Tidak, Hera sedang tidak menyihir siapapun menggunakan ramuan yang diracik dari mantra atau juga kumpulan benda langka kecil-kecil lalu ditumbuk menjadi bubuk dan di siram air ajaib berikut serbuk-serbuk kejahatan.
Tidak. Sungguh.
Ayahnya menangis sambil beringsut-ingsut duduk di sisi ranjang kamarnya, memohon padanya untuk mengenakan jilbab. Meminta pada putrinya agar mau menutup rambut sampai dada. Pria itu berlutut dengan derai air mata sambil mulutnya komat-kamit melantunkan firman-firman Tentang hal itu.
Katanya, tidak akan masuk surga perempuan yang berpakian tapi telanjang. Tidak akan mencium bau surga seorang ayah yang membiarkan anaknya mengumbar aurat. Maka, lepas balik menunaikan ibadah Umrah, pria itu berlutut di sisi ranjang anaknya. Meminta satu-satunya anak perempuan untuk menutup aurat.
Namun Hera bergeming. Ia katakan bahwa hidayah belum sampai padanya. Bahwa gugur sudah dosa ayahnya terhadapnya, sebab ia telah memilih jalannya sendiri.
Pria itu sangat mencintainya. Sebesar Ibunya, Kakaknya, serta kerabat-kerabat dekat. Hidup Hera dipenuhi cinta, kasih sayang, serta tak pernah ada kata-kata kasar maupun bentakan. Rumahnya begitu dingin—sejuk. Tidak ada suara tinggi apalagi teriakan. Tiap Ayah atau Ibunya marah, mereka biasanya menangis dan berwajah kecewa. Atau sesekali Ibunya mengancam mengangkat rotan, meski tidak pernah benar-benar dipukulkan. Semuanya jadi semakin sejuk tepat setelah perekonomian keluarganya membaik.
Sebelum itu, Ibunya lumayan galak.
Dan dalam keluarga ideal dan harmonis, tentu saja ada anomali.
Kakaknya sudah beristri, memiliki dua anak yang semuanya laki-laki. Kendati, sang Kakak selalu rutin menghubungi, menanyakan kabar. Apalagi mengetahui jika Hera tinggal di rumah Musa.
Seandainya saja mereka tahu bahwa gadis itu tinggal berdua dengan lelaki…
Tidak, Hera tidak akan memikirkan bagaimana ayahnya kecewa dan memutuskan untuk menikahkannya dengan salah satu ustadz yang berwajah mesum dibalut sorban dan janggut panjang. Menjijikan.
Lukman lebih baik.
Wajah brengsek itu selaras dengan kelakarnya. Tidak munafik.
Apalagi Aceng. Pria itu yang paling mendekati tipe idealnya. Meski diam-diam Hera sadar bahwa pria ‘bad’ benar-benar mencuri perhatian.
Sebenarnya, pria baik-baik dan lurus benar-benar datar. Seperti ayahnya, atau Kakaknya. Dan Aceng masuk dalam kriteria itu. Sementara Lukman sebaliknya.
Dan disanalah ia duduk. Di balik konter meja administrasi. Rambutnya diikat satu rapi bergelombang. Menggunakan kemeja dan celana dasar licin terlihat begitu rapi dan luwes. Matanya sesekali mengintip pada pintu ruang bosnya. Lelaki yang beberapa menit lalu mencium pucuk kepalanya tanpa konteks. Hera nyengir jika ingat.
Tidak, ia bukannya sedang jatuh cinta pada Lukman. Hatinya tidak semudah itu tergiur pada tindakan murahan. Tanki cintanya penuh, ia tidak haus cinta, tidak juga terlalu suka rayuan atau tindakan intim yang berurusan dengan kontak langsung. Hera tidak begitu, ia tidak mudah jatuh. Maka, celakalah seorang yang kosong lantas mengajak main-main.
Hera hanya kurang dopamin. Kontras dengan Lukman.
Sejak kecil hidupnya ketat, datar, membosankan. Saking membosankannya, Hera sampai berteman akrab dengan perasaan-perasaan semacam itu, perasaan bosan dan hilang minat pada banyak hal. Ia kuat hidup tanpa ponsel dan berkutat dengan Qur’an hingga hafal beberapa jus. Ia juga akrab dengan muhasabah diri. Ikut ke kajian-kajian tanpa melihat lelaki. Namun diam-diam, Hera menyukai boyband dari negeri ginseng. Maka, standar lelakinya makin tidak karu-karuan. Ia tidak perlu cinta. Ia hanya perlu kebebasan untuk berekspresi.
Maka, disinilah ekspresi itu bisa ditampilkan tanpa harus menundukkan pandangan. Tanpa harus menutup dadanya yang besar menggunakan kain agar tidak menarik perhatian lelaki.
Maka, Hera memutuskan jadi penyihir.
Setelah pelecehan verbal, menjadi barang taruhan, serta penghinaan lainnya. Padahal baru saja keluar kandang. Ia juga tidak berencana menjadi kriminal. Yang diinginkan hanya memiliki kehidupan bebas tanpa kekangan. Namun beberapa hal memang banyak lebih menjadi pelajaran.
Perhatiannya teralih pada bunyi rantang beradu dengan meja yang terbuat dari kayu ek premium. Aroma nasi goreng menguar bersama senyum cerah dari wajah Aceng. Berseri-seri.
Pria itu mengenakan jaket kulit hitam. Rambutnya disisir rapi dengan pomade mirip minyak di taburkan di kepala. Parfumnya kasablanka murahan. Yang disemprot sekali lantas hilang terbawa angin.
“Sarapan” katanya. Wajahnya sungguh manis. Lesung pipi dangkal itu begitu indah dipadukan dengan wajah maskulin. Hera bangkit girang.
“Makasih” katanya, ia geser letak rantang hingga dekat padanya. Lantas ia hirup aroma memikat itu seolah itu adalah wewangian mahal yang langka. “Kak Ibrahim, ini wanginya enak banget” matanya berbinar. Gadis itu keluar dari balik kursi, mendekat pada Aceng lantas memeluk pria itu. “Suka banget sama cowok bisa masak. Suka banget.. Astaga suka sekali” katanya. Tingginya begitu timpang dengan Aceng. Maka, yang dilihat pria itu hanya pucuk kepala yang wanginya membuat mabuk kepayang.
Aceng menahan senyum. Jantungnya berdebar-debar. Sejak semalam, hatinya terus saja mengalami gejala aneh yang sudah lama tak ia rasakan lagi. Menyenangkan. Tak bisa tidur, hanya bolak-balik ke kanan kiri sambil memikirkan wajah tak asing milik Valery, namun bukan. Gadis ini lebih lembut, lebih jujur. Hera ekspresif dan tak segan memuji tanpa terlihat berlebihan. Gadis itu gemar memvalidasi dan Aceng sungguh menyukainya.
“Mau berangkat kerja kan? Semangat! Nanti malam main ke sini, ya? Ayo makan mie ayam” Hera mendongak, lantas berjinjit sambil ia sibak satu dua helai rambut Aceng yang tak kena pomade “I love you” sambungnya lagi, kali ini jinjitnya lebih tinggi. Hera mencium pipinya.
Aceng makin merona tidak karu-karuan.
Pria itu melepaskan pelukan Hera, lantas lari kencang keluar. Rasanya ia seperti akan meledak saking senangnya. Wajahnya merah padam sampai telinga. Hera kebingungan.
Aceng benar-benar pergi setelah lari. Pria unik. Hera kembali ke kursinya.
Saat matanya melihat ke arah pintu ruangan Lukman, pria itu ternyata ada di sana. Berdiri sambil melipat tangan di dada. Matanya lurus, sorotnya tajam. Lalu nyengir tidak natural sebelum kembali masuk ke ruangannya.
Hera menyeringai lagi.
Hummm ga tau gua selalu kasian sama second lead 🥲😭
aceng gua ya allah😭