Katanya pria ini paling baik jika disandingkan dengan Lukman yang memang sinting itu. Namun yang membuat Hera benar-benar mual adalah ketika melihat wajahnya berseri-seri setelah Lukman mengatakan bahwa hutang Aceng  pada Ibu Musa tinggal sedikit lagi.

Siapa yang akan berpikir jernih tentang uang? Orang miskin yang sibuk mencari uang dengan segala macam cara untuk hutang dan orang kaya yang bingung mau menghabiskan uang kemana, berdua sama-sama brengsek.

Maka, Hera dengan percaya diri tanpa bantuan siapapun, tanpa bekal kekuatan fisik apalagi dukungan dari orang lain, ia akan membuat dua pemuda itu merasakan sakit yang sama.

Mata ganti mata. Hati di ganti hati.

Bocah berusia 23 tahun kurang empat bulan itu merasa benar-benar retak.

“Gua diet tepung  pas belum kesini. Tapi setelah ke rumah Uwak, semua hal gua makan” Hera nyengir pada Aceng “gua gendut ga? Keliatan kek babi gaksi?”

“Diet segala. Udah kurus, udah cakep. Kurangin aja, jangan nyiksa diri” jawab si lelaki. Ia menerima suapan lagi saat Hera kembali menyodorkan.

“Kak Ibrahim sukanya yang kayak Teh Valery ya?”

“Apanya?”

“Ya tipe ceweknya. Yang badannya keras, ototnya keras, bisa bela diri, kuat”

“Nggak juga sih. Suka sama Valery ya karena dia Valery aja. Gak ada spesifikasi khusus”

“Sekarang masih?”

Pertanyaan itu terasa seperti jebakan bagi Aceng. Ia tatap wajah cantik yang sibuk mengunyah. Pipinya menggembung lucu.

“Kan sekarang gua punya pacar. Valery punya suami. Iya Kali” jawabnya kemudian.

“Ye.. perasaaan orang siapa yang tau? Keliatannya diem cool, tapi dalam hatinya cinta brutal. Ada yang keliatannya cinta banget, clingy, tapi ya.. Brengsek” 

“Nggak sih, kalau gua apa adanya, kayak pacar” Aceng berdehem “ekspresif”

Hera menyedot es jeruk kemudian. Ia perhatikan Aceng yang sejak tadi menatapnya. Gadis itu mengedipkan sebelah mata di sela-sela mulutnya yang sibuk dijejali sedotan.

Lalu tertawa.

“Sorry kalau ganjen. Gua centil banget kalau suka sama orang” katanya, menyeka mulutnya dengan tangan baju.

“Suka kok sama yang centil. Apalagi centilnya ke gua doang” timpal Aceng. Sambil memperhatikan mie ayam yang habis “tambah lagi nggak? Gua udah makan tadi”

Si gadis spontan menggeleng “meledak perut gua ntar”

Aceng membungkus kembali mie yang habis. Lantas ia lemparkan ke kotak sampah. Saat berbalik, ia melihat Lukman berdiri di ambang pintu memperhatikan. Pria itu mengenakan kaos tanpa lengan dan bokser pendek. Hanya melipat tangan di dada, namun Lukman tidak mabuk malam ini.

“Mau mie ayam” katanya. Lontaran itu membuat Hera berbalik—melihat bosnya.

“Gua chat gak bales” jawab Aceng. Ia geser mie ayam pada Hera, sambil memberi isyarat agar kembali diberikan pada Lukman. 

Tak menanggapi Aceng, pria itu membuka bungkus mie ayam dan mengambil sendok bekas Hera.

Sesaat keheningan merajai ketiganya. Lukman sibuk dengan mie ayam yang memadati mulut. Hera sibuk membuka boks untuk mencari pemotong kuku sementara Aceng memperhatikan gadisnya.

“Mau dipotongin?” tawar Aceng. Hera lantas mendongak. Gadis itu menggeleng.

“Kak Ibrahim aja, mau dikutekin?”

“Gak mau”

“Kenapa?”

“Susah solatnya”

Hera mengangguk-angguk.

“Pak Dokter mau dikutekin?” lantas Hera berbalik. Matanya beradu dengan Lukman.

“Kutekin aja gua, gua bukan islam” kata Lukman enteng. “Nggak soleh gua mah, atheis” lontaran itu membuat Hera tertawa.

Tapi ia benar-benar menunggu Lukman selesai makan sambil merapikan kukunya yang panjang-panjang.

“Neng, jangan pegang-pegang Lukman. Cemburu gua” kata Aceng, cemberut ia memperhatikan. Hera memegang tangan Lukman dan Lukman mengangkat sebelah alis menatap temannya.

“Lu cemburu?” Tanya Lukman.

“Cemburu gua” kata Aceng jujur.

Tiba-tiba Lukman tertawa. Hera tak lagi memperhatikan ekspresi dua pemuda itu meski telinganya menyimak. Sibuk ia memoles jeriji Lukman dengan pewarna biru dan hitam yang diukir silang-silang—menyajikan warna yang tetap maskulin di kuku.

Namun Lukman tidak mengatakan apa-apa lagi. Tidak berencana mengatakan bahwa Hera sering memeluknya. Bahwa keduanya semalam tidur bersama di sofa. Atau Hera yang bertingkah manja dan menggemaskan. Lukman hanya nyengir melihat Aceng.

“Ini tetap gagah ya, Pak Dokter. Kuteks itu bisa dipake cowok, cuma kudu pinter-pinter pilih warna aja” Hera mengangkat tangan Lukman “ini juga peel of. Jadi bisa di kletek kalau mau sholat. Aman. Cakep kan?” ia angkat tangan Lukman tinggi-tinggi, lantas mengambil ponsel dan memotretnya “suka gak?”

“Suka” jawab Lukman pelan. Ia menjilat bibirnya, memperhatikan ekspresi Hera yang selalu sumringah. Tak peduli dihina seperti apa, sepanjang penglihatan Lukman, Hera selalu lebih banyak tersenyum. Hanya ketika pertama kali pindah dan saat masih di rumah Musa, ia lihat wajah murung yang terluka. Setelah itu, tidak lagi.

“Kak Ibrahim gak mau ya?” Berbalik ia menatap sang kekasih. Aceng merengut.

“Kalau peel of mau” katanya, berubah pikiran. Aceng mendekat pada Hera, memepet di belakang si gadis. Lalu mengukung Hera dari belakang, tangannya di sodorkan ke depan, otomatis ia memeluk gadis itu dari belakang.

Hera sangat kecil. Tapi begitu indah. 

Jantungnya berdegup tidak keru-keruan. Kepala belakang gadis itu berkali-kali membentur mulutnya, sementara Hera mengenakan kuteks sambil mengoceh—mengatakan perpaduan warna yang tidak terlalu di simak.

“Kak ibrahim warna favoritnya apa?” tanya si gadis, melirik sedikit ke belakang dan tidak sengaja bibirnya menempel pada bibir pria itu. Hanya sekilas, namun berhasil membuat Aceng seperti akan meledak. Sekuat tenaga ia tidak melepaskan Hera hanya untuk kabur ketika ledakkan kupu-kupu di perut terasa nyaris membuatnya mulas.

Aceng memerah. Lukman di belakang tak memperhatikan—sibuk dengan ponsel, memotret kukunya juga.

Aceng berdehem “gak punya favorit sih, suka yang netral aja” jawabnya dalam kegugupan. Tidak tahan, seluruh tubuhnya memanas dan penisnya ereksi. 

“Gua buat monokrom, ini maskulin. Cocok buat pacar gua yang gagah” gumam si gadis penuh ketelitian. Beruntung lampu teras begitu terang meski jam menunjuk pukul sebelas malam.

“Gua mau ke rumah Bapak gua dulu bentar, tiba-tiba doi chat ada yang mau diomongin” Lukman berdiri, lantas membuat peregangan hingga bunyi tulangnya bergemeletuk gurih. Aceng duduk tegap dan menatapnya. “Neng, nanti pintunya kunci aja dari dalem, kuncinya di cabut, gua bawa kunci lain” kata Lukman pada Hera, si gadis mengiyakan tanpa melihat bosnya.

Sungguh Hera sibuk.

Tak menyimak ia hingga mobil Lukman keluar dari garasi dan menjauh meninggalkan halaman hingga menghilang, meninggalkan ia berdua dengan Aceng.

“Jadi!” teriak si gadis. Ia mewarnai sepuluh jari Aceng dengan paduan hitam dan putih begitu rumit dan cantik. “Bagus gak?” ia angkat tinggi-tinggi tangan Aceng yang—bahkan lebih besar dari wajahnya. Aceng memperhatikan.

“Ini cantik banget, Neng. Bisaan ih, rumit ini” 

“Foto dulu” kata Hera. ia memotret tangan pria itu “haaa.. Cantik sekali jeriji pacar aku..” suaranya imut, dibuat-buat. Tapi sungguh Aceng menyukainya. Saat Hera sibuk dengan ponsel—melihat hasil foto, pria itu memeluknya lagi dari belakang.

Lagi, jantungnya bertalu-talu.

Deg, deg, deg.

Ia turunkan kepalanya pada tengkuk si gadis, lantas menghirup aroma Hera yang memikat sekuat tenaga. Seolah akan memasukkan seluruh bau gadis itu dalam paru.

Merinding, gelenyar menyenangkan, ereksi, jatuh cinta, gemas. Seluruh rasa tumpah ruah, Aceng sungguh menyukainya.

“Kak?”

Suara itu membuyarkan fokusnya pada rasa yang paling dominan. Aceng memberi jarak bibirnya pada kulit si gadis.

“Ya?”

“Kak Ibrahim mau berhubungan seksual sama gua?”

Pertanyaan itu membuat Aceng bingung sebentar.

“Maksudnya gimana? Tanya si pria.

“Bukan..” Hera lantas berbalik, mengurai pelukan Aceng “Kak Ibrahim nanti lama-lama bakal ngajak gua berhubungan seksual ga?”

Dahi Aceng mengerut. Ia perhatikan wajah si gadis yang terlihat begitu anak-anak. Seolah kalimat itu dilontarkan oleh bocah di bawah umur.

“Bicara apa si.. Astaga” Aceng mengusap pipi Hera “gua bakal minta berhubungan seksual kalau kita menikah” katanya. Itu membuat Hera mengagguk-angguk. Lalu tersenyum getir.

Kata Lukman, pria itu juga akan membiayai pernikahan Aceng jika Hera mau dengannya.

Menjijikan sekali.

4 Responses

  1. Kalo bgni mah walaupun nyantai Ibrahim beneran sayang dan cinta sama Hera, pikiran Hera bakal tetep jelek gak sih karna pasti keinget soal taruhan ny itu terus,ntar kalo lu gak jadi sama Hera si Lukman lu amuk aja,cakartt aja ok

  2. Ga sabar nunggu bedua tengil ini dipatahin hatinya ma hera, atau… Kalo menyidik isi kepala lemon sih bakal hera ni yg pupus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *