EPISODE 61

Kondisinya agak canggung dalam mobil. Baik Isa maupun Logan, belum ada yang benar-benar bersuara.

Beberapa saat hingga mereka sampai lampu merah. Logan sesekali melirik ke samping—masih sama canggungnya.

“Jadi…” Isa berusara, Logan langsung memberi perhatian dengan menyudut ke sisi pintu mobil dan menghadap sepenuhnya pada si gadis. Isa melirik sekali, lalu kembali menatap jalanan.

“Kak Logan nggak suka sama Kristal?”

Sepertinya memang ia perlu meluruskan hal yang memang sudah sengaja ia bengkokkan. “Nggak, tapi bukan nggak suka yang mau mengatai dia murahan atau sejenis seperti saat di kastil. Dia gadis baik dan berhati besar” jawaban itu kelewat panjang. Logan merasa berlebihan saat mengatakan. Apa seharusnya ia tidak memuji gadis lain di depan gadis ini?

“Bisaan, ya? Bertingkah seolah nggak suka sama aku lagi. Aku terus berpikir di malam-malam panjang tentang prilakuku terakhir di kastil saat Kak Logan kehujanan. Aku berpikir banyak dan menyesal. Mungkin waktu di kastil nggak terasa karena masih di kejar. Pas Kak Logan tiba-tiba puter haluan, aku agak mencelos”

Logan tidak menjawab, pria itu melihat ke sembarangan sambil menahan senyum.

“Secuek itu ke aku..” si gadis meringis “tatapan matanya juga dingin dan seakan aku ini hina. Aku sedih banget. Tapi malu. Tapi Kristal bilang, kalau kita ada sesuatu terhadap kalian, kita nggak boleh kode-kode, harus to the point karena kalian itu baru pertama kali keluar dan bersosialisasi. Tingkat kepekaan kalian terhadap apapun masih sangat rendah. Nggak ada gunanya menyimpan perasaan, minta di mengerti. Jadi aku mulai mengatakan jujur kalau aku kehilangan. Aku suka sama Kak Logan setelah hari-hari panjang yang berlalu”

Pria itu lagi-lagi tak menjawab. Wajah sampai telinganya memerah.

“Tapi, Kak.. serius nggak bisa ramal aku? Ramal Kristal atau yang lain?” Isa menatapnya sekali lagi sebelum kembali ke jalananan. Pria itu menggeleng.

“Aku minta maaf buat yang terakhir sembarangan mengatakan tentang ibu kamu”

“Nggak papa, yang penting nggak beneran” 

Jeda lagi. Logan sejak tadi memperhatikan dari samping saat si gadis fokus.

“Aku baru lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Usia aku baru 22 tahun paling muda di antara Kristal dan Lyn. Tapi aku merasa dewasa dan aku memang dewasa, kan? Aku bukan anak kecil dan nggak papa pacaran. Ini pertama kali aku bawa laki-laki ke rumah. Aku memang serius waktu di kastil bilang udah di jodohin Papa sama anak temannya. Tapi cuma perjodohan gurauan aja. Aku nolak juga. Dan hari ini, aku bawa laki-laki”

“Aku juga pertama kali” gumam pria itu pelan. Isa melirik lagi.

“Lucu ya? Kak Logan usianya 900 tahun” gadis itu tertawa “nanti kalau aku kenalin ke Mama dan Papa, kan sesuai KTP, gimana kalau mereka tau usia asli”

“Ada istilah pedofil. Tapi aku bukan pedofil… aku masih berusia 30 tahun. Yakini aja seperti itu..” pria itu menarik napas dalam “Isa… sejujurnya aku gugup sekarang. Kamu tiba-tiba ngajak aku pergi ke rumah kamu setelah aku…. Aku selama ini stress. Aku nggak cerita sama siapapun dan ramalanku buram” ungkapan itu mambuat Isa tiba-tiba meminggirkan mobilnya. 

Mesin mati, dan si gadis mulai fokus.

“Pasti karena aku, ya? Karena perkara terakhir di kastil, kan?”

Logan tak menjawab, namun tidak menyangkal.

“Aku malu sekali sampe pusing. Aku terus berpikir,  berusaha terlihat keren walau makin menyedihkan. Lalu aku memanfaatkan kelapangan hati gadis yang sudah mau menampung kita semua. Aku…” pria itu memilin-milin jarinya “aku… hanya jatuh cinta dan malu..” wajahnya memerah lagi “ini pertama kalinya. Cinta pertama dan memalukan”

Cup!

Isa mengcup pipinya.

“Lucu banget mukanya merah hihi..” si gadis meledek “Kak Logan pasti akan betah di rumah. Aku anak tunggal dan Mama suka sekali anak laki-laki. Makannya waktu Kak Logan bilang aku pacaran sama Daniel aku kaget. Dia nakal banget, takut berak di sofa aku tu kalau Daniel, nanti pasti aku suruh cari laki-laki yang normal”

“Daniel normal, dia hanya… bayi”

“Dia bukan bayi. Sama Kak Logan lebih besar dia”

“Tapi dia termuda dan bayi. Badan dan mental nggak sinkron karena memang usianya masih muda”

Mereka sampai setelah berhasil membicarakan banyak hal. Termasuk jenis hubungan mereka. Isa kukuh mengatakan jika mereka adalah sepasang kekasih meski Logan terus malu-malu dan merasa tidak yakin. Di tolak berkali-kali membuatnya berpikir bahwa Isa tidak serius.

“Berapa usia Mama kamu?”

“49. Dia masih muda dan cantik, dia sehat dan keren. Kak Logan jangan jatuh cinta sama Mama, oke?” pria itu mengerutkan dahi, sebelum tangannya ditarik paksa. Langkahnya riang dan mereka masuk ke dalam.

“Mbak… Mama mana?” saat pertama masuk, asisten rumah tangga yang menyambut mereka.

“Mama lagi itu… senam aerobik, baru aja berangkat” kata si asisten. Tangannya memegang lap dan cairan pembersih. Matanya lurus menatap Logan naik turun—jelas meneliti.

“Kamu lihat apa?” kata Logan dingin. Matanya menajam. Sang asisten menunduk dan berjalan ke belakang.

“Yah… nggak ada, emang dadakan dan belum bikin janji. Maaf ya” kata si gadis, satu tangan bertolak pinggang dan satu tangan yang lain memegang ponsel.

“Aku aja belum mencerna hubungan kita. Walau nggak keberatan untuk kembali harus dihadapkan orang tua kamu. Tapi karena nggak ada,  mending kita pendekatan dulu.. Kita… lebih dekat.. Nggak perlu buru-buru”

Isa mengecup pipinya lagi.

“Kak Logan sejak kapan segemas ini?”

“Hentikan.. Isa.. aku benar-benar ingin memelukmu sekarang”

🦖ℝ𝕒𝕨𝕣🦖

Dua hari berlalu saat ia nyaris tiga hari tak pulang ke rumah.

Johan menyilangkan kaki. Tangannya melipat didada sementara wajahnya serius menyimak kata-kata bosnya—meski lebih pas jika disebut omelan. Namun vampir paling beracun itu menyimak—seolah ia adalah bosnya disana.

Atelier itu dipenuhi suara gesekkan kain dan degung mesin jahit yang sepertinya memang tidak pernah berhenti. Johan tidak pernah melihat benda itu berhenti bekerja. Bau kain baru dan uap setrika menggantung di udara.

Di hadapannya, seorang wanita dengan wajah keras berdiri kaku di depan meja potong. Tangannya memegang selembar gaun yang baru saja di angkat dari hanger. Wanita itu menatap sang asisten beberapa detik sebelum bersuara. Baru dua bulan lebih 3 minggu mereka bekerja sama. Namun sang bos masih tidak paham kenapa harus selalu dihadapkan pria dengan wajah angkuh berstatus asisten yang kini duduk menyilangkan kaki setelah melakukan kesalahan. Bukan hanya sekali ini saja. Jika bukan karena desakan dari Kristal dan segala koneksi ajaib dari sultan kaya raya, ia bersumpah ingin mendepak pria tampan yang duduk tanpa rasa bersalah itu.

“Johan, ini apa?” suara itu tidak terlalu keras. Namun berhasil membuat beberapa kepala menoleh. Johan mengangkat sebelah alis tanpa menurunkan tangan didada. Lalu bangkit dan mendekat, matanya jatuh pada gaun yang dipegang—berwarna putih bersih. Rapi dan begitu elegan. Tidak ada kecacatan sedikit pun.

“Gaun untuk fitting klien siang ini yang—”

“Aku tanya, ini warna apa?” kata-kata Johan di potong. Kali ini nadanya lebih tajam meski intonasinya stabil.

Johan menggaruk tengkuk yang tidak gatal—tak langsung menjawab beberapa detik.

“Putih” katanya akhirnya.

Sang bos menghela napas pelan. Namun justru helaan napas itu yang menginterpretasikan kemarahan. Malah terasa lebih bahaya.

“Putih” ulang sang bos, mengulum senyum yang malah terasa menyeramkan. Johan berdehem karena ia membaca situasi pelan-pelan. Cukup lama baginya untuk paham dunia luar, memahami tiap manusia, dan banyak hal, meski baru dua bulan. Semua hal baru. Ia beradaptasi dan seandainya semua orang paham bahwa ia adalah makhluk yang bertahun-tahun terbelenggu dalam satu bangunan tanpa bisa mempelajari hitam putih dunia dengan layak. 

Wanita itu mengangkat gaun lebih tinggi “dan aku minta warna apa, Johan?”

Johan nyengir. Cengiran yang benar-benar di benci sang bos “ivory..”


“Jadi kenapa yang datang ke tanganku warna putih?”

Suasana di sekitar jadi ikut menegang. Mesin jahit masih berjalan, namun terasa menjauh, lebih jauh karena suara bosnya.

“Aku kira mereka sama.  Memang apa bedanya, dimataku semuanya putih Kak. Lagi pula di katalog—”

“Sama? Ivory dan putih sama?” kali ini suaranya benar-benar naik. Kelopak matanya seakan meregang dan bola mata akan jatuh. Beberapa orang benar-benar berhenti dari kegiatan mereka untuk menyimak. Johan tidak tahu banyak jenis warna selain warna-warna yang seumumnya ia lihat. Pada kelas tambahan yang didatangkan Kristal, ia hanya diajari cara mencocokkan pakaian atau mix and match serta mempelajari jenis-jenis kain. Tapi tidak dengan warna, sama sekali. Ia bahkan tidak tahu ada warna pastel, seperti apa warna bold. Macam-macam warna hijau, biru, merah, dan tiap warna dasar memiliki setidaknya 15 warna sub unit.

Kepalanya pusing.

Bosnya masih banyak bicara dan menerangkan ini dan itu yang sebenarnya makin membuatnya pusing. Lalu Johan menjentikkan telunjuk. Dalam waktu singkat, wanita di depannya tiba-tiba menjatuhkan gaun dan mulai menggaruk tangan.

Secara tiba-tiba.

Ia menjerit tatkala rasa panas, gatal dan ruam merah menyerang secara dadakan. Di sofa, Johan nyengir. Pria itu berhasil memberikan racun daru daun jelatang yang akan membuat wanita di depannya setidaknya akan seperti itu beberapa jam hingga beberapa hari tergantung kulit.

“Saya akan antar ke dokter, Kak” katanya pura-pura panik. Ia belajar hal ini dari beberapa karyawan lain.

Hampir cengengesan seperti orang dengan sumber daya manusia yang rendah, Johan mengalihkannya dengan berdehem. Mereka benar-benar menuju rumah sakit bersama sopir.

🦖ℝ𝕒𝕨𝕣🦖

“Loh, tumben udah di rumah? Biasanya larut atau nginep” suara Kristal memecah, pria itu berbalik dan melihat gadis berambut panjang hanya mengunakan terusan lucu selutut dan sandal kelinci yang mendekat padanya.

“Bos lagi di rawat di RS. Nanti ke sana lagi, aku mau isi tenaga dulu” jawab pria itu sambil tersenyum. Kristal mengangguk-angguk.

“Ada kesulitan? Ada masalah?” kakinya masih tegak berdiri di sana. Johan satu-satunya orang yang jarang di rumah. Kristal juga hampir sulit sekali mengobrol.

“Sebenarnya, aku masih kesulitan mengenali jenis warna. Tapi lagi aku pelajari di hp. Pelan-pelan” katanya lagi “nanti kalau ada kesulitan aku cerita ke kamu”

Si gadis mengangguk-angguk “bicarakan apapun, oke? Gua siap dengerin” si gadis berlalu. Johan masih menatap punggung itu hingga Kristal menghilang lalu menghela napas lega. Jika Kristal tau bahwa alasan bos nya ke rumah sakit karena ia kirimkan racun lewat sela pori, maka, gadis itu pasti akan mengomelinya juga. Johan sakit kepala dan tiba-tiba ia merasa semua wanita  selalu mengomel. Padahal Kristal tidak pernah memarahinya. Mendengar gadis itu berani pada Logan dan Sinu, sangat mustahil untuk tidak memarahinya juga dengan mata mendelik menakutkan. Johan berusaha terlihat paling normal di antara semua saudaranya.

Johan berbalik berencana kembali ke kamar. Namun  di kagetkan oleh Isa yang menatapnya dengan mata aneh, mulutnya mengunyah sambil mencangking stoples berisi makanan—yang di matanya mirip tahi kucing.

“Halo Kak Johan” sapanya ramah. Rambutnya sama panjang digerai. Gaun yang di pakai berwarna putih kebesarann, ujungnya di seret-seret di atas marmer mengkilap. Mirip hantu.

“Kenapa wanita lama-kelamaan menakutkan sih?” ia bergumam sendiri sebelum benar-benar ke kamar dan akan langsung kembali ke rumah sakit.

Tertunda.

Tepat saat Johan masuk ke kamar si bungsu dan melihat semua keluarganya berkumpul melihat film Upin-Ipin. Yang tadinya akan pergi ke rumah sakit akhirnya tertunda. Bokongnya ikut merebah dan Johan bersumpah akan menonton sepuluh menit saja sebelum pergi.

“Disini ada yang bisa bedain warna maroon sama burgundy? Atau navy vs midnight blue? Atau ada lagi beige vs cream, teal vs turquoise,  lilac vs lavender, coral vs salmon, atau charcoal vs dark grey?” pertanyaan itu dilayangkan tepat saat tokoh Upin dan Ipin dalam suasana tegang di kajar hantu—mungkin. Warna layar menggelap dan atmosfirnya jelas menginterpretasikan horror.

“Si Keong Racun kalau berisik aja gua bekuin” ujar Daniel serius. Matanya memantulkan cahaya dari layar televisi yang besar. Sang kakak menghela napas.

“Kan? Manusia normal, vampir normal, sulit membedakan. Lagian apa gunanya bikin warna mirip-mirip dengan nama yang jauh beda. Semoga yang nyiptain nama warna bermacem-macem, dagunya ngondoy sampe ubin”

Samuel menatap saudaranya dengan pandangan yang juga begitu sulit di artikan. “Kata gua mending lu kerja jadi pembunuh bayaran”

“Terus seseorang membenci seorang tabib yang jual kunyit di standing pouch seharga lima ekor sapi” jawabnya tak mau kalah “minta gua untuk membunuh dia. Karena nutup rezeki dokter dan dukun”

“Terus kita duel di alun-alun. Setelah itu Sinu vs Logan, Jake vs Daniel, Edgar membakar kota dan Kristal jadi setan” Johan terbahak-bahak. Lalu Logan melirik ke samping dengan wajah paling rata sedunia. Sorot matanya melebihi setan. Johan diam.

“Upin Ipin ini palanya gede banget anjir, kayak pala tititnya Edgar” Daniel bersuara lagi. Yang di singgung menyipitkan mata meski tidak berpengaruh pada penglihatannya yang memang tak jernih dari jarak jauh.

“Kegedean pala, batangnya segede sumpit dimsum” lanjut sang adik.

“Keluarin punya lu! Buru! Keluarin punya lu, kita duel. Siapa yang segede sumpit dimsum, gua bakar peler nya” tak terima dihina, Edgar menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan anggun. Kontras dengan kejantanannya yang sebesar lengan bayi.

“Jangan keluarin titit sembarangan” Sinu berkomentar. Edgar langsung menutup resleting celana. Daniel meledek dengan menjulurkan lidah serta memegarkan lubang hidung.

“Mail mirip Jake nggak sih?” tiba-tiba Logan berkomentar. Jake yang sejak tadi menyimak film dengan serius, menatap ke samping—pada pria yang hanya berujar tanpa berencana bersitatap dengan siapapun.

“Lu mirip Jarjit. Aa uu aa uu, bodoh, gak bisa baca” jawab si adik.

“Padahal konteks gua bilang Mail itu karena dia yang paling ganteng dan polanya paling dewasa dari semua karakter” baru Logan menatap matanya.

“Masa? Gak caya sih. Hati lu jelek dan item. Apal gua” Jake masih gagal berpikir baik tentang pria berkulit putih.

“Emang kalau bangsat ya bangsat aja” itu gumaman Logan.

Pintu terbuka tiba-tiba.

Lyn berdiri di sana. Matanya lurus pada Sinu.

“Gua mau pulang. Gosah nyariin atau ngide nelpon malem-malem minta gua datang. Ya?” bukan hanya Sinu, namun seluruh mata tertuju pada si gadis yang baru datang langsung menguap. Si sulung melirik jam dinding. Pukul sepuluh malam.

Dari sofa dekat Jake, Johan bangkit–lupa harus ke rumah sakit.

“Mau bareng nggak? Aku mau ke rumah sakit, sekalian bareng” kata Johan pada Lyn. 

“Bareng disini konteksnya gua yang nganterin elu ya bujang! Nambah-nambah kerjaan aja” Lyn mendecih sementara Johan cengengesan.

“Gua kerja dulu” kata pria itu pamit pada semua orang. Ia membuntut Lyn dengan ramah.

Pintu kembali di tutup. Samuel melirik kakak sulungnya.

“Lu pacaran beneran sama Lyn?” tidak ada yang melirik kecuali Sinu–tentu saja.

“Pacaran itu apa?” pertanyaan di balas pertanyaan. Sinu menaikkan satu alis tidak paham.

“Pacaran itu hubungan dua orang. Gadis dan bujang yang saling menyukai, mencintai, saling menjaga, saling mengerti dan saling terikat walau belum resmi” Edgar yang menjawab “Kristal dulu begitu ke gua”

“Kristal biar sama gua” kata Jake  “gua duluan yang suka. Lu mau cari cewek anggun lebih bagus. Biar dia sama gua”

“Coba aja kalau dia mau. Lu nggak inget kata Logan? Mau sama siapapun dia, mau sejauh apapun lari. Dia bakal balik ke gua entah gimana pun caranya” kata Edgar berbangga diri.

“Ya nggak masalah, gua cintai sampe batas maksimal gua, gua hamilin dan kita jadi pasangan. Ntar kalau dia udah dipenghujung maut, gua kasih ke lu” Jake yakin bisa. Tidak apa-apa jika kejadiannya seperti itu.

“Sini gua bakar lak-lakan lu, enak aja” Edgar tak terima. “Biarin aja sekarang dia sok gak mau ke gua, sok cuek. Kalau dia dekat sama laki-laki manusia, tinggal gua bakar peler pacarnya. Mau liat sejauh apa sok jual mahal ke gua”

“Lu yang jual mahal! Dia udah jadi gadis edan ngejar-ngejar lu”

Edgar cekikikan “tapi mending sama gua ketimbang sama Logan. Bayangin dia sama Logan. Kalian gak akan dapet perhatiannya karena si bengis dukun jombang itu serakah”

“Udah bagus Isa sama dukun walau gua masih suka main sama Isa. Jangan Kristal, dia Mama gua, udah paling bener sama lu, Lay. Gak sudi Kristal di stampel hak milik. Emang sok keras banget si dukun gadungan” Daniel meniupkan es ke tengkuk kakak kedua yang sejak tadi diam.

“Gua diem dari tadi si bangsat ini! Terusin.. ntar gua bales, ngadu ke Kristal bikin narasi seolah gua yang paling jahat. Gua yang paling tega dan paling nirempati” Logan melakukan lirikan samping yang cukup untuk membunuh satu ekor badak dewasa.

Dari ujung, suara Sinu tiba-tiba menarik perhatain.

“Halo? Malam ini jangan pulang, nginep” semua orang memperhatikan kakak pertama.

“Nelpon siapa dia?” bisik Jake, entah pada siapa.

“Siapa lagi? Lyn lah. Gua yakin gadis itu baru idupin mesin mobil doang” Edgar tertawa “menyala abang kita… kudu gua sumet geni biar berkobar.. Hamilin kata gua mah”

“Orang sakit mental gak boleh punya anak” itu Samuel, menyahut asal.

“Siapa sakit mental?” Sinu memiringkan kepala. Ponsel masih menempel di telinganya. Matanya lurus pada sang adik.

“Elu” katanya enteng, moncongnya menjurus pada Sinu.

“Sini gua goreng pala lu” kata si kakak. Samuel terpingkal-pingkal.

“Emang, lu bisa liat orang sakit mental?” Daniel menatap Samuel. Yang ditanya mengedikkan bahu.

“Gua cuma baca itu di reels instagram. Katanya kalau sakit mental gak boleh punya anak. Kejahatan katanya. Orang miskin juga” Samuel bahkan menyodorkan ponsel—memperlihatkan seorang gadis cantik memaparkan opininya.

“Kenyang di cekok opini orang. Nggak punya prinsip” Logan mendecih. 

Lyn kembali lagi.

Beringsut-ingsut langkahnya di seret sambil mengomel. Ia duduk di dekat Sinu, bibirnya seperti akan menyentuh layar televisi saking mancungnya cemberut.

“Isa mana?” Logan yang bertanya.


“Pulang sama Johan” jawab gadis itu ketus. Sinu berdehem dan menahan senyum di sampingnya. Logan langsung berlari cepat keluar.

“Kok nggak pamit sih?” bagian belakang mobil si gadis terlihat meninggalkan pagar. Logan menatapnya dari pintu.

One thought on “EPISODE 61”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *