EPISODE 69

Kursi berderet sepanjang hampir seratus meter dengan jumlah hampir dua ratus kursi.

Pundak-pundak lunglai. Ada yang meringis, mengaduh, tertidur sambil mendongak dengan mulut terbuka, ada juga yang hanya diam dengan wajah pucat dan bibir kering mirip retakan tanah di padang tandus. 

Semuanya mengantri tertib.

Dua satpam bertubuh besar berjaga membawa pentungan sebesar lengan. Juga bukan tanpa alasan dua pria berotot itu berjaga di sepanjang antrian.

Kemarin, ada yang berkelahi karena menyelak antrian. Tidak hanya bersitegang adu mulut dan menimbulkan kericuhan serta menyebar hingga kondisi keos, mereka juga membawa senjata tajam yang entah dipakai untuk apa saat kedatangannya untuk berobat.

Dan hari ini semuanya tenang. Hanya desau napas lelah karena penyakit atau sejenis itu. Sesekali batuk, atau bersin. Mereka bahkan tidak mengobrol karena biasanya, satpam akan mendelik tiap mendengar suara keras. 

“Nomor 178” suara seorang gadis menggema sambil mengangkat nomor. Samuel mempekerjakannya di hari kelima ia membuka klinik itu. Namanya Izi. Gadis yang baru saja lulus kuliah dan luntang-lantung mencari pekerjaan. Samuel menemukannya di dekat terminal bus. Gadis itu membawa map coklat berisi lembara CV–melamar pekerjaan di perusahaan dan tidak berhasil.

Tiap bicara, gigi ginsulnya akan terlihat, lalu lesung pipi dangkal tercetak sangat manis. Pembawaannya yang ramah menjadi satu-satunya alasan Samuel mempekerjakannya. Karena pendidikan, pengalaman kerja, serta tetek bengek—yang biasanya menjadi syarat diterima kerja, vampir itu tidak paham.

Maka, menjeritlah si gadis saat Samuel menawarkan gaji 15 juta per satu bulan. Alangkah senangnya hingga ia bercerita bahwa ibunya membuatkan nasi kuning untuk di bagi-bagikan pada tetangga atas–pekerjaan itu.

Seorang Kakek-Kakek renta bangkit. Tubuhnya bungkuk—tangannya menggenggam nomor antrian, di dampingi satpam yang tidak ramah, namun tetap menemani dan menuntun sampai masuk.

“Sendirian ya, Pak” sapa Izi ramah, ia mengetikkan sesuatu di monitor sebelum membukakkan pintu. Kakek itu tidak menjawab, telinganya tidak lagi berfungsi maksimal. Ia tak akan bangun kalau bukan satpam yang memeriksa nomornya.

Tidak mendapat jawaban, si gadis dan satpam mundur saat Kakek itu sudah masuk ke ruangan.

Sama seperti tempat praktik sederhana lainnya. Ruangan Samuel tidak begitu mewah. Hanya satu set meja kursi. Lalu di atas meja terdapat kalender dengan gambar hutan serta alat timbangan bayi—meski tidak yakin kenapa benda itu ada di sana. Namun Samuel menginginkannya dan Kristal yang membelikan.

Di seberang, tempat periksa pasien. Samuel meminta pada Kristal untuk membeli dental Chair. Maka, untuk segala jenis penyakit kecuali kematian, para pasien akan direbahkan pada kursi itu. Ada alat-alat menempel–lampu, selang, dll. Meski Samuel tidak tahu apa fungsi mereka semua. Ia hanya melihat dan suka, maka, memilih itu untuk tempat pasiennya—meski Kristal berkali-kali mengatakan bahwa itu untuk pasien gigi. Namun Samuel kukuh.

“Tolong merebah di sana, Kek” kata Samuel ramah. Ia hanya duduk, moncongnya saja yang bergerak—menunjuk dental chair sebagai tempat pasien. Namun dasarnya si Kakek tidak mendengar, maka Kakek itu hanya berdiri di depan Samuel kebingungan.

“Duduk di sono noh, hey, kulit ngondoy, do you hear me.. Hey hey..” Samuel masih menunjuk dengan bibirnya yang di majukan. Si Kakek menatapnya bingung.

“Umurnya berapa sih?”

“78”

“Lah, itu dengar. Saya bilang, duduk di sana, di kursi pasien.. Payah nih Sammy Simorangkir” Samuel menunjuk kursi “duduk disana atau gua setrika kulitnya biar nggak lecek?”

Kakek itu tetap diam.

“Sepi amat kuping, buset”

Akhirnya Samuel bangkit. Namun belum sempat ia menuntun si Kakek, pintu terbuka. 

“Maaf, Dok, saya habis beli makan, dari pagi belum makan kirain giliran Kakek saya masih lama” seorang gadis tanggung datang ngos-ngosan. Tubuhnya cungkring mirip anak SMP.

Sebenarnya, ujaran Dokter atau Dok, begitu asing di telinga Samuel. Namun beberapa kali diingatkan–meski ia mengatakannya pada Izi—agar pasien yang datang untuk tidak memanggilnya seperti itu, namun tak ada yang benar-benar mendengarkan.

“Ya ya, suruh Kakekmu rebahan, dari tadi saya ngomong diem aja” kata Samuel. Si gadis menuntun Kakek itu untuk merebah. Samuel membuntut. 

Tadinya, Kristal memintanya untuk membeli stetoskop agar meyakinkan, namun Samuel menolak. Katanya tidak keren, lebih keren menggunakan APD. Kristal tentu saja menolak.

“Jadi, keluhannya apa, dik?” ia bertanya pada satu-satunya orang yang bisa mendengar disana. Gadis itu mendongak, menatap Samuel.

“Gejala Demensia, Dok. Sama telinganya mampet total. Udah berobat pake alat bantu dengar, tapi malah gak mau pake” 

Samuel mengangguk-angguk. 

Lantas ia pegang dahi Kakek itu. Memegangnya cukup lama hingga kerusakan teraba.

“Penurunan fungsi otak.. Sel-sel saraf mengalami kerusakan, kematian, memori, orientasi, serta kemampuan kognitif menurun..” pria itu bergumam, matanya terpejam. “Intervensi… tidak lagi bersifat kuartif.. Kerusakan… oh”

Lalu ia membuka mata.

“Kakek kamu nggak akan mengalami perburukan lebih lanjut, tapi nggak akan mengembalikan memori yan udah hilang. Untuk telinganya… sebentar”

Ia mengusap telinga Kakek itu pelan-pelan. Jempolnya menekan lembut nyaris mengambang.

“Udah, sembuh! Kakek, do you hear me?” tanya Samuel dengan tawa renyah.

“I’m fine thank you, and you?” jawab si Kakek, si gadis tertawa, Samuel tertawa dan mereka bertiga tertawa.

Tertawa sebelum lanjut ke ruang administrasi.

“90 juta?”

“Iya”

🐾🐾🐾🐾

“Pak, makan Pak” Izi menawarkan, satu porsi nasi padang lengkap dengan lauk dan tetek bengek tergeletak di atas meja. Daun pisang dan kertas nasi terlihat tidak sanggup menampung segala isi di atasnya. 

“Kamu kok makannya kayak hewan ya, dari pertama saya mau ngomong, takut kamu tersinggung” jawab Samuel. Mereka berada di ruang istirahat meski Samuel hanya menyibak tirai tanpa alasan.

“Hewan apa makan nasi padang?” Izi tidak tersinggung. Tidak akan. Meski Samuel membentaknya atau memintanya mencari minuman dingin ke pulau Sulawesi–meski seumur ia di sana—tidak pernah melihat bosnya makan atau minum, namun Izi bersedia. Gaji besar dan pekerjaan yang kelewat mudah, itu adalah keberuntungan yang tidak semua orang dapat.

“Kayak ayam, kayak anjing juga”

“Waw..”

“Waw” Samuel mengulang.

“Bapak kenapa nggak pernah makan siang? Nggak pernah aku liat minum, gak pernah ada tumbler, gak ada dispenser, nggak ngopi juga. Aneh, puasa kah? Atau itu rahasianya jadi dokter sakti?”

Pertanyaan itu mendapat reaksi tautan alis. Lalu Samuel menggaruk pelipisnya.

“Makan itu hal sakral. Saya hanya makan di depan orang-orang terdekat” jawabnya. Kendati, tak mengubah keanehan.

“Ya, semacam ritual gitu gaksi?”

“Ritual apa? Saya bukan penganut ajaran sesat, saya hanya makhluk biasa saja yang hidup kelewat lama”

“Waw”

Lagi, Samuel lantas menutup tirai, membiarkan gadis itu makan. 

Di depan, antrian masih panjang. Namun tiap pukul dua belas siang, ia memutuskan untuk mengambil istirahat selama satu jam–meski isinya hanya bermain ponsel sambil meneguk darah dalam tumbler diam-diam. Atau berbalas-balas pesan dalam grup yang tak pernah sepi.

Baru akan merebahkan bokong di kursi, pintu ruangannya terbuka lebar. Bukan Izi, namun wajah paling di kenal.

Daniel membawa Jake dalam gendongan mirip karung beras. Tergopoh-gopoh ia berlari. Keringat membanjiri.

“Apa?” Samuel mengangkat sebelah alis.

“Si Rose di serang Logan karena cium Isa” kata si bungsu ngos-ngosan “sebenernya, gua yang cium Isa, tapi Jake melindungi gua, kita berkongsi sesuatu. Tapi sekarang si Rose ini lagi sekarat” lantas Daniel melempar tubuh kakaknya sembarangan ke atas ubin. Jake terlempar begitu saja. Mulutnya berlumur darah dan ia tak sadarkan diri.

Samuel mendekat, di usap perut si adik dengan kakinya tanpa harga diri. Hanya dalam satu usapan, Jake membuka mata. Ia batuk sekali, lalu duduk sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Dimana aku?” katanya, pertama kali. Daniel memukul kepalanya keras.

“Ayo pulang, kita bawa kabur Isa” Daniel kembali menggendong kakaknya. Mereka akan seperti itu. Datang pada Samuel tiga atau empat kali dalam kondisi yang mengenaskan—pula berganti-gantian. Kadang Daniel yang sekarat, kadang Jake. Kerjaan mereka usil pada kakak kedua yang bengis.

Samuel hanya menggelengkan kepala.

“Anak-anak”

🐾🐾🐾🐾

“Lu bilang, nggak boleh pakai kekuatan di dunia manusia. Tapi si Dukun? Lu pilih kasih, Til. Lu cinta sama Dukun? Ngaku? Kalian cinta segitiga? Dukun spesial? Kalian main belakang?” Daniel bertanya beruntun, ia membuntut Kristal yang sibuk menempelkan riasan mata di kamar. Rencananya akan pergi bekerja.

“Dukun cuma pakai kekuatan merusak buat anak-anak nakal, jadi wajar” jawab si gadis.

“Gua nggak nakal. Kenapa gua nakal?” pria itu mencebik. Dua tangannya memainkan rambut Kristal, sesekali menghirup aromanya dalam-dalam.

“Gua mau pergi, jangan nakal di rumah, oke? Gua titip ke Dukun. Laki gua juga kerja, Sinu kerja. Cuma Dukun yang belum pergi”

“Ikut”

“Terusin”

“Janji nggak nakal, ikut please… Lyn kemana? Gua mau ikut Lyn”

“Lyn di rumahnya, tunggu rumah aja bentar. Tungguin, si Jablay punya stalker, gua takut dia–si stalker dateng. Kalau dia beneran dateng, lu mainan sama dia tuh. Bebas asal jangan di bunuh”

Si bungsu melongo saja. Lantas membuka ponsel mencari tahu arti stalker. Sementara Kristal pergi.

Sambil berjalan dengan layar ponsel menguasai fokus, Daniel mendengar suara Isa yang sedang berbincang dengan Logan. Mereka baru bisa bicara normal setelah sejak tadi—Isa—di gendong oleh Daniel dan Jake secara bergantian—tanpa konteks—kecuali memang untuk menyulut emosi kakak kedua mereka.

“Malam ini?” tanya Logan lembut. Daniel selalu merinding tiap mendengar pria bengis itu bertutur sopan. Tidak ada jawaban, namun Isa mengangguk.

“Jam berapa?” tanya Logan lagi.

“Ya abis maghrib itu, ya? Mau ya?” rengek si gadis. Ada kernyitan banyak di dahi si pria.

“Kenapa si… kenapa mesti nyari yang begitu-begitu?”

“Ya karena aku sukanya yang begitu. Nggak papa kalau Kak Logan nggak mau, aku akan ajak Danei–”

“Oke” kata pria itu kemudian, memotong perkataan Isa yang tak sempat rampung.

“Apa sih? Mau apa sayang? Gua datang karena Isa menyebut nama gua, terpanggil” Daniel mendekat pada keduanya.

“Aku mau cari hantu alias berburu hantu sama Kak Logan” jawab Isa semangat, wajahnya berbinar-binar sementara Logan nyengir terpaksa.

“Hantu?” Daniel ikut heran. Isa mengangguk sistematis “hantu yang mana sih? Dia ini..” si bungsu menunjuk Logan secara kurang ajar “dia Iblis. Dia raja setan. Kenapa nyari setan saat di depan muka lu setan segede alaihim. Logan itu jelmaan setan yang terkut–”

Hoek!! 

Daniel muntah air.

“Ngoceh mulu, mending ngadon sum-sum”

“Dimsum” Isa mengoreksi kekasihnya “jadi abis maghrib ya, Kak?” 

“Iya, atur-aturlah” Logan menggaruk tengkuk, lalu nyengir saat Isa melendot pada lengannya. Gadis itu juga akan mengabarkan pada dua temannya yang memutuskan untuk pensiun–berburu hantu meski Kristal tampaknya masih sedikit tertarik kecuali Lyn yang benar-benar tak mau lagi berurusan dengan hal-hal sejenis.

“Kemana emang?” pria itu maju mundur ingin mengelus kepala Isa.

“Rumah sakit terbengkalai? Kuburan di hutan, atau bekas pembunuhan berantai. Aku punya banyak list. List ini tadinya mau aku realisasi bareng Kristal dan Lyn setelah pulang dari Ternate, tapi malah… ya.. Gini” 

“Memang apa yang kamu cari dengan berburu hantu? Berharap hantu tertangkap dan apa?” tanya Logan penasaran. Pria itu sendiri tidak tahu jika di bumi ini ada entitas lain bernama hantu atau sebut saja orang yang sudah meninggal tapi terjebak di bumi. Terombang-ambing tidak jelas. Dari ceritanya, bagi Logan, mereka bahkan tidak menyeramkan, melainkan menyedihkan. Sama sepertinya dan enam saudaranya yang lain. Tapi siapa yang bisa menolak gadis lucu yang kini mengoceh–menceritakan betapa menyenangkannya berpacu dengan adrenalin tatkala hawa aneh merangsek? Gadis itu berkata seolah segala rasa menyenangkan akan di dapat saat berhasil mendapat atmosfir sejenis; hantu.

“Aku menyukaimu” jawab Logan saat Isa selesai bercerita. Ia berdehem dengan suara mencicit. Si gadis mendongak.

“Aku juga, ayo kita berburu hantu nanti malam” ia mengecup pipi pria itu dan Logan lagi-lagi mengulum senyum. Ia menyepak Daniel yang sibuk berjongkok karena sejak tadi mulutnya keluar air untuk alasan yang tidak dimengerti—kecuali sumbernya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *