Ini sesuai perjanjian mereka dalam grup chat untuk mengantarkan Ilham pergi menemui seorang gadis yang baru dua hari dikenal lewat aplikasi roblox.
Mengaku bernama Melati. Usianya enam belas tahun dan duduk di kelas sepuluh Madrasah Aliyah, sama dengannya. Hanya bedanya, Melati bersekolah di Madrasah–menggunakan jilbab dan baju yang serba besar-besar, sementara Ilham pemuda baru gede yang gemar sekali merokok dan miras meski sekolahnya terbilang terkenal akan pentolan anak-anak pintar, serta biaya yang jauh lebih mahal.
Emily dan Julian sudah duduk manis di rumah Roni. Ilham mengatakan dirinya sedang dalam perjalanan menuju rumah Roni dan akan pergi bersama setelah semua siap. Sementara Roni sendiri, lelaki itu baru mandi lepas pulang mencari rumput untuk pakan sapi. Rambutnya yang pirang—kemerahan terlihat meneteskan air dari ujung-ujungnya, melangkah bergabung ke ruang tamu sambil memakai kemeja flanel kotak-kotak yang dipadukan dengan celana skinny jeans super ketat membungkus paha sampai betis. Emily mendengus sejak tadi.
“Jangan pakai skinny jeans. Jangan pakai kemeja flanel. Nggak ada kaos oblong aja, tah? Atau pake jaket lepis biasa” gadis itu berkomentar Matanya memindai dari ujung kepala hingga kaki.
“Pake ini aja lah. Ngapain keren-keren. Gak punya pacar juga” sisir ada di balik gorden—dipalang jendela, Roni menyisir rambutnya asal ke belakang. “Gua putusin Lela karena kedewasaan gua. Dia itu childish, demi persahabatan kita” ada beban pada tiap ungkapan. Julian nyaris tak peduli. Lelaki itu sibuk memainkan rambut Emily yang wangi sampo pantene.
“Gua terbebani kalau lu bicara gitu” Emily menyingkirkan tangan Julian.
“Gua nangis pas nyari ramban”
“Disini ramban di mana sih?” Emily berusaha mengalihkan. Berbarengan dengan kedatangan Ibu Roni yang membawa sepiring bolu hijau yang terlihat biasa saja. Tapi aromanya memikat.
“Emily cantik, makan bolu nih, Ibu bikin bolu semalem, bolu pandan” suaranya lemah lembut. Begitu ramah. Dari semua keluarga teman-temannya ini, Emily akan memberi rating bintang lima untuk keluarga Roni. sisanya bintang satu untuk Julian, dan bintang tiga untuk Ilham.
“Mah, tape mana tape?” Julian memiringkan kepala “mau mabok tape sampe teler” ia nyengir. Ibu Roni mendengus.
“Mabok terus, si Roni Mamah jenggut kalau pulang sempoyongan”
“Gua terooooossss” moncong Roni maju.
“Mana si Lela? Kecil-kecil gaya pacar-pacaran. Udahnya telponan sambil nangis semaleman sama si Lela. Bilang segala gak cocok karena si Lela gak bisa baca jam analog, gak bisa bersikap dewasa, gagal bedain cempedak sama nangka. Segala apa di omong. Jelek juga bocahnya, giginya segede-gede kebo Mamah liat di foto mah. Mending sama Emily” Ibu Roni tertawa memegangi perut. Jilbabnya segi empat yang awalnya disampirkan ke belakang, tampak turun menutupi dada sampai perut.
“Kok lu bisa si cerita apa-apa sama ortu, asik ih” Emily memotong bolu.
“Mamah juga tau Julian suka sama Emily” sahut Ibu Roni. Kontan saja membuat Julian tersedak ludahnya sendiri. Sementara Emily pura-pura tidak mendengar, sibuk mencari posisi paling pas untuk membuat celah pada bolu agar presisi. “Roni sama Ilham yang bilang. Kalau Emily nya gak mau, mending sama Roni aja. Mamah gak punya anak perempuan”
“Masih kecil buset. Payah nih Yuni Shara” Roni bersingut. Julian membuka mulut baru saja akan protes. Akan tetapi saat melihat ke arah Emily yang seolah tidak pernah mendengar apapun, ia tidak jadi bersuara.
“Mana Ilham?” Tanya Ibunya lagi.
“Mah, masuk kek” Roni mengerang lagi. Menyesal ia menceritakan semua hal pada Ibunya. Tapi hanya Ibunya satu-satunya orang yang mau-mau saja mendengarkan apapun yang ada di kepalanya ketika menjelang tidur. Walau kemudian, akan diceritakan ulang pada teman-temannya di warung Bu Lulu. Lalu menyebar di status WA. Pernah satu kali Roni memergoki Ibunya membuat story di WA foto dirinya pulang mencari pakan sapi dengan pakaian menyedihkan dan wajah kelelahan. Lalu isi captionnya adalah; “53m4n9at 4naq l4nan9, 1n1 4n4k l4nan9ku, M4nA 4NaK L4n4N9mU. P4st1 CuM4 5ibuK nUtuli hp, k4N? M3nYal4 B4n9 R0ni” ditulis mirip-mirip kode yang susah sekali dibaca. Akan tetapi, kata Ibunya, jaman dulu jika tidak mengetik seperti itu, maka akan dikucilkan dari masyarakat. Juga, foto itu berlatar musik misteri ilahi dengan bingkai bunga-bunga berikut dengan kupu-kupu bersama resolusi menyedihkan. Kacau.
Sebenarnya, sudah lama Roni disembunyikan dari story Ibunya.
“Ade lu mana, Ron?” Julian celingukan berbarengan dengan kepergian Ibu Roni.
“Ada, lagi mabar sama temennya. Mau apa?”
Julian menggeleng. Biasanya, Adik Roni selalu berkeliaran saat ada teman-teman Kakaknya. Sesekali Julian akan menawarkan uang dua ribu rupiah asal bocah yang baru kelas dua SD itu mau membelikannya rokok di warung. Atau sekedar membuatkan es marimas, mengipasi Julian, bahkan mau saat diminta mencabut termis saat Ibu Roni menonton Uttaran.
“Lama amat Ilham” Julian berdiri, membuat peregangan hingga balungnya berbunyi renyah. Sesekali matanya mencuri-curi pandang pada gadis yang melahap bolu “Mah, bolunya di injek sama Emily” Julian berteriak ke dapur.
“Tolol amat si lu, goblok!” Emily ikut melongok ke dapur “enggak ding Mah, enak banget ini”
“Sisanya di bungkus aja Em, bawa pulang” sahut Ibu Roni dari dapur. Terdengar bunyi suara televisi memutar drama India. Di sofa pojok, Roni masih diam. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi wajah lelaki itu benar-benar sedih.
“Masih mikirin Lela? Kenapa putus sih kalau sesuka itu?” Emily menghela napas. Rasanya tidak enak. Seolah, hubungan mereka kandas sebab dirinya. Akan tetapi Roni menggeleng.
“Gua lagi mikirin duit gua 700 ribu. Lu bayangin, Til. scaling cuma 350. Dia minta sisanya. Katanya buat beli skincare. Gua beliin skincare di hari pertama kita jadian. Gua bahkan terlalu malu buat mengakui ini. Tapi duit 700 ribu berharga banget bagi gua. Gua ngumpulin uang sedikit-sedikit hasil kerja keras. Berharap gua punya tabungan di masa depan”
“Drama” Julian melempar Roni menggunakan upil yang di bulat-bulatkan. Upil itu mendarat di antara rambut pirang yang setengah basah.
Dari luar, suara motor supra terdengar. Baut-baut yang tidak kencang, knalpot butut yang menciptakan bunyi sember serta klakson mirip tukan ikan. Ilham datang.
Namun lelaki itu tidak sendirian. Ilham membonceng Neneknya yang menggunakan jilbab besar berwarna fanta selaras dengan gamis dan juga kaos kaki. Bau balsem menyeruak begitu keduanya turun.
“Anjing” Ilham mengumpat saat matanya bertabrakan dengan Julian. Julian berdiri di teras disusul Emily dan Roni yang murung “gua suruh angon Nenek gua” ada dengusan sebal. Alis Ilham yang menukik membuat rasa jengkelnya tertuang sempurna dalam wajah itu.
“Terus gimana? Motor cuma dua, ada lima orang” Roni memasukkan tangannya paksa ke dalam saku jeans yang kekecilan.
“Nenek lu anyutin aja di rawa. Ntar kita tungguin di bendungan” itu ide Julian. Jelas tidak cocok.
“Mau ke Adira dulu?” Emily bertanya sambil meneguk air dalam gelas yang disediakan Ibu Roni. Rasa air beningnya seperti ada campuran minyak lampu dan besi.
“Dijepit aja sih. Boti aja kita” itu ide Roni si baik hati “gua jepit Nenek lu. Ntar sampe tempatnya kita bertiga yang angon”
Ilham sudah menduga. Hanya Roni yang bisa diandalkan.
“Hayulah, gass” Julian kembali masuk untuk mengambil tas kecilnya. Saat kembali dan naik ke motor, Nenek Ilham terus memperhatikannya “apa liat-liat, Megan Fox? Masuk dulu sana, di setrika kulitnya biar nggak kusut. Ikut-ikut anak muda aja, heran” akan tetapi sang Nenek hanya diam. Sesekali memilin-milin ujung jilbabnya dengan cara centil.
Mereka sampai di taman. Tentu saja taman yang berbeda dari tempat saat Roni bertemu Lela atau saat Ilham bertemu dengan bocah kelas lima SD yang mengaku berusia enam belas.
Taman ini lebih sepi sebab fasilitasnya begitu minim. Bahkan yang mekar di sana hanya bunga kertas berwarna putih kelabu tertutup debu jalan dan agak layu sebab gersangnya musim panas.
Roni turun pertama kali. Nenek Ilham dijepit di tengah hingga gamisnya tersingkap sampai paha. Sang Nenek tidak memakai dalaman, tidak juga celana dalam. Entah apa yang ada di kepala Ilham saat membawanya. Atau isi kepala siapa saja yang bertanggung jawab atas ini. Kendati, Roni sedang tidak ingin menertawakan. Perasaannya sedang tidak bagus juga.
Ilham turun membawa nene…