Malam ini setidaknya seluruh penghuni istirahat.
Lyn berhasil menelepon kedua orang tuanya—mengatakan memiliki beberapa pekerjaan di rumah Kristal sembari mengirimkan bukti diri yang sibuk berkutat dengan laptop berisi layar yang menunjukkan grafik penjulan milik Kristal. Juga memberitakan kerja sama meski saat ditanya lebih lanjut, ia hanya menyebut ‘rahasia’ tatkala ibunya menuntut penjelasan lebih.
Sebenarnya, Lyn tidak lagi tinggal dengan dua orang tuanya. Namun hampir 10 hari gadis itu tidak pulang dan saat di datangi pun tidak ada di apartemen.
Sementara Isa mirip-mirip. Saat kedua orang tuanya tahu jika ia menginap di kediaman Kristal, semuanya aman, asal Kristal.
Sudah tengah malam.
Mungkin saja semuanya sudah beristirahat, atau masih mengobrol dalam kamar masing-masing. Kristal tak akan repot menengok mereka, tidak lagi. Bilik mereka semua bejejer. Dan Kristal mengancam pada siapapun yang nakal malam ini, bahwa akan ada patroli petugas dari pemerintah yang siap menghancurkan kepala siapa saja yang nekat membuat keributan.
Setidaknya hingga pukul 00:23, suasana kondusif.
Meski ia tidak bisa tidur setelah tak sengaja hilang kesadaran saat dipijat dan memimpikan Edgar. Sialan.
Sudah mandi, sudah mendapat pijatan dari pelayan, sudah makan dan seluruh tubuhnya yang lelah digantikan rasa nyaman dari selimut dan kasur empuk. Namun sialan matanya sulit sekali rapat, kesadarannya bertahan seakan mengoloknya akan penolakan pria yang berhasil membuatnya terluka.
Wajah pria itu muncul di plafon, menggantuk di antara chindelier sambil tertawa menyebalkan. Mungkin saja bentuk rasa malu setelah di campakkan. Wajah Edgar benar-benar menjengkelkan. Lidahnya seakan menjulur lalu mengatakan betapa buruknya diri hingga pria itu saja tidak sudi.
Gadis bar-bar, gadis kasar dan galak.
Seharusnya ia menjadi gadis pendiam yang kemayu dan polos.
Kristal membalik tubuh, mengusap air matanya dengan lengan baju.
Sialan sialan sialan.
Pintu terketuk. Seseorang berdiri di luar ragu-ragu hendak bersuara meski ketukan sudah terlanjur di layangkan.
“Til, gua Daniel, boleh masuk?” suara si bungsu terdengar pelan. Sangat pelan, seolah, petugas akan datang jika ia menaikkan sedikit lagi suaranya.
Kristal duduk—beringsut ia membuka selimut, lantas bangkit–berlajan di seret malas.
Daniel berdiri di sana. Sudah berganti pakaian tidur, rambutnya kering tanpa serum rambut atau pomade. Ia berdiri gelisah sementara dua tangannya terpaut di belakang—memperhatikan Kristal naik turun. Malam ini, gadis itu mengenakan lingerie tipis yang di padu coat panjang tertutup.
“Apa? Kenapa?” tanya si gadis, belum apa-apa sudah galak. Seakan Daniel akan melakukan dosa besar. Jika saja itu Jake lagi, maka akan ia pukul karena bebal.
“Darah masih ada, nggak? Gua lapar. Gua cari-cari tumber di mobil yang tadinya bawa kita ke sini, tapi jangankan mobil, gua malah tersesat dan di bantuin pelayan buat balik ke kamar. Gua dan Jake dan si… itu..” pria itu mengusap tengkuk, maju mundur mengatakan nama Edgar “kita lapar, maaf ganggu, lu pasti capek banget” katanya tidak enak.
Kristal menghela napas. Ia mengusap matanya dari sisa air yang menggenang di pelupuk akibat menguap meski tak mengantuk.
“Sebentar” gadis itu kembali masuk ke kamar, lalu menelepon entah siapa.
Tidak lama, kurang dari dua menit. Kristal kembali keluar.
“Nanti di anter pelayan ke kamar, tungguin aja” katanya lagi, gadis itu hendak menutup pintu, namun Daniel mencegahnya.
“Ke kamar gua kek, ya? Temenin, rasanya kita semakin jauh. Gua mau banyak tanya, gua—kita bertujuh lagi kumpul di kamar gua, semua orang bingung dan… hilang arah. Apalagi saat lu diem aja begini, kita kayak anak ayam yang di silent treatment sama induk sendiri. Semua orang nyalahin Edgar karena ini, dia merasa bersalah tapi bingung”
Wajah memelas—patetik dan gestur yang meminta dengan tulus.
Dasarnya, Kristal belum mengantuk. Maka tidak masalah mengobrol sedikit dengan para vampir sambil menjawab seluruh rasa ingin tahu mereka. Gadis itu menarik napas—berusaha bersikap netral dan tidak kekanakan hanya karena Edgar.
“Gua akan datang, gua mau ganti baju dulu” kata si gadis akhirnya. Daniel mengangkat pipi tinggi begitu senang.

Saat Kristal datang dan duduk, seluruh vampir sudah memegang tumblernya masing-masing. Mereka ada yang terbaring, ada yang duduk, dan paling banyak adalah memperhatikannya dengan wajah semringah. Persis seperti apa yang dikatakan Daniel—anak ayam yang baru saja kedatangan induknya.
“Udah pada makan?” tanyanya ramah. Kacamatanya palsu karena tidak ada kacanya. Hanya hiasan untuk menutupi bengkak akibat—entah kelelahan atau terlalu sering menangis.
Dari kasur, Edgar bangkit, pria itu ikut duduk di sofa. Maju mundur tangannya ingin memegang si gadis. Ingin meminta maaf atau apapun. Namun tampaknya Kristal malah seperti tidak menganggapnya ada di sana.
“Jadi, ada yang mau tanya-tanya, hum? Kita baru sampe beberapa jam, gua bukan mau cuekin kalian, gua capek banget dan mau istirahat. Tapi tampaknya kalian cemas, ya? Biar gua luruskan” kata si gadis, seperti biasa. Edgar menatapnya dari samping—tanpa si gadis merasa terganggu.
“Pertama untuk agenda besok. Gua akan ajak kalian keliling mansion ini, kenalin kalian ke para pelayan, kasih tau cara makan kalian ke depannya. Terus beberapa aturan, dan yang paling krusial adalah kalian nggak boleh ketahuan bahwa kalian vampir. Bersikaplah seperti manusia. Nanti akan terbiasa, pelan-pelan aja. Gua gak akan grasak-grusuk minta kalian ini dan itu. Pokoknya pelan-pelan”
Semua orang menyimak saat Kristal bicara. Semuanya memperhatikan bibir lalu ke mata si gadis.
“Ada pertanyaan? Ada yang bikin kalian merasa nggak nyaman atau perasaan sejenis?”
Mata Kristal memindai satu-persatu. Sinu angkat tangan.
“Aku penasaran walau mungkin akan kamu jelaskan besok atau pelan-pelan itu tadi. Tapi, apa yang bisa kami lakukan untuk hidup? Kami nggak mungkin bergantung sama kamu” pertanyaa itu direaksi anggukan oleh Kristal.
“Pertanyaan bagus walau bisa gua jelasin besok atau pelan-pelan” matanya kembali memindai semua orang “apa yang akan kalian kerjakan selanjutnya untuk menyambung hidup adalah bekerja. Bekerja seperti manusia. Bekerja untuk membeli hewan, untuk makan, untuk gaya hidup, untuk memiliki gadis. Kalian harus banyak uang. Nanti gua minta Isa buat isi kelas lagi. Kalian harus belajar mata uang” Sinu mengangguk-angguk meski pertanyaannya belum terjawab.
“Bekerja disini luas. Nanti bisa kita rundingkan setelah liat keluar. Liat apa yang kiranya cocok. Kalian bisa jadi pedagang, atau kerja lainnya” ada jeda, matanya berlabuh pada Logan.
“Sebenarnya guys, nggak ada yang benar-benar menyenangkan tinggal di sini. Kalian harus bekerja keras untuk hidup. Beda sama di hutan saat kalian hanya tinggal berburu dan makan, terus pulang dan rebahan. Gitu aja sampe wafat. Disini enggak, disini keras. Harga hewan perekor mahal, semua serba mahal. Tapi asal kalian mau bekerja keras dan konsisten, bisa aja sih, sukses disini dan menikmati hidup. Di dunia gua ini, kehidupan nggak monoton. Semi-semi keras” Kristal menunduk menahan tawa atas kalimatnya sendiri. Ia tidak yakin karena di besarkan dengan kekayaaan. Namun beberapa kali turun lapangan mengikuti bakti sosial bersama jam terbangnya yang tinggi selama menjadi mahasiswi. Acara-acara amal dan banyak bertemu orang-orang dari berbagai kalangan ekonomi membuat gadis itu sedikit-sedikit paham meski tidak menggalami.
“Kalau terlalu berat, gua bisa antar kalian pulang. Gua akan bikinin kalian identitas, dan bisa balik naik pesawat tanpa capek berhari-hari di kapal. Gua akan bertaggung jawab sampe akhir. Tapi please.. Minta pengertiannya untuk nggak terlalu bikin gua pusing”
“Gua nggak mau pulang” Daniel angkat tangan. Ia menggeleng keras.
“Nggak ada yang minta lu pulang. Tinggal disini selama yang lu mau asal kita bisa mutualan. Lu harus bayar sewa hunian, cari makan, dan biayai seluruh kebutuhan lu sendiri. Gua bukan penampung gratisan” jawab Kristal sistematis.
Dari belakang, Johan cekikikan. Pria yang tak banyak bicara itu tiba-tiba bersuara.
“Gua gak sabar mau bekerja. Gua mau banting tulang dan melakukan apa aja asal jangan kembali ke kastil yang membosankan. Ayo, kita hidup dengan keras” katanya, penuh semangat, ia menepuk bahu Samuel yang tergeletak menumpu kepala pada paha Jake yang bersedekap lurus menatap Kristal.
“Gua pengen balik Kastil” Logan menguap, ia memijat pangkal hidungnya.
Setelah itu hening beberapa saat.
“Jadi gimana? Masih ada yang mau ditanya? Masih penasaran? Jangan anggap gua mengabaikan, gua memang lagi sedih, tapi gua bilang beberapa kali bahwa gua akan bertanggung jawab sampai akhir” gadis itu mengulang. Ia menatap Logan “butuh setidaknya satu minggu buat bikin identitas dan bisa naik pesawat untuk ke Ternate”
“Ada pertanyaan lagi?” si gadis lagi-lagi menatap semua orang.
Jake angkat tangan “mau jadi pacar gua?”
Kristal menggeleng “nggak ada yang akan jadi pacar gua, siapapun di antara kalian. Nggak tau tapi kalau suatu saat gua sinting” gadis itu mengusap wajah. “Nanti, kalau udah berbaur keluar, udah adaptasi, kalian akan bertemu banyak gadis, akan liat yang lebih cantik walau nggak akan ada yang semantep gua” gadis itu mengatakannya percaya diri. “Kalian kan pria-pria tua yang kesepian, pasti butuh gadis. Makannya penampilan itu perlu. Jangan pakai baju aneh, jangan primitif. Besok hp kalian datang, semua orang akan dapat masing-masing satu”
“Apa korelasinya hp sama semua yang lu ocehin?” Daniel mengangkat sebelah alis.
“Dari hp, lu bisa liat dunia tanpa keluar rumah. Bisa liat pakaian apa yang normal di pake manusia era ini. Apa yang lagi trending, apa yang bisa kalian tambahkan sebagai hobi. Banyak. Gua mengatakan semua hal bukan omong kosong”
Semua orang diam. Aura gadis itu jelas jauh berbeda. Sangat berbeda saat di kastil—tatkala ia kelaparan dan memakan daging ular. Juga saat ia mendekati Edgar seperti gadis gila yang kurang kerjaan. Kini, baru beberapa jam kembali ke istananya sendiri, Kristal menjadi dirinya. Gadis yang tidak mengejar laki-laki meski masih menangis diam-diam karena patah hati akibat hubungan seumur jagung yang kelewat singkat.
“Kegiatan lu apa sih? Lu kerja apa?” kali ini Johan yang bertanya.
“Gua masih kuliah, MBA dan kerjaan gua, gua pemilik pabrik garmen. Sedikit, tapi uangnya cukup buat nafkahin kalian semua” ujarnya enteng. Sudut bibirnya terangkat penuh kebanggaan.
“Gua suka yang songong-songong gitu” jawab Jake sambil tertawa “tapi gua pengennya nafkahi elu” sambung pria itu jenaka “goblok banget si jablay ngoceh sembarangan. Gua denger-denger aja hidup di dunia manusia sulit di bagian kerja dan percintaan. Lah dia, udah di tawarin cinta sama perempuan kaya raya. Malah gesrek”
Edgar di sofa memasang wajah lesu. Sejak malam dimana ia mengatakan kalimat yang ia sesali hingga hari ini, rasanya semakin memburuk tatkala seluruh keluarganya menyayangkan aksinya yang bodoh. Tentu saja menurutnya, itu bukan sepenuhnya menyalahkan atas dasar cinta atau sayang. Namun Kristal sendiri adalah pusat dari eksistensi mereka di dunia manusia.
Bukannya lebih jahat jika memaksa? Wajah Kristal memang cantik, namun Edgar bersumpah jika di rangkum, gadis kasar dan tegas bukanlah tipe nya. Ia menyukai gadis yang kemayu dan malu-malu. Meski Kristal menyebutnya tipes.
“Oke, kalau udah nggak ada yang dibicarakan, gua mau tidur” gadis itu bangkit. Ia menguap lebar.
“Boleh nyalain TV?” Daniel ikut bangkit.
“Boleh” lantas si gadis mengajarkan semua orang menyalakan TV. mengajari mereka dengan telaten bagaimana memindahkan saluran, menonton film, serta tetek bengek lain hingga kembali mematikan. Semua orang menyimak dan Kristal merekomendasikan agar semua orang kembali ke kamar masing-masing untuk menonton sendiri-sendiri.
Mereka berpencar kembali ke kamar masing-masing.
Setelah makan, Daniel merebah di kasur. Separuh tubuhnya tertutup selimut dan matanya memantulkan siaran televisi. Ia begit senang. Meski tidak ada yang lucu, pria itu tertawa kegirangan.
“Oke, gua keluar, selamat istirahat” kata Kristal akhirnya. Gadis itu mematikan lampu kamar Daniel sementara yang menonton tidak peduli.
Belum sempat ia masuk, Jake meminta tolong karena salah pencet. Tidak lama kemudian Samuel yang kesulitan mengganti siaran karena remot yang tidak berfungsi.
Jam menunjuk pukul tiga pagi saat Kristal benar-benar tidak kuat. Ia baru saja akan kembali ke kamarnya saat Logan memanggil di ambang pintu.
“Apa?” gadis itu seperti akan ambruk “dinyalain aja, pencet tombol power dan pilih, ada bacaannya, kan pada bisa baca si?” gadis itu amat lelah.
“Bukan, aku bukan lagi pengen liat tivi. Bisa minta pijet kaya waktu itu? Aku harus apa sebagai imbalannya. Aku masuk angin lagi” katanya tidak enak. Wajahnya pucat dan gesturnya gelisah.
“Gua panggilin pelayan aja, tunggu kamar, bentar lagi datang” jawab Kristal malas.
“Nggak mau, aku malu. Kamu satu-satunya orang yang pernah, aku maunya sama kamu”
“Lu stress ya? Lu mau gua mati? Gua gak kuat, ngantuk”
Logan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Maju mundur ia hendak memohon. Perutnya mual sejak tadi, kepalanya juga agak pusing.
“Oke, selamat istirahat” katanya kemudian. Pintu kembali di tutup dan Kristal memandangi daun rapat sambil menguap berkali-kali. Kakinya tidak jadi pergi ke biliknya, melainkan ke kamar Samuel.
“Apa?” Samuel berdiri di depan pintu, wajah berganti saat melihat Kristal “kenapa swit hard? Ada yang perlu di bantu? Ada yang sakit?”
“Logan sakit noh, tengokin kek”
“Kok dia nggak bilang? Bentar” Samuel keluar dan menghampiri kamar kakaknya sementara Kristal kembali ke kamar.
𓍼ོ𓍼ོ𓍼ོ𓍼ོ

Bunyi pedang beradu lantang. Gerak lincah dan cekatan. Satu dua tiga lawan tumbang.
Kristal berada di ruang latihan bersama dua temannya yang duduk dengan secangkir kopi dan kudapan. Mereka sibuk mengobrol, membicarakan para vampir—mengabaikan satu gadis yang seperti kesetanan melawan pelatihnya.
“Kata gua, Sinu kan banyak emasnya, kita manfaatin aja, abis itu kirim mereka pulang” Isa memberi solusi sambil tertawa “ribet tau, gua belum apa-apa stress banget liat 7 laku yang baru belajar hidup. Segitu bisaan Kristal ngajarinnya sabar”
“Kristal tawarin gua upah juga buat bantu urus mereka sampe bisa ini dan itu. Yang di kasih Sinu lebih dari harga sewa setahun dan itu yang dia pake buat bayar gua” Lyn meneguk kopinya lagi.
“Ke gua belum ada omongnya. Dia paham lah, gua nggak bisa ngurus orang, gua kalau malas ya gua tinggal tidur. Kalau main, baru mau” Isa tertawa.
“Main sama Daniel loh, ajakin. Sambil dikenalin” usul Lyn, ia mengikat rambutnya naik.
“Tau sih, gua trauma banget sama Logan. Sejak gua hindarin banget, sejak dia confess dan gua tolak, alhamdulillah sampe sekarang nggak aneh lagi. Serem kata gua mah”
“Lu kudu digigit Sinu” tawa itu menggema–membuat Kristal menengok sebentar. Lyn masih ingat rasa sakitnya dan hingga hari ini, masih begitu jelas “gua mau ke psikolog abis ini. Trauma gua”
“Mereka nggak kuat disini. Mending lu ludahin Sinu” saran itu juga bagus. Lyn memikirkan meski mustahil di realisasi.
Jam 3 sore. Kristal dan dua temannya bangun di jam hampir berbarengan—tepat tengah hari. Sementara para pria entah, hingga kini belum terlihat. Padahal Kristal sudah menyiapkan makan mereka dengan memotong sapi. Juga membekukan darah berkantong-kantong dalam freezer sebagai stok.
Tidak tahu dari mana.
Tahu-tahu, Daniel muncul di arena latihan dan melawan Kristal setelah membuat sang pelatih terpental ke belakang hingga terduduk di sofa. Pria itu sudah mandi, rambutnya masih basah dan ia tampak segar.
“Lawan gua” kata si bungsu. Ia menepis pedang Kristal dengan es. Dalam waktu singkat, arena itu dijatuhi es yang belah-belah. Mata sang pelatih melotot karena kaget akan kekuatan supranatural. Dan di waktu yang sama juga ia kehilangan kesadaran saat tangan Logan bergerak naik—membuat pingsan. Ke enam lain menysul—mendekat.
Melihat kekuatan mereka tidak selemah yang mereka pikirkan, Lyn dan Isa berdehem, lalu saling pandang—bertukar kata dalam hening.
“Udah bangun?” Si gadis yang memegang pedang menyeka keringat. Pedang itu ia lempar sembarangan. Daniel membuntut—memeluk Kristal dari belakang.
“Badan lu gerah dan panas, kan? Gua dinginin” tubuh pria di belakangnya benar-benar jauh lebih dingin dari pendingin—lebih dari kipas angin saat berkeringat banyak. Kristal membiarkan karena membantu.
“Pada makan deh, darah dalam tumbler gua taro di kamar Daniel semua” kata gadis itu pada semua orang.
Sinu akhirnya duduk dekat Isa setelah kepalanya berputar memindai semua hal, kakinya menyilang dan tangannya melipat di dada.
“Belum lapar, aku mau keliling dan berkenalan dengan semua hal yang ada disini” si sulung menjawab. Kristal mengangguk.
“Mek, berdua temenin mereka mansion tour. Gua mau mandi dulu bentar. Abis itu kita rapat lagi semuanya. Hp udah datang dan nanti ngomongin kerjaan” Kristal menepuk pundak temannya “jelasin juga kalau ada yang tanya. Misal jengkelin, tabok palanya” gadis itu memegangkan rotan pada Lyn.
“Pokoknya yang nakal di tabok rotan!!” si gadis berteriak pada semua orang.
Tak ada yang menggubris.
“Yes! Dapet hp!” Daniel berseru senang. Lyn memimpin barisan saat mereka semua bangkit.
“Oke, gua mandi. Kalau kalian bersikap baik, malam ini gua ajak ke mall, kita belanja baju buat semua orang” baru Kristal benar-benar pergi.
Info loker jadi guru mereka
Edgar bener² di anggap gak ada.. Narasinya pun dikit 😁, Mulutmu harimaumu Edgar 😏