EPS 56

Tidak, Kristal dan dua pria itu tidak masuk ke kantor DUKCAPIL. Namun hanya menunggu di dalam mobil, sementara lima belas menit kemudian, seseorang datang lalu menyodorkan map dalam paper bag besar berisi seluruh data diri ketujuh vampir–lengkap dengan segala tetek bengek lainnya.

Kristal bahkan sudah membuatkan paspor meski masih dalam proses. Juga SIM mobil dan motor meski entah kapan akan mulai mengajari mereka naik kendaraan. Si gadis juga berhasil membuat ijazah palsu untuk semuanya. Sekarang sempurna sudah ia merasa menjadi kriminal setelah membuat seluruh kepalsuan tanpa rasa bersalah.

“Coba liat gua” Daniel akan menarik paper bag namun Kristal memukul tangannya. 

“Gua dulu, bentar gua periksa tahun dan bulan lahirnya” tumpukkan KTP yang diikat karet jadi satu di lepas. Kristal memperhatikannya satu-satu.

“Emang ada yang salah, gua nggak tau kapan gua lahir. Ya Duk, lu tau nggak, gua lahir tahun berapa, bulan apa?” Daniel mencolek kakaknya dari belakang. Logan melirik sekilas.

“Mana gua tau. Ade gua banyak bukan lu doang. Mana inget” katanya ketus.

“Emang ada yang lu inget? Siapa aja? Johan? Lu inget tanggal lahir Johan?” tanya sang adik lagi. Logan lagi-lagi mengabaikan, ia ikut melihat KTP yang dipegang Kristal “meledak kek telinga, najis” jengkel rasanya di abaikan.

“Kamu lagi liat apanya, sih?” saat berbicara pada Kristal, nadanya pelan, suaranya lemah lembut. Daniel ingin sekali menjambaknya dari belakang.

“Lagi nyocokin foto kalian sama tersangka bom Israel” jawab si gadis asal. Logan melirik ke sudut mata Kristal dan menahan diri untuk tidak mendengus.

“Yang paling mirip tersangka bom ya jelas bungsu. Dia kan kriminal-able. Kalau misal disini ada kantor polisi, turunin aja, suruh di kurung. Apa kek, fitnah apa. Nyusahin juga di urusnya” kata-kata Logan hanya gumaman, namun adiknya mendengar.

“Lu! Lu kriminal, dukun gadungan, dukun keparat. Mending lu nyerahin diri ke polsek. Muka lu melanggar hukum” Daniel tidak terima lagi.

“Ssshhhh!!! Jangan berisik” Kristal membuka map yang lain “datanya pas, semuanya akurat. Yesh! Abis ini kalian akan gua bukain usaha kecil-kecilan. Kalau lepasin kalian buat kerja, gua nggak yakin” lantas paper bag di serahkan ke belakang “taro belakang aja, kalau acak-acakan gua amuk lu” ia mengancam Daniel, jelas. Namun si bungsu tidak benar-benar mendengarkan gadis itu.

Mesin kembali hidup. Mobil membelah jalanan kota Jakarta siang  itu dengan panas menyengat terlihat dari kaca.

“Gua mau makan siang, kalian ikut, oke? Ada darah di bagasi” keduanya manggut-manggut saja.

𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭

Sisa orang dalam mansion tidur.

Edgar terlelap dengan Jake dalam kamarnya. Samuel sibuk meramu obat dari bahan-bahan yang ia dapat dari pelayan di dapur. Johan lagi-lagi mencoba semua baju baru yang kemarin dibeli sambil terus melakukan foto. Pria itu bahkan sudah aktif memposting di akun sosial media.

Isa tidur siang di kamarnya sementara Lyn terus memijat Sinu di kamar pria itu sejak satu jam yang lalu.

“Pegel banget ya Allah.. Lu aneh, di pijet daritadi boro-boro tidur. Mata melotot mantengin hp” protes. Si gadis melemah saat Sinu lagi-lagi terus mengancamnya–membuat sakit dari bekas luka gigitan seperti yang pernah terjadi dalam kastil.

Pria itu tak mendengarkan keluhan yang sudah di layangkan ratusan kali.

“Kenapa gadis-gadis di sosial media terlihat mirip-mirip? Apa mereka nyata?” entah bertanya pada siapa. Namun karena dalam kamar itu hanya ada mereka berdua, Lyn merasa harus menjawab.

“Nyata, yang nggak nyata vampir”

“Vampir is real. Aku vampir, aku ras terkuat” itu gumaman, Sinu mengatakannya sambil menggulirkan jari–menonton video pendek.

“Katanya, tiap menonton satu video pendek, umur orang akan berkurang sehari” Lyn mengatakannya sambil menguap lebar. Matanya mengantuk.

“Bagus. Itu bagus. Sudah lama sekali aku hidup. Di potong lebih bagus”

“Alah matamu lah, ngomong emosi, nggak ngomong ngantuk” dan ia menyerah. Lyn merebah di samping Sinu “gua rebahan, ya? Ngantuk banget”

Tidak di jawab.

“Merem 15 menit aja. Jam dua nanti kita jalan keluar”

“Keluar mana? Kamu bisa handle adikku?” Sinu menjepret dahi si gadis dengan telunjuk. Lyn menggeleng “ya itu. Itu alasan aku mau menikah dengan Kristal. Dia bisa diandalkan”


“Hentikan. Berhenti manfaatin temen gua. Dia kurang baik apa sama keluarga lu yang liar. Masih mau lu manfaatin. Pasti ujungnya bakal lu gigit biar dia putus asa dan gak punya pilihan selain nurut ke lu. Kek gua”

“Pikiranmu busuk semua”

“Nggak ada satu haripun gua berpikir bagus tentang lu atau siapapun dari keluarga lu”

“Ya itu dia.. Membenci dengan hati kotor. Terberkatilah Kristal yang hatinya lapang dan mudah memaafkan” ia melirik pada Lyn yang sudah memejamkan mata. Gadis itu merebah satu bantal dengannya, menempel sambil memegang bisepnya.

“Siapapun akan benci setelah dibuat nyeri yang sakitnya sampe berharap kematian datang. Gua sampe ke psikolog walau bingung harus jelasin dari mana. Lu mana tau, bahkan sampai detik ini, lu masih menekan gua… mati aja gaksi gua” dikatakan sambil memejamkan mata, Lyn benar-benar mengantuk.

“Kamu akan berumur panjang”

Itu tak mendapat jawaban.

Beberapa saat ia mengantuk setelah sejak tadi terus melihat video pendek dengan isi — yang sejujurnnya banyak tidak ia mengerti. Sinu memilih menyimpan ponselnya di bawah bantal sebelum memejamkan mata. 

Tak mengubah posisi. Sudah lama tidak tidur dengan gadis itu sejak terakhir dalam kastil.

Perlahan semuanya menjauh.

Ada jeda dimana napas terasa memiliki celah. Lalu jeda yang lain seperti kepalanya terbagi menjadi dua.

Sinu melihat tubuh kecil di dalam cermin. Kastil, lalu suara ibunya yang memanggil seakan menggedor-gedor gendang telinga.

“Sinu! Sinu! Nak, bawa ini ke pasar, jika habis terjual, kita akan membeli baju baru” ia melirik ke belakang tepat saat ibunya menyodorkan satu keranjang aksesoris dan satu keranjang besar kain tenun yang cantik.

“Ibu mengandalkanmu” katanya. Mengusap kepala dengan tubuh hanya setinggi dadanya. Sinu melengkungkan senyum dan berjalan cepat-cepat menuju pangkalan tempatnya biasa berjualan. 

Hanya sentuhan sederhana, namun mampu mengubah suasana hatinya.

Lalu semua terasa seperti di acak.

Keranjangnya tumpah di tendang, aksesoris dari emas murni berantakan. Berandalan itu merusaknya.

“Kau anak yang itu, ya?” kata ‘yang itu’ membuat Sinu mengernyit “kata orang, kau dari keluarga Jonathan yang terkenal mampu beregenerasi paling cepat. Tapi kau tidak bisa. Kau anak haram ya?” lalu anak-anak yang lain menyusul tawa.

“Dia bukan anak haram, tapi ibunya manusia cantik. Kata ibuku, ibu Sinu hanya menjual vagina untuk keabadian” sahut anak yang lain, mereka terbahak-bahak serempak. Empat anak, dan semuanya memerah menahan tawa.

“Hentikan” suara Sinu akhirnya keluar. Mereka yang tertawa, diam sebentar. Namun hanya sebentar, lalu kembali tertawa.

“Kau si menyedihkan yang tidak bisa beregenerasi. Kau menyedihkan, menyedihkan, menyedihkan, menyedihkan”

Sinu kecil menekan kekuatan diri. Dahinya mengernyit dengan keringat sebesar biji jagung yang keluar. 

Sudah ia tekan, namun tetap saja berhasil membuat empat anak itu muntah. Mereka memuntahkan pisau, parang, aksesoris dan masih banyak lagi. Lama mereka menangis menahan sakit sambil terseok-seok pulang ke rumah.

Lagi, ada suara memanggil namaya lagi.

“Sinu! Kenapa kamu di sana? Itu bukan rumahmu, kau meninggalkan ibumu, heh?” pria itu berbalik dan dunia terasa berbeda. Bukan pasar, melainkan hutan dekat kastilnya dengan kabut tebal. 

Itu suara Dewi. Dewi cantik yang bijaksana. Wajahnya mirip wajah ibunya.

“Kau meninggalkan rumahmu, kenapa? Juga ibumu”

Ia membuka mulut, tapi tidak ada yang berhasil keluar dari mulutnya.

“Lihat ke belakang” tunjuk sang Dewi. Lantas saat Sinu melihat ke belakang, ia mendapati Lyn. wajah Lyn lalu berganti menjadi wajah ibunya, lalu berganti menjadi wajah sang Dewi. Begitu terus hingga ia mengucek matanya berulang-ulang.

“Pasti ini mimpi, kan?” Sinu kembali berbalik, namun sang Dewi sudah tak ada lagi. Yang ada hanya wajah Jonathan yang keras. Ia pulang bekerja. Wajahnya kuyu dan rambutnya acak-acakan. Langkahnya semakin mendekat.

“Anak tidak berguna, kerjamu main saja. Tidak usah masuk malam ini, beri tahu ibumu bahwa kau sedang belajar beregenerasi di khayangan atau manapun. Aku muak” suaranya pelan, tapi menusuk hingga seakan membunuhnya. Sinu menatap punggung ayahnya yang mengetuk pintu. Ibunya menyambut antusias dan mereka tertawa bersama bagai pasangan harmonis yang memang harmonis.

Lalu, dimana aku tidur malam ini?

Tidak, pikirannya belum stabil dan kata-kata itu melukainya. Lagi-lagi. Memang apa hebatnya beregenerasi?

Plak!! 

Ia di tamapar sekuat tenaga dan ibunya membela. Kali ini berbeda lagi. Ia berada dalam kamarnya dan ayahnya menamparnya keras. Sinu masih belum tahu apa sebabnya. Maka, ia menunggu pria itu bicara.

“Tidak ada, aku hanya sedang jengkel dan mengingat bahwa aku vampir dengan ras terkuat sementara putra sulung ku si tidak berguna”

Hanya itu kata Jonathan. Alasan tengah malam pria itu masuk ke kamar anak sulungnya—hanya untuk menampar karena sedang jengkel atas ingatannya.

Sinu tidak menangis. 

Ibunya yang masuk dalam kamar sambil menangis.

“Kau adalah anak hebat. Kau putra sulungku yang paling hebat, kau yang paling ku andalkan dan kau terbaik. Aku berani sumpah jika kau lebih kuat dari vampir manapun di daratan ini”

Pasti berat kan?

Selama ini hidupmu berat, ya? Auramu hitam sekali, seolah isinya hanya keterpurukan dan terjebak di masa lalu yang menyakitkan.

Padahal, kau pantas bahagia. Pantas melepaskan hal-hal yang menyakiti. Tidak apa-apa tidak bisa beregenerasi karena regenerasi tidak berarti bagimu. Kau lebih kuat dari siapapun vampir di daratan ini.

GLEK!

Pria itu membuka mata.

Napasnya terengah dan tangan halus masih membelai wajahnya lembut. Sinu kontan melirik dan ia menemukan Lyn duduk sambil mengusapnya. Mereka bertatapan dalam posisi itu—posisi Lyn yang jauh lebih tinggi nyaris memangku kepalanya di paha, namun tidak, kepalanya masih dibantal. Tangannya  mengusap kepalanya berulang.

“Lu selalu mimpi buruk, sepanjang gua kesakitan dan tidur sama lu, lu selalu mimpi buruk” suara Lyn ada di antara napasnya yang ngos-ngosan.  “Lu juga selalu memanggil-maggil nama—mungkin mama lu?”

“Lepaskan tanganmu” ucap Sinu dingin, Lyn kontan menghentikan usapan itu.

“Lu juga nangis, dan pas gua usap, lu akan sedikit lebih tenang. Gua gak berencana membunuh lu dalam tidur meski ingin, sungguh”

“Lakukan jika bisa”

“Berobat kata gua mah” sergah Lyn lagi.

“Aku nggak sakit”

“Lu sakit mental, mimpi buruk tiap malem itu sakit jiwa. Emang enak tidur begitu. Bareng gua nanti ke psikolog”

Sinu tidak menjawab.

“Berat, ya? Pasti berat kan? Orang yang hidupnya lurus dan sehat nggak akan betingkah kek lu, nggak akan ngancam orang lain. Ah sialan.. Gua yang sakit jiwa ngadepin elu” Lyn gusar, lantas ia bangkit.

“Mau kemana kamu?”

“Keluar, minum”

“Duduk lagi, coba usap kepalaku lagi”

“Bentar mau minum dulu”

“Duduk, kubilang duduk” Lyn menghela napas dan benar-benar muak. Namun gadis itu kembali duduk. Sinu meletakkan kepalanya—menumpu pada paha si gadis “usap lagi”

Di usap lagi. Persis seperti yang dilakukan sebelum ini.

“Gua benci lu, ingat? Tapi untuk ukuran orang yang ketergantungan dan menyedihkan, gua menyarankan agar lu berobat”

Itu tidak mendapat jawaban.

𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭

“Mau coba?” Kristal menyodorkan es krim pada Daniel, pria itu menelan liur sejak tadi namun hanya berhasil menyedot darah dalam tumbler “enak banget asli, enak banget jadi manusia bisa makan es krim, bisa makan dimsum, makan daging, ikan. Kalian kasihan banget nyedot darah doang. Gak variatif” si gadis memanasi.

Lalu tatapannya berlabuh pada Logan.

“Dukun mau? Es krim mau?”

Pria itu menggeleng juga.

“Dengerin gua ya, kalian itu di kasih nikmat apa sama tuhan? Makanan itu itu aja, hidup lama pun membosankan. Terus apa? Apa yang akan bikin kalian bahagia, huh? Kasihan banget nih anak-anak gua”

“Iya lagi” Daniel menghela napas.

“Yakan? Coba, kalian ngapain biar bahagia? Coba pikirin, nanti gua kasih kalau bisa” tanya Kristal.

“Jatuh cinta?” jawab Logan. Sebenarnya makan darah juga menyenangkan. Rasa tiap hewan bervariasi dan akan semakin nikmat saat mendapatkannya langsung dari hutan hasil berburu” katanya lagi.

“Kalau gitu, mending di hutan dong, berburu. Ngapain ikut-ikut kesini” si gadis mencebik.

“Karena di hutan tidak ada gadis. Dan disini ada kamu”

Daniel dan Kristal kompak menatap pria itu.

“Gua masih inget ya anjeeng, lu selalu ngatain gua murahan pas gua ngejar Edgar. Padahal mirip-mirip sama lu pas ngejar Isa. dih”

“Kapan? Nggak pernah tuh, ingatan kamu bermasalah” lagi, pria itu mengelak “aku nggak pernah ngatain kamu. Kalau pun pernah, aku minta maaf, ya?”

2 thoughts on “”

  1. Gak di yatim gak di vampir, di cerita lemon peran Seokjin melekat bgt yg sok keras tp sebenrnya rapuh. Logan/kelabang lg2 suka menjilat ludah sendiri. 🤭

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *