LITTLE GIRL

Acara meriah itu ditutup oleh kepergian sedan mini mewah dengan hiasan bunga tepat di atas kap mesin. Mawar semerah darah dirangkai membentuk setengah lingkaran, diikat dengan pita satin berwarna champagne yang melambai-lambai tertiup angin.

Rencana mereka tidak berubah; Labuan Bajo dan akan melakukan bulan madu di atas kapal Arunika Phinsi.

Perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, tapi waktu terasa berjalan lambat, seakan memberi ruang untuk mencerna bahwa mereka kini adalah suami istri. Meski tidak banyak yang berubah selain hati yang berbunga-bunga. Siapa saja akan menangkap gurat itu, kebahagiaan yang tertuang dalam senyum khas. Keduanya banyak menampakkan gigi hingga rasanya kering.

Setibanya di bandara, mereka langsung diarahkan ke jalur prioritas. Tas kecil, koper ringan, dan mata yang saling memandang dengan antusias.

Dua setengah jam di udara, lalu pesawat mendarat mulus di Labuan Bajo. Angin laut menyapa begitu mereka keluar dari terminal kecil itu—hangat, asin, dan membebaskan. Seorang kru kapal sudah menunggu dengan papan bertuliskan nama mereka. Tanpa banyak bicara, mereka dibawa ke dermaga kecil yang tenang.

Di sana, kapal Arunika Phinisi menunggu. Tubuh kayunya kokoh dan anggun, seperti istana terapung yang disiapkan khusus untuk mereka. Layar putihnya masih terlipat, namun terasa hidup—siap mengembang dan membawa mereka jauh dari segalanya.

Begitu kaki menjejak dek, angin laut menyapu wajah. Di buritan kapal, meja makan kecil sudah ditata, dua kursi rotan saling berhadapan, diterangi lampu gantung dari anyaman bambu.

Jangkar diangkat. Layar dibentangkan. Dan perlahan, kapal mulai bergerak, membelah laut tenang menuju cakrawala. Hari mulai meremang. Laut memantulkan warna oranye langit. Mereka duduk berdampingan di geladak, sambil mengulum senyum dan menyadari, jika dunia benar-benar terasa milik berdua. 

Tapi, bukan itu bagian pentingnya sekarang. Bukan bulan madu mereka yang manis, bukan cinta yang berhamburan terinterpretasi dari tiap lengkung senyum dan gestur. Melainkan hawa pening yang pelan-pelan merangsek seiring kapal yang mulai menjauh dari dermaga.

Randi tidak yakin. Tapi tubuhnya seperti diguncang perlahan namun merata dari ujung kaki hingga kepala. Perutnya seakan dikocok dalam ritme rendah lalu ombang-ambing — mendayu mengantar kontraksi perut yang merayap makin parah. Pria itu mual.

Barang-barang dibereskan oleh asisten, menyisakan dua sejoli yang duduk di dek kapal dengan jamuan romantis di antara meja kayu sederhana dan angin besar serta pemandangan matahari terbenam yang di tunggu-tunggu. Medie banyak tersenyum, wanita itu mengoceh banyak hal entah membicarakan apa, Randi tak terlalu menyimak ketika rasa perutnya benar-benar tidak enak.

“Hoeekk” ujung dari kontraksi tidak nyaman bercampur pening, pria itu berlari ke dalam kapal, bersusah payah mencari kamar mandi. Isi perutnya benar-benar akan tumpah dan tidak tertahankan. Medie yang melihat—langsung ikut berjalan cepat membuntuti suaminya.

Tidak ada yang keluar.

Hanya kepalanya pening khas orang mabuk karena memang nyata mabuk laut. Sedikit-sedikit kapal bergoyang–seirama dengan perutnya yang kembali mual dan pening, Randi nyaris teler di mulut kloset dengan wajah pucat pasi.

“Yang? Sakit? Astaga” Medie ikut panik. Tubuhnya lalu menghilang di balik pintu—mencari dokter sementara yang ditinggalkan benar-benar menyedihkan. Duduk salah, berdiri salah, terbaring apalagi. Ingin menangis saja rasanya.

Bukan dokter yang memindahkan tubuh berotot dengan bobot hampir 70 kg. Melainkan para koki, pelayan dan pengawal yang membawanya ke ranjang utama–kamar pengantin mereka yang terletak di tengah dalam kapal alias bagian yang paling stabil.

Randi masih memejamkan mata. Tubuhnya dingin sementara wajah pucat tidak berdaya membuat Medie khawatir.

“Kamu kenapa nggak bilang mabuk laut, astaga” Medie duduk mengusap-usap kepala suaminya. Sesekali menciumi kening yang berkeringat. Dokter kembali datang membawa air hangat dan obat.

“Bisa bangun sebentar, pak. Menelan dimenhidrinat bisa mengurangi mabuk laut secara signifikan meski efek setelah minum akan mengantuk, tapi setelah bangun, anda akan lebih baik”

Suara dokter berhasil membuat pria yang menutup mata tak berdaya itu pelan-pelan bangkit. Rasanya seperti semua hal berputar—bergoyang aneh. 

Medie yang memegang obat dan air, lalu di sodorkan–di telan hati-hati.

Dokter membuka jendela lebar yang memperlihatkan hamparan lautan luas berwarna biru tua. Ombak menggulung–merayap menghantam awak kapal

“Coba pelan-pelan pandang ke garis cakrawala. Pandang lurus dan amati. Ini bisa bantu otak menyesuaikan antara sinyal dari mata dan telinga bagian dalam” kata dokter meyakinkan. Randi lalu menatap garis batas antara langit dan bumi—bagian yang paling jauh dimana langit ‘bertemu’ dengan laut.

Pria itu melamun, namun tidak mual meski obat belum bekerja. Dokter juga menyodorkan teh tawar hangat dan meminta Medie memberikannya.

Hanya melamun dengan rambut berantakan, wajah pucat serta keringat dingin tidak nyaman. Terjadi begitu mendadak dalam rentang kelewat singkat. Pria itu lalu menggeleng kuat berharap mabuknya dapat berkurang atau obat yang ditelan cepat bekerja.

“Medie… kepala aku sakit” keluhnya lirih, dua tangan mengusap wajah sembari menunduk, mencari sisa-sisa normal dan berharap rasa seperti itu lekas menjauh dan ia bisa memeluk istrinya sayang. Ini menjengkelkan.

“Aku ngerti..” Medie mendekat, tubuh kecilnya merengkuh–mengusap kepala seperti menenangkan anak kecil. “Seharusnya nggak kesini, tapi terlanjur, kan? Apa mau mendarat di salah satu pulau yang ada penginapannya?” tawar Medie jelas. Pria itu kontan menggeleng.

“Coba tanya dokter, butuh berapa lama aku adaptasi? Masa mau begini terus, nggak mungkin kan?” lalu melepas rengkuhan istrinya dan merebah. Satu bantal mengalasi kepala dan dua yang lain di peluk, pria itu menguap lalu memejamkan mata “aku merem dulu ya, sayang. Nanti aku cium kalau udah mendingan”

Medie tidak menjawab, hanya mengelusi kepala dari belakang sembari menatap hamparan laut luas dari kaca besar. Anginnya seakan menghantam sampai ke dalam meski tidak. Bau asin tertanggal di langit-langit hidung membawa rasa nyaman yang dibalut cinta besar.

Di lirik sekali lagi, pria besar berwajah tampan yang menggulung diri nyaman. Kelopaknya bergerak-gerak resah tanda ia masih terjaga dan berusaha hilang kesadaran. 

Medie menatapnya bergantian. 

Pola sang suami yang mencari kenyamanan dan langit yang pelan-pelan menggelap diluar–mengabaikan keinginannya untuk melihat matahari tenggelam. Bukan, mereka bahkan belum makan malam, wanita itu hanya akan menunggu suaminya sambil ikut merebah–memeluk seperti anak kucing yang mencari kehangatan, di punggung suaminya.

Senja membuntuti tubuh lelah yang kembali diisi daya. Istirahat setelah hari panjang dan melelahkan, setelah rentetan acara meski belum makan malam. Kini, keduanya benar-benar terlelap ditemani hamparan laut yang kian pekat seiring tenggelamnya sang surya. 

Malam pengantin yang romantis. Medie merasa ini adalah malam impiannya, malam impian para gadis perawan setelah menikah. Tidak ada kecanggungan, tidak ada ragu. Dan semua hal tidak mesti berjalan sesuai harapan. Beberapa hal yang terjadi di luar rencana, buktinya mampu menciptakan perjalanan yang tidak monoton. LANJUTKAN MEMBACA

Write a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *