“Ngerepotin yah? Gua tu dari jaman orok kalau keringetan banyak dan panas banget emang gatel-gatel abis itu merah. Kek gini Mamah ngotot minta gua pake gamis sama jilbab gede. Segala bilang bahannya dari katun ini itu, pugu panas” Hera menggaruk lehernya hingga perih. Aceng langsung menahan tangan si gadis karena melihat lecet. Kipas dan sobekan kardus yang ia kenakan untuk mengipasi gadis itu jelas tak mempan.

“Gua kompres es batu bentar” pria itu berdiri.

“Ngerepotin ih, gua rebahan di ubin”

Kata-kata Hera tak di dengarkan. Pria itu menghilang di balik lemari jati besar yang menjadi sekat antara ruang tamu dan dapur. Padahal lemarinya kosong.

Dengan tanktop dan celana pendek yang membungkus tubuh sekal padat berisi, Hera berguling-guling di atas lantai keramik demi mendapatkan kesejukan.

Aceng kembali dengan kain bersih serta baskom berisi air dan dua bongkah es batu. Melihat Hera, pria itu melongo. Jakunnya naik turun. Sesuatu seperti sengatan langsung saja merambat. Ini menyebalkan. Padahal Aceng tidak ingin melihat Hera dalam konteks seksual yang kotor. Ia menyukai gadis itu, sungguhan. Tapi penisnya selalu ereksi tiap melihatnya. jangankan hanya mengenakan pakaian kurang bahan seperti sekarang, membayangkan senyum dan suaranya saja membuat kejantanannya bereaksi.

“Sini kompres dulu” kata Aceng. Ia duduk di samping Hera yang memutuskan untuk tengkurap.

“Ini, kompres disini” rambutnya ia sibak ke sisi lain seluruhnya. Hera meminta Aceng mengompres tengkuk yang basah dan merah-merah karena keringat.

Saat kain menempel pada kulitnya, sensasi dingin langsung  menyergap. Nyaman. 

“Agak lama Kak, enak banget” katanya, sambil menggaruk atas dada lagi.

“Jangan digaruk yang depan Neng, lecet”

“Gak tahan gatel”

“Coba duduk berbalik, ntar di kompres dua-duanya”

Hera lantas bangkit duduk. Kain menempel di tengkuk, lantas aceng membebat es batu pada kain yang lain sebelum ditempelkan pada leher dan turun ke atas dada gadisnya. Kipas angin masih menerpa, kini kesejukan pelan-pelan datang.

“Neng” panggilan Aceng membuat Hera yang menutup mata langsung melirik ke samping. Aceng menatapnya dengan tangan sibuk.

“Ya?”

“Zalim banget gua, egois juga” pria itu menghela napas “gua suka banget sama lu. Gua bahkan punya niat mau nikahin lu. Liat lu kepanasan begini, gua jadi pengen bekerja lebih keras. Pengen banget ngusahain lu. Tapi..” tiba-tiba wajahnya murung. Lalu tersenyum kecut “panas nggak nyaman banget ya? Kalau pun gua beli pendingin, gua kudu plafon rumah ini dulu. Sebelum plafon, gua kudu benerin gentengnya karena beberapa ada yang bocor. Kaso-kasonya juga udah pada keropos. Alias gua kudu renovasi besar-besaran. Bakal memakan biaya dan waktu yang lama. Sementara gua takut lu di ambil Lukman”

Benar, firasat Aceng kuat saat mendapati Lukman tidak lagi menghina Hera. Tatapan temannya itu juga melembut. Aceng terlalu teliti pada reaksi wajah yang mendetail, tapi lupa bahwa—mungkin saja Lukman memberitahu Hera tentang taruhan.

“Lu serius bilang gini ke gua?” Hera menatap matanya tajam “sekarang lu berharap gua ngapain? Gua bukan gak suka laki miskin, gua cuma gak suka laki yang ngeluh masalah finansial ke gua yang bahkan baru nyemplung dunia kerja” sebenarnya gadis itu agak ilfil. “Wak Sugiyah bilang, lu adalah pekerja keras. Lu baik hati, dan pokoknya yang baik-baik deh. Gua bilang kalau masalah finansial bisa di akalin,  tapi kalau belum apa-apa ngeluh ke gua gini gitu, gua ilfil”

Aceng diam. 

Sebenarnya maksud dari alasan ia mengatakan belum bisa memberikan rumah yang nyaman untuk gadis itu bertujuan agar Hera mau menjaga hati untuknya. Tidak tergoda pada Lukman. Apalagi mereka tinggal bersama dengan kondisi ekonomi antara ia dan Lukman yang sangat timpang.

“Gua sukanya cowok yang trabas oles sambil usaha. Yang mikir ke depan tanpa banyak ngeluh. Hidup gua juga nggak glamor. Gua cuma gak bisa kepanasan, itu doang. Tapi belum apa-apa, lu ngeluh. Muka lu ditekuk. Lu ngarep apa sih? Gua juga gak punya uang buat bantu finansial lu, atau bagus lagi kalau lu taruhan lagi”

Kata-kata Hera membuat penisnya yang awalnya ereksi kontan lemas. Hera tau. Gadis itu tahu tentang taruhan.

“Lu tau?” tanya Aceng, kembali ia ambil kain di tengkuk Hera dan mencelupkannya kembali pada baskom es.

“Tau”

“Ya Allah..” Aceng malu setengah mati.

“Hutang lu udah lunas karena gua mau jadi pacar lu. Karena gua kiss lu pertama kali. Gua pikir bakal ada yang spesial setelah ini. Apa lu mau bikin video bokep sama gua?”

“Neng enggak Neng.. ya Allah.. Hampura Neng” Aceng memegang tangannya. Tangan Hera hangat “gua suka sama lu beneran. Sumpah demi Allah.. Gak bisa bangun gua sekarang kalau bohong” pria itu berkata sungguh-sungguh. Ini memalukan. Aceng rasanya ingin mengubur diri di bumi.

Hera tidak menjawab lagi. Gadis itu kembali memejamkan matanya. Dingin menyentuh tengkuk. Ia memegang kain yang berisi es batu di dadanya, merebut dari Aceng lantas ia kompres sendiri.

“Neng”

“Hm”

“Lu masih mau sama gua gak?”

Hera membuka mata.

“Mau, tapi gua maunya lu nunjukin cinta yang beneran. Gua mau lu mencintai gua ugal-ugalan, trabas oles, usaha, nggak ngeluh. Gua suka juga sama lu. Taruhan itu.. Anggap aja gua bantuin lu. Kayak yang lu bilang. Ayo ciptakan dunia kita sendiri. Lu lebih dewasa dari gua, jauh. Jadi saling menghormati. Plis jan bikin ilfil”

Benar. Wajah ini.

Bukan wajah Valery yang begitu gila uang. Bukan istri Musa yang isi kepalanya hanya uang dan uang. Ini adalah Hera. Gadis ini hanya butuh tempat tinggal yang nyaman dan hidup yang sederhana. Darah Aceng berdesir hangat. Ia bersumpah akan memperjuangkan Hera.

“Abis makan, ayo ke rumah Teh Valery” ajakan Hera di angguki Aceng.

🎀 ྀི🎀 ྀི🎀 ྀི

Sampai rumah Valery, Hera dan Aceng langsung disuguhkan gurame selebar baskom di atas daun pisang di teras rumah. Ada sambal terasi, lalapan, ayam goreng serta nasi liwet. 

Makan-makan belum dimulai saat Valery sibuk membuat es teler, Musa menyiapkan piring sementara Lukman mengeluarkan cemilan dari kantong kresek.

“Emak mana?” tanya Aceng pertama kali. Hera langsung bergabung dengan Valery.

“Pulang dulu, katanya ada wali anak KKN dateng” Lukman yang menjawab. Sambil membenarkan bungkus cemilan yang banyak, pria itu melirik Hera yang sibuk menyedot es.

“Neng jangan es terus. Di rumah gua nyedotin es mulu hampir seteko. Sampe sini minum es lagi” Aceng berdiri di ambang pintu memperhatikan Hera dan Valery. Gadis itu tak mendengarkan. “Nanti pilek” Aceng berseru lagi saat Hera mendongak menatapnya. Hera hanya nyengir.

“Udah pada makan lah” Musa memberi instruksi.

“Gua udah makan di rumah Kak Ibrahim Teh. Di enakin aja. Gua mau ngadem di sini” kata Hera.

“Ceng jemput Emak bentar. Dia bilang kalau udah siap jemput aja. Wali bocah juga sebentar” suami Valery bertolak pinggang sambil meminta Aceng menyusul Ibunya. Menggunakan motor lebih cepat. Aceng langsung mengiyakan.

“Neng makan Neng” pria itu kembali masuk. Melontar pada dua perempuan.

“Bentar, bareng Emak” jawab Valery.

Tidak lama, Lukman ikut masuk. Pria itu terlihat dekil. Wajahnya yang belum sembuh sepenuhnya bekas dipukuli, kini turut kotor kena arang. Lukman bekerja keras membakar gurame. Sambil mengadu pada Ibu Musa dengan manja bahwa ia dipukuli ayahnya. Ibu Musa membelanya dan bersumpah akan memberi pelajaran pada Ajis. seperti menenangkan anak kecil. Namun Lukman senang.

Tiba-tiba semua orang masuk.

“Di dalem aja sih. Di luar mataharinya nyorot, panas bener” komentar Lukman. Lantas ia membuka baju karena gerah. Lalu melempar baju sekonyong-konyong pada Hera. Pakaian itu menutupi wajah si gadis yang sibuk minum es.

“Bau asep!! Ish, beloon bener kata gua mah” Hera melempar baju Lukman sembarangan. Duduk ia di dekat si gadis sambil cengengesan.

“Eh? Leher lu lecet, kenapa?” Lukman memeriksa. Hera masih mengenakan jaket meski resleting di buka sampai atas dada. Bagian itu sampai leher merah semua meski tidak lagi gatal.

“Gatel, matahari biasa” jawab Hera.

“Nggak pake tabir surya?” Tanya Lukman. Hera menggeleng. Pria itu kemudian merogoh celana kantong pada celana pendeknya, mengeluarkan tabir surya. 

Dengan telaten, Lukman memakaikan. “Udah tau musim panas. Negara tropis. Ada aja nih, kaum-kaum bego kek lu” menyimak ocehan Lukman, namun Hera tak protes . Lotion itu terasa dingin saat menyentuh leher dan atas dadanya. Rasanya dingin dan nyaman.

“Gua pake itu loh, Pak Dokter, moisturizer yang dari Kanada itu. Isinya segentong tapi lumayan lembabin kulit gua yang kering” Hera memejamkan mata saat Lukman memakaikan di wajahnya.

“Pake tabir surya! Tabir surya lebih penting” pr0tes Lukman. Sementara pasangan Musa dan Valery tak peduli pada keduanya. Mereka sibuk minum es sambil membicarakan hasil panen.

“Moisturizer lebih penting, kulit gua kering” Hera masih menjawab.

“Besok gua beliin tabir surya satu truk. Pake sebadan-badan tiap hari. Kecuali malem” itu telak. Hera membuka mata dan Lukman mencium hidungnya. “Apa? Gak seneng?” Lukman ngotot. Pria itu kembali mencium pipi Hera. Si gadis masih diam dengan mata menusuk “apa? Mau protes, huh?”

Hera mengusap pinggir hidung Lukman yang hitam karena arang. “Ini item kena areng. Lukanya jangan sampe kotor, susah sembuh. Mending dioles tabir surya sebadan-badan” balik Hera. terkekeh ia. Tangannya masih membersihkan wajah Lukman.

“Abis maghrib ikut gua ya?”

“Kemana?”

“Belanja. Temenin gua beli sepatu” Lukman merebah di lantai. Kepalanya bertumpu pada paha Hera. Satu tangan si gadis yang menganggur, ia raih, lalu di ciumi seperti yang ia lakukan sepanjang malam. “Gua mau beliin lu baju juga yang longgar-longgar. Mulai malam ini tidur sama gua ya? Pake baju yang panjang biar gua nggak edan”

“Nggak mau, enak aja” jawab Hera.

“Kalau lu nggak mau, gua ancurin Asia Tenggara” ancam Lukman.

“Ya lu siapa jir? Gua punya pacar”

“Gak urus. Masih pacaran ini. Segala kek yang iya aja lu pacaran sama Aceng”

“Gak jelas dokter Edan” Hera berusaha menyingkirkan pria itu dari pahanya. Namun Lukman malah cekikikan, memeluk perut Hera.

Tidak lama, Aceng datang bersama Ibu Musa. Pria itu langsung buru-buru mendekat lantas menjenggut Lukman dan menariknya menjauh.

“Anjing, Aceng brengsek!!!”

Keduanya berkelahi.

Hera menonton sambil minum es. Ibu Musa mengambil sapu.

PREV

3 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *