
Bangun, bangun!
Suara kakaknya berdentang seperti lonceng di depan stasiun. Di tengah-tengah orang-orang yang berlalu lalang dan bercakap-cakap menggunakan bahasa campur-campur. Namun mata si bungsu fokus pada pesan ayahnya yang salah kirim; Bunuh Aslan dan jadilah nomor satu.
Anjing, ayahnya meminta sang kakak untuk membunuhnya.
Aslan berlari cepat-cepat seperti kesetanan sesaat setelah ia membuka mata—lepa membaca pesan yang kini telah di hapus meski terlambat. Kakaknya bingung hanya menatap punggung kecil yang menghilang di balik pintu.
Matanya memindai koridor rumahnya yang di desain mirip mansion abad pertengahan Eropa. Bocah berusia sepuluh tahun–yang bahkan tidak sanggup menyakiti semut itu memindai segala hal yang dilalui dengan mata elang. Jejaknya yakin, ia tahu kemana harus pergi. Namun sebelum itu, Aslan, ia pergi ke dapur untuk mengambil pisau daging.
Ia masih ingat bagaimana wajah para pelayan, sorot mata mereka dan yang paling mengusiknya–bagaimana sudut bibir mereka terangkat mencemooh. Entah apa salahnya.
Namun yang jelas, semua berubah di hari yang sama. Di menit yang berganti hanya beberapa saat setelah–seharusnya tak ada kesakitan dan hal-hal mengerikan terjadi.
Jeritan bersahut–sahutan.
Darah berceceran dan sebagian isi perut buyar mengotori ubin. Aslan masih ingat bagaimana degup jantungnya berpacu kelewat kencang. Adrenalin yang berpacu malam itu membawa getaran yang tak akan pernah bisa ia lupakan sampai mati. Justru disana bagian indahnya. Semuanya di mulai dari saudara kandung yang tidak buruk rupa, namun di anggap monster aneh.
Bagaimana rasanya sakit?
Kenapa aku di anggap monster hanya karena aku tidak bisa sakit? Dan sejak lahir, hidupku di buntuti dokter hanya karena mereka takut aku luka?
Lalu, kenapa kau meminta kakakku membunuhku? Dia pria baik yang tak gila jabatan. Kendati aku tak menjadi apapun di rumah ini, aku bersumpah tak akan iri hati. Aku mencintai kakakku, ibuku yang telah kau bunuh dan beberapa teman sekolahku yang mau mengajakku bicara.
Apa salahku?
Revolusi selalu datang dari saudara yang diperlakukan tidak adil. Aku memiliki alasan mengapa aku membunuh ayahku, mengapa aku menjadikan kakakku monster. Aku punya.
Kau bilang Erlan terlalu lemah dalam memimpin sementara aku lebih parah, lebih lemah dan lebih menyedihkan. Lantas kau meminta Erlan untuk membunuhku hanya untuk membuktikan bahwa pria baik hati yang mudah tersentuh dengan rasa cinta yang tinggi terhadapku—mampu untuk menjadi kriminal berat sepertimu.
Ini bukan soal orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti. Namun revolusi. Aku harus mengubah tatanan bobrok menjadi sesuatu yang baru—katakan bobrok lainnya. Aku tak peduli.
Kini, ayahku mati dan aku naik menjadi nomor satu setelah kakakku mau menjadi monster dalam ruang eksperimen. Demi melindungiku.
Aku adalah nomor satu.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁

Lampu-lampu putih kebiruan menggantung di langit-langit, berkedip pelan–lambat. Dinding di penuhi layar-layar transparan yang menampilkan grafik tak stabil–garis-garis naik turun.
Aslan berdiri di tengah ruangan. Jas hitamnya di cangking tangan kiri. Kacamatanya sesekali melorot di benarkan agar presisi.
Di ruangan itu berdiri sebuah tabung raksasa. Tabung yang terbuat dari kaca tebal berlapis logam hitam, di penuhi uap tipis yang berputar di dalamnya. Cairan berwarna kehijauan gelap memenuhi hampir seluruh ruang—berkilau samar seperti memiliki kehidupan sendiri.
Di dalamnya terdapat seorang pria.
Tubuhnya melayang tanpa daya. Rambutnya mengapung perlahan mengikuti arus cairan. Kabel-kabel hitam dan perak melilit di sekujur tubuhnya.
Sesekali aliran listrik tipis menjalar melalui kabel-kabel itu. Lalu cahaya biru menyala sekejap, tubunya bereaksi. Jari-jarinya bergerak sedikit, lalu diam lagi.
Di sisi tabung raksasa, beberapa tabung kecil tersusun rapi. Masing-masing berisi zat aneh yang warnanya tidak wajar. Jika melihat nama-nama mereka, Aslan yakin lidahnya akan keseleo. Nama cairan itu lebih cocok di gunakan untuk nama bayi di jaman ini. Nama yang sulit. Konon, makin sulit nama seorang anak, maka akan semakin keren.
Seperti cairan hitam dalam tabung yang bernama Noctyra Serum. Saking pekatnya, cairan itu seperti menelan cahaya di sekitarnya. Lalu ada larutan keemasan berkilau Aureline-X yang berdenyut pelan seperti memiliki detak jantung. Ada lagi zat merah gelap—Vermigon Catalyst, ia mengalir lambat mirip darah pekat. Aslan tidak akan repot bertanya pada dokter apa fungsi dari masing-masing tabung. Tak akan menambah pekerjaan sementara tugasnya kelewat menumpuk.
Sementara selang-selang transparan menghubungkan semua zat itu ke dalam tabung utama. Cairan dipompa masuk pelan-pelan, terukur dan tentu saja penuh perhitungan. Lalu mesin berdengung lebih keras. Grafik di layar melonjak liar dan untuk pertama kalinya, tubuh dalam tabung itu bergerak lebih jelas.
Ya, setelah sekian lama, setelah hampir tujuh tahun tubuh itu berada dalam tabung.
Kini punggungnya menegang, kepalanya sedikit terangkat meski matanya masih tertutup.
Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah penantian.
“Dokter, ada aktivitas” ujar salah seorang ahli, hampir tak percaya. Cairan kehijauan di dalam tabung berputar lebih cepat, jelas merespons sesuatu dari dalam. Kabel-kabel yang terhubung ke tubuh itu mulai memancarkan cahaya–membaca perubahan yang terjadi. Aktivitas saraf yang melonjak dan sesuatu yang lain. Tentu saja hal-hal yang tidak tercatat dalam tubuh manusia normal.
“Regenerasinya aktif” gumam dokter. Matanya terpaku pada layar “selnya bangkit dan bereaksi”
Zat Aureline-X yang selama ini menjaga stabilitas tubuhnya mulai berdenyut lebih cepat. Seakan cairan itu menyatu dengan aliran darahnya. Lalu Vermigon Catalyst yang dirancang untuk memicu perubahan struktur otot dan kepadatan tulang, juga menunjukkan lonjakan ekstrem. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah Noctyra Serum. Zat gelap itu menyebar lebih luas dari perkiraan, persis mengambil alih.
Dan untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun tubuh itu ada di sana, di dalam tabung, mata Erlan tiba-tiba terbuka.
Kosong.
Pupilnya bergetar menyesuaikan dengan dengan dunia yang sudah tujuh tahun tak ia lihat. Tubuhnya langsung bereaksi serta terjadi tarikan napas pertama melalui cairan.
Dada Erlan mengembang paksa lalu menyusut kembali. Refleks tubuhnya kacau.
Lalu alarm berbunyi.
“Dia sadar!” salah seorang berteriak. Tubuh Erlan melengkung kaku. Otot-ototnya menegang secara tidak wajar seperti ditarik ke dalam. Kabel-kabel yang menancap di kulitnya bergetar hebat kesulitan membaca lonjakan sinyal saraf yang melonjak liar.
Di layar, data biologisnya juga melonjak melewati batas manusia. Denyut jantungnya terlalu cepat, tekanan internal meningkat dan struktur jaringan otot mulai berubah menjadi lebih padat, tebal dan kuat.
Tubuh itu mirip sesuatu yang hanya bisa di lihat dalam film, persis. Aslan melihatnya dengan binar penuh haru dan damba. Sesekali menelan liur karena gugup dan sisanya ia bolak-balik melihat kinerja dokter serta makhluk dalam tabung secara bergantian.
Retak halus mulai muncul di permukaan kaca tabung.
Satu, lalu dua. Para dokter mundur perlahan. Tidak ada yang benar-benar siap untuk momen ini meskipun mereka telah menunggunya selama tujuh tahun.
“Bangun, Kak..” suaranya lembut mirip bisikan “aku rindu..” lalu mirip doa yang dipanjatkan diam-diam di tengah malam. Sementara di dalam tabung, Erlan menggerakkan kepalanya perlahan, gerakan sederhana namun terasa berat serta tidak alami. Matanya kini tidak kosong lagi.
Sementara retakan tidak berhenti namun makin bertambah. Satu garis halus di permukaan kaca tabung menjalar seperti urat yang hidup memanjang, bercabang lalu menyebar ke seluruh sisi.
Di dalamnya resah. Tubuhnya bergerak semakin kuat. Tulang rusuknya tampak bergeser di balik kulit, menyesuaikan ruang yang tiba-tiba terasa sempit. Otot-otot masih menegang perlahan membesar seperti dipompa dari dalam oleh kekuatan supranatural.
Bahunya melebar, lengan memanjang dan tinggi tubuhnya perlahan melampaui batas tabung yang selama ini mengurungnya.
“Tidak mungkin.. Ini terlalu cepat” dokter mundur lebih jauh. Beberapa layar mati satu persatu tak lagi mampu membaca perubahan yang terjadi. Ini sudah melampaui sains mereka sendiri. Dengan satu dorongan, Erlan menggerakkan tangannya, kaca tebal itu hancur. Cairan menyembur keluar membanjiri lantai laboratorium. Tubuh Erlan jatuh berlutut di antara pecahan kaca dan kabel-kabel yang putus.
Kulitnya menegang mengikuti struktur tubuh barunya. Otot-otot berbentuk jelas, padat seperti batu hidup. Dan untuk pertama kalinya ia menarik napas di udara. Kali ini benar-benar bernapas. Napas yang terlalu berat dan menggema. Ruangan terasa lebih kecil.
Erlan berdiri. Tubuh menjulang memenuhi ruangan. Sisa cairan eksperimen menetes dari kulitnya jatuh ke lantai dengan ritme lambat.
Semua orang membeku. Tidak ada yang berani bergerak karena tidak ada yang tahu apakah makhluk di hadapan mereka masih manusia atau sesuatu yang akan menghancurkan semuanya.
Namun Erlan tidak melihat mereka, tidak satupun. Matanya langsung tertuju pada satu titik; Aslan. Pria yang tetap kokoh di atas kakinya, tak ubah meski dokter dan semua orang mundur. Aslan masih di tempat yang sama. Mata mereka bertemu.
Aslan.
Gelombang impuls saraf buatan yang selama ini ditanamkan melalui Noctyra Serum dan stimulasi neuro-elektrik mulai aktif sempurna. Jalur memori yang sengaja di perkuat hanya tentang satu hal; melindungi, mencintai, memprioritaskan Aslan.
Lantas pupil Erlan menyempit. Kali ini fokus dan stabil dan untuk pertama kalinya sejak ia bangun; tenang, juga tidak bingung. Tangannya yang besar bergerak perlahan. Para dokter langsung panik.
“Dia menyerang!!!” teriakkan itu menggema, semua orang ketakutan. Namun gerakan Erlan bukan menuju mereka, makhluk itu menurunkan tubuhnya–berjongkok. Gerakkan yang canggung. Tubuh barunya terlalu besar untuk di kendalikan dengan sempurna. Lantai bergetar saat lututnya menyentuh permukaan.
Kini, jarak antara ia dan Aslan hanya beberapa meter. Cukup dekat untuk melihat dengan jelas, sangat akurat untuk memastikan. Lalu Erlan menundukkan kepalanya sedikit. Matanya yang besar menatap Aslan dalam diam.
Itu adalah cara pengenalan Erlan. Meski kelewat instan.
Bibirnya bergerak pelan, persis mencoba bicara untuk pertama kalinya. Dan suara yang keluar berat dan sulit.
“…As…lan…” Ruangan itu seperti kehilangan udara. Pun para dokter saling menatap, tak percaya.
“Itu berhasil…” bisik seseorang gemetar. “Asosiasi memori tunggalnya… berhasil total…”
Aslan tidak mundur. Juga tidak takut. Ia justru melangkah satu langkah ke depan.
Kecil—dibandingkan sosok raksasa di hadapannya. Namun justru itu yang membuat kontrasnya terasa begitu kuat. “Iya, Kak,” jawabnya pelan–lembut. Suaranya tenang. “Aku di sini” dalam sepersekian detik—sesuatu berubah di tubuh Erlan. Otot-ototnya yang tadi tegang perlahan mengendur. Detak jantungnya—yang sempat liar—menjadi lebih stabil. Seakan keberadaan Aslan… adalah satu-satunya “penenang” bagi sistem tubuh barunya. Tangan besar Erlan terangkat perlahan. Semua orang menahan napas. Namun tangan itu tidak menyerang. Ia berhenti… tepat di depan Aslan. Jaraknya hanya beberapa sentimeter. Seolah Erlan— bahkan dengan tubuh sebesar itu–takut menyentuhnya terlalu keras. Naluri yang ditanamkan selama tujuh tahun itu bekerja sempurna: lindungi, bukan hancurkan.
“…jaga…” gumam Erlan lirih, mengulang sesuatu yang tertanam jauh di dalam dirinya.
“…Aslan… jaga…”
Aslan tersenyum puas. Karena di hadapannya sekarang—sesuatu yang telah dibentuk… untuk menjadi miliknya.
“Aku sayang kakak”
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Semua orang menyaksikan dengan jarak. Erlan terlihat paling tenang—menatap adiknya sendu. Dua tangan kecil pria sepuluh tahun itu menggenggam pisau. Tubuhnya bergetar halus. Namun Erlan yakin dengan penglihatannya—jika Aslan tidak merasa bahwa apa yang ia kerjalan merupakan kesalahan. Mungkin telah lama bocah itu menanggung sakit hati akibat kesenjangan perilaku sang ayah. Begitu jomplang.
Lalu Aslan mulai menangis. Pisau masih teracung di depan. Seolah akan menyakiti siapa saja yang memarahinya.
“Aslan… letakkan pisau dan datanglah kemari” dua tangan Erlan terbuka lebar. Dada bidang, kokoh, tinggi juga tegap itu menanti dekap sang adik. Tubuh Erlan adalah tempat paling sempurna untuk melabuhkan pelukan. Jenis pelukan yang tak akan menghakimi–seberat apapun dosa. Dan Aslan tahu. Kakaknya bukan kriminal, bukan gombong kejahatan keji seperti ayahnya. Bukan juga seseorang yang menganggapnya payah karena penyakit aneh. Erlan adalah kakaknya, tempat dimana semua hal dapat diterima.
Aslan menggeleng. Darah melumuri tangan putihnya, juga baju tidur berwarna beige yang kini menjadi merah akibat darah. Ada ketakutan setelah semua hal tercerna.
“Semuanya selesai. Aku tidak akan menghakimimu, tidak ada polisi, tidak ada yang bersalah disini. Aku ada disini, aku tidak akan menyakitimu, sungguh” ucap Erlan sekali lagi, meyakinkan sang adik jika semua telah berakhir dan si sulung sudah memutuskan untuk tidak memperpanjang kasus ini—tentu saja. Serta meminta semua pihak yang menyaksikan untuk tutup mulut.
“Kemarilah.. Kau akan memperlambat proses pemakaman. Kita harus pergi ke pemakaman, kita juga bisa berkunjung ke pusara ibu. Kau perlu mandi” mata seteduh pohon rindang yang ditiup angin. Aslan melempar pisau yang berbunyi nyaring saat terpantul ke marmer. Lalu tubuhnya bersingsut menabrak kakaknya.
Tubuh yang hanya setinggi dada Erlan itu tergugu. Isak tangis makin besar dan semakin pecah. Sementara para pelayan dan pengawal mulai membereskan jenazah ayah mereka dengan hati-hati.
“Pasti berat, hum? Jadikan ini sebagai pelajaran bahwa apapun situasinya, membunuh bukanlah hal yang dibenarkan. Dan aku membenarkanmu sekali ini saja. Oke? Hanya sekali ini saja. Setelah ini, berjanjilah padaku bahwa kau akan menjadi anak baik”
Dan aku tidak pernah mengiyakan kata-kata kakakku. Tapi tidak juga membantahnya. Aku hanya tidak tahu apa yang kurasakan, aku tidak mengerti dengan segala hal yang terasa terlalu berat untuk kuproses.
Pemakaman seorang raja kriminal berlangsung sangat privat. Namun kabar yang menyebar serta hal-hal tidak terduga, tak lagi bisa mengkategorikan pemakan itu menjadi pribadi. Kendati Erlan mengatakan untuk tidak membocorkan apa yang terjadi—alasan seorang raja yang memiliki ribuan anak buah serta hal-hal mengerikan yang tentu saja berbau kejahatan dan kriminal, untuk tidak keluar dari rumah, namun sangat mustahil.
Pemakaman itu dipadati ratusan pria berjas yang nyaris serempak menggunakan setelan serupa—hitam rapi. Benar, jika berkenan untuk melihat ke belakang sedikit, alih-alih terpaku pada gundukan tanah, maka, pemandangan di belakang begitu mengerikan—khas seperti dalam film.
Ajudan, anak buah, atau mungkin saja para sub kriminal yang terbagi-bagi menjadi begitu banyak sub unit. Yang tak dimengerti Erlan apalagi si bungsu Aslan. Yang jelas, raja mereka telah mati.
Kabar siapa yang membunuh, pasti juga telah mereka ketahui.
Maka, pemuda berusia sepuluh tahun yang tidak dapat merasakan sakit itu–jelas membaca situasi. Aslan hanya tidak bisa sakit, bukan hilang insting apalagi kepekaan atas situasi. Ia sensitif, kecuali penyakit langka yang membebani seumur hidupnya.
Erlan merangkulnya. Mengatakan banyak hal tentang—bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa tidak akan ada yang menyakitinya–meski telah membunuh orang paling penting–bagi komplotannya.
“Jangan lihat ke belakang, mereka tidak akan menyakitimu” bisik Erlan tepat di telinga adiknya “aku ada disini, aku yang akan melindungimu. Aku bersumpah” itu juga bagus. Aslan merasa sedikit lega saat kakaknya mengatakan itu.
Namun tidak ada yang berubah dari tatapan semua orang dari balik kacamata hitam.
Seorang dokter muda. Dokter anak yang begitu tampan dan baik hati. Erlan memiliki pembawaan yang hangat mirip malaikat. Jika bicara, seakan seluruh semesta merestui apa yang ia janjikan. Seperti saat ia mengatakan tentang banyak hal–kalimat penenang untuk anak-anak tatkala akan menusukkan jarum suntik.
Begitu juga yang dirasakan Aslan.
Erlan begitu menyayanginya. Begitu menjaganya dan jika sedang bersama, pria itu terlalu sering mengecek kondisi Aslan. Melihat apakah adiknya terluka.
Pernah satu waktu ketika Aslan bayi dan entah bagaimana caranya ia menemukan pisau lalu mengiris-iris tangannya hingga berlumurah darah. Aslan lepas dari pengawasan dan bayi kecil itu hanya senang bermain dengan cairan berwarna merah yang memancar dari tubuhnya sendiri tanpa merasakan sakit. Dan saat Erlan memergoki, pria itu nyaris histeris. Kontan membawa Aslan ke rumah sakit. Dan dari hari ke hari, pengawasan terhadap Aslan semakin ketat. Semua orang–mungkin, kecuali ayahnya atau sialan lain, merasa begitu khawatir. Hanya takut Aslan terluka parah dan mati tanpa tahu dirinya terluka.
“Tidak, tidak akan ada yang menyakitimu. Tidak ada tanpa seizinku” ujar Erlan ia masih merangkul adiknya sebelum meminta sisa pengawal untuk membawa mereka pulang.
Hanya berjalan, mengabaikan ratusan pasang mata yang menatap mereka hingga masuk dalam mobil.
Aslan tau, dan semua orang juga tahu.
“Kak”
“Ya?”
“Bukankah mereka akan membunuhku juga? Aku membunuh raja mereka” Aslan menyumpal pada ketiak kakaknya.
“Sudah kubilang. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu, tanpa seizinku. Aku yang akan menjagamu, melindungimu, dengan nyawaku sendiri”
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Hari-hari setelah kematian ayahnya terasa lebih berat. Erlan sudah mengatakan untuk tenang dan meminta sang adik minum multivitamin untuk menjaga kualitas tidur. Namun siapa yang akan mendengarkan? Aslan memilih terus dibuntuti kecemasan. Ia selalu was-was. Seakan tiap geraknya tengah diawasi dan sewaktu-waktu siapa saja anak buah ayahnya akan membunuhnya tanpa ampun.
Ke sekolah, pergi les, pergi ke rumah sakit untuk kontrol dan kemana pun. Paranoidnya makin hari semakin parah.
Maka, di usia itu, saat uang jajan yang ia terima setiap hari dari kakaknya cukup untuk membeli sebuah apartemen mewah, Aslan menggunakannya untuk membayar orang guna membunuh siapa saja yang terlihat mencurigakan dan seperti berkemungkinan akan menyerangnya.
Tindakan itu berjalan lancar. Beberapa nyawa melayang cuma-cuma hanya karena spekulasi seorang bocah sepuluh tahun yang memiliki kecemasan tak berujung.
Semakin banyak yang tumbang.
Desas-desus dan narasi suka-suka yang sebarkan tentang bocah itu pun akhirnya menyebar luas. Para mantan anak buah ayahnya berspekulasi jika Aslan mewarisi jiwa raja mereka. Jika Aslan adalah kandidat nomor satu yang akan maju di banding dokter anak yang terlihat lebih mirip pendeta yang akan mengusir roh jahat alih-alih terjun ke dunia gelap, maka, mereka harus mendekat pada bocah itu untuk menyambung apa yang terputus.
Tidak ada yang tahu penyakit langka Aslan kecuali keluarga dan dokter pribadi. Maka, orang-orang masih bertanya-tanya mengapa raja mereka bersikukuh menunjuk Erlan sebagai penerus alih-alih Aslan yang memiliki kecenderungan dan tanda-tanda. Usia hanya angka. Bukan masalah jika bocah itu masih terlalu belia.
Dan kini, kabar itu sampai ke telinga Zain. Orang kepercayaan ayah Aslan untuk meneruskan bisini gelapnya.
Maka, di detik saat kabar itu sampai, Zain lekas pergi ke kediaman mendiang bosnya–rumah Erlan—Aslan berada.

Hanya bocah kurus yang cantik. Terlalu cantik untuk ukuran laki-laki. Namun terlalu berkilau untuk diabaikan.
Zain duduk di sofa besar ruang tamu. Aslan menghadiri panggilan saat pelayan bersikukuh mengatakan jika itu tamu penting. Bocah itu takut menghadapi kecuali ada sang kakak. Dan siang itu, Erlan sedang bertugas lalu menitah beberapa pengawal untuk menjaganya.
Mereka berhadapan dalam kondisi yang timpang. Maksudnya, Aslan yang duduk kecil disofa yang kelewat besar. Sementara Zain membuat sofa itu terlihat sempit karena tubuhnya yang gempal dan kokoh—besar.
“Hei bocah..” panggilan pertama kali. Zain menatapnya tanpa berkedip sementara Aslan menatap lurus ke jendela tepat di belakang Zain. Pelayan membawakan minuman dan cemilan. Zain tidak mengatakan apa-apa lagi setelah panggilan pertama hingga para pelayan pergi dan menyisakan hening di antara mereka.
“Apa kau tahu?” katanya santai. Baru saat pria itu membuka mulut lagi, Aslan menatap tepat ke matanya. Pandangan berkilat-kilat penuh emosi. Zain suka tatapan itu. Kontras dengan tubuhnya yang kecil serta gelagatnya yang serba resah. Mata Aslan justru menginterpretasikan sebaliknya. Mata berani dan liar.
“Ayahmu mengawetkan sperma dan akan di… apa namanya… pokoknya di jadikan manusia, atau benih itu ditanam ke gadis yang entah bagaimana caranya. Untuk mencapai tujuannya selama ini yaitu memiliki anak lain. Karena apa? Karena Erlan menyedihkan dan kau.. Lebih parah” itu informasi baru dan benar-benar tidak penting. Aslan tak bereaksi, tidak kaget, atau apapun yang di tunggu Zain.
“Tidak terkejut, ya?” pria itu mengangguk-angguk “siapa namamu? Aku lupa”
“Aslan”
“Ah iya Aslan. Aku akan menawarkan bantuan padamu. Hanya padamu”
“Terdengar tidak menarik. Jika seterusnya kau hanya akan mengatakan omong kosong, maka aku sangat sibuk” bocah itu berdiri, baru saja akan melangkah sebelum kata-kata Zain kembali membuatnya urung.
“Aku akan menjagamu, melindungimu dan memastikan bahwa kau menjadi nomor satu tanpa ada yang berani menyentuhmu, bahkan kakakmu sendiri. Seluruh harta ayahmu ada di tanganku. Aku harus memberikannya pada seseorang karena bagiku ini membebani. Aku benci sekali mengurusi banyak hal, orang, hukum. Tidurku saja menyedihkan. Aku tidak pernah tidur—hampir seumur hidupku. Di perparah dengan pekerjaan ini. Kau adalah ahli warisnya”
Aslan berbalik. Matanya bertemu dengan Zain praktis.
“Manusia adalah mahluk serakah. Sangat mustahil orang sepertimu tidak suka uang. Ambilah seluruhnya, aku hanya akan hidup dengan lurus”
“Uangku juga banyak. Aku tidak butuh uang, aku butuh tidur” kata Zain jujur. Sebenarnya, ia ingin segera selesai dan mencari kopi di luar “ayolah, aku bukan orang baik yang bisa bernegosiasi panjang-panjang. Aku tidak ramah. Sungguh, jadi apa sulitnya mengiyakan apa kataku? Aku masih berbicara padamu karena kau adalah anak dari mendiang raja. Biasanya aku tidak bicara dengan mulut. Tanganku bergerak lebih dulu”
Alisnya terangkat sebelah, Aslan mengikuti pola pria di depannya.
“Apa kau semacam sub raja? Yang ditakuti orang-orang juga?” tanya Aslan penasaran. Zain mengangguk.
“Anak pintar, kau membuat perumpaman sub dengan sangat baik. Atau katakanlah aku terkuat di lingkaran ini”
Dahi Aslan makin mengrut. Ada ketidakpercayaan dalam benaknya dan rasa aneh pada wajah tampan yang terlihat urakan dan mirip perundung andal meski pakaiannya rapi.
“Kau hanya mirip pecundang yang merundung anak-anak lemah. Bagaimana orang sepertimu akan melindungiku? Berhenti bicara omong kosong dan bawa seluruh penawaranmu. Aku muak”
Terdengar helaan napas dari Zain. Pria itu memijat pangkal hidungnya. Kepalanya pening karena ia belum minum kopi.
“Tunggu, apa di sini ada espresso? Kepalaku sakit sekali dan aku mendadak jengkel” katanya, masih menunduk. Lalu mendongak berharap melihat pelayan.
“Hanya buktikan apa yang kau ucapkan adalah benar. Kau terkuat, kau akan melindungiku dan memastikan aku akan baik-baik saja serta tetap berada di posisiku nomor satu dan sebutkan apa yang kau butuhkan sebagai imbalan? Katakan hal-hal yang masuk akal karena aku tidak bodoh”
Lalu Zain tertawa. Tertawa sangat keras hingga suaranya menggema di seluruh ruang.
“Wah.. kau memang luar biasa, ya? Pantas saja rumor tentangmu begitu kuat dan gencar. Kau berbeda dengan kakakmu”
Aslan tidak langsung menjawab. Pria itu terus meneliti Zain—memindai seperti takut ada rahasia yang terlewat dari tiap inci wajah tampan yang kelewat santai.
Lalu Zain memukul sofa di sebelahnya.
“Kemarilah, duduk di sampingku. Akan kusampaikan caranya. Aku sedang tidak ingin membuktikan apapun. Aku hanya ingin espresso”
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Dan setelah hari kunjungan pertama Zain, semuanya berubah.
Tiap perkata pria itu begitu perusasif dan sarat akan retorika. Aslan bersedia untuk memegang kendali atas hal-hal yang sebenarnya hanya ia ketahui dari teori begini dan begitu. Ia juga tidak menceritakan pertemuannya dengan Zain pada Erlan. Tidak ada yang tahu, rencananya, hanya menjadi rahasia hingga semua misinya berhasil
Penggambaran yang diberikan Zain membuat pria belia itu kini memiliki tujuan hidup setelah selama ini hanya ingin lurus dan berpasrah–kecuali saat membunuh ayahnya. Yang diinginkan hanya hidup tenang tanpa kecemasan. Kata Zain, untuk mendapatkan ketenangan harus lebih tinggi dari semua orang, harus memukul sbeelum dipukul dan bergerak sebelum orang lain.
Ayahnya sudah mati, Aslan pikir hidupnya akan tenang karena tidak ada lagi yang akan terus menyakiti hatinya, menghina, lalu dijadikan bahan perbandingan. Namun salah. Rasa takut akan dibunuh oleh anak buah ayahnya malah semakin parah ketimbang eksistensi ayahnya—membuatnya kesulitan tidur lebih dari ketika tua bangka itu hidup dan terus membuatnya sedih.
Dan setelah Zain datang, pria tengil itu persis menawarkan kekuasaan, jabatan, uang, serta ketenangan hati. Tidak akan ada yang bisa meremehkannya, merendahkan apalagi berani menyentuhnya. Semua itu baru bisa di dapat setelah menjadi raja dan Zain bersedia untuk membantu hingga akhir.
Dan malam itu, Erlan pulang tepat pukul delapan malam. Setelah selesai mandi, ia langsung mengunjungi kamar adiknya untuk mengajak makan malam meski tau bahwa Aslan pasti sudah makan lebih dulu.
Ketukan pelan disusul grendel pintu terbuka. Aslan memutar kursinya. Komputer masih menyala menampilkan soal-soal matematika bersama kertas yang berjajar tidak rapi di atas meja.
“Kau pasti sudah makan malam” kata Erlan basa-basi. Ia berdiri persis di samping kursi adiknya. Matanya memindai soal-soal.
“Ini paling mudah” kata Erlan menunjuk pada bangun datar teorema pythagoras “apa ada kesulitan?”
Aslan menggeleng. Lalu mendongak menatap wajah tampan.
“Aku sulit tidur, aku juga mengalami cemas. Dokter datang dan aku di diagnosa memiliki gangguan kecemasan” itu bagian dari rencana. Aslan mengatakannya patetik. Ia meremat pena dalam genggaman–seolah ketakutan sungguhan.
Erlan melebarkan pupil. Ia melamun cukup lama seperti terus memproses kata-kata adiknya. Sebelum menarik napas dalam “sebenarnya, apa yang kau takutkan, huh? Ceritakan padaku detailnya. Aku ada disini” kata sang kakak perhatian. Suaranya begitu lembut dan tentu saja akan membuat siapa saja tenang.
“Aku takut… a-aku takut dibunuh, aku takut anak buah ayah dendam padaku. Aku merasa seperti di awasi, terus seperti diamati dan orang-orang mengacungkan senjata dari arah yang tidak benar-benar bisa kulihat. Aku ketakutan seperti itu hingga kesulitan..” Aslan lantas menangis sambil batuk. Dahaknya nyaris muncrat. Erlan memeluk leher adiknya sambil mengusap kepala si bungsu sayang.
“Sudah kubilang tidak ada yang seperti itu. Aku ada disini, aku menyayangimu dan akan selalu menjagamu. Aku bersumpah” air mata tumpah juga ingus. Erlan menyekanya tanpa merasa jijik “seandainya ada yang bisa kulakukan untuk membuatmu tidak lagi cemas. Seandainya ada yang bisa kukerjakan.. Aku akan, aku akan lakukan apapun untuk membuatmu aman. Aku menyayangimu”
“Apapun?”
“Ya, apapun”
“Maukah kau menjadi hulk untukku? Menjagaku dari orang-orang jahat?”
“Jika ada yang seperti itu, akan kulakukan” jawaban Erlan seumumnya jawaban atas rasa cinta tanpa benar-benar nyata–maksudnya ocehan mereka. Erlan hanya menganggapnya metafora.
“Kak, maukah kau berubah sungguhan menjadi hulk untukku?”
Pertanyaan Aslan di reaksi kernyitan.
“Hulk sungguhan.. Hulk yang tercipta dari lab, dari zat-zat aneh. Kau menjadi kuat dan tidak terkalahkan” terang Aslan lagi. Kata-katanya sungguhan.
“Akan kulakukan”
“Aku bersungguh-sungguh!” kata Aslan semangat.
“Ya, aku juga. Aku akan menjadi apapun agar kau tak lagi cemas”
“Bisakah aku memegang ucapanmu? Aku mengatakan ini secara harfiah”
Lalu mereka berpandangan lama.
Cukup lama hingga menciptakan kecanggungan aneh yang tak biasa.
“Akan kulakukan” kata Erlan akhirnya.
Setelah percakapan aneh dan Erlan menyanggupi, Aslan cepat-cepat menelepon Zain meski pria tampan itu tak mengangkat. Sungguh sok sibuk. Ia ingin mengadu jika saingan satu-satunya yang berpotensi merebut kekuasannya telah bersedia untuk menjadi pengawalnya—juga bersedia menjadi ‘hulk’ seperti keinginannya.
Dan hanya seperti itu alasan Erlan berakhir dalam lab selama tujuh tahun untuk memenuhi keinginan adiknya. Untuk menjaga adiknya dan membuat si bungsu tidak lagi ketakutan. Zain akhirnya tau persis alasan rajanya begitu khawatir pada dua anaknya yang menyedihkan. Lalu meminta siapa saja untuk mengawetkan benihnya.
Anak itu harus lahir tepat saat Aslan berusia tujuh belas atau di bawah itu. Ayahnya yakin Aslan tidak akan berumur panjang sementara Erlan akan binasa dengan kenaifannya. Zain di embankan semua tugas yang belum apa-apa membuatnya ingin minum kopi.
Sebenarnya tidak ada yang benar-benar Zain inginkan. Ia hanya bekerja karena bosan jika diam saja. Ia juga tidak gila harta, tidak tertarik menjadi paling kaya. Hanya ingin bisa tidur nyenyak dan sembuh dari mimpi buruk–yang bahkan psikiater saja menyerah. Diperparah dengan sikap tempramental. Zain hanya ingin tidur dan kopi.
Namun, hingga detik ini selain seseorang yang memiliki kepribadian ganda, Zain yakin tidak akan ada yang bisa mengalahkannya.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Kini ia berada di pertengahan sekolah menegah atas. Namanya benar-benar besar. Zain merealisasi janjinya dan sekarang, Aslan merupakan nomor satu.
Nomor satu; raja utama dari berbagai kepala aliansi yang di pimpin oleh sub unit. Tiap unit memiliki tugas dan pekerjaan masing-masing, dimana mereka akan menyetorkan uang bulanan sejumlah yang telah ditentukan. Pekerjaan mereka jelas bukan hal-hal legal dan baik, meski gedung besar tempat ia bernaung terlihat seperti kantor besar biasa yang menjalankan bisnis terintegrasi, namun sesungguhnya di balik itu merupakan eksplotasi gila-gilaan yang tidak hanya merampas kemanusiaan, tapi juga alam.
Perdagangan manusia—budak. Penyelundupan, pembuatan, serta perdagangan narkoba. Mempekerjakan anak-anak dibawah umur tanpa gaji. Penujualan organ-organ ilegal dari pekerja yang sakit serta mempekerjakan gadis-gadis belia sebagai pekerja seks komersial. Belum lagi kasino dalam perusahaan yang hanya bisa di akses para VIP. Masih banyak, dan nyaris seluruh isinya adalah hal-hal yang tidak memanusiakan manusia. Dan Aslan ada di rantai paling atas. Usianya belum genap 17 tahun. Namun siapa yang tidak tahu dirinya? Kecuali satu anak manusia yang hidup dalam kos yang menyedihkan. Teman sekelasnya yang terus tak ramah meski Aslan suka
Ben.
Sekitar pukul tiga sore, saat pelayan berlari tergopoh-gopoh mengetuk pintu kamarnya. Tepat saat Aslan berdiri di ambang pintu, seorang wanita berusia akhir empat puluh menunduk dalam.
“Tuan.. ada laporan jika Tuan Erlan mengamuk di ruangannya” ruangan yang dimaksud bukanlah di rumah ini, melainkan di kantor utama. Aslan memberikan tempat khusus untuk kakaknya yang kini telah berubah menjadi makhluk yang nyaris mirip dengan ‘hulk’ seperti keinginannya tujuh tahun silam.
Aslan tidak menjawab, ia mengangkat ponsel dan menelepon sesorang, lalu melangkah melewati sang pelayan begitu saja.

Tubuh besar Erlan mengamuk—menggeliat-geliat di atas brankar raksasa sementara tubuh—tangan dan kakinya di ikat kuat. Ia tak bisa keluar kecuali saat dibutuhkan. Namun entah apa yang mengganggu makhluk itu hingga mengamuk dan membuat dokter panik.
Aslan berdiri di samping kakaknya, mengelus kepala besar itu sayang. Lendir kehijauan pekat menempel ditangannya banyak.
“Kak… aku disini… aku ada disini” Aslan memeluknya meski hanya mampu mendekap secuil. Saat mendengar suara adiknya, Erlan langsung tenang. Tubuhnya rileks perlahan dan napasnya ikut menyesuaikan.
“A-slan… A-slan..” katanya terbata-bata. Suaranya menggelegar ngeri.
“Ya, aku disini, aku ada disini” kata sang adik.
“A-pa kau sudah makan? Apa sudah mengerjakan PR?” mata merahnya beradu dengan kecil milik Aslan. Meski telah berganti warna, namun tatapan seteduh pohon rindang di musim panas itu tetap ada disana. Ia tetap Erlan kakaknya meski tubuhnya berubah total.
“Aku sudah.. Aku sudah makan dan juga mengerjakan PR.. tolong jangan buat keributan.. Aku benci keributan..” ucapnya lembut. Aslan mengusap wajah kakaknya sayang.
“A-aku minta maaf.. Tapi ikatan ini sakit sekali, kepalaku sakit, kakiku juga.. Ini menyakitiku..” keluhnya. Aslan melihat kaki dan tangan sang kakak bengkak dan mengelurkan nanah karena ikatan yang terlalu kencang.
Lantas ia memanggil dokter dan para perawat.
“Longgarkan talinya. Kenapa kalian menyiksa kakakku? Kakakku yang berharga..” Aslan menangis, ia mengusap apapun yang bisa terjangkau “maafkan aku, kak.. Aku sungguh minta, maaf jika menyakitmu..” ucapnya tulus. Setulus ia menyayangi Erlan dalam bentuk apapun karena yang dimiliki Aslan hanyalah Erlan. Makhluk mengerikan ini merupakan satu-satunya yang ia miliki. Keluarganya, hidupnya serta cintanya; kakaknya.
“Jangan menangis.. Oh jangan menangis adikku.. Maafkan aku membuatmu menangis.. Aku hanya rindu..” kataya, ikut sedih “aku baik-baik saja setelah melihatmu. Sekarang pergilah, main dengan teman-temanmu dan nikmati akhir pekan dengan nyaman dan bahagia. Aku akan melindungimu dari sini, aku akan datang saat kau takut, aku akan melindungimu..” kata Erlan serak, ia mengusap air mata Aslan dengan ibu jarinya yang bahkan lebih besar dari pada kepala Aslan.
Si bungsu mengangguk-angguk, ia mencium kening kakaknya yang lengket oleh lendir sebelum benar-benar pergi, lantas menitipkan pada para dokter dan mengingatkan lagi untuk tidak mengikat terlalu keras.
Aslan benar-benar pergi.
Meski entah kemanapun ia pergi, rasa kesepian, kering, sepi, dan buram tetap mengikuti. Ia tak memiliki teman, tidak juga gadis. Kehidupan sosialnya menyedihkan. Aslan bahkan tidak tau mengapa tidak ada yang mau berteman dengannya.
Padahal tidak melulu soal kejahatan. Meski ia memperdagangkan organ manusia secara ilegal, mempekerjakan gadis belia sebagai pekerja seks komersial lalu hal-hal yang tidak berperikemanusiaan, namun Aslan tidak akan gila untuk menyakiti temannya—ini opsional. Namun hingga detik ini, tidak ada satupun orang yang mau berteman dengannya secara harfiah. Yang ada hanya tatapan aneh. Seperti tidak ada yang berubah. Orang-orang masih saja melihatnya sebagai orang aneh hanya karena ia tidak bisa merasakan sakit. Atau mungkin saja sesuatu yan lain—yang tidak ia ketahui.
Dan hanya Erlan satu-satunya teman dan keluarga. Meski sang kakak kini begitu mengerikan juga tersiksa. Kata dokter, hampir tiap malam Erlan merintih merasakan sakit. Katanya, seluruh tubuhnya sakit.
Namun Aslan tidak ingin memikirkan itu atau ia akan menjadi gila. Ia terlalu mencintai Erlan hingga tak sanggup membayangkan kesakitan sang kakak. Biarlah hanya cerita dokter, ia tidak ingin tahu. Yang ia tahu adalah kakaknya ada, kakaknya hidup dan akan melindunginya.
Bergantung pada Zain pun bukan ide bagus. Itu lebih buruk dari seluruh hal buruk di muka bumi.
Tujuh tahun berlalu, Zain mengajarinya bela diri. Mengajarinya bagaimana cara bertarung meski kebanyakan, pria itu hanya menjadikannya samsak hingga ia nyaris mati.
Aslan berhenti ketika ia hampir kehilangan nyawa saat Zain terus memberi pelajaran. Dan setelah itu, pria itu tidak datang lagi kecuali di waktu-waktu yang dikehendakinya sendiri. Tidak juga menjawab saat di telepon, tidak datang ketika di undang. Zain hanya hidup semaunya dan tidak suka peraturan. Hal yang diinginkan dari Aslan hanya kebebasan. Zain ingin bebas melakukan apapun dengan kekayaan Aslan sebagai pendukungnya, hanya itu.
Kaya raya, berkuasa, ditakuti banyak orang lantas tidak juga membuat hidupnya tenang. Tidak seperti yang Zain janjikan. Tidak, tidak seperti apa yang ia bayangkan.
Aslan tetap kesepian.
Ada malam dimana ia benar-benar merindukan sosok kakaknya yang normal. Yang datang ke kamarnya lalu mengajaknya mengobrol. Bertanya banyak hal tentang hal-hal remeh dan menawarkan hadiah. Ia rindu Erlan… rindu ibunya, juga rindu hal-hal yang sebenarnya tidak pernah ia dapatkan seperti hangatnya bercengkrama akrab dengan orang lalu bergantung. Sulit sekali.
Kata Zain, Erlan adalah orang yang paling berkemungkinan merebut posisinya. Padahal tidak, pria itu tidak. Kini, nasi telah menjadi bubur. Tubuh yang sudah bertransformasi itu tidak bisa kembali kendati rasa rindunya merongrong menyakitkan.
Aslan persis berdiri di lobi menunggu sopirnya saat pesan itu masuk. Pesan dari salah satu pengawalnya yang mengatakan bahwa Ben memiliki anak. Tentu saja kabar dadakan itu membuat dahinya mengerut lebih banyak. Kenyataan tak terduga dari hal-hal yang sebetulnya aneh. Juga bukan tanpa alasan Aslan meminta pengawal mengawasi pria itu. Ia melihat potensi bagus pada Ben dan akan merekrutnya. Ia juga tahu bahwa Ben adalah orang yang juga pernah di latih Zain. Sudah jelas ada sesuatu di antara mereka meski Zain mustahil akan bercerita. Sementara sisanya hanya ia selidiki dari pengawal.
Aslan hanya melupakan beberapa hal.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
“Selamat sore” sapanya ramah. Kontradiksi dengan ekspresi sang Tuan rumah yang kaget. Ben menganga. Bukan karena Aslan datang, karena pria itu memang sering datang dan memaksa berteman meski Ben terus menolak. Melainkan hal-hal yang dibawa.
Aslan membawa perlengkapan bayi. Dalam boks kelewat besar, ia membawa susu, peralatan mandi, dipaers, dan segala hal yang berhubungan dengan bayi.
Tidak ada yang tau kecuali Ibrahim dan Sarah. Dua temannya yang mustahil akan bocor. Juga kematian kekasihnya yang di rahasiakan. Bahkan sekolah hanya tahu jika ibu dari anaknya sakit keras dan meninggal dunia. Namun lihatkan pria pirang yang membawa sialan—membuat merinding. Ben hampir saja akan menutup pintu sebelum Aslan meminta maaf dan bersedia menjelaskan.
“Jadi, kau mengenal Zain?” itu adalah negosiasi agar ia tak di usir. Aslan tiba-tiba saja membahas Zain dan Ben tertarik. Padahal, mereka sering bersama namun Aslan tak pernah buka mulut mengenai pria yang seperti terhubung dengan siapa saja.
Aslan jelas mengangguk.
“Aku tinggal hampir tiga tahun bersamanya. Tapi tetap tidak tau siapa dia, apa tujuannya dan kenapa. Tidak mengerti” Ben menggeleng, suara tangis anaknya sudah redam saat Sarah memberikan susu “yang aku tau cuma dia memukulku tiap kumat edan”
Aslan tertawa.
“Ya, Zain memang seperti itu. Dia tidak pernah tidur dan sakit mental”
“Sekitar seminggu yang lalu dia datang dengan alasan mau lihat Chila. Dia melihatnya sekitar tujuh menit. Lalu mengambil rambut bayiku, setelah itu pergi gitu aja”
Pernyataan Ben membuat Aslan mematung.
Mematung agak lama.
Benar-benar lama hingga ocehan Ben terasa semakin jauh dan menghilang. Ia tenggelam dalam lamunan dan spekulasi.
Saat Sarah datang membawakan minum, Aslan baru seperti kembali ditarik pada kenyataan.
“Zain datang, ya? Bawa rambut” ulangnya dengan senyum manis. Ia menyapa Sarah dengan senyum itu. Ben mengangguk-angguk “aku akan sering datang, Ben. Tolong jangan tolak, aku orang baik” kata-kata itu lagi-lagi membuat Ben merinding. Mulai dari tingkah Aslan yang aneh dan terlalu menempel secara tidak natural. Ajakan bertemannya sungguh tidak biasa. Di dekat Aslan, Ben tidak menemukan kehidupan—maksudnya, ia merasa Aslan hanyalah bohong yang kosong juga sulit di terjemahkan. Ia juga tidak tahu apa alasan pikiran semacam itu tertanam. Yang jelas, apapun yang di katakan dan di lakukan Aslan, rasanya selalu seperti di buat-buat.
“Siapa namanya?”
“Chila”
“Ya, Chila. Masih bayi merah dan tidur. Tapi sampaikan, kakaknya datang” lalu pria itu bangkit dan melangah pergi.
Saat Aslan benar-benar menghilang dalam mobil mewahnya, Ibrahim keluar. Pria itu bertolak pinggang mirip bapak-bapak sambil menimbang.
“Itu si Aslan-Aslan temen sekelas mu, Ben? Yang katamu sering datang kesini? Baru kali ini aku melihatnya”
“Hm, sebangku” lantas Ben pergi menemui anaknya di kamar. Ibrahim masih menatap keluar–tempat tak ada lagi jejak. Namun ia yakin, pernah melihat Aslan di suatu tempat.
Tempat yang mungkin saja memang tak ingin ia datangi meski undangan datang berkali-kali.
Aslan memimpin rapat, menyatukan para terkuat yang memegang aliansi. Membuka kebijakan, kadang menambah pekerjaan. Para kalangan sub unit selalu datang, kecuali Ibrahim yang memang telah lama tak sudi lagi berurusan dengan perusahaan setan mengerikan itu.
Dari kekosongan yang ada sejak lahir, di samping Aslan ada dokter yang setia menemaninya sejak beberapa tahun terakhir. Pria yang lebih manusiawi–mungkin. Meski sebenarnya Aslan tidak mengenal baik pria itu, namun Jaka, adalah orang yang banyak menemaninya akhir-akhir ini. Pria itu juga yang sesekali menengok kondisi kakaknya, juga yang memeriksa seluruh tubuhnya yang tak pernah sakit. Meski mereka tidak seakrab itu hingga mampu membaca pria itu, namun Aslan tau jika Jaka memiliki ketertarikan terhadapnya. Bukan jenis tertarik seperti pada pasangan, bukan juga soal uang. Aslan tidak tahu, namun menerima pria itu setelah mendapat laporan jika Jaka adalah satu-satunya rival Zain. Orang yang bisa mengalahkan Zain. maka, ia akan terus dekat pada Jaka–jika saja suatu saat hubungannya dengan Zain memburuk—meski selalu buruk. Atau sebaliknya. Yang mana saja, ia akan menempel pada yang terkuat dan melakukan mutualisme.
Mobilnya tak langsung pulang.
Terparkir di lobi rumah Zain. Pengawalnya turun lebih dulu. Aslan hanya memperhatikan dari dalam. Mereka—para penjaga bercakap-cakap hingga salah satu menelepon entah siapa sebelum pintu benar-benar dibuka dan ia masuk dengan perasaan terluka.
Duduknya seperti anak baik. Rambut pirangnya di sugar ke belakang. Selama lima menit ia duduk dalam posisi itu, bolak-balik membenarkan rambut yang baik-baik saja. Minuman segar terhidang dengan beberapa kudapan yang terlihat menggirukan. Baru setelah ia menguap dua kali, Zain turun dengan wajah malas. Aslan tahu pria itu sulit sekali di jinakkan. Ia juga tak ingin berurusan yang memungkinkan luka atau sialan apapun. Tidak pernah ada yang benar-benar paham bagaimana perangai Zain.
Tangannya menenteng mok berisi espresso. Ia memaksa senyum pada si pirang meski belum mengatakan apa-apa.
“Anak Ben, adikku?” itu bagus. Ia tahu Zain tidak suka basa-basi. Aslan memperhatikan bagaimana ekspresi pria itu berubah hanya dalam waktu kurang dari dua detik.
Zain meletakkan mok di atas meja, duduk dengan menyilangkan kaki lalu ia memandangi cairan hitam di sana beberapa detik sebelum matanya beradu dengan milik Aslan.
“Aku sudah bilang—”
“Itu pengkhianatan” sergah Aslan memotong ucapan Zain “Aku menjadikan kakakku monster karena kau bilang, Erlan berpotensi merebut posisiku. Dan sekarang apa? Kenapa kau lahirkan anak itu? Aku benar-benar merasa di khianati” bocah itu nyaris menangis, air matanya tergenang di pelupuk. Ia menunduk dengan wajah merah. Zain yang berusia 13 tahun lebih tua–sibuk memikirkan alasan yang bagus dan menenangkan bocah di depannya. Meski tidak berbakat.
“Aku menuruti semua yang kau katakan. Aku begini, begitu. Memangkas rasa kemanusiaan. Aku bahkan rindu kakakku dan hatiku terluka tiap melihat bagaimana dia kesakitan karena bentuknya yang sekarang. Aku terus berpegang seperti yang kau katakan bahwa aku akan selalu menjadi nomor satu dan tidak akan ada yang mampu menggeserku. Aku aman, aku terlindungi. Sekarang, apa kau akan menyerangku? Aku akan berperang secara terbuka jika memang harus”
Jeda beberapa detik sebelum tawa Zain pecah.
Pria itu terpingkal-pingkal hingga tubuhnya begetar. Suaranya besar menggelegar, persis menghadapi bocah merajuk yang jelas merasa dikhianati.
“Aku dipihakmu, ingat? Tapi bayi hanya bayi. Butuh waktu puluhan tahun hingga bayi itu bisa menggesermu” Zain berusaha duduk tegak, ia mengucek matanya yang berair karena tawa “kau ingat, kau memiliki penyakit aneh, tidak bisa sakit”
“Dan aku tidak pernah menceritakan itu pada siapapun”
“Benarkah? Tapi semua orang tau, bahkan anjing jalanan”
Aslan menarik napas. Air matanya sudah kering ia seka dengan tisu hati-hati.
“Begini, dengarkan aku bocah” Zain memberi jeda dengan menyesap espresso “keturunan ayahmu harus diteruskan. Aku tidak yakin kau akan berumur panjang sementara kakakmu berubah menjadi monster. Jika bayi itu hidup, dia yang akan menggantikanmu jika kau mati. Kenapa pusing dengan bayi? Aku bahkan tidak yakin kau akan memiliki pasangan lalu meneruskan garis keturunan. Kau bahkan payah dalam semua hal, kau menyedihkan dan bodoh. Kemampuan sosialmu aneh dan mengerikan. Aku tidak bisa berharap apapun selain nirempatimu untuk meneruskan bisnis ini”
Kata-kata itu menyakiti Aslan. Namun ia sadar apa yang dilontarkan Zain adalah benar.
“Sudah bagus, kerjamu sudah berkembang signifikan. Tapi kau tetap bocah menyedihkan. Selain harta peninggalan pria yang kau bunuh, kau hanya anjing tidak berguna yang akan mengorek sampah untuk makan. Jadi. Tetaplah duduk di posisimu sebagai nomor satu. Jangan menggangguku, hm? Aku bukan orang yang bisa di ganggu” terdengar helaan napas dari Zain. Aslan melamun.
“Pulanglah, makan makanan enak, pijat, sesekali bermain dengan gadis jika penismu normal, atau dengan lelaki. Kulihat kau mirip penyandang penyimpangan seksual. Kau terlalu cantik untuk pekerjaan ini” jeda, Zain mengerutkan dahi “tunggu, tadi kau sempat bilang akan perang secara terbuka denganku?”
Pertanyaan itu tak mendapat jawaban. Aslan hanya menatap Zain kosong.
“Apa kau menjilat Jaka? Si kepribadian ganda gila?” pertanyaannya lagi-lagi tak mendapat jawaban. Lalu Zain tertawa lagi “kau berani mengadakan perang terbuka denganku karena kau merasa dekat dengan Jaka? Hahahahahhahahah lucu sekali, sialan” Zain lagi-lagi tergelak, tawanya membahana “oh.. Hari ini mood ku buruk. Tapi kau datang membawa tawa”
Aslan benar-benar diam. Bukan ia tidak sadar jika selama ini segala hal yang ia kerjakan merupakan panduan dari Zain. Pria itu selalu menyebalkan, seenaknya sendiri dan sangat gemar merendahkan. Tidak peduli siapa yang memiliki hierarki tertinggi di mata dunia, Zain akan menghancurkan itu. Yang pria itu tahu adalah keinginannya terpenuhi dan akan membunuh siapa saja yang tak patuh. Zain seperti itu dan Aslan bukan seseorang yang mampu melawan Zain tanpa persiapan matang.
Diam-diam, Aslan merencanakan hal lain, hal yang bisa membuatnya tidak lagi di setir oleh pria edan itu. Meski tidak tahu bagaimana. Berkomplotan dengan Jaka juga terdengar tidak bagus—mengingat bagaimana Zain mengolok-oloknya.
Zain kemudian meninggalkannya begitu saja. Pria itu bernyanyi sambil memegang kopi—menaiki anak tangga sesekali tergelak khas orang gila.
Aslan akhirnya bangkit dan pulang.
Meski tidak tahu adakah tempat yang benar-benar bisa mambawanya pulang.
Tempat yang tidak ada siapapun menyambutnya. Tidak ada Erlan, juga ibunya. Tempat mimpi buruk dan semua hal terjadi. Jika boleh memilih takdir, ia hanya ingin hidup normal tanpa penyakit aneh. Lalu memiliki keluarga sederhana yang tidak gila.
Tentu saja pikirannya itu akan ditertawakan jika keluar. Mengingat bagaimana ia mengikis rasa kemanusiaannya perlahan-lahan hingga tandas. Bisnisnya menggurita. Penghasilannya membumbung dan uangnya tak terhingga.
Aslan terbisa melihat anak-anak saling berebut makanan saat ia lemparkan di dalam pabrik mirip ayam. Atau melihat para gadis pekerja seks komersial di gedung lain yang menderita penyakit keras akibat pekerjaan itu sendiri dan tidak di obati, tidak juga diizinkan keluar. Hanya di kurung dalam kamar tanpa diberi makan hingga tewas.
Atau para pekerja di bidang manapun dalam lingkup wilayahnya yang sakit, maka Aslan akan membedah tubuh mereka lalu mengambil organ penting untuk kembali diperjualbelikan di pasar gelap.
Sungguh memalukan jika ia mengutarakan hal-hal hangat, hal-hal manusiawai sementara ia tahu tidak ada lagi sisi manusia dalam dirinya. Bukan Erlan yang monster, tapi diri sendiri. Kendati perangainya mengerikan, ia benar-benar rindu kehidupan—dimana tidak ada rasa takut, tidak ada cemas. Maka, jika hidupnya penuh ketakutan dan cemas, maka orang lain juga harus hidup seperti itu.
Jika saja..
Jika saja ia hanya memiliki ayah dan ibu orang biasa, juga tanpa penyakit aneh serta kakak sebaik Erlan, maka, ia hanya akan hidup. Menjalani hidup seperti orang-orang biasa tanpa perlu berlatih melepas empatinya. Jika saja ia tidak menjadikan Erlan monster, jika saja ia tidak mendengarkan Zain hari itu. Dan jika saja ia tidak selalu merasa kurang pantas karena ayahnya selalu pilih kasih. Dan jika saja… maka, semua orang di dunia ini berhak bahagia. Tapi kenyataannya tidak. Jika ia menderita, kosong, tidak bahagia, maka, semua orang juga harus demikian.
Pria itu melamun dalam kamar. Menatap ruang yang itu-itu saja sambil memikirkan bagaimana caranya hidup tenang. Atau terlambat? Atau bagaimana cara membuat orang lain di sekitarnya ikut merasakan hal yang sama.
Ada hari-hari ia sadar bahwa Zain bukanlah orang yang bisa dijadikan pegangan, apalagi bersandar. Pria itu jelas tidak waras. Kenapa orang tidak waras memandu orang lain? Zain, pria dewasa itu juga monster. Aslan tahu, bahkan untuk tidur saja sulit. Pasti sangat menderita. Mengingat penderitaan orang lain, Aslan tersenyum.
Lalu pikirannya melompat. Bertanya-tanya pada hampa, mengapa harta dan jabatan tak juga membuatnya bahagia? Sebenarnya, apa yang dicari? Pikiran semacam itu datang dan pergi, tanpa benar-benar mendapat jawaban.
Pintu terketuk dan itu mengingatkannya pada Erlan.
Tak berselang hingga pelayan masuk dan mengabarkan jika Jaka datang. Aslan mengangguk mempersilahkan, dan pria itu datang dengan jasnya sekaligus tas berisi hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan pria itu.
“Sedang banyak pikiran?” wajah tampannya membuat Aslan ingin menatapnya beberapa detik. Jenis ketampanan yang berbeda dengan Zain. Jaka memiliki aura seorang kakak yang kuat. Seolah, pria itu akan melindunginya dari rasa takut. Wajahnya teduh, meski hingga hari ini, tak ada yang bisa menandingi kakaknya—Erlan. Aslan hanya sedang memandingkan Jaka dan si gila Zain. Meski Zain juga mengatakan Jaka adalah gila, namun baginya tidak, atau belum. Tidak tahu. Tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya, juga waras dalam industri ini.
Aslan tidak menjawab. Pria yang duduk di sisi ranjangnya memasangkan sphygmomanometer, mulai mengecek tensi, lalu hal-hal lain seperti biasa.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu hari ini, nak?” tanya Jaka lagi, saat ungkapannya yang pertama tak mendapat jawaban.
Aslan masih diam beberapa saat. Hingga Jaka memberitahu jika darahnya normal.
“Apa kau bisa membunuh Zain?”
Pertanyaan di balas pertanyaan. Jaka diam sebentar, matanya beradu dengan milik Aslan.
“Tiba-tiba? Apa dia telah sampai puncak menjengkelkan?” Jaka tertawa, namun jenis tawa yang terkontrol tanpa humor.
“Hm”
Jaka mengangguk-angguk ambigu.
“Sebenarnya aku tidak memiliki kepentingan untuk menghabiskan energi berkelahi dengan setan kecil itu. Tapi jika kau yang meminta, akan kuusahakan”
“Kau berbohong” kata Aslan.
“Apanya?”
“Kalian berteman di belakangku”
“Apa aku ketahuan sekarang?” Jaka tertawa lagi, kali ini agak lama. “Dengar, Nak. Tidak ada yang benar-benar musuh, juga teman. Kau tau, kau sudah berada dalam dunia yang seperti ini cukup lama. Siapa yang paling menguntungkan, dia adalah teman”
“Apa keuntunganmu dekat denganku? Kupikir kau tidak terlalu tertarik dengan uang” Aslan memicing.
“Dekat denganmu, aku memiliki lab dengan fasilitas sangat lengkap. Aku seperti bisa menciptakan manusia baru dengan potongan-potongan tubuh dari manusia lain meski kotras dengan DNA. Lab mu terbaik dan hanya kau yang bisa memberiku itu. Juga, kelegalan yang tak akan mudah di dapat” siapa saja tahu apa maksud Jaka. Pria itu juga yang membedah seluruh tubuh pekerja untuk di ambil organ dan diperjual belikan. Sisanya, Aslan tidak akan peduli apa yang hendak dilakukan pria itu dalam lab.
“Terdengar sangat sederhana untuk ukuran ‘mau melawan Zain’ untukku”
Jaka menghela napas. Lalu memandang Aslan teduh “apa Zain semengerikan itu di matamu, hingga dari caramu membicarakannya seolah dia adalah Dewa yang tak akan terkalahkan? Dimataku, Zain adalah anak-anak. Jadi bukan hal besar jika hanya untuk membunuhnya”
Aslan melamun lagi. Hanya duduk diam dengan mata hampa.
Agak lama ia seperti itu. Pula Jaka yang tak lantas membuka percakapan lagi. Ia sibuk mengecek seluruh tubuh Aslan dengan membuka pakaian pria itu.
“Bersih tak ada luka, tidak ada memar, dan tidak kering. Kau sehat” katanya lagi. Kata-kata mirip template yang diucapkannya seminggu tiga kali.
“Jaka, menurutmu, kepada siapa aku boleh percaya dalam dunia gila ini?” baru kemudian matanya lurus pada Jaka. Agak lama manik mereka beradu.
“Percaya pada detak jantungmu. Percaya pada apa-apa yang kau tanamkan dalam dirimu. Berhenti menjadikan olokan orang lain sebagai standar dirimu, kau tidak buruk. Kau dilahirkan untuk menajalani kehidupan layak dan bahagia”
Aslan mengerutkan dahi. Awalnya, ia mengira Jaka adalah yang paling waras. Namun setelah mendengar pria itu mengatakan hal menjijikan, keyakinannya pecah.
“Aku benar-benar benci kata-kata penyemangat atau motivasi hasil mencomot dari sosial media lalu di lontarkan dari mulut kriminal. Tampaknya jika aku mengenalmu semakin dalam, kau lebih gila”
Jaka terbahak-bahak. Ia menepuk-nepuk pundak Aslan lembut.
“Aku suka sekali padamu, Aslan. Mau minum kopi bersama?” Jaka menenangkan dirinya yang tergelak, lalu kembali mengancingkan pakaian Aslan “aku sudah mengatakan ratusan kali meski mungkin kau tidak akan tertarik konsultasi padaku. Aku adalah seorang psikiater andal”
“Bagaimana caranya orang gila menjadi dokter jiwa?”
“Aku memahami semua orang, aku memahamimu”
“Itu paling mengerikan”
“Ya, kupikir begitu” Jaka selesai dengan semuanya. Lantas pria itu pamit keluar. Sebelum benar-benar pergi, ia berdiri beberapa detik di ambang pintu.
“Tidak ada yang bisa dipercaya. Kau, aku, atau sialan siapapun di luar sana, semuanya berpotensi menjadi pengkhianat. Maka perhatikan siapa yang ada di sebelahmu. Tapi aku, aku menyukaimu, Aslan, sungguh” tertawa lagi, seolah wajahnya di desain dua rupa. Untuk tawa, dan datar yang benar-benar tak terbaca.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Dua hari yang lalu, ia benar-benar merealisasi ajakan jaka untuk minum kopi. Saat itu, Jaka mengatakan banyak hal tentang Erlan. Dari tempat tinggal, cara perawatan hingga cara menstabilkan mental yang terganggu. Jaka merekomendasikan ‘white room’ sebagai terapi. Karena selama ini Erlan sering berisik dan mengganggu, maka, Jaka mengusulkan cara itu agar monster itu lebih stabil.
Aslan baru mendengar yang itu. Ia juga bertanya apakah ada efek samping pada kakaknya jika menerapkan terapi ‘white room’ namun Jaka mengatakan semuanya baik-baik saja. Maka, hari ini, Erlan di pindahkan ke ruang khusus yang telah disiapkan.
Semuanya berwarna putih.
Lantai, dinding, atap, kusen, ranjang, selimut, sprei, peralatan makan, makanan juga serta minum juga. Semuanya warna putih.
Jaka bilang, itu adalah terapi paling mutakhir untuk menjinakkan monster juga untuk kesetabilan. Aslan patuh saja.
Awalnya semua baik-baik saja.
Hari pertama, hari kedua, hari ketiga.
Baik-baik saja karena Aslan tidak terlalu perhatian. Namun di hari ketujuh, saat ia menengok kakaknya, realitas sang kakak terasa makin kabur. Erlan mulai berhalusinasi dan juga mengalami delusi. Kata perawat, monster itu kerap mengalami kecemasan tinggi, kadang juga mengalami mati rasa total. Memorinya mulai goyah.
Lantas Aslan mendatangi Jaka.
Jaka hanya mengatakan bahwa itu efek awal, perlu beberapa bulan agar terapi mulai sepenuhnya bekerja. Maka, ia meminta bocah itu untuk tidak khawatir.
Dan setelah malam Aslan terus bertanya dan penuh curiga atas pola kakaknya yang semaki aneh, Jaka pergi ke rumah Zain dengan pakaian olahraga. Tangannya menenteng raket berencana mengajak bermain meski Zain tidak pernah sudi memenuhi keinginan pria itu.

Tidak tahu apa yang ia katakan pada pengawal di depan. Jaka telah berada di ruang olahraga. Ruang dimana menjadi tempat berlatih, atau sekedar memukul jika sedang jengkel dan bosan. Dan Zain ada di sana. Berdua dengan samsaknya yang bergerak maju mundur setelah pukulan mematikan dilayangkan.
Keringat bercucuran. Ia melirik pada eksistensi baru. Jaka melepas ransel dan meneguk air, matanya lurus pada Zain yang juga memperhatikannya.
“Bangsat” sapaan yang ramah dari Zain. Jaka tersenyum manis seperti kata-kata itu adalah sambutan selamat datang.
“Aslan memintaku membunuhmu” lalu ia membuka tas raket—melemparnya satu pada Zain yang mau tidak mau ditangkap.
“Waw” jawab Zain asal. Ia melemparkan raket lagi karena tidak sudi bermain “kalau begitu, sampai bertemu di pertempuran, sialan. Kita lanjutkan cerita kita yang tidak selesai”
“Aku akan membunuh Erlan” kata Jaka. Lontaran itu berhasil membuat perhatian Zain tersita. “Kau tau, Erlan sulit ditangani. Bahkan senjata api tidak akan membuatnya mati. Aku akan membunuh Erlan atau membuatnya lemah” pria itu terlihat berpikir “naiklah. Aku butuh lab lebih besar dan para pakar dari luar negeri. Aku ingin bereksperimen dengan potongan tubuh. Aku ingin unlimited. Aku akan menyingkirkan Aslan” terang pria itu tanpa aling-aling.
“Naik sendiri, bodoh. Bekerja di perusahaan hanya membuatku seperti dungu berdasi. Aku tidak sudi. Aku akan kerja jika ingin dan sisanya hanya duduk sampai mati menikmati espresso. Siapa kau berani menyuruhku? Dan kenapa aku harus menurutimu?”
“Karena, kita teman. Aku mencintaimu, Zain, sungguh”
Jaka tertawa terbahak-bahak sementara Zain meludahi meski tak kena.
“Aku sungguh, maksudku, aku akan melemahkan Erlan. Jika kau tidak ingin ikut campur, maka diam lah”
“Kau dungu” kata Zain. “Peralat si pirang bodoh. Dia akan menuruti apapun yang kau inginkan, dia adalah si menyedihkan yang kesepian. Jika memang tidak mempan dengan halus, maka pukul. Dia sudah bagus memimpin meski penuh keraguan. Kepalaku pusing jika terus menghadiri rapat, aku akan pensiun dini. Kau mengerti maksudku. Sudah bagus perusahaan tidak ambruk. Meski menyedihkan dan bodoh, dia bisa kuandalkan”
Ada jeda agak lama. Jaka sepenuhnya paham apa yang disampaikan Zain. akan sulit membuat perusahaan sang raja kosong tanpa pemimpin. Lagipula akan menjadi perdebatan serta keberatan dari banyak pihak jika yang naik bukanlah anak dari raja sebelumnya. Maka, sebelum bayi Ben besar, Aslan berperan penting untuk kestabilan. Meski bohong jika Zain tidak ikut campur.
“Ikutlah denganku, buat semua orang dipihak kita” kata Jaka lagi.
“Sudah ku bilang aku tidak tertarik. Bergeraklah sendiri”
“Aku akan menyerang perusahaan dan melawan seluruh sub unit. Membuat mereka tunduk padaku. Aku butuh bantuanmu sementara untuk menghandle perusahaan. Aku tidak akan membunuh Aslan. Aku hanya akan mengirimnya ke rumah sakit jiwa setelah membunuh kakaknya”
“Kalau begitu tidak perlu menyerang. Katakan saja bahwa kau menjadi kaki tangan Aslan. Dan berhentilah menjadi bodoh untuk menyesaki kegilaanmu” kata Zain apatis.
“Oh.. lihatlah singa kecil ini…” Jaka tertawa “dia mengoceh tentang kegilaan. Siapa yang paling gila di antara kita?”
Zain duduk lalu meneguk air.
“Aku tidak naik bukan karena aku tidak butuh. Aku hanya malas. Tapi perusahaan sangat penting. Aku membesarkan Aslan lalu membuatnya memimpin meski tidak sempurna namun mumpuni. Kenapa aku harus bersusah menuruti kata-katamu yang kontradiksi?”
Jaka memasang sarung tangan dan pelindung lutut seperti orang akan naik sepeda.
“Kau terlalu meremehkan Aslan. Kau tidak tahu bahwa mungkin saja dia telah memiliki rencana lain untuk membunuhmu” lalu ia menatap Zain dengan seringai “berlagaklah menyerang perusahaan, katakan bahwa Aslan gila. Kau adalah orang kepercayaan raja. Mustahil orang-orang tidak percaya. Jika kau tidak mau, aku akan naik, asal berikan aku akses lab lebih luas. Kita kirim Aslan ke rumah sakit jiwa”
“Dan aku sangat senang jika Aslan bisa membunuhku. Mendengarnya saja membuat darahku membara, aku sangat rindu gejolak itu, aku haus pertempuran” kata Zain sambil bangkit. Ia lantas menyerang Jaka dan keduanya berkelahi dengan cara paling mengerikan meski tanpa senjata.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Enam bulan berlalu.
Erlan menjadi gila. Monster itu terus butuh obat penenang agar tidak menghancurkan segalanya. Kendati, Aslan tidak melepaskan kakaknya dari ruang putih itu. Kehidupan makhluk itu 90 persen adalah tidur. Lalu saat sadar, ia akan menangis dan mencari adiknya. Begitu terus. Namun Aslan sangat jarang mengunjungi mengingat pekerjaannya yang padat.
Juga tidak ada yang benar-benar menyerang.
Perkelahian antara Jaka dan Zain berakhir tanpa makna. Zain tidak akan mendengarkan siapapun kecuali keinginannya sendiri dan Jaka tidak akan ambil resiko dengan membunuh bocah itu meski jelas ia juga akan terluka parah.
Maka, selama enam bulan kehidupan berjalan seperti biasa.
Namun sudah satu minggu yang lalu Ben datang. Pria itu memenuhi panggilan Aslan untuk bergabung dengan serangkaian ancaman kanak-kanak namun berhasil membuat Ben takut. Jenis ancaman tidak serius, namun serius. Aslan mengatakan akan mengambil Chila dan merawatnya sendiri. Ia juga memaparkan jika memiliki hak atas bocah itu dengan segala celoteh panjang namun membawa bukti yang hingga hari ini tak berani di buka.
Bukan, pasalnya, Ibrahim terus mengoceh bahwa Chila bukan anaknya. Lalu Zain tidak mengatakan apa-apa, sementara Aslan lebih parah. Ben pusing. Syarat yang diberikan Aslan hanya menjadi pengawalnya di kantor pusat. Dan sejak bergabung seminggu yang lalu, Ben baru mengerti, manusia jenis apa Aslan si pirang yang terlihat seperti cangkang kosong dan kerap tertawa di waktu yang tidak tepat itu.
Hari ini, Aslan mengajak Ben untuk pemeriksaan rutin. Dalam ruang khusus di kantor. Tidak tahu, Aslan hanya menyukai Ben dan berharap Ben mau berteman dengannya meski tidak. Ben bukan orang yang mudah di ajak berteman. Pria pendiam itu juga kesulitan berteman sementara Aslan haus teman.
Aslan bertelanjang diri. Dokter mulai memeriksa semuanya.
“Mengapa di periksa seperti itu? Apa kau memiliki penyakit kronis?” tanya Ben penasaran. Sejak tadi dokter hanya mencatat lalu melihat, mencatat lagi, lalu melihat. Tidak ada yang benar-benar di lakukan setelah tensi dan pemeriksaan umum lain.
“Tidak juga, aku hanya harus di periksa” kata Aslan ramah. Namun Ben sudah tidak akan tertipu dengan suara lembut dan perangai manis. Aslan adalah monster. Tentu saja setelah ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk dipamerkan betapa mengerikannya pria nomor satu di sana.
“Mengapa tidak mati saja? Pasti kematianmu adalah hal yang paling ditunggu banyak orang” kata Ben lagi. Kali ini terdengar lebih keji. Aslan tertawa renyah.
“Ben.. oh..” tubuhnya terguncang karena tertawa “jika aku mati, maukah kau menangisiku sebentar saja? Pandangi pusaraku”
“Menjijikan” jawab Ben cepat. Aslan tertawa lagi. Seperti wajah itu diciptakan memang untuk tertawa “kau mengubah kakakmu menjadi monster, kau tidak memberi makan layak pada pekerja anak-anak dibawah umur, kau juga menjual organ manusia secara ilegal. Kau mempekerjakan gadis belia juga tanpa upah. Kau pantas di neraka”
“Aku tau” suara napasnya kali ini lebih dalam. Dokter kembali memakaikan baju. Dan tidak ada Jaka hari ini.
“Tapi, Ben. Uangku banyak. Maukah kau kuberi satu karung uang? Hanya tolong sayangi aku” tidak ada patetik. Pria itu mengatakannya persis bercanda, padahal tidak “bayangkan Chila besar sebagai orang miskin. Dia akan dirundung atau kurang gizi. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari hidup miskin. Maka, jangan terlalu kencang. Kadang aku tidak sabaran. Padahal aku serius ingin menjadikanmu teman. Tapi selalu tertolak”
“Tidak akan ada yang mau berteman dengamu kecuali setan”
“Benarkah?” alis Aslan bertaut “Ben, di dunia ini, apa yang paling kau takuti?”
Pertanyaan itu terdengar seperti jebakan. Ben menimbang untuk menjawabnya.
“Tidak ada”
“Lalu, alasanmu bekerja disini?”
Ancaman akan pengambilan Chila atau sialan lainnya.
Namun Ben memilih diam.
“Kita semua punya ketakutan. Dan kita semua berusaha agar ketakutan itu tidak berubah menjadi nyata. Aku, kau dan semua orang, berusaha keras agar tidak ketakutan. Lalu, kenapa hanya aku yang jadi penjahat? Aku memiliki alasan juga, Ben” baru suaranya melemah. Pria itu menunduk “aku bukan sedang meminta dibenarkan. Aku hanya mengajakmu berteman. Tapi sulit, ya?”
“Jika sudah tidak ada urusan, aku akan keluar” ucap Ben cepat, seolah ruangan itu menjadi sangat panas hingga keringat jatuh dari pelipis ke pipi. Ben tidak yakin. Padahal pendingin bekerja dengan baik.
“Aku menggajimu, Ben. Kau tidak berhak. Kau bahkan tidak berhak bernapas jika tidak ku izinkan”
“Orang gila”
“Aku sering mendengarnya. Sudah berapa lama kau disini? Mengumpatiku biasanya akan kuhukum dengan memotong jari. Aku bersabar karena menganggapmu teman”
Ben spontan diam. Ia tidak jadi pergi.
“Kupikir kita memiliki kesamaan. Kau..” Aslan menunjuk Ben “anak yang dibuang oleh keluargamu dan dipungut bajingan yang memaksamu hidup miskin” Ben mencerna kata-kata Aslan namun tetap tidak mengerti maksudnya, tidak juga bertanya. Ia hanya menganggap jika Aslan mengoceh seperti pecandu narkoba.
“Dunia tidak adil, kan? Itu sebabnya aku menyukaimu. Tapi kau memilih hidup lurus dan menjadi manusia utuh. Aku iri. Oh.. hidupku hanya dipenuhi rasa iri. Itu menyiksa”
“Apa aku dipekerjakan hanya untuk mendengar omong kosong penjahat?” Ben benar-benar kesulitan mengontrol ucapannya. Jika saja bisa, ia ingin sekali menebas kepala Aslan dengan parang.
“Ya… maksudku tidak. Aku bisa membayarmu untuk menemaniku menonton film, kita pergi jalan-jalan atau berbelanja. Jangan salah paham, aku bukan tertarik padamu seperti pasangan. Aku hanya butuh teman”
Ben tidak menjawab. Sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak menjawab. Karena jika keluar, itu akan masuk dalam hitungan mencaci maki dan ia sedang tidak ingin mengambil kemungkinan paling buruk jika jerijinya di potong. Meski terdengar bercanda, tidak ada yang benar-benar tau apa yang akan dilakukan pria sinting itu.
Sambil berpikir untuk nekat menemui Zain dan meminta pria itu mengkudeta perusahaan Aslan.
Ya, Ben memikirkan itu sejak seminggu yang lalu. Tidak masalah jika ia datang dan Zain memukulinya sampai mati, yang penting katakan dulu.
“Berpikir mau membunuhku?” ungakapan itu kontan membuat Ben kaget. Ia menatap Aslan yang terpejam santai. Lalu kembali membuka mata “aku tau tatapan itu, begitu banyak yang seperti itu. Satu mata yang memandangku dengan penuh cinta, kini telah berubah. Menyesal pun terdengar begitu menyedihkan. Aku bermimpi bahwa suatu saat akan ada yang menatapku penuh cinta, konyol kan?” Aslan tertawa lagi “bahkan terdengar aneh saat kata ‘cinta’ keluar dari mulutku. Seperti aku ini diciptakan untuk menjadi penjahat. Tapi, tahukah kau? Aku tidak langsung lahir seperti ini”
Ben masih diam, namun menyimak.
“Sungguh, aku tidak tahu bagaimana mengekspresikan cinta. Jika aku takut kehilangan sesuatu, aku berupaya menjadikan seseorang itu abadi atau paling tidak, tidak akan mati sebelum aku. Aku begitu takut kehilangan, aku takut di tinggalkan dan aku benar-benar benci rasa takut dan was-was yang tidak pernah kumengerti” jeda dengan jakun yang naik turun karena liur yang di telan susah.
“Tahukah kau? Aku masuk dalam kegelapan ini saat usiaku 10 tahun. Beberapa orang masuk dan mendukungku, mencekokku dengan berbagai ideologi. Kepalaku tersusun dari isi kepala beberapa orang. Dan jika kau lihat aku tumbuh menjadi penjahat, bukankah keterlaluan jika melimpahkan seluruh kesalahan padaku? Aku benar-benar tidak punya pegangan”
“Lalu, kau berharap orang-orang yang kau siksa ikut menyalahkan pola asuhmu yang keliru? As, aku besar dari tempat sampah, namun aku berusaha untuk tidak menjadi sampah. Sementara kau, kau lahir dari pola asuh kriminal, mengapa tidak memberontak? Bukankah karena itu bakatmu, menjadi kriminal? Kau terus sibuk mencari pembenaran dan menjual cerita sedih agar kelakuanmu bisa di maafkan. Hanya orang gila yang meromantisasi kriminal”
Hening agak lama. Deru mesin pendingin dan detak jantung tiba-tiba terasa lebih nyaring dari apapun.
“Aku harap aku bisa mengulangnya, hari dimana aku menusuk tua bangka sialan itu. Dan hidupku berputar disana sampai aku mati” Aslan memberikan isyarat agar Ben keluar. Sementara ia memejamkan mata.
Tidak akan ada yang mengerti dengan perasaannya kecuali kakaknya yang kini semakin kacau. Rasanya dunia semakin gelap, rumit, dan seperti bukan tempat ideal untuknya tinggal.
Kata Zain, harus memukul dulu agar tidak dipukul.
Mengantisipasi semua hal sebelum ketakutan menyerang. Harus bergerak lebih lebih dulu, harus lebih tinggi, harus lebih dari siapapun. Maka, semuanya akan baik-baik saja. Dunia akan semakin cerah dan hidup akan bahagia. Namun ocehan yang dilontarkan sekitar tujuh tahun yang lalu, masih belum ia temukan—maksudnya, letak kebahagiaan. Sialan Zain, pria itu juga bahkan tidak bahagia. Bisa-bisanya bercermah tentang kebahagiaan pada bocah 10 tahun yang hidup tanpa arah dan perasaan suram. Bocah yang mudah goyah dan butuh sandaran. Pria tidak bahagia yang mengoceh tentang kebahagiaan. Pendongeng andal.
Meski terlambat, Aslan mengerti jika ia adalah korban manipulasi bertahap, dimana Zain membangun kepercayaan dengannya—sejak dulu dengan tujuan mengeksploitasi. Meski kini, Zain melepaskannya tanpa banyak berkomentar untuk jangan ini atau harus itu. Namun kepercayaan yang ditanamkan benar-benar membentuknya menjadi pribadi yang sekarang.
Atau mungkin benar apa yang dikatakan Ben bahwa bibit kriminal sebenarnya telah ada dalam diri. Aslan hanya sibuk mencari kambing hitam yang bisa di salahkan meski sebenarnya, ia ingin sekali mengakhiri semuanya.
Semuanya. Hidupnya, kakaknya, dan mati.
Pikiran itu datang terlalu sering, sesering kecemasan yang tidak pernah benar-benar sembuh meski dengan obat.
Tidak ada yang berubah dari menjadi nomor satu. Tidak ada teman, tidak ada kerabat, juga orang dekat. Hidupnya benar-benar kesepian dan menyedihkan.
Keluar, bertemu orang baru, berkunjung ke tampat bagus, menikamti hidangan terenak, lantas bercinta dengan gadis. Semuanya telah dilakukan, bahkan jika ada usulan untuk ini dan itu dari internet, maka Aslan akan pergi untuk sekedar mencari kesenangan yang sebetulnya tidak pernah benar-benar ia rasakan. Rasanya seperti hanya menempel di permukaan tanpa benar-benar menyerap. Ia tidak tahu bagaimana bahagia, bagaimana rasa sakit dan bagaimana caranya menjadi manusia utuh.
Dan bagian paling menyesakkan adalah saat kembali ke hotel, ke kamar—lepas menghabiskan waktu di luar untuk tujuan senang-senang. Semuanya kosong, hampa, hening. Tidak ada siapapun. Rasanya semakin menyakitkan.
Namun berbeda saat ia mengunjungi tempat dimana orang-orang mengaggapnya seperti dewa–tempat dimana sebutir telur terasa bermakna. Maka, ada sedikit perasaan hangat. Ia merasa bisa menjadi tuhan. Dan dari puncak rantai tertinggi, menjadi Tuhan lah yang paling aman. Tuhan adalah klimaksnya dan Aslan ingin menjadi Tuhan.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Ungkapan klise tentang hari sial tidak ada dalam kalender benar-benar menjengkelkan jika terjadi sungguhan.
Sejujurnya, Aslan tidak mengerti alasan mengapa semua orang membencinya. Bukan, ia tidak sedang membicarakan para pekerja yang tidak mendapat kehidupan yang layak setelah terperangkap, ini tentang para sub unit. Tentang orang-orang yang andil membesarkannya, ada di belakangnya dan selama ini menjadi alasan mengapa ia sampai di puncak ini.
Kenapa membimbingnya sampai kemari jika untuk dihancurkan?
Pagi itu kondisi perusahaan utama keos. Zain datang bersama para pengkhianat secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya—datang memukul siapa saja yang terlihat matanya.
Ada Ben, Ibrahim, dan Jaka.
Zain memukuli semua orang seperti gila yang kalap. Ben dan Ibrahim membantu meski hampir tidak berguna sementara Jaka naik ke ruang dimana satu-satunya monster yang ingin ia lenyapkan masih ada.
Ia menuju ke ruangan Erlan yang tengah terlelap.
Kabar itu langsung di sampaikan pada Aslan. Saat mengetahui perusahaan utama di serang Zain, Aslan hanya diam di rumah. Pria itu mematung—duduk dalam kamar sambil menatap kosong pada jendala. Sebenarnya ia tidak mengerti. Sungguh, ia tidak tahu kenapa.
Jika Zain menginginkan posisinya, pasti dengan sukarela akan ia berikan. Toh, selama ini ia hanya manusia lemah yang takut terluka karena tidak bisa merasakan sakit. Orang yang hidup dalam kekhawatiran dan menutupi seluruh ketakutannya dengan ikut membuat banyak orang takut. Lantas, apa alasan Zain menyerangnya? Apa yang diinginkan? Orang gila itu hanya berbuat sesukanya. Membangun, lalu dihancurkan sendiri. Ia tidak mengerti.
Tapi rasa sesak dalam dada benar-benar mengganggu. Pergi ke perusahaan utama pun, ia tidak berani. Meski berkali-kali berpikir untuk mati, namun di hadapkan pada hal-hal demikian, tetap membuatnya takut. Pada dasarnya, Aslan memang merasa diri adalah pecundang menyedihkan. Sejak dulu, sejak ayahnya memang benar-benar menganggapnya begitu. Bukankah ada alasan untuk semua ungkapan? Pria itu melamun, seperti tubuh dan jiwanya terlepas. Ia tidak tahu, hanya seperti tenggelam dalam air keruh berisi kotoran.
“Tuan,” suara pelayan membawanya kembali naik ke permukaan. Wajah Aslan pucat pasi. Ia melirik ke belakang—tempat pelayan berusia akhir lima puluh menunduk dengan penuh hormat. Sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah jika ia memberikan uang lebih banyak, pelayan itu mau menjadi temannya?
“Tuan Erlan terdesak. Ada panggilan darurat. Katanya, sebaiknya anda ke sana untuk memberi titah”
“Sudah ada Kenneth dan Johan. Aku sudah memerintahkan mereka untuk mengerahkan seluruh pasukan. Jika kalah, ya sudah. Hanya orang gila yang bisa melawan Zain. Dia bisa menghabisi ribuan orang sendirian. Lalu, aku harus apa?” putus asa. Suaranya serak. Berkali-kali ia buang pikiran khawatir tentang kakaknya. Sambil ia remas tangannya sendiri lalu bersugesti bahwa Erlan akan baik-baik saja dan melindunginya.
Sang pelayan tidak menjawab, ia undur diri dan Aslan kembali menatap kosong pada pemandangan—hamparan hutan pinus. Hatinya seperti di remas-remas. Bernapas pun salah.
Lantas karena rasa khawatir yang seperti akan membuatnya melompat ke luar, Aslan memilih mengambil obat tidur di atas nakas.
Lebih baik tidur, ia pun sedang tidak ingin menangis meski dadanya penuh dan sakit.
Kenapa hanya bisa sakit hati?
Kenapa tidak sakit saat luka? Kenapa penakut? Kenapa begitu lemah? Pikiran-pikiran berisik saling bersahut-sahutan. Ingin sekali ia lepas kepala itu, lalu hidup dengan dingin. Sejauh ini, selama ini, sekeras ia mencoba untuk sampai di atas, membangun pembawaan mengerikan tanpa hati, hanya agar tidak ada yang meremehkannya. Nyatanya, semua benar-benar tidak berarti.
Suara dikepalanya baru berhenti saat obat bekerja. Semuanya seakan senyap, dingin, hening. Tidak ada kekhawatiran dan takut. Sambil berbisik bahwa hari esok akan lebih cerah dan semuanya baik-baik saja.
Saat cahaya putih masuk dan mimpi indah datang.
Saat semuanya di lepaskan dan hatinya lapang. Tidak ada kekhawatiran lagi, semuanya telah selesai. Aslan memeluk cahaya itu dengan tinggi tubuh hanya sepinggang orang dewasa. Berlari-lari ia ke sana ke mari sambil menjerit memanggil ibunya karena kakaknya menakali—bergurau.
Seandainya begini saja.
Hidup tanpa ketakutan akan ditinggalkan.
Tanpa khawatir di khianati.
Dan memohon pada siapapun untuk jangan membangunkannya dari mimpi.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Bangun, bangun!
Suara kakaknya berdentang seperti lonceng di depan stasiun. Di tengah-tengah orang-orang yang berlalu lalang dan bercakap-cakap menggunakan bahasa campur-campur.
Matanya terbuka tepat saat seseorang menepuk pundaknya berkali-kali.
Seseorang menangis, tidak tahu menangisi apa.
“Apa?” kata Aslan bingung. Matanya merah dan ia mengusap wajahnya lembut.
“Tolong jangan terlalu hanyut, Tuan” kata pelayan. Tangisnya tidak mengecil.
“Apanya?” ia masih kebingungan. Seperti masih dalam mimpi namun ia sadar bukan.
“Tuan Erlan… m-meninggal” katanya terbata-bata.
Anjing.
Aslan bangkit buru-buru. Otaknya tak sempat memproses apa yang dikatakan sementara tubuhnya bergerak lebih dulu.
Tergopoh-gopoh langkahnya. Kakinya lunglai bagai permen jeli yang siap meleleh.
Di lantai satu, di ruang tamu.
Ia saksikan makhluk besar itu terbaring tak sadarkan diri. Mata merahnya tertutup, kelopak rapat begitu damai. Tidak ada lagi rintihan seperti selama ini, tidak ada lagi amukan dan rasa tidak nyaman. Benar-benar hening, tanpa napas, hanya diam.
Lendirnya masih disana. Hijau, pekat dan bergelambir.
Aslan mendekat. Matanya tak berkedip, apalagi berpaling. Para pengawal yang tersisa menunduk nyaris mengelilingi sang panglima yang gugur di medan tempur.
“Kak…” ia semakin dekat, “kak, sudah pulang?” kini jaraknya terkikis. Lendir menempel di celana dan bajunya “kau boleh menginap disini, malam ini. Di kamarku” air matanya turun dari ujung kelopak.
Lalu melamun agak lama.
Cukup lama.
Tangis hening. Ditatapnya wajah hingga seluruh tubuh itu lamat-lamat. Begitu mendetail hingga matanya perih karena kering.
Tetap sama, tak ada yang bergerak. Tubuh itu terlalu tenang dan damai hingga membuat Aslan takut.
“Kak…. aku sudah mengerjakan PR, aku sudah…” Aslan berjongkok. Lalu ia batuk, air matanya deras, sangat. Rambut pirangnya kini di penuhi lendir.
Kepalanya mendongak, lagi-lagi menatap tubuh besar yang terbujur kaku, lalu pada langit-langit, dinding, chandelier, para pengawal yang masih menunduk, serta kembali pada kelopak kakaknya, bibir pucat serta dingin.
“Kau berbohong. Padahal aku sudah tahu kau akan berbohong, tapi aku selalu percaya padamu… Kak, ayolah..” baru ia tergugu–bersuara, tangisnya tanpa nada.
“Kalau kau pergi, siapa yang akan melindungiku? Aku harus menjadi apalagi?” lantas Aslan memanggil salah satu pengawal—membawanya dalam isyarat.
“Bunuh aku.. Tembuskan peluru ke kepalaku” titahnya campur tangis. Namun sang pengawal menggeleng, tidak ikut menangis, namun menggigit bibir bawahnya untuk meredam pilu.
“Oh… sakit sekali..” ia mengelus dadanya, “hatiku sakit sekali..” napasnya sesak. Aslan jatuh ke lantai tepat di samping kakaknya.
“Bahkan pengawalku tak bersedia melakukan titahku.. Oh..” ia tertawa campur tangis. Kematian Erlan sama menyesakkannya dengan kepergian sang ibu. Saat kehilangan ibunya, Aslan menjadi makin pendiam, kini, ia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi dunia saat tak ada lagi yang benar-benar bisa ia andalkan dan di jadikan tempat bersandar.
Tangis campur batuk. Lalu tersedak ludahnya sendiri. Aslan baru meraung-raung.
Tertawa, menangis lagi, tertawa lagi, lalu diam, melamun lama. Hingga kembali tak sadarkan diri, pria itu jatuh pingsan dalam posisi memeluk lengan besar kakaknya dari samping. Jejak air matanya bagai sungai dangkal yang kering, tubuhnya penuh lendir. Semuanya hilang dan gelap.
Lalu, harus kemana kubawa diriku?
Pada kubangan anak–anak yang mengais sampah dan mengunyah kulit telur? Atau pada tubuh-tubuh tergeletak kehilangan organ? Atau pada wanita-wanita yang merangkak dengan kemaluan penuh nanah?
Aku monster, kan? Akulah monsternya, aku adalah anak kriminal yang menuruni darah kriminal tanpa si kriminal itu mengakui bahwa dalam tubuhku mengalir darahnya. Tidak, atau mengakui namun terus mencercaku dengan ungapan pengecut?
Sebenarnya apa? Kenapa aku diciptakan? Untuk apa aku disini dan kenapa aku tidak bisa merasakan sakit sementara hanya hatiku yang luka? Kenapa aku penuh ketakutan? Kenapa hidupku di selimuti kekhawatiran yang tidak bertepi?
Dan kenapa aku tidak bahagia? Bahkan setelah semua hal? Kenapa? Apa yang salah? Bagian mana yang keliru?
Aslan bersumpah baru saja menutup mata, kesadarannya hilang dan berharap tidak akan pernah membuka mata. Namun entah bagaimana caranya kelopak itu lagi-lagi terbuka—meski kali ini bukan di samping tubuh kaku yang dingin.
Ia kenal tempat itu, sangat. Dinding skyblue, plafon yang rendah serta suhu yang hangat—kamarnya.
Ia juga melihat tiang infus menggantung dengan cairan yang menetes lambat. Tenggorokannya tidak kering, namun gatal, ia batuk. Mungkin saja suaranya membuat siapa saja datang.
Dan benar, datang.

“Sudah bangun?” pertanyaan tidak perlu. Namun tidak terlalu buruk untuk basa-basi. Aslan mengucek mata “kau sudah tiga hari pingsan, semua orang cemas”
Itu juga aneh. Aslan bersumpah baru terbaring di samping mayat kakaknya. Lalu tiba-tiba semua terasa melompat-lompat tidak jelas.
“Aku merawatmu selama ini.. Aku sangat menyukaimu, aku juga yang memastikan kau tetap hidup saat semua orang meninggalkanmu. Zain mengambil alih semuanya” kata Jaka, nyaris terdengar tanpa cela. Pun, Aslan tidak ingat, dahinya mengerut.
“Zain?” bukan, sebenarnya bukan itu yang ingin ditanyakan Aslan, melainkan sisa ingatannya tentang Jaka. lagi-lagi ia bersumpah bahawa baru saja pingsan karena kakaknya meninggal akibat bertarung entah dengan Zain atau Jaka.
Jaka.
Benar, pria yang berdiri di sisi ranjangnya kini adalah bagian dari sinting yang menyebabkan kakaknya meninggal. Aslan ingat meski hanya sebatas itu.
“Hm, Zain. Bocah itu menggila dan membunuh semua orang. Kau tau, Zain itu tidak sehat alias sakit jiwa” Jaka berdehem. Ia membenarkan laju infus yang baik-baik saja.
“Maaf karena waktu itu aku tidak cepat mendengarkanmu untuk membunuh Zain, lantas membiarkanmu mengalami hal sulit. Aku merasa bersalah hingga sulit tidur” wajahnya patetik dan penuh keyakinan. Ia tidak tahu apakah Jaka orang baik atau tidak. Benar-benar sulit membedakannya saat ini.
“Apa kakaku sudah dimakamkan?”
“Ya, sudah tiga hari yang lalu. Aku merawatmu sejak itu, disini, hanya kita berdua” kata Jaka lagi “bagaimana perasaanmu? Apa masih menyakitkan, maksudku, hatimu?”
Tidak langsung di jawab. Aslan yang awalnya melirik pada Jaka, kini kepalanya kembali lurus menatap plafon. Pun, ia tidak tahu apa yang dirasakan. Seperti datar saja, tidak sedih, tapi tidak bahagia juga. Namun yang pasti, ia melupakan kakaknya. Hatinya tidak sakit lagi, hanya kosong, seperti biasa.
“Aku melewatkan banyak hal, ya? Tiga hari… aku benar-benar tidak sadarkan diri selama itu?” lalu melirik lagi. Jaka mengangguk yakin. “Aku benar-benar tidak ingat” Aslan mengatakannya seperti bisikan. Jaka lantas duduk, mengelusi wajah Aslan pelan–sayang.
“Tidak perlu mengingat hal-hal menyakitkan. Kau aman sekarang. Ada aku disini, semua akan baik-baik saja. Aku ada, dan akan menjadi tempatmu bersandar. Anggap saja aku kakakmu, aku juga akan melindungimu dari bajingan Zain.
Kata-kata itu bagai air yang terjun di tenggorokan kering. Rasanya seluruh dahaga terhempas. Aslan tersenyum kecil, ada bagian hatinya yang menghangat dan Jaka mencatat tiap hal kecil yang dilakukan Aslan—seluruh apa yang tertangkap matanya.
“Kau tau, aku sungguh-sunggu menyukaimu. Aku benar-benar ingin tahu apa ‘tidak bisa sakit’ dapat di jadikan serum dan aku bisa membuatnya dari DNA mu? Atau bisa menjadi alternatif morfin untuk meredakan nyeri dahsyat? Sungguh, aku penasaran. Kau adalah mentahan yang paling berharga, lebih dari Anyelir” Aslan tidak memahami kata-kata yang hanya mirip gumaman tidak jelas. Namun yang pasti, hidungnya menangkap aroma masakan lezat yang tiba-tiba begitu menggugah seleranya.
“Aku membuatkanmu makanan” Jaka melirik pada pelayan “terima kasih karena memberikannya tepat waktu, sudah tidak panas sekarang” katanya lagi. Jaka membantu Aslan duduk dan akan menyuapi pria itu dengan perhatian penuh. Tanpa cela.
Sesaat, hatinya terisi. Eksistensi Jaka entah mengapa membuatnya merasa hidup, seperti Erlan yang kembali dalam bentuk lebih tampan. Saat disuapi, Aslan sesekali mencuri pandang pada manik selegam malam. Namun tahu jika ia tidak akan menemukan mata seteduh milik kakaknya pada siapapun. Milik Jaka terlalu pekat hingga siapa saja yang berlama-lama menatapnya–seperti akan tersedot masuk dan tersesat tanpa bisa keluar. Mirip pusaran dalam palung Mariana.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Aslan ingat, ia tidak sakit. Setidaknya beberapa waktu–entah kapan terakhir ia diperiksa rutin. Ingatannya berantakan, akhir-akhir ini, memorinya seakan tumpang tindih tidak karu-karuan.
Ada malam dimana ia terbangun dan semuanya terasa aneh. Seperti ia kembali pada hari ia membunuh ayahnya.
Ada malam yang lain saat dimana ia menangisi kakaknya yang terbujur kaku. Lalu paling banyak yang ia ingat adalah Jaka menyuapinya makan, menyentuhnya lembut dan bertutur santun. Kata-katanya mengandung persuasi dengan retorika mengagumkan, seolah dunia bisa ditaklukan dan segala ketakutan akan sirna asal ia bersama Jaka.
Lalu malam ini, seluruh lampu padam.
Padam total hingga ia berasumsi bahwa ia mengalami kebutaan karena tidak ada setitik pun cahaya yang ditangkap retina. Semuanya hitam pekat dan total. Kakinya mati rasa tidak bisa di gunakan. Aslan merintih. Saat suaranya keluar, tiba-tiba ia ingat kakaknya.
Tapi..
Tanggal berapa sekarang? Hari apa? Jam berapa? Ia tidak tahu, tidak ingat. Tiap membuka mata, Aslan merasa seperti berada di dimensi yang berbeda-beda, semuanya terasa aneh–mirip mimpi saat demam.
“Jaka… gelap” suaranya keluar, namun tenggorokannya kelewat kering. Ia bahkan tidak menemukan infus tertancap di tangan, tubuhnya seperti dehidrasi. Tidak ada air, ia haus dan lapar namun kakinya lumpuh total. Tubuhnya pun lunglai tak bertenaga. Kondisinya mirip saat di anestesi.
Kegelapan itu membuatnya frustasi. Namun tidak ada siapapun, apapun. Rasanya, ia seperti harus bersiap untuk kematian yang hening, sepi, lapar dan haus. Mungkin tidak lebih buruk daripada anak-anak dalam pabrik.
Menangispun tidak ada air mata.
Tubuhnya dingin, telapak kakinya seakan membeku, juga tangannya.
Aslan memanggil-manggil nama semua orang yang diingatnya. Sisa ingatan yang acak-acakan. Ia juga memanggil Ben.
Satu jam
Dua jam
Mungkin lebih, ia kembali pingsan.
Sadar, pingsan, sadar, pingsan. Tiap sadar, ia akan terbangun dalam kondisi yang berbeda-beda. Kadang Jaka ada di sampingnya dengan semangkuk sup panas yang lezat, kadang dengan secangkir kopi nikmat. Atau ada saat ketika ia bangun, tubuhnya berada di ruang aneh—ruang mirip lab—eksperimen meski tidak seperti ruang tempat ia membentuk Erlan menjadi monster dulu—berbeda. Namun jelas itu merupakan laboratorium dengan cairan aneh dan begitu banyak jenis pisau dan perlatan medis.
Lalu bangun dalam kamar gelap dalam kondisi haus.
Begitu terus, berganti-ganti tanpa ia mengerti siapa dan kenapa. Aslan merasa kepalanya rusak, ingatannya tak lagi dapat di andalkan.
Dan siang ini ia kembali membuka mata.
Namun bukan lab, bukan kamarnya, bukan juga ruang gelap tanpa cahaya apalagi eksistensi Jaka dengan segala hidangan yang terasa sangat lezat—seperti makanan yang paling enak yang pernah ia kunyah seumur hidupnya. Melainkan di atas bangsal, dalam ruangan sangat asing dan benar-benar baru.
Ruangan itu kelewat rapi untuk disebut kamar pasien.
Dindingnya beige, tanpa noda sedikit pun. Lantainya granite, memantulkan cahaya senja yang masuk dari jendela besar di sisi kanan ruangan. Tirainya tipis, berwarna krem pucat, bergerak pelan setiap kali angin dari ventilasi tersembunyi berhembus.
Jam menunjukkan hampir setengah enam sore.
Cahaya matahari condong masuk dengan sudut miring, membelah ruangan menjadi dua: setengah terang keemasan, setengah lagi mulai tenggelam dalam bayangan lembut. Debu hampir tak terlihat, rasanya seperti ruangan ini begitu steril bahkan untuk partikel sekecil itu.
Tempat tidurnya bukan ranjang rumah sakit biasa. Meski Aslan paham jika apa yang ditangkap kepalanya benar; bangsal.
Meski lebih mirip tempat tidur hotel—lebar, dengan seprai putih bersih yang ditarik rapi tanpa kerutan. Di sampingnya ada meja kecil dari kayu terang, di atasnya hanya ada segelas air dan jam digital tanpa suara. Tidak ada benda tajam. Tidak ada kabel yang menjuntai. Semuanya seperti dikontrol.
Aslan duduk perlahan.
Pakaiannya bukan baju pasien yang longgar dan terbuka di belakang. Ia mengenakan setelan sederhana—kaos katun abu-abu muda dan celana panjang yang lembut, seperti pakaian santai mahal. Bersih. Pas di badan. Terlalu nyaman untuk tempat seperti ini.
Menginterpretasikan seseorang ingin ia merasa “baik-baik saja” Padahal Aslan tidak tahu kenapa ada di sini.
Jendela di depannya besar, dari lantai sampai hampir ke langit-langit. Kaca tebal, sedikit memantulkan bayangannya sendiri. Dari sana, ia bisa melihat halaman di bawah—area terbuka dengan rumput yang dipangkas rapi.
Beberapa orang berjalan di sana.
Pasien-pasien.
Ada yang duduk diam menatap kosong. Ada yang tertawa sendiri. Ada yang berbicara dengan perawat yang berpakaian seragam putih bersih, semua terasa asing, namun hangat. Rasanya seluruh adegan yang ia lihat sudah diatur.
Dari ketinggian lantai atas itu, suara mereka tidak terdengar. Hanya gerakan. Hanya bayangan kehidupan yang terpisah kaca.
Aslan mengedip pelan. Ruangan tempatnya nyaman, pemandangan di depan begitu hangat. Tapi entah bagian mana yang membuatnya terasa salah.
Saat ia melamun lama di depan jendela, pintu kamar terbuka dengan suara derit yang asing. Seorang perawat masuk dengan baju dan celana panjang serba putih. Rambutnya di ikat rapi ke belakang dan tangannya membawa nampan berisi makanan, juga beberapa butir obat.
Saat mata mereka bertemu, sang perawat tersenyum tulus. Senyum yang penuh hingga mata. Aslan hanya diam, pandangannya turun pada nampan, lalu kembali naik menatap wajah gadis itu.
“Makan sore, As” katanya ramah dan akrab, seolah mereka telah kenal lama dan teman dekat. Perawat itu meletakkan makanan di atas nakas, lalu berdiri dekat Aslan yang masih duduk diposisi semula.
“Pemandangan dari sini terbaik, jika disebelah sana cuma jalanan kota dan debu. Tapi malamnya lebih bagus” perawat itu menunjuk gedung di sebelah–tempat yang sama seperti dalam kamar ini “pertama kenalkan, aku Ann” perawat itu menyodorkan tangan “aku yang akan merawatmu mulai sekarang, semoga kita akur dan menjadi tim demi kesehatan jiwa dan ragamu” katanya lagi, Aslan memperhatikannya lama. Memperhatikan bagaimana gadis itu tersenyum dan bicara.
“Mau makan? Hari ini menu spesial untukmu. Seseorang datang membawakan sup hangat dan kopi. Aku sudah mengatakan bahwa kau tidak boleh minum kafein, tapi seseorang itu bilang, kopinya tanpa kafein. Jadi, aku menuangkan sedikit kopimu dalam mok, lalu meminumnya. Maaf jika tidak sopan, aku hanya memastikan. Aku bisa tau dalam kopi itu ada kafein atau tidak karena aku pengidap maag kronis. Perutku akan sakit jika konsumsi kafein dan kopi itu aman”
Lagi, Aslan memperhatikan cara bicara gadis itu. Cara bibir itu bergerak, berkata-kata, sungguh penuh semangat. Ia selalu tersenyum dengan cara yang paling tulus dan natural.
“Siapa namamu tadi?” Aslan bertanya—untuk pertama kalinya. Tapi kali ini, tenggorokannya tidak kering, tidak juga batuk. Semuanya lancar dan tubuhnya terasa lebih bugar—lebih daripada saat ia bangun di atas brankar lab atau ruang gelap maupun kamarnya. Alih-alih bertanya mengapa hidupnya seperti adegan film yang dipotong melompat-lompat, atau dimana ia sekarang, Aslan lebih memilih menjalani apa yang ada di depan mata. Semuanya terasa begitu rusak, dan ia tidak akan repot-repot bertanya untuk tau apa yang terjadi. Tidak, bahkan terserah, ia bahkan tidak peduli jika mati hari ini.
Tidak tahu. Rasanya lelah, lelah yang tidak bisa ia gambarkan. Seolah tubuhnya mirip mesin aus karena terlalu lama dipakai. Tidak sakit, tapi lunglai tak berenergi.
“Ann” ulang gadis itu ceria “aku yang akan menemanimu sampai sembuh. Aku akan ada disini, bersamamu”
“Menginap juga?”
Jeda beberapa saat. Aslan memperhatikan wajah itu dari samping, dan bertahan dalam tatapan serupa saat Ann balik menatapnya.
“Apa perlu? Mungkin aku bisa melakukannya untukmu” jawabnya dibarengi anggukan. Namun kemudian tertawa “tapi bohong” ia tertawa lagi.
“Siapa yang membayarmu?”
“Tentu saja rumah sakit”
“Selain itu”
“Wali mu. Dia bilang, aku ditugaskan untuk menamanimu kapan pun kau butuhkan”
Aslan diam. Bibirnya berkedut tanpa perintah, lantas ia bersin sekali.
“Bisa beri aku sup? Tapi aku ingin di suapi” katanya pelan. Suaranya sangat pelan. Ann langsung bersemangat dan kembali mengambil nampan.
“Aku senang kau tidak murung pendiam. Beberapa pasien benar-benar sulit di ajak berkomunikasi hingga aku harus bekerja keras. Maksudku, aku lebih suka berbicara meski tidak terarah ketimbang merayu orang yang diam saja” ocehan Ann keluar begitu saja. Sibuk tangannya menyodorkan satu sendok sup hangat yang masih mengeluarkan asap.
“Ann” Aslan menerima suapan.
“Ya?”
“Apa aku terlihat seperti orang tidak waras?”
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Tidak ada perubahan lagi. Rasanya bangsal ini adalah terakhir–mungkin. Ini juga spekulasi. Aslan tidak pingsan lagi, atau tertidur—tidak tahu, ia tidak mengerti. Yang jelas, sejak kesadarannya terakhir—berada di rumah sakit jiwa, tiap membuka mata, Aslan berada di tempat yang sama.
Sudah satu minggu.
Tempat ini terasa lebih mudah dan ‘hangat’ ketimbang rumah dan segudang pekerjaan yang tidak ada habisnya. Atau yang paling krusial adalah rasa takut dan cemasnya akan sesuatu yang benar-benar tidak ia mengerti juga.
Di tempat ini, perasaannya tidak terlalu kosong. Setidaknya, tak ada yang menganggapnya aneh. Tidak ada pandangan heran, tidak ada yang menolaknya. Ann ada di sampingnya sepanjang waktu meski gadis itu tidak benar-benar merealisasi keinginan Aslan untuk menginap.
Gadis yang banyak bicara. Satu minggunya diisi terlalu banyak mendengarkan gadis itu berceloteh—mengatakan segala hal—bercerita tanpa beban dan seolah mereka adalah teman dekat yang erat—juga telah membangun hubungan lama. Ya, Aslan memiliki Ann, satu-satunya manusia waras. Bahkan psikiater hanya datang seminggu empat kali, lantas melakukan serangkaian pemeriksaan lalu pergi tanpa benar-benar ada komunikasi intens—khas pasien dan dokter. Kata Ann, dokter sibuk dan pasiennya sangat banyak, jadi tugas perawat untuk menemani mengobrol. Padahal Aslan tidak pernah bertanya tentang perangai dokter—ia tidak peduli, sungguh.
Berdua duduk di kursi taman. Pemandangan yang tidak membosankan—setidaknya bagi Ann. Ia bercerita pada Aslan bahwa pasien rumah sakit jiwa lebih banyak membuatnya tertawa ketimbang orang rumah. Katanya lagi, orang waras belum tentu waras dan begitu sebaliknya meski Aslan tidak mengerti. Kadang, Ann mengoceh terlalu cepat, terlalu bersemangat dan menggebu-gebu. Sementara Aslan terlambat mencerna, hanya diam menyimak, sesekali tersenyum.
Tiap ia tersenyum, Ann akan kegirangan. Perawat itu yang berterima kasih karena ia mau tersenyum. Gadis aneh.
“Ann” Aslan menepuk pundak gadis itu saat Ann membelakangi karena sibuk menertawakan rekannya yang jatuh tergelincir akibat bermain sepak bola dengan pasien. Lantas sang gadis memutar tubuh, menatap Aslan sepenuhnya dengan sisa tawa—pipi terangkat. Lesung pipi dangkal dan gigi ginsul yang bersih membuat gadis itu terlihat natural cantik tanpa benar-benar menggunakan riasan yang niat.
“Ya?”
“Apa aku tidak terlihat aneh?” pertanyaan itu lagi. Ann diam sebentar. Aslan kerap mempertanyakan pertanyaan yang hanya seputar itu-itu saja. Pria itu tidak bertanya siapa yang rajin mengantarkan makanan enak, siapa yang memberinya kopi atau alat cukur dan piyama tidur. Ann tau, namun karena Aslan tidak bertanya, ia hanya mengatakan ‘seseorang’
Dan yang paling sering diajukan adalah seputar itu itu saja.
Apa aku aneh?
Apa aku terlihat tidak waras?
Apa aku jelek?
Apa aku terlihat seperti pecundang?
Berkutat disana.
Sementara Ann telah terlatih untuk memberikan validasi, memberi dukungan mental serta merangkul para pasien.
“Kau kerap memikirkan soal itu, ya? Seperti kau sedang ragu pada dirimu sendiri. Seandainya kau mau menceritakan apa yang membuatmu merasa seperti itu..” Ann lurus menatap mata Aslan “menurutku, kau bukan aneh. Kau berusaha memahami dirimu sendiri dan itu wajar. Banyak orang yang merasakan hal mirip-mirip. Hanya beberapa orang tidak di ungkapkan. Intinya merasa aneh itu wajar.”
Aslan mendengarkan.
“Aku juga kadang merasa aneh. Merasa ada yang tidak bagus dan tidak sempurna adalah bagian dari manusia. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Pandangan orang tidak akan menusukmu hingga mati, percayalah”
Matanya tanpa berkedip, telinganya menyimak dengan baik. Aslan kemudian menunduk sambil mengangguk meski sangat kecil.
“Dan saat kau bertanya apa kau terlihat waras. Kau mungkin bingung atau lelah dengan pikiranmu sendiri. Tapi ketimbang siapapun, kau tetap seseorang yang bisa di ajak bicara, perasa. Itu yang penting. Jangan terlalu keras. Aku disini melihatmu sebagai orang yang sedang berjuang dan butuh tempat aman” Ann mengusap punggung Aslan lembut.
“Yang terakhir,” matanya berbinar berusaha beradu dengan milik si pria “kau tampan. Rambut pirangmu benar-benar pas, kulitmu sangat cantik dan kau terlihat seperti manhwa yang keluar dari layar. Oh.. jika sembuh nanti, kau bisa mendaftar jadi selebriti. Aku akan menjadi orang pertama yang menjadi penggemarmu. Aku akan mendirikan fan base yang mendunia”
Aslan makin tertunduk, ia tersenyum malu-malu.
“Sekarang, maukah kau bermain denganku? Kita bisa sedikit kardio dengan melempar koin ke rumput, lalu siapa yang menemukannya lebih dulu, dia pemenangnya. Jika kau menang, aku akan menuruti keinginanmu, jika aku yang menang, kau harus menuruti keinginanku. Syaratnya adalah tidak melanggar pedoman rumah sakit serta norma-norma hukum. Hanya untuk bersenang-senang, bagaimana?”
Aslan mendongak cepat.
“Setuju”
Koin di lempar jauh sembarangan. Ann dan Aslan berlari cepat-cepat campur tawa. Keduanya bertelanjang kaki—menginjak rumput sambil berjongkok. Mata mereka sibuk mencari koin kecil yang berlabuh di sekitar itu.
“Aku yakin tadi melihatnya jatuh ke sini” bisik Ann, nyaris tak terdengar, namun Aslan mendengar. Pria itu tidak banyak bicara, namun mata kecilnya memindai detail dan teliti. Di banding Ann yang benar-benar berkongkok hampir duduk, Aslan masih agak berdiri.
Ke sana ke mari, kakinya ikut menyakar helai rumput yang rapi.
“Apa aku melemparnya terlalu jauh?” Aslan menggaruk tengkuk. Koin tidak terlihat.
“Tidak, aku yakin kau melemparnya di sini. Ayo cari” jawab Ann, tak menatap Aslan.
Dicari lagi, ke sana ke mari. Aslan mondar mandir. Lantas ia mengucek mata. Akhir-akhir ini matanya sering kabur. Saat fase berubah-ubah ketika ia sering pingsan, matanya akan menyesuaikan di tempat terlalu terang lalu pindah ke tempat paling gelap tanpa cahaya. Atau itu hanya perasaannya saja? Tepat saat kakinya menginjak benda yang terasa lebih dingin di telapak kakinya, Aslan tersenyum penuh kemenangan sementara Ann masih memunggungi—mencari koin seperti mencari lubang semut.
“Aku mendapatkannya!” pekiknya senang. Lontaran itu membuat Ann berbalik. Ann tersenyum hingga naik ke mata, deret giginya terlihat rapi, senyum hangat itu membuat Aslaan tiba-tiba datang dan membuatnya berdiri sebelum memeluk si gadis seperti anak kecil.
“Aku mendapatkannya” ulang Aslan senang.
“Ya, kau mendapatkannya, aku tau” tangannya mengelus punggung pria itu sayang “lalu, apa yang kau inginkan, As? Aku akan mengabulkannya. Asal tidak mengeluarkan uang di atas 500 ribu karena aku sedang berhemat. Tidak juga meminta keluar dari rumah sakit meski hanya kabur sebentar”
“Menginap, tidur bersamaku selama satu minggu” jawab Aslan kemudian. Ia melepaskan dekapan, lalu menatap wajah Ann serius. Mata minimalisnya berkedip-kedip. Ann menghela napas.
“Ah.. baiklah-baiklah.. Itu tidak sulit, sama sekali” ia menepuk lengan si pria akrab “aku akan menginap mulai malam ini. Apa kau suka membaca buku? Bermain catur? Atau makan makanan enak di bawah 500 ribu?”
“Aku ingin dipeluk sepanjang malam”
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁

Tidak ada permulaan yang bertele-tele. Malam itu, saat Ann mengantarkan obat, Aslan menariknya hingga si gadis jatuh terjerembab di ranjang. Ia kontan memeluknya tanpa permisi, tanpa meminta izin dan mendusal khas perangainya yang menempel.
“Ini sudah malam, Ann. Tepati janjimu” hanya bisikan itu, Ann mengangguk.
“Aku tidak akan ingkar janji, tau?”
“Aku tidak tahu”
Ann mengusap kepala Aslan berulang-ulang “mau kuceritakan sebuah film yang tidak populer yang ku tonton? Atau buku roman picisan yang kubaca saat aku SMA? Itu sangat membekas. Dan, As, berapa usiamu?”
“17”
“17?” Ann mendelik kaget. Aslan ikut mendongak.
“Kenapa?”
“Kau 17 tahun?”
“Ya, kenapa?”
“Tidak, kupikir, kau… lebih dewasa” mereka bertatapan dalam posisi itu “bukan, aku bukan sedang mengatakan bahwa kau terlihat tua. Hanya saja pembawaanmu begitu dewasa dan tenang, kupikir kau berusia setidaknya dua puluh”
Ada jeda. Hening disana tak terlalu mengganggu namun cukup untuk membuat Ann merasa tidak enak.
“Kalau begitu, anggap saja aku dua puluhan. Aku dua puluh lima. Kau?”
“Aku 23, baru saja lulus keperawatan dan bekerja disini sebagai magang”
“Apa aku harus memanggilmu, Kak?” tanya Aslan, itu membuat Ann merasa aneh. Namun tak menemukan alasan untuk menolak.
“Kak terdengar bagus, senyamanmu saja”
Aslan mendusal pada ketiak “aku suka sekali gadis dewasa” katanya, bergumam, Ann tidak terlalu mendengarkan.
“Sekarang tidurlah, aku disini”
“Bisakah ceritakan apapun sambil memelukku seperti ini? Apapun, film tidak populer yang kau tonton, buku roman picisan yang kau baca saat SMA dan sangat membekas atau seperti temanmu yang gemar memarahi kucing kampung saat kucing itu datang mengajak kucing cantiknya berkencan. Itu lucu”
“Bukankah itu sudah kuulang lima kali? Mereka tidak direstui dan sekarang, kucing kampung milik entah siapa menjadi preman di wilayah itu. Wajahnya penuh baret, tubuhnya banyak bekas luka dan ia adalah jagoan. Wilayahnya yang ditandai sangat banyak dan dia akan berkelahi dengan jantan manapun untuk mempertahankan wilayahnya. Dia bisa melakukan banyak hal, kuat, garang, tapi tetap gagal mendapatkan cinta kucing dari kemayu jenis persia milik temanku. Sekarang dia menjadi penguasa kompleks”
Aslan tertawa pelan “padahal, hanya perlu datang diam-diam lewat jendela, lalu mengawini si betina”
“Tidak bisa” Ann menggeleng “temanku sangat ketat”
“Aku ingin mencakar wajahnya. Tidak bisakah biarkan mereka bersama?”
“Tidak selevel”
“Menyedihkan”
Keduanya tertawa.
“As”
“Ya?”
“Aku tidak tahu kau mengidap penyakit mental jenis apa. Bahkan psikiater hanya mengatakan tentang ingatan yang berantakan, namun tidak menyebutkan nama khusus. Kau tidak pernah kumat, maksudku, tidak ada apapun. Kau tidak kesulitan tidur, kau tidak mengamuk, tidak juga terlalu murung. Kau hanya melamun seperti orang biasa yang memiliki masalah. Normal dan wajar. Lalu, apa yang terjadi? Apa yang kau rasakan?”
Ada jeda lagi. Aslan tidak tahu apakah pertanyaan itu memiliki jawaban karena ia pun tidak tahu. Tidak mengerti dan hatinya merasa sedikit lebih hangat ketika ia belajar untuk tidak mencari tahu apapun. Aslan membiarkan semua hal terjadi tanpa berencana melawan dan penasaran. Ia tak memiliki energi. Jika eksistensinya berada di rumah sakit jiwa, artinya memang ia sakit jiwa. Jika berada dalam lab, artinya ada sesuatu yang mengharuskannya disana. Begitu seterusnya. Ia mulai menyerah saat semuanya hilang, saat pengkhianatan tanpa alasan yang dimengerti. Bahkan jika tiba-tiba ia dibunuh. Ia tidak akan bertanya kenapa. Hanya mati saja.
Barangkali obat-obatan yang dikonsumsi. Atau saat psikiater memasuki alam bawah sadar lalu berkomunikasi dengan dirinya yang tidak ia ketahui. Namun saat ini, Aslan serius, hatinya tidak sekosong sebelumnya, tidak merasa cemas, tidak juga takut dibunuh. Hanya lapang dan datar. Mati malam ini, esok atau lusa tidak masalah. Ia lebih tenang dan tentu saja lebih pendiam. Kecuali pada Ann yang terus mengajaknya bicara.
“Ann, aku tidak tahu” katanya praktis, ia mendongak dan mereka bertatapan dalam posisi itu “tapi, Ann. Aku menyukaimu, aku sungguh menyukaimu”
“Aku juga menyukaimu, lekas sehat dan jadilah selebriti jika kau berkenan”
“Aku ingin menjadi temanmu, bukan selebriti”
“Jika kau menjadi selebriti, aku akan menjadi teman selebriti, kau tahu? Itu pasti keren”
“Apa aku tidak keren meski hanya begini?”
“Kau selalu keren”
“Aku mulai tak yakin” Aslan tergelak, ia mengecup pipi Ann sekilas. Gadis itu mematung dengan mata melotot. Mulutnya menganga.
“Kau tidak boleh seperti itu, As. Aku kakakmu”
“Kakakku sudah mati, kau bukan kakakku, tapi temanku. Atau kekasih? Maukah kau jadi kekasihku, Ann?”
Hening. Pertanyaan itu tak mendapat jawaban. Atau belum, Aslan menunggu namun Ann tak kunjung mengatakan apa-apa.
“Ann, kau masih disana? Aku mengerti jika beberapa momen menjadikan jiwa berpisah dengan raga. Aku memikirkan itu saat kau diam”
“As, sebaiknya kau tidur”
Setelah itu, Ann tidak mengatakan apa-apa lagi. Gadis itu pura-pura terpejam dan Aslan ikut diam.
Lama, benar-benar lama hingga entah berapa lama. Aslan mulai bernapas stabil, tubuhnya tidak bergerak dan matanya terpejam rapat. Saat Ann membuka mata, ia melihat jam menunjuk pukul sebelas malam. Gadis itu mencoba melepaskan diri dari dekapan pria muda yang mengoceh—membuat ngeri mengajaknya berkencan. Bukan hubungan jenis itu meski Ann tidak keberatan jika Aslan memeluknya erat atau terus mendusal. Berurusan dengan pengidap penyakit jiwa dalam peran yang selalu ada memang rentan.
Ia melepaskan tubuhnya dari dekap Aslan. Berjalan perlahan keluar tanpa suara–mengendap-endap.
Saat pintu kembali tertutup dan ia keluar, Aslan membuka mata.
Suara bisik-bisik diluar terdengar lebih jelas dari apapun. Aslan diam menyimak, memecah fokusnya antara siapa yang sedang di ajak bicara dan apa yang dikatakan Ann pada orang itu.
“Aku tidak bisa jika dia meminta jadi kekasihku, kau tau? Bahkan tidur sambil memeluk pasien rumah sakit jiwa saja berisiko berat. Bagaimana jika dia membunuhku? Aku akan mati sementara hukum tidak berjalan. Berapapun uang yang kau berikan untukku, tidak akan menggantikan apapun. Aku berhenti” kata Ann, jelas berbisik keberatan.
“Dua hari lagi, oke? Tunggu sampai dia benar-benar mencintaimu. Aku akan memberimu uang banyak. Sungguh, berapapun yang kau inginkan” kata pria itu. Aslan mendengar suaranya, ia familiar dengan itu, namun tetap gagal mengingat siapa yang memiliki suara berat dan tenang.
“Berapapun?”
“Ya berapapun, sekarang, masuklah..”
Di detik selanjutnya, Aslan kembali menutup mata saat pintu kembali terbuka. Pelan-pelan gadis itu kembali naik ke atas ranjang, memberi jarak dengan Aslan, lalu melipat tangan sambil menatap langit-langit ruang. Sebentar, ia melirik ke samping tempat pemuda pirang menutup matanya rapat dan tenang.
“Seandainya aku bisa membantumu…” bisik Ann pelan, ia lantas membelai pipi Aslan lembut “anak pintar, tidur lah”
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Aku tidak tahu, sungguh…
Aku tidak tahu apa yang terjadi, siapa yang melakukan ini dan alasannya.
Aku hanya ingin hidup tanpa kecemasan, tanpa rasa takut, tanpa pandangan aneh, aku ingin hidup normal tanpa perasaan kosong dan takut ditinggalkan serta dapat merasakan sakit seperti orang umumnya.
Bagaimana rasanya sakit?
Yang kutahu hanya luka saat ditinggalkan, saat pengkhianatan serta saat terus dibandingkan dan dibenci semua orang.
Bahkan saat ini, satu-satunya gadis yang kuanggap mengerti, berada di pihakku dan menemaniku sepanjang waktu, tidak benar-benar seperti apa yang kuharapkan. Meski aku tahu profesionalime, tapi aku tidak bisa menanah rasaku, aku hanya menyukainya, apakah itu dosa? Hidupku sudah menyedihkan, jadi tidak apa-apa menambah satu jenis menyedihkan yang lain.
Aku bertanya lagi, bagaimana rasanya sakit selain sakit hati?
Aslan mencium Ann yang tertidur. Mendusal di ketiaknya lalu meraba apapun yang bisa dijangkau.
Waktu menunjuk angka dua pagi, malam begitu hening, namun hangat. Tepat saat Ann membuka mata dan mendapati tubuhnya di dekap erat. Tangan bocah itu berada tepat di atas gundukan payudaranya.
“A…s….” tidak, suaranya tidak keluar. Tubuhnya lumpuh tanpa bisa digerakkan. Namun ia sadar, Ann sadar. Matanya jernih melihat seluruh ruang. Rungunya tajam dan indra penciuman sama bekerja normal. Namun tubuhnya benar-benar memaku. Jika dikatakan mati rasa, tidak tepat. Karena Ann merasakan semuanya, hanya lumpuh yang tak dimengerti. Bergerak pun tidak bisa. Ia tak tahu apa yang dilakukan Aslan pada tubuhnya.
Aslan mendongak saat mendapati gadis itu membuka mulut meski tidak ada apapun yang keluar dari sana.
“Ann, kau sudah bangun? Aku sulit tidur karena aku tidak meminum obatku malam ini..” jelas pria itu tanpa diminta, matanya memindai milik Ann dan mereka bertatapan lama. Aslan merangkak naik ke tubuh si gadis.
“Ann.. kau tidak memahamiku, ya? Kupikir kau yang paling mengerti” suara napasnya berat–menyapu wajah Ann. gadis itu memejamkan mata. Dalam hati merapalkan doa-doa, memohon agar Aslan tidak akan bertindak anarkis atau asusila.
“Aku tidak ingin tahu dengan siapa kau berkongsi, tidak juga ingin tahu alasan aku ada disini dan siapa yang memberiku makanan dan kopi serta tetek bengek lain. Aku hanya ingin hidup, asal ada kau, rasanya semua baik-baik saja. Tapi lagi-lagi aku terlalu melekat, ya? Kau pasti risi”
Kepalanya turun mencium leher. Sisa parfum yang masih menempel sedikit di leher si gadis, cukup membuat pria itu menghirupnya rakus seperti orang gila.
“Ann.. semua yang ada padamu membuatku merasa aman dan nyaman.. Bagaimana rusak kepalaku membuat seluruh ingatanku tak bekerja normal, namun aku masih mengingat rasanya kosong, takut, cemas dan tidak berharga? Kenapa seseorang atau sialan siapapun tidak menghapusnya dari kepalaku? Dan saat aku mulai nyaman denganmu, menerima diriku, lagi-lagi aku dipatahkan ekspektasi. Hidup seberengsek ini, kenapa kau tidak lekas mati?” tangannya menggenggam dada kencang yang terasa begitu pas di genggaman.
“Aku ingat kata seseorang meski tidak ingat siapa. Seseorang yang mengatakan bahwa aku menuruni darah kriminal. Aku meromantisasi kejahatan. Aku tidak begitu, kau tau? Aku tidak begitu, aku hanya takut, aku cemas dan khawatir. Aku memukul lebih dulu sebelum di pukul, aku harus naik ke tempat lebih tinggi agar aman. Aku harus bertindak lebih dulu sebelum orang lain. Aku melakukan segalanya untuk mencapai tenang. Tapi yang kurasakan justru makin kontras. Dan di tempat ini, aku menemukan setitik itu meski kini semua pecah. Aku membenci segala hal yang hanya ada di kepalaku. Seperti menginterpretasikan tingkahmu padaku. Aku membenci hal-hal menyedihkan yang terbentuk di kepalaku”
Pria itu menangis.
Air matanya menetes di dagu Ann.
“Aku benci sekali menjadi lemah, aku benci menjadi jahat dan kaya namun tetap tidak bahagia. Aku benci semua hal yang kulakukan dan aku benci karena aku ada di bumi ini. Aku selalu merasa menjadi korban meski tau jika aku adalah monsternya. Aku sibuk menyalahkan ini dan itu, padahal aku memiliki pilihan untuk tidak seperti itu. Aku tidak meminta pembelaan. Aku hanya ingin uluran tangan yang hangat dan mendekap. Namun begitu sulit, karena jika aku mencintai seseorang, aku ingin dia abadi, aku tidak ingin dia mati. Aku mengerikan dan aku tidak tahu caranya berhenti” suara isaknya besar, pria itu menyeka ingusnya dengan lengan baju.
“Aku juga sama penasarannya denganmu, Ann. Aku juga ingin tahu nama penyakit ini dan berharap menemukan penawarnya. Aku ingin hidup normal lalu membangun hubungan yang normal juga. Aku tersesat dan kehilangan arah. Itu sebabnya aku tak bertanya-tanya apa yang terjadi padaku beberapa bulan terakhir. Aku tidak peduli. Dan sekarang aku lelah. Aku berada dalam batasku, aku ingin mati”
Lalu tubuh yang awalnya merangkak di atas Ann, pelan-pelan mengurai. Aslan bangkit dan lagi-lagi menyeka matanya kasar. Ia sempat berjongkok sebentar—tangannya mengambil sesuatu dari kolong ranjang.
Linggis.
Entah sejak kapan ada disana. Entah dari mana Aslan mendapatkannya. Pengawasan dalam rumah sakit begitu ketat dan pemeriksaan sangat akurat. Tidak mengerti mengapa benda itu ada disana.
Awalnya, Ann berpikir jika Aslan akan membunuhnya.
Tapi tidak,
Pria itu memecahkan jendela besar sekuat tenaga.
Tak langsung pecah. Dari suaranya, Ann menghitung kurang lebih lima belas kali Aslan menghantamkan besi itu sebelum akhirnya kaca menyerah dan pecah.
Setelah itu tidak ada suara lagi.
Hening,
Semuanya hening. Ingin menengok pun tak sanggup.
Tidak ada suara Aslan lagi, hening yang itu menyiksanya.
Lima menit
Sepuluh menit
Tiga puluh menit.
Ann menyerah dan ia menangis.
Aslan bunuh diri.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Malam itu tidak pernah kembali sama.
Suara benturan yang memecah udara membuat beberapa orang menoleh bersamaan. Dalam hitungan detik, langkah-langkah terhenti, percakapan terputus, dan perhatian tertarik ke satu titik di bawah bangunan yang menjulang tinggi itu.
Di sana, Aslan terbaring diam.
Tidak ada gerakan. Tidak ada respons. Keheningan yang menyelimutinya berbeda dari sekadar pingsan atau kelelahan—ini adalah keheningan yang final, yang tak memberi ruang bagi harapan atau kemungkinan kedua.
Kecuali darah segar yang merembes keluar dari celan-celah antara tubuh dan tanah. Mengalir perlahan seperti akar yang merayap.
Petugas yang berjaga mulai mendekat, ragu-ragu, seakan ada garis tak kasatmata yang menahan mereka untuk tidak terlalu dekat. Wajah yang tadinya biasa saja kini berubah tegang, pucat, dan dipenuhi tanya yang tak akan pernah benar-benar mendapat jawaban. Kepala petugas mendongak–melihat kaca pecah, lalu turun pada tubuh yang tak lagi bernyawa.
Lalu memanggil bantuan. Beberapa yang pelan-pelan turut mengerubungi hanya berdiri, terpaku, berusaha mencerna kenyataan yang terasa terlalu tiba-tiba. Malam yang beberapa saat lalu dipenuhi rutinitas sederhana kini berubah menjadi saksi bisu dari sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.
Lampu-lampu tetap menyala seperti biasa. Angin tetap berhembus pelan di antara bangunan. Dunia tidak berhenti. Dan kejadian ini tetap ada meski pengawasan ketat dan sudah sangat diminimalisir. Namun tak ada yang mustahil bagi seluruh pasien di dalam. Begitu juga satu mayat yang tergeletak tengkurap malam ini.
Namun di titik itu, di atas permukaan keras yang dingin, satu kehidupan telah benar-benar berakhir—tanpa suara, tanpa perpisahan, hanya menyisakan ruang kosong yang perlahan menyebar ke dalam diri setiap orang yang melihatnya.
Bagaimana rasanya sakit?
Bahkan saat kematian datang, tidak ada sakit. Yang ada hanya tubuh yang rusak dan hancur, yang tak mampu lagi bekerja sebagai mana mestinya.
Aslan menyerah malam itu—setelah mengumpulkan segenap keberanian dari sisa kepecundangannya. Ia menyusul ibunya, kakaknya dan bajingan ayahnya. Kini semuanya tidak lagi menyedihkan. Semua telah berakhir dan damai.
Tidak ada yang menangisi, bahkan, kematiannya tak membuat siapapun kehilangan kecuali kegembiraan bagi semua orang yang membencinya.
Tidak satu pun berhenti dari aktivitas hanya untuk menengok kepergiannya. Katanya, penjahat memang pantas untuk itu.
Namun satu orang turun setelah efek obat hilang.
Ann turun—menangis meraung-raung di hadapan mayat yang perlahan di tutup koran. Ia meminta maaf dengan suara serak putus asa. Seandainya tidak begini dan begitu—sambil menyalahkan diri sendiri.
Pria itu putus asa. Ia tahu Aslan sampai batasnya. Pria pendiam yang langsung ceria saat diberi perhatian dan cinta meski secuil. Pria kecil yang hanya ingin memiliki teman dan merasakan hangatnya dunia. Ann tau meski terlambat. Meski entah apa yang membuatnya sesak sekarang. Air matanya kelewat banyak.
Seandainya ia mengiyakan ajakan bocah itu untuk jadi kekasihnya, apa akan ada yang berubah? Apa bisa ia melihat pria itu tertunduk sambil menahan senyum lagi esok hari?
Dari belakang, dan sangat tiba-tiba, Ann tidak yakin, namun seingatnya sebelum ia kehilangan kesadaran, sesuatu menghantam kepala belakangnya kuat, sangat kuat hingga ia pingsan.
Setelah itu semuanya gelap. Ann pingsan dan suara kerumunan makin besar.
“Dia membunuh keponakanku.. Oh… tidak..” itu Jaka. Pria itu menangis meraung-raung di depan jenazah Aslan setelah memukul perawat “aku akan menuntut perawat ini, dia penyebab kematian keponakanku”
Tidak tahu. Malam itu hening tapi tidak hening.
Suara gumaman orang-orang, tangis palsu Jaka dan tubuh Ann yang tergeletak dekat Aslan..
Hening, gelap.
Namun semuanya damai.