi. Ia harus segera bekerja dan pulang saat Monika selesai dengan pekerjaannya. Monika berjanji, dan pria itu menjadi tidak sabaran.

“Aku akan memperkosamu jika kamu berbohong”

Ken berlalu setelah lontaran terakhir. Monika tertawa lalu mulai sarapan dengan hati berbunga-bunga.

────୨ৎ────

Monika hanya diam ketika penata rias meletakkan berbagai macam tetek bengek ke wajahnya. Para kru dan asisten yang berlalu lalang menyiapkan perlengkapan untuk acara siaran langsung sebagai promosi untuk seller yang mulai membludak. Acara akan di mulai setengah jam lagi, sementara seluruh persiapan sudah matang.

Tempatnya di studio. Ruang dengan lebar delapan kali empat yang di sulap menjadi tempatnya mengambil gambar, syuting dan berbagai iklan produk dengan tata latar belakang yang di dekorasi berubah-ubah sesuai kebutuhan.

Harinya sibuk. Namun senyum tak lekang hingga viberasi itu menulari orang-orang di sekitarnya. Monika sedang bahagia.

Sedang bahagia. Itu perlu di garis bawahi.

Tentu saja sebelum denting notifikasi masuk. Dengan cepat tangannya bergulir masuk ke email.

Itu pesan anonim, masuk melalui email. Sangat jarang kecuali spam atau ketika tim administrasi membagikan promo yang di sinkronkan pada akun sosial media.

Monika menggigit ujung ibu jari sambil menekan pesan masuk.

Dan hari bahagianya berhenti sampai di sana.

Dua pupilnya terbelalak lebar, jantungnya bergemuruh tidak karu-karuan. Berpacu lebih kencang dari sekedar kuda yang lepas pengekang. Monika sesak di waktu bersamaan. Tepat ketika video berdurasi sekitar sepuluh menit terputar memperlihatkan wajah suaminya sedang menggagahi wanita lain dengan suara berat dan seksi.

Monika meluruh. Kakinya tak kuat untuk berpijak dan pertahanannya doyong. Namun tampaknya, pesan itu belum berencana berhenti. Monika masih di suguhkan lembar-lembar data mengenai fakta-fakta tentang suaminya yang benar-benar menguras kewarasan. Riasan yang belum rampung sepenuhnya ia seka paksa sebelum jejaknya cepat. Wanita itu meninggalkan lokasi begitu saja tanpa kata-kata, membuat karyawannya menganga.

Monika bergegas pergi ke bar. Meski suaminya pamit ke kantor, namun saat ia menelepon sopir yang membawa Ken, sopir itu mengatakan suaminya ada di club-nya.

Ken berbohong. Dan entah apa lagi yang di sembunyikan pria itu darinya.

Monika hanya menangis di sepanjang perjalanan. Dadanya sesak hingga bernapas pun rasanya sulit. Dan sebelum pergi, Monika sempat meneruskan pesan itu pada suaminya.

────୨ৎ────

Monika berusaha menahan napas. Pintu terbuka yang memvisualkan empat dimensi paling epik sedunia berhasil meluruhkan segala dinding penyangga hidupnya. Cagaknya nyaris doyong, dadanya sesak hingga mual dan kepalanya pening. Air mata selalu saja gagal lolos di situasi ini. Kesulitan bernapas lebih mendominasi ketimbang air mata—otaknya denial.

Ini adalah validasi paling sempurna.

Setelah otaknya gagal mencerna bagaimana suaminya berlakon bak pemain film porno profesional lewat file yang di kirim melalui email dan terasa benar-benar kolot. Di perparah dengan bukti konkret antar sang suami dan ayahnya melakukan ‘bisnis’ yang terasa seperti jual beli. Bedanya, sang ayah menyerahkannya pada Ken agar pria itu mau membantu perusahaan yang nyaris roboh. Ken menikahinya jelas karna ayah Monika meminta dan memohon, Monika bahkan menemukan surat perjanjian yang benar-benar mengoyak hati. Ini tentang bagaimana ayahnya memohon pada pria itu dan rela menukar apa pun. Mirip memohon pada setan.

Monika di hadapkan kenyataan—lebih dari kenyataan—ini karna tertangkap langsung oleh retina.

Lauren buru-buru turun dari pangkuan setelah Ken mendorongnya paksa. Tersenyum tipis sangat cantik dengan lipstik merah menyala. Menyisakan Monika yang memegang dada menjauhi tempat itu dengan kaki yang berubah menjadi permen jeli.

Pernikahannya baik-baik saja.

Mereka masih tertawa bersama bahkan berciuman di meja makan dan berjanji akan kencan setelah pekerjaannya selesai, sebelum pria itu pamit pergi bekerja.

Atau mereka yang bercumbu semalaman sementara Monika memang mengakui menolak ketika pria itu mulai merambat lebih dalam.

Ken memperlakukannya bak ratu—mirip porselen mewah yang rentan pecah. Selalu khawatir dan mengutarakan cinta setiap hari.

Di perlakukan begitu luar biasa hingga membuatnya meluruh dalam waktu singkat. Berapa lama? Ken memujanya sambil menangis seolah diri adalah dewi yang memberi kehidupan.

Dan kenyataannya, hal-hal semacam itu di dasari sesuatu yang menyedihkan. Kini Monika hanya merasa hina.  Tunggu, apa benar pria itu mencintainya? Seperti ocehannya selama ini?

Langkahnya tak secepat pria yang mengejarnya di belakang. Dalam hitungan menit, Ken sudah menggendongnya untuk kembali ke ruangan pribadi. Kesalahpahaman ini harus segera di luruskan agar tidak berlarut. Monika jelas berpikir sesuai intuisi pada visual yang di tangkapnya secara spontan.

“Keparat! Bajingan! Ken, kamu benar-benar menjijikan. Aku ingin pergi, ayo bercerai dan bawa semua hartamu dari ayahku, aku membencimu hingga ingin mati!” Monika berbisik. Suaranya benar-benar lirih namun tegas. Baru ketika pria itu ada dan menggendongnya, air mata itu turun seperti alami saja.

“Kamu salah paham”

“Aku bahkan sedang tidak ingin berbicara”

“Maka kamu hanya akan berspekulasi sendiri”

“Apa yang lebih jujur dari segala indra yang menangkap realita? Apa kamu akan mengatakan jika aku sedang berhalusinasi? Aku pengidap penyakit mental?”

“Tidak, kamu tidak Monika. Tapi kamu sedang salah paham”

Ken membawanya ke ranjang. Baik Lauren mau pun dua pria prangko sudah tidak ada di sana. Monika bahkan baru tahu ada ruangan semacam itu dalam club ini, ruangan pribadi mewah dan benar-benar keren. Dan tentu saja ini bukan waktunya terkagum pada ruang strategis bernuansa putih bersih dengan ranjang berukuran terbesar di kelasnya.

Monika di rebahkan setelah pintu berhasil di kunci.

“Tarik napas dulu, dengarkan aku. Kamu hanya butuh penjelasanku, setelah itu aku akan mendengar keputusan akhir darimu” Ken terlihat tenang. Bahkan di kondisi paling menyakitkan bagi Monika, ketenangan itu terlihat tidak terganggu.

Monika sekali lagi menyeka wajah. Terduduk berhadapan di atas ranjang mirip orang akan berunding tentang film apa yang akan mereka tonton akhir pekan. Menatap suaminya dengan sklera merah dan isak yang sialnya tak kunjung berhenti.

“Bagian mana yang menyakitimu?” Pertanyaan Ken kembali memvalidasi jika ia memang melakukan banyak hal. Sekali lagi, BANYAK HAL yang menyakitkan. Monika tertawa di antara isak menjengkelkan.

“Yang menurutku menyakitkan?”

Pria itu terlihat berpikir meski tetap tak memberi mimik signifikan. “Aku dan Lauren” Pria itu berdehem sebelum legamnya terpaut dengan iris cokelat sang istri “Kami adalah mantan kekasih. Aku memutuskannya hampir enam bulan yang lalu karna dia berselingkuh dengan Andreas” Lagi, Ken menjeda. Matanya menyorot penuh misteri “Video yang kamu kirimkan kepadaku adalah sewaktu kami masih bersama. Lalu, apa di sana yang menyakitimu, sweetheart?”

“Kamu serius bertanya begitu, Ken? Kamu bahkan berhubungan seksual sebelum menikah! Itu menjijikan” Monika menampilkan gestur bergidik benar-benar seperti orang sedang jijik akan suatu hal.

“Apanya? Berhubungan seksual sebelum menikah itu wajar, Monika. Ini Jakarta dan aku sudah di usia legal untuk melakukan itu”

Monika tidak habis pikir dengan jawabannya. Dan ini juga bagian yang baru saja ia ketahui dari suaminya. Padahal, sejauh ini Ken bersikap begitu bijaksana, mirip seseorang yang sudah menelan pahit manisnya kehidupan dalam waktu lama. Hingga selalu penuh perhitungan dalam tiap kata. Namun, apa yang bari saja ia dengar?

“Apa kamu berhubungan seksual dengan pelacur itu sementara tidak melakukannya padaku? Berlagak seperti pria baik-baik yang menunggu istrinya mendatangi lebih dulu. Padahal, di luar kamu bersenang-senang dengan pelacur” Monika mengatakan dengan lantang sambil menangis. Ken bahkan tidak bisa melihat matanya karna air mencurah banyak di sana. Untuk memeluk pun—Monika jelas menolak.

“Aku tidak, Monika. Aku bersumpah demi nama Tuhan” Mencoba memegang dua tangan yang ikut bergetar, Monika tentu saja menepis kasar “Aku bersumpah, aku mencintaimu Monika. Aku mencintaimu sampai mau gila. Aku tidak pernah menyentuh wanita mana pun setelah menikah denganmu, aku bersumpah atas nama Tuhan”

“Lalu bagaimana dengan uang yang kamu berikan pada ayahku? Perjanjian jika dua orang tuaku tidak boleh ikut campur lagi terhadapku, tidak lagi melihatku tanpa seizinmu dan untuk bertemu, mami dan daddy harus menghubungimu dulu. Dan nenek, kamu bahkan dalang di balik sakitnya nenek. Kamu monster mengerikan, Ken. Aku merinding”

“Kata-katamu benar-benar mengundang perspektif mengerikan, sweetheart. Aku tidak seperti itu”

Monika lalu menunjukkan ponsel. Memberikan foto yang di kirim secara anonim pada gmail-nya berisi segala hal yang di lakukan sang suami. Ken bahkan melihatnya terlalu jauh sebelum mereka menikah. Itu membuat Monika banyak mengubah sudut pandangnya terhadap pria yang ia cintai terlalu cepat.

“Aku menyukaimu, sejak lama. Dan ku pikir puncak dari menyukai seseorang adalah dengan menikahi. Menggaulinya dengan cara yang di benarkan oleh agama dan negara. Aku juga tidak mendatangi ayahmu, tapi ayahmu sendiri yang memintaku” Ken masih berusaha mengusap surai  istrinya yang tersedu-sedu. Tidak mengerti bagian mana yang menyakiti istrinya setelah memperlakukannya dengan penuh cinta dan tulus. Ken tulus dari hatinya, tidak sedikit pun ia berencana mencurangi gadis yang ia puja seumur hidup. Dan Monika salah paham terlalu banyak.

“Ayo bercerai. Aku akan bekerja keras untuk mengembalikan uangmu, uang yang daddy pakai. Aku bersumpah akan mengembalikannya cepat” LANJUTKAN MEMBACA

Write a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *