
Daniel mengunci kamar. Sepakat ketujuhnya untuk berkumpul setelah ide dadakan muncul lepas mereka makan malam dengan menghisap langsung sapi yang dibelikan Isa.
Lyn belum datang, katanya akan terlambat. Isa sudah pergi sejak satu jam yang lalu—mengatakan ada acara keluarga atau sejenis itu.
Tiga orang merebah di ranjang. Sisanya duduk di karpet bawah sementara film mulai diputar.
Ya, seperti rencana Edgar yang awalnya iseng, namun serius di realisasi—ketujuh vampir itu menonton film porno. Awalnya beberapa menolak seperti Logan dan Johan. Namun saat Edgar meyakinkan, di perkuat Jake, Samuel dan Daniel, akhirnya dua orang itu setuju.
Maka, diputarlah film hasil Edgar mendownload dari salah sosial media.
Suasana menjadi hening kecuali suara dari film. Pun, bukan bunyi yang bagus untuk di dengar dalam kondisi tertentu–pasalnya, baru muncul, suara ciuman seakan memenuhi rungu.
Seluruh pasang mata nyaris tak berkedip—menyaksikan bagaimana sepasang sejoli dengan rambut sama-sama pirang sedang beradu saliva.
Ketujuhnya menyaksikan lidah mereka saling membelit, lalu tangan pria mulai menggerayangi rahang, turun ke leher dan berlabuh ke payudara.
Si gadis duduk di atas meja rias dengan dua kaki mengangkangi si pria. Suara ciuman lagi-lagi terdengar kelewat nyaring.
Sinu berdehem. Ia perhatikan seluruh adiknya menelan ludah tanpa berkedip. Dari awal, sudah tidak beres. Penisnya ereksi dan ini memalukan—maksudnya, menonton film seperti ini ramai-ramai.
Saat dada si gadis di buka perlahan, Daniel mulai menggaruk matanya, Jake mulai nyengir dan Edgar mengulum senyum.
Logan di pojokkan menggigit ujung jempol sementara Samuel menyimak dengan baik—seolah jika tidak memalukan, ia akan mencatat tiap detail yang terputar. Sementara Johan meringis.
“Nenen” kata Daniel pelan. Tepat saat video memperlihatkan si pria mengulum ujung puting. Lalu si gadis mendongak dengan desah pelan.
“Seger banget kayaknya, bangke, titit gua sesak” Edgar menumpu tubuh dengan dua tangan ke belakang. Pangkal pahanya penuh dan sesak, penisnya membesar.
“Bisa di cepetin bagian berantemnya aja, nggak?” kata Daniel pada Edgar.
“Nggak ada adegan berantem” sahut Edgar menahan tawa. Si bungsu tidak nyaman meski tidak juga berencana berhenti melihat.
Lalu kembali hening saat layar memperlihatkan kemaluan si gadis. Dua paha wanita itu mengangkang lebar, dari perut sampai ke liang vagina terpampang besar—memantul dari mata mereka. Pria itu berjongkok, lalu mulai menjilati bagian yang itu—kontan saja membuat si gadis mendesah keras-keras. Reaksi dari si gadis yang membuat tujuh pria itu makin panas.
“Itu kesakitan atau apa? Kenapa dia bersuara kaya kuda?” tanya Daniel lagi “tapi gua suka suaranya. Itu sakit? Itunya di gigit rsama yang laki? Dimakan? Yang laki vampir?”
“Ssshhhttt… berisik, tonton aja, nggak kesakitan itu, enak” lagi-lagi Edgar yang menanggapi.
Lalu melompat pada adegan di mana penis mulai di masukkan dalam liang, semua orang seakan menahan napas.
Dan dalam gerakkan pelan, pria dalam video mulai memompanya perlahan-lahan. Gerakkan konstan yang pelan dan lembut itu seolah adalah puncaknya. Puncak dimana ketujuh pemuda itu merasa kepanasan meski pendingin dinyalakan dengan suhu paling rendah.
“Aku akan hati-hati” Daniel membaca terjemahan apa yang diucapkan pria terhadap wanita itu “apa sakit?” lalu si gadis menggeleng.
“Siapapun pegang titit gua please…” Daniel mulai frustrasi, ia merasa tidak cocok, maka, si bungsu membuka baju saking panasnya.
“Yang buka baju gua strum” itu Logan, ia bersuara dari pojok paling gelap.
“Nggak ada urusan” Daniel mengabaikan.
“Kita bertujuh laki-laki dan lihat adegan mengerikan yang dilakukan antar pasangan. Kalau ada yang buka baju mending gua strum bangsat, merusak suasana” namun tak ada yang benar-benar mendengarkan.
Video berdurasi 10 menit itu terasa sangat panjang, intens dan cukup membuat tujuh pemuda itu paham—jika nanti mereka memiliki pasangan.
“Ternyata lubangnya di bawah. Gua kira cewek itu lubangnya di bawah puser” Jake terpingkal-pingkal sambil memukul Edgar.